Anda di halaman 1dari 26

PERAWATAN DI RUMAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS

DENGAN LUKA

OLEH :

Kelompok 5

Bangun Sutopo
Dyah Ayu Intan P.D
Hendra Febri Kurniawan
Ismi Sulaika
Lois Elita Santoso
Nelly C
Ria Aprilia
Siti Fatimah

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat

menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah komplementer. Dan tidak lupa kami

ucapkan terima kasih pada dosen mata kuliah komplementer yang telah

memberikan tugas ini kepada kami. Dalam mata kuliah ini kelompok kami

mendapat judul “Perawatan di rumah pada pasien diabetes melitus dengan luka”.

Kami sangat berharap tugas kelompok ini dapat berguna dalam rangka

menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai tentang Asuhan

Keperawatan keluarga pada anak prasekolah. Kami menyadari sepenuhnya

bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh

karena itu, kami berharap adanya kritik, saran serta usulan demi perbaikan sangat

kami harapkan demi perbaikan tugas yang telah kami buat di masa yang akan

datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang

membangun.

Semoga tugas yang sederhana ini dapat bermanfa’at bagi para pembaca

dan pembuat tugas ini . Apabila ada kesalahan kata maupun kata-kata yang

menyinggung pembaca kami selaku pembuat tugas ini mohon ma’af. Kami

ucapkan terima kasih.

Penulis

2
Sampul luar ............................................................................................................. 1

Kata pengantar ......................................................................................................... 2

Daftar isi ................................................................................................................... 3

BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................

1.1 Latar belakang .................................................................................................... 4

1.2 Rumusan masalah............................................................................................... 5

1.3 Tujuan ............................................................................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................

2.1 Diabet militus ..................................................................................................... 6

2.2 Home care .......................................................................................................... 13

2.3 Perawatan dirumah pada pasien diabetes militus ............................................... 15

2.4 SOP perawatan luka ........................................................................................... 20

BAB 3 PENUTUP ..................................................................................................

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 25

3.2 Saran ...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Semakin banyaknya angka morbiditas dikalangan masyarakat khususnya

masyarakat di Indonesia mengakibatkan dituntutnya pelayanan kesehatan yang

lebih bukan sekedar mengobati dan merawat tetapi harus didukung program

untuk melakukan tindakan promotif dan preventif. Pemerintah menyadari

tidak hanya program peningkatan pelayanan di Rumah Sakit saja yang

diutamakan tetapi harus meliputi kepada bagaimana perawatan pemulihan

klien setelah kembali dari Rumah Sakit. Layanan homecare merupakan salah

satu layanan kesehatan dirumah yang berupaya dalam peningkatan status

kesehatan klien. Dalam konteks ini, perawat sebagai salah satu tenaga

kesehatan, memilki peranan penting dalam merawat dan membantu klien dan

keluarga dalam melakukan perawatan di rumah. Salah satu alasan perlu

dilakukannya layanan kesehatan dirumah adalah untuk membantu

memampukan keluarga dalam merawat klien mengetahui kondisi klien. Oleh

karena itu diperlukan pendidikan kesehatan dalam melakukan homecare. Salah

satu masalah kesehatan yang perlu dilakukan layanan kesehatan dirumah

adalah pada klien dengan penyakit Diabetes Melitus. Perawatan yang

diperlukan dapat meliputi seputar perawatan luka bila pada klien terdapat luka

gangren, pemeriksaan fisik, mengatur menu dan pola makanan yang tepat

serta hal-hal lain yang diperlukan. Maka dari itu penulis dalam makalah ini

4
membahas mengenai kesehatan dirumah yang diberikan pada klien dengan

penyakit Diabetes Mellitus

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimana perawatan dirumah pada klien dengan penyakit diabetus

melitus dengan luka ?

1.3 Tujuan

1. Mengidentifikasi perawatan dirumah pada klien dengan penyakit diabetus

melitus dengan luka.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes melitus

2.1.1 Pengertian diabetes melitus

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan

herediter, dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan

atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari

kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada

metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolism

lemak dan protein ( Askandar, 2000 ).

Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh

ketiadaan absolut insulin atau insensitifitas sel terhadap insulin (Corwin,

2001).

Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lender

dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman

saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus

diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit

DM dengan neuropati perifer, (Andyagreeni, 2010).

Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes

Melllitus sebagai sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan

penderita Diabetes. Kadar LDL yang tinggi memainkan peranan penting

untuk terjadinya Ulkus Uiabetik untuk terjadinya Ulkus Diabetik melalui

6
pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah, (zaidah

2005).

Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan

dengan morbiditas akibat Diabetes Melitus. Ulkus kaki Diabetes merupakan

komplikasi serius akibat Diabetes, (Andyagreeni, 2010).

2.1.2 Klasifikasi tipe DM

Klasifikasi Diabetes Melitus dari National Diabetus Data Group:

Classification and Diagnosis of Diabetes Melitus and Other Categories of

Glucosa Intolerance:

1. Diabetes Melitus

a. Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I

b. Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II (DMTTI yang tidak

mengalami obesitas , dan DMTTI dengan obesitas)

2. Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)

3. Diabetes Kehamilan (GDM)

2.1.3 Klasifikasi luka ganggren

Wagner (1983). membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan,

yaitu:

1. Derajat 0 :Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan

kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.

2. Derajat I : Ulkus superfisial terbatas pada kulit.

3. Derajat II :Ulkus dalam menembus tendon dan tulang

4. Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.

7
5. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau

tanpa selulitis.

6. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.

2.1.4 Etiologi DM

Menurut Smeltzer dan Bare (2001), penyebab dari diabetes melitus adalah:

1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)

a. Faktor genetic

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi

mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah

terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada

individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte

Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung

jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor imunologi

Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini

merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan

normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang

dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c. Faktor lingkungan

Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai

contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin

tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan

destuksi sel β pankreas.

8
2. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)

Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor

genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya

resistensi insulin. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)

penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai

dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada

awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja

insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor

permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang

meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien

dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan

reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat

reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi

penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system

transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam

waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada

akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk

mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Melitus tipe II

disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau

Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang merupakan

suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan,

terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul

pada masa kanak-kanak. Faktor risiko yang berhubungan dengan proses

terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:

9
a. Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65

tahun)

b. Obesitas

c. Riwayat keluarga

d. Kelompok etnik

3. Diabetes dengan Ulkus

a. Faktor endogen:

1) Neuropati

Terjadi kerusakan saraf sensorik yang dimanifestasikan dengan

penurunan sensori nyeri, panas, tak terasa, sehingga mudah

terjadi trauma dan otonom/simpatis yang dimanifestasikan

dengan peningkatan aliran darah, produksi keringat tidak ada dan

hilangnya tonus vaskuler.

2) Angiopati

Dapat disebabkan oleh faktor genetic, metabolic dan faktor

resiko lain.

3) Iskemia

Adalah arterosklerosis (pengapuran dan penyempitan pembuluh

darah) pada pembuluh darah besar tungkai (makroangiopati)

menyebabkan penurunan aliran darah ke tungkai, bila terdapat

thrombus akan memperberat timbulnya gangrene yang luas.

Aterosklerosis dapat disebabkan oleh faktor:

 Adanya hormone aterogenik

 Merokok

10
 Hiperlipidemia

Manifestasi kaki diabetes iskemia:

 Kaki dingin

 Nyeri nocturnal

 Tidak terabanya denyut nadi

 Adanya pemucatan ekstrimitas inferior

 Kulit mengkilap

 Hilangnya rambut dari jari kaki

 Penebalan kuku

 Gangrene kecil atau luas.

