Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

NAMA : GILANG PUTRA R


KELAS : XI TKJ 3

SMK NEGERI 1 PURWAKARTA


BAB 2

PEMBAHASAN DAN ISI

Pengetian kekerasan

Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan,


pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan
penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti binatang
dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial yang terkait
dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah “kekerasan” juga mengandung kecenderungan
agresif untuk melakukan perilaku yang merusak. Kerusakan harta benda biasanya dianggap
masalah kecil dibandingkan dengan kekerasan terhadap orang.

Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk — kekerasan sembarang, yang
mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang
terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak —
seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.

Perilaku kekerasan semakin hari semakin nampak, dan sungguh sangat mengganggu
ketentraman hidup kita. Jika hal ini dibiarkan, tidak ada upaya sistematik untuk mencegahnya,
tidak mustahil kita sebagai bangsa akan menderita rugi oleh karena kekerasan tersebut. Kita
akan menuai akibat buruk dari maraknya perilaku kekerasan di masyarakat baik dilihat dari
kacamata nasional maupun internasional.

Penyebab Tindak kekerasan

Penyelesaian masalah dengan mengedepankan kekerasan dari pada musyawarah semakin


marak terjadi. Tawuran antar pelajar, antar mahasiswa, antar warga, antar suku, kadang terjadi
karena permasalahan yang sepele. Sngant di sesalkan hal seperti itu tadi. seharusanya kita
dapat berpikir jernih untik menyelesaikan suatu permasalahan dan menerapkan prilaku sabar
dalam kehidupan, di samping itu juga kita harus menerapkan prilaku adil, toleransi, tidak mudah
marah dan yang paling utama adalah peningkatan iman kepada Allah SWT.
Musyawarah merupakan salah satu unsur penting dalam berdemokrasi, sebab dapat
menampung banyak pendapat baru kemudian di pi;ih salah satu yang terbaik bukan dengan
jalan kekerasan, sebagai mana firman Allah swt. Dalam surat asy syura ayat 38 berikut ini :

‫صلَّةن نوأنسمبرهبسم بشوُنرىَ بنسيننهبسم نوذملماَ نرنزسقنناَهبسم يِبسنفذبقوُنن‬


‫نواَللذذيِنن اَسستننجاَببوُاَ لذنرببذهسم نوأننقاَبموُاَ اَل ل‬

artinya:

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat,
sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Tindak kekerasan terjadi di karenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi, di antaranya
sabagai berikut :

Ketidak mampuan mengendalikan amarah

Lingkungan

Konflik interpersonal

Kejiwaan seseorang

Penyalah gunaan narkoba

Macam Prilaku kekerasan

Para ahli sosial mengklasifikasikan bentuk dan jenis kekerasan di bagi menjadi dua macam, di
antaranya sevagai berikut :

Berdasarkan bentuknya

Kekersan yang berasal dari bentuknya di golongkan menjadi :

Kekerasan fisik, yaitu kekerasan nyata yang dapat di lihat, di rasakan oleh tubuh.wujud
kekerasan fisik berupa penghilangan kesehatan atau kemampuan normal tubuh, sampai pada
penghilangan nyawa seseorang. Contoh : penganiayaan, pemukulan, pembunuhan, dan
sebagainya.
Kekerasan psikologis, yaitu kekerasan yang memiliki sasaran pada rohani atau jiwa sehingga
dapat mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa. Contoh : kebohongan,
indoktrinasi, ancaman dan tekanan.

Kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang di lakukan oleh individu atau kelompok dengan
menggunakan sistem, hukum, ekonomi, atau tata kebiasaan yang ada di masyarakat. Oleh
karena itu, kekerasan ini sulit untuk di kenali. Kekerasan struktural yang terjadi menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan pada sumber daya, pendidikan, pendapatan, kepandaian keadilan,
serta wewenang unutk mengambil keputusan. Situasi ini dapat memengaruhi fisik dan jiwa
seseorang. Misalnya : terjangkitnya penyakit kulit di suatu daerah akibat limbah pabrik di
sekitarnya.

Berdasarjan pelakunya

Kekerasan yang berdasarkan pelakunya dapat di golongkan menjadi dua bentuk yaitu jejerasan
individu dan kolektif.

