Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt, atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul
“Hukum Adat Aceh” dengan lancar, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Hukum
Adat.
Walaupun penyusunan makalah ini telah disusun dengan sebaik-baiknya, namun tentu
tak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Pada akhirnya, saya
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, terkhusus untuk penulis dan umumnya untuk
pembaca.

Mataram, April 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………1
Daftar Isi…………………………………………………………………….2
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah………………………………………...……3
B. Rumusan Masalah…………………………………………………....3
C. Tujuan ……………………………………………………………….3
Bab II Pembahasan
A. Sejarah hukum adat di Aceh………………………………………...4
B. Lembaga-lembaga adat di Aceh…………………………………….6
C. Penerapan hukum dan sanksi adat di Aceh…………...………….....9
Bab III Penutup
A. Kesimpulan…………………………………………………………13
B. Saran………………………………………………………………..13
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 15

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah Aceh telah memperlihatkan adanya dinamika hubungan antara pranata sosial
masyarakat dengan syariat islam serta adat istiadat dan hukum positif yang menjadi
aturan langsung yang mengikat. Syariat islam telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Aceh,
Pelaksanaan syariat islam di Aceh merupakan buah perjuangan panjang para pejuang
syariat yang melalui masa yang panjang bahkan nyaris terputus ditengah jalan. Maka
sudah sepantasnya masyarakat Aceh bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat ini, bentuk
syukurnya pun tidak hanya sebatas bersujud syukur tetapi juga harus mempergunakan
kesempatan ini dengan semaksimal mungkin.
Pengimplementasian syariat islam di Aceh tidak lepas dari peran lembaga-lembaga
adat yang ada di berbagai tingkatan komunitas masyarakat. Lembaga-lembaga adat
tersebut memiliki otoritas yang cukup luas terhadap pelaksanaan hukum dari berbagai
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Hukum hukum yang berlaku sebelum disahkan
pemberlakuan syariat islam dalam banyak hal merujuk kepada hukum yang terbentuk
dalam masyarakat sejak dahulu. Hukum-hukum tersebut dilaksanakan oleh lembaga-
lembaga yang terdapat dan diakui oleh masyarakat sebagai salah satu sumber rujukan
pelaksanaan hukum dalam berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.
Maka dari itu dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang sejarah hukum adat,
lembaga–lembaga adat baik dari segi sejarah, tingkatan, adat yang terdapat didalamnya,
serta penerapan dan sanksi adat yang ada di Aceh.

B. Rumusan Masalah
1. Sejarah hukum adat di Aceh
2. Lembaga-lembaga adat di Aceh
3. Penerapan hukum dan sanksi adat di Aceh

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah hukum adat di Aceh
2. Untuk mengetahui lembaga-lembaga adat yang ada di Aceh
3. Untuk mengetahui penerapan hukum dan sanksi adat di Aceh

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Hukum Adat di Aceh

Sulthan Alaiddin Ali Mughaiyat Syah dicatat dalam sejarah sebagai Pembangun
Kerajaan Aceh Darussalam, dan Sulthan Alaiddin Riayat Syah II Abdul Qahhar Pembina
Organisasi Kerajaan dengan menyusun undang-undang dasar negara yang diberi nama qanun
Al Asyi, yang kemudian oleh Sulthan Iskandar Muda qanun Al Asyi ini disempurnakannya
menjadi qanun Meukuta Alam. Dengan adanya undang-undang dasar yang bernama qanun
meukuta alam ini. maka kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri atas satu landasan yang
teratur dan kuat. Dalam hal ini ,Sulthan Iskandar Muda telah berbuat banyak sekali dalam
menyempurnakan qanun meukuta alam.
Adapun Dasar dan Bentuk Negara Dalam qanun meukuta alam ditetapkan, bahwa
dasar kerajaan Aceh Darussalam yaitu Islam dan bentuknya kerajaan, yang dengan ringkas
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Negara berbentuk kerajaan, di mana Kepala Negara bergelar Sulthan yang
diangkat turun temurun. Dalam keadaan dari keturunan tertentu tidak ada yang
memenuhi syarat-syarat, boleh diangkat dari bukan turunan raja.
2. Kerajaan bernama kerajaan Aceh Darussalam, dengan Ibukota Negara Bandar
Aceh Darussalam.
3. Kepala Negara disebut Sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris Negara
yang bergelar Rama Setia Keurukon Katibul Muluk.
4. Orang kedua dalam kerajaan, yaitu Qadli Malikul Adil, dengan empat orang
pembantunya yang bergelar Mufti Empat.
5. Untuk membantu sulthan dalam menjalankan pemerintahan, Qanun menetapkan
beberapa pejabat tinggi yang bergelar Wazir (Perdana Menteri dan Menteri-
Menteri).
6. Rukun Kerajaan Qanun menetapkan empat Rukun Kerajaan, yaitu:
 Pedang Keadilan : Jika tiada pedang, maka tidak ada kerajaan.
 Qalam : Jika tidak ada kitab undang-undang, tidak ada kerajaan.
 Ilmu : Jika tidak mengetahui ilmu dunia-akhirat, tidak bisa
mengatur kerajaan.

