Anda di halaman 1dari 13

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH

Defenisi pertumbuhan dan perkembangan

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu


bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu. Anak tidak
hanya bertambah besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan struktur organ-organ tubuh
dan otak. Sebagai contoh, hasil dari pertumbuhan otak adalah anak mempunyai kapasitas
lebih besar untuk belajar, mengingat, dan mempergunakan akalnya. Jadi anak tumbuh baik
secara fisik maupun mental. Pertumbuhan fisik dapat dinilai dengan ukuran berat (gram,
pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter) umur tulang, dan tanda-tanda seks sekunder
.Menurut Karl E Garrison pertumbuhan adalah perubahan individu dalam bentuk ukuran
badan, perubahan otot, tulang, kulit, rambut dan kelenjar.

Pengertian perkembangan secara termitologis adalah proses kualitatif yang mengacu


pada penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung
sepanjang hidup manusia. Menurut para ahli perkembangan merupakan serangkaian
perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman,
terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif, dimaksudkan
bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (
kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara
individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif
(dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut. Perkembangan
merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang
dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuscular, kemampuan bicara, emosi
dan sosialisasi.

Ciri-ciri Tumbuh Kembang


Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan.
Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1
1. Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai
dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan
menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati
tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa
berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain
yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini
merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.
3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-
beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan
pada masing-masing anak.
4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi
peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur,
bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah
kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).
b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang
ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola
proksimodistal).
6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan.
Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu
membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum
berjalan dan sebagainya.

2
Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang
Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan
potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan
dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang
diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.
2. Pola perkembangan dapat diramalkan.
Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan
seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan
spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

Fase-fase Tumbuh Kembang


1.Tumbuh Kembang Neonatus
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari,
dimanaterjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar
rahim.
2.Tumbuh Kembang Bayi
a. Bayi Bulan Pertama
1 bulan Berat badan: 3,0 – 14,3 kg Panjang badan: 49,8 - 54,6 cm Lingkar kepala: 33
– 39cm Gerakan kasar: tangan dan kaki bergerak aktif Gerakan halus: kepala menoleh
kesamping kanan-kiri. Komunikasi/Berbicara: bereaksi terhadap bunyi lonceng.
Sosial/Kemandirian: menatap wajah ibu/pengasuh
b. Bayi Bulan Kedua
Inilah masa yang datar, waktu keluarga mulai menyesuaikan kehidupan dengan
seorangbayi yang baru. 2 bulan Berat badan: 3,6-5,2 kg. Panjang badan: 52,8-58,1 cm
Lingkar kepala: 35-41 cm. Gerakan kasar: mengangkat kepala ketika tengkurap Gerakan
halus: kepala menoleh ke samping kanan-kiri. Komunikasi/Berbicara: bersuara.
Sosial/Kemandirian: tersenyum spontan

3
3. Masa Toddler
Menginjak usia satu tahun, anak mulai belajar beragam hal dari lingkungannya.
Sebagai orang tua, Anda dapat belajar bagaimana menyokong perkembangan anak baik
kognitif, fisik dan mental anak. Berat badan: 8,9 – 11,5 kg Panjang badan: 75,9 – 82,4 cm
Lingkar kepala:44,5 – 50,5 cm Gerakan kasar: lari naik tangga Gerakan halus: menumpuk 2
mainan. Komunikasi/Berbicara: berbicara beberapa kata (mimik, pipis, ma’em).
Sosial/Kemandirian:Memakai sendok
4. Tumbuh Kembang Pra Sekolah
Anak yang terkategori para sekolah adalah anak dengan usia 3-5 tahun, Seorang ahli
psikologi Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa kurun usia pra sekolah disebut sebagai
masa keemasan (the golden age). Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik
dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut: 1. Berkembangnya konsep diri, 2.
Munculnya egosentris, 3.Rasa ingin tahu, 4. Imanjinasi, 5. Belajar menimbang rasa, 6.
Munculnya control internal, 7. Belajar dari lingkungannya Anak, 8. berkembangnya cara
berpikir, 9. Berkembangnya kemampuan berbahasa, 10. munculnya perilaku.
5. Tumbuh Kembang Sekolah
Tahap perkembangan ini banyak ditentukan oleh rangsangan awalnya, sehingga
bagaimanamenumbuhkan kreatifitas dan sosialisasinya terhadap lingkungan menjadi
tantangan bagi orang tua. Minat dan kegiatan bermain pada masa sekolah Karena anak sudah
sekolah dan mempunyai pekerjaan rumah, waktu untuk bermain sedikit dibandingkan
dengan ketika ia berada dalam tahun-tahun pra sekolah. kegiatan bermain anak yang lebih
besar dan banyaknya waktu yang diluangkan untuk kegiatan ini bergantung pada popularitas
dan apakah ia menjadi anggota kelompok atau tidak.
6. Tumbuh Kembang Remaja
Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa.
Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya
mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita.
a. Perkembangan fisik
Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya
pubertas.
b. Perkembangan intelektual

