Anda di halaman 1dari 24

PENGARUH KOMPETENSI DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KINERJA AUDITOR DENGAN KOMPLEKSITAS TUGAS SEBAGAI VARIABEL MODERASI

Dedy Sukri Susi Dwimulyani

Abstract The purpose of this study was to examine the effect of competence (specific knowledge and experience) and self efficacy on auditor performance with task complexity as a moderating variable. The method used in this study using moderated regression analysis (MRA) with the help of SPSS version 23. The population is Public Accounting Firm (KAP) located in the area of Jakarta and the sample studied by 84 samples. This research data is primary data in the form of questionnaires distributed to the respondents. The results of this study show that: (1a) the knowledge does not affect the auditor's performance, (1b) the specific experience affects the auditor's performance, (2) the self-efficacy does not affect the auditor's performance; (3a) the task complexity is not able to moderate the influence of knowledge on performance auditor, (3b) task complexity is able to moderate the effect of specific experience on auditor performance, and (6) task complexity is unable to moderate the effect of self efficacy on auditor performance.

Keywords: Auditor Performance, Competence, Knowledge, Specific Experience, Self-efficacy, and Task Complexity.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Profesi akuntan di Indonesia terus mengalami perkembangan yang pesat dari waktu ke waktu. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari pesatnya pertumbuhan perusahaan dalam segala bidang. Semakin berkembangnya suatu perusahaan maka akan semakin berkembang pula profesi akuntan publik. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kebutuhan terhadap jasa profesional akuntan.

Seiring dengan perkembangan tersebut, permintaan akan jasa audit semakin banyak karena ada banyaknya konflik kepentingan antara manajemen sebagai agen dan pemegang saham sebagai principal. Akuntan publik mendapatkan kepercayaan dari klien dan para stakeholder untuk membuktikan kewajaran dari laporan keuangan. Oleh karena itu, akuntan publik dalam memberikan opini harus bersikap independen terhadap kepentingan klien, stakeholeder, maupun kepentingan akuntan publik itu sendiri. Berkurangnya independensi auditor dan semakin maraknya manipulasi laporan keuangan akan membuat kepercayaan para stakeholder menurun sehingga para stakeholder (investor dan kreditur) mempertanyakan eksistensi akuntan publik sebagai pihak independen. Hasil Kongres Akuntan Sedunia (Word Congres Of Accountants/WCOA) ke-16 yang diselenggarakan di Hongkong disimpulkan bahwa "kredibilitas profesi akuntan sebagai fondasi utama sedang dipertaruhkan. Sebagai fondasi utama tanpa sebuah kredibilitas profesi ini akan hancur. Hal ini disebabkan oleh beberapa skandal terkait dengan profesi akuntan yang telah terjadi. Namun, Profesi akuntan dapat saja mengatasi krisis ini dengan menempuh cara peningkatan independensi, kredibilitas, dan kepercayaan masyarakat". Oleh karena itu presiden International Federation of Accountants (IFAC) menghimbau "agar para akuntan mematuhi aturan profesi untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat agar krisis profesi akuntan tidak lagi terjadi". Kasus kurangnya independensi auditor yang melibatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) berawal dari kasus Arthur Andersen dan Enron pada tahun 2001. Krisis moral dalam dunia bisnis yang mengemuka akhir-akhir ini ialah kasus dua anggota KAP terbesar di dunia (Big Four), yaitu KPMG dan PwC yang dikenakan sanksi karena telah gagal dalam auditnya. Kasus serupa juga terjadi di Indonesia, diantaranya kasus PT Indosat Tbk dengan KAP Purwantono, Suherman, & Surja yang merupakan afiliasi Ernst & Young (EY-Indonesia) tahun 2011. KAP ini telah merilis hasil audit sebuah perusahaan telekomunikasi Indonesia tahun 2011 yang menampilkan opini berdasarkan bukti yang tidak relevan. Kasus diatas menjadi suatu kegagalan audit atas laporan keuangan oleh kantor akuntan publik yang tidak melaksanakan auditnya sesuai standar pedoman akuntan publik (SPAP). Kegagalan audit bisa berdampak pada rusaknya kepercayaan dan kredibilitas kepada KAP, auditor yang bersangkutan, dan profesi audit pada umumnya. Kejadian di atas terjadi pada auditor independen yang posisinya berada di eksternal organisasi. Sanksi yang dipikul KAP sudah jelas baik berupa sanksi denda, sanksi administratif, seperti suspend jasa audit, maupun sanksi pidana dan sanksi tidak tertulis berupa sanksi reputasi dan kepercayaan (Gultom, 2015). Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seorang auditor dalam pembuatan audit judgment, baik bersifat teknis ataupun non teknis. Faktor-faktor

tersebut meliputi pengetahuan, pengalaman spesifik, dan perilaku individu yang sekarang ini semakin banyak mendapatkan perhatian dari para praktisi akuntansi ataupun dari akademisi. Namun meningkatnya perhatian tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan penelitian di bidang akuntansi perilaku di mana dalam banyak penelitian tidak menjadi fokus utama. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin mengetahui pengaruh pengetahuan, pengalaman spesifik, dan efikasi diri terhadap kinerja auditor dengan kompleksitas tugas sebagai variabel moderasi. Oleh karena itu, penulis mengambil penelitian dengan judul “PENGARUH KOMPETENSI DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KINERJA AUDITOR DENGAN KOMPLEKSITAS TUGAS SEBAGAI VARIABEL MODERASI”.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang akan diambil sebagai berikut :

1. a. Apakah kompetensi berupa pengetahuan berpengaruh terhadap kinerja auditor? b. Apakah kompetensi berupa pengalaman spesifik berpengaruh terhadap kinerja auditor? 2. Apakah efikasi diri berpengaruh terhadap kinerja auditor? 3. a. Apakah moderasi kompleksitas tugas berpengaruh pada hubungan kompetensi (pengetahuan)dan kinerja auditor? b. Apakah moderasi kompleksitas tugas berpengaruh pada hubungan kompetensi (pengalaman spesifik) dan kinerja auditor? 4. Apakah moderasi kompleksitas tugas berpengaruh pada hubungan efikasi diri dan kinerja auditor?