4
 Kalam : Jika tidak ada bahasa, maka tidak bisa berdiri kerajaan.
Untuk dapat terlaksana keempat rukun tersebut dalam kerajaan, maka qanun
menetapkan empat syarat, yaitu:
 Ilmu yang bisa memegang pedang,
 Ilmu yang bisa menulis.
 Ilmu yang bisa mengetahui mengatur dan menyusun negeri.
 Ilmu bahasa.
Dalam qanun ditetapkan, bahwa “kerajaan Aceh Darussalam adalah negara hukum
yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri ditengah padang, akan tetapi rakyat
seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, lagi besar matanya, lagi panjang sampai ke
timur dan ke barat.” Sumber Hukum Qanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerajaan
Aceh Darussalam, yaitu:
1. Al Quran
2. Al Hadis
3. Ijmak Ulama
4. Qias
Dalam qanun ditetapkan, bahwa cap (setempel) negara yang tertinggi, yaitu Cap
Sikureueng (Setempel Sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling, ditengah-tengah
nama sulthan yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang sulthan yang
memerintah sebelumnya. Menurut qanun, bahwa delapan orang sulthan kelilingnya
melambangkan empat dasar hukum (Al Quran, Al Hadis, Ijmak ulama dan Qias) dan empat
jenis hukum (Hukum, Adat, Qanun dan Resam), yang berarti bahwa sulthan dikelilingi oleh
hukum.
Dalam Keadaan Perang Qanun menetapkan hukum negara dalam keadaan perang
sebagai berikut: Bahwa jika negeri Aceh diserang oleh musuh, maka sekalian anak negeri
atas nama rakyat Aceh dan bangsa Aceh, diwajibkan menolong yang kebajikan kepada negeri
dan kepada kerajaan dengan tulus ikhlas berupa apapun juga, yaitu harta dan perbuatan dan
ruh dan serta akal dan pikiran. Sekalian rakyat hendaklah memperhutangkan derham kepada
Raja bila masa perlu, dan jika menang maka kerajaan berhak mutlak membayar kembali
kepada rakyat dan anak negeri seluruhnya.

5
B. Lembaga-lembaga Adat di Aceh

Masyarakat Aceh dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya yang khas dan
mengakar sejak masa pemerintahan kerajaan, masa penjajahan sampai sekarang. Setiap adat
yang dijalankan adalah adat yang selaras dengan islam, adat hanya bisa diberlakukan apabila
tidak bertentangan dengan agama islam. Untuk menjaga dan melestarikan adat tersebut maka
dibentuklah lembaga-lembaga adat.
Dalam undang-undang pemerintah Aceh ( BAB XIII pasal 98 ayat 1 dan 2) dijelaskan
bahwa lembaga adat berfungsi dan berperan sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan pemerintah Aceh dan Kab/Kota dibidang keamanan, keteraturan,
ketentraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat. Lembaga adat sebagaiman yang
dimaksud dalam ayat 1 dan 2 meliputi:
1. Majlis Adat Aceh ( MAA)
Memiliki tugas memabantu wali naggroe dalam membina, mengkodinir lembaga-lembaga
adat sebagaimana di maksud dalam pasal 2 ayat 2 huruf b sampai huruf m. Dalam
melaksanakan tugasnya sebagaimana di maksud pada ayat 1 di bentuk susunan organisasi
dan tata kerja majelis adat Aceh sebagai mana di atur dalam Qanun Aceh.
2. Imueum Mukim
Imueum Mukim bertugas:
a. Melakukan pembinaan masyarakat
b. Melaksanakan kegiatan adat istiadat
c. Menyelesaikan sengketa
d. Membantu peningkatan pelaksanaan syariat islam
e. Membantu penyelenggaraan pemerintahan
f. Membantu pelaksanaan pembangunan.
3. Imum Chik
Imum chik bertugas:
a. Mengkoordinasikan pelaksanaan keagamaan dan peningkatan peribadatan serta
pelaksanaan syariat islam dalam kehidupan masyarakat.
b. Mengurus, menyelenggarakan dan memimpin seluruh kegiatan yang berkenaan dengan
pemeliharaan dan kemakmuran masjid.
c. Menjaga dan memelihara niali-nilai adat, agar tidak bertentangan dengan syariat islam.

