Anda di halaman 1dari 47

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat


tak terhingga sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah buku yang
berjudul “Panduan EKG Untuk Dokter Muda”. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada dr. Zakaria Mustari, Sp. PD yang
telah berperan penting dalam merubah kemampuan kami yang dulu
tidak mengerti bagaimana cara membaca EKG dan sekarang bisa
menciptakan sesuatu yang Insya Allah atas izin-Nya buku panduan ini
akan bermanfaat bagi kalangan medis dan paramedis.
Melihat penyakit jantung telah menduduki urutan teratas dari
penyakit-penyakit yang semakin banyak ditemukan di masyarakat
Indonesia, hal inilah sebenarnya yang mendasari kami untuk
memberanikan diri mencoba memberikan sedikit sumbangsih buku
panduan tentang EKG. Khususnya untuk teman-teman dokter muda
diharapkan dengan buku ini bisa mempermudah menginterpretasikan
EKG.
Sebagaimana lazimnya setiap buku ilmiah, kami menyadari
buku ini juga tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Sehubungan
dengan itu kami mengharapkan masukan-masukan yang konstruktif
untuk perbaikan buku ini di masa yang akan datang.
Semoga buku ini ada manfaatnya bagi teman-teman dokter
muda dalam menjalankan kepaniteraan klinik dan dalam praktek
kedokteran nantinya.

Penulis

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page


ii 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................... iii
BAB I PRINSIP-PRINSIP EKG ................................................. 1
A. Elektrofisiologi Jantung .................................................. 1
B. Komponen-Komponen Instrumen EKG ......................... 7
BAB II SANDAPAN EKG ......................................................... 9
A. Sandapan Ekstremitas Bipolar ......................................... 9
B. Sandapan Ekstremitas Unipolar ...................................... 10
C. Sandapan Prekordial ........................................................ 11
BAB III AKSIS JANTUNG ........................................................ 13
A. Cara Mengevaluasi Aksis ............................................... 14
B. R-wave Progression ........................................................ 15
BAB IV KONFIGURASI EKG .................................................. 16
A. 7 Langkah Sistimatika Pembacaan EKG ......................... 17
1. Irama .......................................................................... 17
2. Heart Rate .................................................................. 23
3. P Wave ...................................................................... 24
4. P-R Interval ............................................................... 27
5. Kompleks QRS .......................................................... 29
6. S-T Segmen ............................................................... 38
7. T Wave ...................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 45

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page


iii 2
BAB I
PRINSIP-PRINSIP EKG

Elektrokardiagram (EKG) adalah suatu alat pencatat grafis


aktivitas listrik jantung. Pada EKG terlihat bentuk gelombang
khas yang disebut sebagai gelombang P, QRS dan T, sesuai
dengan penyebaran eksitasi listrik dan pemulihannya melalui
sistem hantaran dan miokardium.
Tubuh merupakan sebuah konduktor yang baik, maka
impuls yang dibentuk oleh jantung dapat menjalar ke seluruh
tubuh. Sehingga potensial arus bioelektrik yang dipancarkan
oleh jantung dapat diukur dengan sebuah galvanometer melalui
elektroda-elektroda yang diletakkan pada berbagai posisi di
permukaan tubuh. Dalam mempelajari EKG, ada beberapa hal
yang perlu diketahui, yaitu:

A. Elektrofisiologi Jantung
1. Potensial Transmembran Sel Jantung

Gambar 1 : Potensial aksi transmembran dari sistem


konduksi jantung

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 1


Jantung dibentuk oleh tiga jenis sel eksitasi, yaitu:
a. Sel-sel pacemaker sebagai sumber bioelektrik jantung.
Pada keadaan normal sel pacemaker dominan berada di
nodus SA (Sino-Atrial node).
b. Sel-sel konduksi (jaringan neuromuskular yang membentuk
traktus internodal atrium, berkas His atau serat Purkinje)
sebagai kawat penghantar arus bioelektrik.
c. sel-sel otot jantung (miokardium) yang berfungsi untuk
kontraksi.
Apabila sel-sel otot jantung dirangsang oleh listrik, tekanan,
suhu panas, K+ atau obat-obat yang menghambat aktivitas
pompa sodium, muatan negatif di permukaan dalam membran
sel-sel jantung dapat berkurang (menuju ke nilai yang lebih
positif). Perubahan potensial membran dari nilai negatif menuju
ke arah yang lebih positif disebut proses depolarisasi.
Setelah fase depolarisasi berlalu, membran sel akan
mengalami proses repolarisasi yaitu suatu proses redistribusi
ion-ion kembali ke stadium istirahat.
Ilustrasi sebuah aksi potensial sel otot ventrikel yang dicatat
oleh sebuah mikroelektroda intraselular.

Gambar 2 : Potensial Aksi

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 2


Fase O adalah penanjakan pertama dari potential
istirahat (resting potential) sebagai akibat
masuknya Na+ secara mendadak ke dalam sel.

