Anda di halaman 1dari 17

1.1

Latar Belakang

Skenario 2.2

BAB I PENDAHULUAN

Seorang Laki-laki, 50 tahun dirujuk dari Indonesia Timur ke RSGM Usakti dengan keluhan rasa panas terbakar pada rongga mulut sejak 1 bulan terakhir. Diketahui pasien adalah seorang adalah penderita asma berat dan menggunakan kortikosteroid spray. Pemeriksaan Klinis dalam mulut tampak lesi putih susu pada seluruh permukaan mukosa terutama palatum, fausea dan dorsum lidah, dapat diseset dan meninggalkan area kemerahan. Kelenjar getah bening leher teraba dan sakit. Setelah diketahui hasil pemeriksaan tersebut selajutnya pasien diberikan obat sesuai dengan mikroorganisme penyebabnya dan menunjukkan perbaikan. Gejala klinis berkurang seiring dengan perbaikan kondisi dalam mulut dan sistemiknya. Namun pada kontrol 2 bulan kemudian, pasien mengeluh terdapat sariawan pada lidah sebelah kanan yang tidak sembuh-sembuh, amat nyeri. Diketahui pasien seorang pengunyah sirih sejak 30 tahun yang lalu. Pemeriksaan klinis intra oral tampak ulser dengan dasar putih, pinggiran ulser menggulung berhadapan dengan tepi gigi 46 yang tajam.

1.2Hal-hal yang perlu didiskusikan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah

1. Apa diagnosis yang paling mungkin dari kelainan yang ditemukan pada kasus tersebut di atas?

2. Jelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis apa yang perlu dilakukan ?

4.

Sebutkan klasifikasi kelainan yang disebabkan oleh moikroorganisme tersebut di atas?

5. Sebutkan pemeriksaan penunjang diagnosis apa saja yang perlu dilakukan ?

6. Apabila pasien menolak untuk dilakukan tindakan invasif, maka Jelaskan pada pasien apa saja yang dapat dilakukan dan cara melakukan pemeriksaan diagnosis tersebut.

7. Apa kelebihan pemeriksaan penunjang diagnosis yang bersifat invasif dan non invasif ?

8. Sebutkan apa saja cara melakukan pemeriksaan penunjang diagnosis yang bersifat invasif pada kasus di atas dan jelaskan prinsip dasar melakukannya ?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Diagnosis yang paling mungkin dari kelainan yang ditemukan pada kasus Diagnosis yang paling mungkin dari kelainan yang ditemukan adalah Kandidiasis

Pseudomembranosis. Kandidiasis ini ditandai dengan

 
lesi putih susu yang dapat diseset

lesi putih susu yang dapat diseset

dan

meninggalkan daerah kemerahan, juga dikarenakan pemakaian

 

kortikosteroid spray

 

oleh

pasien karena pemakaian kortikosteroid dapat meningkatkan resiko terjadinya kandidiasis.

2.2 Pemeriksaan penunjang diagnosis apa yang perlu dilakukan

Pada kasus tersebut, pemeriksaan penunjang diagnosis yang perlu dilakukan adalah Oral mycological smear. Oral mycological smear dilakukan untuk membuktikan adanya infeksi jamur pada lesi yang ditemukan. Pemeriksaan ini diawali dengan melakukan swab

pada mukosa mulut yang dicurigai, dengan menggunakan cotton swab.

lidi berkapas yang steril diusapkan seluas mungkin pada lesi. Kemudian spesimen yang

dalam

cawan petri. Setelah itu cawan petri tersebut dimasukkan ke dalam inkubator selama 24 hingga 48 jam untuk membiakkan jamurnya. Setelah 48 jam akan tumbuh koloni jamur

berwarna

lain untuk mengekstraksi Candida albicans. Setelah tumbuh koloni, lakukan streaking lagi pada agar yang miskin nutrisi. Dalam agar ini Candida albicans akan membentuk klamidospora. Hasil akhirnya adalah Candida albicans murni. Ada beberapa spesies Candida yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu Candida albicans, Candida pseudotropicalis, Candida krusei, Candida parapsilosis, Candida guilliermondii, Candida stellatoidea, Candida tropicalis.

