Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PROSES DIFUSI O2 DAN CO2 MANUSIA

DITUJUKAN SEBAGAI PENGANTAR TUGAS MATA KULIAH

ILMU DASAR KEPERAWATAN I

Disusun Oleh:

Kelompok 2

1. Ahmad Doni Faisal : 17IK507


2. Aulia Rachmi : 17IK510
3. Devi Cahyana : 17IK512
4. Dona Kristina : 17IK514
5. Florentina : 17IK518
6. Friko Boby Permana : 17IK519
7. Ivana Itasia Putri : 17IK524
8. Merry Lidya : 17IK527
9. Rohandi Yusuf : 17IK543

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA


BANJARMASIN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Banjarmasin, 8 Desember 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
BAB I ........................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 4
1.2 Tujuan .......................................................................................................................................... 4
1.3 Manfaat ........................................................................................................................................ 4
1.4 Rumusan Masalah ........................................................................................................................ 5
BAB II ....................................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 6
2.1 Pengertian pernapasan ................................................................................................................. 6
2.2 Proses Terjadinya Pernapasan ...................................................................................................... 6
2.3 Mekanisme Pertukaran Gas Oksigen (O2) dan Karbondiosida (CO2) ........................................... 8
1. Pernafasan Eksternal................................................................................................................... 8
2. Pernafasan Internal ..................................................................................................................... 9
Organ Respirasi ............................................................................................................................. 10
2.4 Mekanisme pertukaran (O2) dan (CO2) dari Alveolus ke Kapiler Darah dan Sebaliknya ........... 15
1. Pertukaran O2 dan CO2 Dari Alveolus ke Kapiler Darah........................................................... 15
2. Pertukaran O2 dan CO2 Dari Kapiler Darah ke Alveolus ........................................................... 15
2.5 Mekanisme Pertukaran karbondioksida dan oksigen ................................................................. 16
2.6 Proses Pertukaran Oksigen dan Karbondioksida ........................................................................ 16
2.7 Mekanisme pernafasan Manusia ................................................................................................ 17
1. Pernafasan Dada................................................................................................................... 18
2. Pernafasan Perut .................................................................................................................. 18
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 19
3.1Kesimpulan................................................................................................................................... 19
3.2Saran ............................................................................................................................................ 19
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang
merupakan parameter kesehatan manusia. Jika salah satu sistem respirasi terganggu
maka secara sistem lainyang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat
menimbulkan terganggunya proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit. Proses Pernapasan terdiri dari beberapa proses
penting yaitu pada sistem pernapasan, sistem saraf pusat, serta sistem kardiovaskular .
Sistem respirasi berperan untuk menukar udara kepermukaan dalam paru-paru. Udara
masuk dan menetap dalam system pernafasan dan masuk dalam pernafasan. Sistem saraf
pusat memberikan dorongan ritmik dari dalam untuk bernafas, dan secara refleks
merangsang toraks dan otot-otot diafragma, yang akan memberikan tenaga pendorong
gerakan udara. Sistem kardiovaskuler menyediakan pompa, jaringan pembuluh darah
yang diperlukan untuk mengangkut gas-gas antara paru-paru dan sel tubuh. Orang
tergantung pada oksigen untuk hidupnya, kalau tidak mendapatkannya selama lebih dari
empat menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan
biasanya pasien meninggal. Bila oksigen di dalam darah tidak mencukupi, warna
merahnya hilang dan menjadi kebiru-biruan dan ia disebut menderita sianosis.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini ialah dalam rangka memenuhi tugas mata
kuliah Ilmu Dasar Keperawatan I di Stikes Sari Mulia Banjarmasin.