Fase 1 adalah fase repolarisasi singkat yang terjadi


sesaat setelah fase 0. Fase ini disebabkan oleh
tertutupnya kanal natrium secara mendadak dan
keluarnya K+ dari dalam sel.

Fase 2 dikenal sebagai fase plateau dari aksi potensial.


Fase ini terjadi secara perlahan-lahan sebagai
akibat masuknya Ca++ melalui kanal kalsium ke
dalam sel.

Fase 3 adalah repolarisasi lebih lanjut setelah fase 2.


Fase ini terjadi sebagai akibat tertutupnya kanal
kalsium dan keluarnya K+ dari dalam sel.

Fase 4 adalah fase di antara kedua potensial aksi. Pada


fase ini terjadi redistribusi ion-ion kembali ke
keadaan sel tidak aktif (istirahat).

Gambar 3 : Potensial Aksi

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 3


Perlu diketahui bahwa gambaran aksi potensial sel-sel
otot jantung berbeda tergantung pada jenis sel. Untuk
pacemaker, setelah Fase 4, membran sel akan mengadakan
depolarisasi secara spontan (slow diastolic depolarization)
Potensial Aksi

Gambar 4 : Potensial aksi transmembran dari sistem konduksi


jantung yang diplot pada aksis ventrikal yang sama membentuk
sebuah kompleks EKG.

Setiap sel otot jantung yang mengadakan depolarisasi


akan memproduksi sebuah potensial aksi yang monofasik.
Gabungan semua mono-fasik potensial aksi dari sel-sel otot
jantung inilah yang membentuk kompleks EKG yang juga
mewakili sebuah denyut jantung.

Depolarisasi dan repolarisasi ini merupakan suatu proses


yang berlangsung terus menerus agar jantung tetap berdenyut.
Kedua proses ini saling bergantung satu sama lain.
Depolarisasi hanya dapat timbul setelah sel dalam keadaan
repolarisasi, sebaliknya repolarisasi baru terjadi setelah sel
berdepolarisasi.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 4


Gambar 5 : perbedaan gambaran rekaman proses
depolarisasi pada jantung normal, iskemia, dan infark

2. Tiga Hukum Dasar Goldberger


Ada tiga hukum dasar EKG dari Goldberger yang
perlu diingat:
a. Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke
elektroda positif (meninggalkan elektrode negatif)
menimbulkan defleksi positif.
b. Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke
elektroda negatif (meninggalkan elektroda positif)
menimbulkan defleksi negatif.
c. Arus depolarisasi jantung yang berjalan tegak lurus
terhadap sumbu antara dua elektroda menimbulkan
defleksi bifasik.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 5


3. Arah arus depolarlsasl jantung

Gambar 6: Arah arus depolarisasi jantung


Di dalam jantung arus depolarisasi ini sebenarnya
juga merambat seperti gelombang melingkar dari SA
node ke sel-sel sebelahnya, sampai seluruh jantung
mengadakan depolarisasi.
Namun dengan adanya "sistem konduksi jantung"
yang menyalurkan arus bioelektrik yang jauh lebih cepat
dan lebih efisien dibanding sel-sel jantung yang lain,
maka gelombang depolarisasi jantung yang berasal dari
nodus SA akan merambat lebih cepat mengikuti urutan
jalur sistem konduksi ini, yaitu dari nodus SA menuju ke
nodus AV, sesudah itu berjalan mengikuti berkas His
dan membelok sedikit ke arah ventrikel kanan sesuai

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 6


dengan percabangan berkas His, kemudian melalui
septum menuju ke apex melalui anyaman Purkinje dan
menyebar ke kedua ventrikel.

B. Komponen-Komponen Instrumen EKG


1. Mesin EKG
Mesin yang lebih modern, disebut page writer, dilengkapi
dengan sistem komputer yang memungkinkan semua
sandapan (lead) dapat secara sekaligus merekam kompleks
EKG dari satu denyut jantung yang sama.
2. Kertas EKG
Kertas EKG Merupakan kertas grafik' yang dibagi
dengan garis tipis (1 mm x 1 mm) dan garis yang agak tebal (5
mm x 5 mm) secara horizontal dan vertical.

