Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak

menular yang menjadi masalah serius pada masyarakat di negara maju

maupun berkembang termasuk salah satunya Indonesia. Hipertensi

merupakan keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama

dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg.

Hipertensi diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu hipertensi primer atau

esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang

dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit

jantung, dan gangguan anak ginjal. Hipertensi seringkali tidak

menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus-menerus tinggi

dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu,

hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah

secara berkala (Sidabutar, 2009).

WHO (2013) menyatakan bahwa sekitar 1 miliar penduduk dunia

menderita hipertensi dan dua per tiga penderita berada di negara

berkembang. Jumlah penderita hipertensi diprediksi meningkat sebesar

60% sehingga menjadi 1,56 miliar penduduk dewasa pada tahun 2025.

Survey WHO mendapatkan bahwa prevalensi hipertensi tertinggi di dunia

berada di wilayah Afrika (42%), sedangkan prevalensi terendah berada di

1
wilayah Amerika (35%). Prevalensi hipertensi lebih tinggi di Negara

dengan pendapatan sedang-rendah dibandingkan negara dengan

pendapatan tinggi.

Survey WHO mendapatkan bahwa prevalensi hipertensi lebih

tinggi di negara berpendapatan sedang dan rendah (40%) bila

dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi (35%) (WHO, 2013).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, hipertensi merupakan

penyakit tidak menular terbanyak di Indonesia dengan prevalensi 26,5%.

Dengan kata lain, sekitar satu dari empat penduduk Indonesia menderita

hipertensi.

Menurut Profil Kesehatan Jawa Timur Tahun 2016, persentase

hipertensi sebesar 13,47% atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi

laki-laki sebesar 13,78% (387.913 penduduk) dan perempuan sebesar

13.25% (547.823 penduduk).

Upaya menurunkan konsekuensi timbulnya penyakit hipertensi di

Indonesia diperlukan deteksi awal dan manajemen kesehatan yang efektif.

Kegiatan identifikasi faktor risiko diharapkan dapat mendeteksi kasus

hipertensi secara efektif. Identifikasi faktor risiko bisa dilakukan melalui

analisis gambaran berdasarkan karakteristik tertentu seperti karakteristik

individu (Anggraini, 2008).

Black dan Hawks (2005), dalam Tri (2009), menyatakan bahwa ada

beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kejadian hipertensi. Faktor

risiko ini diklasifikasikan menjadi dua yaitu, faktor yang dapat diubah dan

2
faktor risiko yang tidak dapat di ubah. Faktor risiko yang tidak dapat di

ubah seperi umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, dan etnis. Sedangkan

faktor risiko yang dapat di ubah yaitu olahraga, obesitas, stres, kebiasaan

merokok, pola makan makanan asin, konsumsi alkohol, konsumsi kalium,

konsumsi berlemak, dan konsumsi kafein.

Berbagai penelitian telah membuktikan berbagai faktor risiko yang

berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi. Dalam penelitian Setyanda,

Gita (2015) melaporkan bahwa faktor yang menyebabkan hipertensi

adalah kebiasaan merokok. Sedangkan dalam penelitian Ade, dkk. (2009)

melaporkan hasil penelitiannya bahwa hipertensi terjadi karena oleh

berbagai faktor antara lain dapat disebabkan oleh pola makan makanan

asin dan kurang berolahraga.

Kebiasaan merokok merupakan hal yang sangat mudah ditemukan

di Indonesia. Menurut data WHO tahun 2011, pada tahun 2007 Indonesia

menempati posisi ke-5 dengan jumlah perokok terbanyak di dunia.

Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat kimia yang

terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak lapisan dalam dinding

arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi penumpukan plak

(arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat

merangsang saraf simpatis sehingga memacu kerja jantung lebih keras dan

menyebabkan penyempitan pembuluh darah, serta peran karbon

monoksida yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa

3
jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh dengan memompa darah lebih

cepat sehingga memicu peningkatan darah.