Kekerasan individual adalah kekerasan yang di lakukan oleh individu kepasa suatu atau lebih
individu. Contoh : pencurian, pemukulan, penganiayaan dan sebagainya.

Kekerasan kolektif adalah kekerasan yang dilakukan oleh banyak individu atau masa. Contoh :
tawuran pelajar tawuran antar mahasiswa bentrokan antardesa dan sebagainya.

Bahaya dari tindak prilaku kekerasan

Di tindak kekerasan yang di timbulkan bisa dari seseorang dan juga bisa di lakukan oleh
kelompok. Dan juga bisa berawal dari seseorang hingga antar kelompok. Tindakan kekerasan
tersebut berdampak buruk kepasa seseorang atau kelompok orang. Bahkan orang yang tidak
tahu menahu juga terjena dampaknya baik berupa materil maupun non materil. Kaewna tujuan
dari kekerasan tersebut adalah merusak. Lingkungan yang ada di sekitar kita seharusnya kita
jaga, bukan di rusak di karenakan pernuatan diri kita sendiri. Mengenai larangan tentang
berbuat kerusakan bermaktub dala, Q.S Al A’raf ayat 56 sebagai berikut :

Yang artinya :

“dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaiki-nya dan
berdoalah kepada-nya dengan rasa takut (tidak akan di terima) dan harapan (akan di kabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al A’raf :
56)

Dari arti di atas dapat di simpulkan bahwa barangan tersebut kerusakan di bumi karena
seharusnya manusia memakmurkan dan menjaganya dengan baik. Setelah ada kerusakan, Allah
swt. selalau memperbaikinya. Oleh sebab itu, manusia di larang intuk di rusaknya. Manusia di
perintahkan untuk berdoa dengan rasa takut jika doanya tidak akan terkabul dan harus
berharap penuh bahwa doamya akan di kabulkan Allah swt. san gat dekat dengan orang-orang
yang berbuat kebaikan.

Pentingnya persatuan dan kerukunan untuk mencegah tindak kekerasan

Persatuan dalam ajaran islam secara umum di sebut ikhwan yaitu persaudaraan, yang secara
umum ukhuawah islamiyah yaitu persaudaraan dalam islam (saudara sesama umat islam) atau
bisa juga kumpulan individu manusia yang bersatu atau menjadi satu. Jelas bahwa
persaudaraan menyebabkan orang dapat berbuat damai dan dengan perdamaian maka
persatuan dan kesatuan umat bisa dapat di wujudkan. Tanpa persatuan orang akan mudah
bertindak semena-mena terhadap sesama bahkan terhadap yang seagama sekalipun.

Pepatah dalam bahasa Indonesia mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Sebagai
ilustrasi, setiap individu manusia itu di ibaratkan sebatang lidi, yang di gunakan untuk
membersihkan sampah-samaph yang berserakan, di halaman sebuah rumah yang cukup luas.
Tentu sebatang lidi itu, tidak akan dapat membersihkan sampah-sampah yang berserakan di
halaman sebuah rumah yang cukup luas itu. Tetapi jika ratusan batang lidi di ikat menjadi satu
dan di gunakan untuk membersihkan samapah-sampah yang berserakan tersebut, tentu dalam
waktu sebentar saja, halaman rumah yang cukup luas itu, akan menjadi bersih.

Barangkali itulah sebabnya Allah SWT menyuruh umat manusia agar bersatu dan
melarang bercerai-berai.

Allah SWT berfirman pada surah Al-Imran ayat 103 yang artinya adalah

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu
bercerai-berai.”

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kerukunan artinya perihal hidup rukun, rasa rukun,
kesepakatan. Sedangkan arti rukun itu sendiri adalah baik dan damai bersatu hati atau sepakat.
Kata “Rukun” juga berasal dari bahasa arab yang berarti Ruknun artinya asas-asas atau dasar,
seperti rukun islam.

Kerukunan atau perdamaian, termasuk ajaran islam yang harus di wujudkan dalam
kehidupan berumah tangga, bertetangga, dan bermasayrakat, berbangsa, bernegara, serta
pergaulan antar umat beragama. Hal ini di sebabkan karena kerukunan merupakan modal
utama untuk terwujudnya ketentraman, kedamaian, dan kesejahteraan bersama. Sebaliknya
perselisihan atau permusuhan merupakan penyebab datangnya berbagai kerugian dan bencana

Islam merupakan agama yang mencintai kerukunan atau perdamaian, hal itu telah di
buktikan oleh rosulullah SAW, antara lain sebagai berikut :

Pada saat terjadi perselisihan, rosulullah SAW mengajarkan agar pihak-pihak yang berselisih
melakukan usaha-usaha dengan segera dan dengan cara yang bijaksana, agar perselisihan di
antara mereka segera berakhir, dan mereka kembali hidup rukun.

