Anda di halaman 1dari 6

Hasil Kuis 1 Magang PPATK

Senin, 24 Juni 2019


Jawaban Nomor Satu
Bagaimana pengaturan tindak pidana pencucian uang (money laundering) di Indonesia?,
Dalam konteks di Indonesia pengaturan utama Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dapat
ditemui dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) yang sebelumnya menggantikan Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003.
Dalam UU TPPU tidak secara eksplisit mendefinisikan Pengertian tindak pidana pencucian uang.
Akan tetapi secara implisit maksud dari TPPU yaitu Perbuatan menyamarkan atau
menyembunyikan uang atau harta kekayaan dari hasil tindak pidana.

TPPU dapat dikelompokkan dalam 2 klasifikasi, yaitu TPPU aktif dan TPPU pasif. Penekanan
utamanya yaitu TPPU aktif sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 3 dan 4 UU TPPU, lebih
menekankan pada pengenaan sanksi pidana bagi Pelaku pencucian uang sekaligus pelaku
tindak pidana asal; atau Pelaku pencucian uang, yang mengetahui atau patut menduga bahwa
harta kekayaan berasal dari hasil tindak pidana. Sedangkan TPPU pasif sebagaimana
dirumuskan dalam Pasal 5 UU TPPU lebih menekankan pada pengenaan sanksi pidana bagi
Pelaku yang menikmati manfaat dari hasil kejahatan; atau Pelaku yang berpartisipasi
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan.

Cakupan pengaturan sanksi pidana dalam UU TPPU meliputi tindak pidana pencucian uang
yang dilakukan oleh orang perseorangan, tindak pidana pencucian uang bagi korporasi, dan
tindak pidana yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang. Selain itu UU TPPU juga
mengatur berbagai hal dalam upaya untuk memberantas dan mencegah tindak pidana pencucian
uang, yaitu:
1. Kriminalisasi perbuatan pencucian uang;
2. Kewajiban bagi masyarakat pengguna jasa, Lembaga Pengawas dan Pengatur, dan Pihak
Pelapor;
3. Pengaturan pembentukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
4. Aspek penegakan hukum; dan
5. Kerjasama.
Jawaban Nomor Dua
Regulasi yang mengatur tentang tindak pidana pencucian uang berupa undang-undang,
Peraturan Pemerintah, Peraturan Perbankan, dan peraturan lainnya.
Undang-Undang
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan
International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999
(Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme, 1999)

Peraturan Perbankan
1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/17/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha Bank
Berupa Penitipan dengan Pengelolaan (Trust)
2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/10/PBI/2017 tentang Penerapan Anti Pencucian
Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Penyelenggara Jasa Sistem
Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing
Bukan Bank
3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum
4. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 12/ 9 /PBI/2010 tentang Prinsip Kehati-hatian dalam
Melaksanakan Aktivitas Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri oleh Bank Umum
5. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

Peraturan Lainnya
1. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2015 tentang Pihak Pelapor Dalam Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyampaian Data dan
Informasi Oleh Instansi Pemerintah dan/atau Lembaga Swasta Dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
3. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2016 tentang Peraturan Pemerintah tentang
Pembawaan Uang Tunai dan/atau Instrumen Pembayaran Lain Ke Dalam atau Ke Luar
Daerah Pabean Indonesia
4. Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden
Nomor 6 Tahun 2012 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
5. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017 tentang Penerapan
Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa
Keuangan
6. Peraturan Bersama Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia, Kepala Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan,
Dan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Nomor 4 Tahun 2017 Nomor 1 Tahun
2017 Nomor 9 Tahun 2017 Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pencantuman Identitas
Orang Dan Korporasi Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal
Dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang Atau Korporasi Yang
Tercantum Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal.
7. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01 tahun 2013 tentang Tata Cara Penyelesaian
Permohonan Penanganan Harta Kekayaan dalam Tindak Pidana Pencucian Uang atau
Tindak Pidana Lain.

Jawaban Nomor 3
Tindak Pidana asal (predicate crime) apa saja yang diatur dalam Undang-undang No. 10 Tahun
2010. dalam pasal 2 ayat (1) ada beberapa tindak pidana asal yang berujung pada tindak pidana
pencucian uang, terdiri dari:
a. korupsi
b. penyuapan
c. narkoba
d. psikotropika;
e. penyelundupan tenaga kerja;
f. penyelundupan migran;
g. di bidang perbankan,.
h. di bidang pasar modal;.
i. di bidang perasuransian;
j. kepabeanan;
k. cukai;
l. perdagangan orang;
m. perdagangan senjata gelap;.
n. terorisme;.
o. penculikan;
p. pencurian;
q. penggelapan;
r. penipuan;
s. pemalsuan uang;.
t. perjudian;
u. prostitusi;
v. di bidang perpajakan;
w. di bidang kehutanan;
x. di bidang lingkungan hidup;
y. di bidang kelautan dan perikanan; atau
z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih,

