Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN STUDI KASUS ASUHAN GIZI KLINIK DI RSUD DR.

ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI TENTANG ACUTE

DECOMPENSATED HEART FAILURE (ADHF)

DAN HIPERTENSI (HT)

OLEH :

HILDAYATI DWI SAFIRA

NIM. 142110088

POLTEKKES KEMENKES PADANG

PRODI D-III GIZI

TAHUN 2017
BAB I

LANDASAN TEORI KASUS

A. Definisi dan Klasifikasi Gagal Jantung Akut


Gagal jantung akut menurut European Society of Cardiology (ESC),
merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi kegagalan
fungsi jantung dengan gejala dan tanda dari gagal jantung (McMurray et al,
2012). Hal ini merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan memerlukan
perhatian medis yang segera dan biasanya berujung pada hospitalisasi
(Gheorghiade dan Pang, 2009). Pada sebagian besar kasus, gagal jantung akut
terjadi sebagai akibat perburukan pada pasien yang telah terdiagnosis dengan
gagal jantung sebelumnya (baik gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang
rendah/ heart failure with reduced ejection fraction (HF-REF), maupun pada
gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih baik/ heart failure with
preserved ejection fraction (HF-PEF) (McMurray et al, 2012).
Presentasi klinis dari gagal jantung akut biasanya merefleksikan
spektrum kondisi, dan klasifikasinya memiliki batasan-batasan. Pasien
dengan gagal jantung akut biasanya datang dengan salah satu dari keenam
kategori klinis berikut (Filippatos, 2007, Pfister dan Schneider, 2009):
1. Perburukan atau dekompensasi dari gagal jantung kronis : biasanya
terdapat riwayat perburukan dari gagal jantung kronis dalam pengobatan,
dan bukti dari kongesti sistemik dan pulmoner. Tekanan darah rendah saat
masuk biasanya berhubungan dengan prognosis yang jelek.

2. Edema paru akut: pasien biasanya datang dengan distress pernafasan,


takipneu dan ortopneu, ronki basah halus sering ditemukan di seluruh
lapang paru. Saturasi oksigen arterial biasanya <90% dengan udara
ruangan sebelum diberkan terapi oksigen.
3. Gagal jantung akut hipertensif: tanda dan gejala dari gagal jantung yang
disertai peningkatan tekanan darah dan biasanya memiliki fraksi ejeksi
ventrikel kiri yang masih baik. Terdapat bukti dari peningkatan tonus
simpatis dan vasokonstriksi. Pasien mungkin dalam kondisi euvolemik
atau hanya sedikit hipervolemik, dan datang dengan tanda-tanda kongestif
paru tanpa disertai kongesti sistemik. Respons terhadap terapi medis
biasanya cepat, dan tingkat kematian dirumah sakit biasanya rendah.
4. Renjatan kardiogenik (cardiogenic shock) didefinisikan sebagai bukti
adanya hipoperfusi jaringan yang diinduksi oleh gagal jantung setelah
dilakukannya koreksi adekuat dari preload dan aritmia mayor. Biasanya
renjatan kardiogenik ditandai dengan penurunan tekanan darah (sistolik
≤90 mmHg, atau penurunan cepat dari rerata tekanan arteri >30 mmHg)
disertai dengan oliguria atau anuria (<0.5 ml/kg /jam). Gangguan irama
juga sering terjadi, dan bukti-bukti hipoperfusi organ serta kongesti paru
biasanya terjadi secara cepat.

5. Gagal jantung kanan teisolasi: ditandai dengan sindroma penurunan curah


jantung (low output syndrome) tanpa adanya kongesti paru dengan
peningkatan tekanan vena juguler, dengan atau tanpa hepatomegali dan
tekanan pengisian ventrikel kiri yang rendah.

6. Gagal jantung akut pada sindroma koroner akut: banyak pasien datang
dengan gambaran klinis gagal jantung akut namun diserai bukti-bukti
laboratorium dari sindroma koroner akut. Sekitar 15% pasien dengan
sindroma koroner akut memiliki tanda dan gejala gagal jantung akut, dan
episode gagal jantung akut tersebut biasanya berhubungan atau
dipresipitasi oleh aritmia (bradikardia, fibrilasi atrium atau takikardi
venrikel).

B. Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah salah satu penyakit degeneratif yang banyak


ditemukan di dunia. Berdasarkan data yang diterima dari The National
Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) tahun 1999-2000,
kejadian hipertensi pada orang dewasa sekitar 29-31%. 1 Menurut Global
Burden of Disease (GBD) tahun 2000, 50% dari penyakit kardiovaskuler
disebabkan oleh hipertensi. 2 Hipertensi diperkirakan menjadi faktor
utama penyebab kematian karena dua efek primernya yaitu peningkatan
beban kerja jantung dan kerusakan pembuluh darah perifer.3
Sekitar 95 % hipertensi di Indonesia merupakan hipertensi essensial yang
tidak diketahui penyebabnya dan bersifat multifaktorial.1 Hipertensi
essensial biasanya muncul pada pasien berusia 25 sampai dengan 55 tahun
sedangkan usia di bawah 20 tahun jarang ditemukan dan umumnya wanita
lebih banyak dibanding pria. 4 Seiring dengan perubahan gaya hidup
modern, sosial ekonomi, dan pola makan, hipertensi tidak hanya terjadi
pada wanita usia lanjut tetapi juga dapat terjadi pada wanita usia paruh
baya. 5 Berdasarkan penelitian prospektif Farmingham Heart Study,
wanita berusia 30 – 39 tahun yang memiliki tekanan darah ≥ 140/90
mmHg dan dipantau terus selama 20 tahun, ternyata mempunyai risiko
mengalami stroke, menderita gagal jantung, dan berisiko mengalami
penyakit pembuluh darah peripheral.6
Kalium, kalsium dan magnesium selama ini diketahui dapat menurunkan
tekanan darah. 7,8 Mineral – mineral tersebut menghambat terjadinya
konstriksi pembuluh darah yang menyebabkan penurunan resistensi perifer
sehingga terjadi penurunan tekanan darah.
Hipertensi selain disebabkan oleh faktor makanan, obesitas dan aktifitas
fisik yang rendah juga dapat mempengaruhinya. Penelitian epidemiologi
membuktikkan bahwa risiko terjadinya hipertensi lebih tinggi pada orang
yang mengalami obesitas. 7 Pengukuran obesitas dapat dilakukan dengan
menggunakan indeks massa tubuh (IMT), untuk orang asia IMT
dikategorikan menjadi obesitas apabila > 25 kg/m2. 17 Sebuah studi
prospektif mengungkapkan bahwa peningkatan lemak tubuh berhubungan
signifikan terhadap terjadinya hipertensi. 9 Kemajuan teknologi membuat
masyarakat modern saat ini lebih mudah untuk melakukan pekerjaan
apapun sehingga aktifitas fisiknya lebih rendah dibandingkan dengan
masyarakat tradisional sebelum adanya perkembangan teknologi. Sebuah
studi menunjukkan bahwa 30 – 50 % orang yang mempunyai aktifitas fisik
yang tergolong rendah berisiko menderita hipertensi. 7
C. Penyebab Penyakit Gagal Jnatung Akut

1. Dekompensasi pada GJK yang sudah ada (kardiomiopati)


2. Sindrom koroner akut (SKA)
a. Infark miokardial/angina pektoris tidak stabil dengan iskemia yang
bertambah luas dan disfungsi iskemik.
b. Komplikasi kronik infark miokard akut.
c. Infark ventrikel kanan.
3. Krisis hipertensi
4. Aritmia akut
5. Regurgitasi valvular/endokarditis/ruptur korda tendinae, perburukan
regurgitasi katup yang sudah ada
6. Stenosis katup aorta berat
7. Miokarditis berat akut
8. Tamponade jantung
9. Diseksi aorta
10. Kardiomiopati pasca melahirkan