1.3 Manfaat

Agar mahasiswa mampu dan memahami proses difusi O2 dan CO2 manusia -

sehingga mahasiswa dapat menjelaskan bagaimana proses difusi dan O2 dan CO2 -

manusia. Makalah ini juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam belajar.
1.4 Rumusan Masalah

1. Apa itu pernafasan?


2. Bagaimana proses terjadinya pernafasan pada manusia?
3. Bagaimana mekanisme pertukaran gas oksigen (o2) dan karbondiosida (co2) manusia?
4. Bagaimana mekanisme pertukaran (o2) dan (co2) dari alveolus ke kapiler darah dan
sebaliknya pada manusia?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian pernapasan

Pernafasan juga merupakan peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung
O2 dan mengeluarkan CO2 sebagai sisa dari oksidasi dari tubuh. Penghisapan udara ke
dalam tubuh disebut proses inspirasi dan menghembuskan udara keluar tubuh disebut
proses ekspirasi. Manusia membutuhkan suplay oksigen secara terus-menerus untuk
proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun
produk dari proses tersebut. Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida
dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk
proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen
sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam tubuh melalui
perantaraan alat pernapasan dan pada manusia disebut alveolus yang terdapat di paru-
paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempat pertukaran gas.

2.2 Proses Terjadinya Pernapasan

Pernafasan adalah proses inspirasi udara kedalam paru-paru dan ekspirasi udara
dari paru-paru kelingkungan luar tubuh. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah
dapat rangsangan dari nervus pernikus lalu mengkerut datar. Saat ekspirasi otot akan
kendor lagi dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali maka udara
didorong keluar. Jadi proses respirasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara
rongga pleura dan paru-paru. Fungsi paru – paru adalah sebagai tempat pertukaran gas
oksigen dan karbon dioksida.
Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen dipungut
melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas; oksigen masuk melalui trakea dan pipa
bronkial ke alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan darah di dalam kapiler
pulmonaris. Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah
merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh.
Darah meninggalkan paru – paru pada tekanan oksigen 100 mm Hg dan pada tingkat ini
hemoglobinnya 95 persen jenuh oksigen.
Di dalam paru-paru, karbon dioksida, salah satu hasil buangan metabolisme,
menembus membran alveoler-kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui
pipa bronkial dan trakea, dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut.
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner atau pernapasan eksterna :
a. Ventilasi pulmoner, atau gerak pernapasan yang menukar udara dalam alveoli
dengan udara luar. Arus darah melalui paru – paru. Distribusi arus udara dan arus
darah sedemikian sehingga dalam jumlah tepat dapat mencapai semua bagian
tubuh
b. Difusi gas yang menembusi membran pemisah alveoli dan kapiler. CO2 lebih
mudah berdifusi daripada oksigen.
c. Pefusi, yaitu pernapasan jaringan atau pernapasan interna. Darah yang telah
menjenuhkan hemoglobinnya dengan oksigen (oksihemoglobin) megintari seluruh
tubuh dan akhirnya mencapai kapiler, di mana darah bergerak sangat lambat. Sel
jaringan memungut oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan oksigen
berlangsung, dan darah menerima, sebagai gantinya, yaitu karbon dioksida.

Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paru
menerima jumlah tepat CO2 dan O2. Pada waktu gerak badan, lebih banyak darah datang
di paru – paru membawa terlalu banyak CO2 dan terlampau sedikit O2; jumlah CO2 itu
tidak dapat dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam darah arteri bertambah. Hal ini
merangsang pusat pernapasan otak memperbesar kecepatan dan dalamnya pernapasan.
Penambahan ventilasi ini mengeluarkan CO2 dan memungut lebih banyak O2.
Perubahan – perubahan berikut terjadi pada komposisi udara dalam alveoli, yang
disebabkan pernapasan eksterna dan pernapasan interna atau pernapasan jaringan Udara
(atmosfer) yang di hirup:
 Nitrogen 79 %
 Oksigen 20% %
 Karbon dioksida 0-0,4%
Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembapan atmosfer Udara yang
diembuskan:
 Nitrogen 79%
 Oksigen 16%
 Karbon dioksida 4-0,4%
2.3 Mekanisme Pertukaran Gas Oksigen (O2) dan Karbondiosida (CO2)

Udara lingkungan dapat dihirup masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui
dua cara, yakni pernapasan secara langsung dan pernapasan tak langsung. Pengambilan
udara secara langsung dapat dilakukan oleh permukaan tubuh lewat proses difusi.
Sementara udara yang dimasukan ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dinamakan
pernapasan tidak langsung.