Gambar 7 : Kompleks EKG


3. Elektroda-elektroda
Dibuat dari materi yang dapat menjamin resistensi
yang rendah antara kulit dan permukaan elektroda.
Bentuknya bermacam-macam, yang paling umum
adalah suction electrode, flat limb electrode dan self-
adhesive, silver/silver chloride electrode.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 7


4. Menghitung laju jantung :
300 dibagi jumlah skala besar :diantara dua
gelombang untuk EKG ini = 300/3,6 = 83x/menit.
Menurut polaritasnya, maka eletroda-elektroda EKG
dapat dibagi menjadi elektroda positif (anode), negatif
(katode) dan, netral (ground electrode).
5. Persiapan Penderita
Penderita yang akan direkam harus berada dalam
keadaan santai, diam dan berbaring terlentang, karena
dalam posisi ini kedudukan jantung berada dalam
keadaan yang sebenarnya. Badan yang kotor atau
penuh minyak (misalnya tukang bengkel) harus
dibersihkan terlebih dahulu dan sebaiknya penderita
tidak dalam keadaan terlalu kenyang atau lapar.
6. Prosedur perekaman
Pertama-tama mengatur standarisasi 1 mV untuk
semua sandapan, dengan demikian apabila nantinya
voltase dirubah karena gelombang yang terekam terlalu
besar atau terlalu kecil, maka voltase EKG yang
sebenarnya masih dapat diketahui. Kemudian mengatur
centering agar baseline berada di tengah-tengah kertas
EKG. Harus diperhatikan pula apakah semua elektroda
sudah pada tempatnya yang tepat. Pembubuhan jelly
pada semua elektroda harus merata. Apabila ada
elektroda yang terlalu banyak dibubuhi jelly sedangkan
yang lain terlalu sedikit, maka perbedaan resistensi
antara elektroda ini akan mengakibatkan konfigurasi
EKG yang terekam berlainan dengan yang sebenarnya.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 8


BAB II
SANDAPAN EKG

A. Sandapan Ekstremitas Bipolar (Bipolar Limb Lead)


Einthoven menggunakan tiga pasang elektroda bipolar
(satu positif dan satu negatif) yang diletakkan pada
pergelangan-pergelangan tangan dan kaki (limb), sehingga
terbentuklah tiga sandapan ektremitas bipolar (bipolar limb
lead) untuk mencatat perbedaan potensial arus bioelektrik
jantung.

Gambar 8 : Triangle of Einthoven


 Sandapan I: menunjukkan perbedaan potensial antara
lengan kiri dan lengan kanan (lengan kiri positif).
 Sandapan II: menunjukkan perbedaan potensial antara
lengan kanan dan tungkai kiri (tungkai kiri positif)

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 9


 Sandapan III: menunjukkan perbedaan potensial antara
tangan kiri dan tungkai kiri (tungkai kiri positif)

B. Sandapan Ekstremitas Unipolar (Unipolar Limb Lead)

Gambar 9 : Triangle of Einthoven


 Sandapan aVR: mempunyai elektrode positif pada
lengan kanan, sementara lengan kiri dan tungkai kiri
sebagai elektrode indiferen (negatif)
 Sandapan aVL: mempunyai elektrode positif pada
lengan kiri, sementara lengan kanan dan tungkai kiri
sebagai elektrode indiferen (negatif)
 Sandapan aVF: mempunyai elektrode positif pada
tungkai kiri, sementara lengan kiri dan lengan kanan
sebagai elektrode indiferen (negatif)

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 10


C. Sandapan Prekordial (Precordial Lead)
Elektroda-elektroda sandapan prekordial unipolar
merupakan elektroda positif ditempatkan secara horizontal
pada dada atau punggung mengelilingi jantung. Sedangkan
elektroda-elektroda negatifnya dihubungkan ke terminal
sentral.

Gambar 10 : Sandapan Prekordial

Enam tempat yang umum dipakai untuk ke-enam


sandapan prekordial adalah:
V1 : pada sisi kanan sternum disela iga keempat
V2 : pada sisi kiri sternum di sela iga keempat.
V3 : antara V2 dan V4
V4 : pada garis midklavikular kiri di sela iga kelima.
V5 : pada garis aksilaris anterior kiri setinggi V4.
V6 : pada garis midaksilaris setinggi V4

Sandapan precordial akan melihat jantung secara


horizontal, sementara sandapan ekstremitas akan melihat dada

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 11


secara bidang vertikal (frontal). Gabungan beberapa sandapan
menghasilkan hubungan anatomi yang erat yaitu:

Gambar 11 : Sandapan Prekordial


 Sandapan II, III, aVF, melihat sisi inferior jantung.
 Sandapan V1 sampai V4 melihat sisi anterior jantung.
 Sandapan I, aVL, V5 dan V6 melihat sisi lateral jantung,
V1 dan aVR melihat atrium kanan dan ruang ventrikel
kiri, V1 dan V2 sesuai dengan ventrikel kanan, V3 dan
V4 sesuai dengan septum interventrikulare, V5 dan V6
sesuai dengan ventrikel kiri.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 12


BAB III
AKSIS JANTUNG

Setiap kali terjadi eksitasi di nodus SA, arus depolarisasi


akan menyebar bagaikan gelombang dari satu bagian ke
bagian yang lain secara terus menerus, hingga seluruh jantung
mengalami depolarisasi. Gelombang-gelombang ini memiliki
arah dan intensitas tertentu sehingga dapat digambarkan
sebagai vektor-vektor kecil.

