Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL PENELITIAN

RESOLUSI KIPRAH KIAI SHOLEH DARAT ATAS GERAKAN


PERLAWANAN KOLONIAL BELANDA DIJAWA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Metode Penelitian Sejarah

Dosen Pengampu : Dra Putri Agus Wijayati, M.hum

Disusun oleh :

Muhammad Ali Sodikin (3101417003)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Abad ke 19 merupakan abad yang penting dalam catatan sejarah Jawa, karena pada
abad ini pemerintah kolonia Belanda secara formal telah melembagakan kekuasaannya dan
mengatur seluruh aktivitas sosial politik di Jawa. Setelah mengambil alih kekuasaan dari
tangan VOC yang bangkrut, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem
administrasinya kepada masyarakat pribumi yang sebelumnya berada di bawah para
penguasa tradisional.1

Ketamakan Belanda yang berambisi untuk menguasai seluruh wilayah Indonesia


membuat mereka harus menguasai seluruh aspek kehidupan pribumi; baik dari segi politik,
ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini bisa dilihat dari upaya-upaya yang mereka lakukan
terhadap masyarakat pribumi yakni ketatnya sistem kolonialisme bagi masyarakat Indonesia,
hususnya di Jawa. Dominasi sistim politik, eksploitasi ekonomi, diskriminasi sosial,
westernisasi kebudayaan, dan kristenisasi penduduk amat gencar dilakukan oleh mereka.2

Pelbagai tekanan yang melanda masyarakat pribumi mendorong munculnya gerakan


dan pemberontakan sosial di tengah-tengah masyarakat. Salah satu pemberontakan dan
perlawanan terbesar yang sangat merepotkan Belanda adalah perang Jawa (Java Oorlog) yang
berlangsung dalam kurun waktu 1825-1830 M. Perlawanan ini di pimpin oleh Pangeran
Diponegoro dan berlangsung di sebagian pulau Jawa.3

Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, baik dari kalangan petani maupun
priyai. Ia juga mendapatkan dukungan dari para pangeran dan para kiai serta berkoordinasi
dengan Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan. Ia
berhasil menumbuhkan semangat jihad dalam hati masyarakat sehingga banyak pasukan yang
bergabung dengannya. Karenanya, Belandapun kocar-kacir menghadapi perlawanan pasukan

1
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1, Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2013, hlm.192-196.
2
Ibid, h. 173.
3
Amirul Ulum, KH. Muhammad Sholeh Darat Al- Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara, Yogyakarta:
Global Press, 2016, h. 8.
diponegoro. Dan pada puncak peperangan Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang
serdadu. Sehingga pada Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap
Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.

Pada tahun 1829, Kyai Modjo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.


Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot
Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De
Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro
menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan.
Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke
Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.4

Setelah selesainya perang jawa pada tahun 1825-1830 M.C. Ricklef menganggap
sebagai babak baru penjajahan yang sebenarnya terhadap tanah Jawa. Hal yang demikian
terjadi karena sejak saat itu elit kerajaan mulai tergeser kedudukannya dari urusan-urusan
politik. Tergesernya elit kerajaan dari urusan politik dengan sendirinya berarti hilangnya
patronase kerajaan terhadap rakyatnya. Elit-elit kerajaan sudah kehilangan otoritasnya dalam
bidang politik dan administrasi karena sudah digantikan oleh pemerintah kolonial dan juga
elite daerah yang menjadi tangan panjang kolonial.5

Disamping itu, dampak dari perang Napoleon, Perang Belgia di Eropa, dan Perang
Diponegoro, Perang Banten, serta Perang Padri, di Indonesia menjadikan Kerajaan koloni-
koloni Belanda dan pemerintah kolonial Belanda mengalami krisis keuangan yang sangat
berat. Tertindih, hutang berat kepada East Indian Company (EIC). Demi melunasi hutang
tersebut ditugaskan kepada Goerbenur Djenderal Van den Bosch menciptakan sistem pajak
dalam bentuk natura yang dibebankan kepada petani muslim di Pulau Jawa.

Para petani Jawa dan Sunda diwajibkan menanam tanaman yang hasilnya dapat
dipasarkan di Eropa. Seperti kopi, teh, nila, tebu dan tembakau. Sistem pajak in natura ini
disebut Cultuurstelsel, Culture Sistem diterjemahkan menjadi Sistem Tanam Paksa.
Terjemahan ini sebagai akibat sistem tanam tersebut dipaksa pelaksanaannya. Oleh karena
itu, dituliskan dalam sejarah Indonesia menjadi tanam paksa, 1830-1919 M.6

4
Https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro diakses pada hari senin, 13 februari 2017, pukul 13:47 Wib.
5
M.C. Ricklef, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarya: Gadjah Mada University Press, 1992, hlm.182-184.
6
Ahmad Mansur Suryanegara, Op. Cit., h. 208.
Pasca kalahnya pangeran Diponegoro, mengangkat senjata untuk melawan kekuasaan
kolonial merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sebab di pertengahan abad ke 19 tersebut
kekuasaan Belanda sudah sedemikian melembaga. Sementara itu masyarakat masih
terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Di masa ini melawan penjajah
secara frontal sama saja dengan bunuh diri.7

Sehingga upaya yang dilakukan para ulama dalam melawan pemerintah kolonial
Belanda bukan lagi dengan menggunakan senjata perang tetapi melalui pencerahan pemikiran
yakni mencerdaskan masyarakat melalui ajaran agama yang dibungkus dengan budaya lokal.
perlawanan ini disebut dengan perlawanan kultural yaitu suatu perlawanan dengan tidak
menggunakan kekerasan yang tujuannya tidak lain agar tertanam jiwa nasionalisme dan
patriotisme dalam diri masyarakat.

Gerakan kultural ini mengambil tipe dan corak dalam gerakan Islam yang bertumpu
pada kekuatan rakyat sipil, berbekal konstruksi pengetahuan, dan megandalkan kekuatan
moral. Dari gerakan kultural ini kemudian membentuk sebuah tradisi. Disamping berperan
untuk membangun masyarakat muslim dari dikte penguasa, gerakan kultural ini juga
bertujuan untuk membentuk kehidupan yang luhur bagi pribadi-pribadi muslim.