Saat kita bernapas, udara diambil dan dikeluarkan melalui paru-paru. Dengan lain
kata, kita melakukan pernapasan secara tidak langsung lewat paru-paru. Walaupun
begitu, proses difusi pada pernapasan langsung tetap terjadi pada paru-paru. Bagian paru-
paru yang meng alami proses difusi dengan udara yaitu gelembung halus kecil atau
alveolus. Oleh karena itu, berdasarkan proses terjadinya pernapasan, manusia
mempunyai dua tahap mekanisme pertukaran gas. Pertukaran gas oksigen dan karbon
dioksida yang dimaksud yakni mekanisme pernapasan eksternal dan internal.

1. Pernafasan Eksternal

Ketika kita menghirup udara dari lingkungan luar, udara tersebut akan masuk ke
dalam paru-paru. Udara masuk yang mengandung oksigen tersebut akan diikat darah
lewat difusi. Pada saat yang sama, darah yang mengandung karbondioksida akan
dilepaskan. Proses pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara udara
dan darah dalam paru-paru dinamakan pernapasan eksternal.

Saat sel darah merah (eritrosit) masuk ke dalam kapiler paru-paru, sebagian
besar CO2 yang diangkut berbentuk ion bikarbonat (HCO- 3). Dengan bantuan enzim
karbonat anhidrase, karbondioksida (CO2) air (H2O) yang tinggal sedikit dalam darah
akan segera berdifusi keluar.

Seketika itu juga, hemoglobin tereduksi (yang disimbolkan Hb) melepaskan ion-
ion hidrogen (H+) sehingga hemoglobin (Hb)-nya juga ikut terlepas. Kemudian,
hemoglobin akan berikatan dengan oksigen (O2) menjadi oksihemoglobin (disingkat
HbO2).
Proses difusi dapat terjadi pada paru-paru (alveolus), karena ada perbedaan
tekanan parsial antara udara dan darah dalam alveolus. Tekanan parsial membuat
konsentrasi oksigen dan karbondioksida pada darah dan udara berbeda.

Tekanan parsial oksigen yang kita hirup akan lebih besar dibandingkan tekanan
parsial oksigen pada alveolus paru-paru. Dengan kata lain, konsentrasi oksigen pada
udara lebih tinggi daripada konsentrasi oksigen pada darah. Oleh karena itu, oksigen
dari udara akan berdifusi menuju darah pada alveolus paru-paru.

Sementara itu, tekanan parsial karbondioksida dalam darah lebih besar


dibandingkan tekanan parsial karbondioksida pada udara. Sehingga, konsentrasi
karbondioksida pada darah akan lebih kecil di bandingkan konsentrasi karbondioksida
pada udara. Akibatnya, karbondioksida pada darah berdifusi menuju udara dan akan
dibawa keluar tubuh lewat hidung.

2. Pernafasan Internal

Berbeda dengan pernapasan eksternal, proses terjadinya pertukaran gas pada pernapasan
internal berlangsung di dalam jaringan tubuh. Proses pertukaran oksigen dalam darah dan
karbondioksida tersebut berlangsung dalam respirasi seluler. Setelah oksihemoglobin (HbO2)
dalam paru-paru terbentuk, oksigen akan lepas, dan selanjutnya menuju cairan jaringan
tubuh. Oksigen tersebut akan digunakan dalam proses metabolisme sel.

Proses masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui proses difusi. Proses
difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen dan karbondioksida antara
darah dan cairan jaringan. Tekanan parsial oksigen dalam cairan jaringan, lebih rendah
dibandingkan oksigen yang berada dalam darah. Artinya konsentrasi oksigen dalam cairan
jaringan lebih rendah. Oleh karena itu, oksigen dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.

Sementara itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah daripada cairan jaringan.
Akibatnya, karbondioksida yang terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi ke dalam darah.
Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan berikatan bersama
hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin (HbCO2).

Namun, sebagian besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam plasma darah dan bergabung
dengan air menjadi asam karbonat (H2CO3). Oleh enzim anhidrase, asam karbonat akan
segera terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan ion bikarbonat (HCO- ). CO2
yang diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar tubuh oleh paru-paru, akan tetapi
hanya 10%-nya saja. Sisanya yang berupa ion-ion bikarbonat yang tetap berada dalam darah.
Ion-ion bikarbonat di dalam darah berfungsi sebagai bufer atau larutan penyangga. Lebih
tepatnya, ion tersebut berperan penting dalam menjaga stabilitas pH (derajat keasaman)
darah.