Gambar 12 : Aksis Jantung

Resultante dari semua vektor-vektor kecil ini akan


merupakan sebuah vektor besar yang mewakili arus-arus
depolarisasi jantung secara keseluruhan yang dikenal sebagai
aksis jantung atau disingkat dengan aksis.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 13


A. Cara Mengevaluasi Aksis

Gambar 13 : Aksis Jantung

Aksis jantung dapat ditentukan dengan mudah dan cepat


dengan menggunakan sandapan 1 dan sandapan aVF.
Pada lingkaran yang dibentuk pada sistem heksadesial,
terlihat bahwa sandapan 1 dan sandapan aVF saling tegak
lurus. Bila kedua potensial di sandapan 1 dan sandapan
aVF positif, maka aksis jantung normal.
LAD (Left Axis Deviation), artinya aksis / arah proyeksi
jantungnya bergeser ke kiri.
RAD (Right Axis Deviation), artinya aksisnya bergeser ke
kanan.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 14


B. R-wave Progression
Pada EKG normal sandapan prekordial (mulai dari V1 ke
V6) akan merekam suatu gambaran gelombang R yang
semakin membesar, sedangkan gelombang S terekam
semakin mengecil, keadaan ini dikenai sebagai R-wave
progression.
Hal ini disebabkan karena miokard yang terletak di
bawah elektroda sandapan V1 yang menuju ke V6 semakin
menebal, sehingga intensitas arus depolarisasi bertambah
besar pula. Jadi R-wave progression menandakan keutuhan
arus bioelektrik di ventrikel bagian anterior dan lateral.

Gambar 14 : sandapan prekordial (mulai dari V1 ke V6)

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 15


BAB IV
KONFIGURASI EKG

Terdapat tiga gelombang dan tiga interval yang memiliki


arti klinis yang perlu diperhatikan pada setiap EKG. Ketiga
gelombang tersebut ialah : gelombang P, kompleks QRS dan
gelombang T. Sedangkan ketiga interval tersebut ialah :
interval PR, interval QRS dan interval QT.
Dalam mempelajari konfigurasi EKG (gelombang P,
kompleks QRS dan gelombang T) di berbagai sandapan,
dianjurkan agar tidak dihafal, tetapi dimengerti berdasarkan
hukum Golberger. Jadi yang perlu diingat adalah arah arus
depolarisasi jantung, posisi sumbu sandapan dan dimana letak
elektroda positif.

Gambar 15: Grafik dan Ukuran Kertas EKG

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 16


A. 7 LANGKAH SISTIMATIKA PEMBACAAN EKG

1. Irama
2. Heart Rate
3. P Wave
4. P-R Interval
5. Kompleks QRS
6. S-T Segmen
7. T Wave

SISTIMATIKA PEMBACAAN EKG

1. Irama

Gambar 16 : Kompleks EKG


Pertama-tama tentukan irama sinus atau bukan. Apabila
setiap kompleks QRS didahului oleh sebuah gelombang
P berarti irama sinus, kalau tidak, maka berarti bukan
irama sinus.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 17


Gelombang P yang normal dapat berupa :
a. Defleksi positif pada sandapan lateral (I, aVL, V5, V6)
dan sandapan inferior (aVF).
b. Biasanya bifasik pada sandapan V1.
c. Defleksi negatif pada sandapan aVR.
d. Bervariasi pada sandapan III, V2-V4.
e. Tingginya kurang dari 2.5 mm (0.25 mV).
f. Lebarnya kurang dari 2.5 mm (bervariasi di antara 0.08-
0.11 detik).

Normal Irama Sinus

Gambar 17 : Normal Sinus Rhythm


 Rhythm - Regular
 Rate - (60-99 bpm)
 QRS Duration - Normal
 P Wave - gelombang P terlihat sebelum kompleks QRS
 P-R Interval - Normal <5 kotak kecil.
Sinus Bradycardia

Gambar 18 : Sinus Bradycardia


 Rhythm - Regular
 Rate - < 60 kali per menit
 QRS Duration - Normal

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 18


 P Wave - gelombang P terlihat sebelum kompleks QRS
 P-R Interval – Normal

Sinus Tachycardia

Gambar 19 : Sinus Tachycardia

 Rhythm - Regular
 Rate - > 100 kali permenit
 QRS Duration - Normal
 P Wave - gelombang P terlihat sebelum kompleks QRS
 P-R Interval – Normal

Atrial Fibrillation

Gambar 20 : Gelombang-Gelombang P Yang Tak Teratur

 Rhythm - Irregularly irregular


 Rate - biasanya 100-160 kali per menit
 QRS Duration - biasanya normal
 P-R Interval – tidak terukur

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 19


Supraventricular Tachycardia (SVT)

Gambar 21 : Gelombang P tidak terlihat akibat dari ratenya


yang cepat.