Oleh karenanya gerakan kultural ini biasanya dilakukan dan dipimpin oleh ulama-
ulama, baik dari kalangan sufi, faqih, maupun teolog.8 Salah satu ulama yang melakukan
perlawanan dengan perlawanan kultural adalah Kiai Sholeh Darat. Ia adalah seorang ulama
yang terkenal di tanah Jawa. Kiai Sholeh Darat bernama asli Muhammad Sholeh Ibn „Umar
yang lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong Jepara, Jawa tengah pada tahun
1820.9

Ayahnya adalah Kiai „Umar. Ia seorang tokoh ulama yang cukup terpandang dan
disegani dikawasan pantai utara Jawa. Kiai Umar juga seorang pejuang perangJawa (1825-
2830), sekaligus orang kepercayaan pangeran Diponegoro di Jawa bagian utara Semarang.

7
Taufiq Hakim, Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M, Yogyakarta: Institue of
Nation Development Studies (INDeS), 2016, h. 101.
8
Tim Penulis JNM, Gerakan Kultural Islam Nusantara, Yogyakarta: Jamaah Nahdliyin Mataram (JNM)
bekerjasama dengan panitia Muktamar NU ke-33, 2015, h. 31-32.
9
Secara tepat hari, bulan dan tahun kelahirannya memang belum diketahui, namun literatur menyebutkan bahwa
ia lahir pada tahun 1820 M. Lihat, Abdullah Salim, Majmu’at as-Syari’at al-Kafiyat li al-Awam (Karya Kiai
Sholeh Darat) Suatu kajian terhadap kitab fikih berbahasa jawa akhir abad 19, Semarang: Unissula Press,
1995, h. 15
Kiai Umar beserta kawan, kolega dan santri-santrinya berjuang gigih mempertahankan
kehormatan tanah air dari jajahan Belanda.10

Ketika perang Jawa sudah mulai redam (1830), usia Kiai Sholeh Darat sudah beranjak
10 tahun. Dari sejak usia inilah ia mendapat gemblengan ajaran Islam secara intensif dari
ayahnya, kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada alim ulama kerabat ayahnya seperti
Kiai Muhammad Syahid (Waturoyo, Margoyoso, Pati), Kiai Muhammad Shaleh (Damaran,
Kudus), Kiai Ishaq (Damaran, Kudus), Kiai Abu Abdillah Muhammad Al-Hadi ibn Baiquni
(Semarang), Kiai Zahid, Kiai Darda‟ (Mangkang Wetan, Semarang Barat) dan masih banyak
lagi. Kepada para ulama tersebut Kiai Sholeh Darat mempelajari berbagai disiplin ilmu
agama seperti Gramatika Arab, Fikih, Tafsir, Hadits, Tauhid, dan Tasawuf.11

Setelah belajar ke berbagai ulama di Nusantara, Kiai Sholeh Darat kemudian


melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Beliau pergi bersama ayahnya (Kiai Umar) dan
menetap disana selam 40 tahun. Beliau berguru kepada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh
Muhammad Ibnu Sulaiman Hasbullah, Syaikh Ahmad alNakhrawi al-Mishri al-Makki,
Syaikh Muhammad Shaleh Zawawi al-Makki dan ulama-ulama yang lainnya.

Setelah menetap selama 40 tahun di Mekkah, akhirnya Kiai Sholeh Darat pulang ke
Indonesia dengan cara diculik oleh sahabatnya Kiai Hadi GiriKusumo. Indonesia pada waktu
itu masih dalam keadaan terjajah oleh Kolonial Belanda. Sehingga perjuangan Kiai Sholeh
Darat dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat Jawa terbilang sulit. Menumbuhkan
jiwa Nasionalisme dan patriotisme kepada masyarakat tidak bisa dilakukan dengan cara
terangterangan.

Oleh karenanya kemudian beliau membungkusnya melalui pendidikan keagamaan.


Hal ini membuat Kiai Sholeh Darat melakukan perlawanan terhadap para penjajah melalui
pendekatan simbolik, sebuah perlawanan kultural yang tidak menggunakan kekerasan. Nilai-
nilai nasionalisme dan model perlawanan ini diwujudkan secara implisit di dalam karya-
karyanya.12

Diantara perlawanan kultural yang dilakukan oleh Kiai Sholeh Darat adalah politik
identitas yakni keharaman memakai pakaian orang-orang di luar Islam, yang dimaksud dalam

10
Bagus Irawan dkk (editor), Biografi Kiai Sholeh Darat, dalam Syarah Al-Hikam karya Kiai Sholeh Darat,
Depok: Penerbit Sahifa, 2016, h xxvi.
11
Amirul Ulum, Op. Cit., h. 39-40.
12
Taufiq Hakim Op. Cit., h. 104.
konteks ini (abad 19) adalah pakaian para penjajah. Beliau mengatakan didalam kitabnya
sebagai berikut:

“… lan dadi kufur meneh wong kang nganggo penganggone liyane ahli Islam, penganggo
kang wus tertemtu maring liyane ahli Islam kebeh serta atine neqodake baguse iki penganggone serta
demen atine maring iki penganggo. Lan haram ingatase wong Islam nyerupani penganggone wong liya
agama Islam senadyan atine ora demen. Angendiko setengahe ulama muhaqqiqin, sapa wonge
nganggo penganggone liyane ahli Islam koyo kelambi, jas, utawa topi, utawa dasi, maka dadi murtad,
rusak Islame senadyan atine ora demen. Alhasil, haram dosa gede ingatase wong Islam tiru tingkah
polahe liyane ahli Islam ing ndalem perkarane penganggo utawa tingkah polahe mangan senadyan
atine ora demen. Anapun lamun demen sak hal dadi murtad senadyan ora nganggo panggonane
kerono wong kang demen kufur yo dadi kufur, wong kang demen maksiat yo dadi maksiat, senadyan
ora ngelakoni maka ati-atiyo ta siro.”13

Artinya:“…dan menjadi kufur lagi orang yang memakai pakaian (seperti) kelompok yang
bukan Islam, pakaian yang sudah didesain untuk orang nonIslam, serta hatinya yakin bahwa
pakaiannya itu bagus dan hatinya juga senang terhadap pakaian tersebut. Dan haram bagi orang
Islam menyerupai pakaiannya orang lain yang tidak beragama Islam walaupun hatinya tidak
menyukai pakaian tersebut. Sebagian ulama ahli hakikat (muhaqqiqin), menyatakan barangsiapa saja
yang memakai pakaian (seperti) kelompok orang yang bukan Islam seperti baju, jas, atau topi atau
dasi, maka orang itu menjadi murtad, rusak Islamnya, meski dia tidak menyukai pakaian tersebut. Dan
apabila dia suka dengan pakaian itu, maka sejak itu pula dirinya langsung murtad meskipun dia tidak
memakai pakain tersebut. Sebab orang yang sukadengan tradisi kafir, maka menjadi kafir, orang suka
dengan maksiat maka menjadi maksiat, meski tidak menjalaninya, maka hati-hatilah kalian.”