4) Faktor eksogen

a) Trauma

b) Infeksi

2.1.5 Manifestasi klinis DM

1. Diabetes Tipe I

a. Hiperglikemia berpuasa

b. Glukosuria, diuresis osmotik, poliuria, polidipsia, polifagia

c. Keletihan dan kelemahan

d. Ketoasidosis diabetik (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi,

nafas bau buah, ada perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian)

2. Diabetes Tipe II

a. Lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif

11
b. Gejala seringkali ringan mencakup keletihan, mudah tersinggung,

poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang sembuhnya lama, infeksi

vaginal, penglihatan kabur

c. Komplikaasi jangka panjang (retinopati, neuropati, penyakit vaskular

perifer)

3. Ulkus Diabetikum

Ulkus Diabetikum akibat mikriangiopatik disebut juga ulkus panas

walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh

peradangan dan biasanya teraba pulsasi arteri dibagian distal . Proses

mikroangipati menyebabkan sumbatan pembuluh darah, sedangkan

secara akut emboli memberikan gejala klinis 5 P yaitu :

a. Pain (nyeri)

b. Paleness (kepucatan)

c. Paresthesia (kesemutan)

d. Pulselessness (denyut nadi hilang)

e. Paralysis (lumpuh).

Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola

dari fontaine:

a. Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas (kesemutan).

b. Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten

c. Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat

d. Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia

(ulkus).

Smeltzer dan Bare (2001: 1220).

12
2.1.6 Cara hindari luka ganggren

Seperti beberapa penyakit lainnya, gangren diabetes juga dapat

dihindari. Sebagai pengingat, gangren diabetes banyak terjadi di area bagian

tubuh seputar kaki. Oleh sebab itu, kaki menjadi fokus utama untuk

penyembuhan luka gangren diabetes. Adanya luka yang kecil sekalipun

harus diwaspadai sebab luka dapat menimbulkan infeksi yang merupakan

awal dari proses penyebaran pembusukan ke bagian tubuh lainnya. Jika

berpergian, pastikan kaki beralaskan sepatu atau sandal yang nyaman dan

memiliki bantalan yang agak tebal. Sangat dianjurkan bagi penderita

diabetes untuk tidak menggunakan alas kaki yang ketat, karena hal tersebut

dapat menghambat aliran atau sirkulasi darah yang sebenarnya sudah cukup

terhambat akibat penyakit diabetes yang diderita. Tetapkan juga jadwal yang

rutin untuk menjalani pemeriksaan kadar gula darah untuk memastikan

kadar gula darah tidak terlalu tinggi. Jagalah selalu kebersihan kaki, dan

pastikan agar kedua kaki dalam keadaan yang kering sesaat setelah

dibersihkan agar kulit kaki tidak lembab, baik akibat air atau keringat.

2.2 Home care

Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care

adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang

diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang

bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan

atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari

penyakit.

13
Pelayanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien atau keluarga yang

direncanakan dan dikoordinasi oleh pemberi pelayanan melalui staf yang

diatur berdasarkan perjanjian bersama. Sedangkan menurut Neis dan Mc

Ewen (2001) menyatakan home health care adalah sistem dimana pelayanan

kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang

cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi

kesehatannya.

Home Care (HC) menurut Habbs dan Perrin, 1985 adalah merupakan layanan

kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D. & Eric B.L, 1993),

Sehingga home care dalam keperawatan merupakan layanan keperawatan di

rumah pasien yang telah melalui sejarah yang panjang.

Di beberapa negara maju,” home care “ (perawatan di rumah ), bukan

merupakan konsep yang baru, tapi telah dikembangkan oleh William Rathbon

sejak tahun 1859 yang dia namakan perawatan di rumah dalam bentuk

kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati klien yang sakit

dan tidak bersedia dirawat di rumah sakit.

1. Dari beberapa literatur pengertian “home care” adalah:

Perawatan dirumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah

sakit yang sudah termasuk dalam rencana pemulangan (discharge planning

) dan dapat dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula, oleh

perawat komunitas di mana pasien berada, atau tim keperawatan khusus

yang menangani perawatan di rumah.

2. Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga,

sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.

14
3. Pelayanan kesehatan berbasis dirumah merupakan suatu komponen

rentang keperawatan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif

diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka, yang

bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan

kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan

akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal.

4. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga,

direncanakan, dikoordinasikan dan disediakan oleh pemberi pelayanan

yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau

pengaturan berdasarkan perjanjian kerja (kontrak) (warola,1980 dalam

Pengembangan Model Praktek Mandiri keperawatan dirumah yang

disusun oleh PPNI dan Depkes).