 Rhythm - Regular
 Rate - 140-220 kali per menit
 QRS Duration - biasanya normal
 P Wave - Sering tidak terlihat
 P-R Interval - Tergantung pada kecepatan
supraventricular

Ventricular Fibrillation (VF) Abnormal

Gambar 22 : Ventricular Fibrillation (VF)

 Rhythm - Irregular
 Rate - 300+, berantakan
 QRS Duration – tidak dikenali
 P Wave – tidak terlihat

Ventricular Tachycardia (VT) Abnormal

Gambar 23 : Ventricular Tachycardia (VT)


Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 20
 Rhythm - Regular
 Rate - 180-190 kali per menit
 QRS Duration - panjang
 P Wave – tidak terlihat

Ventrikel Ekstrasistol

Gambar 24 : gelombang ventrikel yang muncul tiba tiba pada


gelombang sinus

Accelerated Idioventrikular

Gambar 25 : Accelerated Idioventrikular

 Irama regular
 Frekwensi antara 40 – 100 x/menit
 Tidak ada gel P

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 21


 Komplek QRS lebar atau lebih dari normal, RR interval
regular

Ventrikel Takikardia/ VT

Gambar 26 : Ventrikel Takikardia/ VT

 Irama regular
 Frekwensi 100-250x/menit
 Tidak ada gelombang P
 Komplek QRS lebar atau lebih dari normal

Ventrikel Fibrilasi/VF

Gambar 27 : Ventrikel Fibrilasi/VF

 Irama tidak teratur


 Tidak ada denyut jantung.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 22


2. Heart Rate

Gambar 28 : R-R Interval


R-R interval untuk menentukan Heart Rate
Cara menentukan jumlah frekwensi/kecepatan permenit :
a. Untuk irama yang regular :
 Metode I  Menghitung Kotak Kecil
Rumusnya : Frekuensi = 1500/jumlah kotak kecil
 Metode II  Menghitung Kotak Besar
Rumusnya: Frekuensi = 300/jumlah kotak besar

b. Untuk irama irregular maupun regular :


Metode III  Menghitung 6 detik EKG
Rumusnya :
Frekuensi = Jumlah komplek QRS dalam 6 detik x 10

 Irama sinus rythm, jika HR : 60-100 x/mnt


 Sinus takikardi, HR > 100 x/mnt
 Sinus bradikardi, HR < 60 x/mnt
 Sinus aritmia, HR tidak teratur (meningkat saat
inspirasi, menurun saat ekspirasi)

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 23


3. P Wave

0.04 det
atrium kanan atrium kiri
det
0.1 mV
P-normal
det

P-pulmonal

P-mitral

P-bifasik

P-negatif

Gambar 29 : Jenis-Jenis Gelombang P

 Gelombang positip pertama kali muncul


adalah gelombang P.
 Menggambarkan depolarisasi dari otot kedua atrium
(kanan & kiri).
 Cara mengukur gel P adalah dihitung mulai dari awal
gelombang P sampai dengan akhir gel P.
 Nilai normal gel P tinggi tidak melebihi 2,5mm (2,5 kotak
kecil) dan lebarnya juga tidak melebihi 2,5mm (2,5 kotak
kecil).
 Tinggi gel P melebihi 2,5 mm (P pulmonal),
mengidentifikasikan adanya pembesaran di otot atrium
kanan.
 Lebar melebihi 2,5 mm( P mitral), mengidentifikasikan
adanya pembesaran pada otot atrium kiri.
 Gelombang P harus positip di lead II dan harus negatif di
lead aVR

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 24


a) P-Pulmonal

Gambar 30 : P-Pulmonal
P-pulmonal adalah suatu kelainan gelombang P
akibat arus depolarisasi atrium kanan yang lebih besar
dari normal. Gambaran ini ditemukan pada penderita-
penderita penyakit jantung bawaan, penyakit katup
trikuspid dan hipertensi pulmonal yang disertai hipertrofi
atau pembesaran atrium kanan.
Karena letak anatomis atrium kanan yang
sedemikian rupa, maka arus depolarisasi atrium kanan
berorientasi ke arah inferior dan anterior. Dengan
demikian gambaran P-pulmonal paling sering terlihat
pada sandapan, inferior dan anterior.
Kriteria-kriteria EKG untuk mendiagnosis pembesaran
atrium kanan:
a. Gelombang P yang tingginya lebih dari 2.5 mm
ditemukan pada sandapan II, III dan aVF dengan
lebar yang normal.
b. Aksis P pada bidang frontal lebih besar dari 75°.
c. Defleksi positif dari gelombang P di sandapan V1 dan
V2 lebih besar dari 1 .5 mm.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 25


a) P-Mitral

Gambar 31 : P-Mitral
P-mitral adalah gelombang P yang berbentuk bifida
dengan lebar lebih dari 3 mm (0.12 detik). Gambaran ini
merupakan tanda khas dari hipertrofi atau pembesaran
atrium kiri yang disebabkan oleh penyakit-penyakit katup
mitral atau aorta.
Kriteria-kriteria EKG dalam mendiagnosis pembesaran
atrium kiri :
a. Terdapat gambaran P-mitral pada berbagai
sandapan.
b. Gelombang P negatif atau defleksi negatif pada
bagian akhir gelombang P di sandapan V1.
c. Ratio antara lebarnya gelombang P dan interval
segmen PR lebih dari 1.6 (Macruz index).
d. Terjadi deviasi aksis gelombang P ke kiri (lebih dari
15°) pada bidang frontal.

