Anda di halaman 1dari 64

BAB I

LAPORAN KASUS

Resume
Ny. N, seorang wanita berusia 40 tahun, G4P3A0 dengan usia kandungan 39 minggu,
datang ke poli kandungan dengan keluhan utama pendarahan. Tidak terdapat tanda-tanda mau
melahirkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan obstetrik didapat hasil bahwa janin letak kepala
dan punggu kiri dengan placenta previa. berdasarkan hal tersebut, dilakukan section caesar.

Status Pasien
I. Keterangan Umum
Nama : Ny. Noor Hidayati TP Nomer Medrek : 088122
Usia : 31 tahun Tanggal masuk : 18/05/09
Alamat : ds. Wado RT/RW 4/2 kedung tuban Asal : Poli/UGD/Ruangan
Pekerjaan : IRT Jam : 09.00
Agama : Islam

II. Anamnesis
Keluhan Utama : G2P1A0 pasien merasa hamil 9 bulan, tidak merasakan
tanda-tanda melahirkan, terdapat perdarahan.
Keluhan lain : tidak ada
Riwayat penyakit : pendarahan pada usia kandungan 9 bulan
Riwayat obstetrik : G2P1A0

III. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : composmentis
Tanda-tanda vital :
T= 123/81 mmHg N= 84 x/menit
S= 36,2 R= 20 x/menit
Berat Badan : 61 kg
Tinggi badan : tidak dilakukan pengukuran
Kepala
Konjungtiva : tidak anemik
Sklera : tidak ikterik
Leher : simetris, tidak tampak scar, tidak tampak dan tidak
teraba massa
Thorax
- Paru : gerak nafas simetris, fremitus teraba, vesicular
breath sound dan tidak ada suara tambahan
(wheezing, ronchi, rales)
- Jantung : ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midclavicular.
Batas jantung:
kanan atas  ICS ke-2 parasternal kanan
kiri atas  ICS- ke-2 parasternal kiri
kanan bawah  ICS ke-5 parasternal kanan
kiri bawah  ICS ke-5 midclavicular
terdengar S1 dan S2, tidak ada suara tambahan,
tidak terdengar murmur.
Abdomen :
- Pemeriksaan luar:
TFU : 32 cm
LA : Kep. puki
His : (-)
BJA : (+) 144 x/menit
- Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
Ekstrimitas atas : hangat, tidak edema
Ekstrimitas bawah : hangat, tidak edema

IV. Pemeriksaan laboratorium


Tanggal pemeriksaan : 18-05-2019 waktu : 09.45 WIB
Hematologi
Hb : 10.1 mg/dL
Leukosit : 8.900 sel/µL
Eritrosit : 4.12 juta sel/µL
Hematokrit : 31.8 %
Trombosit : 273.000 sel/µL
MCV : 77 fl
MCH : 24 pg
MCHC : 31 g/dl
GDS : 71 mg/dl
HbsAg : Negative
Gol. Darah : O
V. Diagnosis Kerja
G2P1O0 39-40 minggu dengan Riwayat SC + Placenta previa

VI. Diagnosis Banding


G2P1O0 39-40 minggu dengan Riwayat SC + Placenta Solusio

VII. Rencana penatalaksanaan


- SC dengan anaestesi regional (spinal)

Jam : 11.00
VIII. Pre operasi
A. Anamnesa
1. Riwayat kehamilan sekarang : Pasien hamil 39 minggu. Pada usia 39
minggu terjadi pendarahan.
2. Riwayat penyakit : tidak ada
3. Riwayat obat : tidak ada
4. Riwayat operasi : Secar pada tgl. 20 Desember 2014 dengan diagnosis KPD
B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital :
- N : 84 x/menit S : 36.2 c
- T : 128/82 mmHg R : 20x/min
Kepala :
- Konjungtiva : tidak anemik
- Sklera : tidak ikterik
Leher : simetris, tidak tampak scar, tidak tampak dan tidak
teraba massa,
Thorax
- Paru : gerak nafas simetris, fremitus teraba, vesicular
breath sound dan tidak ada suara tambahan
(wheezing, ronchi, rales)
- Jantung : ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midclavicular.
Batas jantung:
kanan atas  ICS ke-2, parasternal kanan
kiri atas  ICS- ke-2, parasternal kiri
kanan bawah  ICS ke-5, parasternal kanan
kiri bawah  ICS ke-5, midclavicular
terdengar S1 dan S2, tidak ada suara tambahan,
tidak terdengar murmur.
Ekstrimitas atas : hangat, tidak edema
Ekstrimitas bawah : hangat, tidak edema
C. Puasa : ya
D. Infus : ya
E. Dower kateter : ya

IX. Durante Operasi


JAM : 11.30
Operator : dr.Hari Sp.OG
Ahli Anestesi : dr. Aditya Sp.An
Jenis Anestesi : Anestesi Regional : Spinal
Posisi : Supinasi
Lama operasi : 30 menit

X. Post Operasi
Jam : 12.00
Diagnosis pre operasi : G2P1A0 39-40 minggu + presentasi kepala
Indikasi Operasi : Placenta Previa + Riwayat SC
Diagnosa Post Operasi : P2A0 post SC atas indikasi Plasenta previa
Jenis Operasi : SC
Medikasi :
1. Injeksi kalnex II ampul
2. Dsynone II ampul
3. Vascon 0,05 mg
4. Ivfd RL drip oxytocin 10 iu 20 tpm
5. Tampon
6. Injeksi ricef 2x1 gram
7. Injeksi plasminex 3x1
8. Injeksi metronidazole
9. Ferofort 1x1
10. Tranfusi WB sampai dengan HB 8 mg/dl
Transfer pasien ke ICU
Jam : 12.00
XI. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : composmentis
Tanda-tanda vital :
T= 95/45 mmHg N= 127 x/menit
S= 36,0 R= 20 x/menit
Berat Badan : 61 kg
Tinggi badan : tidak dilakukan pengukuran
Kepala
Konjungtiva : Conjungtiva anemik +/+
Sklera : tidak ikterik
Leher : simetris, tidak tampak scar, tidak tampak dan tidak
teraba massa,
Thorax
- Paru : gerak nafas simetris, fremitus teraba, vesicular
breath sound dan tidak ada suara tambahan
(wheezing, ronchi, rales)
- Jantung : ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midclavicular.
Batas jantung:
kanan atas  ICS ke-2 parasternal kanan
kiri atas  ICS- ke-2 parasternal kiri
kanan bawah  ICS ke-5 parasternal kanan
kiri bawah  ICS ke-5 midclavicular
terdengar S1 dan S2, tidak ada suara tambahan,
tidak terdengar murmur.
Abdomen : Uterus setinggi pusar
Ekstrimitas atas : hangat, tidak edema
Ekstrimitas bawah : hangat, tidak edema
Alat genital : Vaginal: darah +
Pemeriksaan dalam: VT: darah +

XII. Pemeriksaan laboratorium

Tanggal pemeriksaan : 18-05-2019 waktu : 12.36 WIB


Hematologi
Hb : 3.9 mg/dL
Leukosit : 17.400 sel/µL
Eritrosit : 1.52 juta sel/µL
Hematokrit : 12 %
Trombosit : 154.000 sel/µL
MCV : 78 fl
MCH : 25 pg
MCHC : 32 g/dl
CT : 7 menit
BT : 1 menit
Gol. Darah : O

XIII. Diagnosis Kerja


P2A0 Post Secar atas indikasi Placenta previa dengan anemia berat e.c Perdarahan
Post Partum e.c Retensio Placenta (placenta akreta)

XIV. Diagnosis Banding


P2A0 Post Secar atas indikasi Placenta previa dengan anemia berat e.c Perdarahan
Post Partum e.c Ruptur Uteri

XV. Rencana penatalaksanaan


- Subtotal Histerektomi

Jam : 14.00
XVI. Pre operasi
F. Anamnesa
Riwayat kehamilan sekarang : Perdarahan Post Secar
Riwayat penyakit : tidak ada
Riwayat obat : tidak ada
G. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : compos mentis, tampak sakit berat
Tanda vital :
- N : 140 x/menit S : 36.0 c
- T : 90/60 mmHg R : 20x/min
1. Kepala :
- Konjungtiva : Conjungtiva anemic +/+
- Sklera : tidak ikterik
Leher : simetris, tidak tampak scar, tidak tampak dan tidak
teraba massa,
Thorax
- Paru : gerak nafas simetris, fremitus teraba, vesicular
breath sound dan tidak ada suara tambahan
(wheezing, ronchi, rales)
- Jantung : ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midclavicular.
Batas jantung:
kanan atas  ICS ke-2, parasternal kanan
kiri atas  ICS- ke-2, parasternal kiri
kanan bawah  ICS ke-5, parasternal kanan
kiri bawah  ICS ke-5, midclavicular
terdengar S1 dan S2, tidak ada suara tambahan,
tidak terdengar murmur.
Ekstrimitas atas : hangat, tidak edema
Ekstrimitas bawah : hangat, tidak edema
H. Infus : ya
I. Dower kateter : ya

XVII. Durante Operasi


JAM : 14.00
Operator : dr.Hari Sp.OG
Ahli Anestesi : dr. Aditya Sp.An
Jenis Anestesi : Anestesi Umum : intubasi endotracheal tube

XVIII. Post Operasi


Diagnosis pre operasi : P2A0 post Secar e.c placenta previa
Indikasi Operasi : Perdarahan intrauteri
Diagnosa Post Operasi : Histerektomi atas indikasi P2A0 post SC + Retensio placenta
(Placenta akreta)
Jenis Operasi : Subtotal Histerektomi
Medikasi :
1. Infus RL + Tramadol
2. Injeksi Dextroketoprofen
3. Kalnex 3x2
4. Injeksi Metronidazol 3x1
5. Injeksi Ricef 2x1
6. Injeksi Dycnone
7. Injeksi ca gluconas
8. Injeksi ketorolac 3x1
9. Injeksi Midazolam
10. Injeksi dexametason 2 ampul
11. Infus Paracetamol
12. Injeksi ondancetrone

Tranfer pasien ke ICU


Tanggal / jam Catatan Intruksi
18-05-2019 Pasang ventilator
16.35 Injeksi Sedacum 3 mg
(titrasi 1 mg/jam)
17.00 Pasang transfusi WB kolf ke
7
Injeksi Vascon dosis 0,05
17.15 TD : 53/30 mmhg Injeksi vascon 0,2 mg
HR : 120 x/min
17.20 HR : 170x/min Infus Paracetamol
T : 39,2 c Injeksi Dexametason 2 amp
Injeksi Ca Glukonas 1 amp
18.30 Pasien sadar Ekstubasi
CM Pasang NRM
TD : 108/70 mmhg
HR : 140x/min
20.30 CM
Gelisah
HR : 200 x/min
T : 41 C
20.45 Apneu RJP + Ventilasi
21.00 Meninggal

Diagnosa akhir:
Death Maternal P2A0 Post Secar atas indikasi Placenta previa dengan anemia berat e.c
Perdarahan Post Partum e.c Retensio Placenta (Placenta akreta) + Reaksi alergi darah e.c
Syok anafilaktik DD Hemolitik intravskular Akut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERDARAHAN ANTEPARTUM

2.1.1 Definisi
Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22
minggu, walaupun patologi yang sama dapat pula terjadi pada kehamilan sebelum 22 minggu.
Perdarahan antepartum umumnya bersumber pada kelainan plasenta sedangkan yang tidak
bersumber pada plasenta seperti kelainan servik biasanya tidak berbahaya.
Klasifikasi klinis
1. Plasenta previa
2. Solusio plasenta
Solusio plasenta Plasenta previa
Perdarahan - Disertai rasa nyeri - Tanpa nyeri

- segera disusul partus - Berulang sebelum


partus
- Keluar hanya sedikit
- Keluar banyak

Palpasi Bagian anak sukar ditentukan Bagian terendah masih tinggi

Bunyi jantung anak Biasanya tidak ada Biasanya jelas

Cekungan plasenta Ada impresi di jaringan Tidak ada


plasenta akibat hematoma

Selaput ketuban Robek normal Robek marginal

2.1.1 PLASENTA PREVIA


Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang letak abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak
di bagian atas uterus.