2.3 Perawatan di rumah pada klien Diabetes Melitus

2.3.1 Cara perawatan pasien DM di rumah

1. Minum obat secara teratur sesuai program

2. Diet yang tepat

3. Olahraga yang teratur

4. Kontrol GD teratur

5. Pencegahan komplikasi

Tindakan yang bisa dilakukan bila kaki terluka:

a. Bila luka kecil : bersihkan dengan antiseptik, tutup luka dengan kasa

steril dan bila dalam waktu dua hari tidak sembuh segera periksa ke

dokter

15
b. Bila luka cukup besar / kaki mengalami kelainan segera pergi ke dokter.

Perawatan kaki Diabetik :

a. Saat mandi bersihkan dengan sabun, bila perlu gunakan batu apung /

sikat halus

b. Keringkan dengan handuk terutama sela-sela jari

c. Periksa kaki kemungkinan adanya perubahan warna (pucat,

kemerahan),bentuk (pecah-pecah, lepuh, kalus, luka), Suhu (dingin,

lebih panas)

d. Bila kaki kering,o lesi dengan lotion

e. Potong kuku / kikir tiap 2 hari, jangan terlalu pendek. Bila kuku terlalu

keras kaki direndam dahulu dalam air hangat ( 37,5’C ) selama 5 menit.

f. Gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun / wol

g. Pakailah alas kaki, periksa alas kaki sebelum dipakai, mungkin ada

sesuatu didalamnya. Lepas alas kaki setiap 4-6 jam dan gerakkan

pergelangan kaki dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah lancar

h. Lakukan senam kaki

i. Jangan biarkan luka sekcil apapun

Cara Memilih Sepatu yang baik bagi penderita DM :

a. Ukuran : Jangan terlalu sempit/ longgar kurang lebih ½ inchi lebih

panjang dari kaki

b. Bentuk : Ujung sepatu jangan runcing, tinggi tumit < 2 inchi

c. Bahan sepatu terbuat dari bahan yang lembut

d. Insole terbuat dari bahan yang tidak licin

16
2.3.2 Cara menyembuhkan ganggren

Untuk mengobati luka gangren diabetes, sebelumnya harus dikenali

berbagai jenis gangren diabetes supaya nantinya pengobatan dapat tepat

target. Gangren siabetes dibagi menjadi tiga jenis, yaitu basah, gas, dan

kering. Ketiga jenis gangren diabetes tersebut dibedakan atas gejala dan

bentuk luka gangren atau tipe luka pada penderita gangren diabetes.

Gangren dibetes basah adalah jenis yang sangat mungkin terjadi

apabila terjadi kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan trauma lainnya

pada penderita diabetes. Luka sekecil apapun dapat menyebabkan sirkulasi

darah pada tubuh terganggu, dan akhirnya berakhir pada berhentinya

sirkulasi darah ke bagian tertentu pada tubuh. Penderita diabetes memiliki

daya tahan tubuh yang sangat rendah, sehingga luka akibat kecelakaan dapat

menyebabkan sirkulasi darah pada tubuh semakin tersumbat, terutama pada

bagian betis ke bawah, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Luka

tersebut menyebabkan kulit terkelupas sehingga memungkinkan untuk

kuman dan bakteri masuk dan menyebabkan infeksi. Luka yang sudah

terinfeksi semacam ini sangat berbahaya, sebab gangren diabetes basah

dapat menyebar. Operasi merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh

untuk menghindari penyebaran gangren diabetes secara berkelanjutan.

Gangren diabetes gas hampir menyerupai gangren diabetes basah.

Hanya saja pada gangren diabetes gas, luka yang terbuka akibat kecelakaan

atau tusukan benda tajam tercemari oleh spora yang tentu saja mengandung

bakteri jahat. Spora tersebut terbawa lewat udara yang sebelumnya berasal

17
dari limbah kotoran atau feses hewan apapun. Oleh sebab itu, sangat

dianjurkan bagi penderita diabetes untuk tetap berda di lingkungan yang

sehat dan jauh dari limbah kotoran untuk mencegah gangren diabetes gas

terjadi.