Pemikiran Kiai Sholeh Darat diatas menandakan sebuah perlawanan kultural atas
penajajah di Jawa kala itu. Sebab, imperialisme Belanda tidak hanya berupaya untuk
menguasai sektor politik dan ekonomi semata, melainkan juga mencoba untuk menguasai
sektor sosial dan budaya. Penguasaan terhadap budaya ini merupakan strategi yang paling
ampuh untuk memperkuat basis kekuasaan imperialis disegala bidang. Sehingga pada masa
selanjutnya, masyarakat Jawa akan tercabut dari akar budayanya. Ketika sebuah masyarakat
tercabut dari akar budaya dan nilai-nilai tradisinya, maka dirinya akan mudah dipengaruhi,
dikuasai dan diombang-ambingkan kesana kemari.14

Ketika politik dan ekonomi sudah dikuasai Belanda, maka ranah kebudayaan jangan
sampai turut dikuasai oleh kaum penjajah. Kiai Sholeh Darat mencoba melawan penjajah
dengan perlawanan kultural, yakni dengan melarang, bahkan mengharamkan dirinya, murid-

13
Sholeh Darat, Majmu’at As-Syari’at Al-Kafiyah Li Al-‘Awam, Semarang: Toha Putera, h. 24-25.
14
Taufiq Hakim, Op.Cit., h. 119.
muridnya, dan masyarakat muslim pada umumnya untuk tidak mengenakan pakaian
sebagaimana pakaian orang-orang Belanda seperti topi, jas, dan dasi.

Keharaman megikuti tatacara berpakaian orang kafir sejatinya ialah melawan


berbagai bentuk infiltrasi, penetrasi, dan dominasi budaya asing kedalam budaya pribumi.
Secara implisit, hal ini merupakan seruan tentang perlunya berpegang teguh dan melestarikan
budaya pribumi.15

Karena budaya merupakan cermin dari kepribadian sebuah masyarakat, bangsa, dan
negara. Jika imperialisme kebudayaan pada dasarnya adalah pembunuhan terhadap
kepribadian sebuah bangsa. Maka disinilah semangat Kiai Sholeh Darat terlihat yakni melalui
politik identitas sebagai gerakan perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda pada abad
19. Berawal dari latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji perlawanan kultural
Kiai Sholeh Darat terhadap penjajah Belanda dengan judul “Resolusi Kiprah Kiai Sholeh
Darat atas Gerakan Perlawanan Kolonial di Jawa ”.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang diatas, maka penulis kemudian membuat rumusan
masalah untuk diteliti sebagai berikut. Bagaimana usaha yang dilakukan oleh Kiai Sholeh
Darat dalam perlawanan untuk menghadapi koloni-koloni pada masa itu. (1).Apa bentuk
perlawanan kultural Kiai Sholeh Darat pada abad 19 ? (2). Serta dimanakah tempat
peramakali yang dijadikan sebagai pusat gerakan kultural ? (3). Sampai kapan gerakan yang
dikiprahkan Kiai Sholeh untuk membetuk perlawanan kolonial ? (4). Apakah kiprah yang di
gerakan oleh Kiai Sholeh berpengaruh terhadap kultural, ? (5) Dan mengapa Kiai Sholeh
melakukan resolusi pada masa kolonial. ?

C. Tujuan dan Signifikansi Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan:

a. Untuk mengetahui Resolusi Kiprah Kiai Sholeh Darat dalam melawan Kolonialisme

b. Untuk mendeskripsikan bentuk perlawanan kultural Kiai Sholeh Darat pada abad 19.

15
Ibid., h. 120.
2. Signifikansi Penelitian

Dari segi teoritis ialah, kami berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu sejarah, khususnya sejarah kebudayaan Islam di Indoensia. Karena
penelitian tentang Nasionalisme Kiai Sholeh Darat (Gerakan Perlawanan kultural Abad ke
19) ini menjelaskan tentang sosok seorang ulama yang melawan penjajah Belanda bukan
dengan menggunakan senjata perang melainkan dengan perlawanan kultural atau budaya
seperti politik identitas, sehingga pembahasan ini menarik untuk dikaji. Dan bagi pihak-pihak
yang berminat dalam kajian seputar Nasionalisme ulama dapat menjadikan hasil penelitian
ini sebagai bahan studi, atau penelitian serupa.

Dari aspek Praktis Hasil penelitan ini bisa dimanfaatkan dan dijadikan sebagai koleksi
terhadap penelitian tentang Kiai Sholeh Darat dan peranannya terhadap perkembangan Islam
di Indonesia. Metode Penelitian Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah
untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
D. KAJIAN PUSTAKA

Kyai adalah seseorang yang mengajarkan pengetahuan agama dengan cara


berceramah, menyampaikan fatwa agama kepada masyarakat luas16 Kyai secara etimologis
(lughotan) menurut Adaby darban kata kiyai berasal dari bahasa jawa kuno “kiya-kiya” yang
artinya orang yang dihormati17

Selain itu ada pula yang mengartikan "man balagha sinnal arbain", yaitu orang-orang
yang sudah tua umurnya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan18 Sedangkan secara
terminologi kyai menurut Manfred Ziemek adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren
yang sebagai muslim “terpelajar”telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta
menyebarluaskan danmendalami ajaran-ajaran, pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan
Islam.19

Sementara dalam kehidupan politik, menurut Amin Rais, Haedar nasir pernah
menyitir tipologi kyai yang membagi menjadi tiga yaitu: pertama kyai yang menguasai kitab
kuning tetapi berwawasan dan berilmu terbatas. Pada tipe ini menurutnya keberadaan kyai
tidak memberi kontribusi yang berarti dalam kehidupan demokrasi. Kedua kyai yang
memiliki kemampuan handal dalam penguasaan ilmu agama, selain itu juga memiliki
penguasaan cakrawala yang tidak sempit dalam perubahan dan perkembangan zaman. Tipe
kedua ini memiliki sikap modernis dan mempunyai kontribusi positif terhadap kehidupan
demokrasi. Ketiga kyai yang masuk serta terjun langsung dalam dunia politik praktis yang
sebenarnya terkadang hal ini menjadi penghambat perkembangan dunia demokrasi20. Selain
itu kyai ini memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan yang dia peroleh dari para kyai
paling disegani dalam komunitas pondok pesantren21

