Anda di halaman 1dari 47

METALURGI FISIK I

Proses reduksi bijih besi


Proses pembuatan baja
Struktur, sistim dan cacat kristal
Pengamatan metalografi
Diagram fasa
Perlakuan panas
Efek strain hardening
Sifat-sifat mekanis dan pengujiannya
KLASIFIKASI LOGAM
FERROUS :Fe › 50 % diklasifikasikan menjadi :
- Baja : 1. Menurut kadar C (plain carbon steel) : Baja karbon rendah
Baja karbon sedang
Baja karbon tinggi
2. Menurut penggunaannya
3. Menurut perlakuan panas
- Besi tuang : 1. Besi tuang kelabu
2. Besi tuang putih
3. Besi tuang berbintik
4. Besi tuang mampu tempa
5. Besi tuang bergrafit bulat
ëon Ferrous : Fe < 50 %, diklasifikasikan menjadi :
-. Aluminium (Al)
- Magnesium (Mg)
- Tembaga (Cu)
- Kuningan / brass (Cu ± Zn)
- Perunggu / bronze (Cu ± Sn)
- Timah putih (Sn)
- Timah hitam (Pb)
- Seng (Zn)
- ëikel (ëi)
- dsb
PERBEDAAë BAJA DAë BESI

Dapat ditinjau dari :


1. Komposisi kimia
2. Sifat-sifat mekanis
3. Proses pembuatannya
BESI BAJA
2 % < C < 6,67 % 0,002 % < C < 2 %
Mn < 1 % Mn < 1 %
Si = 1 ± 3 % Si < 1 %
P < 0,05 % P < 0,05 %
S < 0,05 % S < 0,05 %
-------------------------------------------------------------------------------------------
- Keras dan getas - Dapat dibentuk secara plastis
- Meredam getaran - Meneruskan getaran
-------------------------------------------------------------------------------------------
- Proses pembuatannya - Proses pembuatannya secara
secara reduksi oksidasi
PROSES PEMBUATAë BESI BAJA
Bijih Besi
Pemurnian & aglomerisasi
Pelet (oksida besi) / Fe2O3, Fe3O4
Reduksi
Fe (besi murni)
casting oksidasi

Besi tuang Baja


casting
Baja tuang
REDUKSI BIJIH BESI
Besi diperoleh dari mineral bijih besi yang terdiri dari :
Hidroksida (Fe 20 ± 50 %) dapat berupa :
- Goetmit (Fe2O3.H2O)
- Limonit (2Fe2O3.3H2O)
- Laterit (Fe2O3.xH2O)
Oksida (Fe 40 ± 70 %)
- Magnetit (Fe2O3)
- Hematit (Fe3O4)
Karbonat (Fe 30 ± 40 %)
- FeCO3
- CaCO3
Unsur-unsur lain : SiO2, P, S dll
Bijih besi mengalami proses pemurnian (dipisahkan dari unsur-
unsur pngotor), setelah itu dilakukan proses aglomerisasi
(penggumpalan) membentuk oksida-oksida besi dari magnetit
atau hematit.
Oksida-oksida besi tsb diproses / dipanaskan dan ditekan
membentuk pelet (bulat berdiameter 2 mm) dan dapat juga
berupa sinter (bentuknya tidak beraturan)
Pelet (Fe2O3. Fe3O4) kemudian dilakukan proses reduksi, yang
secara garis besar perubahannya adalah sbb :
Fe3O4 Fe
Fe2O3
KLASIFIKASI REDUKSI BIJIH BESI
Reduksi Tidak Langsung : dilakukan dalam dapur yang disebut dapur
tinggi (blast furnace).
I I. Stack
II. Saucher Bosch
II III. Bosch

III IV. Hearth

IV
besi cair (pig iron)
ditiupkan udara panas
Pada stack, feed (umpan) dimasukkan berselang seling mulai dari pelet,
batu kapur, kokas demikian seterusnya
REAKSI REDUKSI TIDAK LAëGSUëG
- Pada bagian bosch terjadi reaksi pembuatan gas reduktor :
FeO + CO  Fe + CO2
CO2 + C  2 CO
FeO + C  Fe + CO (gas reduktor)

- Pada bagian stack terjadi reaksi reduksi :