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Rerangka Teoritis

Roen (2011) mendefinisikan teori institusional (Institutional Theory) sebagai "terbentuknya organisasi oleh karena tekanan lingkungan institusional yang menyebabkan terjadinya institusionalisasi". Menurut Di Maggio dan Powell (1983), "organisasi terbentuk oleh lingkungan institusional yang ada di sekitar mereka. Penganut teori institusional meyakini bahwa keteraturan dapat dicapai melalui institusi. Teori ini mengkritisi model ekonomi neo-klasik yang menurut hemat mereka mendiskriminasikan atau menciptakan asumsi yang tidak rasional antara nilai-nilai pasar dengan nilai-nilai sosial. Penganut teori ini mempercayai

bahwa keteraturan dapat dicapai lewat institusi, dimana institusi dibangun atas tindakan sosial. Institusi merupakan tempat untuk membatasi individu dan kelompok" (Gultom, 2015). Teori penetapan tujuan awalnya dikemukakan oleh Dr. Edwin Locke (1960). Lewat publikasi artikelnya tahun 1968 yang berjudul “Toward a Theory of Task Motivation and Incentives”, Locke menunjukkan adanya keterkaitan antara tujuan dan kinerja seseorang terhadap tugas. Teori ini juga mengemukakan bahwa niat mencapai sebuah tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama (Locke, 1978). Locke dan Latham (2002) menyatakan bahwa "teori ini menegaskan bahwa tujuan yang lebih spesifik, sulit, dan menantang akan menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dan baik dibandingkan dengan tujuan yang tidak jelas, seperti tujuan yang mudah atau tidak ada tujuan sama sekali". Kinerja Auditor merupakan variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini. Kinerja auditor merupakan pelaksanaan tugas pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor dalam kurun waktu tertentu (Marita dan Gultom, 2018). Kompetensi (pengetahuan dan pengalaman kerja) dan self efficacy merupakan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini. Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut" (Toruan, 2015). Pengetahuan merupakan tingkat pemahaman auditor terhadap sebuah pekerjaan secara konseptual atau teoritis" (Armanda dan Ubaidillah, 2014). Pengalaman spesifik adalah suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi, yang ditunjukan dari adanya tambahan keahlian atau pengetahuan tertentu yang diperolehnya secara langsung melalui praktek kerja, maupun secara tidak langsung melalui proses pendidikan formal dan kegiatan informal lainnya" (Gultom, 2015). Efikasi diri dapat diartikan sebagai keyakinan seorang individu akan kemampuan diri mereka dalam mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkatan prestasi tertentu (Akbar, 2016). Menurut Menur (2010), "kompleksitas tugas adalah persepsi individu tentang kesulitan suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya kapabilitas dan daya ingat serta kemampuan untuk mengintegrasikan masalah yang dimiliki pembuat keputusan" (Natawirani dan Wirajaya, 2017).

Rerangka Konseptual

Banyaknya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu kinerja seorang auditor. Auditor dikatakan memiliki kinerja yang baik jika memiliki kompetensi berupa pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak dalam melakukan auditing. Efikasi diri dan kompleksitas tugas juga merupakan salah satu faktor

yang dapat menentukan kinerja auditor. Penelitian ini dibangun berdasarkan kerangka kerja konseptual dari penelitian Gultom (2015) dan Usmany (2013). kerangka pemikiran teoritis yang dikembangkan dalam penelitian ini.

Kompetensi

Pengetahuan

Pengalaman

Spesifik

Efikasi Diri

H 1a H 3a H 1b H 3b H 2 H 4
H
1a
H 3a
H
1b
H 3b
H 2
H 4

Kompleksitas Tugas

Kinerja Auditor

Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kinerja Auditor

Dengan tingkat pengetahuan yang tinggi yang dimiliki oleh seorang auditor, auditor tidak hanya akan bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan audit secara efektif tetapi juga akan mempunyai pandangan yang lebih luas mengenai berbagai hal dan mampu mendeteksi sebuah kesalahan. Semakin tinggi pengetahuan seorang auditor, maka akan tinggi pula kinerja seorang auditor. Sebaliknya, jika pengetahuan seorang auditor rendah, maka bisa dikatakan kinerjanya pun akan rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meningkatnya pengetahuan seorang auditor akan berbanding lurus atau berhubungan positif dengan kinerjanya. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 1a : Pengetahuan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Pengaruh Pengalaman Sepsifik Terhadap Kinerja Auditor

Peningkatan pengalaman spesifik seorang auditor negara selain dapat membantu memampukannya untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam suatu periode waktu tertentu, dan membantu memberikan usulan konstruktif kepada supervisor tentang bagaimana seharusnya suatu pekerjaan audit dilakukan, juga dapat mendorongnya untuk menghasilkan kualitas pekerjaan terbaik. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa meningkatnya pengalaman spesifik seorang auditor akan berbanding lurus atau berhubungan positif dengan kinerjanya. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 1b : Pengalaman spesifik berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Kinerja Auditor

Efikasi diri merupakan penilaian orang terhadap kemampuannya dalam melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja. auditor yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan mampu mengatur aktivitasnya secara lebih baik dan cenderung mengharapkan pencapaian hasil yang maksimal atas tugas- tugas yang dikerjakannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meningkatnya efikasi diri seorang auditor akan berbanding lurus atau berhubungan positif dengan kinerjanya. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 2 : Efikasi diri berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Moderasi Kompleksitas Tugas Pada Hubungan Pengetahuan Dan Kinerja Auditor.

Pengetahuan yang dimiliki oleh auditor akan mempengaruhi tugas yang akan diselesaikan (Diani, 2007 dalam Gultom, 2015). Secara tidak langsung, kompleksitas tugas dapat memperkuat hubungan antara pengetahuan terhadap kinerja seorang auditor. Kompleksitas tugas yang tinggi dapat memambah pengetahuan yang dimiliki seorang auditor sehingga kinerja aduitor pun semakin tinggi. Sebaliknya, Kompleksitas tugas yang rendah tidak dapat menambah pengetahuan yang dimiliki seorang auditor sehingga kinerja aduitor pun semakin rendah. Dengan demikian, berdasarkan teori yang ada dapat disimpulkan bahwa meningkatnya efikasi diri seorang auditor akan berbanding lurus atau berhubungan positif dengan kinerjanya. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 3a : Kompleksitas tugas memperlemah pengaruh positif pengetahuan terhadap kinerja auditor.