Berdasarkan penelitian Setyanda, Gita (2015) perokok dengan usia

dewasa muda menunjukkan kejadian hipertensi yang cukup tinggi.

Kemudian penelitan Retnaningsih, Dwi dkk (2015) menunjukkan bahwa

perokok dengan usia lanjut juga memiliki angka kejadia yang tinggi untuk

kejadian hipertensi. Dengan demikian rentan usia perokok dengan kejadian

hipertensi yakni antara usia dewasa muda hingga lansia.

Latihan fisik atau olahraga yang teratur dapat meningkatkan

kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh. Metabolisme tubuh akan

membaik dari segi fisik, dan mental. Peningkatan pada sistem tubuh

selama tingginya berolahraga, tekanan darah pasti naik selama olahraga.

Pada umumnya, tekanan darah sistolik naik 8-12 mmHg untuk setiap

ekuvalen metabolik (MET lebih tinggi) diatas saat istirahat. Satu MET

adalah jumlah oksigen yang dipergunakan atau dikonsumsi saat

beristirahat. Suatu aktivitas yang setara dengan 2 MET membutuhkan dua

kali jumlah oksigen, 3 MET membutuhkan tiga kali jumlah oksigen, dan

seterusnya. Karena aliran darah lebih banyak dibutuhkan selama

berolahraga, tubuh akan secara otomatis menurunkan tingkat ketahanan

terhadap aliran darah didalam pembuluh darah selama melakukan

bolahraga untuk memenuhi kebutuhan ini. Demikian tekanan diastolik

akan turun dengan melakukan olahraga (Devine, 2009).

4
Menurut Putriastuti, Librianti (2016) menunjukkan bahwa

responden dengan aktivitas olahraga yang tidak teratur dan tidak rutin

memilik kejadian hipertensi yang tinggi dibandingkan dengan kejadian

hipertensi pada responden dengan aktivitas olahraga teratur dan rutin.

Berdasarkan data bahwa kebiasaan merokok di Indonesia tinggi,

kemudian berolahraga secara rutin tidak mudah menjadi kebiasaan di era

yang serba instan ini mendorong peneliti untuk meneliti mengenai

hubungan kebiasaan merokok, kurangnya berolahraga,dengan hipertensi

di wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan kebiasaan merokok dan kurang berolahraga

dengan \ hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei

2019?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

kebiasaan merokok dan kurang berolahraga dengan hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.


2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik kebiasaan merokok responden di

wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.


b. Mengidentifikasi kurang berolahraga responden di wilayah kerja

Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.


c. Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.


d. Menganalisis hubungan kurang berolahraga dengan hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.

5
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat masyarakat atau institusi terkait
a. Memberikan masukan kepada masyarakat atau institusi mengenai

hubungan kebiasaan merokok dan kurang berolahraga dengan

hipertensi.
b. Memberi gambaran tentang pengaruh kebiasaan merokok dan

kurang berolahraga pada masyarakat atau institusi agar dapat

mencegah resiko terkena hipertensi.


2. Manfaat bagi institusi lain
a. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan setempat agar lebih

mensosialisasikan faktor resiko yang dapat menyebabkan

terjadinya hipertensi.
3. Manfaat bagi peneliti
a. Melakukan salah satu kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi

dalam bentuk penelitian.


b. Menambah pengetahuan terkait hubungan kebiasaan merokok dan

kurangnya berolahraga dengan hipertensi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

1. Pengertian Hipertensi

Tekanan darah adalah kekuatan tekanan yang diperlukan agar

darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar mencapai

6
semua jaringan tubuh manusia. Tekanan darah dibedakan menjadi 2 yaitu

tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. (Gunawan,2001).

Tekanan darah dapat berfluktuasi dengan tinggi maupun rendah pada

batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur, dan tingkat stress yang

dialami (Tambayong, 2000).