putih- kekuningan. Langkah selanjutnya adalah melakukan streaking lagi pada petri

didapat, dilakukan streaking pada permukaan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

adalah

Cotton swab

media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) adalah ​ Cotton swab 2.3 Cara mengisolasi dan mengidentifikasi penyebab kelainan
media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) adalah ​ Cotton swab 2.3 Cara mengisolasi dan mengidentifikasi penyebab kelainan

2.3 Cara mengisolasi dan mengidentifikasi penyebab kelainan tersebut lengkap dengan

interpretasi hasilnya

Mengisolasi

adalah suatu cara untuk memisahkan candida dengan mikroorganisme

lainnya melalui pemeriksaan langsung, dalam hal ini pemeriksaan langsung diketahui terbagi menjadi dua yaitu :

I.Pemeriksaan jamur dengan KOH 10%

Pemeriksaan

melalui pemeriksaan di bawah mikoroskop

setelah penggunaan larutan KOH 10%. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan diagnosis lesi berdasarkan sel hifa dan spora

yang ditemukan

jamur

dengan

KOH

10%

adalah

pemeriksaan

jamur

secara

langsung

berdasarkan penemuan sel hifa dan spora/konidia

pada semua lesi mulut yang dicurigai sebagai

infeksi jamur kandida serta

menentukan rencana perawatan secara spesifik.

Indikasi pemeriksaan jamur dengan KOH 10% adalah untuk semua lesi mulut yang dicurigai sebagai infeksi jamur kandida Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, sarung tanga steril, kaca mulut, spatula kayu

atau tongue holder,gelas obyek dan gelas penutup, pipet kertas hisap, lampu spiritus, dan mikroskop. Cara kerja pemeriksaan jamur dengan KOH 10% meliputi :

a.

Deskripsikan lesi yang meliputi bentuk, ukuran, warna, dll.

b.

Menentukan area pemeriksaan yang dicurigai.

c.

Dengan ujung spatula atau tongue holder, lesi dikerok hingga ke dasar.

d.

Hasil kerokan dioleskan merata pada gelas obyek dan ditutup dengan gelas penutup.

e.

Dengan menggunakan pipet, teteskan larutan KOH 10% pada bagian tepi gelas. penutup sampai larutan merembes di bawah gelas penutup hingga penuh.

f.

Biarkan 5-10 menit atau dihangatkan dengan lampu spiritus selama beberapa detik.

g.

Sediaan dipasang pada mikroskop, lakukan pencarian hifa atau misellia jamur dan diidentifikasi secara mikroskopik.

​ Sediaan dipasang pada mikroskop, lakukan pencarian hifa atau misellia jamur dan diidentifikasi secara mikroskopik.

II.Pewarnaan Gram Pewarnaan gram adalah pewarnaan diferensial yang membedakan jamur dalam golongan

besar, yaitu golongan bakteri golongan positif yang akan mengikat zat warna ungu/kristal ungu serta bakteri golongan negatif yang akan mengikat zat warna air fuchsin/merah. Pewarnaan ini dapat dilakukan dengan cara :

a.

Buatlah sediaan pada gelas alas dan rekatkan

b.

Teteskan zat warna ungu Kristal secukupnya dan biarkan selama 5 menit

c.

Cuci dengan air mengalir sampai tidak ada warna lagi pada air yang mengalir tersebut

d.

Teteskan larutan lugol, dan biarkan selama 45-60 detik, kemudian cuci dengan air mengalir

e.

Celupkan kedalam gelas yang berisi larutan alkohol 96% dan goyangkan selama 30 detik (ataupun tidak ada lagi zat warna yang mengalir dari sediaan), kemudian cuci dengan air mengalir

f.

Teteskan zat warna air fuchsin dan biarkan selama 2 menit, kemudian cuci

g.

dengan air mengalir Diberikan 1-2 tetes minyak imersi diatas sediaan

h.

Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 100x

dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 100x Gambar…. Bakteri gram negatif (kiri) dan bakteri gram

Gambar…. Bakteri gram negatif (kiri) dan bakteri gram positif (kanan)

adalah mengetahui dengan spesifik jenis dari jamur yang

terdapat pada lesi. Mengidentifikasi dapat dilakukan dengan cara biakan/media kultur yang terbagi dalam 2 cara, yaitu:

Sedangkan

mengidentifikasi

I.Melalui media cair yaitu Germ-Tube Test Germ-tubes adalah pemanjangan tunas sebesar 1/2 ukuran aslinya dan 3-4 kali lebih panjang

dari sel ragi. Dimana metode ini berprinsip bahwa

dan diinkubasi dalam suhu 350 -370 C (sesuai in

vivo).