Moderasi Kompleksitas Tugas Pada Hubungan Pengalaman Sepsifik Dan Kinerja Auditor

Kompleksitas tugas secara tidak langsung dapat memperkuat hubungan antara pengalaman spesifik terhadap kinerja seorang auditor. Kompleksitas tugas

yang tinggi dapat memambah pengalaman seorang auditor semakin banyak sehingga kinerja aduitor pun semakin tinggi. Sebaliknya, Kompleksitas tugas yang rendah dapat mengurangi pengalaman yang dimiliki seorang auditor sehingga kinerja aduitor pun semakin rendah. Dengan demikian, berdasarkan teori yang ada dapat disimpulkan bahwa meningkatnya kompleksitas seorang auditor akan memperkuat hubungan antara pengalaman terhadap kinerja auditor. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 3b : Kompleksitas tugas memperlemah pengaruh positif pengalaman spesifik terhadap kinerja auditor.

Moderasi Kompleksitas Tugas Pada Hubungan Efikasi Diri Auditor.

Dan Kinerja

Dalam lingkungan audit, kompleksitas adalah sesuatu yang penting karena kompleksitas tugas dalam pelaksanaan tugas dapat berdampak pada kinerja audit. Kompleksitas tugas secara tidak langsung dapat memperkuat hubungan antara efikasi diri terhadap kinerja auditor. Kompleksitas tugas yang tinggi dapat memambah keyakinan seorang auditor dalam menyelesaikan tugas audit sehingga kinerja auditor pun semakin baik. Dengan demikian, berdasarkan teori yang ada dapat disimpulkan bahwa meningkatnya kompleksitas seorang auditor akan memperkuat hubungan antara efikasi diri terhadap kinerja auditor. Dari pendapat di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H 4 : Kompleksitas tugas memperlemah pengaruh positif efikasi diri terhadap kinerja auditor.

METODE PENELITIAN

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang bersifat kausalitas dengan menggambarkan hubungan di antara dua atau lebih variabel yang menunjukkan variabel mana yang menjadi sebab dan variabel mana yang menjadi akibat dalam hubungan tersebut. Dimensi waktu yang digunakan dengan cross-section. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terdaftar di Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) tahun 2017.

Pengukuran Variabel

Penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian yang diadopsi dari penelitian Gultom (2015) untuk semua variabel penelitian. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert 1 (satu) sampai 5

(lima) untuk semua variabel penelitian. Untuk lebih jelasnya pengukuran dan indikator variabel dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Dimensi dan Indikator Variabel

Variabel

Dimensi

 

Indikator

skala

 

1. Tugas

 

Ordinal

Kinerja

1. Menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam suatu periode waktu tertentu.

Auditor (Y)

Ordinal

2. Penilaian hasil pekerjaan.

Ordinal

 

2. Lingkungan

3. Menemukan cara untuk meningkatkan prosedur audit.

Ordinal

 

4. Kinerja lebih unggul.

Ordinal

5. Dihargai karena kinerja yang baik.

Ordinal

6. Membina hubungan yang baik.

Pengetahuan

1.

Pengetahuan

1. Pengetahuan akuntansi.

Ordinal

(X1a)

Akuntansi dan

 

Auditing.

2. Pengetahuan auditing.

Ordinal

 

2.

Pengetahuan

3. Keahlian yang memadai.

Ordinal

 

standar

pemeriksaan

4. Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama

Ordinal

yang

diperlukan.

 
 

5. Pernyataan kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Ordinal

 

3. Pengetahuan

6. Tingkat pendidikan.

Ordinal

 

yang diperoleh

 

dari

jenjang

pendidikan

 
 

7. Pendidikan profesi berkelanjutan.

Ordinal

 

1.Seminar

dan

1. Melakukan pemeriksaaan untuk tujuan tertentu.

 

Pengalaman

pelatihan

Ordinal

Spesifik

formal.

2. Mengikuti program pelatihan terkait kasus-kasus fraud.

(X1b)

 

2.Pengarahan dari

 

Ordinal

senior.

 
 

3. Bertukar pendapat dengan rekan- rekan seprofesi saya tentang penanganan masalah fraud atau investigasi fraud.

 

Ordinal

4. Memberikan bimbingan kepada bawahan untuk melakukan audit

dengan efektif.

5. Pernah melakukan audit khusus dalam 3 tahun terakhir.

 

Ordinal

 

1.Kekuatan

1. Berpikir

bisa

Ordinal

Self Efficacy

mendapatkanhasilyangterbaik bagi diri sendiri.

(X2)

2. Dapat berhasil pada hampir semua pekerjaan yang ditetapkan dalam pikiran.

Ordinal

Ordinal

3. Ketika menghadapi tugas yang menantang dapat mengerjakannya hingga selesai.

Ordinal

4. Berhasil mengatasi masalah dalam setiap pekerjaan.

Ordinal

5. Ketikahal-halyang sulit sekalipun, dapat melakukan sesuatu dengan pikiran yang tenang.

 

2.Keyakinan

 

1.Amiguitas

yang

1. Sering merasa sulit membuat keputusan/kesimpulan saat melaksanakan penugasan audit karena adanya tumpang tindih regulasi.

Ordinal

Kompleksita s Tugas (Z)

tinggi.

 

2. Sering terlambat menyelesaikan kertas kerja ketika melakukan penugasan audit, karena jumlah entitas yang diperiksa terlalu banyak dan kompleks.

Ordinal

3. sulit mendapatkan bukti-bukti yang mengindikasikan adanya kecurangan/ pelanggaran yang material, karena adanya tekanan publik.

Ordinal

4. Auditan yang sulit untuk diajak bekerjasama ketika melaksanakan penugasan audit.

Ordinal

5. kesulitan mendapatkan informasi dari auditan ketika melaksanakan tugas- tugas audit tertentu.

Ordinal

 

2.Informasi

yang

tidak relevan

Metode Pengumpulan data

Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer. Untuk memperoleh data tersebut, penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik kuisioner dengan cara mengedarkan daftar pertanyaan yang akan diisi oleh responden. Populasi penelitian ini adalah KAP yang berada di wilayah Jakarta yang terdaftar di IAPI tahun 2017. Peneliti menggunakan teknik nonprobability sampling untuk menentukan subyek penelitian. Kriteria pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Kantor Akuntan Publik (KAP) yang telah menjadi anggota di Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tahun 2017,

2)

Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di wilayah DKI Jakarta,

3)

Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berafiliasi dengan KAP big10.