D. Patogenesis Gagal Jantung Akut


Disfungsi kardiovaskular disebabkan oleh satu atau lebih dari 5
mekanisme utama di bawah ini :
1. Kegagalan pompa
Terjadi akibat kontraksi otot yang lemah atau inadekuat atau kerena
relaksasi otot jantung yang tidak cukup untuk terjadinya pengisian
ventrikel.
2. Obstruksi aliran
Terdapat lesi yang mencegah terbukanya katup atau menyebabkan
peningkatan tekanan kamar jantung, misalnya stenosis aorta, hipertensi
sistemik atau koarktasio aorta.
3. Regurgitas
Regurgitas dapat meningkatkan aliran balik beban kerja kamar jantung
misalnya ventrikel kiri pada regurgitasi aorta atau atrium serta pada
regurgitasi mitral.
4. Gangguan konduksi
Gangguan konduksi yang menyebabkan kontraksi miokardium yang
tidak selaras dan tidak efisien.
5. Diskontinuitas sitem sirkulasi
Mekanisme ini memungkinkan darah lolos, misalnya luka tembak
yang menembus aorta.
Gagal jantung kiri lebih sering disebabkan oleh penyakit jantung
iskemik, hipertensi, penyakit katup mitral dan aorta, serta penyakit
miokardial non-iskemik. Efek morfologis dan klinis gagal jantung kiri
tetutama merupakan akibat dari aliran balik darah ke sirkulasi paru yang
progresif dan akibat dari berkurangnya aliran dan tekanan darah perifer.
Gagal jantung kanan yang terjadi tanpa didahului gagal jantung kiri
muncul pada beberapa penyakit. Biasanya gagal jantung kanan merupakan
konsekuensi sekunder gagal jantung kiri akibat peningkatan tekanan
sirkulasi paru pada kegagalan jantung kiri.
Gagal jantung kanan murni paling sering muncul bersama hipertensi
pulmoner berat konik (co pulmonale). Pada keadaan ini ventikel kanan
terbebani oleh beban kerja tekanan akibat peningkatan resistensi sikulasi
paru. Hipertopi dan dilatasi secara umum terbatas pada ventrikel dan
atrium kanan, walaupun penonjolan septum ventrikel kiri dapat
menyebabkan disfungsi ventrikel kiri.

E. Tanda dan gejala tipikal gagal jantung (McMurray et al, 2012)


Tanda Gejala
Tipikal Lebih spesifik
Sesak napas Peningkatan JVP
Ortopneu Reflek hepatojuguler
Paroksismal nocturnal dispneu Bunyi jantung 3 (gallop)
Penurunan toleransi aktivitas Impuls apical yang bergeser
kelateral
Kelelahan, letih dan kebutuhan Bising jantung
waktu yang lebih banyak untuk
istirahat setelah aktivitas
Edema tungkai
Kurang tipikal Kurang spesifik
Batuk malam Edema perifer (tungkai, skrotal)
Mengi Krepitasi paru
Peningkatan berat badan > 2kg/ Efusi pleura
minggu
Penurunan berat badan (pada Takikardia
gagal jantung lanjut)
Perasaan penuh Pulsasi irregular
Kurang nafsu makan Takipneu (>16 kali/ menit)
Bingung (terutama pada usia Hepatomegali
tua)
Depresi Asites
Palpitasi Kakeksia
Sinkop