Tekanan darah dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa

darah. Hipertensi atau tekanan darah merupakan penyakit kronik akibat

desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada pembuluh

arteri, berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial sistemik, baik

diastolik maupun sistolik, atau bahkan keduanya secara terus-menerus

(Sutanto, 2010). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dari

140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran

dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang

(Robbins, 2010).

2. Jenis Hipertensi

Menurut Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2006

menyebutkan bahwa ada dua jenis hipertensi, yaitu (Depkes, 2006):

7
8

a. Hipertensi primer (Esensial)

Hipertensi primer merupakan suatu peningkatan presisten tekanan

arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol

homeostatik normal. Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan

mencakup ± 90% dari kasus hipertensi pada umumnya hipertensi

esensial tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan karena

berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurut Rohaendi tahun 2008,

faktor yang paling mungkin berpengaruh terhadap timbulnya

hipertensi esensial adalah faktor genetik, karena hipertensi sering turun

temurun dalam suatu keluarga.

b. Hipertensi sekunder

Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan penderita

hipertensi sekunder dari berbagai penyakit atau obat-obatan tertentu

yang dapat meningkatkan tekanan darah. Disfungsi renal akibat

penyakit ginjal kronis atau penyakit renovaskuler adalah penyebab

sekunder yang paling sering. Obat-obatan tertentu, baik secara

langsung maupun tidak langsung dapat mengakibatkan hipertensi

bahkan memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah.

Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi dengan menghentikan

obat atau mengobati penyakit yang menyertai merupakan tahap awal

penanganan hipertensi sekunder.


9

Berdasarkan The Joint National Committee VII (JNC VII) tahun

2001, klasifikasi tekanan darah untuk dewasa berusia > 18 tahun tertera

pada tabel berikut:

Tabel II.1. Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah


Darah Sistolik Diastolik
Normal <120 mmHg <80 mmHg
Prehipertensi 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi tingkat 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Hipertensi tingkat 2 ≥160 mmHg ≥100 mmHg
Sumber : (Chobanian, 2003)
WHO (World Health Organization) dan ISH (International Society

of Hypertension) mengelompokkan hipertensi sebagai berikut.


Tabel II.2. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO-ISH

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah


Darah Sistolik Diastolik
Normal <120 mmHg <80 mmHg
Prehipertensi 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi tingkat 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Hipertensi tingkat 2 ≥160 mmHg ≥100 mmHg
Sumber : (Suparto, 2010)

3. Etiologi Hipertensi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang

beragam. Pada kebanyakan pasien, etiologi patofisiologinya tidak

diketahui (hipertensi primer atau essensial). Hipertensi primer ini tidak

dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi

dengan presentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal

sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder, baik


10

endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat

diidentifikasi, hipertensi pada beberapa pasien ini dapat disembuhkan

secara potensial (Depkes, 2006).

4. Patogenesis Hipertensi

Patogenesis penyakit hipertensi sangat kompleks dengan interaksi

dari berbagai variael. Ditambah pula adanya presdiposisi genetik.

Mekanisme lain yang dikemukakan mencakup beberapa perubahan berikut

(Brown, 2005):

1. Ekskresi natrium dan air oleh ginjal

2. Kepekaan baroreseptor

3. Respon Vaskuler

4. Sekresi renin

Mekanisme patofisiologi yang berhubungan dnegan peningkatan

hipertensi esensial antara lain (Gray et al.,2005):

1) Curah jantung dan tahanan perifer

Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh

terhadap kenormalan tekanan darah. Pada sebagian besar kasus

hipertensi esensial curah jantung biasanya normal tetapi tahanan

perifernya meningkat. Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel

otot halus yang terdapat pada arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi

sel otot hals akan berpengaruh pada peningkatan konsentrasi kalsium

intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot halus ini semakin lama kan

mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang mungkin


11

dimediasi oleh angiotensin yang menjadi awal meningkatnya tahanan

perifer yang irreversible (Gray et al.,2005).