Klasifikasi
1. Plasenta previa totalis: seluruh ostium tertutup oleh plasenta

2. Plasenta previa lateralis/parsialis: sebagian ostium terdapat jaringan plasenta

3. Plasenta previa marginalis: hanya dipinggir ostium terdapat jaringan plasenta

4. Plasenta letak rendah: implantasi plasenta rendah mendekati ostium tapi tidak sampai
ke ostium , 3-4 cm dari ostium

Etiologi
1. Multipara

2. Mioma uteri

3. Kuretase berulang

4. Umur lanjut

5. Bekas seksio sesario

6. Perubahan inflamasi atau atrofi

Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat
persalinan yang lampau dapat mengakibatkan plasenta previa, tidaklah selalu benar karena
tidak tidak nyata dengan jelas plasenta previa didapati pada paritas tinggi. Apabila aliran
darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar, plasenta yang letaknya normal
akan memperluas permukaannya sehingga mendekati atau menutupi pembukaan jalan lahir.
Gambaran Klinik
- Perdarahan tanpa nyeri

- Kepala anak sangat tinggi (tidak dapat mendekati pintu atas panggul)

- Kelainan letak

Gejala utamanya adalah perdarahan tanpa alasan tanpa nyeri. Perdarahan dapat terjadi selagi
penderita tidur. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat
fatal. Perdarahan berikut biasanya lebih banyak apalagi kalau dilakukan pemeriksaan dalam.
Darah berwarna merah segar, berlainan dengan solusio berwarna kehitam- hitaman. Sumber
perdarahan adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus
atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan
karena serabut otot SBR tidak mampu berkontraksi untuk menghentikan darah. Makin rendah
letak plasenta makin dini perdarahan Turunnya bagian terbawah janin akan terhalang. Pada
plasenta previa totalis didapatkan kepala belum masuk pintu atas panggul, pada plasenta
previa parsialis didapatkan kepala mengolak kesamping, plasenta previa posterior kepala
menonjol diatas simpisis, plasenta previa anterior bagian terbawah janin sukar ditentukan.

Diagnosis
Setiap perdarahan antepartum curigai plasenta previa sampai terbukti bukan plasenta previa.
Pada anamnesis didapatkan perdarahan setelah 22 minggu tanpa nyeri, tanpa sebab.
Pemeriksaan luar didapatkan bagian terbawah janin belum masuk PAP dan sukar didorong
kedalam. Inspekulo dapat melihat asal darah dari OUE. Penentuan letak plasenta tidak
langsung dengan cara radiografi, radioisotop, USG. Penentuan letak plasenta langsung
dengan perabaan fornik didapatkan lunak bila antara kepala janin terdapat plasenta, padat
bila tidak terdapat plasenta dan pemeriksaan melalui canalis servikalis teraba kotiledon.
Apabila kotiledon plasenta teraba segera jari telunjuk dikeluarkan dari kanalis servikalis. Hal
ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan perdarahan banyak.

Penanganan
Prinsip penaganan adalah setiap ibu perdarahan harus segera dikirim ke rumah sakit yang
memiliki fasilitas transfusi dan operasi. Perdarahan yang terjadi pertama sekali jarang sekali
menyebabkan kematian, asal sebelumnya tidak diperiksa dalam. Peradarahan berikutnya akan
selalu lebih banyak daripada perdarahan sebelumnya. Apabila dengan penilaian ternyata
perdarahan yang telah berlagsung atau yang akan berlangsung tidak akan membahayakan ibu
dan anak, kehamilan belum cukup 36 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2500 gram
dan persalinan belum mulai dapat dibenarkan untuk menunda persalinan sampai janin dapat
hidup di luar kandungan. Penanganan pasif., pada kasus tertentu sangat bermamfaat untuk
mengurangi angka kematian neonatus. Penderita dirawat di RS sejak perdarahan pertama,
operasi dan transfusi harus bisa setiap saat. Anemia harus segera diatasi mengingat
kemungkinan perdarahan berikutnya. Menilai perdarahan harus didasarkan pada pemeriksaan
hemoglobin dan hematorit.
Memilih cara persalinan Pada umumnya cara persalinan yang terbaik tergantung dari derajat
plasenta previa, paritas dan banyaknya perdarahan. Beberapa hal lain yang harus diperhatikan
ialah apakah pernah diperiksa dalam, atau sudah mengalami infeksi. Plasenta previa totalis
merupakan indikasi mutlak untuk seksio sesarea tanpa menghiraukan faktor-faktor lainnya.
Plasenta previa parsialis pada primigravida sangat cenderung untuk seksio sesarea.
Perdarahan banyak apalagi berulang juga harus di seksio sesarea. Persalinan pervaginam
dipertimbangkan pada multigravida dengan plasenta letak rendah, plasenta previa marginalis,
plasenta previa parsialis dengan pembukaan >5 setalah dipecahkan ketuban. Bila tidak
mengurangi perdarahan maka harus di seksio sesarea. Hindari persalinan lama dan sulit
karena dapat bahaya bagi ibu dan janin
Tujuan pemecahan ketuban pada persalinan pervaginam:
• Bagian terbawah janin akan menekan plasenta dan bagian plasenta yang berdarah
• Bagian plasenta yang berdarah dapat bebas mengikuti renggangan SBR sehingga pelepasan
plasenta dari segmen bawah rahim lebih lanjut dapat dihindarkan Bila pemecahan selaput
ketuban belum menghentikan perdarahan terdapat 2 cara untuk menekan plasenta:
1. pemasangan cunam willett
2. Versi Braxton Hicks
Kedua cara ini sudah ditinggalkan dalam dunia kebidanan mutakhir karena seksio sesarea
lebih aman.
Seksio Sesaria Dirumah sakit yang lengkap seksio sesaria merupakan cara terpilih. Nesbitt
(1962) melaporkan 65% plasenta previa diselesaikan dengan seksio sesarea. Gawat janin atau
kematian janin tidak boleh menjadi halangan untuk dilakukan seksio sesarea demi
keselamatan ibu. Akan tetapi gawat ibu mungkin terpaksa menunda seksio sesarea sampai
keadaannya dapat diperbaiki apabila fasilitas memungkinkan. Apabila fasilitas tidak
memungkinkan jangan ragu-ragu untuk melakukan seksio sesarea jika itu satusatunya
tindakan terbaik. Walaupun diakui bahwa seksio sesaria trasperitonealis profunda merupakan
jenis operasi yang terbaik akan tetapi hendaknya jangan ragu-ragu untuk melakukan seksio
sesaria korporalis apabila ternyata plasenta pada dinding depan uterus, untuk menghindarkan
sayatan pada plasenta dan menghindarakan sayatan pada segmen bawah uterus yang biasanya
rapuh dan dengan pembuluh darah besar besar dengan demikian menghindarkan perdarahan
post partum.
2.1.2 SOLUSIO PLASENTA
Definisi
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum
janin lahir. Biasanya terjadi pada triwulan ketiga walaupun dapat pula terjadi setiap dalam
kehamilan. Apabila terjadi sebelum 20 minggu mungkin akan didiagnosis dengan abortus
imminems. Plasenta dapat terlepas seluruhnya disebut solusio plasenta totalis, sebagian
solusio plasenta parsialis, atau hanya sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut
ruptur sinus marginalis.

Klasifikasi secara klinis


1. Solusio plasenta ringan
2. Solusio plasenta sedang
3. Solusio plasenta berat
Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tanda-tanda klinis sesuai dengan derajat lepasnya plasenta.

Etiologi
Solusio plasenta hingga saat ini belum dietahui dengan jelas, walaupun beberapa
keadaan tertentu dapat menyertainya seperti umur ibu yang tua, multiparitas, hipertensi
menahun, preeklamsia, trauma, tali pusat pendek, tekanan vena cava inferior dan defisiensi
asam folik. Patologi Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang
membentuk hematoma desidua sehingga plasenta terdesak dan kemudian terlepas. Apabila
perdarahan yang kecil hanya akan mendesak jaringan plasenta, perdarahan antara uterus dan
plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanyapun tidak jelas.
Kejadian ini baru diketahui setelah lahir pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada
permukaan maternalnya dan bekuandarah lama yang berwarna kehitam-hitaman. Biasanya
perdarahan akan berlangsung terus karena otot uterus yang merenggang oleh kehamilan tidak
mampu berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. Akibatnya hematom retroplasenter
akan bertambah besar sehingga sebagian dan akhirnya seluruhnya akan terlepas. Darah dapat
menyeludup kedibawah selaput ketutuban keluar melalui vagina, atau masuk ke dalam
kantong ketuban, atau ekstravasasi ke serabut otot bila banyak warna uterus berbercak biru
atau ungu disebut uterus Couvelaire. Kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan
retroplasenter menyebabkan banyak tromboplastin masuk ke peredaran darah ibu sehingga
terjadi pembekuan intra vaskuler dimana-mana yang menghabiskan sebagian fibrinogen
akibatnya hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah pada uterus
dan alatalat tubuh lain.
Gambaran klinik
Solusio plasenta ringan terjadi ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil
plasenta yang tidak berdarah banyak, sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu maupun
janin. Apabila terjadi perdarahan pervaginam warnanya akan kehitm-hitaman dan sedikit
sekali. Perut terasa agak sakit, terus tegang, bagian bagian janin mudah diraba. Solusio
plasenta sedang bila plasenta terlepas lebih dari 1/4 tapi belum sampai 2/3. tanda dan
gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan atau mendadak dengan
gejala sakit perut terus menerus, perdarahan pervaginam. Walaupun perdarahan pervaginam
sedikit, seluruh perdarahan mungkin telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin jatuh kedalam
syok, janin kalau masih hidup dalam keadaan gawat, dinding uterus tegang terus menerus,
nyeri tekan , bagian janin sukar diraba, kelainan pembekuan dan ginjal mungkin telah terjadi.
Solusio Plasenta Berat bila plasenta terlepas >2/3. Terjadinya sangat tiba-tiba, Ibu telah jatuh
dalam syok, janin meninggal, uterus sangat tegang sepeti papan, sangat nyeri, perdarahan
pervaginam tidak sesuai dengan syok ibu, kemungkinan telah terjadi kelainan pembekuan
darah dan kelainan ginjal

Diagnosis
Tanda-tanda solusio plasenta berat ialah sakit perut terus menerus, perdarahan
pervaginam, syok, bunyi jantung janin tidak terdengar lagi, air ketuban berwarna kemerah-
merahan bercampur darah Solusio plasenta sedang tidak semua tanda dan gejala nyata seperti
sakit perut terus menerus, nyeri tekan, uterus tegang terus menerus selalu ada, juga pada
solusio plasenta ringan.

