Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Disebagian daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, penataan ruang
belum mendapat proporsi perhatian utama sebagai instrumen dasar
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang, baik yang dilakukan pemerintah
maupun masyarakat dan dunia usaha. Hal ini tercermin dengan semakin
luasnya lahan yang beralih fungsi seperti lahan pertanian beririgasi teknis
berubah menjadi permukiman atau industri, penggundulan hutan yang
berakibat banjir, dll.
Kabupaten Gowa merupakan salah satu Daerah Tingkat II di
provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di
kota Sungguminasa. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.883,32 km²
dan berpenduduk sebanyak ± 652.941 jiwa. Kemampuan Kabupaten Gowa
menyuplai kebutuhan bagi daerah sekitarnya dikarenakan keadaan
alamnya. Kabupaten seluas 1.883,32 kilometer persegi ini memiliki enam
gunung, di mana yang tertinggi adalah Gunung Bawakaraeng. Daerah ini
juga dilalui Sungai Jeneberang yang di daerah pertemuannya dengan
Sungai Jenelata dibangun Waduk Bili-bili. Keuntungan alam ini
menjadikan tanah Gowa kaya akan bahan galian, di samping tanahnya
subur.
Kabupaten Gowa memiliki 18 Kecamatan dan terdiri atas 45
Kelurahan dan 122 Desa. Somba Opu merupakan salah satu kecamatan
yang ada di Kabupaten gowa yang memiliki luas wilayah 28.09 km2 atau
2.809 Ha (1,49 % dari luas wilayah kabupaten Gowa) dengan ketinggian
daerah/altitude berada 25 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar
wilayah terletak pada dataran rendah dengan koordinat Geografis berada
pada 5 derajat 12’5″ LS dan 119 derajat 27’15″ BT. Batas alam dengan
kecamatan Pallangga adalah Sungai Jeneberang yaitu sungai dengan
panjang 90 km dan luas Daerah Aliran Sungai 881 km2.
Penataan ruang wilayah Kabupaten Gowa bertujuan untuk
mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Gowa yang terkemuka, aman,
nyaman, produktif, berkelanjutan, berdaya saing dan maju di bidang
pertanian, industri, jasa, perdagangan, dan wisata melalui inovasi,
peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, dan
mendukung fungsi Kawasan Strategis Nasional (KSN) Perkotaan
Maminasata.
Penyebaran penduduk Kabupaten Gowa masih bertumpu di
Kecamatan Somba Opu yakni sebesar 19,95 persen dari total jumlah
penduduk Kabupaten Gowa sebesar 652.329 orang. Kecamatan Somba
Opu juga merupakan kecamatan yang paling banyak penduduknya untuk
wilayah perkotaan, yakni sebanyak 130.126 orang dimana jumlah
penduduk laki-laki sebesar 64.442 orang dan perempuan sebesar 65.684.
Kecamatan Somba Opu tercatat sebagai kecamatan yang paling tinggi
tingkat kepadatan penduduknya yakni sebanyak 4.632 orang/km2. Laju
pertumbuhan penduduk Kecamatan Somba Opu adalah yang tertinggi
dibandingkan Kecamatan lain di Kabupaten Gowa yakni sebesar 4,07
persen.
Tamarunang adalah salah satu kelurahan di kecamatan Somba
Opu, Kabupaten Gowa. Tamarunang terletak 4 km dari ibukota
kabupaten.Salah satu permasalahan yang pada kelurahan tamarunang
adalah banjir sehingga dbutuhkan pembuatan Rencana Detai Tata Ruang
(RDTR) dimana yang mampu meminimalisir permasalahan yang terjadi
pada keluarahan Tamarunang.
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di Kelurahan
Tamarungan dilakukan dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang
secara efektif, efisien, dan berkelanjutan yang diharapkan dapat
memberikan arahan rencana kota yang lebih baik dan dapat menjadi
pedoman bagi pengambil keputusan/kebijakan dalam perkembangan
wilayah Kelurahan Tamarunang
Dalam hal ini kami mahasiswa teknik perencanaan wilayah dan
kota ingin mengetahui atau mengkaji Kelurahan Tamarunang untuk dapat
mengetahui bagaimana gambaran wilayah serta kondisi fisik untuk
penyusunan RDTR di daerah Kelurahan Tamarunang yang terletak di
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