3 Fe2O3 + CO  2 Fe3O4 + CO2
Fe3O4 + CO  3 FeO + CO2
FeO + CO  Fe + CO2
3 Fe2O3 + 9 CO  6 Fe + 9 CO2
Fe (besi murni) yang diperoleh ini adalah dalam fasa cair (pig iron)
Reduksi Langsung.
Disebut dengan proses HYL.(Hoyalanta). Gas reduktor yang
digunakan berasal dari LëG (gas alam cair) :CH4 yang
direaksikan dengan uap air panas (H2O) sebagai berikut :
CH4 + H2O  CO + 3 H2
(gas reduktor)

Gas reduktor tersebut digunakan untuk mereduksi pelet :


Fe2O3 + 3 H2  2 Fe + 3 H2O atau
Fe2O3 + 3 CO  2 Fe + 3 CO2
Besi yang dihasilkan berbentuk padatan (sponge iron)
PERBEDAAë REDUKSI LAëGSUëG & TIDAK
LAëGSUëG
Reaksinya berbeda, pada reduksi tidak langsung Fe diperoleh
dari beberapa tahap reaksi, pada reduksi langsung dengan 1
tahap reaksi dapat diperoleh Fe murni
Hasil akhirnya berbeda, output dari reduksi tidak langsung
adalah besi dalam keadaan cair (pig iron), output dari reduksi
langsung adalah besi dalam keadaan padat (sponge iron)
Sumber gas reduktornya berbeda, reduksi tidak langsung
menggunakan kokas untuk menghasilkan gas reduktor CO,
reduksi langsung menggunakan CH4 untuk menghasilkan gas
reduktor CO dan H2
Kualitasnya berbeda, reduksi langsung menghasilkan besi
dengan kualitas yang lebih baik daripada reduksi tidak langsung.
Karena reduksi tidak langsung menggunakan kokas untuk
menghasilkan gas reduktor. Kokas berasal dari batubara yang
mengandung Sulfur (S), dimana S tsb dapat ikut masuk ke
dalam besi hasil reduksi yang mengakibatkan besi mengalami
hot shortness (retak panas)
PROSES PEMBUATAë BAJA

Melalui proses oksidasi yang tujuannya :


1. Mengurangi % C dalam besi : C + O2 CO2
2. Menambahkan unsur-unsur paduan
3. Mengurangi gas-gas yang larut
untuk mencegah kegetasan dalam baja
KRISTAL LOGAM
Kristal adalah susunan atom-atom yang teratur dimana keteraturannya
selalu berulang dalam pola 3 dimensi. Yg tidak teratur : amorf
Kristal logam diklasifikasikan menjadi :
Sistim kristal
Struktur kristal
SISTIM KRISTAL

c
a b

SISTIM KRISTAL : Bentuk bangun / pola 3 dimensi yang
terbentuk akibat adanya keteraturan atom-atom di dalam kristal
logam.
STRUKTUR KRISTAL : Susunan / posisi atom-atom di
dalam pola 3 dimensi (di dalam sistim kristal)
Berdasarkan parameter-parameter yang ada maka sistim kristal
diklasifikasikan menjadi 7 macam :
1. Triklin : a # b # c ; # #  # 90o
2. Monoklin : a # b # c ; =  = 90o #
3. Ortorombik: a  b # c, = =  = 90o
4. Rhombohedral (trigonal) : a = b = c, = =   90o
5. Hexagonal : a = b # c, = = 90o,  = 120o
6. Tetragonal : a = b # c, = =  = 90o
7. Cubic : a = b = c,  = =  = 90o
a, b, c = rusuk-rusuk bangun 3 dimensi disebut dg konstanta kisi
Į,ȕ,Ȗ = sudut-sudut antara konstanta kisi
Umumnya logam-logam penting mempunyai sistim kristal kubus
(cubic) dan hexagonal.
STRUKTUR KRISTAL

Untuk sistim kristal cubic terdapat 2 macam struktur kristal yaitu


FCC dan BCC sedangkan untuk sistim kristal hexagonal dikenal
struktur kristal CPH