Komplikasi
Komplikasi pada ibu tergantung luas plasenta yang lepas dan lamanya solusio berlangsung.
Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan, kelainan pembekuan, oliguria, dan gawat
janin sampai kematian janin. Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta
hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan. Setelah persalinanpun
juga dapat terjadi perdarahan postpartum karena kontraksi uterus tidak kuat yang sering pada
uterus couvelaire. Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya baik. Terjadinya
oliguria belum dapat diterangakan dengan jelas, sangat mungkin berhubungan dengan
hipovolemia dan penyempitan pembuluh darah ginjal. Kelainan pembekuan darah pada
solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemi terjadi kira-kira 10%. Kadar
fibrinogen wanita hamil cukup bulan 450 mg%, berkisar antara 300-700 mg%. apabila kadar
fibrinogen lebih rendah dari 100mg% akan terjadi gangguan pembukuan darah. Jarang kasus
solusio plasenta yang datang ke rumah sakit dengan janin masih hidup, kalaupun masih hidup
sudah sedemikian gawatnya.

Penatalaksanaan
Pada sulusio plasenta ringan bila kehamilan <36 mg kemudian perdarahan berhenti, uterus
tidak menjadi tegang maka rawat konservatif dengan observasi yang ketat. Apabila
perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta itu bertambah jelas atau dalam
pemantauan dengan USG solusio plasenta bertambah maka kehamilan harus diakhiri.
Pada solusio plasenta sedang dan berat penanganan di rumah sakit meliputi trasfusi darah,
pemecahan ketuban, infus oksitosin, jika perlu seksio sesarea. Ketuban harus segera
dipecahkan tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita dan tidak peduli apakah
persalinan akan diselesaika pervaginam atau perabdominam. Pemecahan ketuban in
merangsang dimulainya persalinan dan mengurangai tekanan intrauterin yang dapat
menyebabkan komplikasi nekrosis ginjal mugnkin melalui apa yang disebut reflek uterorenal.
Apabila perlu persalinan dengan pemberian oksitosin. Pencegahan payah ginjal meliputi
pergantian darah yang hilang secukupnya, pemberantasan infeksi, atasi hipovolemi,
menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan. Untuk mengatasi
hipofibrinogen maka diberikan fibrinogen. 1 gram fibrinogen menaikkan fibrinogen darah
40%. Kadar kritis fibrinogen 150 mg% Apabila persalinan tidak selesai dalam 6 jam setelah
terjadi solusio harus dilakukan seksio sesarea Uterus covelaire bukan merupakan indikasi
histerektomi tapi bila perdarahan tidak dapat diatasi setelah seksio sesarea maka histerektomi
dipertimbangkan.

Prognosis
Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, banyaknya perdarahan, derajat
kelainan pembekuan, ada tidaknya preeklamsia, tersembunyi tidaknya perdarahan. Prognosis
janin pada solusio berat hampir 100% mati. Pada solusio ringan dan sedang tergantung
luasnya plasenta yang terlepas.

2.2 PERDARAHAN POSTPARTUM

2.2.1 Definisi
Perdarahan postpartum (PPP) didefinisikan sebagai kehilangan 500 ml atau lebih darah
setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih setelah seksio sesaria.

2.2.2 Etiologi
Perdarahan postpartum bisa disebabkan karena :

1. Atonia Uteri
Atonia uteri adalah ketidakmampuan uterus khususnya miometrium untuk berkontraksi
setelah plasenta lahir. Perdarahan postpartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi
serat-serat miometrium terutama yang berada di sekitar pembuluh darah yang mensuplai
darah pada tempat perlengketan plasenta.

Kegagalan kontraksi dan retraksi dari serat miometrium dapat menyebabkan perdarahan
yang cepat dan parah serta syok
9

hipovolemik. Kontraksi miometrium yang lemah dapat diakibatkan oleh kelelahan karena
persalinan lama atau persalinan yang terlalu cepat, terutama jika dirangsang. Selain itu,
obat-obatan seperti obat anti-inflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, beta-
simpatomimetik, dan nifedipin juga dapat menghambat kontraksi miometrium. Penyebab
lain adalah situs implantasi plasenta di segmen bawah rahim, korioamnionitis,
endomiometritis, septikemia, hipoksia pada solusio plasenta, dan hipotermia karena
resusitasi massif.

Atonia uteri merupakan penyebab paling banyak PPP, hingga sekitar 70% kasus. Atonia
dapat terjadi setelah persalinan vaginal, persalinan operatif ataupun persalinan abdominal.
Penelitian sejauh ini membuktikan bahwa atonia uteri lebih tinggi pada persalinan
abdominal dibandingkan dengan persalinan vaginal.

2. Laserasi jalan lahir


Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Pertolongan
persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan memudahkan robekan jalan lahir
dan karena itu dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum
lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan perineum,
trauma forsep atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi.
10

Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan yaitu

a. Derajat satu

Robekan mengenai mukosa vagina dan kulit perineum.

b. Derajat dua

Robekan mengenai mukosa vagina, kulit, dan otot perineum.

c. Derajat tiga

Robekan mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, dan otot sfingter ani
eksternal.

d. Derajat empat

Robekan mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, otot sfingter ani
eksternal, dan mukosa rektum.

3. Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta belum lahir hingga atau melebihi waktu 30 menit
setelah bayi lahir. Hal ini disebabkan karena plasenta belum lepas dari dinding uterus atau
plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan. Retensio plasenta merupakan etiologi
tersering kedua dari perdarahan postpartum (20% - 30% kasus). Kejadian ini harus
didiagnosis secara dini karena retensio plasenta sering dikaitkan dengan atonia uteri untuk
diagnosis utama sehingga dapat membuat kesalahan diagnosis. Pada retensio
11

plasenta, resiko untuk mengalami PPP 6 kali lipat pada persalinan normal.

Terdapat jenis retensio plasenta antara lain :

a. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion


plasenta sehingga menyebabkan mekanisme separasi fisiologis.
b. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga
memasuki sebagian lapisan miometrium.
c. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan serosa dinding uterus.
d. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus serosa dinding uterus.
e. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum
uteri, disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.

4. Koagulopati
Perdarahan postpartum juga dapat terjadi karena kelainan pada pembekuan darah.
Penyebab tersering PPP adalah atonia uteri, yang disusul dengan tertinggalnya sebagian
plasenta. Namun, gangguan pembekuan darah dapat pula menyebabkan PPP. Hal ini
disebabkan karena defisiensi faktor pembekuan dan penghancuran fibrin yang berlebihan.
Gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan ataupun didapat.
Kelainan pembekuan darah dapat berupa hipofibrinogenemia,
12

trombositopenia, Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), HELLP syndrome


(hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelet count), Disseminated Intravaskuler
Coagulation (DIC), dan Dilutional coagulopathy.

Kejadian gangguan koagulasi ini berkaitan dengan beberapa kondisi kehamilan lain
seperti solusio plasenta, preeklampsia, septikemia dan sepsis intrauteri, kematian janin
lama, emboli air ketuban, transfusi darah inkompatibel, aborsi dengan NaCl hipertonik
dan gangguan koagulasi yang sudah diderita sebelumnya. Penyebab yang potensial
menimbulkan gangguan koagulasi sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga
persiapan untuk mencegah terjadinya PPP dapat dilakukan sebelumnya.

2.2.3 Klasifikasi Perdarahan Postpartum


Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu:

1. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan postpartum yang


terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan
postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa
plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri.
2. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan postpartum yang
terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum
13

sekunder disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak


baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.

2.2.4 Faktor Risiko


Faktor risiko PPP dapat ada saat sebelum kehamilan, saat kehamilan, dan saat persalinan.
Faktor risiko sebelum kehamilan meliputi usia, indeks massa tubuh, dan riwayat
perdarahan postpartum. Faktor risiko selama kehamilan meliputi usia, indeks massa
tubuh, riwayat perdarahan postpartum, kehamilan ganda, plasenta previa, preeklampsia,
dan penggunaan antibiotik. Sedangkan untuk faktor risiko saat persalinan meliputi
plasenta previa anterior, plasenta previa mayor, peningkatan suhu tubuh >37⁰,
korioamnionitis, dan retensio plasenta.

Meningkatnya usia ibu merupakan faktor independen terjadinya PPP. Pada usia lebih tua
jumlah perdarahan lebih besar pada persalinan sesar dibanding persalinan vaginal. Secara
konsisten penelitian menunjukkan bahwa ibu yang hamil kembar memiliki 3-4 kali
kemungkinan untuk mengalami PPP.

Perdarahan postpartum juga berhubungan dengan obesitas. Risiko perdarahan akan


meningkat dengan meningkatnya indeks massa tubuh. Pada wanita dengan indeks massa
tubuh lebih dari 40 memiliki resiko sebesar 5,2% dengan persalinan normal.
14

2.2.5 Gejala Klinik Perdarahan Postpartum


Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum hamil, derajat
hipervolemia-terinduksi kehamilan, dan derajat anemia saat persalinan. Gambaran PPP
yang dapat mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan darah untuk mengalami
perubahan besar sampai terjadi kehilangan darah sangat banyak. Kehilangan banyak
darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah
rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain.

Gambaran klinis pada hipovolemia dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Gambaran klinis perdarahan obstetri

Volume darah Tekanan Tanda Derajat syok


yang hilang darah da
(sistolik) n gejala
500-1000 mL Normal Tidak ditemukan -
(<15-20%)

1000-1500 mL 80-100 mmHg Takikardi Ringan


(20-25%) (<10
0 kali/menit)
Berkeringat
Lemah

1500-2000 mL 70-80 mmHg Takikardi (100- Sedang


(25-35%) 120
kali/menit)
Oliguria
Gelisah

2000-3000 mL 50-70 mmHg Takikardi (>120 Berat


(35-50%) kali/menit
) Anuria

Diagnosis Perdarahan Postpartum


Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut ini :
15

Tabel 2. Diagnosis Perdarahan Postpartum

No. Gejala dan tanda Gejala dan tanda Diagnosis kemungkinan


yang selalu ada yang kadang-
kadang ada
1. - Uterus tidak - Syok - Atonia Uteri
berkontraksi dan
lembek
-Perdarahan segera
setelah anak lahir
(Perdarahan
Pascapersalinan
Primer atau P3)

2. - Perdarahan segera (P3) - Pucat -Robekan jalan lahir


- Darah segar yang - Lemah
mengalir segera - Menggigil
setelah bayi lahir (P3)
- Uterus kontraksi baik
- Plasenta lengkap

3. - Plasenta belum lahir -Tali pusat putus -Retensio Plasenta


setelah 30 menit akibat traksi
- Perdarahan segera (P3) berlebihan
- Uterus kontraksi baik -Inversio uteri
akibat tarikan
-Perdarahan lanjutan

4. - Plasenta atau - Uterus -Tertinggalnya sebagian plasenta


sebagian berkontraksi
selaput tidak lengkap tetapi tinggi
- Perdarahan segera (P3) fundus tidak
berkurang

5. - Uterus tidak teraba - Syok neurogenik - Inversio uteri


- Lumen vagina terisi - Pucat dan limbung
massa
-Tampak tali pusat
16

(jika plasenta
belum lahir)
- Perdarahan segera (P3)
- Nyeri sedikit atau berat

6. - Sub-involusi uterus - Anemia -Perdarahan terlambat


- Nyeri tekan perut bawah - Demam -Endometritis atau sisa
- Perdarahan lebih dari plasenta (terinfeksi atau tidak)
24 jam setelah
persalinan. Perdarahan
sekunder atau P2S.
- Perdarahan
bervariasi (ringan atau
berat, terus menerus
atau tidak teratur) dan
berbau (jika disertai
infeksi)

7. -Perdarahan segera (P3) - Syok -Robekan dinding uterus (ruptura


(Perdarahan - Nyeri tekan perut uteri)
intraabdominal dan -Denyut nadi ibu
atau vaginum) cepat
- Nyeri perut berat
17

2.2.6 Penatalaksanaan

Penanganan pasien dengan PPP memiliki dua komponen utama yaitu resusitasi dan
pengelolaan perdarahan obstetri yang mungkin disertai syok hipovolemik dan identifikasi
serta pengelolaan penyebab dari perdarahan. Keberhasilan pengelolaan perdarahan
postpartum mengharuskan kedua komponen secara simultan dan sistematis ditangani.