F. Cedera Ginjal Akut pada Gagal Jantung Akut


Banyak pasien yang datang kerumah sakit dengan menderita
gangguan jantung dan ginjal dalam berbagai tingkat keparahan. Interaksi
antara organ tersebut memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga
stabilitas hemodinamik seperti pengaturan volume darah dan tonus
vaskuler. Ganguan utama salah satu dari kedua organ ini akan
menghasilkan disfungsi atau jejas sekunder pada organ lainnya. Interaksi
tersebut merepresentasikan sebuah dasar patofisiologi untuk sebuah entitas
klinis yang biasa disebut dengan sindroma kardiorenal (SKR) (Ronco et
al, 2008b) Walaupun secara umum didefinisikan sebagai kondisi yang
ditandai dengan inisiasi dan/ atau progresifitas dari insufisiensi ginjal
sebagai akibat sekunder dari gagal jantung, istilah SKR juga digunakan
untuk mendiskripsikan efek negatif akibat berkurangnya fungsi ginjal pada
jantung dan sistem sirkulasi (Ronco et al, 2008c).
Ronco dan kawan-kawan pada tahun 2008 (Ronco et al, 2008a),
telah membagi SKR berdasarkan kejadian alamiah terjadinya interaksi
bidireksional antara jantung dan ginjal menjadi 5 subtipe yang
merefleksikan patofisiologi sesuai alur waktu dari disfungsi jantung dan
ginjal yang konkomitan. Secara umum, SKR dapat didefinisikan sebagai
gangguan patofisiologis dari jantung dan ginjal, dimana disfungsi akut
ataupun kronis salah satu organ tersebut dapat menginduksi disfungsi akut
atau kronis organ yang lain. SKR tipe 1 merefleksikan perburukan
mendadak fungsi jantung (misal pada renjatan kardiogenik dan ADHF
yang mengakibatkan cedera ginjal akut AKI. SKR tipe 2 merupakan
abnormalitas kronis jantung (misal pada gagal jantung kongestif kronik)
yang menyebabkan gagal ginjal kronis progresif. SKR tipe 3 merupakan
perburukan fungsi ginjal yang mendadak yang menyebabkan disfungsi
jantung akut, seperti aritmia, iskemia dan gagal jantung. SKR tipe 4
dideskripsikan sebagai kondisi gagal ginjal kronis yang berkontribusi
kepada penurunan fungsi, hipertrofi jantung dan/ atau peningkatan resiko
dari kejadian kardiovaskuler. Sedangkan SKR tipe 5 adalah kondisi
sistemik (misal: sepsis) yang menyebabkan disfungsi jantung dan ginjal
secara bersamaan.

G. Penatalaksanaan Diit
Energi cukup sesuai kebutuhan
Protein 0,8 gr / kg BB
Lemak sedang 25% ET
KH by difference
Vitamin dan mineral cukup :
B2 = 1,1 mg/hr (Membantu fungsi jantung)
B3 = 10 mg/hr (Menurunkan LDL)
B5 = 5 mg/hr (Menurunkan kolesterol dan trigliserida dalam darah)
E = 15 mg/hr (Meningkatkan HDL)
D = 15 mg/hr (Menstabilkan detak jantung)
Magnesium = 320 mg/hr (Menjaga kesehatan jantung)
Kalsium = 1000 mg/hr (Menurunkan tekanan darah)
Kalium = 4700 mg/hr (Menurunkan tekanan darah)
Kolesterol rendah < 300 mg/dl
Na 600-800 mg boleh ditambah dari garam dapur sebanyak 2gr/hari (1/2
sdt/hr).
Tinggi cukup 25 gr/hr.
Cairan cukup ±1,5 liter / hr
Makanan yang dihindari :
- Yang mengandung gas (ubi, singkong, tape).
- Gajih, ham, sosis, hati, limpa, babat, otak, kepiting, kerang, keju dan
susu fullkrim.
- Kacang tanah, kanang mete dan kacang bogot.
- Sayuran yang bergas (kol, kembang kol, lobak, sawi dan nangka muda.
- Buah yang bergas (durian dan nangka masak).
- Lemak dari minyak kelapa dan kelapa sawit.
- Teh atau kopi kental.
BAB IV

INTERVENSI DAN MONITORING TERAPI DIET

MONITORING

 Pemantauan Intake Pasien setiap hari


Sabtu, Minggu, Senin,
Zat
Keb 18/03/2017 19/03/2017 20/03/2017
gizi
Asupan % Asupan % Asupan %
E 1574,29 1139,38 67,7 1029,93 61,2 1195,69 71,07
P 52 39,2 75,4 29,565 56,8 40,933 78,7
L 43,7 40,5 86,7 37,38 80 41,7 89,2
KH 225,2 214,2 81,3 248,9 94,5 212,6 80,7
chol <300 290 96,6 155 51,6 17,5 8,75
Na 600 352,4 44,05 313,2 39,14 310,8 38,8
Serat 25 13,5 54 7,6 30,3 12,9 51,5