Rosulullah SAW bersabda yang artinya: “janganlah putus memutuskan hubungan, belakang-
membelakangi, benci-membenci dan hasut-menghasut. Hendaklah kamu menjadi hamba Allah
yang bersaudara satu sama lain dan tidaklah halal bagi (setiap) Muslim mendiamkan saudaranya
lebih dari tiga hari”(H.R. Bukhori dan Muslim)

Persatuan dan kerukunan sangat di perlukan agar tercipta kehidupan yang damai, aman,dn
tentram di tengah tengah masyarakat. Manfaat manfaat keasatuan dan kerukunan yaitu :

Kerja sama akan terjadi

Masyarakan akan bersatu padu

Segala persoalan yang sulit mudah di pecahkan

Pekerjaan yang berat akan menjadi ringan

Kesejahtraan mudah di wujudkan

Hidup tenang dan tentram

Pembangunan dapat berjalan dengan lancar

Akan memeiliki kekuatan yang luar biasa.

Kesimpulan

Di era yang maju ini sering di beritakan terjadinya tindak kekerasan di semua lingkup
masyarakat. Misal di sekolah, keluarga , masyarakat dan sebagainya. Seakan –akan kekerasan
merupakan cara yang di gunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul. Kekerasan
adalah suatu prilaku, tindakan dari seseorang atau kelompok yang berakibat orang lain atau
suatu kelompok menderita baik fisik maupun psikis bahkan sampai meninggal dunia. Kekerasan
merupakan tindakan tidak bermoral, tidak manusiawi, dan bersifat merusak. Kekerasan dapat
terjadi pada siapa saja, bisa dari kalangan terdidik maupun rakyat biasa.
MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

NAMA : GILANG PUTRA RAMDANI

KELAS : XI TEKNIK KOMPUTER JARINGAN 3

SMK Negeri 1 Purwakarta


Keimanan seseorang itu tidak sah sampai ia mengimani semua Nabi dan Rasul Allah Swt. Dan
membenarkan bahwa Allah Swt. Telah mengurus mereka untuk membimbing dan mengluarkan manusia
dari kegelapan kepada cahaya kebenaran. Allah Swt. Juga mewajibkan setiap orang Islam supaya beriman
kepada semua Rasul yang diutus oleh-Nya, Tanpa membeda-bedakan antara rasul yang satu dan yang
lainnya.

Diantara para Rasul itu, Ada yang diceritakan dalam Al-Quran dan ada pula yang tidak diceritakan.
Adapun Rasul-Rasul yang diceritakan dalam Al-Quran berjumlah dua puluh lima orang. Pada setiap umat
pasti ada Rasul sebagai teladan hidup yang harus diikuti ajarannya dan diteladani jejaknya.

Firman Allah Swt.:

aamana alrrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihi waalmu/minuuna kullun aamana biallaahi wamalaa-
ikatihi wakutubihi warusulihi laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi waqaaluu sami'naa wa-
atha'naaghufraanaka rabbanaa wa-ilayka almashiiru

[2:285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan
rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan
yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka
berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Pada setiap umat, Allah pasti mengutus seorang Rasul. Rasul diutus oleh Allah Swt. Untuk membimbing
umat manusia agar berjalan dalam rel yang benar. Yang sering terjadi adalah ketika masih ada Rasul,
Mereka masih mengikuti ajarannya, Tetapi ketika Rasul tidak ada, Umat mulai menjauhi ajarannya.
Bahkan, Ada yang mengaku dirinya sebagai Rasul.

A. Pengertian Iman Kepada Rasul-Rasul Allah Swt.

Iman kepada Rasul berarti meyakini bahwa Rasul itu benar-benar utusan Allah Swt. Yang ditugaskan
untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat.