4
Tidak ada perubahan dramatis dalam fungsi intelektual selama masa remaja. Kemampuan
untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap.
c. Perkembangan seksual
Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya
dorongan seks.
d. Perkembangan emosional
Psikolog Amerika G. Stanley Hall mengatakan bahwa masaremaja adalah masa stres
emosional, yang timbul dari perubahan fisik yang cepat dan luas, yang terjadi sewaktu
pubertas

Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang


1. Faktor Genetik
Melalui instruksi genetic yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat
ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Yang termasuk faktor genetik antara lain
adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa .
Potensi genetic yang bermutu diharapkan dapat berinteraksi dengan lingkungan secara
positif sehingga diperoleh hasil yang optimal.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan factor yang sangat menentukan tercapai tidaknya potensi
bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan,
sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.

Konsep Anak Usia Sekolah

Masa kanak-kanak lanjut (usia 6-12 tahun) adalah periode ketika anak- anak
dianggap mulai dapat bertanggung jawab atas perilakunya sendiri, dalam hubungannya
dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia 6- 12 tahun juga sering
disebut usia sekolah. Artinya, sekolah menjadi pengalaman inti anak-anak usia ini, yang
menjadi titik pusat perkembangan fisik, kognitif, psikososial dan moral .

5
Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk
keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan
tertentu.
Tahapan ini dimulai sejak anak berusia 6 tahun sampai organ-organ seksualnya
masak. Kematangan seksual ini sangat bervariasi baik antar jenis kelamin maupun antar
budaya berbeda. Berdasarkan pembagian tahapan perkembangan anak, ada dua masa
perkembangan pada anak usia sekolah, yaitu pada usia 6-9 tahun atau masa kanak-kanak
tengah dan pada usia 10-12 tahun atau masa kanak-kanak akhir. Setelah menjalani masa
kanak-kanak akhir, anak akan memasuki masa remaja. Pada usia sekolah, anak memiliki
karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Perbedaan ini terlihat
dari aspek fisik, mental-intelektual, dan sosial-emosial anak. Pertumbuhan fisik pada anak
usia sekolah tidak secepat pada masa-masa sebelumnya. Anak akan tumbuh antara 5-6 cm
setiap tahunnya. Pada masa ini, terdapat perbedaan antara anak perempuan dan anak laki-
laki. Namun, pada usia 10 tahun ke atas pertumbuhan anak laki-laki akan menyusul
ketertinggalan mereka. Perbedaan lain yang akan terlihat pada aspek fisik antara anak laki-
laki dan perempuan adalah pada bentuk otot yang dimiliki. Anak laki-laki lebih berotot
dibandingkan anak perempuan yang memiliki otot lentur.

Pertumbuhan Anak Usia Sekolah


Indikator penilaian pertumbuhan anak erat kaitannya dengan penilaian status gizi anak
secara Antropometri mengacu kepada standar pertumbuhan anak WHO 2005. Indikator
pertumbuhan anak digunakan untuk menilai pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan
faktor umur dan hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan adalah dijabarkan sebagai
berikut:

a. Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan
akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan
maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderungan untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun.
Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah
6
1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam
bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan.

b. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa
jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang
mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun.
Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur)
atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran
dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan
paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja
tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan
perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu.

c. Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari
keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan
gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan
kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (
tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi
Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya
hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan
gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang
menahun .

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk
menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi,
dan merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan
dan komposisi tubuh.