Dari beberapa tipologi kyai ini, bisa berpengaruh pada pola kepemimpinan yang
berbeda. perilaku dan kemampuan membina hubungan dengan publik yang bermacam-
macam pula. Namun dalam prinsip public relations, bagaimanapun tipe seseorang mereka
harus mampu menjalin hubungan baik dengan seluruh stakeholdernya dengan disesuaikan

16
Sukamto. Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, (Jakarta: IKAPI, 1999), hlm 85.
17
M.Dawam Raharjo dkk. Pesantren dan Pembaharuan. (Jakarta: LP3ES. 1988), hlm. 32.
18
http://belalangmalang.blogspot.com/2013/04/pengertian-nama-kyai-dan-santri.html
Dikses pada tanggal 24 juni 2013.
19
Manfred Ziemek. Pesantren dalam perubahan sosial (jakarta: P3M. 1986), hlm 131.
20
Kuntowijoyo dkk, Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru, (Bandung:
Mizan, 1995 ),hlm. 56.
21
Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren,(Yogyakarta: LKIS. 2004), hlm. 236.
pada konsen kemampuan masing-masing yang dimiliki kyai. Penciptaan karakter yang positif
akan membantu mencapai hasil yang dikehendaki.

Pada hakikatnya seluruh perilaku yang dilakukan oleh seseorang akan berpengaruh
terhadap persepsi publik. Dan persepsi inilah yang nanti akan membawa pada kepercayaan
dan opini publik yang menyenangkan sehingga tujuan yang dikehendaki bisa tercapai.

2. Biografi Kiai Soleh Darat

a. Nama dan Tempat Kelahiran

Nama yang diberikan oleh orang tuanya sebenarnya adalah Muhammad Saleh. Ayahnya
bernama K.H. Umar. Tempat kelahirannya di desa Kedung Cumpleng, kecamatan Mayong,
Jepara. Kapan kelahirannya yang tepat sulit diketahui, tetapi menurut perkiraan sekitar tahun
1820 M.22 Hari dan kelahiran beliau yang pasti tidak didapatkan. Keterangan tempat lahir
beliau ini berdasarkan keterangan dari KH. Fakhruzzi yang mendapat informasinya dari K.
Abdullah yang sedaerah dengan Kiai Saleh di desa Kedung Cumpleng.

Meskipun nama beliau yang biasa tertulis pada kitab--kitabnya "Haji Muhammad Shaleh bin
Umar" namun di kalangan para kiai dan orang awam beliau dikenal dengan nama sebutan
"Kiai Saleh Darat". Disebut demikian karena beliau tinggal di daerah Darat kawasan
Semarang dekat pantai. Jika beliau menuliskan namanya sendiri juga memakai tambahan
'Darat', hal ini terdapat pada berbagai kitabnya seperti kitab “Hadits Al­-Ghoity lan Syarah
Barzanji”, Kitab “Lathoifut Toharoh Wa asroru al­-Shalat23 dan juga surat balasan beliau
yang ditujukan kepada penghulu Keraton Surakarta.24

b. Keluarga Kiai Saleh

Kiai Saleh pernah menikah tiga kali, pertama ketika beliau masih di Makkah, dari pernikahan
ini beliau dikaruniai seorang anak laki--laki yang diberi nama "Ibrahim". Ketika beliau
pulang ke Jawa, putranya tetap berada di Makkah, sedang istrinya telah wafat dan Ibrahim
tidak mempunyai keturunan. Setelah berada di Semarang, beliau diambil menantu Kiai
Murtadlo, teman karib ayahnya. Dijodohkan dengan Shofiyah. Dari pernikahan ini beliau
dikaruniai dua orang putra anak laki--laki yaitu: Yahya dan Cholil, kedua putra ini, Cholil
yang mempunyai keturunan.

22
23
24
Menikah yang ketiga kalinya dengan Aminah, putri Bupati Bulus Purwarejo -keturunan Arab.
Di antara keturunannya Siti Zahrah, dinikahkan dengan seorang santrinya Kiai Dahlan dari
Termas. Dari pernikahan ini Dahlan dikaruniai dua anak yaitu Rahmat dan Aisyah. Kiai
Dahlan meninggal di Makkah ketika menunaikan ibadah haji. Kemudian Siti Zahroh
dinikahkan dengan Kiai Amir, juga santrinya. Pernikahannya dengan Kiai Amir tidak
mempunyai keturunan.

c. Masa Pendidikan

Sebagaimana umumnya anak seorang kiai, masa kanak--kanak dan remajanya dilewati
dengan belajar mengaji Al--Qur'an dan mempelajari berbagai macam ilmu agama.
Pendidikannya diperoleh dari Kiai Haji Syahid -ulama besar di Waturoyo, Kajen Margoyoso
Pati Jawa Tengah. Pesantren Kiai Syahid sampai saat ini masih berdiri. Konon kabarnya KH.
Syahid adalah cucu KH. Ahmad Mutamakin yang hidup semasa dengan Paku Buana II
(1727--1749).

Setelah berguru kepada Kiai Syahid, beliau diajak oleh ayahnya ke Semarang. Di kota ini
tampaknya beliau masih terus melanjutkan memperdalam ilmu agama kepada para ulama di
Semarang. Hanya saja sulit di lacak siapa saja guru--guru beliau di kota ini. Menurut sumber
dari keluarga di Semarang, beliau berguru pada KH. Ishaq Damaran, Kiai Abdullah
Muhammad Hadi Banguni Mufti Semarang, Kyai Ahmad Bafaqih Ba'Alawi dan berguru
pada Kiai Abdulghani Bima. Nama yang terakhir ini adalah teman Syeikh Kholil Bangkalan
waktu belajar di Makkah. Juga berguru pada KH. R. Muhammad Saleh Asnawi Kudus.

Beliau juga 'nyantri' di pondok pesantren Dondong Mangkang Wetan dalam asuhan Kiai Abu
Darda', dengan Kiai Murtadlo di Darat Semarang yang akhirnya diambil menantu.
Tampaknya sebelum akhirnya tinggal dan menetap di Semarang beliau diajak ayahnya ke
Singapura, kurang jelas kepentingannya apa, tetapi menurut berbagai arsip abad 19,
Singapura tampaknya memiliki hubungan yang sangat erat dengan Hindia Belanda.