Jawaban Nomor 4
Hubungan antara predicate crime dengan follow up crime terletak pada harta kekayaan yang
didapatkan dari tindakan pidana. Tindak pidana yang dimaksud adalah yang diatur dalam Pasal
2 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). Singkatnya, predicate crime dilakukan untuk
mendapatkan harta kekayaan, kemudian harta kekayaan tersebut menjadi obyek dalam follow
up crime atau tindakan pencucian uang. Tindakan follow up crime dilakukan dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan tersebut yang notabene berasal
dari tindak pidana, yaitu predicate crime. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 UU TPPU.

Jawaban Nomor Lima


Delik-delik tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
terdapat dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1).
Pasal 3
Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan
mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau
patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
Pasal 4
Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan,
pengalihan hakhak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Pasal 5 ayat (1)
Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah,
sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau
patut diduganya merupakan basil tindak pidana.

Hal itu dapat dilihat dalam putusan Nomor : 878/Pid.Sus-TPPU/2016/PN.Srg. Putusan ini
menyatakan Muhammad Adam telah menempatkan, mentransfer, mengalihkan,
membelanjakan, membayarkan, menitipkan, membawa ke luar negeri harta kekayaannya
dengan menggunakan beberapa rekening yang bukan miliknya. Hal tersebut dilakukan oleh
Adam untuk menyembunyikan kekayaan hasil tindak pidana narkotika.

Jawaban Nomor Enam


Berdasarkan Putusan Nomor: 878/Pid.Sus-TPPU/2016/PN.Srg. Pelaku atas nama Muhamad
Adam alias Adam, terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika sebagaimana tertera
dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 137 huruf a dan b.
Predicate Crime yang dilakukan oleh Adam berupa tindak pidana narkotika golongan I, yaitu
pengedaran narkotika jenis shabu dan ekstasy. Sedangkan follow up crime yang dilakukan oleh
Adam berupa berupa penempatan harta kekayaan hasil tindak pidana narkotika atau predicate
crime berupa penempatan harta kekeyaan pada Penyedia Jasa Keuangan (Bank) berupa
Rekening Bank yang telah banyak terjadi mutasi transaksi yang digunakan oleh Terdakwa
dalam rangka untuk membayarkan, atau membelanjakan, menitipkan, menukarkan,
menyembunyikan atau menyamarkan atau menyimpan transaksi debit dan kredit yang telah
terbukti. Adapun pelaku dalam follow up crime antara lain: istri terdakwa Muhamad Adam
yaitu Krisna Arliana GH; Istri dari Kurir yang dibayarkan atas nama Fiah, sepupu Terdakwa di
Sulawesi dan Terdakwa kenal dengan Yuni Astuti.
Jawaban Nomor Tujuh
7. Pada dasarnya tindak pidana yang masuk kategori predicate crime merupakan kejahatan
yang memicu tindak pidana pencucian uang (money laundring). Dalam hal ini predicate crime
dan follow up crime merupakan tindak pidana yang saling berkaitan.
a. Dalam konteks Indonesia, jika terdapat pihak ketiga atau disebut sebagai pelaku pasif
yang tidak memiliki pengetahuan dengan unsur “tidak diketahui” dan “tidak patut
diduga” bahwa uang yang diterima dan digunakan berasal dari tindak pidana pencucian
uang, namun ia menggunakan atau memakai atau menerima uang tersebut maka si
pelaku pasif dapat dijatuhi pidana. Merujuk kepada kasus Edis Adelia, dimana setelah
suami nya ditahan dia masih menerima aliran dana hingga Rp 1 miliar dari suaminya
itu. Penyidik akhirnya menyimpulkan bahwa Eddies memenuhi unsur untuk ditetapkan
sebagai tersangka lantaran menerima uang dalam jumlah yang tidak wajar dari
suaminya itu, padahal Eddies mengaku tidak mengetahui jelas apa pekerjaan suaminya
itu.
b. Berdasarkan penjelasan dari UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang pasal 2 ayat 2, Ukuran “patut diduga”
adalah suatu kondisi yang memenuhi setidaknya pengetahuan, keinginan, atau tujuan
pada saat transaksi yang diketahuinya yang mengisyaratkan adanya pelanggaran
hukum. Maka dalam hal ini, yang harus dibuktikan adalah mengenai pengetahuan dari
mana asal uang tersebut.