1.) Nabi : Manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah Swt. Untuk dirinya sendiri dan tidak mempunyai
kewajiban untuk menyampaikan pada umatnya.
2.) Rasul : Manusia pilihan Allah Swt. Yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman-firman-
Nya kepada umat.manusia agar dijadikan pedoman hidup.

Mengimani Rasul-Rasul Allah Swt. Merupakan kewajiban hakiki bagi seorang muslim karena
merupakan bagian dari rukun iman yang tidak dapat ditinggalkan. Sebagai perwujudan iman tersebut,
Kita wajib menerima ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-Rasul Allah Swt. Tersebut. Perintah beriman
kepada Rasul Allah terdapat dalam surah an-Nisa/4 : 136

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu aaminuu biallaahi warasuulihi waalkitaabi alladzii nazzala 'alaarasuulihi
waalkitaabi alladzii anzala min qablu waman yakfur biallaahi wamalaa-ikatihi wakutubihi warusulihi
waalyawmi al-aakhiri faqad dhalla dhalaalan ba'iidaan

[4:136] Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada
kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa
yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,
maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

B. Sifat Rasul-Rasul Allah Swt


Rasul sebagai utusan Allah Swt. Memiliki sifat-sifat yang melekat pada dirinya. Sifat-sifat ini sebagai
bentuk kebenaran seorang Rasul. Sifat-sifat tersebut adalah sifat wajib, Sifat mustahil, Dan sifat jaiz.

1. Sifat Wajib

Sifat wajib artinya sifat yang pasti ada pada Rasul. Tidak bisa disebut seorang Rasul jika tidak memiliki
sifat-sifat ini. Sifat wajib ini ada 4, Yaitu sebagai berikut.

a. As-Siddiq

As-siddiq, yaitu Rasul selalu benar. Apa yang dikatakan Nabi Ibrahim as. Kepada bapaknya adalah
perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah suatu yang tidak memberi manfaat dan
memdarat, Jauhilah. Peristiwa ini di abadikan pada Q.S. Maryam/19 : 41, Sebagai berikut ini :

waudzkur fii alkitaabi ibraahiima innahu kaana shiddiiqan nabiyyaan

[19:41] Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan905 lagi seorang Nabi.

b. Al-Amanah

Al-Amanah, Yaitu Rasul selalu dapat dipercaya. Di saat kaum Nabi Nuh as. Mendustakan apa yang
dibawa oleh Nabi Nuh as. Lalu Allah Swt. Menegaskan bahwa Nuh as, Adalah orang yang terpercaya
(amanah). Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S asy-syuara/26 106-107 sebagai berikut ;

waudzkur fii alkitaabi ibraahiima innahu kaana shiddiiqan nabiyyaan


[19:41] Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan905 lagi seorang Nabi.

innii lakum rasuulun amiinun

[26:107] Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,

c. At-Tablig

At-Tablig, Yaitu Rasul selalu menyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan Nabi
muhammad saw. Dan tidak disampaikan pada umatnya. Dalam sebuah riwayat.diceritakan bahwa Ali bin
Abi Talib ditanya tentang wahyu yang tidak terdapat dalam Al-Quran, Ali pun menegaskan bahwa,

"Demi zat yang membelah biji dan melepas napas, Tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman
seseorang terhadap Al-Quran." Penjelasan ini terkait dengan Q.S. Al-maidah/5 : 67 berikut ini

yaa ayyuhaa alrrasuulu balligh maa unzila ilayka min rabbika wa-in lam taf'al famaa ballaghta risaalatahu
waallaahu ya'shimuka mina alnnaasi inna allaaha laa yahdii alqawma alkaafiriina

[5:67] Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu
kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara
kamu dari (gangguan) manusia430. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang kafir.

. Al-Fatanah

Al-Fatanah, Yaitu rasul memiliki kecerdasan yang tinggi, Ketika terjadi perselisihan antara kelompok
kalibah di Mekah, Setiap kelompok memaksakan kehendak untuk meletakkan Al-Hajar Al-Aswad (batu
hitam) di atas kabah, Lalu Rasulullah saw. Menengahi dengan cara semua kelompok yang bersengketa
agar memegang ujung dari kain itu. Kemudian, Nabi meletakkan batu itu ditengahnya, Dan mereka
semua mengangkat hingga sampai di atas kabah. Sungguh cerdas Rasulullah saw.