2) Sistem Renin-Angiotensin

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme

(ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam mengatur

tekanan darah. Darah mengandung angiotensin yang diproduksi hati,

yang oleh hormone renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi

angiotensin II (oktapeptida yang sangat aktif). Angiotensin II

berpotensi besar meningkatkan tekanan darah karena bersifat sebagai

vasokonstriktor (Gray et al.,2005).

3) Sistem Saraf Otonom

Sirkulasi sistem saraf simpatik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan

dilatasi arteriol. Sistem saraf otonom ini mempunyai peran yang pentig

dalam mempertahankan tekanan darah. Hipertensi dapat terjadi karena

interaksi antara sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin

Bersama-sama dengan faktor lain termasuk natrium, volume sirkulasi

dan beberapa hormone (Gray et al.,2005).

4) Disfungsi Endotelium

Pembuluh darah sel endotel mempunyai peran yang penting dalam

pengontrolan pembuluh darah jantung dengan memproduksi sejumlah

vasoaktif local yaitu molekul oksida nitrit dan peptide endothelium.

Disfungsi endothelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer.


12

Secara klinis pengobatan dengan antihipertensi menunjukkan

perbaikan gangguan produksi dari oksida nitrit (Gray et al.,2005).

5) Substansi vasoaktif

Banyak sistem vasoaktif yang mempengaruhi transport natrium dalam

mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal. Bradikinin

merupakan vasodilator yang potensial, begitu juga endothelin.

Endothelin dapat meningkatkan sensitifitas garam pada tekanan darah

serta mengaktifkan sistem renin-angiotensin local. Arterial natriuretic

peptide merupakan hormon yang diproduksi di atrium jantung dalam

merespon peningkatan volume darah. Hal ini dapat meningkatkan

ekskresi garam dan air dari ginjal yang akhirnya dapat meningkatkan

retensi cairan dan hipertensi (Gray et al.,2005).

6) Hiperkoagulasi

Pasien dengan hipertensi memperlihatkan ketidaknormalan dari

dinding pembuluh darah (disfungsi endothelium atau kerusakan sel

endothelium), ketidaknormalan faktor homeostasis, platelet, dan

fibrinolysis. Diduga hipertensi dapat menyebabkan protombotik dan

hiperkoagulasi yang semakin lama akan semakin parah dan merusak

organ target. Beberapa keadaan dapat dicegah dengan pemberian obat

anti-hipertensi (Gray et al.,2005).

7) Disfungsi diastolik

Hipertropi ventrikel kiri menyebabkan ventrikel tidak dapat

beristirahat ketika terjadi tekanan diastolik. Hal ini untuk memenuhi


13

peningkatan kebutuhan input ventrikel, terutama pada saat olahraga

terjadi peningkatan tekanan atrium kiri melebihi normal, dan

penurunan tekanan ventrikel (Gray et al.,2005).

5. Gejala Klinis

Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita

hipertensi mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun.

Masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi

kerusakan organ yang bermakna. Bila terdapat gejala biasanya bersifat

tidak spesifik, misalnya sakit kepala atau pusing. Gejala lain yang sering

ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telingan berdengung, rasa

berat di tengkuk, sukar tidur dan mata berkunang-kunang (Depkes RI,

2006).

6. Diagnosis Hipertensi

Diagnosis hipertensi diperoleh melalui anamnesis mengenai

keluhan pasien, riwayat penyakit terdahulu dan penyakit keluarga,

pemeriksaan fisik meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan

funduskopi, pengukuran indeks masa tubuh (IMT), pemeriksaan lengkap

jantung dan paru-paru, pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran

ginjal, massa intra abdominal, dan pulsasi aorta yang abnormal, palpasi

ektremitas bawah untuk melihat adanya edema dan denyut nadi, serta

penilaian neurologis (Depkes, 2006).

Selain pemeriksaan fisik diperlukan juga tes laboratorium dan

prosedur diagnostik lainnya. Tes laboratorium meliputi urinalisis rutin,


14

Blood Ureum Nitrogen (BUN) dan kreatinin serum untuk memeriksa

keadaan ginjal, pengukuran kadar elektrolit terutama kalium untuk

mendeteksi aldosteronisme, pemeriksan kadar glukosa darah untuk melihat

adanya diabetes mellitus, pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserida

untuk melihat adanya risiko aterogenesis, serta pemeriksaan kadar asam

urat berkaitan dengan terapi yang memerlukan diuretik (Depkes, 2006).