b) P-bifasik
P-bifasik muncul gelombang P ke atas dan diikuti
gelombang ke bawah, bisa terlihat di lead V1, biasanya
berkaitan juga dengan hipertrofi atrium kiri.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 26


4. P-R Interval

Gambar 32 : P-R Interval

 PR interval adalah mewakili waktu yang dibutuhkan oleh


SA node untuk mendepolarisasi otot atrium, sampai AV
node dan Bundle his.
 PR interval di ukur mulai dari permulaan gel P sampai
dengan awal komplek QRS.
 Normal PR interval yaitu 3 mm – 5 mm ( 3 kotak kecil – 5
kotak kecil) atau 0,12 detik sampai 0,20 detik.
 Apabila PR interval melebihi 0,20 detik atau 5 kotak
kecil, mengidentifikasikan adanya AV blok.
 Apabila PR interval kurang dari 0,12 detik atau 3 kotak
kecil, mengidentifiksikan adanya accelerated pacemaker
(seperti kasus WPW syndrome= wolff parkinson white
syndrome).

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 27


1st Degree AV Block

Gambar 33 : lebar (l) PR interval satu ke yang lainnya


mempunyai jarak yang sama dan tidak ditemukan adanya QRS
yang hilang.

 Rhythm - Regular
 Rate - Normal
 QRS Duration - Normal
 P Wave - Ratio 1:1
 P Wave rate - Normal
 P-R Interval - Panjangnya (>5 kotak kecil)

2nd Degree Block Type 1 (Wenckebach)

Gambar 34 : (AV Blok 2nd Degree Type I atau Wenckebach)


gel P yang tidak diikuti oleh QRS, setelah itu kembali lagi ke
normal PR interval yaitu 0,16 detik, dan seterusnya

2nd Degree Block Type 2

Gambar 35 : (AV Blok 2nd Degree Type II) gelombang P tidak


diikuti oleh komplek QRS.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 28


 Rhythm - Regular
 Rate - Normal atau Lambat
 QRS Duration - panjang
 P Wave - Ratio 2:1, 3:1
 P Wave rate - Normal tetapi lebih cepat dari tingkat QRS
 P-R Interval - Normal

3rd Degree Block

Gambar 36 : (AV Blok Total) gelombang P muncul dengan


komplek QRS. ditemukan PR interval yang berantakan dan R-R
interval yang teratur

5. Kompleks QRS

Gambar 37 : QRS Rate

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 29


Leads with Abnormal Q Site of Infarction
Waves
V1-V2 Anteroseptal
V3-V4 Apical
1, aVL, V5 – V6 Anterolateral
II, III, aVF Inferior
V1- V2 True Posterior
Tabel 1 : Lokasi kelainan pada gelombang Q

 Komplek QRS terdiri dari gelombang Q, gelombang R,


gelombang S.
 Komplek QRS menggambarkan depolarisasi otot
ventrikel.
 Gelombang Q adalah gel negatif pertama setelah gel P,
gel Q mewakili depolarisasi otot septum ventikel, normal
gel Q tidak boleh melebihi 1/3 gelombang R, apabila gel
Q melebihi 1/3 gel R mengidentifikasikan adanya infark.
 Pada lead (V1,V2,V3) apabila ditemukan gelombang Q,
ini mengindikasikan abnormal EKG, biasanya di temukan
pada kasus MI atau gangguan konduksi seperti LBBB.
 Gelombang Q normal ditemukan pada lead V5 & V6,
apabila tidak ditemukan gel Q pada lead ini,
kemungkinan besar adanya LBBB.
 Gelombang R adalah gelombang positip pertama setelah
gel Q.
 Gelombang R pada V1 sampai dengan V6 mengalami
penambahan voltage, apabila gelombang R dari V1
sampai dengan V6 tidak mengalami penambahan maka
dinamakan “poor progression”
 Gelombang S adalah gelombang negatif kedua setelah
gelombang R.
 Gelombang S dari V1 sampai dengan V2 voltasenya
akan menurun, apabila di temukan gelombang S pada
V5 atau V6 dengan kedalaman lebih dari 5 mm, maka
besar kemungkinan adanya RBBB.
Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 30
 Pada precordial lead(V1 s/d v6) terdapat transition zone,
yaitu normalnya terletak pada lead V3 or V4.( lihat
gambar 21)
 Komplek QRS diukur muali dari awal Komplek QRS atau
gel Q sampai dengan akhir gel S.
 Normal komplek QRS tidak boleh melebihi 0,10 detik,
apabila melebihinya mengidentifikasikan adanya
gangguan konduksi pada intraventrikuler (seperti LBBB,
RBBB, LAHB,LPHB).
 Apapun bentuk konfigurasi yang terlihat adalah semua
sama menggambarkan depolarisasi otot ventrikel.