 Pemantauan nilai lab pasien


Pemeriksaan Sebelum pengamatan Setelah pengamatan
C-Chol 232 -
C-HDL 28 -
Trigly 117 -
LDL 181 -

 Pemantauan antropometri
Indikator SMRS Hari 1 Hari 2 Hari 3
BB 65 - - -
TB 155 - - -
IMT 27 - - -
 Pemantauan gejala klinis
Indikator Sebelum Hari 1 Hari 2 Hari 3
Pengamatan
Nyeri dada v v x x
Sesak nafas v v x x
Pusing v v v v
Letih v v v v
Kembung v v v x
Nafsu
makan v v v v
kurang
TD 170/90 150/100 170/100 150/100
BAB V

PEMBAHASAN

Pelaksanaan proses asuhan gizi terstandar dengan melakukan pengamatan

selama tiga hari berturut-turut maka dipilih pasien dari ruang rawat jantung

bernama ibu Misdar yang berumur 52 tahun. Ibu Misdar adalah pasien yang

berasal dari Kamang bukittinggi. Ibu Misdar dirawat dengan diagnosa penyakit

ADHF (Acute Decompensated Heart Failure) dan HT (Hipertensi). Ibu Misdar

adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya bekerja sebagai penjahit

mukenah dan suaminya seorang petani dengan dua orang anak yang masih

bersekolah.