7
Perkembangan Anak Usia Sekolah
Perkembangan anak usia sekolah dibagi menjadi perkembangan fisik, kognitif,
psikososial
a. Perkembangan Fisik
Kecepatan pertumbuhan pada usia sekolah awal bersifat perlahan dan konsisten sebelum
terjadinya lonjakan pertumbuhan pada usia remaja. Anak usia sekolah tampak lebih langsing
dibandingkan anak usia prasekolah karena perubahan distribusi dan ketebalan lemak.
Peningkatan tinggi badan berkisar 2 inci (5 cm) per tahun, dan berat badan meningkat sekitar
4 sampai 7 pon (1,8 sampai 3,2 kg) per tahun. Banyak anak yang mengalami peningkataan
berat badan dua kali lipat, dan sebagian besar anak perempuan mendahului anak laki-laki
dalam pertambahan tinggi dan berat badan pada akhir usia sekolah. Pengukuran tinggi dan
berat badan tiap tahunnya akan mendeteksi perubahan pertumbuhan yang merupakan gejala
timbulnya berbagai penyakit anak. Anak usia sekolah menjadi lebih terkoordinasi karena
dapat mengatur otot besar dan kekuatannya yang meningkat. Sebagian besar melakukan
keterampilan mototrik kasar seperti berlari, melompat, menjaga keseimbangan, melempar,
dan menangkap saat bermain. Perubahan fisik lainnya juga terjadi pada masa usia sekolah.
Pertumbuhan gigi tampak jelas pada masa ini. Gigi permanen pertama atau gigi sekunder
muncul pada usia 6 tahun. Pada usia 12 tahun, anak telah kehilangan seluruh gigi primer dan
sebagai gigi permanen telah erupsi.
Seiring pertumbuhan tulang, tampilan dan postur tubuh juga berubah. Postur anak yang
sebelumnya sedikit lordosis dengan penonjolan abdomen berubah menjadi lebih tegak.
Sangat penting untuk mengevaluasi anak, terutama wanita setelah usia 12 tahun, terhadap
adanya scoliosis. Bentuk mata berubah terjadi karena pertumbuhan tulang. Hal ini akan
meningkatkan ketajaman penglihatan menjadi 6/6. Skrining penglihatan dan pendengaran
menjadi lebih mudah karena anak telah memahami dan dapat bekerja sama dengan arahan
pemeriksaan.

b. Perkembangan Kognitif
Perubahan kognitif memberikan kemampuan untuk berpikir secara logis tentang
waktu dan lokasi dan untuk memahami hubungan antara benda dan pikiran. Anak telah dapat
membayangkan suatu peristiwa tanpa harus mengalaminya terlebih dahulu. Pikiran anak

8
tidak lagi didominasi oleh persepsi sehingga kemampuan mereka untuk memahami dunia
sangat meningkat. Pada usia 7 tahun anak mampu menggunakan simbol untuk melakukan
tindakan (aktivitas mental) dalam pikiran dan bukan secara nyata. Mereka mulai
menggunakan proses pikir logis dengan materi yang konkret (objek, manusia, dan peristiwa
yang dapat disentuh dan dilihat).
Anak usia sekolah menggunakan kognisinya untuk memecahkan masalah. Beberapa
orang memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan lainnya karena bakat intelektual,
pendidikan dan pengalaman, namun semua anak dapat meningkatkan keterampilan ini.
Mereka yang mampu memecahkan masalah dengan baik serta memiliki karakteristik berikut
: pandangan positif bahwa masalah dapat diselesaikan dengan usaha, memusatkan perhatiaan
pada ketepatan, kemampuan membagi masalah menjadi bagian-bagian pelajaran, dan
kemampuan menghindari tebakan saat mencari fakta.
Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan
bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan dengan objek dan kejadian-kejadian
sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan,
perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orangtua, dan teman. Bagaimana
cara anak mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan
perbedaanperbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam
objekobjek dan perisiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek-objek dan
peristiwa tersebut.
Teori perkembanga kognisi Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan
kognisi anak mengalami kemajuan melalui empat tahap yang jelas. Masing-masing tahap
dicirikan oleh munculnya kemampuan dan cara mengolah informasi baru.

9
c. Perkembangan Psikososial
Ada 8 tahap yang saling berkaitan dikemukakan oleh Erik Erikson dalam
perkembangan emosi (psikososial) :
1. Bayi (rasa percaya versus rasa tidak percaya mendasar);
2. Masa kanak-kanak awal pada tahun ke-2 sampai ke-3 (otonomi versus rasamalu dan
ragu-ragu);
3. Anak usia bermain (play age) usia 3 sampai 5 tahun (inisiatif versus rasa bersalah);
4. Anak usia sekolah usia 6 samapi 12 atau 13 tahun (Produktivitas versus Inferioritas);
5. Masa remaja (identitas versus kebingungan identitas);
6. Masa dewasa muda usia 19 sampai 30 tahun (keintiman versus isolasi);
7. Masa dewasa usia 31 sampai 60 tahun (generativitas versus stagnasi);
8. Usia senja, usia 60 tahun sampai akhir hayat (integritas versus rasa putus asa).
Tahap keempat adalah tahap dimana anak mengalami usia sekolah. Tahap perkembangan
emosi (psikososial) pada usia sekolah menurut Erik mencakup perkembangnanak sekitar usia
6 tahun sampai kira-kira 12 atau 13 tahun. Pada tahap ini bagi anak-anak usia sekolah,