B. Maksud ,Tujuan dan Sasaran


1. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan RDTR Kelurahan Tamarunang adalah
mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung terciptanya
Kawasan strategis maupun Kawasan fungsional secara aman, produktif
dan berkelanjutan. Adapun tujuan penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang :
a. Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian pembangunan
fisik Kawasan
b. Sebagai pedoman bagi instansi dalam, menyusun zonasi, dan
pemberian perjanjian kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan
peruntukan lahan.
2. Sasaran
a. Tersajinya data dan informasi ruang kawasan yang akurat dan
aktual.
b. Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsi
kelurahan, baik yang dilakukan pemerintah maupun
masyarakat/ swasta.
c. Terciptanya keselarasan, keserasian, keseimbangan antar
lingkungan permukiman dalam kawasan.
d. Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah
dan masyarakat/swasta.
C. Kedudukan RDTR
Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW
kabupaten/kota harus menetapkan bagian dari wilayah kabupaten/kota
yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah yang akan disusun
RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis
kabupaten/kota. Kawasan strategis kabupaten/kota dapat disusun RDTR
apabila merupakan:
1. Kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan
menjadi kawasan perkotaan;
2. Memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR yang
ditetapkan dalam pedoman ini.
Kedudukan RDTR dalam sistem perencanaan tata ruang dan sistem
perencanaan pembangunan nasional dapat dilihat pada gambar 1.1.
RDTR disusun apabila sesuai kebutuhan, RTRW kabupaten/kota
perlu dilengkapi dengan acuan lebih detail pengendalian pemanfaatan
ruang kabupaten/kota. Dalam hal RTRW kabupaten/kota memerlukan
RDTR, maka disusun RDTR yang muatan materinya lengkap, termasuk
peraturan zonasi, sebagai salah satu dasar dalam pengendalian
pemanfaatan ruang dan sekaligus menjadi dasar penyusunan RTBL bagi
zona-zona yang pada RDTR ditentukan sebagai zona yang penanganannya
diprioritaskan. Dalam hal RTRW kabupaten/kota tidak memerlukan
RDTR, peraturan zonasi dapat disusun untuk kawasan perkotaan baik yang
sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah kabupaten/kota.
RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan
fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang
memperhatikan keterkaitan antar kegiatan dalam kawasan fungsional agar
tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan
penunjang dalam kawasan fungsional tersebut.
RDTR yang disusun lengkap dengan peraturan zonasi merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk suatu BWP tertentu. Dalam hal
RDTR tidak disusun atau RDTR telah ditetapkan sebagai peraturan daerah
namun belum ada peraturan zonasinya sebelum keluarnya pedoman
Nomor 20/PRT/M/2011, maka peraturan zonasi dapat disusun terpisah dan
berisikan zoning map dan zoning text untuk seluruh kawasan perkotaan
baik yang sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah
kabupaten/kota.
RDTR ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota. Dalam
hal RDTR telah ditetapkan sebagai peraturan daerah terpisah dari
peraturan zonasi sebelum keluarnya pedoman Nomor 20/PRT/M/2011,
maka peraturan zonasi ditetapkan dengan perda kabupaten/kota tersendiri.