7. Komplikasi Hipertensi

Hipertensi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri

dan mempercepat aterosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk

rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak dan pembuluh

darah besar. Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk penyakit

serebrovaskuler yaitu stroke, transient ischemic attack, penyakit arteri

coroner yaitu infark miokard angina, penyakit gagal ginjal, dementia, dan

atrial fibrilasi. Bila penderita hipertensi memiliki faktor risiko

kardiovaskuler yang lain, maka akan meningkatkan mortalitas dan

morbiditas akibat gangguan kardiovaskulernya tersebut. Menurut studi

Framigham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko yang

bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer dan gagal

jantung (Depkes, 2006).

B. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Hipertensi


15

Sampai saat ini penyebab hipertensi secara pasti belum dapat diketahui

dengan jelas. Secara umum, faktor risiko terjadinya hipertensi yang

teridentifikasi antara lain:

1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi

a. Usia

Beberapa penelitain yang dilakukan, ternyata terbukti bahwa

pertambahan umum sejalan dengan kenaikan tekanan darah. Hal ini

disebabkan elastisitas dinding pembuluh darah semakin menurun

dengan bertambahnya umur. Sebagian besar hipertensi terjadi pada

umur lebih dari 65 tahun. Sebelum umur 55 tahun tekanan darah pada

laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Setelah umur 65 tekanan

darah pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Dengan

demikian risiko hipertensi bertambah dengan semakin bertambahnya

usia (Gray et al.,2005).

b. Jenis Kelamin

Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan

darah. Sejumlah fakta menyatakan hormone sex mempengaruhi sistem

renin angiotensin. Secara umum tekanan darah pada laki-laki lebih

tinggi daripada perempuan. Pada perempuan risiko hipertensi akan

meningkat setelah masa menopause yang menunjukkan adanya

pengaruh hormon (Depkes RI, 2006).

c. Keturunan
16

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika seseorang mempunyai orang

tua atau salah satunya menderita hipertensi maka orang terseubt

mempunyai risiko lebih besar untuk terkena hipertensi daripada orang

yang kedua orang tuanya normal (tidak menderita hipertensi). Adanya

riwayat keluarga terhadap hipertensi dan penyakit jantung secara

signifikan akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada

perempuan dibawah 65 tahun dan laki-laki dibawah 55 tahun (Depkes

RI, 2006).

2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi

a. Perilaku merokok

Menurut penelitian, diungkapkan bahwa merokok dapat meningkatkan

tekanan darah. Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat

membahayakan kesehatan, karena nikotin dapat meningkatkan

penggumpalan darah dalam pembuluh darah dan dapat menyebabkan

pengapuran pada dinding pembuluh darah. Nikotin bersifat toksik

terhadap jarngan saraf yang menyebabkan peningkatan tekanan darah

baik sistolik maupun diastolik, denyut jantung bertambah, kontraksi

otot jantung seperti dipaksa, pemakaian O2 bertambah, aliran darah

pada koroner meningkat dan vasokontriksi pada pembuluh darah

perifer (Gray et al.,2005).

b. Obesitas

Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak abdominal erat kaitannya

dengan hipertensi. Tingginya peningkatan tekanan darah tergantung


17

pada besarnya penambahan berat badan. Peningkatan risiko semakin

bertambah parahnya hipertensi terjadi pada penambahan berat badan

tingkat sedang. Tetapi tidak semua obesitas dapat terkena hipertensi.

Tergantung pada masing-masing individu. Peningkatan tekanan darah

diatas nilai optimal yaitu >120/80mmHg akan meningkatkan risiko

terjadinya penyakit kardiovaskuler. Penurunan berat badan efektif

untuk menurunkan hipertensi. Penurunan berat badan sekitar 5 kg

dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan (Sugiharto, 2007).

c. Stres

Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui saraf

simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten.