Penggunaan uterotonika (oksitosin saja sebagai pilihan pertama) memainkan peran sentral
dalam penatalaksanaan perdarahan postpartum. Pijat rahim disarankan segera setelah
diagnosis dan resusitasi cairan kristaloid isotonik juga dianjurkan. Penggunaan asam
traneksamat disarankan pada kasus perdarahan yang sulit diatasi atau perdarahan tetap
terkait trauma. Jika terdapat perdarahan yang terus- menerus dan sumber perdarahan
diketahui, embolisasi arteri uterus harus dipertimbangkan. Jika kala tiga berlangsung lebih
dari 30 menit, peregangan tali pusat terkendali dan pemberian oksitosin (10 IU) IV/IM
dapat digunakan untuk menangani retensio plasenta. Jika perdarahan berlanjut, meskipun
penanganan dengan uterotonika dan intervensi konservatif lainnya telah dilakukan,
intervensi bedah harus dilakukan tanpa penundaan lebih lanjut

Mengenai penanganan perdarahan post partum berdasarkan penyebab adalah sebagai


berikut
18

Pasien Dengan Perdarahan Banyak Setelah Melahirkan

Periksa darah lengkap,


golongan
darah dan cross test,periksa Periksa darah lengkap,
faktor golongan darah dan
koagulasi. cross test,periksa
Predisposisi : faktor
- atonia uteri koagulasi.
- retensio plasenta
- trauma jalan lahir
- riwayat perdarahan

Perhatikan vagina dan serviks apakah ada


trauma dan perdarahan evaluasi adanya atonia
uteri.
Perhatikan kelengkapan plasenta, eksplorasi

Atonia uteri Laserasi Terdapat


kelainan
koagulasi
Kompresi
bimanual Pada
Oksitosin manua
Eksplorasi l uteri
manual vagina

Perdarahan tetap
Perbaika Histerektomi
berlangsung
n

Kompresi uterus Plasma


Evaluasi beku
perdarahan segar,
transfusi
Perdarahan
sedikit
Perdarahan banyak
Infus vasogensia
Embolisasi, angiografi
Perdarahan teratasi

Ligasi arteri iliaka


Tetap perdarahan observasi
interna bilateral

Gambar 1. Skema penatalaksanaan perdarahan


postpartum
19

2.2.7 Pencegahan
Klasifikasi kehamilan risiko rendah dan risiko tinggi akan memudahkan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan untuk menata strategi pelayanan ibu hamil saat perawatan antenatal
dan melahirkan. Akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua kehamilan mempunyai
risiko untuk terjadinya patologi persalinan, salah satunya adalah PPP.

Pencegahan PPP dapat dilakukan dengan manajemen aktif kala III. Manajemen aktif kala
III adalah kombinasi dari pemberian uterotonika segera setelah bayi lahir, peregangan tali
pusat terkendali, dan melahirkan plasenta. Setiap komponen dalam manajemen aktif kala
III mempunyai peran dalam pencegahan perdarahan postpartum.

Semua wanita melahirkan harus diberikan uterotonika selama kala III persalinan untuk
mencegah perdarahan postpartum. Oksitosin ( IM/IV 10 IU ) direkomendasikan sebagai
uterotonika pilihan. Uterotonika injeksi lainnya dan misoprostol direkomendasikan
sebagai alternatif untuk pencegahan perdarahan postpartum ketika oksitosin tidak
tersedia. Peregangan tali pusat terkendali harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
terlatih dalam menangani persalinan. Penarikan tali pusat lebih awal yaitu kurang dari
satu menit setelah bayi lahir tidak disarankan.
20

2.3 SECTIO CAESAREA (SC)


2.3.1. Definisi
Sectio caesarea (SC) adalah kelahiran janin melalui insisi dinding abdominal
(laparotomi) dan dinding uterus (histerotomi). Definisi ini tidak termasuk pengeluaran janin
melalui kavitas abdomen karena ruptur uterus atau kehamilan abdominal.

2.3.2. Insidensi
Sejak tahun 1996-2002, angka total SC meningkat sampai 26,1% di U.S. Angka
persalinan dengan SC di Indonesia rata-rata 11% untuk rumah sakit pemerintah, sementara di
rumah sakit swasta bisa lebih dari 30%.

2.3.3. Jenis-jenis Operasi SC


1. SC transperitonealis
Insisi dilakukan pada segmen bawah rahim secara melintang (secara Kerr) atau
memanjang (secara Kronig).
2. SC klasik atau corporal
Insisi memanjang pada segmen atas uterus. Sectio caesarea klasika dikerjakan pada
keadaan sebagai berikut:
a. Janin besar dan abnormal,
b. Terdapat lingkaran konstriksi,
c. Segmen bawah rahim banyak mengandung pembuluh darah (vaskuler),
d. Segmen bawah rahim sulit dicapai karena terdapat perleketan-perlekatan dengan
vesica urinaria dan dinding perut atau terdapat fibromioma pada segmen bawah
rahim atau terdapat karsinoma serviks invasif, dan
e. Segmen bawah rahim terlalu sempit untuk melahirkan janin, misalnya pada letak
lintang yang tidak dapat dikoreksi sebelum uterus dibuka atau tangan menumbung.

2.3.4 Indikasi
1. Placenta previa terutama totalis dan lateralis (posterior).
2. Panggul sempit.
Pada anak hidup dilakukan SC jika conjugata vera (CV) < 8,5 cm. Pada anak mati
terpaksa dilakukan SC jika CV kurang dari 6 cm. Jika CV diantara 8,5-10 cm dilakukan
persalinan percobaan. Jika tidak berhasil bisa dilakukan SC (SC sekunder).
3. SC ketiga.
21

4. Letak lintang.
5. Tumor yang menghalangi jalan lahir.
6. Pada kehamilan setelah operasi vaginal, misalnya fistul-vesiko vaginal atau Manchester
operation.
7. Keadaan-keadaan dimana usaha untuk melahirkan anak pervaginam gagal.
8. Fetal distress.
9. Pre-eklampsi berat dengan impending eklamsi dan eklamsi

Pada masa lalu, SC dilakukan atas indikasi yang terbatas pada panggul sempit dan
placenta previa. Seperti telah diterangkan di atas, meningkatnya angka kejadian SC pada waktu
sekarang ini justru antara lain disebabkan karena berkembangnya indikasi dan makin kecilnya
resiko dan mortalitas pada SC karena kemajuan teknik operasi dan anestesi, serta ampuhnya
antibiotika dan kemoterapi.
Seksio Sesarea postmortem (posmortem caesarean section) adalah seksio Sesarea
segera pada ibu hamil cukup bulan yang meninggal tiba-tiba sedangkan janin masih hidup.
Pada kasus, dilakukan sectio caesarea dengan indikasi terdapatnya Placenta Previa
totalispanggul sempit, yaitu seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta., sehingga
tidak dapat dilakukan persalinan pervaginam..

2.3.5 Kontraindikasi
Kontraindikasi SC adalah jika terdapat infeksi pada isi rahim (tidak absolut) atau jika
ibu menolak untuk dilakukan SC.
Pada kasus, tidak terdapat kontraindikasi untuk dilakukan sectio caesarea dan pasien
setuju untuk dilakukan SC.

2.3.6 Teknik SC
A. Membuka Perut (laparotomi)
1. Mengiris kulit
Operasi dimulai dengan membuat sayatan-sayatan halus melintang pada daerah operasi
dengan ujung scalpel, yang nanti pada waktu menutup kulit kembali, sayatan-sayatan
tadi diadaptasi sehingga terbentuk luka parut yang baik dan kosmetik. Kulit diiris pada
linea alba dari atas simfisis sampai kira-kira 2,5 cm di bawah umbilicus sampai lemak
subkutan.
2. Membuka fascia
22

Fascia disayat kecil, kemudian sayatan diperluas ke atas dan ke bawah dengan gunting.
Otot-otot kanan dan kiri dipisahkan secara tumpul sehingga tampak fascia transversalis
dan peritoneum. Panjang irisan bergantung pada besar janin dan konfigurasi perut ibu,
tetapi irisan jarang diperluas sampai di atas umbilicus.
3. Membuka peritoneum
Peritoneum dibuka sedekat mungkin dengan umbilikus supaya tidak mengenai vesica
urinaria yang kadang-kadang terletak tinggi, misalnya pada partus lama. Untuk
mencegah perlukaan di bawah peritoneum, peritoneum dijepit dengan klem pada dua
tempat oleh operator dan asisten, kemudian bergantian melepaskan dan menjepit
peritoneum. Setelah peritoneum diiris, jari operator dan jari asisten atau jari operator
diletakkan di bawah peritoneum melalui lubang sayatan peritoneum dan
mengangkatnya, kemudian peritoneum disayat diantara jari, ke atas dan ke bawah.
Karena jaringan luka dinding perut sangat sensitif terhadap perlukaan mekanik dan
infeksi dibanding dengan peritoneum maka hendaknya tepi peritoneum parietale
diklem dengan kain penutup lapangan operasi.

B. Membuka Dinding Uterus (histeretomi)


Sebelum melakukan histeretomi, di sebelah kanan-kiri di depan ligamentum latum dan
didepan vesica urinaria dipasang kasa perut (22 x 100 cm). Histeretomi yang biasa
dikerjakan adalah:
1. Sayatan vertikal pada corpus uteri di atas segmen bawah rahim, disebut sectio caesarea
klasika.
Meliputi sebuah pengirisan memanjang di bagian tengah yang memberikan satu ruang
yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun, jenis ini kini jarang dilakukan
karena jenis ini lebih rentan terhadap komplikasi.

Teknik sectio caesarea klasika:


Penderita dalam letak Trendelenburg ringan; letak Trendelenburg yang curam
merupakan kontraindikasi pada kasus yang potensial infeksi karena infeksi dapat
menyebar ke atas dan menyebabkan kesempatan terjadinya peritonitis generalisata.
a. Membuka uterus
Setelah laparotomi dan sebelum membuka uterus, kedua ligamentum rotundum
kanan dan kiri diraba lebih dulu untuk menentukan apakah tidak ada kelainan letak
uterus. Dinding uterus depan diantara kedua ligamentum rotundum diiris
23

longitudinal sepanjang kira-kira 12-15 cm sampai di atas plica vesicouterina; irisan


sampai mencapai selaput ketuban atau air ketuban keluar. Kasa hangat (jangan
panas) basah dengan larutan salin diletakkan di depan vesica urinaria, fossa iliaca
dan membungkus fundus uteri.
b. Melahirkan janin
Janin dilahirkan dengan menarik satu atau kedua kaki. Jika plasenta di depan,
plasenta jangan ditembus, tetapi tangan menelusur diantara dinding uterus dan
plasenta, kemudian janin dilahirkan segera dengan menarik kaki. Setelah janin
lahir, tali pusat diklem pada dua tempat dan dipotong diantaranya. Penderita diberi
methergin intravena, pitosin intramural dan infus pitosin; pada anestesi spinal,
pemberian methergin intravena akan menyebabkan nausea dan vomitus.
c. Melahirkan plasenta
Uterus dikeluarkan dari rongga perut dan dibungkus dengan kasa basah dengan
larutan salin. Plasenta dan selaput ketuban dilahirkan seluruhnya dengan menarik
tali pusat.
d. Menjahit luka uterus
Luka uterus dijahit satu per satu dengan ‘cat-gut’ dalam 3 lapis
1) Lapis I, jahitan mengenai hampir seluruh otot dan hendaknya jangan mengenai
endometrium,
2) Lapis II, jahitan mengenai otot dan merupakan jahitan ‘over hechting’,
3) Lapis III, jahitan pada perimetrium secara jelujur.
2. Sayatan melintang (teknik Kerr) pada segmen bawah rahim, disebut sectio caesarea
profunda, yaitu prosedur yang saat ini paling banyak dilakukan, meliputi sebuah irisan
melintang tepat di atas ujung scalpel dan mengakibatkan pengeluaran darah yang lebih
sedikit serta perbaikan yang lebih mudah.