10
harapan mereka untuk mengetahui sesuatu akan bertambah kuat dan terkait erat dengan
perjuangan dasar untuk mencapai kompetensi. Dalam perkembangan yang normal anak-anak
berjuang secara produktif untuk bisa belajar kemampuan-kemampuan yang diperlukan.7
Erikson mengatakan tugas perkembangan pada anak usia sekolah adalah industry versus
inferioritas (industry vs inferioritas). Pada masa ini, anak mencoba memperoleh kompetensi
dan keterampilan yang dibutuhkan untuk berfungsi kelak pada usia dewasa. Mereka yang
direspon secara positif akan merasakan adanya harga diri. Mereka yang memperoleh
kegagalan sering merasa rendah diri atau tidak berharga sehingga dapat mengakibatkan
penarikan diri dari sekolah maupun kelompok temannya.

d. Perkembangan Moral
Dalam kategori perkembangan moral, kohlberg mengemukakan tiga tingkat dengan
enam tahap perkembangan moral:
1. Tingkat 1: Prakonvensional
Pada tingkat ini aturan berisi aturan moral yang dibuat berdasarkan otoritas. Anak
tidak melanggar aturan moral karena takut ancaman atau hukuman dari otoritas. Tingkat
ini dibagi menjadi dua tahap:
(1) tahap orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman pada tahap ini anak hanya
mengetahui bahwa aturanaturan ini ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa
diganggu gugat. Anak harus menurut, atau kalau tidak, akan mendapat hukuman,
(2) tahap relativistik hedonosme pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak
tergantung pada aturan yang berada di luar dirinya yang ditentukan orang lain yang
memiliki otoritas. Anak mulai sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi
yang bergantung pada kebutuhan (relativisme) dan kesenangan seseorang (hedonisme).
2. Tingkat 2: Konvensional
Pada tingkatan ini anak mematuhi aturan yang dibuat bersama agar diterima
dalam kelompoknya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap:
(1) tahap orientasi mengenai anak yang baik. Pada tahap ini anak mulai
memperlihatkan orientasi perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang
lain atau masyarakat. Sesuatu dikatakan baik dan benar apabila sikap dan perilakunya
dapat diterima oleh orang lain atau masyarakat.

11
(2) tahap mempertahankan norma sosial dan otoritas. Pada tahap ini anak
menunjukkan perbuatan baik dan benar bukan hanya agar dapat diterima oleh
lingkungan masyarakat di sekitarnya, tetapi juga bertujuan agar dapat ikut
mempertahankan aturan dan norma/ nilai sosial yang ada sebagai kewajiban dan
tanggung jawab moral untuk melaksanakan aturan yang ada.
3. Tingkat 3: pasca konvensional.
Pada tingkat ini anak mematuhi aturan untuk menghindari hukuman kata
hatinya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap:
(1) tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan
sosial. Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan
sosial dan masyarakat. Seseorang menaati aturan sebagai kewajiban dan tanggung
jawab dirinya dalam menjaga keserasian hidup masyarakat.
(2) tahap universal. Pada tahap ini selain ada norma pribadi yang bersifat
subyektif ada juga norma etik (baik/ buruk, benar/ salah) yang bersifat universal
sebagai sumber menentukan sesuatu perbuatan yang berhubungan dengan moralitas.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 2013


2. Syamsussabri ,Muhammad,2013. “Konsep Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan
Peserta Didik”, Jurnal Perkembangan Peserta Didik, Volume 1 Nomor 1 tahun.
3. Wong D. L., Huckenberry M.J.(2008).Wong’s Nursing care of infants and children.
Mosby Company, St Louis Missouri.
4. Nuryanti, Lusi. (2008). Psikologi Anak. Jakarta: PT Indeks
5. Gunarsa, S.D., & Gunarsa, Y.S.D (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
6. Feist, Jess dan Feist, Gregory J. 2010. Teori Kepribadian, Theories of Personality
Buku 2 Edisi7 . Jakarta: Salemba Humanika.

13