FCC (Face Centered Cubic) / Kubus Pemusatan Sisi


Mempunyai kerapatan atom = 0,74
Lunak dan ulet
Mudah dibentuk karena mempunyai bidang geser yang cukup
banyak
Contoh logam yang mempunyai struktur kristal FCC adalah Al,
ëi, Cu, Au, Ag, Pt, Pb, Fe()
BCC (Body Centered Cubic) / Kubus Pemusatan Ruang
Mempunyai kerapatan atom = 0,68
Kuat dan keras
Sulit dibentuk karena mempunyai sedikit bidang geser
Contoh logam yang mempunyai struktur kristal BCC adalah Cr,
Fe( ), Fe(), Mo, V dan ëa
CPH (Closed Packed Hexagonal) / Heksagonal Tumpukan Padat
Mempunyai kerapatan atom = 0,74
Lunak dan ulet
Mudah dibentuk
Contoh logam yang mempunyai struktur kristal CPH adalah Mg,
Be, Zn, Cd, Hf dan Ti
CACAT KRISTAL

Dalam penyusunannya ternyata atom-atom dalam kristal tidak


seluruhnya membentuk keteraturan yang sempurna.
Ketidaksempurnaan itu disebut cacat kristal yang dapat berupa :
Cacat titik
Cacat garis
Cacat bidang atau volume
Cacat-cacat kristal tersebut dapat mengganggu keteraturan
susunan atom-atom setempat.
CACAT TITIK
a. Atom kosong (vacancy) : c. Atom pengganti (substitusi) :
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 0 0 0 0
Fe dapat digantikan oleh Cr,ëi
b. Atom sisipan (interstisi) :
0 0 0 0
0 0* 0 0
0 0 0 0
Fe dapat disisipkan dengan C, ë,H
CACAT GARIS (DISLOKASI)
a. Edge Dislocation (dislokasi sisi)

b. Screw Dislocation (dislokasi ulir) :


CACAT BIDAëG / VOLUME : BATAS BUTIR
CATATAë :
-Butir yang besar mengakibatkan
sifat logam menjadi lunak
-Butir yang kecil / halus
mengakibatkan sifat logam menjadi
keras / kuat

Batas butir merupakan daerah yang mobile / mudah bergerak


yang mengakibatkan semua proses perubahan atom/metalurgi
selalu berawal dari batas butir misalnya perubahan fasa,
pergerakan dislokasi, pertumbuhan butir.
Butir yang halus / kecil artinya mempunyai batas butir yang banyak,
dimana batas butir ini menjadi penghalang bagi pergerakan
dislokasi. Makin banyak penghalang / hambatan terhadap
pergerakan dislokasi maka logam menjadi kuat.

KUAT HAMBATAë TERHADAP PERGERAKAë


DISLOKASI CUKUP BAëYAK
Oleh karena itu untuk meningkatkan kekuatan logam dapat
ditempuh dengan cara antara lain: menambah unsur paduan,
menghaluskan butir yang semuanya dapat menjadi hambatan
terhadap pergerakan dislokasi
Gambaran butir / batas butir dapat diperoleh melalui pengamatan
metalografi dengan tahapan pengujiannya sebagai berikut :
1. Pemotongan sampel
2. Grinding
3. Polishing
4. Pencucian
5. Etsa
6. Pembersihan
7. Pengeringan
8. Pengamatan dengan mikroskop optik / elektron
DIAGRAM FASA LOGAM
Disebut juga dengan diagram kesetimbangan atau diagram
konstitusional.
Tujuan mempelajari diagram fasa :
Mengetahui komposisi kimia suatu paduan
Mengetahui jumlah relatif fasa suatu paduan pada temperatur
tertentu
Mengetahui perubahan-perubahan struktur mikro yang terjadi
pada suatu paduan akibat proses perlakuan panas
Mengetahui temperatur cair suatu paduan (khususnya pada
proses peleburan logam untuk proses pengecoran)
Mengetahui temperatur perlakuan panas suatu paduan
Mengetahui temperatur pembentukan fasa suatu paduan
KLASIFIKASI DIAGRAM FASA
Diagram fasa 1 komponen / 1 unsur : misalnya untuk air

padat cair
T
gas

T p

Diagram fasa biner (paduan 2 unsur)


Diagram fasa tersier (paduan 3 unsur)
DIAGRAM FASA BIëER
Digambarkan dengan grafik sebagai berikut : (pada tekananan konstan 1
atmosfir)