Hal ini dapat dilihat misalnya agen--agen haji Indonesia banyak di dirikan di negeri itu7.
Singapura juga menjadi transit para jama'ah haji Indonesia. Di masa KH. Saleh Darat telah
mengarang berbagai kitabnya, banyak karyanya yang diterbitkan di Singapura. Dari
Singapura beliau langsung berangkat mendalami ilmu agama ke Makkah.
Di pusat agama Islam ini beliau mengkaji ilmu agama pada beberapa orang guru antara lain
Syeikh Muhammad Al--Muqry, Syeikh Muhammad Sulaeman Hasbullah, Syeikh Sayid
Muhammad Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrowi, Syeikh Sayid Muhammad Shaleh
Zawawi, Syeikh Syahid, Syeikh Sayid Umar Asy-Syani, Syeikh Yusuf Al--Misri, dan Syeikh
Jamal Mufti Al--Hanafi.

Ketika belajar di Makkah banyak teman--temannya dari Indonesia juga tengah menimba ilmu
di sana. Kawan--kawan beliau di sana antara lain K.H Muhammad Nawawi Banten, KH.
Kholil Bangkalan Madura. Sedangkan KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng pernah menjadi
muridnya waktu di Makkah, dan menurut informasi KH. Abdurrahman Wahid8, beliau
berguru ke KH. Saleh Darat di pondok pesantren di Semarang.

Kapan beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Semarang, agak sulit dipastikan.
Tetapi dalam salah satu arsip di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) daerah di
Semarang, waktu kepulangannya dari Singapura, beliau dipanggil menghadap Regent
(Bupati) pada tanggal 16 Maret 1883. Menurut dugaan penulis kepulangan beliau dari
Singapura tersebut mungkin sudah dengan keperluan lain, bukan kepulangan dari belajar di
Makkah atau haji, tetapi mungkin sudah dalam keperluan mengajar mengaji di Singapura,
atau urusan terhadap karya kitabnya yang diterbitkan di Singapura.

d. Mengasuh Pesantren Darat Semarang

Sulit mendapatkan data secara tepat kapan berdirinya pondok pesantren Darat. Kesulitan ini
terjadi karena memang tidak adanya bukti otentik tentang masalah ini. Walaupun banyak
karya--karya tulis Kiai Sholeh darat, tidak ada yang mengungkap perihal pesantrennya.
Namun ada beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam rangka mencari kapan berdirinya
pesantren Kiai Sholeh Darat. Pertama, dapat dianalisis dari masa akhir pendidikan Kiai
Sholeh Darat. Kedua, dari karya-karya Kiai Saleh Darat.

Abdullah Salim menduga bahwa pondok pesantrennya didirikan sekitar tahun 1880-an.
Tahun ini hanya suatu dugaan dari salah seorang keturunan Kiai Sholeh Darat, karena pada
tahun sekitar itu ia berada di Semarang dan memilih daerah Darat sebagai tempat tinggalnya.
Jika dugaan ini benar, maka pondok pesantren Darat adalah pondok pesantren yang cukup tua
di kota Semarang9.

Letak pondok pesantren darat di Semarang utara dekat pantai, lebih kurang 2 km dari jantung
kota Jl. Bojong. Pada waktu itu ciri--ciri pesatrennya tidak jauh berbeda dengan pondok
pesantren pada umumnya. Sebuah surau besar papan kayu jati dan sebuah asrama untuk para
santri serta rumah Kiai. Sekarang ini bangunan asramanya sudah diubah dan dijadikan tempat
tinggal biasa. Para santri yang menuntuk ilmu di pesantren sebagian dari dalam kota dan
sebagian dari luar kota. Dari dalam kota antara lain dari Kampung Pencikan (Ali Barkan),
Kampung terboyo (Kiai Sya’ban), Kampung Kauman (Kiai Sahli), dll. Sedang dari luar kota
antara lain dari Kendal, Pekalongan, Sayung Demak, Bareng, Rembang, Salatiga,
Yogyakarta, Tremas, dll.

Usia pondok pesantren ini berakhir sampai dengan wafat Kiai Sholeh darat 1903. Setelah
Kiai Saleh Darat wafat, salah seorang santrinnya yang senior, Kiai Idris dari Sala, telah
memboyong sejumlah santri pesantren darat ini dan di bawa ke Sala. Di Sala inilah Kiai Idris
menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, Sala10. Menurut Abdullah Salim, pada
tahun terakhir dari kehidupan pondok pesantren Kiai Saleh Darat, jumlah santri lebih dari
seratus orang. Salim mengidentifikasi 19 santri. Setelah saya melakukan wawancara dan
menggali sumber--sumber, saya mendapat beberapa tambahan yang ternyata para santri yang
memiliki pengaruh sangat luas pada masanya. Adapun dari beberapa santri yang nama
mereka cukup terkenal, khususnya di kalangan santri Jawa Tengah, dan beberapa di antara
mereka dikenal di tingkat Nasional, antara lain:

 K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri N.U. (w. 1366 H/1947)