Organ Respirasi

a) Hidung

Hidung merupakan bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi menghirup
udara pernafasan, menyaring udara,menghangatkan udara pernafasan, juga berperan
dalam resonansi suara. Hidung juga merupakan alat indera manusia yang menanggapi
rangsang berupa bau atau zat kimia yang berupa gas.di dalam rongga hidung terdapat
serabut saraf pembau yang dilengkapi dengan sel-sel pembau.setiap sel pembau
mempunyai rambut -rambut halus(silia olfaktori)di ujungnya dan diliputi oleh selaput
lendir yang berfungsi sebagai pelembab rongga hidung.

Pada saat kita bernapas, zat kimia yang berupa gas ikut masuk ke dalam hidung kita.
zat kimia yang merupakan sumber bau akan dilarutkan pada selaput lendir,kemudian
akan merangsang rambut-rambut halus pada sel pembau. sel pembau akan
meneruskan rangsang ini ke otak dan akan diolah sehingga kita bisa mengetahui jenis
bau dari zat kimia tersebut. Hidung merupakan organ pernapasan yang letaknya
paling luar. Manusia menghirup udara melalui hidung. Pada permukaan rongga
hidung terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi menyaring
udara yang masuk dari debu atau benda lainnya. Di dalam rongga hidung terjadi
penyesuaian suhu dan kelembapan udara sehingga udara yang masuk ke paru-paru
tidak terlalu kering ataupun terlalu lembap. Udara bebas tidak hanya mengandung
oksigen saja, namun juga gas-gas yang lain. Misalnya, karbon dioksida (CO2),
belerang (S), dan nitrogen (N2). Gas-gas tersebut ikut terhirup, namun hanya oksigen
saja yang dapat berikatan dengan darah. Selain sebagai organ pernapasan, hidung
juga merupakan indra pembau yang sangat sensitif. Dengan kemampuan tersebut,
manusia dapat terhindar dari menghirup gas-gas yang beracun atau berbau busuk
yang mungkin mengandung bakteri dan bahan penyakit lainnya. Dari rongga hidung,
udara selanjutnya akan mengalir ke tenggorokan.

b) Nasofaring

Faring yang sering disebut-sebut adalah bagian dari sistem pencernaan dan juga
bagian dari sistem pernafasan. Hal ini merupakan jalan dari udara dan makanan.
Udara masuk ke dalam rongga mulut atau hidung melalui faring dan masuk ke dalam
laring. Nasofaring terletak di bagian posterior rongga hidung yang
menghubungkannya melalui nares posterior. Udara masuk ke bagian faring ini turun
melewati dasar dari faring dan selanjutnya memasuki laring. Kontrol membukanya
faring, dengan pengecualian dari esofagus dan membukanya tuba auditiva, semua
fase pembuka masuk ke dalam faring dapat ditutup secara volunter. Kontrol ini
sangat penting dalam pernafasan dan waktu makan, selama membukanya saluran
nafas maka jalannya pencernaan harus ditutup sewaktu makan dan menelan atau
makanan akan masuk ke dalam laring dan rongga hidung posterior

c) Laring

Organ ini terletak di antara akar lidah dan trakhea. Laring terdiri dari Sembilan
kartilago melingkari bersama dengan ligamentum dan sejumlah otot yang mengontrol
pergerakannya. Kartilago yang kaku pada dinding laring membentuk suatu lubang
berongga yang dapat menjaga agar tidak mengalami kolaps. Dalam kaitan ini, maka
laring membentuk trakea dan berbeda dari bangunan berlubang lainnya. Laring masih
terbuka kecuali bila pada saat tertentu seperti adduksi pita suara saat berbicara atau
menelan. Pita suara terletak di dalam laring, oleh karena itu ia sebagai organ
pengeluaran suara yang merupakan jalannya udara antara faring dan laring.

