Anda di halaman 1dari 4

Sosiologi Sastra: Pengertian dan Teorinya

JANUARY 17, 2018SIDIQDUMMY

Share this...

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Sosiologi sastra merupakan suatu jenis pendekatan sosiologis pada studi karya sastra. Artikel pada blog
ini akan mengulas tentang apa itu sosiologi sastra dan beberapa pendekatan atau teori sosiologi yang
bisa digunakan dalam studi sastra.

Rujukan utama tulisan ini adalah kontribusi artikel yang ditulis oleh sosiolog Sarah M. Corse berjudul
”Literature and Society” dalam ”Encyclopedia of Sociology” editan Borgatta dan Montgomery. Mari kita
simak terlebih dahulu ulasan singkat mengenai pengertian sosiologi sastra.

Pengertian sosiologi sastra

sosiologi sastraMengutip sosiolog Wendy Griswold, Sarah menuliskan bahwa sosiologi sastra seperti
amoeba, tak mempunyai struktur yang jelas dalam analisisnya. Secara historis, sosiologi sastra telah
menjadi area studi yang cukup terpinggirkan dalam disiplin sosiologi.

Secara umum, sosiologi sastra bisa didefinisikan sebagai studi tentang hubungan antara karya sastra dan
masyarakat. Hubungan ini bisa dua arah, yakni bagaimana konteks sosial memengaruhi penulis sastra
dalam membangun imajinasinya dan bagaimana implikasi karyanya terhadap kehidupan sosial secara
luas.

Pendekatan sosiologi mengindikasikan bahwa sastra tidak lagi bersifat otonom sebagai produk imajiner
seorang penulis. Melainkan ada kaitan erat, hubungan saling memengaruhi dan timbal balik antara sastra
dan masyarakat.
Mengkaji hubungan antara sastra dan masyarakat sebenarnya bukan fenomena baru. Bukan pula
fenomena yang lama vakum. Dari dulu hingga sekarang, banyak intelektual dan filosof masih membaca
karya plato ”The Republic”, misalnya, sebagai sebuah karya sastra yang tak lekang zaman.

Sarah M. Corse menuliskan perkembangan sosiologi sastra

”Peningkatan minat studi pada sosiologi sastra dipengaruhi oleh peningkatan studi budaya dan
metodologi dalam disiplin sosiologi. Sosiologi telah memperluas batasan metodologisnya dalam rangka
menciptakan resistensi terhadap dominasi positivisme dan peningkatan pandangan alternatif dalam
postmodernisme.”

Baca juga Postmodernisme: Definisi Sosiologis

Apa saja pendekatan atau teori sosiologi yang bisa digunakan dalam studi sastra?

Dalam tradisinya, ada beberapa teori sosiologi sastra yang umum digunakan. Berikut ini akan saya
paparkan berbagai pendekatan yang mapan dalam sosiologi sastra.

Teori refleksi

Sebagaimana yang telah disebutkan diawal, sastra dan masyarakat memiliki kaitan yang erat. Perspektif
klasik sosiologi sastra adalah meletakkan sastra sebagai informasi tentang masyarakat. Pada level
tertentu, sastra bisa dilihat sebagai sumber inspirasi tindakan sosial. Pendekatan yang mengatakan
bahwa sastra dapat dibaca sebagai informasi tentang nilai dan perilaku sosial disebut pendekatan refleksi
atau teori refleksi.

Teori budaya tinggi/budaya populer

Teori ini menekankan pada pembagian karya sastra berdasarkan selera pembacanya. Beberapa karya
sastra digolongkan sebagai budaya tinggi, sisanya budaya populer atau budaya selera rendah. Kaum elit
mengonsumsi karya seni tinggi termasuk karya sastra tinggi, sedangkan massa yang jumlahnya banyak
mengonsumsi sastra populer. The Frankfurt School, aliran sosiologi bermahzab kritis menguatkan adanya
pembagian ini. Menurutnya, budaya massa, dalam hal ini karya sastra populer, memiliki kekuatan
destruktif yang ditujukan pada audiens yang pasif, diproduksi oleh industri budaya kapitalis. Konsumsi
sastra populer oleh massa merupakan pengalihan pada cita-cita revolusioner dan emansipatoris.

Teori Produksi Budaya

Teori ini merupakan pendekatan yang bisa dibilang terbaru dibanding kedua pendekatan lainnya yang
sudah disebutkan tadi. Inspirasi teori produksi budaya dalam melihat karya sastra datang dari subdisiplin
sosiologi budaya. Dilihat dengan menggunakan lensa teori ini, karya sastra merupakan objek kultural
yang diproduksi untuk membentuk kultur tertentu atau mengorganisir masyarakat atau institusi sosial
tertentu. Sastra, dengan demikian, bukan saja produk budaya, tetapi juga memproduksi kultur tertentu
dalam kehidupan sosial.

Ketiga pendekatan diatas merupakan tiga teori besar sosiologi yang jamak digunakan dalam studi sastra.
Sosiologi sastra merupakan salah satu subdisiplin dalam sosiologi yang makin meningkat popularitasnya.
Produksi karya sastra juga terus meningkat, meskipun perspektif komparatif menilai kualitasnya patut
dipertanyakan.

Hubungan antara sastra dan masyarakat

Karya sastra memiliki implikasi sosial yang luas. Sosiologi berusaha memahami semua aspek yang
berpengaruh pada kehidupan masyarakat atau bisa disebut implikasi sosialnya. Pertanyaan yang bisa
diajukan, misalnya, mengapa suatu karya sastra begitu berpengaruh dibanding yang lain? Mengapa
beberapa karya sastra banyak dibaca dan dicetak berulang? Apa yang menentukan suatu karya sastra
benar-benar dianggap ”sastra” sehingga hanya kalangan tertentu saja yang membaca. Karya sastra
tertentu mampu memberi status ”intelek” bagi pembacanya. Dengan demikian jelas bahwa suatu karya
sastra tampak memiliki otoritas lebih ketimbang yang lain.

Kita ambil contoh salah satu karya sastra terbesar yang berpengaruh, yaitu buku-buku tulisan Pramoedya
Ananta Toer. Kaum intelektual Indonesia bisa dianggap belum ”kiri” apabila belum membaca karya Pram.
Buku-buku pram memiliki pengaruh besar pada diskursus intelektual kiri. Pengaruhnya tidak hanya di
Indonesia bahkan mancanegara. Contoh ini menunjukkan adanya kaitan, hubungan dan pengaruh antara
sastra dengan diskursus intelektual dan implikasinya pada masyarakat secara luas.