 K.H. Mahfud Tremas (w. 1338 H/1920 M)
 K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (w. 1329 H/1919)12
 K.H.R. Dahlan Tremas, ahli falak ia di ambil menantu Kiai Saleh Darat,13 (w. 1357
H / 1939 H) Karya beliau antara lain kalender waktu solat abadi, di Masjid As-Sajad
Sendangguwo kalender tersebut masih ada sampai sekarang, saya kutip di bawah.
 KHM. Moenawir,14 pendiri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.
 Kiai Dahlan, Sarang Rembang.15
 KH. Abdus Syakur al-­Sauda’i bin KH. Muhsin, Sarang, Rembang.16
 Kiai Amir (w. 1357 H/1939) Pekalongan, menantu Kiai Saleh Darat.
 Kiai Idris, Sala. Nama aslinya Slamet (w. 1341 H/1927 M) yang menghidupkan
kembali Pondok Pesantren Jamsaren yang didirikan Kiai Jamsari.
 Kiai Abdullah, Bandungrejo, Mranggen ayah Kiai Haji Fadzil, saat saya temui beliau
berumur 106, kelahiran 1894 M, sekarang telah wafat .
 KH. Abdullah Sajad (w. 1917 M) pendiri Psantren Sendangguwo, sekarang, pesantren
ini sekarang telah berkembang menjadi banyak dibawah asuhan para cucunya.
 KH. Sya’ban bin Hasan (w. 1364 H/1946 M), kampung Wot Prau Semarang,
termasuk ahli falaq pada zamannya.
 KH. Abdul Hamid (w. 1348 H/1930 M), Kendal. Sebuah kitab karangannya “Al-
Jawahir al­Asami fi Manaqibi Syeikh Abdul Qadir Jailani”.17
 KH. Tohir, putra Kiai Bulqin penerus Pondok Pesantren Mangkang Wetan, Semarang
Barat.
 KH. Sahli, Kauman Semarang.
 KH. Dimyati, Tremas, kakak kandung Kiai Dahlan.18
 Kiai Khalil Rembang.
 KH. Ridwan bin Mujahid Semarang, karyanya “I’anatul ‘Awa fi Mufhimmati Syara’
Al­Islam”.
 Kiai Abdussamad, Surakarta, ayah dari Kiai Muhab Arifin.
 Bapak Ali Barkan, Semarang.
 Kiai Penghulu Tafsir Anom, penghulu Kraton Surakarta ayah KHR. Muhammad
Adnan.
 Kiai Yasir, Bareng, Rembang.
 Raden Sosro Saputro alias Muhammad Salim, Ajung Penghulu Landrad Banyuwangi.
Beliau menjadi santri Kiai Sholeh dan belajar beberapa kitab antara lain Kitab al-
-Bajuri, Fath al-Mu’in, I’anat Tholibin, dan Mughni al­-Muhtaj selama dua tahun.19
 Kiai Abdurrahman bin Qasidil Haq, Pendiri Pondok Pesantren Mranggen, sekarang
Futuhiyah.20

2. Kyai dan Manajemen Kepemimpinan

Nabi Muhammad adalah sosok manusia yang mampu mengubah kekufuran menjadi
keimanan, kemusyrikan menjadi ketauhidan dan kemaksiatan menjadi ketaatan hanya dalam
waktu 23 tahun.25 Beliau telah membuktikan hal itu dengan kehebatan dakwah dan
kepemimpinan beliau. Kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manajemen dalam sebuah
organisasi.

25
Iqra’ al-Firdaus, Kiat Hebat Public relations ala Nabi Muhammad SAW, (Yogyakarta:
2013. Najah. Hal 129.
Kepemimpinan secara umum diartikan sebagai kemampuan dan kesiapan yang
dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntut,
menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu
selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud atau tujuan
tertentu.26

Dalam hal ini berarti sifat-sifat perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-
pola interaksi, hubungan kerjasama antar peran, kedudukan dari satu jabatan dan persepsi dari
orang lain tentang legitimasi pengaruh. Kyai sebagai pemimpin umat, yang memiliki
pengaruh besar pada jamaahnya dan dibarengi dengan lembaga baik pondok pesantren, atau
hanya sekedar jamaah ngaji.

Memerlukan manajemen kepemimpinan yang baik yang mampu mempengaruhi


jamaah atau publik, menciptakan suasana yang mampu membuat seluruh stakeholder
melakukan aktifitas dan mendukung seluruh kegiatan atau segala yang dikehendaki oleh kyai
dalam mencapai visi dakwah Islam. Sifat-sifat perilaku pribadi dan pola interaksi kyai
diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin yang benar-benar menjadi uswatun hasanah
atau suri tauladan yang baik bagi publik.

Dimana kepemimpinan secara luas diartikan sebagai proses-proses mempengaruhi,


yang mempengaruhi interpetasi mengenai peristiwa bagi para pengikut, pilihan dari sasaran-
sasaran bagi kelompok atau organisasi, pengorganisasi dari aktivitas-aktivitas kerja untuk
mencapai sasaran tertentu, motivasi para pengikut untuk mencapai tujuan, pemeliharaan
hubungan kerja sama dan team work, serta perolehan dukungan dari kerjasama dari orang-
orang yang berada di luar kelompok organisasi.27

BAB III

26
Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Suoervisi Pendidikan,
(Jakarta: Bina Aksara 1988), hlm. 1.
27
Yusuf Udaya dkk, Kepemimpinan dalam Organisasi, (Jakarta: Iskandarsyah, 1998.), hlm.4
METODE PENELITIAN

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu.28 Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian merupakan cara untuk memperoleh suatu pengetahuan dilengkapi dengan


data empiris yang memadai. Data empiris diperoleh dengan cara melakukan pengamatan
terhadap suatu fenomena. Penelitian juga diartikan sebagai suatu proses kegiatan yang
mempunyai tujuan untuk mengetahui sesuatu hal secara teliti dan kritis guna mendapatkan
fakta-fakta yang diikuti dengan penggunaan langkah-langkah tertentu.

Berdasarkan permasalahan yang diangkat, jenis penelitian yang digunakan kali ini
adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan mekanisme kerja penelitian
yang berpedoman pada penilaian secara subjektif, yakni bukan berisi angka melainkan
berorientasi pada kualitas data yang diperoleh. Selanjutnya corak penelitian ini adalah
penelitian lapangan, yaitu melakukan pengamatan atau observasi terhadap objek yang akan
diteliti, wawancara secara kualitatif terhadap narasumber, dan melakukan pemeriksaan
kebenaran data yang diperoleh..

Jenis penelitian ini adalah Library Research (penelitian pustaka) yaitu penelitian yang
menggunakan buku-buku sebagai sumbernya.29 Penulis akan menelusuri dan menelaah
bahan-bahan pustaka atau literatur-literatur yang terkait dengan permaslahan tersebut di atas.
Adapun sifat penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atau
gambaran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan atau fenomena yang diselidiki.
Sedangkan penelitian kualitatif adalah bertujuan untuk menghasilkan data deskriptif, berupa
kata-kata lisan atau dari orang-orang dan prilaku mereka yang diamati.30 Dalam penelitian ini
yang diteliti adalah upaya Kiai Sholeh Darat dalam menumbuhkan semangat nasionalisme
melalui Gerakan Perlawanan Kultural Abad 19.

2. Pendekatan Penelitian

28
Sugiyono, Metode penelitian kuantitataif, kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabet, 2009, h. 2
29
Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: LkiS, 1990, h.9
30
Lexy J moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: CV Remaja Rosdakarya, 2000, h. 3
Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Kata historis berasal dari bahasa
Inggris “History” yang artinya sejarah24. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), historis adalah berkenaan dengan sejarah, bertalian atau ada hubungan dengan masa
lampau25. Sejarah sebagai satu konstruksi merupakan satu kesatuan dan koheren (adanya
saling keterkaitan antar unsur-unsur yang membentuk kesatuan).