Sectio caesarea profunda dengan teknik Kerr


Sebelum membuka segmen bawah rahim, ligamentum rotundum kanan dan kiri
diraba lebih dulu untuk menentukan apakah ada kelainan posisi uterus, kemudian
dipasang kain sebelah kanan dan kiri uterus.
a. Irisan pada plica vesicouterina
Peritoneum yang menutupi segmen bawah rahim di atas vesica urinaria
merupakan peritoneum yang longgar dan mudah dilepaskan; tempat ini merupakan
plica vesicouterina. Plica vesicouterina dijepit dan diangkat dengan pinset
24

chirurgicum, kemudian disayat melintang konkaf ke atas diantara kedua


ligamentum rotundum kanan kiri. Vesica urinaria didorong ke bawah sejauh kira-
kira 5 cm dan didorong ke kanan dan kiri sehingga tampak segmen bawah rahim.
b. Membuka segmen bawah rahim
Vesica urinaria dilindungi dengan refraktor, segmen bawah rahim diiris
melintang di tengah sampai mencapai selaput ketuban atau air ketuban keluar,
kemudian dengan gunting sayatan diperluas ke samping kanan dan kiri konkaf ke
atas di antara kedua ligamentum rotundum.
Pengguntingan dilindungi dengan jari telunjuk tangan lain yang diletakkan di
bawah otot-otot segmen bawah rahim melalui lubang sayatan supaya tidak
menggunting telinga janin yang kadang-kadang terletak di bawah permukaan
peritoneum. Tempat sayatan tergantung letak kepala dan hendaknya sayatan
setinggi diameter terbesar kepala, jika sayatan terlalu rendah, hasil sayatan tidak
tampak karena ada di bawah vesica urinaria dan pada waktu mengikat sayatan
mungkin akan mengenai vesica urinaria dan, atau ureter serta kepala sukar
dilahirkan jika kepala terletak tinggi.
Cara membuka segmen bawah rahim dapat juga dilakukan dengan menyayat
segmen bawah rahim melintang konkaf ke atas diantara kedua ligamentum
rotundum kanan kiri dengan irisan di tengah sampai mencapai selaput ketuban atau
air ketuban keluar. Setelah itu, melalui luka irisan tadi, sayatan diperluas secara
tumpul ke kiri dan ke kanan.
c. Melahirkan bayi
Cara melahirkan bayi bergantung pada presentasi, penurunan bagian terendah dan
letak plasenta.
1) Pada presentasi kepala.
Kepala dapat dilahirkan dengan beberapa cara:
 Kepala dilahirkan dengan forcep,
 Bayi dilahirkan dengan versi ekstraksi,
 Kepala diluksasi dengan tangan atau dengan sendok Selheim. Salah satu
tangan atau dengan sendok Selheim meluksasi kepala melalui sayatan
segmen bawah rahim, sementara itu asisten mendorong fundus uteri dari
luar. Jika kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul, asisten membantu
mendorong kepala ke atas dari vagina.
25

2) Pada presentasi bokong.


Bayi dilahirkan dengan ekstraksi kaki.
3) Implantasi plasenta pada segmen bawah rahim bagian depan.
Cara melahirkan bayi sebagai berikut:
 Plasenta tidak ditembus, tetapi dilepaskan secara manual, kemudian bayi
dilahirkan segera dengan versi ekstraksi pada presentasi kepala atau
ekstraksi kaki pada presentasi bokong.
 Plasenta ditembus dan tali pusat segera diklem, kemudian bayi dilahirkan
seperti di atas.
Setelah bayi lahir, tali pusat diklem pada 2 tempat dan dipotong diantaranya.
Setelah kepala lahir, ibu diberi uterotonika, misalnya pitosin 10 unit
intramural, infus pitosin dan methergin intravena. Pada umumnya
pemberian infus pitosin sampai 6 jam pasca bedah.
4) Melahirkan plasenta.
Plasenta dilahirkan dengan sedikit menarik tali pusat; hendaknya plasenta
jangan dilahirkan secara manual, kecuali jika plasenta tidak berhasil dilahirkan
dengan menarik tali pusat. Selaput ketuban dan verniks caseosa harus
dibersihkan sama sekali. Setelah itu dipasang tampon di dalam cavum uteri.
5) Menutup segmen bawah rahim.
Luka pada segmen bawah rahim dijahit dengan ‘cat-gut’ dalam 2 lapisan:
 Lapisan I menjahit seluruh otot, tetapi hendaknya endometrium jangan turut
dijahit. Sebelum segmen bawah rahim dijahit seluruhnya, tampon uterus
dikeluarkan.
 Lapisan II meruopakan ikatan ‘overhechting’ berbentuk ‘z’ satu per satu
dengan ‘cat-gut’.
6) Retroperitonealisasi
Peritoneum vesika urinaria dijahit dengan ‘cat-gut’ polos halus secara jelujur
atau satu per satu dengan peritoneum parietale yang menutupi uterus; sebaiknya
peritoneum tepi bawah jangan terletak di atas peritoneum tepi atas.

2.3.7 Komplikasi
1. Infeksi Puerperal (nifas)
a. Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
26

b. Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit
kembung.
c. Berat, dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada
partus terlantar, dimana sebelumnya telah menjadi infeksi intrapartal karena
ketuban yang telah pecah terlalu lama. Penanganannya adalah dengan pemberian
cairan, elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat.
2. Perdarahan, disebabkan karena :
a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.
b. Atonia uteri.
c. Perdarahan pada placental bed.
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kemih bila reperitonialisasi terlalu
tinggi.
4. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.

2.3.8 Prognosa
Dahulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa
sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anastesi, penyediaan cairan
dan darah, indikasi dan antibiotika, angka ini sangat menurun.
Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan
oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong
secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut
data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang
sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7 %.

2.3.9 Perawatan Pasca Bedah


1. Perawatan Luka Insisi
Luka insisi dibersihkan dengan larutan antiseptik lalu ditutup dengan kasa/ penutup
luka, secara periodik pembalut luka diganti dan luka dibersihkan. Dibuat catatan kapan
benang akan dicabut atau di bawah luka terdapat eksudat.
2. Tempat Perawatan Pasca SC
Setelah tindakan di kamar operasi selesai, penderita dipindahkan ke kamar rawat
khusus dan dilengkapi alat pendingin kamar udara beberapa hari. Dan bila pasca SC
keadaan penderita gawat, segera pindahkan ke unit perawatan darurat untuk perawatan
bersama-sama dengan unit anesthesi. Setelah beberapa hari dirawat dalam kamar rawat
27

khusus atau pada unit perawatan darurat dan keadaan penderita mulai pulih, barulah
dipindah ke tempat penderita semula dirawat, disini perawatan luka dan pengukuran
Tanda-tanda vital penderita dilanjutkan seperti biasa.
3. Pemberian Cairan
Karena selama 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perinfus, seperti dekstrose 5-10 % gram fisiologis, secara bergantian harus cukup
banyak dan mengandung elektrolit yang diperlukan agar jangan terjadi hypotermi,
dehidrasi dan komplikasi pada organ-organ tubuh lainnya, jumlah cairan yang keluar
ditampung dan diukur, hal lain sebagai pedoman pemberian cairan dihentikan setelah
pasien flatus, lalu dimulailah pemberian makanan peroral dan cairan peroral.
4. Diit
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah pasien flatus lalu dimulailah
pemberian makanan dan minuman peroral, pemberian sedikit minuman adalah
diperbolehkan setelah 6-10 jam pasca bedah. Jumlahnya dapat dinaikkan pada hari
pertama dan kedua pasca bedah. Kemudian bubur saring, minuman dari buah dan susu
selanjutnya secara bertahap makan bubur akhirnya makan biasa sejak boleh minum
pada hari pertama obat-obatan peroral sudah dapat diberikan pemberian makanan rutin
di atas dihentikan jika terjadi komplikasi pada saluran pencernaan.
5. Nyeri
Sejak penderita sadar dalam 24 jam pertama, rasa nyeri masih dirasakan di daerah
operasi. Untuk mengurangi rasa nyeri tersebut diberikan obat-obatan anti sakit dan
penenang atau obat-obatan lainnya. Setelah hari pertama atau kedua rasa nyeri akan
menghilang sendiri.
6. Mobilisasi
Mobilisasi secara bertahap sangat berguna membantu jalannya penyembuhan luka
penderita. Miring ke kanan dan ke kiri sudah dapat dimulai setelah 6-10 jam. Setelah
penderita sadar, latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur terlentang.
7. Kateterisasi
Perawatatn pengosongkan kandung kemih pada bedah kebidanan sama saja dengan
persalinan biasa bila tidak ada luka robekan yang luas pada jalan lahir. Bila hal ini ada
maka untuk mencegah iritasi dan pencemaran luka oleh urine kandung kemih
dikosongkan dengan kateter. Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan
tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan perdarahan.
8. Pemberian Obat-obatan
28

a. Antibiotika
b. Obat-obat pencegah perut kembung.
c. Obat-obat lainnya.
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum dapat diberikan roboransia, anti
inflamasi, bahan tranfusi darah bila pasien anemis.
9. Perawatan Rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan dan pengukuran adalah :
a. Tekanan darah
b. Jumlah nadi /menit
c. Frekuensi pernafasan
d. Jumlah cairan masuk dan keluar
e. Suhu badan
f. Pemeriksaan lainnya menurut jenis dan kasus

2.3.10 Pengelolaan Kehamilan dan Persalinan pada Bekas SC


1. Pada seorang wanita yang telah mengalami SC sebaiknya tidak hamil selama 2 tahun.
Apabila wanita hamil setelah mengalami SC ada beberapa ketentuan yang perlu
diperhatikan yaitu:
a. Versi luar tidak boleh dilakukan
b. Wanita harus dirawat mulai kehamilan 38 minggu
2. Semua wanita dengan bekas SC harus melahirkan di rumah sakit besar. Pengelolaan
persalinan dengan bekas SC adalah sebagai berikut.
a. Apabila SC yang sebelumnya adalah SC klasik, harus dilakukan SC primer
b. Apabila penyebab SC adalah tetap (seperti panggul sempit absolute), harus
dilakukan SC primer. Bila penyebab SC tidak tetap dan persalinannya lancer, wanita
diperbolehkan melahirkan per vaginam dengan ketentuan sebagai berikut:
- Tidak dibenarkan pemakaian oksitosin dalam kala I untuk memperbaiki his
- Kala II harus dipersingkat. Wanita diperbolehkan mengedan 15 menit. Jika
dalam waktu 15 menit ini bagian terendah anak turun dengan pesat, wanita
diperbolehkan lagi mengedan selama 15 menit. Jika setelah 15 menit kepala
tidak turun dengan cepat, dapat dilakukan ekstraksi forceps atau vakum bila
syarat-syarat telah terpenuhi.
29

2.4 ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI

2.4.1 Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology)

Sistem pernapasan

Perubahan pada fungsi pulmonal, ventilasi dan pertukaran gas. Functional residual
capacity menurun sampai 15-20%, cadangan oksigen juga berkurang. Pada saat persalinan,
kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%.
Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30%
kasus, menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi,
meskupun dengan disertai denitrogenasi. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%,
memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil.