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara :

candida akan membentuk germ-tubes dari

sel ragi bila diletakkan dalam cairan nutrisi

a.

Dari suatu koloni yang sudah diisolasi, ambil sedikit inokulum, letakkan dalam 0,5 ml serum domba atau plasma kelinci

b.

Masukkan ke dalam inkubator dengan suhu 350 -370 C selama 3 jam

c.

Sesudah inkubasi, ambil 1 tetes suspensi dan letakkan pada slide, lihat di bawah mikroskop. Dengan pembesaran sedang germ-tubes akan terlihat.

Dalam cairan nutrisi

sedangkan

Candida albicansakan mempunyai germ-tubes

Candida Tropicalistidak akan mempunyai germ-tubes

.

II.Melalui media agar, terdapat 3 jenis :

a.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat

teknik SDA perlu dilakukan inkubasi secara aerob pada suhu 370 C selama kurun waktu 24-48 jam. Hasil dari pemeriksaan SDA ini adalah jamur berkembang

SDA (Sabouraud Dextrose Agar)

adalah jamur berkembang ​ SDA (Sabouraud Dextrose Agar) ​ aktivitas pertumbuhan jamur ​ . Penggunaan membentuk

aktivitas pertumbuhan jamur. Penggunaan

Agar) ​ aktivitas pertumbuhan jamur ​ . Penggunaan membentuk ​ koloni-koloni berwarna krem pucat dan seperti

membentuk koloni-koloni berwarna krem pucat dan seperti pasta.

b.CAC (Chrom Agar Test) Chrom agar test merupakan salah satu metode

, dimana

pada pengujian ini digunakan pewarnaan krom pada bahan klinis dan melalui inkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam. Media kultur chromagar candida

identifikasi spesies jamur

kultur chromagar candida ​ identifikasi spesies jamur ​ merupakan salah satu tes chromagar dengan menggunakan ​

merupakan salah satu tes chromagar dengan menggunakan reaksi enzimatik untuk

membedakan Candida albicans dari spesies candida lainnya. Ragi dari spesies yang berbeda akan bereaksi berbeda dengan substrat chromogenik sehingga akan

di temukan warna koloni yang berbeda. Pada percobaan CAC,

Candida albicans

yang berbeda. Pada percobaan CAC, ​ Candida albicans akan menghasilkan warna hijau ​ , sedangkan pada

akan menghasilkan warna hijau, sedangkan pada spesies candida lainnya dapat

dihasilkan warna lainnya seperti warna ungu

pada

dapat dihasilkan warna lainnya seperti warna ​ ungu pada ​ Candida tropicallis ​ . pada ​

Candida tropicallis

.

pada

Candida kruseii

dan

lainnya seperti warna ​ ungu pada ​ Candida tropicallis ​ . pada ​ Candida kruseii dan

warna biru

c.CMA (Corn Meal Candida Agar) CMA Test merupakan metode identifikasi spesies jamur yang dilakukan dengan melakukan kultur spesies jamur tersebut pada kaca objek yang terdapat CMA, kemudian melalui proses inkubasi selama 48-72 jam pada suhu 37°C. Hasil kultur

Pada

diteliti

dengan

membedakan morfologi serta keberadaan klamidospora.

Candida albicans ditemukan

adanya klamidospora, sedangkan tidak ditemukan

adanya klamidospora pada Candida kruseii.

2.4 Klasifikasi kelainan yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut Pasien pada skenario tersebut menunjukkan gejala dari Kandidiasis Pseudomembranosus Akut karena menunjukkan ciri khas dari kelainan tersebut yaitu sistem imun yang rendah dan diduga menderita HIV/AIDS. Kelainan tersebut disebabkan oleh jamur.

Kelainan yang disebabkan oleh jamur dapat dibagi menjadi 3 yaitu akut, kronis, danassociated.