Bagian laring sebelah atas luas, sementara bagian bawah sempit dan berbentuk
silinder. Kartilago laring merupakan kartilago yang paling besar dan berbentuk V
yaitu kartilago tiroid. Kartilago ini terdiri dari dua kartilago yang cukup lebar, dimana
pada bagian depan membentuk suatu proyeksi subkutaneus yang dikenal sebagai
penonjolan laringeal. Kartilago ini menempel pada tulang lidah melalui membrana
hyotiroidea, suatu lembaran ligamentum yang luas dan terhadap kartilago krikoid oleh
suatu “elastic cone” suatu ligamentum yang sebagian besar terdiri dari jaringan elastik
berwarna kuning. Kartilago krikoid lebih kecil tapi lebih tebal terdiri dari cincin
depan, tetapi meluas ke dalam suatu struktur menyerupai plat untuk membentuk
bagian bawah dan belakang laring. Kartilago arytenoid berjumlah dua buah terletak
pada batas atas dari bagian yang luas sebelah posterior krikoid. Kartilago ini kecil dan
berbentuk piramid. Epiglotis, kartilago yang berbentuk daun terletak di pangkal lidah
dan kartilagotiroid pada linea mediana anterior. Kartilago ini melebar secara oblik ke
belakang dan atas.

Rongga laring, rongga ini dimulai pada pertemuan antara faring dan laring serta
ujung dari bagian bawah kartilago krikoid dimana ruangan ini akan berlanjut dengan
trakhea. Bagian ini dibagi ke dalam dua bagian oleh vokal fold dan ventrikuler fold
secara horizontal. Vokal fold atau pita suara merupakan dua ligementum yang kuat
dimana meluas dari sudut antara bagian depan terhadap dua kartilago aritenoid pada
bagian belakang. Ventrikuler fold sering disebut sebagai pita suara palsu yang terdiri
dari lipatan membrana mukosa dan terselip suatu pita jaringan ikat. Lipatan-lipatan
berada di samping terhadap pita suara yang asli. Ruangan di antara lipatan pita disebut
sebagai glottis, bentuknya bervariasi sesuai dengan ketegangan lipatan pita.

Fungsi laring, yaitu mengatur tingkat ketegangan dari pita suara yang selanjutnya
mengatur suara. Laring juga menerima udara dari faring diteruskan ke dalam trakhea
dan mencegah makanan dan air masuk ke dalam trakhea. Kedua fungsi ini sebagian
besar dikontrol oleh muskulus instrinsik laring.

Pengaturan suara. Otot-otot laring baik yang memisahkan vokal fold atau yang
membawanya bersama, pada kenyataannya mereka dapat menutup glotis kedap udara,
seperti halnya pada saat seseorang mengangkat beban berat atau terjadinya regangan
pada waktu defekasi dan juga pada waktu seseorang menahan nafas pada saat minum.
Bila otot-otot ini relaksasi, udara yang tertahan di dalam rongga dada akan
dikeluarkan dengan suatu tekanan yang membukanya dengan tiba-tiba yang
menyebabkan timbulnya suara ngorok. Pengaliran udara pada trakhea, glotis hampir
terbuka setiap saat dengan demikian udara masuk dan keluar melalui laring. Namun
akan menutup pada saat menelan. Epiglotis yang berada di atas glottis berfungsi
sebagai penutup laring. Ini akan dipaksa menutup glottis bila makanan melewatinya
pada saat menelan. Epiglotis juga sangat berperan pada waktu memasang intubasi,
karena dapat dijadikan patokan untuk melihat pita suara yang berwarna putih yang
mengelilingi lubang.

d) Trakea

Trakea terletak memanjang di bagian leher dan rongga dada atau (toraks).
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan
sebagian di rongga dada. Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin
tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Berupa pipa yang dindingnya
terdiri atas 3 lapisan, yaitu lapisan luar terdiri atas jaringan ikat, lapisan tengah terdiri
atas otot polos dan cincin tulang rawan, dan lapisan dalam terdiri atas jaringan
epitelium besilia. Terletak di leher bagian depan kerongkongan. Trakea tersusun atas
enam belas sampai dua puluh cincin-cincin tulang rawan yang berbentuk C. Cincin-
cincin tulang rawan ini di bagian belakangnya tidak tersambung yaitu di tempat
trakea menempel pada esofagus. Hal ini berguna untuk mempertahankan agar trakea
tetap terbuka.