2. Sifat Mustahil

Sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Rasul. Sifat mustahil ini lawan dari sifat wajib,
Yaitu sebagai berikut

a. Al-Kizzib

Al-Kizzib, Yaitu mustahil rasul itu bohong atau dusta. Semua perkataan dan perbuatan Rasul tidak
pernah berbohong atau dusta.

maa dhalla shaahibukum wamaa ghawaa

[53:2] kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

in huwa illaa wahyun yuuhaa


[53:4] Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

b. Al-Khianah

Al-Khianah, Yaitu mustahil Rasul itu khianat. Semua yang diamanatkan kepadanya pasti dilaksanakan.

c. Al-Kitman

Al-Kitman, Yaitu mustahil Rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang ia terima dari Allah
Swt. Pasti ia sampaikan kepada umatnya.

qul laa aquulu lakum 'indii khazaa-inu allaahi walaa a'lamu alghayba walaa aquulu lakum innii malakun in
attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya qul hal yastawii al-a'maa waalbashiiru afalaa tatafakkaruuna

[6:50] Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan
tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang
malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang
yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

d. Al-Baladah

Al-Baladah, Yaitu mustahil Rasul itu bodoh, Meskipun Rasulullah saw. Tidak bisa membaca dan menulis
(ummi) tetapi ia pandai.

khudzi al'afwa wa/mur bial'urfi wa-a'ridh 'ani aljaahiliina

[7:199] Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari
pada orang-orang yang bodoh.

Disamping Rasul memiliki sifat wajib dan juga lawannya, Yaitu sifat mustahil, Rasul juga memiliki sifat
jaiz, Tentu saja sifat jaiz-Nya Rasul dengan dengan sifat jaiz-Nya Allah Swt. Sangat berbeda.

Allah Swt. Berfirman :

waqaala almalau min qawmihi alladziina kafaruu wakadzdzabuu biliqaa-i al-aakhirati wa-atrafnaahum
fiialhayaati alddunyaa maa haadzaa illaa basyarun mitslukum ya/kulu mimmaa ta/kuluuna minhu
wayasyrabu mimmaa tasyrabuuna

[23:33] Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan
menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia:
"(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan
meminum dari apa yang kamu minum.
Selain tersebut diatas, Rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat padas selain Rasul, Yaitu sebagai
berikut.

1. Ishmaturrasul adalah orang yang mashum, Terlindung dari dosa dan salah dalam kemampuan
pemahaman agama, Ketaatan, Dan menyampaikan wahyu Allah Swt. Sehingga selalu siaga dalam
menghadapi tantangan dan tugas apa pun.

2. Iltizamurrasul adalah orang-orang yang selalu komitmen dengan apa pun yang mereka ajarkan.
Mereka bekerja dan berdakwah sesuai dengan arahan dan perintah Allah Swt. Meskipun untuk
menjalankan perintah Allah Swt. Itu harus berhadapan dengan tantangan-tantangan yang berat baik
dalam diri pribadinya maupun diri para musuhnya. Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar atau
mundur dari perintah Allah Swt

C. Tugas Rasul-Rasul Allah Swt.


Para rasul dipilih oleh Allah Swt. Dengan mengemban tugas yang tidak ringan. Di antara tugas-tugas
Rasul itu adalah sebagai berikut.

1. Menyampaikan risalah dari Allah Swt.

2. Mengajak kepada tauhid, Yaitu mengajak umatnya untuk mengesakan Allah Swt. Dan menjauhi
perilaku musyrik (menyekutukan Allah).

3. Memberi kabar gembira kepada orang mumin dan memberi peringatan kepada orang kafir.

4. Menunjukan jalan yang lurus

5. Membersihkan dan menyucikan jiwa manusia serta mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.

6. Sebagai hujjah bagi manusia.

D. Hikmah Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah Swt.

Pentingnya orang Islam beriman kepada Rasul bukan tanpa alasan. Di samping karena diperintahkan
oleh Allah Swt, Juga ada manfaat dari hikmah yang dapat diambil dari beriman kepada Rasul. Di antara
manfaat dan hikmah kepada para Rasul adalah.

1. Makin sempurna imannya.

2. Terdorong untuk menjadikan contoh dalam hidupnya.

3. Terdorong untuk melakukan perilaku sosial yang baik.

4. Memiliki teladan dalam hidupnya.