6
4. Geuchik
a. Membina kehidupan beragaman dan pelaksaan islam dalam masyarakat
b. Menjaga dan memelihara adat dan istiadat yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat
c. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan gampong
d. Mengerakkan dan mendorong partisipasi masyarakat dalam membangun gampong
e. Membina dan memajukan perekonomian masyarakat
f. Memelihara pelestarian fungsi lingkungan hidup
g. Memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban serta mencegah perbuatan
masyarakat
h. Mengajukan rancangan qanun gampong kepada tuha peut gampong atau nama lain
untuk mendapatkan persetujuan
i. Mengajukan rancangan anggaran pendapatan belanja gampong kepada tuha peut
gampong atau nama lain untuk mendapatkan persetujuan
j. Memimpin dan menyelesaikan masalah-masalah sosial pemasyarakatan
k. Menjadi pendamai terhadap perselisihan antar penduduk dalam gampong
5. Tuha Pheut
a. Membahas dan menyetujui anggaran pendapatan belanja gampong
b. Membahas dan menyetujui Qanun gampong
c. Mengawasi pelaksanaan pemerintah gampong
d. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahn
dan pembangunan gampong
e. Merumuskan kebijakan gampong bersama keuchik
f. Memberi nasehat dan pendapat kepada geuchik.
g. Menyelesaikan sengketa yang timbul dalam masyarakat bersama pemangku adat.
Sebuah institusi budaya gampong yang berfungsi memberi nasehat kepada geuchik dalam
berbagai bidang kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang mausyawarah gampong. Tuha
pheut terdiri dari 4 orang tokoh yaitu, ulama,tokoh adat, tokoh mayarakat, tokoh
pemerintahan tatanan gampong. Tuha pheut dipilih langsung oleh rakyat.
6. Tuha Lapan
a. Pada tingkat gampong atau mukim dapat di bentuk tuha lapan atau nama lain sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat
b. Tuha lapan atau nama lain dipilih melalui musyawarah gampong atau musyawarah
mukim
7
c. Tuha lapan atau nama lain beranggotakan unsur tuha peut atau beberapa orang
mewakili bidang keahlian sesuai kebutuhan gampong atau mukim
d. Pengangkatan dan pemberhentian tuha lapan dan fungsinya di tetapkan dalam
musyawarah gampong atau mukim
7. Imum Meunasah
a. Memimpin, memgkoordinasikan kegiatan peribadatan, pendidikan serta pelakasaan
syariat islam dalam kehidupan masyarakat
b. Mengurus, menyelenggarakan dan memimpin seluruh kegiatan yang berkenaan dengan
pemeliharaan dan kemakmuran meunasah
c. Memberi nasehat dan pendapat kepada geuchik
d. Meneyelesaikan sengketa yang timbul dalam masyarakat bersama pemanggku adat
e. Menjaga dan memelihara nilai-nilai adat agar tidak bertentangan dengan syariat islam
8. Keujreun Blang
Perangkat lembaga adat dibidang pertanian yang berhubungan dengan sistem penggairan
sawah dan hal-hal yang berhubungan dengan sengketa yang berkaitan dengannya. Adapun
tugas-tugasnya meliputi :
a. Menentukan dan mengkoordinasikan tata cara turun ke sawah
b. Mengatur membagian air ke sawah petani
c. Membantu pemerintahan dalam bidang pertanian
d. Mengkoordinasikan kenduri atau upacara lain nya yang berkaitan dengan adat dalam
usaha pertanian sawah
e. Memberi teguran atau sanksi kepada petani yang melanggar aturan-aturan adat
bersawah atau tidak melaksanakan kewajiban lain dalam sistem pelaksanaan pertanian
sawah secara adat
f. Menyelesaikan sengketa antar petani yang berkaitan pelaksanaan usaha pertanian di
sawah.
9. Panglima Laot Pejabat adat yang bertanggung jawab atas segala ihwal yang
berhubungan dengan permasalahan pencarian rezeki di laut.
10. Panglima Glee Pejabat adat yang bertanggung jawabatas segala ihwal yang berhubungan
dengan pengelolaan sumber kehidupan di wilayah gunung, termasuk pembinaan dan
pemeliharaan lingkungan.
11. Peutuwa Sineubok
12. Hari Peukan Pejabat adat yang bertanggung jawab mengatur pembinaan ketertiban pasar
sebagai sentral ekonomi rakyat.
8
13. Syahbanda Pejabat adat yang bertanggung jawab atas urusan kapal/perahu di
pelabuhan/hulu sungai dan lainnya.
Peran Lembaga Adat Dalam Penerapan Syariat Islam adalah sebagai berikut:
1. Sebagai lembaga yang menyelesaikan sengketa dan permasalahan dalam masyarakat.
Penyelesaian setiap sengketa yang terjadi dapat dilakukan secara bertahap, terlebih
dahulu dengan cara damai melalui musyawarah pada tingkat gampong yang melibatkan Tuha
Peut, Tuha Lapan, Geuchik. Jika pada tingkat gampong tidak bisa diselesaikan maka akan
dialihkan kepada tingkan kemukiman. Pada tingkat kemukiman penyelesaian perkara
dipimpin oleh Imuem Mukim yang melibatkan tokoh adat ditingkat mukim. Adapun kategori
perkara yang diselesaikan diantaranya masalah yang timbul di bidang persawahan di mediasi
oleh Keujeruen Blang, masalah laut oleh panglima laot, masalah hutan oleh Panglima Uteun,
masalah pasar oleh Haria Peukan. Semunya dikoordinasikan terlebih dahulu kepada Geuchik
sebagai ketua gampong.
2. Sebagai media sosialisasi syariat.
Lembaga adat sebgai salah satu bentuk dari pranata sosial dapat menjadi ujung tombak
yang berada digrada depan mensosoalisasikan hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam
yang dapt dimulai dari lembaga adat tingkat gampong. Seperti halnya menasah dan mesjid
sebenarnya keduanya merupakan sumber energi budaya aceh, karena fungsinya bukan hanya
sebagai tempat ibadah, tetapi juga dijadikan tempat untuk pelaksanaan berbagai kegiatan
sosial, pendidikan, budaya bahkan politik.
3. Sebagai lembaga pengontrol sosial
Dalam konteks ini, lembaga adat menjadi pengugat bagi masyarakat untuk melestarikan
nilai-nilai budaya yang asli yang bersifat agamis. Jika sebuah masyarakat mempunyai sistem
sosial yang kuat, maka secara otomatis kontrol sosial akan berjalan dengan baik. Masyarakat
akan mematuhi norma-norma sosial sebagaimana mereka mematuhi norma hukum dan
begitupun sebaliknya.