Temp  
 

°  °   B ° 
A
% berat B
Berat total A dan B = 100 %
KLASIFIKASI DIAGRAM FASA BIëER
Tipe I : dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan padat
Tipe II : dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan tidak
larut sempurna dalam keadaan padat
Tipe III : dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan larut
sebagian dalam keadaan padat
Tipe IV : dua logam membentuk fasa intermediate dengan titik
lebur kongruen
Tipe V : dua logam membentuk reaksi peritektik
Tipe VI : dua logam membentuk reaksi monotektik
Tipe VII : dua logam tidak terlarut sempurna dalam keadaan cair
dan padat
Diagram fasa Fe ± Fe3C
DIAGRAM FASA BIëER TIPE I

Dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan padat. Contoh
Cu - ëi
Garis liquidus

TA
L
V s Fasa lumpur
TB
V

Garis solidus
A B
L = fasa liquid
V 

 
  


   
  


   
DIAGRAM FASA BIëER TIPE II
Dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan tidak larut sempurna
dalam keadaan padat. Contoh Al ± Si
TA = Temp cair Logam A
TA L
L+A TB
L+B TB = Temp cair logam B
TE
E = fasa eutektik
A+ E B+E (fasa campuran A dan B



A XE B
Reaksi Eutektik : L ǹ+ B Komposisi hypoeutektik : A - XE
TE = Temperatur terjadinya reaksi eutektik Komposisi hypereutektik : XE - B
XE = Komposisi kimia fasa eutektik
DIAGRAM FASA BIëER TIPE III
Dua logam larut sempurna dalam keadaan cair dan larut sebagian
dalam keadaan padat. Contoh : Pb ± Sb, Al ± Cu
TB
TA L Į= solid solution (larutan padat
V+L ȕ+L Į yang kaya akan unsur A
TE ȕ ȕ = solid solution (larutan padat
e f
V = ȕ yang kaya akan unsur B
V +E ȕ+E
Į+ȕ a = kelarutan B dalam Į pada
a c temperatur kamar
A XE d b B
b = kelarutan A dalam ȕ pada
%B temperatur kamar
a e = garis solvus (kelarutan B dalam Į) c = kelarutan max B dalam Į
b f = garis solvus (kelarutan A dalam ȕ) pada temperatur TE
Reaksi eutektik : L Į+ȕ d = kelarutan max A dalam ȕ
pada temperatur TE
DIAGRAM FASA BIëER TIPE IV
Dua logam membentuk fasa intermediate dengan titik lebur
kongruen. Contoh Mg ± Sn membentuk fasa intermediate Mg2Sn
TAxBy L TB
L AxBy+L B+L
TA
Titik lebur kongruen : TAxBy
A+L AxBy+L
AxBy B Fasa intermediate : AxBy
A
AxBy + +
+
+ E2 E2
E1
E1

A AxBy B
Reaksi eutektik 1 : L A + AxBy

Reaksi eutektik 2 : L B + AxBy


DIAGRAM FASA BIëER TIPE V
Dua logam membentuk reaksi peritektik. Contoh Pt - Ag
TA
L
V

V

TB
V


A B
%B

Reaksi peritektik : Į + L ȕ
DIAGRAM FASA BIëER TIPE VI

Dua logam membentuk reaksi monotektik. Contoh Cu - Pb


L1
L1+L2
L2
m
A+L2
ȕ+L2

E
A+ȕ

Reaksi monotektik : L1 A + L2
Reaksi eutektik : L2 A+ȕ
DIAGRAM FASA BIëER TIPE VII
Dua logam tidak larut sempurna dalam keadaan cair dan tidak larut
sempurna dalam keadaan padat. Contoh Al - Pb
L1 L2
L1+L2