Berbeda dengan gangren basah dan gas, gangren diabetes kering

terjadi ketika kulit menjadi keriput atau kisut dan berwarna seperti lebam

(ungu kehitaman). Hal ini terjadi karena bagian tubuh tersebut tidak

mendapat asupan nutrisi yang cukup yang biasanya dibawa melalui aliran

darah. Biasanya gangren diabetes kering terjadi di area kaki atau tangan.

Jenis gangren yang satu ini telah terbukti dapat ditangani dengan cepat dan

baik, sebab penyebaran gangren diabetes kering tidak secepat jenis gangren

yang basah maupun gas. Gangren diabetes kering juga tidak menimbulkan

infeksi seperti dua jenis gangren diabetes sebelumnya. Seperti yang telah

disebutkan sebelumnya, gangren memiliki beberapa jenis. Langkah awal

penanganan luka gangren diabetes adalah mencari tahu jenis gangren apa

yang tengah menjangkit bagian tubuh. Kurangnya asupan nutrisi yang

disebabkan oleh penyumbatan sirkulasi darah menyebabkan adanya

beberapa jaringan mati di seputar area yang terkena gangren diabetes.

Bersihkan jaringan atau kulit mati tersebut dengan cara mengguntingnya

dengan sangat hati-hati, jangan sampai timbul luka baru. Lakukan hal ini

sampai muncul jaringan kulit yang baru. Jika terdapat luka di bagian tubuh

tersebut, bersihkan dengan kain kasa steril dan cairan antiseptik, untuk

mencegah agar infeksi tidak terjadi dan luka tidak menyebar ke bagian tubuh

yang lain. Pastikan tangan yang digunakan untuk mengusapkan juga dalam

18
keadaan yang bersih dan steril, agar bebas dari kuman atau bakteri yang

tidak terlihat kasat mata. Untuk luka yang sekiranya berlubang atau terdapat

di bagian dalam, semprotkan cairan antiseptik untuk membunuh kuman

yang bersarang di area tersebut.

Proses untuk menghilangkan jaringan mati dan pembersihan kuman

atau bakteri pada bagian tubuh yang terjangkit gangren sebaiknya dilakukan

rutin sebanyak dua kali setiap harinya. Setelah dirasa cukup untuk

melakukan proses tersebut, bagian yang terkena gangren tadi dianjurkan

untuk ditutup rapat. Adapun lapisan untuk menutup bagian yang terluka

terdiri dari dua lapis. Lapisan yang pertama adalah menggunakan kasa steril

yang telah dicelupkan ke dalam cairan antiseptik sehingga menjadi basah.

Perhatikan ukuran kasa yang hendak digunakan, pastikan menutupi semua

permukaan yang terluka tadi. Setelah itu gunakan kasa steril yang kering

(tanpa dicelupkan ke cairan antiseptik) untuk melapisinya. Balutkan sampai

tidak menembus basahnya kasa steril lapisan pertama tadi. Kebersihan

adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam melakukan proses

perawatan luka gangren diabetes.

19
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR
PERAWATAN LUKA PADA DIABETES MILITUS

Melakukan tindakan perawatan : mengganti balutan,membersihkan luka


Pengertian
pada luka kotor.

1. Mencegah meluasnya infeksi


2. Memberi rasa nyaman pada klien
Tujuan
3. Mengurangi nyeri
4. Meningkatkan proses penyembuhan luka

 Alat Steril ( baki instrument berisi ) :


 1 Pinset anatomi
 2 pinset chirurgis
 1 klem arteri
 1 gunting jaringan
 Kassa dan deppers steril secukupnya
 Kom kecil untuk larutan 2 buah
 Sarung tangan steril
 Kapas lidi

Peralatan
 Alat Tidak Steril:
 Larutan NaCl 0,9 %
 Handscone bersih
 Pinset anatomi bersih
 Verban/plester hipoalergik
 Verban elastic, gunting verban
 Spuit 50 cc dan 10 cc
 Pengalas/perlak
 Tempat sampah atau kantong plastik, bengkok
 Antiseptik: Iodine (jika perlu), alkohol.