Gambar 1.1 Kedudukan RDTR/Peraturan Zonasi dalam Sistem


Perencanaan

Sumber : Permen PU nomor 20 tahun 2011


Gambar 1.2 Hubungan antara RTRW Kabupaten/Kota, RDTR dan RTBL
serta Wilayah Perencanaannya

WILAYAH
RENCANA
PERENCANAAN

Wilayah
RTRW Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota

RDTR BWP

RTBL Sub BWP

Dirincikan lebih lanjut menjadi


Wilayah perencanaan dibagi lagi menjadi
Wilayah perencanaan adalah
Sumber : Permen PU nomor 20 tahun 2011

D. Ruang Lingkup
1. Ruang Lingkup Wilayah
Ruang Lingkup Wilayah penyusunan RDTR dan PZ Kawasan
perkotaan Sungguminasa Kabupaten Gowa secara administratif berada
di kelurahan Tamarunang Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
2. Ruang Lingkup Kegiatan
Prosedur penyusunan RDTR dan PZ kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud pada PERMEN No.16 Tahun 2018 meliputi:
a. Persiapan kegiatan meliputi :
1) pembentukan tim penyusun;
2) kajian awal data sekunder;
3) penetapan delineasi awal BWP;
4) persiapan teknis pelaksanaan;
5) pemberitaan kepada publik.
b. Pengumpulan data dan informasi berupa data primer dan data
sekunder
c. Pengolahan dan analisis data meliputi:
1) Pengolahan dan analisis data untuk penyusunan RDTR
2) Pengolahan dan analisis data untuk penyusunan PZ
kabupaten/kota
d. Perumusan konsep RDTR dan muatan PZ kabupaten/kota meliputi:
1) Perumusan konsep RDTR, terdiri atas:
a) Alternatif konsep rencana
b) Pemilihan konsep rencana
c) Perumusan rencana terpilih menjadi muatan RDTR
2) Perumusan muatan PZ kabupaten/kota menghasilkan:
a) Peta rencana pola ruang dalam RDTR yang di
dalamnya dapat memuat kode pengaturan zonasi
b) Aturan dasar dan/atau teknik pengaturan zonasi
yang berlaku untuk setiap zona/sub zona/blok dalam
peta
e. Penyusunan dan pembahasan rancangan peraturan daerah tentang
RDTR dan PZ kabupaten/kota, meliputi:
1) Penyusunan naskah akademik
2) Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang RDTR dan
PZ kabupaten/kota
3) Pembahasan rancangan peraturan daerah tentang RDTR
dan PZ kabupaten/kota

E. Landasan Hukum
Produk hukum yang mendasari penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) dan Peraturan Zonasi (PZ) :
1. UU No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Agraria
2. UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
3. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
4. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
5. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
6. UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;
7. UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
8. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
9. UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
10. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
11. UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman
12. UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
13. PP No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban
serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam
Penataan Ruang
14. PP No. 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk
Penataan Ruang Wilayah
15. PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN)
16. PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
17. PP No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
18. PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan
19. PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
antara Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota
20. Perpres No. 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
21. Keppres No. 57 Tahun 1989 tentang Kriteria Kawasan Budidaya
22. Keppres No. 62 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penataan Ruang
Nasional
23. Keppres No. 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan
Ruang Nasional
24. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 41/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya.
25. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No.16 Tahun 2018
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota.
26. Permendagri No. 8 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang di Daerah
27. Permendagri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka
Hijau Kawasan Perkotaan.

F. Sistematika Pembahasan
Pada sub bahasan ini merupakan sistematika pembahasan dimana
menjelaskan tentang bagian-bagian pembahasan yang termuat pada bab-
bab bahasan, sehingga secara garis besar memberikan pemahaman
singkat tentang isi pada setiap bab pembahasan. Untuk lebih jelasnya,
sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pada bahasan ini memuat tentang latar belakang, maksud dan
tujuan, sasaran, serta sistematika pembahasan.

BAB II TINJAUAN UMUM DAN KEBIJAKAN WILAYAH


Pada bahasan ini memuat tentang tinjauan makro kawasan
perencanaan dan tinjauan mikro kawasan perencanaan.

BAB III DASAR PERTIMBANGAN


Pada bahasan ini memuat tentang dasar pertimbangan penyusunan
RDTR, yang meliputi persiapan penyusunan RDTR, pengumpulan dan
pengelolaan data, pengolahan dan analisa kawasan perencanaan,
BAB IV METODOLOGI PERENCANAAN
Pada bahasan ini memuat tentang metodologi yang meliputi proses
penyusunan RDTR dan teknik pelaksanaan detail tata ruang.