Pada awal masuk rumah sakit ibu Misdar memiliki status gizi overweight
dengan BB 65 kg dan TB 155 cm. Kadar kolesterol 232 mg/dl dan LDL 181
mg/dl. Mengeluh nyeri dada, sesak nafas, letih, pusing, kembung dan kehilangan
nafsu makan. tekanan darah ibu misdar saat masuk rumah sakit 170/90 mmHg.
Sebelum masuk rumah sakit ibu misdar memiliki kebiasaan makan :
- Setiap pagi minum teh + 1 sdm (20 gr) gula pasir
- Pagi : nasi 1½ penukar (150 gr) + ikan 1 potong (50 gr) + sayuran 1
penukar (100 gr) dimasak dengan santan.
- Siang : nasi 3 penukar (300 gr) + 1 potong (50 gr) gulai daging + 1
penukar (100 gr) sayur + 1 potong tempe (50 gr) + 1 porsi pisang.
- Malam : nasi 1½ penukar (150 gr) + 1 btr telur goreng (50 gr) + 1 potong
tahu (50 gr) + 1 penukar sayur (100 gr).
- Suka cemilan kue kering, bisa menghabiskan 12 keping (60 gr)
biskuit/hari.
- Sering makan 1 mangkok mie (100 gr) + 6 bh bakso (90 gr).
Menyukai makanan yang digoreng dan bersantan. Asupan sebelum masuk rumah
sakit E = 129,6%, P = 194,3%, L = 116,9%, KH = 110,9%.
Setelah dilakukan analisis dengan cara mengumpulkan data assesment yang
diantaranya data antropometri, biokimia, klinis, dietari dan riwayat personal maka
ditemukan empat diagnosa utama yang harus ditanggulangi secara intensif oleh
ahli gizi. Masalah yang pertama yaitu kelebihan asupan oral, kedua perubahn nilai
lab terkait gizi, ketiga kelebihan berat badan dan keempat kurang pengetahuan
terkait makanan dan zat gizi.
Untuk menanggulangi keempat masalah utama tersebut maka yang harus
dilakukan setelah assesment dan menetapkan diagnosa gizi adalah membuat
perencanaan intervensi yaitu dengan cara menghitung kebutuhan gizi pasien yang
diperoleh sebanyak 1574,29 kkal dengan asupan protein 52 gr, lemak 43,7 gr dan
karbohidrat 225,2 gr. Makanan diberikan dalam bentuk makanan lunak dengan 3
kali pemberian makanan utama dan 1 kali selingan.
Diit yang diberikan adakah DJ2RG2Rcholesterol. Diit DJ2 diberikan untuk
menyesuaikan dengan kondisi penyakit pasien, diit RG2 diberikan sebagai salah
satu cara untuk menurunkan tekanan darah yang dialami pasien dengan ketentuan
hanya menambahkan 2 gr garam dapur pada makanan pasien dalam satu hari dan
Rcholesterol dierikan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol dan LDL
pasien yang tinggi dengan mengatur asupan kolesterol pasien sebesar <300 mg/hr.
Dalam menanggulangi agar pasien tidak kelebihan asupan kolesterol maka diit
pasien diberikan tanpa telur. Selain itu hal yang juga diperhatikan dalam
intervensi pasien ini adalah asupan pemberian cairan yaitu 1,5 liter perhari
mengatasi sesak pada pasien akibat pembesaran paru-paru. Selanjutnya juga harus
diperhatikan asupan vitamin dan mineral yaitu diberikan vitamin B2, B3, B5, D
dan E yang berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dan LDL serta
meningkatkan kadar HDL dalam darah. Selain itu juga berfungsi dalam
membantu fungsi jantung dan menstabilkan detak jantung. Mineral yang diberikan
seperti magnesium untuk menjaga kesehatan jantung, kalsium dan kalium untuk
menurunkan tekanan darah.
Setelah dilakukan intervensi selama tiga hari berturut-turut maka ditemukan
bahwa asupan oral pasien menurun karena kondisi makanan yang sudah dingin
dan menu hewani yang sama serta cita rasa yang berkurang membuat asupan
pasien menjadi berkurang. Untuk menanggulangi hal ini maka pasien diberikan
susu untuk mencukupi kebutuhannya. Pada hari ketiga makanan pasien
diusahakan diberikan masih dalam kondisi panas dan pemberian motivasi pasien
agar dapat makan lebih banyak. Hal ini berhasil menambah asupan pasien
walaupun belum sampai 100%.
Gejala klinis pada pasien juga mulai hilang pada hari kedua seperti keluhan
sesak nafas dimana pada awal masuk rumah sakit pasien harus menggunakan O2.
Keluhan nyeri dada mulai hilang pada hari kedua dan keluhan kembung hilang
pada hari ketiga. Untuk pemantauan status gizi tidak bisa dilakukan karena
kondisi pasien yang tidak bisa turun dari tempat tidur membuat pasien tidak dapat
melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Data biokimia untuk
pasien jantung juga tidak dapat dilihat setelah tiga hari pengamatan karena
pengecekan kadar kolesterol darah pasien hanya dilakukan tiga bulan sekali.
pasien memiliki kebiasaan makan yang kurang baik sebelum masuk rumah
sakit, untuk menambah pengetahuan pasien terkait zat gizi dan makanan maka
pasien diberikan konseling berkaitan dengan diit yang diberikan serta pola hidup
sehat agar dapat memperbaiki kebiasaan makan pasien.
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil kegiatan intervensi gizi yang dilakukan selama tiga hari

berturut-turut pada pasien ADHF dan HT maka dapat disimpulkan bahwa

intervensi yang diberikan sudah cukup berhasil yang terlihat pada asupan oral

dan gejala klinis pasien. Asupan pasien perlahan mulai bertambah walau belum

100% dan gejala sesak, nyeri dada dan kembung juga sudah mulai hilang pada

hari kedua kegiatan intervensi. Untuk pemantauan status gizi dan data biokimia

belum bisa dilakukan karena keterbatasan pasien untuk berdiri dan kebijakan

rumah sakit dalam penanganan pasien jantung untuk pengecekan kadar

kolesterol.

B. Saran

Untuk pasien dengan diagnosa jantung diharapkan agar dapat melakukan

pengecekan darah ulang sebelum pasien dibolehkan pulang, sehingga pasien

yang pulang dapat dinyatakan benar-benar sudah memiliki kadar kolesterol,

LDL dan trigliserida yang sudah normal atau mendekati normal.