Sistem kardiovaskular
Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%, peningkatan frekuensi denyut
jantung sampai 15%, peningkatan curah jantung sampai 40%. Volume plasma meningkat
sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%, menyebabkan terjadinya
dilutional anemia of pregnancy.
Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi, penekanan / kompresi vena
cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine
hypertension syndrome. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi, dapat terjadi penurunan
vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin.
Pada persalinan, kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari
plasenta sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Beban jantung meningkat, curah jantung
meningkat, sampai 80%. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi,
dapat sampai 400-600 cc. Pada sectio cesarea, dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc.
Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. Hal itu karena selama kehamilan normal
terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII, VIII, X, XII dan fibrinogen sehingga darah
berada dalam hypercoagulable state.

Ginjal
Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester
pertama, namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm.
30

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. Kadar kreatinin, urea dan
asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. Pasien dengan
preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun
pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”.

Sistem gastrointestinal
Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut
gastroesophageal junction, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan
aspirasi pulmonal isi lambung. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung,
penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Enzim-
enzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.
Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%, mungkin akibat hemodilusi
dan penurunan sintesis. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular
untuk waktu yang lebih lama.
Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung,
makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir.

Sistem saraf pusat


Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil, konsentrasi obat
inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia; kebutuhan halotan menurun
sampai 25%, isofluran 40%, metoksifluran 32%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal),
konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Hal ini
karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan
ruang epidural menjadi lebih sempit.
Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat
meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor
(enhanced diffusion).

Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta

Juga menjadi pertimbangan, karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan


depresan, dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Harus dianggap bahwa SEMUA obat
dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. (baca juga catatan special aspects of
perinatal pharmacology)
31

2.4.2 Tindakan Anestesi / Analgesi Regional

1. Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam.
2. Anestesi Sub Arachnoid atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per
abdominam / sectio cesarea.

Keuntungan :

1. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah /
dikurangi.
2. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan.
3. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum)
4. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea, jalur obat anestesia regional sudah siap.

Kerugian :

1. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis)

2. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama

3. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi.

4. Untuk persalinan per vaginam, stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun, sehingga
kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat.

Kontraindikasi :

 Pasien menolak
 Sepsis
 Insufisiensi utero-plasenta
 Gangguan pembekuan
 Syok hipovolemik
 Kelainan SSP tertentu
 Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi

Teknik :
32

1. Pasang line infus dengan diameter besar, berikan 500-1000 cc cairan kristaloid
(RingerLaktat).

2. 15-30 menit sebelum anestesi, berikan antasida

3. Observasi tanda vital

Tekhnik Epidural :

posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk, dilakukan punksi antara vertebra L2-
L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Ruang epidural dicapai dengan perasaan
“hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum.

Spinal / subaraknoid :
posisi lateral dekubitus atau duduk, dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina
medulla spinalis), dengan jarum / trokard. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang
tahanan), tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater, mencapai ruangan
subaraknoid. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal, jika stylet ditarik
perlahan-lahan.

Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid.

Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi, menggunakan jarum halus
atau kapas.
Jika dipakai kateter untuk anestesi, dilakukan fiksasi. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan
plester.

Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya.

Obat anestetik yang digunakan :

lidocain 1-5%, chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0.25-0.75%. Dosis yang dipakai untuk
anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal.

Komplikasi yang mungkin terjadi :


33

 Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural,
dapat terjadi total spinal anesthesia, karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Gejala
berupa nausea, hipotensi dan kehilangan kesadaran, dapat sampai disertai henti napas
dan henti jantung. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine, dengan uterus
digeser ke kiri, dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang
cricoid, kemudian dilakukan intubasi. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan
intravena dan ephedrine.

 Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan, tinitus, dan kehilangan


kesadaran. Kadang terjadi juga serangan kejang. Harus dilakukan intubasi pada pasien,
menggunakan 1.0 – 1.5 mg/kgBB suksinilkolin, dan dilakukan hiperventilasi untuk
mengatasi asidosis metabolik.

 Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. Terapi
dengan istirahat baring total, hidrasi (>3 L/hari), analgesik, dan pengikat / korset perut
(abdominal binder).

2.4.3 Tindakan Anestesi Umum

Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea.

Indikasi :

 Gawat janin.
 Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional.
 Diperlukan keadaan relaksasi uterus.

Keuntungan :

 Induksi cepat.
 Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal.
 Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah.

Kerugian :
34

 Risiko aspirasi pada ibu lebih besar.


 Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat.
 Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada
janin.
 Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan
morbiditas maternal.

Teknik :
1. Pasang line infus dengan diameter besar, antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi,
observasi tanda vital, pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri.

2. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit, atau pasien diminta melakukan
pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali.

3. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan, dan operator siap, dilakukan induksi
dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1.5 mg/kgBB suksinilkolin.

4. Dilakukan penekanan krikoid, dilakukan intubasi, dan balon pipa endotrakeal


dikembangkan. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif.

5. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi, dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus.
Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.0% enfluran, 0.75% isofluran, atau 0.5% halotan, sampai
janin dilahirkan, untuk mencegah ibu bangun.

6. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit, karena obat-obat tersebut dapat
menyebabkan atonia uteri.

7. Setelah itu, untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan),


atau jika ada hipertensi, anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi
rendah.

8. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar.


35

9. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus, sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal,
hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi.

2.4.4 Anestesia / Analgesia Untuk Operasi Non-Obstetri Pada Masa Kehamilan (Non-
Obstetrical Surgery During Pregnancy)
Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara
langsung dengan kehamilannya, yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma,
appendiksitis, dsb dsb). Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan
tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. Mortalitas / morbiditas perinatal :
LEBIH TINGGI signifikan, antara 5-35%.
Pada kasus gawat darurat, mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat
catatan management of injured pregnant patient).

Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan :


 Keselamatan ibu (prioritas utama)
 Usaha mempertahankan kehamilan
 Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal
 Pencegahan sedapat mungkin, pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi, efek
hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin.

Anjuran / pertimbangan :

1. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan


(setelah masa nifas, di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah
kembali pada keadaan normal).
2. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga.
3. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan, karena paparan / exposure obat
obatan terhadap janin relatif paling minimal.
4. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin; narkotik dapat
digunakan untuk analgesia.
5. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O, berikan suplementasi asam folat
(N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat).
36

6. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan, lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan
perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus, untuk deteksi
kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi.

2.5 REAKSI TRANSFUSI


pengertian reaksi transfuse darah
Reaksi transfuse merupakan Semua kejadian yang tidak menguntungkan penderita,
yang timbul selama atau setelah transfusi , dan memang berhubungan dengan transfuse
tersebut.
Transfusi darah kadang menyebabkan reaksi transfusi. Ada jenis reaksi transfusi yang
buruk dan ada yang moderat. Reaksi transfusi bisa segera terjadi setelah transfusi dimulai,
namun ada juga reaksi yang terjadi beberapa hari atau bahkan lebih lama setelah transfusi
dilakukan.
Untuk mencegah terjadinya reaksi yang buruk, diperlukan tindakan pencegahan
sebelum transfusi dimulai. Jenis darah diperiksa berkali-kali, dan dilakukan cross-matched
untuk memastikan bahwa jenis darah tersebut cocok dengan jenis darah dari orang yang akan
mendapatkannya. Setelah itu, perawat dan teknisi laboratorium bank darah mencari informasi
tentang pasien dan informasi pada unit darah (atau komponen darah) sebelum dikeluarkan.
Informasi ini dicocokkan sekali lagi di hadapan pasien sebelum transfusi dimulai.
Reaksi Akut
Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfusi atau dalam 24 jam setelah
transfusi. Reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang-berat dan reaksi
yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus, urtikaria
dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat
ditandai dengan adanya gejala gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri
kepala. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna kemerahan di
kulit, urtikaria, demam, takikardia, kaku otot. Reaksi ringan diatasi dengan pemberian
antipiretik, antihistamin atau kortikosteroid, dan pemberian transfusi dengan tetesan
diperlambat.
Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh hipersensitivitas sedang-berat, demam
akibat reaksi transfusi non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit),
kontaminasi pirogen dan/atau bakteri.
Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri dada, nyeri
di sekitar tempat masuknya infus, napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea.
37

Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah, hipotensi (turun ≥20% tekanan darah
sistolik), takikardia (naik ≥20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas. Reaksi ini
disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan
cairan, anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi.
Hemolisis intravaskular akut
Reaksi hemolisis intravaskular akut adalah reaksi yang disebabkan inkompatibilitas sel
darah merah. Antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang
inkompatibel. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah
dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan
semakin meningkatkan risiko.
Penyebab terbanyak adalah inkompatibilitas ABO. Hal ini biasanya terjadi akibat
kesalahan dalam permintaan darah, pengambilan contoh darah dari pasien ke tabung yang
belum diberikan label, kesalahan pemberian label pada tabung dan ketidaktelitian memeriksa
identitas pasien sebelum transfusi. Selain itu penyebab lainnya adalah adanya antibodi dalam
plasma pasien melawan antigen golongan darah lain (selain golongan darah ABO) dari darah
yang ditransfusikan, seperti sistem Idd, Kell atau Duffy.
Jika pasien sadar, gejala dan tanda biasanya timbul dalam beberapa menit awal
transfusi, kadang-kadang timbul jika telah diberikan kurang dari 10 ml. Jika pasien tidak sadar
atau dalam anestesia, hipotensi atau perdarahan yang tidak terkontrol mungkin merupakan
satu-satunya tanda inkompatibilitas transfusi. Pengawasan pasien dilakukan sejak awal
transfusi dari setiap unit darah.
Kelebihan cairan
Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru. Hal ini dapat terjadi bila
terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau penurunan fungsi ginjal.
Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronik dan memiliki penyakit
dasar kardiovaskular.
Reaksi anafilaksis
Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin dalam plasma merupakan
salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu. Selain itu,
defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis sangat berat. Hal itu dapat disebabkan
produk darah yang banyak mengandung IgA. Reaksi ini terjadi dalam beberapa menit awal
transfusi dan ditandai dengan syok (kolaps kardiovaskular), distress pernapasan dan tanpa
demam. Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan agresif dengan
antihistamin dan adrenalin.
38

Cedera paru akut akibat transfusi (Transfusion-associated acute lung injury = TRALI)
Cedera paru akut disebabkan oleh plasma donor yang mengandung antibodi yang
melawan leukosit pasien. Kegagalan fungsi paru biasanya timbul dalam 1-4 jam sejak awal
transfusi, dengan gambaran foto toraks kesuraman yang difus. Tidak ada terapi spesifik, namun
diperlukan bantuan pernapasan di ruang rawat intensif.
Reaksi Hemolitik
Reaksi hemolitik kekebalan akut
Ini adalah jenis yang paling serius dari reaksi transfusi, tetapi sangat jarang terjadi.
Reaksi hemolitik kekebalan akut terjadi ketika golongan darah donor dan pasien tidak cocok.
Antibodi pasien menyerang sel-sel darah merah yang ditransfusikan, menyebabkan mereka
mematahkan (hemolyze) dan melepaskan zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah.
Pasien mungkin menggigil, demam, nyeri dada dan punggung bawah, serta mual.
Ginjal dapat rusak parah, dan dialisis mungkin diperlukan. Reaksi hemolitik dapat mematikan
jika transfusi tidak dihentikan segera saat reaksi dimulai.
Reaksi hemolitik tertunda
Reaksi ini terjadi ketika tubuh perlahan-lahan menyerang antigen (antigen selain ABO)
pada sel-sel darah yang ditransfusikan. Sel-sel darah mengalami pemecahan setelah beberapa
hari atau minggu transfusi dilakukan. Biasanya tidak ada gejala, tetapi sel-sel darah merah yang
ditransfusikan hancur dan dan jumlah sel darah merah pasien mengalami penurunan. Dalam
kasus yang jarang ginjal mungkin akan terpengaruh, dan pengobatan mungkin diperlukan.
Seseorang mungkin tidak mengalami jenis reaksi seperti ini kecuali mereka pernah
mendapat transfusi di masa lalu. Orang-orang yang mengalami jenis reaksi hemolitik tertunda
ini perlu menjalani tes darah khusus sebelum menerima transfusi darah kembali. Unit darah
yang tidak memiliki antigen yang menyerang tubuh harus digunakan.