A. Akut dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

a.Kandidiasis Pseudomembranosus Akut

Biasanya disebut juga sebagai thrush. Secara klinis, pseudomembranosus kandidiasis

terlihat sebagai

dapat dihilangkan dan

ini terdiri dari sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur dan umumnya dijumpai pada mukosa labial, mukosa bukal, palatum keras, palatum lunak, lidah, dan jaringan periodontal. Keberadaan kandidiasis pseudomembranosus ini sering dihubungkan dengan pasien yang memiliki sistem imun rendah seperti HIV/AIDS, penggunaan

atau kuning, seperti cheesy material yang

plak mukosa yang putih

meninggalkan permukaan yang berwarna merah.

Kandidiasis

​ meninggalkan permukaan yang berwarna merah. Kandidiasis kortikosteroid, antibiotik, dan xerostomia ​ . Dapat juga

kortikosteroid, antibiotik, dan xerostomia. Dapat juga dijumpai pada bayi, usia tua,

penderita diabetes melitus, dan leukemia. Gambaran Klinis Akut Pseudomonas Kandidiasis (Oral Thrush) : Plak berwarna putih atau kuning pada lapisan atas mukosa, yang bisa diseset, dan meninggalkan permukaan kasar (terkadang berdarah). Plak terdiri dari sel-sel epitel yang berdeskuamasi, sel-sel radang, fibrin, ragi, miselia,

dan bakteri. Mukosa disekelilingnya bisa berwarna kemerahan bisa juga tidak. Umumnya tanpa gejala, tetapi kadang-kadang timbul rasa tidak enak, rasa terbakar

dan

kemampuan membedakan rasa menjadi berkurang

.

b.Kandidiasis Atrofik Akut Tipe kandidiasis ini kadang dinamakan sebagai

atau juga

dan biasanya dijumpai pada mukosa bukal, palatum, dan

bagian dorsal lidah dengan permukaan tampak sebagai bercak kemerahan. Kandidiasis atrofik akut sering dikaitkan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas maupun kortikosteroid. Gambaran Klinis Akut Atrofik Kandidiasis (Antibiotic Sore Mouth): Daerah eritematous dari mukosa mulut yang kasar, atrofik, dan menetap untuk beberapa waktu yang lama. Tidak ada lesi putih, kadang-kadang terdapat lesi putih yang minimal. Pada keadaan ini, pasien mengeluh rasa nyeri, panas, dan

antibiotic sore tongue

kandidiasis eritematus

panas, dan ​ antibiotic sore tongue kandidiasis eritematus terbakar. Dorsum lidah terlihat adanya ​ bercak

terbakar. Dorsum lidah terlihat adanya bercak kemereahan karena hilangnya papila

filiformis
filiformis

yang menghasilkan gambaran kemerah-merahan pada lidah (bold tounge).

B. Kronik, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

a. Kandidiasis Atrofik Kronik

Disebut juga

kandidiasis

Gambarannya berupa daerah eritema pada mukosa yang berkontak dengan permukaan gigi tiruan. Gigi tiruan yang menutupi mukosa dari saliva menyebabkan daerah tersebut mudah terinfeksi jamur. Berdasarkan gambaran klinis yang terlihat pada

dan merupakan

yang ditemukan pada 24-60% pengguna gigi tiruan.

denture sore mouth atau denture related stomatitis

paling

umum

mukosa yang terinflamasi di bawah gigi tiruan rahang atas, denture stomatitis ini dapat diklasifikasikan menjadi :

• Tipe 1 : Tahap awal dengan adanya pin point hiperemi yang terlokalisir

• Tipe 2 : Tampak eritema difus pada mukosa yang berkontak dengan gigi tiruan

• Tipe 3 : Tipe granular (inflammatory papillary hyperplasia)yang biasanya tampak pada bagian tengah palatum keras

b. Kandidiasis Hiperplastik Kronik

b. Kandidiasis Hiperplastik Kronik Sering disebut juga sebagai ​ kandida leukoplakia yang terlihat seperti plak putih

Sering disebut juga sebagai kandida leukoplakia

yang terlihat seperti plak putih pada

bagian komisura mukosa bukal atau tepi lateral lidah yang

tidak bisa hilang bila

dihapus​
dihapus​

. Kondisi ini dapat berkembang menjadi

displasia berat

.

Kandida leukoplakia dihubungkan dengan kebiasaan merokok

atau keganasan.