Dinding bagian dalam trakea berlapis sel-sel epitel berambut getar (silia) dan selaput
lendir Cincin-cincin tulang rawan diikat bersama oleh jaringan fibrosa, selain itu juga
terdapat beberapa jaringan otot. Trakea dilapisi oleh selaput lendir yang dihasilkan
oleh epitelium bersilia. Silia-silia ini bergerak ke atas ke arah laring sehingga dengan
gerakan ini debu dan butir-butir halus lainnya yang ikut masuk saat menghirup napas
dapat dikeluarkan. Silia berfungsi menahan dan mengeluarkan kotoran kotoran atau
debu-debu yang masuk bersama udara. Trakea bercabang dua , satu menuju paru-
paru kiri , dan yang lainnya menuju paru-paru kanan. cabang trakea disebut bronkus.

e) Bronkus

Merupakan percabangan trakea yang menuju paru-paru kanan dan kiri. Struktur
bronkhus sama dengan trakea, hanya dindingnya lebih halus. Kedudukan bronkhus
kiri lebih mendatar dibandingkan bronkhus kanan, sehingga bronkhus kanan lebih
mudah terserang penyakit. Bronkus tersusun atas percabangan, yaitu bronkus kanan
dan kiri. Letak bronkus kanan dan kiri agak berbeda. Bronkus kanan lebih vertikal
daripada kiri. Karena strukturnya ini, sehingga bronkus kanan akan mudah
kemasukan benda asing. Itulah sebabnya paru-paru kanan.
f) Bronkhiolus

Bronkheolus adalah percabangan dari bronkhus, saluran ini lebih halus dan
dindingnya lebih tipis. Bronkheolus kiri berjumlah 2, sedangkan kanan berjumlah 3,
percabangan ini akan membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.

g) Alveolus

Alveolus merupakan saluran akhir dari alat pernapasan yang berupa gelembung-
gelembung udara. Gelembung tersebut diselimuti pembuluh kapiler darah . Alveolus
adalah kantung berdinding tipis, lembap didalam paru2 yang mengandung udara dan
berlekat erat dengan kapiler-kapiler darah, melalui seluruh dinding inilah terjadi
pertukaran gas. Alveolus terdiri atas satu lapis sel epitelium pipih dan di sinilah darah
hampir langsung bersentuhan dengan udara. Epitel pipih yang melapisi alveoli
memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat oksigen dari udara
dalam rongga alveolus. Adanya alveolus memungkinkan terjadinya perluasan daerah
permukaan yang berperan penting dalam pertukaran gas O2 dari udara bebas ke sel-
sel darah dan CO2 dari sel-sel darah ke udara.

Jumlah alveolus pada paru-paru kurang lebih 300 juta buah. Adanya alveolus ini
menjadikan permukaan paru-paru lebih luas. Diperkirakan, luas permukaan paruparu
sekitar 160 m2. Dengan kata lain, paru-paru memiliki luas permukaan sekitar 100 kali
lebih luas daripada luas permukaan tubuh.

Dinding alveolus mengandung kapiler darah. Oksigen yang terdapat pada alveolus
berdifusi menembus dinding alveolus, lalu menem bus dinding kapiler darah yang
mengelilingi alveolus. Setelah itu, masuk ke dalam pembuluh darah dan diikat oleh
hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah sehingga terbentuk
oksihemoglobin (HbO2). Akhirnya, oksigen diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.
Setelah sampai ke dalam sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan sehingga oksihemoglobin
kembali menjadi hemoglobin. Oksigen ini digunakan untuk oksidasi.

Dalam tubuh, oksigen digunakan untuk proses pembentukan energi. Pada proses
tersebut dihasilkan energi dan gas karbon dioksida (CO2). CO2 tersebut diikat
kembali oleh hemoglobin darah. Setelah itu, darah akan membawa CO2 ke paru-paru.
Sesampai di alveolus, CO2 menembus dinding pembuluh darah dan dinding alveolus.
CO2 dari paru-paru menuju tenggorokan, kemudian ke lubang hidung untuk
dikeluarkan dari dalam tubuh. Jadi proses pertukaran gas sebenarnya berlangsung di
alveolus.