Interpretasi Aksis

Gambar 38 : Aksis

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 31


 Aksis Normal = ketiga lead tersebut bernilai positif,
artinya jantung berada di antara aksis -30° sampai
dengan 120° .

Gambar 39 : Aksis Normal terlihat pada sandapan 1 dan


sandapan aVF.
 LAD (Left Axis Deviation), artinya aksis / arah proyeksi
jantungnya bergeser ke kiri, atau di atas – 3o°. Ini biasa
terjadi jika adanya pembesaran ventrikel kiri/ LVH (Left
Ventricular Hypertrophy), sehingga arah jantungnya tidak
normal.

Gambar 40 : LAD (Left Axis Deviation) terlihat pada


sandapan 1 dan sandapan aVF.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 32


 RAD (Right Axis Deviation), artinya aksisnya bergeser ke
kanan, atau di atas 120°. Biasanya terjadi jika adanya
pembesaran jantung kanan/ RVH (Right Ventricular
Hypertrophy).

Gambar 41 : RAD (Right Axis Deviation) terlihat pada


sandapan 1 dan sandapan aVF.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 33


a. Blok Cabang Berkas Kanan (Right bundle branch block
= RBBB)

V1

V6

Gambar 42 : Right Bundle Branch Block

Kriteria untuk RBBB:


a. Deviasi aksis kanan.
b. Interval QRS, lebih dari 0.12 detik.
c. Bentuk rSR (rabbit ear appearance) di sandapan VI
dengan gelombang S yang besar di sandapan V5
dan V6.
d. Segmen ST dan T terbalik di sandapan V1.
e. Amplitude kompleks QRS yang besar.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 34


b. Blok cabang berkas kiri (Left bcihdfe branch block =
LBBB)

V5

V6

Gambar 43 : Left Bcihdfe Branch Block


Apabila konduksi di LBB terganggu, maka arus
depolarisasi septum hanya dibentuk dari komponen RBB
sehingga mengarah ke ventrikel kiri (1). Sebagai akibat,
selain gelombang r di sandapan V1 dan gelombang q di
sandapan V5 tidak terbentuk, sebaliknya terjadi
gelombang q di sandapan V1 dan gelombang R di
sandapan VS. Setelah itu terjadi depolarisasi ventrikel
kanan, yang kemudian diikuti depolarisasi ventrikel kiri
yang terlambat.
Kriteria untuk LBBB:
a. Deviasi aksis kiri.
b. Interval QRS lebih dari 0:12 detik.
c. Tidak tampak gelombang q di sandapan I, V5 dan
V6.
d. Gelombang R besar di sandapan I, V5 dan V6.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 35


e. Depresi segmen ST dan T terbalik di V4 sampai V6.
f. Amplitudo kompleks QRS yang besar
1. Amplitudo kecil
Di sandapan prekordial, amplitudo minimum adalah
5 mm pada VI v dan V6, 7 mm pada V2 dan V5, 9 mm
pada V3 dan V4.
Dikatakan sebagai low voltage bila amplitudo total
kompleks QRS pada enam hantaran ekstremitas adalah
≤ 5 mm. Terdapat faktor-faktor mayor yang dapat
menimbulkan low voltage.
a. Efusi pericardial
b. Emfisema
c. Obesitas
a. Irama Ventricular
Pada keadaan normal kontraksi ventrikel kanan
dan kiri terjadi secara I sinkron untuk
mempertahankan fungsi hemodinamik yang efektif.
Hal ini terjadi karena depolarisasi ventrikel kanan dan
kiri dalam waktu yang relatif sama. Oleh karena itu
sebagian arus depolarisasi dari kedua ventrikel akan
saling meniadakan.

b. Hipertrofi/dilatasi ventrikel kanan

Gambar 44 : Right Ventrikular Hypertrofy

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 36


Hipertrofi/dilatasi ventrikel kanan :
1. Deviasi aksis kanan (flight axis deviation = RAD), deviasi
aksis ke kanan).
2. Gelombang R yang besar pada prekordial sandapan
sebelah kanan (tinggi gelombang R lebih dari gelombang S
pada sandapan V1), yang dengan atau tanpa didahului
gelombang Q.
3. Gelombang S yang dalam pada sandapan prekordial
sebelah kiri (tinggi gelombang S lebih dari tinggi gelombang
R pada sandapan V6).
4. Defleksi intrinsikoid yang terlambat (lebih dari 0.03 ms) pada
sandapan V1 atau V2.

