Anda di halaman 1dari 4

RAKYATKU.

COM, MAKASSAR - Ditlantas Polda Sulsel mencatat angka


kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Sulsel selama 2018 mulai dari Januari hingga
Oktober mencapai 6.348 kasus.

Dari jumlah itu, 915 meninggal dunia, luka berat 437 orang, dan luka berat 8.059
orang. Dalam kurun waktu tersebut, kerugian materil ditaksir sudah mencapai
Rp11,602 miliar.

Dilihat dari jangka waktu, bisa saja angka lakalantas di Sulsel bertambah. Namun,
Dirlantas Polda Sulsel, Kombes Pol Agus Wijayanto mengatakan pihaknya akan
terus berusaha agar lakalantas di Sulsel bisa menurun setiap tahun.

"Tapi kita harap lakalantas tahun ini bisa ditekan. Dan bisa menurun dibanding
tahun lalu," imbuhnya.

Tahun 2017 jumlah lakalantas menunjukkan total ada 7.589 lakalantas. Dengan
rincian, meninggal dunia sebanyak 1.076 orang, luka berat 708 orang, dan luka
berat 9.357 orang. Kerugian materil ditaksir mencapai Rp14,799 miliar.
BACA JUGA

 Polda Sulsel akan Periksa Oknum Polisi Diduga Kelola Tambang Ilegal di
Maros
 Pinjam Uang Ayah Bayar Mahar, Ajudan Bupati Demak yang Tewas Akan
Menikah 6 April
 Diseret Pikap hingga ke Sawah, Pemotor Asal Gowa Tewas di Takalar

"Secara umum kalau lihat data, yang ada penurunan dua tahun belakangan ini. Tapi
penurunan itu diharapkan yang banyak lagi. Kita harap kesadaran berlalu lintas
masyarakat bisa meningkat sehingga tidak memaksakan diri berkendara dan bisa
mencegah kecelakaan," jelasnya.

Kombes Pol Agus menjelaskan terjadinya lakalantas salah satunya faktor manusia
selaku pengendara yang tidak hati- hati, kemudiaan kendaraan, termasuk kondisi
jalanan, hingga faktor alam (cuaca).

Kecelakaan yang mengakibatkan si korban meninggal dunia akan kasusnya akan


berlanjut ke pengadilan. Jika jumlah lakalantas tidak sebanding dengan jumlah
kasus dilimpahkan ke pengadilan, maka ini harus dipertanyakan.

"Faktor manusia, jelas dia, tentu karena kurangnya keterampilan dalam berkendara.
Untuk itulah, tes uji kendaraan bermotor saat pembuatan SIM perlu diperketat,"
tutupnya
Tidak ada yang bisa memprediksi kapan dan bagaimana seseorang meninggal dunia. Meski begitu, ada
beberapa penyebab kematian di Indonesia yang paling umum terjadi. Kebanyakan bisa dicegah dengan langkah
pencegahan yang tepat. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut lima hal yang paling bertanggung jawab dalam
bertambahnya angka kematian di Indonesia.

Penyebab kematian di Indonesia yang paling sering


terjadi
1. Penyakit kardiovaskuler
Dikutip dari buletin Infodatin milik Kemenkes, penyakit kardiovaskuler menempati peringkat pertama sebagai
penyakit non-menular penyebab kematian di Indonesia. Penyakit kardiovaskuler adalah golongan berbagai
penyakit yang terkait dengan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung koroner
(PJK), gagal jantung, hipertensi, dan stroke. Masalah jantung lainnya meliputi angina dan aritmia.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 milik Kementerian Kesehatan, dari seluruh angka kematian di Indonesia
akibat penyakit kardiovaskuler, 7,4 juta (42,3 persen) di antaranya disebabkan oleh PJK dan 6,7 juta (38,3
persen) lainnya disebabkan oleh stroke. Kasus penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, dan stroke di
Indonesia diperkirakan lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan masing-masing kelompok umur 45-54
tahun, 55-64 tahun, dan 65-74 tahun.

Penyakit kardiovaskuler dapat terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan.
Namun penyakit ini dapat dicegah dengan melindungi kesehatan jantung dan mewaspadai gejala serangan
jantung. Mengendalikan tekanan darah dan kolesterol selalu dalam batas normal lewat gaya hidup sehat dan
aktivitas fisik rutin dapat sangat menekan risiko Anda terkena penyakit jantung.

2. Diabetes
Diabetes atau kencing manis merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kelainan metabolik akibat dari
kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau bisa juga karena kurangnya respon tubuh terhadap insulin, atau
bisa juga akibat dari adanya pengaruh hormon lain yang menghambat kinerja insulin.

Kondisi ini menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi, atau kegagalan fungsi dari berbagai organ,
terutama mata, ginjal, saraf, pembuluh darah, dan jantung. Diabetes dikenai sebagai “silent killer” karena sering
tidak disadari gejalanya dan baru diketahui saat sudah terjadi komplikasi.

Melansir data Riskesdas teranyar, jumlah orang di Indonesia usia 15 tahun ke atas yang memiliki diabetes
hingga tahun 2013 mencapai 12 juta jiwa. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dari jumlah populasi
penderita diabetes tahun 2007.

3. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)


Penyakit saluran pernapasan bawah kronis adalah kumpulan penyakit paru-paru yang menyebabkan
penyumbatan aliran udara dan masalah terkait pernapasan, terutama penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK)juga bronkitis, emfisema, dan asma. Angka kasus asma secara nasional diperkirakan lebih banyak
ditemukan pada perempuan. Sementara itu, kasus PPOK lebih banyak ditemukan pada laki-laki.