Metode Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan moderasi (Moderated Regression Analysis/MRA). MRA merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen). Analisis ini dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana interaksi variabel kompleksitas tugas dapat mempengaruhi kompetensi (pengetahuan dan pengalaman spesifik) dan self-efficacy terhadap kinerja auditor. Proses analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 23. Alasan pemilihan aplikasi tersebut karena sesuai dengan kebutuhan peneliti dalam kemudahan proses analisis data yang dibutuhkan. Selanjutnya, analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif, uji kualitas data (uji validitas dan uji reliabilitas), uji asumsi klasik, uji hipotesis (uji T dan Uji F), dan uji koefisien determinasi (Uji Goodness of Fit/R 2 ). Model persamaan yang digunakan untuk menguji variabel moderasi (moderated regression analysis/MRA) dalam penelitian ini sebagai berikut.

Y =

α + β 1 X 1a + β 2 X 1b + β 3 X 2 + β 4 Z + β 5 X 3a Z + β 6 X 3b Z + β 7 X 4 Z + e t

Dimana :

Y = Kinerja Auditor

α

= Kostanta = Koefisien regresi yang akan dihitung = Pengetahuan = Pengalaman Spesifik = Efikasi diri

= Kompleksitas Tugas = Faktor Pengganggu (Error)

β 1-6

1a

1b

X

X

X

Z

e t

2

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Jumlah kuesioner yang didistribusikan kepada responden adalah sebanyak 100 kuesioner yang dilakukan secara bertahap. Dari total 100 kuesioner yang didistribusikan kepada karyawan yang berprofesi sebagai auditor, kusioner yang tidak dikembalikan sebanyak 16 kuesioner sehingga kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 84 kuisioner.

Analisis hasil penelitian yang akan diuraikan dalam bab ini meliputi, (1) analisis statistik deskriptif, (2) uji validitas dan realibilitas, (3) uji asumsi klasik (normalitas dan multikolinearitas,), (4) hasil uji moderated regression analysis (MRA).

Statistik Deskriptif

         

Std.

N

Minimum

Maximum

Mean

Deviation

Kinerja Auditor (Y) Pengetahuan (X1a) Pengalaman Spesifik (X1b) Efikasi Diri (X2) Kompleksitas Tugas (Z)

84

1

5

4,256

1,826

84

1

5

4,204

2,090

84

1

5

4,250

1,981

84

1

5

4,295

1,646

84

1

5

4,174

1,692

Sumber : Hasil olah data SPSS 23 Berdasarkan hasil statistik deskriptif yang tersaji pada tabel 4.3 diatas dapat diinterpretasikan sebagai berikut.

- Jumlah responden yang diteliti sebanyak 84 responden.

- Hasil variabel kinerja auditor berdasarkan skala likert menunjukkan nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,256 dengan standar deviasi sebesar 1,826.

- Hasil variabel pengetahuan berdasarkan skala likert menunjukkan nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,204 dengan standar deviasi sebesar 2,090.

- Variabel pengalaman spesifik berdasarkan skala likert menunjukkan nilai minimum dan maksimum sebesar 1 dan 5 dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,250 dan tingkat standar deviasi sebesar 1,981.

- Variabel efikasi diri berdasarkan skala likert menunjukkan nilai minimum sebesar 1 dan nilai maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,295 dan tingkat standar deviasi sebesar 1,646.

- Variabel kompleksitas tugas berdasarkan skala likert menunjukkan nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,174 dan standar deviasi sebesar 1,692.

Uji Kualitas Data Dalam pengukuran kualitas dalam suatu kuisioner, maka dibutuhkan dua cara, yaitu dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil Uji Validitas

 

Hasil Uji validitas Untuk Tiap Butir Pernyataan

 

Butir

Pearson

   

Butir

Pearson

   

Pertanyaan

Correlation

Sig

Status

Pertanyaan

Correlation

Sig

Status

KA1

.486**

.000

Valid

PS2

.455**

.000

Valid

KA2

.402**

.000

Valid

PS3

.709**

.000

Valid

KA3

.412**

.000

Valid

PS4

.569**

.000

Valid

KA4

.481**

.000

Valid

PS5

.456**

.000

Valid

KA5

.425**

.000

Valid

ED1

.487**

.000

Valid

KA6

.542**

.000

Valid

ED2

.485**

.000

Valid

P1

.627**

.000

Valid

ED3

.521**

.000

Valid

P2

.426**

.000

Valid

ED4

.401**

.000

Valid

P3

.377**

.000

Valid

ED5

.499**

.000

Valid

P4

.581**

.000

Valid

KT1

.516**

.000

Valid

P5

.441**

.000

Valid

KT2

.403**

.000

Valid

P6

.589**

.000

Valid

KT3

.417**

.000

Valid

P7

.386**

.000

Valid

KT4

.605**

.000

Valid

PS1

.589**

.000

Valid

KT5

.408**

.000

Valid

Hasil uji validitas data yang disajikan dapat dilihat bahwa semua pertanyaan menunjukkan nilai r hitung > r tabel dengan df=n-k, berarti semua pertanyaan dinyatakan valid dan nilai r tersebut ditandai ** dengan signifikan pada level 0.05.

Uji Reliabilitas

Cronbach's Alpha

N of Items

,670

28

Uji reliabilitas hanya dilakukan untuk butir pernyataan yang telah dinyatakan valid. Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat bahwa pada masing- masing variabel yang diteliti memiliki nilai cronbach alpha > 0,60 yang berarti seluruh intrumen dalam penelitian ini telah reliabel atau handal.

Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik yang dilakukan terdiri atas uji normalitas dan uji multikolinearitas.

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, ada dua cara untuk mendeteksinya, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik.

Hasil Uji Normalitas

analisis grafik dan uji statistik. Hasil Uji Normalitas   Unstandardized Residual Test Statistic Asymp.
 

Unstandardized Residual

Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed)

0,088

0,154

Sumber : Hasil olah data SPSS 23

Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai Test Statistic sebesar 0,088 dengan assymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0.1,54. Dapat disimpulkan bahwa data error terdistribusi normal.

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mengetahui

ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF).

Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel

Tolerance

VIF

Kesimpulan

Pengetahuan (X1a)

0,004

246,880

Terjadi Multikolinearitas

Pengalaman Spesifik

   

Terjadi Multikolinearitas

(X1b)

0,005

196,094

Efikasi Diri (X2)

0,004

232,394

Terjadi Multikolinearitas

Kompleksitas Tugas (Z)

0,003

332,330

Terjadi Multikolinearitas

Moderasi1 (X1aZ)

0,001

685,480

Terjadi Multikolinearitas

Moderasi2 (X1bZ)

0,002

458,902

Terjadi Multikolinearitas

Moderasi3 (X2Z)

0,002

662,766

Terjadi Multikolinearitas

Sumber : Hasil olah data SPSS 23

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diatas menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai VIF lebih besar dari sepuluh (10) dengan nilai tolerance lebih kecil dari 0,1. Dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian yang terkena multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi nultikolinearitas. Namun hasil penelitian ini terdapat multikolinearitas. Walaupun terjadi multikolinearitas, uji ini tetap bisa digunakan dalam analisis karena dalam analisis (adanya efek perkalian dalam variabel independen) ini pasti akan menimbulkan multikolinearitas sehingga uji ini dianggap terpenuhi atau seharusnya uji multikolinearitas ini tidak dilakukan dalam penelitian.