2.4 Mekanisme pertukaran (O2) dan (CO2) dari Alveolus ke Kapiler Darah dan
Sebaliknya

1. Pertukaran O2 dan CO2 Dari Alveolus ke Kapiler Darah

Pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida terjadi di alveolus. Oksigen dari Alveolus
dibawa ke Kapiler darah dan berdifusi dalam darah. Di dalam sel-sel darah merah, oksigen
berikatan dengan Hemoglobin (Hb) membentuk oksihemoglobin (HbO2) yang selanjutnya
akan beredar darah menuju seluruh tubuh. Begitu mencapai sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan
sehingga HbO2 kembali menjadi Hb.

Dari sekitar 300 liter oksigen yang masuk ke dalam tubuh selama sehari semalam, hanya
sekitar 2%-3% yang dapat larut dalam plasma darah. Sebagian besar oksigen akan diangkut
oleh Hemoglobin dalam sel darah merah. Hemoglobin merupakan zat warna merah darah
atau zat pigmen respirasi yang tersusun atas senyaw hemin atau hematin (mengandung unsur
Fe) dan globin (suatu protein).

2. Pertukaran O2 dan CO2 Dari Kapiler Darah ke Alveolus

Pada waktu darah mengalir ke paru-paru, hemoglobin mengikat ooksigen sampai jenuh.
Oksihemoglobin akan melepaskan oksigen lebih banyak pada lingkungan asam. Apabila
lebih banyak oksigen yang digunakan, lebih banyak pula karbon dioksida yang terbetuk dan
diambil oleh darah. Karbon dioksida yang diambil akan bereaksi dengan air membentuk asam
karbonat (H2CO2) yang berakibat darah bersifat asam.

Dalam kondisi normal tubuh menghasilkan sekitar 200 cc karbon dioksida dan setiap liter
darah hanya dapat melarutkan 4,3 cc karbon dioksida. Hal tersebut menyebabkan
terbentuknya asam karbonat dan pH darah menjadi asam (4,5). Dengan adanya ion Na+ dan
K+, keasaman darah dapat dinetralkan.
2.5 Mekanisme Pertukaran karbondioksida dan oksigen

Pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida terjadi melalui proses difusi. Proses
tersebut terjadi di alveolus dan di sel jaringan tubuh. Proses difusi berlangsung sederhana,
yaitu hanya dengan gerakan molekul-molekul secara bebas melalui membran sel dari
konsentrasi tinggi atau tekanan tinggi ke konsentrasi rendah atau tekanan rendah.

2.6 Proses Pertukaran Oksigen dan Karbondioksida

Oksigen masuk ke dalam tubuh melalui inspirasi dari rongga hidung sampai alveolus. Di
alveolus oksigen mengalami difusi ke kapiler arteri pori-pori. Masuknya oksigen dari luar
(lingkungan) menyebabkan tekanan parsial oksigen (P02) di alveolus Iebih tinggi
dibandingkan dengan P02 di kapiler arteri paru-paru. Karena proses difusi selalu terjadi dari
daerah yang bertekanan parsial tinggi ke daerah yang bertekanan parsial rendah, oksigen akan
bergerak dari alveolus menuju kapiler arteri paru-paru.

Oksigen di kapiler arteri diikat oleh eritrosit yang mengandung hemoglobin sampai menjadi
jenuh. Makin tinggi tekanan parsial oksigen di alveolus, semakin banyak oksigen yang terikat
oleh hemoglobin dalam darah. Hemoglobin terdiri dari empat sub unit, setiap sub unit terdiri
dari bagian yang disebut heme. Di setiap pusat heme terdapat unsur besi yang dapat berikatan
dengan oksigen, sehingga setiap molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul
oksigen berbentuk oksihemoglobin. Reaksi antara hemoglobin dan oksigen berlangsung
secara reversibel (bolak-balik) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, pH,
konsentrasi oksigen dan karbon dioksida, serta tekanan parsial.

Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke jaringan tubuh yang kemudian akan berdifusi
masuk ke sel-sel tubuh untuk digunakan dalam proses respirasi. Proses difusi ini terjadi
karena tekanan parsial oksigen pada kapiler tidak sama dengan tekanan parsial oksigen di sel-
sel tubuh.