C. Penerapan Hukum dan Sanksi Adat di Aceh


Bagi masyarakat Aceh agama dan adat merupakan penopang pranata sosial dengan
motto “ adat meukoh reubong, hukoem meukoh purieh. Adat jeut beurangoe ta kong, hukoem
hanjeut beurango ta kieh ( adat bagia memotong rebong, gampang tumbuh lagi.tetapi hukum
bagai memotong bambu tua, sekali potong tidak akan tumbuh lagi. Adat boleh disampingi,
tetapi hukum tak mudah dikiaskan begitu saja).” Hukoem menyoe hana adat tabeu, adat
menyoe hana hukoem bateu”.

9
Dari dua pepatah diatas dapat mencerminkan bagiamana persepsi masyarakat Aceh
dalam menempatkan posisi agama dan adat. Adat merupakan seperangkat nilai, norma
kehidupan dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berakar dalam kehidupan masyarakat. Pada
tataran praktis, pranata adat dan agama di Aceh berkaitan dengan kelindah dan berjalan
seiring dengan saling memperkuat satu sama lainnya. Namun tetap memiliki nuansanya
sendiri.
Segala hal yang berkaitan dengan peradilan adat gampong atau mukim ( dapat
diselesaikan di gampong/mukim), sepanjang bentuk kasus persengketaaan/ pelanggaran, yang
terjadi dalam masyarakat, sebagaimana ditentukan dalam qanun no.9 tahun 2008, pasal 13
sebagai berikut, Sengketa/perselisahan adat meliputi :

b. Perselisihan dalam rumah tangga.


c. Sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraid.
d. Perselisihan antar warga.
e. Khalwat meusum.
f. Perselisihan tentang hak milik.
g. Pencurian dalam keluarga( pencurian ringan )
h. Perselisihan harta seharkat
i. Pencurian ringan.
j. Pencurian ternak peliharaan
k. Pelangaran adat tentang ternak, pertanian, dan hutan.
l. Persengketaan di laot.
m. Persengketaan di pasar.
n. Menganiaya ringan.
o. Pembakaran hutan ( dalam sekala kecil yang merugikan komunitas adat)
p. Pelecehan,fitnah, hasut dan pencemaran nama baik.
q. Pencenmaran lingkungan ( skala ringan)
r. Ancam mengancam ( tergantung dari jenis ancaman )
s. Perselisihan lain yang melanggar adat istiadat.