Pengujian Hipotesis

Hasil Uji Goodness of Fit

Model

Adjusted R Square

1

0,281

Sumber : Hasil olah data SPSS 23

Hasil menunjukkan nilai Adjusted R-Square sebesar 0.281 (28,1%). Artinya bahwa variasi dari variabel independent mampu menjelaskan variasi dari variabel dependent sebesar 28,1%. Sedangkan sisanya (100% - 28,1% = 71,9%)

adalah variasi dari variabel independen lain yang mempengaruhi variabel dependen tetapi tidak dimasukkan dalam model.

Hasil Uji F

Hasil Uji F

F Hitung

Sig. (F-test)

5,636

0,000

Sumber : Data olahan SPSS 23

Dari hasil uji ANOVA (F-test) pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa nilai Fhitung didapatkan sebesar 5,636 dan memiliki nilai signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini bearti variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

Hasil Moderated Regression Analysis (MRA)

Signifikan Prediksi Unstandardized Variabel Keputusan Arah Coefficients (B) (1-tailed) (2-tailed) Pengetahuan
Signifikan
Prediksi
Unstandardized
Variabel
Keputusan
Arah
Coefficients (B)
(1-tailed)
(2-tailed)
Pengetahuan (X1a)
+ -1,299
0,313
0,1565
H 1a ditolak

Pengalaman Spesifik (X1b)

+ 2,809

0,022

0,0110

H 1b diterima

Efikasi Diri (X2)

+

-0,544

0,731

0,3655

2 ditolak

H

Kompleksitas Tugas (Z)

 

0,112

0,952

0,4760

Moderasi1a (X1aZ)

-

0,07

0,247

0,1235

H

3a ditolak

Moderasi1b (X1bZ)

-

-0,136

0,020

0,0100

H

3b diterima

Moderasi2 (X2Z)

-

0,044

0,560

0,2800

4 ditolak

H

4 ditolak H

Sumber : Data olahan SPSS 23

Model

persamaan

yang

digunakan

untuk

menguji

variabel

moderasi

(moderated regression analysis/MRA) dalam penelitian ini sebagai berikut.

Y = 11,199 1,299X 1a + 2,809X 1b 0,544X 2 + 0,112Z + 0,07X 3a Z 0,136X 3b Z + 0,044X 4 Z + e t

Pembahasan Hasil Penelitian

Pengaruh Pengetahuan terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, pengujian hipotesis diperoleh bahwa pengetahuan tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesa awal yang menyatakan bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Juanda (2016) yang menunjukkan bahwa variabel

pengetahuan dan variabel sikap tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor dan P2UPD pada Inspektorat Provinsi Kalbar. Salah satu faktor penting dalam kinerja auditor ialah pengetahuan auditor. Namun, pengetahuan auditor bukan jaminan untuk menghasilkan kinerja yang bagus. Teori dan praktek kerja tidak sepenuhnya akan sama persis. Hal ini yang membuat pengetahuan tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Junior auditor yang baru bekerja setelah lulus kuliah yang memiliki nilai yang bagus, bukan jaminan akan mudah untuk menyelesaikan tugasnya. Hal ini dikarenakan auditor tesebut tidak memahami praktek kerja dalam proses audit sesungguhnya. Pengetahuan akan berpengaruh signifikan seiring berjalannya waktu dengan lama bekerja sebagai auditor.

Pengaruh Pengalaman Spesifik Terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa pengalaman spesifik berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizqia dan Soegoto (2016) yang menunjukkan bahwa Pengalaman secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kinerja auditor. Artinya, apabila Pengalaman yang dimiliki oleh auditor cukup tinggi, maka auditor tersebut semakin mampu dalam menghasilkan kinerja yang maksimal. Peningkatan pengalaman spesifik seorang auditor dapat memampukannya untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam suatu periode waktu tertentu, dan membantu memberikan usulan konstruktif kepada supervisor tentang bagaimana seharusnya suatu pekerjaan audit dilakukan, juga dapat mendorongnya untuk menghasilkan kualitas pekerjaan terbaik. Pengalaman Spesifik merupakan faktor penting dalam meningkatkan kinerja auditor. Auditor yang berpengalaman mampu menemukan cara dalam meningkatkan prosedur audit dan mampu menilai kinerja pekerjaannya, serta dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu dengan mampu menemukan masalah dan penyelesaiannya selama proses auditor. Auditor dengan tingkat pengalamanan yang minim akan lebih besar melakukan kesalahan dibanding dengan auditor pengalamannya sudah tinggi. Pengalaman mampu memberikan peluang untuk belajar melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dan dapat lebih produktif dalam melaksanakan tugasnya, serta mampu mengatasi hambatan dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa efikasi diri tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesa awal yang menyatakan bahwa efikasi diri mempunyai pengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Tamburaka dan Marianti (2017) yang menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh tidak

signifikan secara parsial terhadap kinerja auditor. Hubungan yang tidak signifikan antara efikasi diri dengan kinerja ini mungkin lebih dipengaruhi imbalan yang diberikan atas kemampuannya, walaupun seseorang mempunyai efikasi diri yang tinggi, namun jika imbalan yang diberikan rendah maka efikasi diri yang dimiliki seseorang tidak akan berpengaruh terhadap kinerjanya. Efikasi diri merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seorang auditor. Namun ada kalanya efikasi diri tidak dapat mempengaruhi sebuah kinerja auditor. Efikasi diri merupakan tingkat keyakinan seoarang auditor dalam menyelesaikan pekerjaannya. Keyakinan itu tidak dapat menjamin seorang auditor dalam meningkatkan kinerjanya pada saat menerima tugas yang bersifat homogen. Auditor merasa tidak tertarik dalam menjalankan tugasnya karena tidak ada tantangan yang dihadapi, padahal auditor sangat yakin dapat menyelesaikan tugasnya. Imbalan juga menjadi salah satu penyebab efikasi diri tidak mempengaruhi kinerja audit. Banyaknya tugas tetapi imbalan yang diterima kecil dapat membuat auditor merasa tidak dihargai sehingga dalam menjalankan tugas tidak secara maksimal. Sifat tugas dan imbalan itu sendiri akan membuat efikasi diri tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor.