Periodesasi atau pembabakkan waktu adalah salah satu proses strukturasi waktu
dengan pembagian atas beberapa babak, zaman, atau periode berdasarkan kriteria tertentu.
Seperti ciri-ciri khas yang ada pada periode tertentu. Periodesasi dalam pendekatan sejarah
yang dikhususkan pada sekolah, dikategorikan pada beberapa periode yang ditentukan oleh
beberapa kriteria.

Sehingga akan terlihat beberapa fase perubahan pada setiap periode. Untuk itu,
pendekatan sejarah sangat diperlukan untuk membangun kesadaran sejarah di kalangan
pengambil kebijakan, teoritikus, maupun praktisipendidikan Islam agar mereka mampu
meletakkan tradisi ataupun masa lalu pendidikan Islam secara proposional dengan
mempertimbangkan situasi masa kini dan melihat proyeksi di masa depan.

Pendekatan sejarah dalam penelitian ini sangat penting digunakan dengan tujuan
untuk mengetahui sejarah yang ada pada objek penelitian. Hal ini dikarenakan bahwa
penelitian ini berbicara tentang proses dan kejadian yang sudah pernah terlaksana, berkaitan
dengan dinamika system pendidikan yang dialami oleh objek yang diteliti.

3. Sumber Data

Pada dasarnya tujuan melakukan penelitian adalah untuk mendapatkan suatu


kebenaran yang hakiki. Cara untuk mendapatkan kebenaran tersebut dilakukan dengan
melakukan tindakan metode ilmiah. Tujuannya adalah untuk meramalkan, mengontrol, dan
menjelaskan gejala yang diamati untuk mendapatkan suatu kebenaran yang diinginkan.

Maka dari itu, untuk mendapatkan kebenaran yang valid sesuai dengan tema pokok
penelitian ini. Ada dua bentuk sumber data dalam penelitian yang akan dijadikan penulis
sebagai pusat informasi pendukung data yang dibutuhkan dalam penelitian, yaitu sumber data
primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber data primer


Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian sebagai
sumber utama informasi yang dicari. Karena penelitian ini adalah Library Research maka
sumber data primernya adalah karyakarya Kiai Sholeh Darat seperti kitab Majmu’at as-
Syari’at al-Kafiyat li al-Awam’ Lathaif at-Thaharah wa Asrari as-Sholah, dan Munjiyat.

b. Sumber data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui pihak lain, tidak langsung diperoleh
peneliti dari subyek penelitiannya. Peneliti menggunakan data ini sebagai pendukung yang
berhubungan dengan metode penelitian sejarah. Data ini diperoleh dari berbagai buku-buku,
artikel, pendapat para ahli, atau sumber lain yang dianggap relevan dan berhubungan dengan
penelitian ini.

4. Subjek Penelitian

Penulis menentukan subjek penelitian untuk mencari informasi yang dibutuhkan


terhadap narasumber yang tepat. Subjek penelitian merupakan sumber utama dalam mencari
data penelitian, yaitu seseorang yang memiliki informasi mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan penelitian. Adapun subjek dari penelitian ini adalah kepala sekolah, perintis sekolah,
waka kurikulum dan guru sebagai subjek penelitian yang mengetahui seluk beluk terkait
dengan dinamika yang ada di sekolah. Perintis awal sekolah, kepala sekolah dan guru adalah
sebagai subjek utama dalam penelitian. Sedangkan siswa adalah sebagai subjek tambahan
dalam memberikan tanggapan terhadap dinamika yang ada di sekolah.

5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penentuan metode pengumpulan data selalu disesuaikan dengan jenis dan
sumber data yang diperoleh. Pada umumnya pengumpulan data dapat dilakukan dengan
beberapa metode, baik yang bersifat alternatif maupun komulatif yang saling melengkapi.31
untuk melengkapi keabsahan data dan menilai keabsahan pemikiran Kiai Saleh Darat, penulis
juga akan melakukan wawancara dengan beberapa responden yang dianggap memahami jejak
pemikiran Kiai Saleh Darat baik dari unsur keluarga maupun tokoh masyarakat.

Di antara informan misalnya:

31
Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Agama Islam, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2001, h. 65-66
 Dr. In‟amuzzahidin, M.Ag. Dosen UIN Walisongo dan Praktisi kolektor karya Kiai
Sholeh Darat sekaligus Ketua penggiat Komunitas Pencinta holeh Darat (Kopisoda)
Semarang.
 Muhammad Ichwan. Praktisi kolektor karya Kiai Sholeh Darat dan Sekretaris
Komunitas Pencinta Sholeh Darat (Kopisoda) Semarang.

6. Metode Analisis Data

Analisis data adalah kegiatan tentang pengolahan terhadap data yang sudah
dikumpulkan, kemudian diklarifikasi, dibedakan, dan dipersiapkan untuk disajikan dalam
bentuk hasil penelitian. Analisis sebagai tahappertengahan dari serangkaian tahap dalam
suatu penelitian, fungsinya adalah untuk mendapatkan kebenaran yang dapat dipertanggung-
jawabkan.

Di dalam melakukan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, terdapat


berbagai analisis data. Namun dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis data
interaktif karena merupakan teknik analisis data yang paling sederhana dan banyak
digunakan oleh peneliti yang bersifat kualitatif. Model interaktif mempunyai tiga komponen
yaitu, reduksi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan.

Metode analisis digunakan dalam rangka untuk menganalisis data. Tepatnya metode
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Content Analysis yakni sebagai
sebuah penelitian kepustakaan yang bersifat kualitatif dengan upaya menganalisa isi pesan
yang terkandung dalam sumbersumber tertulis secara obyektif dan ilmiah, untuk menemukan
makna dan arti dari pesan tersebut.

Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh adalah:

a. Melakukan organisir file data,

b. menggambarkan setting pengalaman dan kronologi kehidupan tokoh tersebut,

c. Mengidentifikasi data, tema-tema pemikiran dan menentukan bagianbagian yang terkait


dengan semangat nasionalisme Kiai Sholeh Darat dalam kitab-kitabnya sepert Majmu’at as-
Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam, Lathaif at-Thaharah wa Asrari as-Sholah, dan Munjiyat.

d. menganalisis kandungan makna.