10
Sedangkan jenis sanksi yang diberikan kepada pelanggar hukum adat dalam Pasal 16
Qanun no. 9 tahun 2008 tentang Jenis-jenis Sanksi Adat antara lain:

1. Nasehat;
2. Teguran;
3. Pernyataan maaf;
4. Sayam (semacam peusijeuk);
5. Diyat;
6. Denda;
7. Ganti kerugian;
8. Dikucilkan oleh masyarakat gampong;
9. Dikeluarkan dari masyarakat gampong;
10. Pencabutan gelar adat, dan bentuk danksi lainnya sesuai dengan adat setempat.

Terdapat beberapa metode dan pola penyelesaian sengketa yang dilakukan dalam
penyelesaian setiap perkara yang terjadi di dalam masyarakat adat, antara lain yaitu:
1. Penyelesaian secara personal, yaitu penyelesaian yang dilaksanakan secara pribadi oleh
tokoh masyarakat berdasarkan kepercayaan para pihak tanpa melibatkan komponen lain.
2. Penyelesaian melalui pihak keluarga, yaitu penyelesaian yang dilakukan dengan
pendekatan pihak keluarga dari pihak yang bersengketa yang biasanya mempunyai
hubungan yang masih dekat.
3. Duek ureung tuha, yaitu musyawarah terbatas para tokoh masyarakat untuk
menyelesaikan sengketa berdasarkan laporan para pihak
4. Penyelesaian melalui Lembaga Adat Keujreun Blang, yaitu penyelesaian yang
dilaksanakan oleh keujreun terhadap berbagai sengketa, baik berdasarkan laporan dari
para pihak atau tidak.
5. Penyelesaian melalui Peradilan Gampong, yaitu peradilan adat yang diikuti oleh
perangkat gampong untuk penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di meunasah atau
mesjid.
6. Penyelesaian melalui Peradilan Mukim, yaitu peradilan adat yang diikuti oleh perangkat
mukim untuk menyelesaikan sengketa yang diajukan oleh para pihak karena tidak puas
terhadap putusan peradilan gampong.

11
Tempat Pelaksanaan dalam penyelesaian secara adat seperti tersebut didalam Pasal 14
ayat 4 Qanun no. 9 tahun 2008 yaitu:
1. di Meunasah pada tingkat Gampong;
2. di Mesjid pada tingkat Mukim atau tempat-tempat lain yang ditunjuk oleh Keuchik atau
Imeum Mukim;
3. di Balee Nelayan untuk penyelesaian sengketa laoet;

Prosesi Penyelesaian Adat antara lain sebagai berikut:


1. membawa kain putih, sebagai simbol kedamaian dan kesucian
2. membawa biaya( ganti rugi / biaya pengobatan ) bila pesakitan mengeluarkan darah
3. membawa bu lukat ( nasi ketan ) yang besar hidangnya sesuai dengan kesalahan
4. membawa kambing untuk acara khanduri ( menurut tingkat kesalahan
5. peusijuek kepada pihak bersengketa
6. memberikan kata-kata nasehat
7. bermaaf-maafan/ berjabat tangan pihak sengketa
8. membuat surat penyelesaian/ perdamaian adat
9. do’a

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari penjelasan yang telah di paparkan sebelumnya kita dapat mengetahui sejarah hukum
adat, lembaga-lembaga adat yang berwenang serta penerapan hukum dan sanksi hukum adat
yang ada di Aceh. Kita juga dapat mengetahui bahwasanya adat istiadat di Aceh masih sangat
terpelihara dan sejalan dengan kehidupan masyarakat dalam menyelesaikan segala
permasalahan yang terjadi.

B. Saran

Hendaknya masyarakat dapat menyadari bahwa segala perbuatan dan tindakan ada
konsekuensi dan akibatnya. Dengan adanya hukum adat yang telah terpelihara sejak dulu di
Aceh lah yang dapat mengawasi dan menindak segala perbuatan masyarakat tersebut.
Tentunya hal ini juga menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi Provinsi Aceh,
sehingga masyarakat Aceh harus bangga dan tetap melestarikan adat istiadat yang sudah ada
sejak dulu kala, serta mewujudkan hubungan sesama manusia yang dapat berlangsung dengan
baik, rukun, aman, dan damai.

13
DAF TAR PUSTAKA

https://steemit.com/sejarah/@joni22/sejarah-hukum-dan-adat-aceh-9394ba4520b52
http://seputarrkuliah.blogspot.com/2018/04/Lembaga-adat-aceh-dan-perannya.html
http://peunebah.blogspot.com/2011/07/penyelesaian-perselisihan-dalam-hukum.html

14