Kompleksitas Tugas Memperlemah Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa kompleksitas tugas tidak mampu memoderasi pengaruh pengetahuan terhadap kinerja auditor. Hasil ini tidak sejalan dengan hipotesa awal yang menyatakan bahwa kompleksitas Tugas mampu memperlemah pengaruh pengetahuan terhadap kinerja auditor. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herliansyah (2017) yang menjelaskan bahwa moderasi kompleksitas tugas terhadap hubungan pengetahuan dan kinerja Auditor tidak berpengaruh. Auditor dengan tingkat pengetahuan yang tinggi, pada saat menghadapi kompleksitas tugas yang tinggi tidak membantu auditor untuk menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dan lebih cepat. Jika dihadapkan dengan tugas-tugas yang rumit, auditor tidak mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menghasilkan kinerja yang baik. Kompleksitas tugas tidak dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh pengetahuan terhadap kinerja auditor. Setiap tugas memiliki infomasi yang dibutuhkan oleh auditor dalam menjalankan proses audit. Banyaknya tugas akan menimbulkan banyak informasi dan informasi tersebut berbeda-beda. Terkadang auditor menerima tugas yang dengan informasi yang tidak relevan. Informasi yang tidak relevan ini tidak berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh audit sehingga kompleksitas tugas tidak mampu meningkatkan atau melemahkan kinerja auditor ketika auditor berpengetahuan tinggi ataupun rendah.

Kompleksitas Tugas Memperlemah Pengaruh Pengalaman Spesifik Terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa kompleksitas tugas memperlemah pengaruh pengalaman spesifik terhadap kinerja auditor. Hasil ini sesuai dengan hipotesa awal yang menyatakan bahwa kompleksitas tugas mampu memperlemah pengaruh pengalaman spesifik terhadap kinerja auditor. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gultom (2015) yang menunjukkan bahwa moderasi kompleksitas tugas berpengaruh signifikan pada hubungan pengalaman spesifik dan kinerja auditor. Ketika auditor diperhadapkan pada tugas-tugas yang sulit untuk dipahami, membingungkan, ambigu, dan tidak terstruktur, maka keadaan tersebut dapat menyebabkan penurunan kinerja auditor walaupun auditor telah memiliki pengalaman spesifik dalam melaksanakan tugas- tugas khusus. Kompleksitas tugas dapat memperlemah pengaruh pengalaman spesifik terhadap kinerja auditor. Banyak dan beragamnya tugas yang diterima oleh auditor membuat auditor semakin berpengalaman dalam menyelesaikan tugasnya. Namun kompleksitas tugas dapat juga menurunkan tingkat keberhasilan tugas itu. Dengan kerumitan dan kompleksnya suatu pekerjaan dapat mendorong seseorang untuk melakukan kesalahan-kesalahan dan membuat hasil audit menjadi tidak berkualitas sehingga dapat menurunkan suatu kinerja auditor.

Kompleksitas Tugas Mampu Memoderasi Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Kinerja Auditor Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa kompleksitas tugas tidak mampu memoderasi pengaruh efikasi diri terhadap kinerja auditor. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesa awal yang menyatakan bahwa kompleksitas tugas mampu memperkuat pengaruh efikasi diri terhadap kinerja auditor. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gultom (2015) yang menunjukkan bahwa moderasi kompleksitas tugas berpengaruh signifikan pada hubungan self efficacy dan kinerja auditor. Ketika auditor diperhadapkan pada tugas-tugas yang sulit untuk dipahami, membingungkan, ambigu, dan tidak terstruktur, maka keadaan tersebut dapat meningkatkan kinerja auditor untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik. Kompleksitas tugas tidak mampu memoderasi pengaruh efikasi diri terhadap kinerja auditor. Kompleksitas tugas tidak mampu meningkatkan kinerja auditor pada saat efikasi diri seorang auditor tinggi dan tidak mampu menurunkan kinerja auditor pada saat efikasi seorang auditor rendah.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dari analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa :

1.a. Pengetahuan tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Junior auditor yang baru bekerja setelah lulus kuliah yang memiliki nilai yang bagus, bukan jaminan akan mudah untuk menyelesaikan tugasnya. Hal ini dikarenakan auditor tesebut tidak memahami praktek kerja dalam proses audit sesungguhnya. Pengetahuan akan berpengaruh signifikan seiring berjalannya waktu dengan lama bekerja sebagai auditor. 1.b. Pengalaman spesifik berpengaruh terhadap kinerja auditor. Auditor yang berpengalaman mampu menemukan cara dalam meningkatkan prosedur audit dan mampu menilai kinerja pekerjaannya, serta dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu dengan mampu menemukan masalah dan penyelesaiannya selama proses auditor.

2. Efikasi diri tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Efikasi diri tidak menjamin seorang auditor dalam meningkatkan kinerjanya pada saat menerima tugas yang bersifat homogen dan imbalan tugas yang tidak sesuai. Auditor merasa tidak tertarik dalam menjalankan tugasnya karena tidak ada tantangan yang dihadapi, padahal auditor sangat yakin dapat menyelesaikan tugasnya. Banyaknya tugas tetapi imbalan yang diterima kecil dapat membuat auditor merasa tidak dihargai sehingga dalam menjalankan tugas tidak secara maksimal.

3.a. Kompleksitas tugas tidak mampu memoderasi pengaruh pengetahuan terhadap kinerja auditor. Setiap tugas memiliki infomasi yang dibutuhkan oleh auditor dalam menjalankan proses audit. Banyaknya tugas akan menimbulkan banyak informasi dan informasi tersebut berbeda-beda. Terkadang auditor menerima tugas yang dengan informasi yang tidak relevan. Informasi yang tidak relevan ini tidak berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh audit. 3.b.Kompleksitas tugas mampu memoderasi pengaruh pengalaman spesifik

terhadap kinerja auditor. Kompleksitas tugas dapat juga menurunkan tingkat keberhasilan tugas itu. Dengan kerumitan dan kompleksnya suatu pekerjaan dapat mendorong seseorang untuk melakukan kesalahan-kesalahan dan membuat hasil audit menjadi tidak berkualitas sehingga dapat menurunkan suatu kinerja auditor.