Reaksi Alergi
Alergi merupakan reaksi yang paling sering terjadi setelah transfusi darah. Hal ini
terjadi karena reaksi tubuh terhadap protein plasma dalam darah donor. Biasanya gejala hanya
gatal-gatal, yang dapat diobati dengan antihistamin seperti diphenhydramine (Benadryl).
Gejala yang timbul :
Ringan : urtikaria ( gatal gatal ).
Berat Seasak nafas , Cyanosis , Hypotensi 4 Shock .
Tindakan :
STOP Transfusi 4 infus NaC1 0,9%
39

Beri antihistamin
Beni kortikosteroid bila perlu
Bila terjadi lharynk oedem berikan adrenaline.

Reaksi Demam
Orang yang menerima darah mengalami demam mendadak selama atau dalam waktu
24 jam sejak transfusi. Sakit kepala, mual, menggigil, atau perasaan umum ketidaknyamanan
mungkin bersamaan dengan demam. Acetaminophen (Tylenol) dapat meredakan gejala-gejala
ini.
Reaksi-reaksi tersebut terjadi sebagai respon tubuh terhadap sel-sel darah putih dalam
darah yang disumbangkan. Hal ini lebih sering terjadi pada orang yang pernah mendapat
transfusi sebelumnya dan pada wanita yang pernah beberapa kali mengalami kehamilan. Jenis-
jenis reaksi juga dapat menyebabkan demam, dan pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan
untuk memastikan bahwa reaksi ini hanya demam.
Pasien yang mengalami reaksi demam atau yang beresiko terhadap reaksi tranfusi
lainnya biasanya diberikan produk darah yang leukositnya telah dikurangi. Artinya, sel-sel
darah putih telah hilang setelah melalui filter atau cara lainnya.

TABEL DARAH DAN KOMPONEN DARAH

PRODUK DESKRIPSI INDIKASI PERHATIAN PEMBERIAN

Darah lengkap Berisi SDM, Perbaikan Sebaiknya tidak Pada pasien dewasa
( Whole Blood) lekosit, trombosit penurunan diberikan pada 1 unit WB akan
dan plasma. 1 unit volume darah pasien dengan meningkatkan Hb
WB berisi 250 ml akibat hemoragi anemia kronik sekitar 1gram/dl
darah dan 37 ml atau trauma yang normolemik atau atau hematokrit 3-
antikoagulan, atau menyebabkan bertujuan untuk 4%.
350ml dan 49 kehilangan lebih menambah Pada pasien anak,
antikoagulan. dari 25- 30 % volume darah WB 8ml/kgBB akan
Suhu simpan 1- volume darah meningkatkan Hb
40

6⁰C. lama simpan sekitar 1gram/dl.


bergantung pada Pemberian
jenis antikoagulan sebaiknya
yg dipakai ( rata- menggunakan filter
rata 21-35 hari). darah (blood set)
Menurut masa dengan kecepatan
simpan invitro ada tetesan tergantung
2 macam darah klinis pasien atau
lengkap yaitu instruksi dokter,
darah segar berikan nacl
(disimpan sampai sebelum transfuse
48 jam) dan darah (spool). Setiap
beku (disimpan unitnya sebaiknya
sampai 5 hari) diberikan tidak lebih
dari 4 jam

Packed red blood Sel darah merah Digunakan untuk - Tidak boleh
cells (PRC) pekat yang tersisa meningkatkan dierikan terlalu
setelah plasma jumlah SDM cepat karena dapat
dipisahkan sekitar pada px yg menyebabkan
60-70%, berisi menunjukkan hipovolemia. Pada
eritrosit, gejala anemia, yg pasien dewasa 1 unit
trombosit, lekosit hanya PRC akan
dan sedikit memerlukan meningkatkan Hb
plasma. massa SDM sekitar 1gram/dl
1 unit PRC berisi pembawa atau Ht 3-4%. pada
150- 300ml oksigen saja ( px bayi dan anak-anak
dengan massa CKD, atur aliran hingga 2-
SDM 100- 200ml . neoplasma). 6 ml/kg akan
disimpan pada Keuntungannya menaikkan kadar
suhu 1- 6 ⁰C. masa adalah perbaikan Hb 1 gram/dl.
simpan 21- 35 hari oksigenasi dan
juga bergantung jumlah eritrosit
41

pada jenis tanpa menambah Pemberian


antikoagulan yang beban volume menggunakan filter
dipakai terutama pada px (bloodset).
anemia dengan Dengan kecepatan
CHF aliran hingga 25
ml/jam;tambahkan
natrium klorida
pada PRC sebelum
pemberian saat
diprogramkan
(spool)

Sel darah merah Sel darah merah Diberikan pada Lihat PRC Pemberian baik
miskin leukosit pekat setelah px yg sering menggunakan filter
leukosit mendapat generasi ke 3 (lebih
dikeluarkan, transfuse dan kecil dari 170 µ)
biasanya dengan sering
pencucian atau mengalami
sentrifugasi aliran reaksi transfusi
kuntinu. berupa febris
Kandungan maupun allergi
lekosit 1-3 X 10⁶. yg disebabkan
Disimpan pada oleh protein
suhu 1-6⁰C plasma atau
antibody lekosit.

Sel darah merah Dibuat dengan Dapat dipakai Resiko Pemberian


beku penambahan untuk terjadinya komponen darah ini
gliserol, suatu menyimpan kontaminasi melalui filter darah
sediaan darah yang bakteri dapat dan sediaan ini
krioprotektif langka terjadi karena memiliki massa
terhadap darah sistem terbuka eritrosit yang rendah
yang usianya yang dipakai karena banyak sel
42

6hari. Kemudian dimana dapat darah yang hilang


darah dibekukan - menularkan selama proses
65⁰C atau - 200⁰C hepatitis namun pembuatan.
(tergantung tidak untuk
sediaan Citomegalo
gliserol)dan dapat Virus (CMV)
disimpan sampai
10tahun. Suhu
simpan 1- 6⁰ C
dan tidak boleh
diberikan lebih
dari 24jam
Darah lengkap Syok Meningkatkan Lihat darah lengkap
modifikasi hipofolemik kapasitas
membawa
oksigen dan
menambah
volume tanpa
menambah
trombosit, yang
melepaskan
serotonin (suatu
vasokonstriktor)

Darah lengkap Dipersiapkan Transfusi tukar Menambah Lihat darah lengkap


tanpa faktor dengan pada orang volume tanpa
antihemofilik mengeluarkan dewasa menambah
(faktor VIII) faktor VII, kemampuan
menggunakan koagulasi
heparin pada awal
pengumpulan,
atau mengubah
unit darah yang
43

mengandung
antikoagulan sitrat
yang terkumpul
sebelumnya

Plasma Plasma Luka bakar ; syok Memberikan Berikan unit kurang


dipersiapkan dari traumatic; faktor koagulasi dari 1 jam pada
unit darah segar penggantian plasma psien
donor tunggal faktor koagulasi hipovolemik;pada
tertentu pasien -
normovolemik,
berikan dengan
kecepatan 5-20
ml/kg

Fresh frozen plasma Plasma Sumber Lihat plasma; 1 Cairkan dalam


dipersiapkan dari fibrinogen dan Unit biasanya rendaman air hangat
unit darah segar faktor V dan VII mengandung bersuhu 370C
donor sekitar 400 mg dengan diaduk
tunggal;dibekukan fibrinogen, 200 perlahan; jangan
dalam 6 jam U faktor VIII dihangatkan;berikan
pengumpulan dan IX, serta melalui filter;
faktor koagulasi jangan pernah
stabil dan labil manambahkan
lainnya medikasi atau
cairan.

Cairan plasma Plasma Defisiensi atau Penggantian Lihat fresh frozen


dipersiapakan dari abnormalitas faktor plasma
unit donor tunggal faktor VII,IX,X,XI
dalam 5 hari VII,IX,X,XI an atau XIII
setelah XIII
pangumpulan;
disimpan beku
44

Faktorantihemofilik Preparat Hemofili A; Memberikan Cairkan dalam


kriopresipitasi mengandung penyakit von faktor VIII dan rendaman air hangat
(Faktor VIII) faktor VIII Willebrand fibrinogen bersuhu 370C
didapatkan dari (defisiensi faktor konsentrasi dengan diaduk
unit tunggal darah; VIII) tinggi perlahan \; berikan
mengandung melalui filter secara
sekitar 80 U faktor cepat dalam 6 jam
VIII, dan 200 mg setelah pencairan
fibrinogen dalam bila container tidak
15 ml plasma dimasukan; 2 jam
setelah pencairan
bila container
dimasukan

Konsentrat leukosit Leukosit,platet, Sepsis bacterial Memberikan Berikan leukosit


dan eritosit yang tidak granulosit agar iridasi untuk
dengan jumlah berespons lebih efektif mencegah
bervariasi dalam terhadap terapi mengontrol engraphment dan
200-500 ml antibiotic pada infeksi kemungkinan graftv
plasma yang kondisi versus host disease
dikumpulkan neutropenia; (GVHD); atur
dengan aferesis; penyakut kecepatan aliran
donor HLA granulomatosa untuk memberikan
kompatibel kronis ketika 250-850
biasanya penyembuhan granulosit/ul/M2 *

diutamakan sumsum tulang biasanya


(bukan donor diperkirakan dan diprogramkan 1
identik yang suhu meningkat U/hari, lambatkan
penggunaanya selama 24-48 jam kecepatan aliran
sebagai donor transfusi saat terjadi
jaringan penigkatan
diantisipasi) gelombang T,
mengigil, dan
45

urtikaria; hentikan
transfusi bila ada
gejala inflitran
pulmonal transien

Trombosit Pekat Berisi Trombosit, Kasus Tidak efektif Pemberian


( Concentrate beberapa lekosit perdarahan dilakukan pada dilakukan dengan
Platelets) dan SDM serta karena px dengan saringan standar
plasma . trombosit trombositopenia destruksi (bukan filter
pekat ini dapat (thrombosit < trombosit yang mikroargregat); atur
diperoleh dengan 50.000/uL)atau cepat seperti: kecepatan aliran
cara pemutaran trombositopati ITP, TTP, DIC untuk memastikan
(sentrifugasi) kongenital.. dan transfusi pemberian unit total
darah lengkap biasanya dalam waktu kurang
segar atau dengan dilakukan hanya dari 20 menit
cara pada adanya
tromboferesis. 1 perdarahan yang
unit berisi aktif
trombosit 50ml.
dapat disimpan
pada suhu 20-
40⁰C` dengan
kantong darah
biasa yg disimpan
pada rorator /
agitator yg selalu
berputar/
bergoyang,
trombosit dapat
disimpan dalam
3hari.
46