20
 Sampiran
 Masker, dan scort jika perlu

1. Tutup pintu atau pasang sampiran di sekitar klien


2. Atur posisi yang nyaman bagi klien untuk memudahkan daerah luka
dapat dijangkau dengan mudah
3. Sediakan perlatan yang diperlukan dalam troley di samping pasien.
4. Cuci tangan, gunakan sarung tangan bersih
5. Pasang pengalas
Prosedur 6. Letakkan bengkok atau kantong plastik di dekat klien
7.
p Buka balutan luka dengan menggunakan gunting verban. Bila balutan
e lengket pada luka, basahi balutan yang menempel pada luka dengan
l NaCl 0,9% dan angkat balutan dengan pinset secara hati-hati.
8.
a Kaji kondisi luka serta kulit sekitar luka:
k  Lokasi luka dan jaringan tubuh yang rusak, ukuran luka meliputi
s luas dan kedalaman luka (arteri, vena, otot, tendon dan tulang)
a  Kaji ada tidaknya sinus
n  Kondisi luka kotor atau tidak, ada tidaknya pus, jaringan nekrotik,
a bau pada luka, ada tidaknya jaringan granulasi (luka berwarna
a merah muda dan mudah berdarah)
n  Kaji kulit sekitar luka terhdap adanya maserasi, inflamasi, edema
dan adanya gas gangren yang ditandai dengan adanya krepitasi
saat melakukan paplpasi di sekitar luka.
 Kaji adanya nyeri pada luka
9. Cuci perlahan-lahan kulit di sekitar ulkus dengan kasa dan air hangat,
kemudian keringkan perlahan-lahan dengan cara mengusap secara
hati-hati dgn kasa kering
10. Cuci tangan dengan alkohol atau air bersih
11. Ganti sarung tangan dengan sarung tangan steril
12. Bersihkan luka:

21
 Bila luka bersih dan berwarna kemerahan gunakan cairan NaCl
0,9%
 Bila luka infeksi, gunakan cairan NaCl 0,9% dan antiseptik iodne
10%
 Bila warna luka kehitama: ada jar. Nekrotik, gunakan NaCl 0,9%.
Jar.nekrotik dibuang dengan cara digunting sedikit demi sedikit
samapi terlihat jar.granulasi.
 Bila luka sudah berwarna merah, hindari jangan sampai berdarah
 Bila ada gas gangren, lakukan masase ke arah luka
13. Bila terdapat sinus lubang, lakukan irigasi dengan menggunakan
NaCl 0,9% dengan sudut kemiringan 45 derajat sampai bersih. Irigasi
sampai kedalaman luka karena pd sinus terdapat banyak kuman
14. Lakukan penutupan luka:
a. Cara Konvensional:
Bila luka bersih, tutup luka dengan 2 lapis kain kasa yang telah dibasahi
dengan NaCl 0,9% dan diperas sehingga kasa menjadi lembab.
Pasang kasa lembab sesuai kedalaman luka (hindari mengenai
jaringan sehat di pinggir luka), lalu tutup dengan kain kasa kering
dan jangan terlalu ketat.
Bila luka infeksi, tutup luka dengan 2 lapis kasa lembab dengan NaCl 0,9%
dan betadin 10%, lalu tutup dengan kasa kering
b. Bila menggunakan balutan modern
Transparant film: balutan yang dapat mendukung terjadinya autolitik
debridement dan digunakan pada luka partial thickness.
Kontraindikasi pada luka dengan eksudat banyak dan sinus
Hidroaktif gel: digunakan untuk mengisi jaringan mati/nelrotik,mendudkung
terjadinya autolitik debridement, membuat kondisi lembab pada
luka ynag kering/nelrotik, luka ynag berwarna kuning dengan
eksudat minimal.
Hidroselulosa: Digunakan untuk menyerap cairan (hidrofiber) dan membentuk
gel yang lembut, mendukung proses autolitik debridement,
meningkatkan proses granulasi dan reepitelisasi, meningkatkan