Apabila stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian

tekanan darah yang menetap. Pada binatang percobaan dibuktikan

bahwa pajanan terhadap stress menyebabkan binatang tersebut menjadi

hipertensi (Sugiyono, 2007).

d. Asupan

1) Asupan Natrium

Asosiasi Jantung Amerika menganjurkan setiap orang untuk

membatasi asupan garam tidak lebih dari 6 gram per hari. Pada

populasi dengan asupan natrium lebih dari 6 gram per hari, tekanan

darahnya meningkat lebih cepat dengan meningkatnya umur, serta

kejadian hipertensi lebih sering ditemukan (Sugiharto, 2007).

2) Asupan Kalium
18

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah

kalium akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan renal

vascular remodeling yang mengindikasikan terjadinya resistansi

pembuluh darah pada ginjal. Pada populasi dengan asupan tinggi

kalium tekanan darah yang prevalensi hipertensi lebih rendah

dibandingkan dengan populasi yang mengkonsumsi rendah kalium

(Sugiharto, 2007).

3) Asupan Magnesium

Magnesium merupakan inhibitor yang kuat terhadap kontraksi

vaskuler otot halus dan diduga berperan sebagai vasodilator dalam

regulasi tekanan darah. The Joint National Committee on

Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood

Pressure (JNC) melaporkan bahwa terdapat hubungan timbal balik

antara magnesium dan tekanan darah (Sugiharto, 2007).

e. Aktifitas fisik

Olahraga yang teratur dapat menurunkan tekanan perifer yang akan

menurunkan tekanan darah. Latihan fisik menimbulkan adaptasi

fisiologik hampir seluruh sistem dalam tubuh, terutama jaringan otot

rangka dan otot kardiovaskuler. Perubahan ini tergantung dari

frekuensi dan intesitas latihan (Sugiharto, 2007).

Latihan fisik atau olahraga yang teratur dapat meningkatkan

kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh. Metabolisme tubuh akan

membaik dari segi fisik, dan mental. Peningkatan pada sistem tubuh
19

selama tingginya berolahraga, tekanan darah pasti naik selama olahraga.

Pada umumnya, tekanan darah sistolik naik 8-12 mmHg untuk setiap

ekuvalen metabolik (MET lebih tinggi) diatas saat istirahat. Satu MET

adalah jumlah oksigen yang dipergunakan atau dikonsumsi saat

beristirahat. Suatu aktivitas yang setara dengan 2 MET membutuhkan dua

kali jumlah oksigen, 3 MET membutuhkan tiga kali jumlah oksigen, dan

seterusnya. Karena aliran darah lebih banyak dibutuhkan selama

berolahraga, tubuh akan secara otomatis menurunkan tingkat ketahanan

terhadap aliran darah didalam pembuluh darah selama melakukan

bolahraga untuk memenuhi kebutuhan ini. Demikian tekanan diastolik

akan turun dengan melakukan olahraga (Devine, 2009).


20

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka konsep penelitian

1. Faktor dapat dikendalikan


a Kebiasaan Merokok
b. Aktivitas fisik
c. Obesitas
d. Stres

Hipertensi

2. Faktor tidak dapat dikendalikan


a.Riwayat keturunan

b. Usia

c. Jenis kelamin

Keterangan :
: tidak diteliti
: diteliti

Gambar III. 2 Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan gambar:
21

Hipertensi dipengaruhi oleh faktor yang dapat diubah dan faktor

risiko yang tidak dapat di ubah. Faktor risiko yang tidak dapat di ubah seperi

umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, dan etnis. Sedangkan faktor risiko

yang dapat di ubah yaitu olahraga, obesitas, stres, kebiasaan merokok, pola

makan makanan asin, konsumsi alkohol, konsumsi kalium, konsumsi

berlemak, dan konsumsi kafein (Tri, 2009).