4. Kompleksitas tugas tidak mampu memperkuat pengaruh efiaksi diri terhadap Kinerja auditor. Kompleksitas tugas tidak mampu meningkatkan kinerja auditor pada saat efikasi diri seorang auditor tinggi dan tidak mampu menurunkan kinerja auditor pada saat efikasi seorang auditor rendah.

5.1

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan dan kelemahan antara lain :

1. Sampel masih terbatas pada 84 auditor dan masih terbatas pada area DKI Jakarta sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan. 2. Waktu penelitian yang digunakan masih sedikit memungkinkan akan mempengaruhi hasil analisis penelitian ini.

5.2 Implikasi

Implikasi dari hasil penelitian ini dapat ditujukan untuk pengembangan teori, manajerial dan kebijakan adalah sebagai berikut:

1. Bagi pengembangan profesi akuntan - penelitian ini dapat memberikan masukan kepada para auditor mengenai pentingnya pengetahuan, pengalaman spesifik, dan efikasi diri dalam mempengaruhi kinerjanya ketika dihadapkan dengan kompleksitas tugas yang banyak dan beragam.

2. Bagi perusahaan - penelitian ini dapat memberikan masukan bagi manajemen dalam memilih kantor akuntan publik, terutama para auditornya yang akan digunakan dalam pengauditan laporam keuangan perusahaan.

3. Bagi peneliti selanjutnya,

- Dalam penetuan hipotesis sebaiknya menggunakan uji satu arah untuk lebih memperjelas pengaruh variabel independen terhadap dependennya.

- Menggunakan sampel yang berasal dari area lain diluar Jakarta. Hal tersebut guna dijadikan perbandingan untuk penelitian selanjutnya

- Penambahan kriteria sampel, seperti Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berafiliasi dengan KAP big 4 sehingga dapat mencerminkan pengaruh variabel penelitian karena para auditor di KAP tersebut lebih berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Muariadi. 2016. Pengaruh Komitmen Profesional, Efikasi Diri, Dan Tekanan Ketaatan Terhadap Pengambilan Keputusan Etis Auditor Dengan Pertimbangan Etis Sebagai Variabel Moderating Pada Kantor Akuntan Publik Di Kota Makassar. Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban: Vol.1 No.1. Januari 2016. Arens, Alvin A., Randal J. Elder, Mark Beasley. 2014. Auditing and Assurance Services. An Integrated Approach, 15 th Edition. Boston: Prentice Hall Arens, Alvin A., Randal J. Elder, Mark S. Beasley. 2012. Auditing and Assurance Services” 14thEdition. Jakarta: Erlangga. Ariani, Komang Gunayanti dan I Dewa Nyoman Badera. 2015. “Pengaruh Integritas, Obyektivitas, Kerahasiaan, Dan Kompetensi Pada

KinerjaAuditor Inspektorat Kota Denpasar”. Jurnal Akuntansi. ISSN

2302-8578.

Armanda, R. dan Ubaidillah. 2014. Pengaruh Etika Profesi, Pengetahuan, Pengalaman dan Independensi Terhadap Auditor Judgement Pada Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Sumatera Selatan. Jurnal Manajemen dan Bisni Sriwijaya Vol. 12 No.2 Juni 2014. Bakar, Z., Yun L.M., Keow, N.S., Li, T.H. 2014. Goal-Setting Learning Principles. Journal of Education and Learning, Vol.8 (1) pp. 41-50. Bandura. 1997. Social learning theory. New jersey: practice learning theory. Bandura. 1995. Exercise of personal and collective efficacy in changing societies. Bandura, A., & Locke, E. 2003. Negative self-efficacy and goal effects revisited. Journal of Applied Psychology, Vol. 88, 87-99 Bonner, Sarah E. 1994. A Model of The Effects of Audit Task complexity, Accounting, Organizations and Society, Vol.19No.3. Page 213-234. Pergamon. Bonner, Sarah E., dan Sprinkle, Geoffrey B. 2002. The effect of monetary incentive on effort and task performance: theories, evidence and framework of research. Accounting, Organization and Society. Darono, A. 2012. Penggunaan Teori Institusional Dalam Penelitian Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di Indonesia, Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2012 (SNATI 2012) Yogyakarta. DiMaggio, P.J. dan W.W. Powell. 1983. The Iron Cage Revisited: Institutional Isomorphism and Collective Rationality in Organizational Fields. American Sociological Review. Donaldson, T. & Preston, L. E., 1995. The Stakeholder Theory of the Corporation: Concepts, Evidence, and Implications. The Academy of Management Review, January, 20(1), pp. 65-91. FME, Team. 2013. Effective Goal Setting : Productivity Skills. www.free- management-ebooks.com. diakses pada tanggal 1 Desember 2017 Ghozali, I. 2016. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program Ibm Spss 23. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Gultom, Y. 2015. Pengaruh pengetahuan, pengalaman spesifik, dan self efficacy terhadap kinerja auditor dengan kompleksitas tugas sebagai variabel moderasi. Jurnal TEKUN, VI(01),3653. Herliansyah, Yudhi. 2017. Pengaruh Pengetahuan, Pengalaman Spesifik, Dan Self Efficacy Terhadap Kinerja Auditor Dengan Kompleksitas Tugas Sebagai Variabel Moderasi. PROFITA Vol 10 No 1 Hidayat, W dan Handayani, S. 2010. Peran Faktor-Faktor Individual Dan Pertimbangan Etis Terhadap Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik

Audit Pada Lingkungan Inspektorat Sulawesi Tenggara. Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis. Vol. 1. No. 1 (April). Ishak, M. 2011. “Akuntansi Keperilakuan: Tinjauan Terhadap Ilmu Keperilakuan”. Editor Krista. Penerbit Salemba Empat. Iskandar, Takiah Mohd and Sanusi, Zuraidah Mohd. 2007. Audit Judgment Performance: Assessing the Effect of Performance Incentives, Effort and Task Complexity. Managerial Auditing Journal, 22: 34-52 Jiambalvo, J. dan Pratt, J. 1982. “Task Complexity and Leadership Effectiveness in CPA Firms”. The Accounting Review, Vol LVII, No.4, hal 563-575 Juanda, R. 2016. Analisis Pengaruh Pengetahuan, Ketrampilan Dan Sikap Terhadap Kinerja Auditor Dan P2UPD Pada Inspektorat Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Manahemen dan Bisnis Vol 1 No 3. Katili, M., Nangoi, G., Gamaliel, H. 2017. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Auditor Pada Inspektorat Provinsi Dan Kabupaten Kota Gorontalo. Jurnal EMBA: Vol.5 No.2 Juni 2017, Hal. 572 582 Kreitner, R dan Kinicki, A. 2014. Perilaku Organisasi: Edisi 9 Buku ke 2. Jakarta:

Salemba Empat Kusharyanti. 2002. Temuan penelitian mengenai kualitas audit dan kemungkinan topic penelitian dimasa datang. Jurnal Akuntansi dan Manajemen (Desember). Hal 25-60. Larkin, Joseph M. 1990. Does Gender Affect Internal auditors’ Performance ? The Women CPA, Spring : 20 24 Liu, Peng., dan Z. Li. 2012. Task Complexity: A Review and Conceptualization Framework. International Journal of Industrial Ergonomics, Vol. 42, hal.

