Anda di halaman 1dari 3

Review Tugas

Teori Hubungan Internasional II


Marxisme
Nama : Gita Azzahra Aisyah
NIM : 11171130000099 / HI 4C
Dosen : Ahmad Alfajri MA

MARXISME
oleh
Theories of International Relation edisi ketiga karya Scott Burchill, Andrew
Linklater, Richard Devetak, Jack Donnelly, Matthew Paterson, Christian Reus -Smit
and Jacquie True

Marxisme adalah buah pemikiran dari Karl Marx (1818–1883), seorang filsuf dan
ekonom Jerman. Marx lahir di kota Trier, di perbatasan Barat Jerman yang waktu itu termasuk
Kerajaan Prusia. Sewaktu muda Marx disuruh ayahnya untuk belajar hukum tapi ia lebih pengin
jadi penyair. Marx memutuskan pindah ke Berlin dan di sana dia belajar filsafat. Paham
Marxisme sendiri muncul pada abad ke 19 yang berawal dari pemikiran Karl marx dan Friedrich
Engels bahwa masalah-masalah sosial yang timbul sebagian besar diakibatkan oleh adanya
sistem kapitalisme.
Konsep marxisme yang yang diutarakan Karl Marx merupakan bentuk kritik terhadap
bentuk kapitalisme yang ada pada masanya. Yang coba disoroti oleh Marx adalah praktek
kapitalisme pada masa itu membentuk kondisi sosial dimana kepemilikan pribadi terhadap faktor
produksi yang dikuasai oleh para kapitalis. Hal tersebut memicu adanya kesenjangan sosial
antara kapitalis dengan para tenaga kerja yang ekonominya kurang. Untuk membahas ini lebih
lanjut, Karl Marx menjelaskan lebih dalam pada teori kelas.
Dalam tulisan ini, Marx membagi kelas sosial pada masyarakat kapitalis. Kelas sosial yang
dimaksud Marx masih belum jelas lebih lanjutnya didefinisikan oleh Lenin yaitu “golongan
sosial dalam sebuah tatanan masyrakat yang ditentukan oleh posisi dalam proses produksi”.
Marx membagi kelas sosial atas kaum pemilik modal (borjuis) digambarkan sebagai kelas atas
dan kaum buruh (proletar) dianggap sebagai kelas bawah. Dalam pelaksanaanya terdapat
hubungan antar kedua kelas tersebut, hubungan antara kelas atas dan kelas bawah merupakan
hubungan kekuasaaan: yang satu berkuasa atas yang. Seiring berjalannya waktu kesewenang –
wenangan kaum kapitalis terhadap kaum buruh menciptakan pertentangan di antara mereka.
Pertentangan yang muncul disebabkan karena benturan kepentingan antar keduanya.
Menurut penulis, gagasan Marxisme sendiri menempatkan aspek ekonomi sebagai pondasi
dalam menentukan sistem sosial, termasuk sosial budaya serta politik. Marxisme
mengidentifikasi hubungan pararel ekonomi dan politik antara kekuatan Borjuis dan Proletar,
dengan penguasaan faktor produksi maka lebih besar kesempatan untuk meraih dominasi politik.
Marxisme turut menegaskan bahwa dominasi politik tidak menutup kemungkinan dapat dimiliki
oleh aktor non-negara, bergantung dari siapa pengendali faktor-faktor produksi. Hal ini sekaligus
menantang dua teori pendahulu, Realisme dan Liberalisme, terkait kekuatan negara dalam sistem
internasional.
Jika lihat dari gagasan yang dikembangkan oleh Marx jika diterapkan dalam sistem
internasional akan relevan dimasukan dalam bidang ekonomi. Marxisme ini ingin membentuk
tatanan dunia yang tidak terdiferensiasi berdasarkan kelas dan kesenjangan sosial berdasarkan
kemampuan ekonomi dari setiap negara. Hal ini sejalan dengan apa yang di sampaikan dalam
buku tersebut, bahwa bahasan yang diisi oleh marxisme adalah Ekonomi Politik Internasional.
Aktor yang coba dikedepankan oleh marxisme adalah kapitalis atau pemilik faktor
produksi. Berbeda dengan teori lain seperti realisme dan liberalisme yang aktornya adalah
negara. jadi dia beranggapan bahwa hubungan yang terjalin dalam dunia internasional adalah
bentuk perpanjangan dari praktek kapitalisme yang ada di dalam negeri.
Asumsi yang mungkin mendasari teori marxisme dalam hubungan internasioanal adalah:
1) Kapitalis sebagai aktor dalam berlangsungnya hubungan internasional, 2) Kondisi sosial yang
terbentuk karena kepemilikan pribadi faktor produksi menyebabkan timbulnya kesenjangan
sosial, 3) Kesamarataan kondisi sosial tanpa kelas merupakan perdamaian yang dapat dicapai, 4)
Revolusi adalah jalan untuk melakukan perubahan sosial agar terhapusnya penindasan kaum
borjuis kepada kaum proletar, 4) Negara berjalan dengan pertimbangan untuk menguntungkan
kaum borjuis.

Perlu diperhatikan pula bahwa hubungan yang saling bertentangan antara dua kelas
Borjuis dan Proletar tidak ada sangkut-pautnya dengan sikap hati atau moral, melainkan murni
atas kepentingan mereka masing-masing. Kepentingan kelas itulah yang menurut Marx mampu
menjaga stabilitas sosial. Ia juga menganggap bahwa negara secara hakiki adalah negara kelas,
maksudnya negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas – kelas yang
mengusai bidang ekonomi. Hal yang unik atas perspektif Marx ini adalah bahwa kaum kelas
bawah bisa mengalami perubahan kelas jika mereka bersatu dan melakukan revolusi disaat
kekuasaan kelas atas telah berkurang.

Karl Marx juga mengakui bahwa adanya sistem kapitalis akan mampu memaksimalkan
keberadaan kelas dan mampu mendominasi sistem internasional. Terlihat pada realita sekarang
bahwa sistem kapitalis yang ada saat ini hanya menguntungkan satu pihak saja, yaitu kaum
kapitalis (Borjuis). Karl Marx sendiri juga meyakini suatu kesimpulan bahwa revolusi politik
akan menggulingkan tatanan kapitalis dan hal ini akan membuat terwujudnya sebuah masyarakat
sosialis untuk meningkatkan derajat kehidupan umat manusia di seluruh belahan dunia.

Menurut penulis revolusi politik yang ingin dicapai Karl Marx adalah semata-mata untuk
menegakkan keadilan social di suatu Negara karena menurut Marx pada saat itu kapitalisme di
negaranya sangat tinggi oleh karena itu Karl Marx membuat asumsi dasar dengan cara melihat
masyarakat dari perspektif kelas-kelas social.