Dari kerangka konseptual, faktor kebiasaan merokok berpengaruh

pada perubahan tubuh manusia. Semakin lama kebiasaan merokok akan

meningkatkan kemungkinan kerusakan pada sel-sel pembuluh darah oleh zat-

zat yang terkandung pada rokok sehingga terjadi perubahan elastisitas

pembuluh darah menjadi semakin kaku dan meningkatkan tahanan perifer

yang dapat meningkatkan tekanan darah (Agnesia, 2012).

Aktivitas fisik dengan berolahraga menunjukkan perbedaan pengaruh

pada hipertensi, dimana pada beberapa penelitian menunjukkan kejadian

lebih tinggi pada responden yang kurang berolahraga (Ade, dkk. 2009).

B. Hipotesis penelitian

Adanya hubungan kebiasaan merokok dengan hipertensi di wilayah kerja

Puskesmas Sidoarjo pada bulan Mei 2019.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observational dengan

menggunakan metode Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan dengan

mencari hubungan antara kebiasaan merokok dan kurangnya berolahraga,

(variabel bebas) dengan hipertensi (variabel terikat) dengan mengambil

sampel dari suatu populasi menggunakan lembar kuesioner dan pengukuran

tekanan darah.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan objek yang diteliti. Populasi

hipertensi dalam penelitian ini adalah seluruh warga Desa Sidoarjo

Kecamatan Gedangan bulan Mei 2019 berjumlah 10.147 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Pengambilan sampel ini

dilakukan dengan pertimbangan, jumlah sampel mencukupi perhitungan

besar sampel dan waktu penelitian memungkinkan untuk diambil. Jumlah

sampel penelitian sebanyak 57 responden. Penghitungan jumlah sampel

menggunakan rumus Lemeshow sebagai berikut:

22
23

Keterangan :
n : jumlah sampel
Z : standar skor dari α
α :derajat kesalahan yang ditetapkan peneliti 0,05 sehingga

Z=1,96
d : kesalahan absolut yang dapat ditolelir
P : harga proporsi kejadian
Q : 1-P
Dengan perhitungan sebagai berikut :

n= 57.7 dibulatkan (58)


Dengan kriteria-kriteria sampel yang meliputi:
a. Kriteria Inklusi :
1) Warga Desa Sidoarjo yang berkunjung ke POSBINDU dan Pos

Lansia.
2) Warga Desa Sidoarjo yang bersedia dijadikan subjek penelitian.
3) Warga Desa Sidoarjo yang bisa baca dan tulis.
4) Warga Desa Sidoarjo yang memiliki riwayat merokok.
5) Warga Desa Sidoarjo yang tidak Obesitas.
6) Warga Desa Sidoarjo yang memiliki aktivitas fisik kurang.
7) Warga Desa Sidoarjo yang tidak memiliki kebiasaan minum kopi.
8) Warga Desa Sidoarjo yang tidak memiliki riwayat keturunan

hipertensi.
b. Kriteria Eksklusi :
1) Warga Desa Sidoarjo yang mengundurkan diri sebagai sampel.
2) Warga Desa Sidoarjo yang pindah atau keluar dari Desa Sidoarjo.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian
24

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskemas Desa Sidoarjo

Kecamatan Gedangan.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung pada bulan Mei tahun 2019.

D. Variabel Penelitian

Penentuan variabel dalam suatu penelitian ilmiah sangat diperlukan

agar dapat memberikan batasan mengenai permasalahan yang akan dibahas

dan diteliti. Peneliti menentukan isi penggolongan 2 variabel dalam penelitian

ini yaitu: variabel terikat dan variabel bebas.

1. Variabel Terikat

Variabel terikat penelitian ini adalah Hipertensi.

2. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok dan

kurangnya berolahraga.