22
kenyamanan pasien dengan mengurangi rasa sakit, menahan
stapilococcus aureus agar tidk masuk ke dalam luka. Calsium
Alginate: Digunakan sebagai absorban, mendukung granulasi
pada luka. Digunakan pada warna luka merah, eksudat dan
mudah berdarah.
Metcovasin: Digunakan untuk memproteksi kulit, mendukung proses autolisis
debridement pada luka dengan kondisi nekrotik atau granulasi /
superfisial.
Mycostatine dan metronidazole: Berguna untuk melindungi kulit akibat
candida, untuk mengurangi bau akibat jamurdan bakteri anaerob,
mengurangi nyeri dan peradangan.
15. Bila pembuluh darah vena mengalami kerusakan , lakukan kompresi
dengan menggunakan verban elastis.
16. Mengatur pasien ke posisi yang nyaman dan memungkinkan aliran
darah ke perifer dan ke daerah luka tetap lancar, misalnya dnegan
cara elevasi tungkai bila luka berlokasi di tumit atau telapak kaki.
17. Merapikan alat-alat
18. Membuka sarung tangan dan Mencuci tangan
19. Mengevaluasi respin pasien baik verbal maupun non verbal
20. Menyusun rencana tindak lanjut: jadwal penggantian balutan yang
akan datang dan rencana edukasi kepada klien dan keluarga.
21. Dokumentasikan tindakan dan hasil evaluasi perkembangan keadaan
luka:
 Ukuran luka: luas dan kedalaman luka
 Kondisi luka
 Kondisi kulit sekitar luka
 Apakah ada nyeri pada luka
 Jenis balutan yang digunakan
 Hasil kultur luka (jika ada)
22. Berikan pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan luka:
 Anjurkan klien untuk tidak menekuk atau melipat kaki yang luka

23
 Anjurkan klien untuk imobilisasi kaki yg luka dan hindari
menggunakan kaki yg luka sebagai tumpuan atau penyangga
tubuh.
23. Evaluasi
 Mencatat hasil tindakan perawatan luka pada dokumen/catatan
keperawatan
 Perhatikan teknik asepthik dan antiseptik
 Jaga privasi klien
 Perhatikan jika ada pus / jaringan nekrotik
 Catat karakteristik luka

24
BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus

sebagai sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita

Diabetes. Kadar LDL yang tinggi memainkan peranan penting untuk

terjadinya Ulkus Uiabetik untuk terjadinya Ulkus Diabetik melalui

pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah. Seperti

beberapa penyakit lainnya, gangren diabetes juga dapat dihindari. Sebagai

pengingat, gangren diabetes banyak terjadi di area bagian tubuh seputar kaki.

Oleh sebab itu, kaki menjadi fokus utama untuk penyembuhan luka gangren

diabetes. Untuk mengobati luka gangren diabetes, sebelumnya harus dikenali

berbagai jenis gangren diabetes supaya nantinya pengobatan dapat tepat target.

Gangren siabetes dibagi menjadi tiga jenis, yaitu basah, gas, dan kering.

Ketiga jenis gangren diabetes tersebut dibedakan atas gejala dan bentuk luka

gangren atau tipe luka pada penderita gangren diabetes. Kebersihan adalah hal

utama yang harus diperhatikan dalam melakukan proses

3.2 Saran

Diharapkan makalah ini bisa dijadikan refrensi untuk menambah

wawasan mengenai perawatan homecare dirumah bagi pasien diabetes melitus

dengan luka. Sehingga masyarakat dengan keluarga yang mengalami penyakit

diabetes melitus bisa melakukan perawatan secara mandiri.

25
DAFTAR PUSTAKA

Novalia, I, 2016, Perawatan Klien Diabetes Melitus Dengan Luka Gangren Di Rumah,

dilihat 08 April 2018, http://ifanofalia.blogspot.co.id/2016/01/perawatan-klien-

diabetes-melitus-dengan.html

Anonim, 2016, Perawatan Pasien Diabetes Melitus Di Rumah , dilihat 08 April 2018,

http://kuliahiskandar.blogspot.co.id/2012/05/home-care.html

26