C.Associated dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

a. Keilitis Angularis

Disebut juga angular stomatitis, merupakan

kandida yang umumnya dijumpai pada sudut mulut baik unilateral maupun bilateral. Sudut mulut yang terinfeksi tampak merah dan terasa sakit. Keilitis angularis dapat terjadi pada penderita anemia, defisiensi vitamin B12, dan pada gigi torian vertikal dimensi oklusi yang tidak tepat.

infeksi campuran bakteri dan jamur

b. Median Rhomboid Glositis

Merupakan bentuk lain dari atrofik kandidiasis yang tampak sebagai daerah atrofik

pada bagian tengah permukaan dorsal lidah, dan dihubungkan dengan perokok dan

penggunaan

lidah, dan dihubungkan dengan ​ perokok dan penggunaan ​ obat steroid yang dihirup ​ . 2.5

obat steroid yang dihirup

.

2.5 Pemeriksaan penunjang diagnosis apa saja yang perlu dilakukan Pada pemeriksaan klinis intra oral terlihat gambaran klinis yang menyerupai karakteristik ulkus keganasan, yaitu ulser dengan dasar putih dan pinggiran ulser menggulung yang berhadapan dengan tepi gigi 46 yang tajam. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan penunjang yang dapat mendeteksi keganasan tersebut. Pemeriksaan penunjang diagnosis yang perlu dilakukan dapat berupa pemeriksaan yang noninvasif dan invasif. Pemeriksaan noninvasif yang dapat dilakukan adalah Sitilogikal smear (sitologi eksfoliatif) dan biopsi brush. Sitologikal smear merupakanpemeriksaan dari

sel yang diseset (scraping) dari permukaan lesi pada mukosa mulut. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mendeteksi adanya sel displastik, karena terkadang teknik ini tidak dapat mencapai lapisan terbawah dari lesi. Sedangkan, Biopsi Brush merupakan pemeriksaan yang menggunakan brush. Pemeriksaan ini dipakai untuk screening lesi prakanker dan lebih efektif dari Sitologikalsmear karena lesi yang diambil lebih tersebar. Adapun pemeriksaan invasif yang dapat dilakukan adalah biopsi insisi dengan teknik punch atau scalpel. Pemeriksaan biopsi bertujuan untuk menegakkan diagnosis tetap. Biopsi Punch (5 mm-10mm) merupakan pemeriksaan yang sering digunakan pada lesi di dalam rongga mulut.

2.6 Apabila pasien menolak untuk dilakukan tindakan invasif, maka tindakan yang dapat dilakukan dan cara melakukan pemeriksaan diagnosis tersebut

Tindakan non-invasif yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a.Sitological smear Merupakan pemeriksaan dari sel yang diseset dari permukaan lesi pada mukosa mulut. Sitological smear ini dapat mendeteksi adanya sel-sel yang displastik, karena smear ini dapat mencapai lapisan terbawah dari lesi. Smear ini dilakukan dengan menggunakan punggung sonde, ditekan kuat ke dasar ulkus atau erosi kemudian diusapkan keatas objek gelas, lalu diwarnai dengan hematoxilin dan eosin.

b.Brush biopsi

Mendeteksi sel displastik lebih akurat pada lesi premalignant. Dapat menimbulkan titik-titik perdarahan karena sifatnya mengenai sampai dasar lapisan mukosa. Brush biopsi dilakukan dengan cara :

1.Brush digosok 10 kali untuk mengambil sel warna kuning.

2. Menjaring sel sel yang lepas ke permukaan epitel dipakai pada screening rutin lesi lesi prakanker serviks dan rongga mulut. Sel-sel kemudian dipindahkan pada glass slide difiksasi dan diproses di laboraturium untuk interpretasi.