553-568.

Locke, E. A. and Gary P Latham. 2006. New Directions in Goal-SettingTheory, Association for Psychological Science. Hal 265-268 Locke, E.A. 1968. Toward a Theory of Task Motivation and Incentives. Organizational Behavior and Human Performance. Locke E.A., dan Latham, G.P. 2002. Building a Practically Useful Theory of Goal Setting and Task Motivation, A 35-Year Odyssey. American Psychologist, 57(9), pp: 705-717. Luneburg, F.C. 2011. Goal Setting Theory of Motivation. International Journal of Management, Business, and Administration,Vol 15. No. 1, 1-6. Marita dan Gultom, Yps. 2018. Pengaruh Profesionalisme, Etika Profesi, Independensi, Motivasi, Dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Auditor Internal (Studi Kasus Pada Pt. Perkebunan Nusantara Iv Medan). Jurnal Penelitian Ekonomi dan Akuntansi Vol III No.1. Februari 2018:

645-664

Meyer, J. dan B. Rowan. 1977. Institutionalized Organizations Formal Structure as Myth and Ceremony. The American Journal of Sociology. Morisano, D., Hirsh, J.B., Peterson, J. B., Pihl, R.O., & Bruce M. Shore. (2010). Setting, Elaborating, and Reflecting on Personal Goals Improves Academic Performance. Journal of Applied Psychology, 95, 255-264 Nadiroh, S.A. 2013. Pengaruh Kompleksitas Tugas, Orientasi Tujuan, Dan Self Efficacy Terhadap Kinerja Auditor Dalam Pembuatan Audit Judgment.

Natawirani, P.R dan Wirajaya, I.G.A. 2017. Pengaruh Kompleksitas Tugas, Independensi Dan Komitmen Profesional Pada Kualitas Audit. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.18.1. Januari (2017): 735-762. Nelli, Novyarni. 2014. Influence of Internal Auditor Competence and Independence on the Quality of Financial Reporting by Bunicipal/Provincial Government. International Journal of Economics, Commerce and Management, United Kingdom. Vol 2. Noe, Raymond A., Hollenbeck, John R., Gerhart, Barry., & Wright, Patrick M. 2010. Manjemen Sumber Daya Manusia: Mencapai Keunggulan Bersaing. (Edisi 6, Jilid 1). Jakarta: Salemba Empat. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehata. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nugraha, I.B Satwika Adhi. 2015. Pengaruh Profesionalisme, Etika Profesi dan Pelatihan Auditor terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di Bali. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.13.3 Desember

(2015):h:916-943.

Nursalam. 2013. Konsep Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 17/PMK.01/2008 Tentang Jasa Akuntan Publik. Powell, Walter W. 2007. The New Institutionalism. International Encyclopedia of Organization Studies. Clegg, S. R. & Bailey, J. Sage Publications, Inc. Puspaningsih, A. 2004. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Manajer Perusahaan Manufaktur. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia Vol (8) 1. Putra, K. A. S., & Latrini, M. Y. 2016. Pengaruh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, komitmen organisasi terhadap kinerja auditor. E-Journal Akuntansi Universitas Udayana, 17, 1168

1195.

Raiyani dan Saputra. 2014. Pengaruh Kompetensi, Kompleksitas Tugas Dan Locus Of Control Terhadap Audit Judgment. ISSN: 2302-8556, E-Jurnal

Akuntansi Universitas Udayana Vol. 6, No. 3, hal 429-438

Rizqia, H dan Soegoto, D.S. 2016. Pengaruh Pelatihan, Kemampuan Dan Pengalaman Terhadap Kinerja Internal Auditor (Studi Kasus pada unit internal audit PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk). Jurnal Ilmiah Magister Managemen UNIKOM Vol. 02 No. 01 Roen, Ferry, 2011, Teori dan Perilaku Organisasi: Teori Institusional (Institutional Theory). http://perilakuorganisasi.com/teori-institusional-institutional- theory-2.html, diakses pada tanggal 1 Desember 2017 Scott, Richard W. 2008. Institutions and Organizations: Ideas an Interest. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: Sage Publication. Third Edition. 266 hal. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian : Kuantitatif . Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta. Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Tagesson, Torbjorn dan Ohman Peter. 2015. To Be or Not To Be – Auditors’ Ability to Signal Going Concern Problems. Journal of Accounting & Organizational Change. Vol 11. No 2. hal175-192. Tamburaka, S. dan Marianti. 2017. Pengaruh Independensi Dan Efikasi Diri Terhadap Kinerja Auditor (Studi Pada Kantor Inspektorat Kota Kendari). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, UHO Jilid 1, Terbitan 2. Toruan, Jupri Lumban. 2015. Pengaruh Independensi, Kompetensi, Pengalaman, Dan Pendidikan Terhadap Profesionalisme Auditor (Studi Empiris Pada Auditor BPKP Perwakilan Provinsi Riau). Jurnal JOM FEKOM Vol.2 No.2. Oktober 2015. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2011 tentang "Akuntan Publik". Villadsen, A. R. 2011. Structural Embeddedness of Political Top Executives as Explanation of Policy Isomorphism. Journal of Public Administration Research and Theory. www.iapi.or.id/ Yustrianthe, Rahmawati Hanny. 2012. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Audit Judgment Auditor Pemerintah. Jurnal Dinamika Akuntansi. Vol. 4 No. 2 September 2012. pp. 72-82. Zucker, Lynne G. (1987). Institutional Theories Of Organizations. Annual Review of Sociology 13: 443-464. Palo Alto, CA: Annual Reviews