Anda di halaman 1dari 3

38

BAB V
KESIMPULAN

Telah dilaporkan sebuah kasus seorang laki-laki berinisial Tn. L


berusia 50 tahun, saat ini dirawat di bangsal penyakit dalam, ruang Ahmad
Dahlan 4/1, Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Berdasarkan
anamnesa terdapat sesak napas yang memberat sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit. Pasien juga mengeluh batuk-batuk berdahak tanpa disertai
darah sejak ± 1 minggu ini. Pasien mengatakan keluhan batuk tersebut
disertai dahak bewarna putih dan sejak ± 3 hari ini merasa batuk disertai
dahak tersebut menjadi semakin sering. Pada pemeriksaan fisik, keadaan
umum tampak sakit ringan dan kesadaran composmentis. Tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 91x/menit, reguler, frekuensi pernapasan 28 x/menit,
dan suhu 38,5ºC. Status generalis didapatkan kepala dalam batas normal.
Pada regio thorax, didapatkan adanya wheezing wheezing (+/+) pada
lapangan paru kanan atas dan seluruh lapangan paru kiri. Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan neutropenia, monositosis dan peningkatan LED.
Pemeriksaan radiologi thorax PA didapatkan infiltrat dengan multipel
cavitas di suprahilar kanan dan kiri. Pemeriksaan Genexpert tidak terdeteksi
MTB dan pemeriksaan BTA 3x didapatkan BTA 1 sampai 3 negatif.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
dapat disimpulkan bahwa pasien menderita penyakit paru obstruktif kronik
et causa pneumonia.

38 Universitas Muhammadiyah Palembang


39

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Ageing and Life Course. 2015. Available at


http://www.who.int/ageing/en/
2. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Poket Guide To COP
Diagnosis, Managemeny and Prevetion (A Guide for Health Care
Professionals) 2017 Report.
3. NICE.Chronic Obstructibe Pulmonary Disease in Over 16s: Diagnosis and
Management.2010.nice.org.uk/guidance/cg101.
4. Arto Yuwono Soeroto, Hendarsyah Suryadinata. Update Knowledge in
Respirology (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Divisi Respirologi dan Kritis
Respirasi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Dr Hasan Sadikin-FK Unpad.
Ina J Chest Crit and Emerg Med. Vol 1, no.2 .2014
5. Fadhil el Naser, Irvan Medison, Erly. Gambaran Derajat Merokok pada
penderita PPOK di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil.Jurnal Kesehatan
Andalas.2016;5(2). http;//jurnal.fk.unand.ac.id
6. PDPI.Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) (Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia).Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2010
7. Sudoyo AW , Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam 5th ed. Jakarta Interna Publishing:2010; p 757-767.
8. Mahler DA (2006). "Mechanisms and measurement of dyspnea in chronic
obstructive pulmonary disease". Proceedings of the American Thoracic
Society 3 (3): 234–8.doi:10.1513/pats.200509-103SF. PMID 16636091
9. Buist Sonia, et. All. Global Stategy for the Diagnosis, Management, and
Prevention of COPD. In : NHLBI/WHO Global Initiative for COPD
Workshop Summary : 2006
10. Elizabeth G. Nabel, M.D 2007 NHLBI Morbidity and Mortality Chart Book"
(PDF). Retrieved 2008-06-06
11. Wunderink RG, Watever GW. 2014. Community-acquired pneumonia. N Engl
J Med.2014;370:543-51.
12. PDPI. 2003. Pneumonia komuniti-pedoman diagnosis dan penatalaksaan di
Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

39 Universitas Muhammadiyah Palembang


40

13. Dahlan Z. 2009. Pneumonia, dalam Sudoyo AW, dkk (editor). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Edisi V. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Universitas Indonesia.
14. Sajinadiyasa GK, Rai IB, Sriyeni LG. 2011. Perbandingan antara Pemberian
Antibiotika Monoterapi dengan Dualterapi terhadap Outcome pada Pasien
Community Acquired Pneumonia (CAP) di Rumah Sakit Sanglah Denpasar. J
Peny Dalam;12:13-20.
15. Niederman MS, Mandel LA, Anzueto A, Bass JB, Broughton WA, Campbell
GD, Dean N, File T, Fine MJ, Gross PA et al. VICTOR L. YU, M.D.
Guidelines for the Management of Adults with Community-acquired
Pneumonia – Diagnosis, Assessment of Severity, Antimicrobial Therapy, and
Prevention. Am J Respir Crit Care Med 2001; 163: 1730-1754.

40 Universitas Muhammadiyah Palembang