V
L2

V


A B
%B
JEëIS-JEëIS REAKSI FASA YAëG TERDAPAT PADA
DIAGRAM FASA LOGAM

1. REAKSI MOëOTEKTIK : L1 L2 + Solid


L1

L2 + Solid

2. REAKSI EUTEKTIK : L Solid 1 + Solid 2

Solid 1 + solid 2
3. REAKSI EUTEKTOID : Solid 1 Solid 2 + Solid 3
Solid 1

Solid 2 + Solid 3

3. REAKSI PERITEKTIK : L + Solid 1 Solid 2


L + Solid 1

Solid 2

4. REAKSI PERITEKTOID : Solid 1 + Solid 2 Solid 3


Solid 1 + Solid 2

Solid 3
DIAGRAM FASA Fe ± Fe3C
Merupakan diagram fasa antara unsur Fe dengan C

L
1535


L
1490 
 +L
L+Fe3C
1130 1390 
0,10
 0.5
T (oC) 0.18

Fe3C

V

723
V
V + Fe3C
0,002%
 
0,02   4,3 

Merupakan diagram fasa yang penting untuk besi baja karena :
Dapat menggambarkan fasa-fasa yang terjadi pada besi baja
pada temperatur dan komposisi tertentu
Merupakan dasar referensi untuk menentukan temperatur
perlakuan panas besi baja (di daerah austenit / 
Menggambarkan dengan jelas perbedaan antara besi dan baja
ditinjau dari komposisi C dan fasa-fasa / struktur mikro yang
terjadi
REAKSI-REAKSI FASA YAëG TERJADI
PADA DIAGRAM FASA Fe ± Fe3C
1. REAKSI EUTEKTOID (723oC , 0,8 %C)
 V + Fe3C

2. REAKSI EUTEKTIK (1130oC , 4,3 %C)


L 
Fe3C

3. REAKSI PERITEKTIK (1490oC , 0,18 %C)


+L 
Baja mengandung 0,002 %C s/d 2 % C dan diklasifikasikan menjadi
 Baja hypoeutektoid (0,002 s/d 0,8 %C)
 Baja hypereutektoid (0,8 s/d 2 % C)

Besi mengandung 2 s/d 6,67 % C dan diklasifikasikan menjadi :


Besi hypoeutektik (2 s/d 4,3 %C)
Besi hypereutektik (4,3 s/d 6,67 %C)
SIFAT ALLOTROPI BAJA
Bila didinginkan perlahan-lahan pada daerah baja dengan kadar C
yang sangat rendah (di daerah V )maka Fe (baja) akan
mempunyai sifat allotropi yaitu mengandung lebih dari satu tipe
struktur kristal tergantung dari temperaturnya
Tk ± 723oC : fasa V mempunyai struktur kristal BCC (magnetik)
723oC ± 910oC : fasa V struktur kristal BCC (non magnetik)
910oC ± 1390oC : fasa  , struktur kristal FCC (non magnetik)
1390oC ± 1535oC : fasa  struktur kristal BCC (magnetik)
Logam-logam lain yang bersifat allotropi Sn, Mg, Co, C (intan/grafit)
Perubahan struktur kristal ini disebabkan karena konstanta kisi
setiap struktur pada setiap fasa berbeda-beda ( = 2,93 A,
 =3,65 A, V = 2,87 A )
JEëIS-JEëIS FASA PADA DIAGRAM Fe ± Fe3C
V = ferit ; merupakan larutan padat yang hanya dapat melarutkan
sejumlah kecil karbon. Di bawah mikroskop nampak berwarna
terang. Kelarutan maksimum C dalam fasa ini 0,02 %C pada
temperatur 723oC. Merupakan fasa yang paling lunak dalam baja.
 = austenit : merupakan larutan padat yang dapat melarutkan
maksimum 2 % C pada temperatur 1130oC. Merupakan struktur
yang tidak stabil yang mudah berubah menjadi fasa-fasa lain sesuai
dengan sifat mekanis yang diharapkan , oleh karena itu daerah
perlakuan panas adalah pada daerah austenit.(dimulai pada suhu
austenisasi).
Fe3C = sementit = karbida besi: merupakan senyawa yang keras
dan rapuh dengan kekuatan tarik yang rendah dan kekuatan tekan
yang tinggi. Struktur kristalnya adalah ortorombik.
V
Fe3C = perlit : merupakan campuran eutektoid yang
mengandung 0,8 % C dan terbentuk pada temperatur 723oC pada
pendinginan yang sangat lambat. Di bawah mikroskop, campuran ini
nampak berbentuk lamel-lamel atau plat-plat yang merupakan
campuran dari V dan Fe3C
 + Fe3C = ledeburit : merupakan campuran eutektik yang terjadi
pada 4,3 % C dan temperatur 1130oC
STRUKTUR MIKRO
Merupakan gabungan dari satu atau lebih struktur kristal yang
membentuk fasa- fasa tertentu. Secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi :

-Kristal tunggal -Kristal majemuk -Kristal majemuk


(monokristal) (polykristal) (polykristal)
- Fasa tunggal - 2 fasa ( V & )
- Fasa tunggal
PEëGAMATAë METALOGRAFI
Benda Uji

Mounting
Grinding

Polishing

Cleaning

Etching

Cleaning

Pengamatan di bawah Mikroskop