Albumin serum Diambil dari Hipoproteinemia; Meningkatkan Berikan dengan


normal, larutan kumpulan plasma luka bakar; syok tekanan onkotik; kecepatan <2-3
hipertonik 25 % vena; akibat trauma meningkatkan ml/menit untuk
USP mengandung 25 g hemoragi volume sirkulasi mencegah
(catatan : Larutan 5 albumin serum dengan menarik peningkatan secara
% secara osmotic normal/100 ml darah 5 kali cepat pada TD,
sama dengan volume albumin kelebihan sirkulasi,
plasma) yang diinfuskan atau edema paru
ke dalam
sirkulasi, kecuali
pasien
mengalami
dehidrasi;
mengurangi
hemokonsentrasi
dan visikositas
darah

REAKSI TERHADAP TRANSFUSI DARAH DAN KOMPONEN DARAH

Produk Jenis Reaksi Awitan Observasi Tindakan


Keperawatan
Sel darah Febril nonhemolitik Awal Menggigil, peningkatan Periksa dan catat TD, S,
merah transfusi suhu tubuh, sakit N dan P
(SDM), sampai 24 kepala, muntah, mual dasar;lambatkan
47

semua jam setelah infuse;beritahu


preparat transfusi dokter;berikan
antipiretik atau
antihistamin sesuai
program;periksa dan
catat S,N,dan P setiap
15 menit; SDM dicuci
dengan menggunakan
salin: SDM yang beku,
dicairkan, dicuci atau
filter leukosit dapat
Febril hemolitik Gelisah, ansietas, dioberikan untuk
tekanan prekordial, mengurangi reaksi
peningkatan suhu tubuh
Segera sampai 40.60C, Hentikan transfusi
sampai 30 takikardia, takipnea, segera; ganti slang IV;
menit wajah kemerahan, nyeri mulai pemberian salin
setalah awal punggung dan paha, normal pada kecepatan
transfusi kesemutan umum, 4-6 ml/jam; tutup slang
atau setelah mengigil, darah dengan jarum
25-50 ml mual,muntah,syok,DIC, steril atau penyumbat;
transfusi gagal ginjal, oliguria, laporkan gejala kepada
hematuria,anuria dokter dan bank darah ;
periksa kembali nomor
darah pasien;pantau
dan catat S,P, dan
frekuensi jantung serta
iramanya tiap 10-15
menit, ukur dan catat
haluaran urin setiap
berkemih atau setiap ½
jam; krim specimen
pertama untuk diperiksa
48

di lab; laporkan
haluaran urin <15 ml/30
menit atau terjadi
perdarahan;pastikan
sampel darah diambil
untuk pemeriksaan;
pemeriksaan berikut
biasanya diprogramkan:
Hb, kadar haptoglobin,
metemalbumin,
bilirubin, aglutinasi,
diferensial,
pemeriksaan serologis,
uji fungsi ginjal serta
kultur aerob dan
anaerob; selesaikan
catatn transfusi; kirim
darah yang tersisa,
tabung, serta catatn ke
lab. Untk diperiksa;
berikan medikasi dan
cairan IV sesuai
program; diuretic,
oksigen, elektrolit, dan
heparin dapat
diprogramkan; siapakn
untuk dialisis
Darah Reaski alergi Dalam 30 Reaksi ringan: Periksa dan catat nilai
lengkap terhadap protein menit mengigil, peningkatan dasar TD,S,N dan P;
plasma setelah suhu;sakit punggung; hentikan infuse; mulai
memulai nyeri lutut infuse salin lambat (4-6
transfusi ml/jam) menggunakan
slang IV baru yang
49

Reaksi sedang sampai steril; beri tahu dokter


berat; ruam eritematosa, dan bank darah ; pantau
Segera urtikaria, dispnea, S,N,P, dan TD setiap
sampai 30 mengi, hipotensi, 10-15 menit; pastikan
menit hiperperistaltik usus, specimen darah diambil
setalah awal syok analfilatik untuk pemeriksaan;
transfusi kembalikan sisa produk
darah slang, dan catatan
transfusi ke bank darah;
indikasikan observasi
pada catatan transfusi;
biasanya sel darah
merah tanpa igA akan
diprogramkan untuk
diberikan; oksigen
steroid, vasopresor, au
epinefrin dapat
diprogramkan untuk
syok anafilatik; siapkan
resusitasi

Perlambat kecepatan
Urikaria, transfusi; laporkan hasil
pembengkakan nodus observasi kepada
limfe, sakit dokter; beri
tenggorokan antihistamin sesuai
Selama program;mpengambilan
transfusi darah dari donor yang
sampoai puasa dapat
beberapa diprogramkan bila
Kelebihan sirkulasi hari reaksi berat
sesudahnya
50

Batuk keras, nyeri Perlambat kecepatan


perikordial, nyeri transfusi;laporkan hasil
punggung, dipsnea, obsevasi kepada
sianosis, peningkatan dokter;lanjutkan
tekanan vena, distensi kecepatan aliran sesuai
vena leher, batuk program; biasanya 2
Selama produktif, sputm ml/kg/jam; pantau
Febril (n]hemolitik) transfusi berbusa, rales pleura TD,S,N,P dan CVP
febril (antibody sampai 24 setiap 15-30 menit
SDP dan/atau jam
trombosit) Lihat SDM Lihat SDM
Lihat konsentrat Lihat konsentrat
leukosit leukosit

Lihat SDM
Lihat
konsentrat
leukosit
Transfusi Hiperkalemia Peningkatan Tremor, segmen Q-T Bila dibutuhkan
massif metabolic dan asam sitrat memanjang pada EKG, transfusi massif,
SDM atau toksisitas sitrat sampai 100 hipokalsemia, asidosis biasanya diprogramkan
darah dengan mg/100 ml kemudian alkalosis, produk transfusi dengan
lengkap antikoagulan asam henti jantung bila kadar anti-koagulan sitrat-
sitrat dekstrosa asam sitrat lebih tinggi fosfat dekstrosa (citrate-
(acid citrate phosphate dextrose,
dextrose, ACD) CPD);pantau dan catat
S,P, dan fungsi jantung
setiap 10-15 menit;
pastikan smaoel darah
51

diambil untuk
pemeriksaan kadar
elektrolit, kalsium, pH,
CO2* , dan bikarbonat;
berikan kalsium
glukonat IV sesuai
program: berikan resin
penggangitna kation
secara oral atau rektal
sesuai program untuk
hiperkalemia.
Hentikan darah segra;
ganti slang; berikan
salin normal IV 4-6
ml/jam; pantau dan
catat TD,S,N,dan P;
Mengigil, penigkatan auskultasi dada untuk
suhu tubuh, takikardia, memeriksa bunyi
Selama batu non produktif, jantung dan napas;
Infiltrat paru transfusi dipsnea, sindrom laporkan observasi pada
distress pernapasan dokter
Laporkan hasil
observasi pada dokter
segera, pantua dan catat
TD,S,N,P setiap 10-15
Perdarahan pada setiap menit; pantau fungsi
system tubuh, jantung secra kuntinue,
trombsitopenia, auskultasi dada untuk
Kecendrungan Volume abnormalitas koagulasi memeriksa bunyi
perdarahan akibat transfusi jantung dan napas
efek pengeceran setara setiap 15-30 menit;
dengan berikan konsentrat
volume trombosit, cairan, dan
52

darah Sesak napas, nyeri medikasi sesuai


pasien dada, sianosis,sinkop, program; atasi
hipotensi, syok hemoragi sesuai
indikasi dan program
Emboli udara paru
Hentikan transfusi
segera, letakan pasien di
Selama sisi kiri, berikan
transfusi oksigen sesuai program;
pantau tanda-tanda
vital;CVP tiap 15
m2nit; lihat adanya
emboli paru

Konsentrat Reaksi akut segera Peningkatan suhu Perlambat transfusi;


leukosit infiltrate pulmonal tubuh, menggigil pantau dan catat
sementara (transient konstriksi retrosternal, TD,S,N,dan P setiap 15-
pulmonary pucat, sianosis, 30 menit; auskultasi
infiltrate) takikardia, batuk dada untuk memeriksa
bunyi jantung dan napas
setiap 15-30 menit;
laporkan hasil observasi
kepada dokter;
Biasanya hanya leukosit
Graft-versus-host radiasi yang diberikan
diases (GVHD) untuk pencegahan
GVHD
Trombosit Febril; biasanya Segera Mengigil, urtikaria, Periksa dan catat
karena infuse sampai 12- kemerahan pada kulti TD,S,N, dan P setiap
leukosit 24 jam 15-30 menit, berikan
inkompatibel yang pasca medikasi sesuai
mengkontaminasi transfusi program; reaksi
preparat trombosit biasanya menghilang
53

sendiri; pasien dapat


membentuk antibody
dan menghancurkan
trombosit pada transfusi
berikutnya; periksa
hitung trombosit 1 jam
setelah transfusi
Plasma Sama seperti darah Sama Sama seperti darah Sama seperti darah
lengkap seperti lengkap lengkap
darah
lengkap
Darah Perdarahan akibat Selama dan Perdarahan pada setiap Laporkan observasi
lengkap heparin digunakan sesudah system tubuh pada dokter segera,
tanpa sebagai transfusi Lihat darah lengkap periksa dan catat
fantor VIII antikoagulan seperti bila volume TD,S,N,dan P; pantau
pada darah lengkao yang besar status jantung secara
diberikan kuntinu; berikan
protamin sulfat sesuai
program; ukur san catat
haluaran urin
Albumin Reaksinya jarang Selama Mengigil, peningkatan Perlambat kecepatan
serum pemberian suhu tubuh, mual transfusi;laporkan hasil
normal observasi kepeda
dokter;periksa dan catat
TD,S,N, dan P setiap
15-30 menit

Kelebihan Peningkatan TD, Pantau kecepatan infus


sirkulasi/perdarahan Selama kelebihan secara cermat;
selama infuse cepat transfusi sirkulasi,edama paru; perlambat kecepatan
daerah baru perdarahan transfusi;laporkan hasil
terlihat pada syok observasi kepada
hemoragik dokter; periksa dan
54

catat TD,S,N,dan P
setiap 10-15 menit;
pantau status jantung
secara kontinu;
auskultasi dada untukn
memeriksa bunyi
jantung dan napas
setiap 15-30 menit,
pantau secara ketat
tempat perdarahan yang
baru.
55

DAFTAR PUSTAKA

1. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Pedoman

Diagnosis dan Terapi dan Ginekologi RS. DR. Hasan sadikin, Bagian Pertama Bandung: 2005

2. Cunningham FG, editor. Williams obstetrics. 24th edition. New York: McGraw-Hill Medical;

2014.

3. Sastrawinata, Martaadisoebatra, Wirakusumah (ed.). Obstetri patologi Ilmu Kesehatan

Reproduksi Edisi 2 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta. 2005

4. Saifuddin, Adriaansz, Wiknjosastro, Waspodo (ed.). Buku Acuan Nasional Pelayanan

Kesehatan Maternal dan Neonatal Edisi 1 Cetakan ke-4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta. 2006