2.7

Kelebihan pemeriksaan penunjang diagnosis yang bersifat invasif dan non invasif

I. Non-invasive

a. Kelebihan

Tidak sakit

Dapat dilakukan dengan cepat, mudah, murah

Tidak membutuhkan anestesi lokal

Bagus untuk mendeteksi lesi rusak akibat virus, sel akantolitik dan hifa candida

Tidak menimbulkan komplikasi seperti pendarahan, bengkak, dan memar

Tidak menyebabkan metastasis kanker lewat pembuluh darah

II.Invasive

a. Kelebihan

Dapat mengetahui stadium keganasan pada suatu lesi

Dapat mendeteksi sel dysplasia lebih akurat

Dapat dilakukan untuk diagnosis kanker

Dapat menentukan jenis, sifat sel kanker, dan tingkat diferensiasi sel dari struktur normal

Dapat melakukan terapi yang lebih tepat

2.8 Pemeriksaan penunjang diagnosis yang bersifat invasif dan prinsip dasar

melakukannya

Pemeriksaan penunjang diagnosis bersifat invasif terdiri atas biopsi insisi, biopsi eksisi, biopsi punch, dan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy).

Biopsi Eksisi

Merupakan teknik biopsi yang mengambil seluruh jaringan lesi. Indikasi:

Memastikan diagnosis klinis yang sudah dibuat.

Ukuran lesi kecil (diameter < 1cm) sehingga seluruh jaringan dapat diambil.

diagnosis klinis yang sudah dibuat. ➢ Ukuran lesi kecil (diameter < 1cm) sehingga seluruh jaringan dapat

Gambar…

Teknik biopsi eksisi

Biopsi Insisi Merupakan suatu teknik biopsi yang mengambil sebagian dari jaringan lesi dengan mengikutsertakan jaringan normal sekitarnya. Indikasi:

Lesi yang besar (diameter lebih dari 1cm) dengan karakteristik yang

berbeda antara area satu dan lainnya.

Lesi yang bersifat multipel atau mencakup lokasi yang berbeda.

Perlu menentukan diagnosis sebelum melakukan tindakan perawatan.

Jika eksisi menyeluruh tidak dapat dilakukan, mengingat ukuran lesi atau karena faktor lainnya, seperti: lokasi lesi mempunyai resiko tinggi.

Kontraindikasi:

Lesi berpigmen melanin karena akan lebih cepat menyebar.

Lesi keunguan berisi darah, karena dapat menyebabkan perdarahan yang membahayakan.

Lesi kelenjar liur, menyebabkan mudahnya terjadi rekurensi pascabedah.

Gambar … ​ Biopsi insisi pada lesi eksofitik. ● Biopsi punch Teknik biopsi yang digunakan

Gambar …

Biopsi insisi pada lesi eksofitik.

Biopsi punch Teknik biopsi yang digunakan untuk mengambil sampel lesi berupa jaringan. Sesudah dianestesi, dilakukan pengambilan jaringan dengan diameter 3-4 mm dengan menggunakan suatu alat berbentuk silinder yang ditekan pada mukosa, setelah itu dijahit untuk mencegah perdarahan.

silinder yang ditekan pada mukosa, setelah itu dijahit untuk mencegah perdarahan. Gambar… ​ Teknik punch biopsy

Gambar…

Teknik punch biopsy.

FNAB (Fine needle Aspiration Biopsy)Biopsi aspirasi jarum halus atau Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) adalah merupakan suatu metode atau tindakan pengambilan sebagian jaringan tubuh manusia dengan suatu alat aspirator berupa jarum suntik yang bertujuan untuk membantu diagnosis berbagai penyakit tumor. Tindakan biopsi aspirasi ditujukan pada tumor yang letaknya superfisial dan palpable (lesi eksofitik), misalnya papilloma dan tumor kelenjar liur.

Biopsi invasive yang dapat dilakukan pada ulser yang berhadapan dengan tepi gigi 46 yang tajam adalah biopsi insisi dan biopsi punch. FNAB (Fine needle Aspiration Biopsy) tidak dapat dilakukan karena biopsi ini bukan indikasi untuk lesi ulser.

Prinsip dasar surgical biopsy:

- Pilih daerah yang paling mencurigakan (daerah eritema ketika diperkirakan suatu keganasan

- Hindari ulser dengan banyak daerah yang nekrotik

- Berikan lokal anestesi ( jangan ke diberikan ke dalam lesinya) untuk insisional dan eksisional biopsi

- Ikut sertakan tepi jaringan yang normal

- Besar spesimen minimal 5 mm x 5 mm (kedalaman) untuk insisional dan eksisional biopsi

- Tepi spesimen harus vertikal

- Pada kasus-kasus tertentu lewatkan jahitan pada jaringan yg dibiopsi untuk mencegah tertelan nya jaringan yang dibiopsi

- Pada lesi yang besar, biopsi diambil dari beberapa daerah

- Setelah jaringan diambil, wadah spesimen diberi label: nama pasien, tanggal lahir, tanggal biopsi, gambaran klinis

- Sebelum dikirim, periksa lagi infomasi yang ditulis dalam kertas yang tujukan ke bagian PA

- diskusikan hasil PA atau ulang biopsi jika klinis dan gambaran histopatologi tidak jelas.