Di dalam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh, oksigen digunakan untuk proses respirasi
di dalam mitokondria sel. Semakin banyak oksigen yang digunakan oleh sel-sel tubuh,
semakin banyak karbon dioksida yang terbentuk dari proses respirasi. Hal tersebut
menyebabkan tekanan parsial karbon dioksida atau (PCO2) dalam sel-sel tubuh lebih tinggi
dibandingkan PCO2 dalam kapiler vena sel-sel tubuh. Oleh karenanya karbon dioksida dapat
berdifusi dari sel-sel tubuh ke dalam kapiler vena sel-sel tubuh yang kemudian akan dibawa
oleh eritrosit menuju ke paru-paru. Di paru-paru terjadi difusi CO2 dari kapiler vena menuju
alveolus. Proses tersebut terjadi karena tekanan parsial CO2 pada kapiler vena lebih tinggi
daripada tekanan parsial CO2 dalam alveolus.

Karbon dioksida dalam eritrosit akan bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.
Akibat terbentuknya asam karbonat, pH darah menjadi asam, yaitu sekitar 4,5. Darah yang
bersifat asam dapat melepaskan banyak oksigen ke dalam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh
yang memerlukannya.

Pengangkutan karbon dioksida dari jaringan dengan pengubahan dari karbon dioksida
menjadi asam karbonat atau sebaliknya dipercepat oleh enzim karbonat anhidrase.

Apabila ion H+ tetap tinggal di dalam darah akan berakibat darah bersifat asam. Oleh karena
itu, ion H+ dinetralkan dengan ion K+. Setelah itu aliran darah kembali ke paru-paru dan
melepaskan karbon dioksida. Hal itu dapat mengurai konsentrasi karbon dioksida dan asam
karbonat. Kemudian asam karbonat diuraikan menjadi air dan karbon dioksida. Darah
melepaskan sekitar 10% karbon dioksida saat darah mengalir ke paru-paru dan sisanya yaitu
sekitar 90% tetap tertahan dalam bentuk bikarbonat (HCO3-) yang bertindak sebagai buffer
(penyangga) darah yang penting untuk menjaga agar Ph darah tetap.

Karbon dioksida yang dibentuk melalui respirasi sel diangkut menuju paru-paru. Setelah
sampai di alveolus, karbon dioksida berdifusi dari kapiler ke alveolus. Dapi alveolus, karbon
dioksida dikeluarkan melalui saluran pernafasan saat menghembuskan nafas, dan akan keluar
melalui hidung.

2.7 Mekanisme pernafasan Manusia

Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun, karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat
terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan
luar dan pernapasan dalam.

Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan
darah dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam
kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh
perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan
di luar rongga dada lebih besar, maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam
rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.

Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara ( inspirasi) dan
pengeluaran udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

1. Pernafasan Dada

Apabila kita menghirup dan menghempaskan udara menggunakan pernapasan dada, otot
yang digunakan yaitu otot antartulang rusuk. Otot ini terbagi dalam dua bentuk, yakni otot
antartulang rusuk luar dan otot antartulang rusuk dalam.

Saat terjadi inspirasi, otot antartulang rusuk luar berkontraksi, sehingga tulang rusuk menjadi
terangkat. Akibatnya, volume rongga dada membesar. Membesarnya volume rongga dada
menjadikan tekanan udara dalam rongga dada menjadi kecil/berkurang, padahal tekanan
udara bebas tetap. Dengan demikian, udara bebas akan mengalir menuju paru-paru melewati
saluran pernapasan.

Sementara saat terjadi ekspirasi, otot antartulang rusuk dalam berkontraksi


(mengkerut/mengendur), sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula. Akibatnya,
rongga dada mengecil. Oleh karena rongga dada mengecil, tekanan dalam rongga dada
menjadi meningkat, sedangkan tekanan udara di luar tetap. Dengan demikian, udara yang
berada dalam rongga paru-paru menjadi terdorong keluar.

2. Pernafasan Perut

Pada proses pernapasan ini, fase inspirasi terjadi apabila otot diafragma (sekat rongga dada)
mendatar dan volume rongga dada membesar, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada
lebih kecil daripada udara di luar, akibatnya udara masuk. Adapun fase ekspirasi terjadi
apabila otot-otot diafragma mengkerut (berkontraksi) dan volume rongga dada mengecil,
sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih besar daripada udara di luar. Akibatnya
udara dari dalam terdorong ke luar.
BAB III PENUTUP

3.1Kesimpulan

3.2Saran