E. Definisi Operasional Variabel

Tabel IV.1 Definisi operasional

No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala


data
1. Kebiasaan Adanya riwayat Kuesioner a. Ya (1) Nominal
merokok kebiasaan b. Tidak (2)
merokok
2. Olahraga Frekuensi Kuesioner 1. Kurang dari 3 kali/minggu Nominal
responden 2. Lebih dari 3 kali/minggu
berolahraga
dalam 1 minggu
25

3 Hipertensi Hipertensi Tensi air 1. Tekanan darah normal: Nominal


dengan hasil raksa merk sistolik <140 mmHg dan
pengukuran saat Riester diastole < 90 mmHg (1)
penelitian dan 2. Hipertensi : sistolik ≥140
riwayat medik mmHg dan diastolik ≥90
dahulu mmHg (2)

F. Prosedur penelitian

1. Alur prosedur penelitian

Populaso warga Desa Sidoarjo yang


berkunjung ke Puskesmas Desa di
Desa Sidoarjo pada bulan Mei 2019

Kriteria Inklusi
(+)

Subjek penelitian

Identitas subjek
penelitian
26

Mengumpulkan
informasi

Pengolahan data

Analisis data

Penulisan laporan
penelitian

Gambar IV.1 Alur prosedur penelitian

2. Prosedur pengumpulan data

a. Pengumpulan data riwayat keturunan, usia dan jenis kelamin


i. Pembagian kuesioner
b. Pemeriksaan tekanan darah :
i. Memasang manset di lengan kanan atas, kira-kira 4 cm di atas lipatan

siku
ii. Mencari denyut pembuluh darah atau arteri mediana cubiti di sekitar

lipatan siku
iii. Meletakkan stetoskop di atas denyut pembuluh darah
iv. Memompa karet dengan tangan kanan agar udara masuk ke dalam

sampai denyut pembuluh tidak terdengar


v. Memperhatikan turunnya air raksa pada silinder petunjuk tekan

manometer dengan telinga mendengarkan bunyi denyut nadi

menggunakan stetoskop sambil ventil putar dibuka sedikit demi


27

sedikit secara perlahan untuk menurunkan tekanan udara dalam

manset
vi. Dengan dikeluarkannya sebagian udara dalam manset, tekanan udara

dalam manset akan turun sehingga pada suatu saat akan mulai

terdengar suara denyut pembuluh nadi saat itu menunjukkan nilai

tekanan darah yang disebut tekanan sistolik


vii. Air raksa pada silinder akan turun terus dan pada suatu saat bunyi

pembuluh nadi akan menghilang lagi, saat itu angka manometer

menunjukkan tekanan darah yang disebut tekanan diastolic

3. Jadwal pengumpulan data

Penelitian ini berlangsung pada bulan Mei tahun 2019

4. Bahan dan alat yang digunakan

a. Bahan

Bahan penelitian yang digunakan adalah data berupa faktor usia, riwayat

keturunan, usia dan jenis kelamin dan data berupa tekanan darah

berdasarkan pengukuran tekanan darah

b. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tensi air raksa

(sphygmomanometer) dan SPSS for windows Versi 16.0

5. Metode/teknik pengolahan data

a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran langsung melalui

kuesioner dari seluruh sampel warga Desa Sidoarjo yang berada di

wilayah kerja Puskesmas Desa Sidoarjo pada bulan Mei 2019 selanjutnya

mengukur tekanan darah sistolik dan diastolik.


28

b. Penggolongan data dan pengolahan data


Data yang akan digunakan pada uji statistik yaitu data nominal dan

ordinal. Kemudian data tersebut dimasukan ke program SPSS di koding

sesuai peneliti, lalu data diolah secara analitik dengan menggunakan uji

statistik yang sesuai.

G. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan program Statistical

Package for Social Sciences (SPSS) versi 16.0 milik Windows. Uji statistik

yang digunakan dalam proses pengolahan data adalah uji Chi Square dan uji

spearman. Analisis data ini digunakan untuk mengetahui apakah ada

hubungan kebiasaan merokok, kurangnya berolahraga,dengan Hipertensi

pada warga Desa Sidoarjo Kecamatan Gedangan pada bulan Mei 2019.