3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

1.

Diagnosis yang paling mungkin dari kelainan yang ditemukan adalah Kandidiasis Pseudomembranosis.

2.

Pemeriksaan penunjang untuk kelainan Kandidiasis Pseudomembranalis adalah dengan Oral mycological smear.

3.

Mengisolasi adalah suatu cara untuk memisahkan candida dengan mikroorganisme lainnya melalui pemeriksaan langsung, dalam hal ini pemeriksaan langsung diketahui terbagi menjadi dua yaitu dengan pemeriksaan jamur dengan KOH 10% dan pewarnaan Gram. sedangkan mengidentifikasi adalah mengetahui dengan spesifik jenis dari jamur yang terdapat pada lesi. Mengidentifikasi dapat dilakukan dengan cara biakan/media kultur yang terbagi dalam 2 cara, yaitu melalui media cair (Germ-Tube Test) dan melalui media agar seperti SDA (Sabouraud Dextrose Agar), CAC (Chrom Agar Test), dan CMA (Corn Meal Candida Agar).

4.

Kelainan yang disebabkan oleh jamur dapat dibagi menjadi 3 yaitu akut, kronis, dan associated.

5.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan dapat berupa pemeriksaan yang noninvasif dan invasif. Pemeriksaan noninvasif meliputi sitologikal smear dan biopsi brush, sedangkan untuk pemeriksaan invasif yang dapat dilakukan adalah biopsi insisi dengan teknik punchatau scalpel.

6.

Tindakan non-invasif yang dapat dilakukan adalah sitological smear dan brush biopsi. Sitological smear merupakan pemeriksaan dari sel yang diseset dari permukaan lesi pada mukosa mulut. Sedangkan brush biopsi merupakan tindakan pemeriksaan yang lebih akurat untuk mendeteksi sel displastik pada lesi premalignant.

7.

Kelebihan Non-invasive adalah tidak sakit, dapat dilakukan dengan cepat, mudah, murah, tidak membutuhkan anestesi lokal, bagus untuk mendeteksi lesi rusak akibat virus, sel akantolitik dan hifa candida, tidak menimbulkan komplikasi seperti pendarahan, bengkak, dan memar, tidak menyebabkan metastasis kanker lewat pembuluh darah. Sedangkan kelebihan invasive adalah dapat mengetahui stadium

8.

keganasan pada suatu lesi, dapat mendeteksi sel dysplasia lebih akurat, dapat dilakukan untuk diagnosis kanker, dapat menentukan jenis, sifat sel kanker, dan tingkat diferensiasi sel dari struktur normal, dapat melakukan terapi yang lebih tepat. Pemeriksaan penunjang diagnosis bersifat invasive terdiri atas biopsi insisi, biopsi eksisi, biopsi punch, dan FNAB (Fine needle Aspiration Biopsy). Biopsi invasive yang dapat dilakukan pada ulser yang berhadapan dengan tepi gigi 46 yang tajam adalah biopsi insisi dan biopsi punch. FNAB (Fine needle Aspiration Biopsy) tidak dapat dilakukan karena biopsi ini bukan indikasi untuk lesi ulser.

DAFTAR PUSTAKA

1. Birnbaum, W. dan Dunne, S. M. (2006). Oral Diagnosis: The Clinicians Guide.

Oxford: Wright.

2.

Gayford, J J (diterjemahkan oleh : Lilian Yuwono). (1990). Penyakit Mulut. Jakarta :

EGC.

3. Lewis, Michael A. O. dan Jordan, Richard C.K. (2013). Penyakit Mulut: Diagnosis dan Terapi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

4. Ravikiran Ongole, dan Praveen, B. N. (2013). Textbook of Oral Medicine, Oral

Diagnosis and Oral Radiology 2nd Ed. India: Elsevier.

5. Sudiono, Janti. (2007). Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.