.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1, Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2013,
hlm.192-196

Amirul Ulum, KH. Muhammad Sholeh Darat Al- Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara,
Yogyakarta: Global Press, 2016, h.
M.C. Ricklef, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarya: Gadjah Mada University Press, 1992,
hlm.182-184.

Bagus Irawan dkk (editor), Biografi Kiai Sholeh Darat, dalam Syarah Al-Hikam karya Kiai
Sholeh Darat, Depok: Penerbit Sahifa, 2016,

Sholeh Darat, Majmu’at As-Syari’at Al-Kafiyah Li Al-‘Awam, Semarang: Toha Putera, h.


24-25.

Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, h. 123. 17 Tim Penulis JNM, Gerakan Kultural Islam
Nusantara, Yogyakarta: Jamaah Nahdliyin Mataram (JNM) bekerjasama dengan panitia
Muktamar NU ke-33, 2015,

Sugiyono, Metode penelitian kuantitataif, kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabet, 2009, h. 2
19 Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: LkiS, 1990, h. 9 20 Lexy J moloeng, Metode
Penelitian Kualitatif, Bandung: CV Remaja Rosdakarya, 2000,

Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Agama
Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001, h. 65-66

Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Saasin, 1996), h. 49-50

Sukamto. Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, (Jakarta: IKAPI, 1999), hlm 85. 2
M.Dawam Raharjo dkk. Pesantren dan Pembaharuan. (Jakarta: LP3ES. 1988), hlm. 32. 3
http://belalangmalang.blogspot.com/2013/04/pengertian-nama-kyai-dan-santri.html Dikses
pada tanggal 24 juni 2013. 4 Manfred Ziemek. Pesantren dalam perubahan sosial (jakarta:
P3M. 1986), hlm 131.

https://www.dutaislam.com/2019/04/biografi-lengkap-kh-sholeh-darat-dan-sejarah-pesantren-
darat.html
Biografi Kiai Saleh yang ada pada Kiai Kholil cucunya yang tinggal di bekas rumah dan
pondok Kiai Saleh di Darat Lasimin Semarang.

[4] Saleh Darat, Lathoifut Toharoh Wa Asror al-Solat…, (Cirebon: Haji Muhammad Afif,
Pnerbit Al-Mishriyah TT), hlm. 48.

[5] PP. Thoriqoh Mu’tabaroh, Dokumentasi dan Keputusan Konggres ke V, (Semarang:


Jam’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh di Madiun, 1975), hlm. 87.

[6] Biografi, Ibid.

[7] Dua agen yang sangat terkenal di Indonesia adalah agen Herklots dan Firma Al-Segof.

[8] Mantan Presiden RI, bertemu di Ciganjur, Jakarta Selatan.

[9] Abdullah Salim, Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat lial-‘Awam…, hlm. 37-39.

[10] Abdullah Salim, Ibid, hlm. 40.

[11] Afton Ilman Huda, Biografi Mbah Sidiq, (Jember: Pon Pes Al-Fatah, TT), hlm. 10.

[12] Ahmad Adaby Darban, Sejarah Kauman, menguak identitas Kampung


Muhammadiyah,(Yogyakarta: Tarawang, 2000), hlm. 40.
[13] Muhammad SH, Mengenal Pondok Tremas dan Perkembangannya, (Tremas: Perguruan
Islam Pondok, 1986), hlm. 34.

[14] Team Research Ponpes Al-Munawir, KHM. Moenawir, pendiri pondok pesantren
Krapyak,(Yogyakarta: PP. Krapyak, 1975), hlm. 5.

[15] Maemun Zubeir, KH. Biografi Pendiri Pesantren Sarang Rembang dan Sekitarnya,
(Rembang: Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, TT), hlm. 21.

[16] Ibid, hlm. 34-35.

[17] Siradjuddin Abbas, KH, Thobaqatu al-Syafi’iyah dan Kitab-kitabnya dari Abad ke Abad,
(Jakarta: Pn. Pustaka Tarbiyah, 1975).

[18] Muhammad SH, Ibid, hlm. 33.

[19] Pijper, G.F., Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, (Jakarta:
Pn. UI-Press, , 1985), hlm. 96-97.

[20] Wawancara dengan putranya, KH. Ahmad Mutohar, 9 September 2001. Beliau adik Kiai
Muslih Abdurrahman.

[21] Tafsir Faidurrahman saya dapatkan pada K. Muzayyin, Semarang.


[22] Saleh Darat, KH., Kitab Tafsir Faidurrahman, selesai Muharram 1311 H/1893/94 M dan
dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir.

[23] Saleh Darat KH, Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat, selesai ditulis pada
tanggal 7 Muharram 1314 H/1896/97 M.

[24] Saleh Darat, Kitab Jauharot al-Tauhid, (Cirebon: Percetakan Al-Mishriyah, TT).

[25] Saleh Darat, KH, “Iki Kitab Fasholatan Wong ‘Awam….(Singapura: Hak cetak oleh
Haji Muhammad Amin, Kampung Melayu Lorong Pahang pada tahun 1315 H/ 1897/98 M),
hlm. 48.

[26] Saleh Darat KH, “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul
Majaalis” (Singapura: Dicetak penerbit Haji Muhammad Amin Singapura).

[27] Saleh Darat, “Hadza al-Kitab Matn al-Hikam” yang selesai ditulis pada tahun 1289
H/1870/1 M. (Semarang: Toha Putra, TT), hlm.

[28] Saleh Darat, “Hadzihi Kitab Munjiyat…” selesai ditulis 1307 H/ 1889/90 M. (Cirebon:
Cetakan ketiga percetakan Al-Mishriyah).

[29] Saleh Darat, Hadza Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah Lial-‘Awam…, (Cirebon:
Maktabah Al-Misriyah, cetakan ulang Toha Putra.

[30] “Hadza al-Kitab Matn al-Hikam”, hlm. 2.


[31] Tulisan tangan tetapi tercetak, jadi termasuk teks bukan naskah.

[32] Ibid, hlm. 2.

[33] Ibid, hlm. 2-3.

[34] “Hadzihi Kitab Munjiyat…” selesai ditulis 1307 H/ 1889/90 M. (Cirebon: Cetakan
ketiga percetakan Al-Mishriyah, cetak ulang Toha Putra Semarang.

[35] Abdullah Salim, As Sabru wa sy-syukru (sabar dan sukur) dalam Kitab
Munjiyat…...oleh Syeikh Muhammad Salih bin Umar As-Samarani, (Semarang: Universitas
Islam Sultan Agung, 1979/80), hlm. 14-15.