Sekitar 80 persen kematian di Indonesia akibat PPOK dapat dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Risiko
penyakit paru kronis dapat ditekan dengan berhenti merokok, menghindari asap rokok, polusi udara, asap bahan
kimia dan debu. Pencegahan dan pengobatan dini dapat membantu menghindari kerusakan paru serius,
masalah pernapasan serius, hingga bahkan gagal jantung.

4. TBC
Tuberkulosis atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. TBC bisa ditularkan lewat
udara yang sudah terkontaminasi saat penderita TBC batuk atau meludah/membuang dahak sembarangan. TBC
paling sering menyerang paru-paru. Akan tetapi penyakit ini juga bisa menyebar ke organ tubuh lainnya.
Penyakit TBC merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia setelah HIV, sehingga harus ditangani dengan
serius. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TBC di Indonesia mencapai
satu juta kasus dan jumlah kematian akibat TBC diperkirakan lebih dari seratus ribu kasus setiap tahunnya.

TBC bisa disembuhkan secara total, asal Anda mengikuti semua petunjuk dokter dan minum obat sampai tuntas.
Terapi dan pengobatan TBC biasanya memakan waktu setidaknya enam hingga sembilan bulan agar bisa
sembuh total. Hal ini pun tergantung dari tingkat keparahan penyakit TBC yang dialami.

5. Kecelakaan
Data Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa ngka kasus cedera secara menyeluruh di Indonesia adalah 8,2
persen. Angka ini meningkat cukup tinggi jika dibandingan dengan data tahun 2007 yang melaporkan jumlah
kasus cedera nasional sebanyak 7,5 persen. Wilayah dengan kasus cedera terbanyak adalah Sulawesi Selatan
(12,8 persen) dan terendah di Jambi (4,5 persen). Tiga jenis cedera yang paling banyak dialami orang Indonesia
adalah luka lecet/memar, terkilir, dan luka robek.

Penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (49,9 persen), yang disusul dengan kecelakaan sepeda motor (40,6
persen). Kasus cedera akibat jatuh lebih sering ditemukan pada penduduk umur kurang dari 1 tahun,
perempuan, tidak bekerja, dan berada di pedesaan. Sementara itu, cedera akibat kecelakaan bermotor paling
banyak terjadi pada umur 15-24 tahun, laki-laki tamatan SMA dengan status pegawai.

Kecelakaan memang sifatnya tidak disengaja, namun harusnya bisa dihindari. Anda bisa mengurangi risiko
kematian dan cedera dengan memastikan keselamatan diri saat berkendara. Gunakan sabuk pengaman ketika
berkendara dengan mobil, dan pakai atribut lengkap (helm dan jaket) ketika berkendara dengan motor. Hindari
mengemudi sambil mabuk, ngantuk, kelelahan, dan sambil bermain ponsel.
1. Penyakit silent killer adalah penyakit yang timbul hampir tanpa adanya gejala awal namun dapat menyebabkan kematian.
2. Penyakit pembunuh utama yang bersifat silent killer adalah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kencing manis.
3. Penyakit silent killer lainnya adalah kanker ginjal, kanker pankreas, hepatitis B dan hepatitis C.
4. Penyakit jantung adalah penyakit silent killer yang merupakan pembunuh nomor satu. Faktor risiko utama yang
berhubungan dengan jantung adalah tekanan darah tinggi, merokok, gaya hidup tidak sehat dan gangguan kadar kolesterol.
5. Kanker merupakan kelompok silent killer dan hampir menjadi kelompok pembunuh terbesar nomor dua. Perkiraan kematian
dalam setahun akibat kanker adalah sekitar 6,2 juta. Satu dari delapan kematian terjadi karena kanker.
6. Merokok merupakan faktor risiko penting untuk penyakit silent killer seperti kanker dan penyakit jantung. Merokok dapat
menyebabkan 87 persen dari kejadian kanker paru-paru. Mesothelioma merupakan silent killer lainnya yang hampir selalu
disebabkan karena menghirup serat asbes dan saat ini tidak ada obat yang dapat mengobati kanker yang sangat mematikan
ini.
7. Mesothelioma adalah sejenis kanker langka yang terjadi pada jaringan tipis yang melapisi sebagian besar organ dalam,
dapat terjadi di paru, perut dan jantung.
8. Ada 246 juta orang dengan penyakit kencing manis di dunia dan setiap tahunnya diperkirakan sekitar 3,2 juta orang
meninggal karena penyakit kencing manis dan komplikasinya.
9. Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau penyumbatan aliran pernapasan selama tidur merupakan faktor risiko penyakit stroke
dan kematian mendadak saat tidur. Obesitas atau kelebihan berat badan akan meningkatkan risiko dan kejadian OSA.
10. Epidemi penyakit silent killer yang berpotensi menjadi ancaman bagi dunia kesehatan yaitu penyakit hati akibat hepatitis B
dan C. Hal ini akan menyebabkan terjadinya sirosis hati, kanker hati dan kematian. Kedua virus ini telah menginfeksi hampir
530 juta orang di dunia. Setiap tahun ada 3 sampai 4 juta orang yang baru terinfeksi oleh virus. Tidak ada obat atau vaksin
untuk infeksi hepatitis C kronis.(*

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Inilah Fakta-Fakta Penyakit Kategori 'Silent
Killer', http://jogja.tribunnews.com/2014/12/14/inilah-fakta-fakta-penyakit-kategori-silent-killer.

Editor: mon