c. Hipertrofi/dilatasi ventrikel kiri

Gambar 45 : Left Ventrikular Hypertrofy

Hipertrofi/dilatasi ventrikel kiri :


1. Amplitudo kompleks QRS lebih besar dari normal terutama
sandapan prekordial kiri (gelombang R disandapan V5 atau
V6 > 25 mm)
2. Jumlah tinggi gelombang R pada V5 atau V6 dengan tinggi
gelombang S pada V1 atau V2 > 35 mm.
3. Segment ST dan gelombang T yang abnormal (strain
pattern) pada sandapan prekordial kiri.
4. Deviasi aksis kekiri

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 37


Hypertrofy Ventrikel

Gambar 46 : Hypertrofy Ventrikel


6. S-T Segmen

Gambar 47 : Segmen S-T

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 38


Perlu diketahui bahwa segmen ST yang abnormal
baru akan memberi arti diagnostik bila disertai gejala klinis
atau disertai bentuk abnormal dari kompleks EKG yang lain.
- Diukur dari akhir gel.QRS (J Point) sampai awal gel. T
- Nilai normal: isoelektris (-0,05 mv sampai + 0,25 mv )

Gambar 48 : Elevasi segmen ST menandakan infark miokard


akut (tentukan bagian mana dari jantung yang mengalami
infark). Depresi segmen ST menandakan iskemia.

Adapun beberapa letak acut myocardiac infarction (AMI) yang


harus dikenali yaitu :
1. Septal —> ST segmen elevasi di lead V1 dan V2,
2. Anterior —> ST segmen elevasi di lead V1 sampai V4,
reciprocal dengan di tandai ST segment depresi di lead
II,III, aVF.
3. Anterolateral (ektensif) —> ST segmen elevasi di lead
V1 s/d V6, lead I dan aVL, reciprocal dengan ditandai ST
segmen depresi di lead II, III, aVF
4. Lateral —> ST segmen elevasi di lead V5 & V6, lead I &
aVL
5. Inferior —> ST segmen di lead II, III, aVF, reciprocal
dengan ditandai ST segmen depresi di lateral.
Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 39
6. Posterior —> ST segmen di lead V8 & V9
7. Ventrikel kanan —> ST segmen elevasi di lead V1, V2R,
V3R, V4R, reciprocal dengan ditandai ST depresi di lead
inferior

Gambar 49 : AMI berasal dari jantung iskemik yang tidak


ditangani dengan baik. Pada gambar terlihat gelombang T yang
tinggi dan runcing (fase hyper acut T . Fase acut/ injury yaitu
ditandai dengan ST segmen elevasi yang sudah disertai atau
tidak dengan gel Q patologis.
Segment ST

j point Elevasi ST

ischemia (sub digitalis


endocardial
ischemia)

depresi ST depresi ST

Acute myocardial pericarditis


infarction

j point j point ST segmen sags

subendocardial
infarction Hyperkalemia

Gambar 50 : Differensia Diagnosis Segment ST

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 40


Myocardial Infarct (MI)

Gambar 51 : Myocardial Infarct


 Rhythm - Regular
 Rate - 80 kali per menit
 QRS Duration - Normal
 P Wave - Normal
 Elevasi segmen S-T

AMI Septal

Gambar 52 : ST Segmen elevasi di V1 dan V2

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 41


AMI Posterior

Gambar 53 : Gelombang R yang Tinggi di lead V1, lead V8 & V9


Ditemukan ST Segmen Elevasi (AMI Posterior)

7. T Wave

Gambar 54 : Variasi-Variasi Gelombang T

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 42


Ukurannya dari awal sampai dengan akhir gel. T
 Nilai normal amplitude (tinggi) : < 10 mm/ 1mv di lead
precordial< 5 mm/ 0,5 mv di lead extremitas Minimum 1
mm ( 0, 1 mv )
Gelombang T yang datar (flat 7) menandakan iskemia.
Gelombang T terbalik (T-inverted) menandakan iskemia
atau mungkin suatu aneurisma. Gelombang T yang
runcing menandakan hiperkalemia.
T terbalik yang lebar dan dalam
Bila terdapat T terbalik yang lebar dan dalam pada
sandapan I, II atau sandapan V4-V6, maka hampir dapat
dipastikan adanya suatu iskemia miokard transmural
atau aneurisma.

Myocardial Ischaemia

Gambar 55 : Myocardial Ischaemia

1. Gelombang T yang sangat tinggi


Gelombang T yang sangat tinggi paling sering ditemukan
pada hiperkalemia dan hiperkalsemia. Pada stadium
hiperakut (hyper-acute state) dari infark miokard, dimana
gambaran gelombang T yang sangat tinggi akan muncul

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 43


sebelum terjadi perubahan kompleks QRS dan segmen
ST. Gelombang T yang sangat tinggi juga dapat
ditemukan pada bradikardia dan iskemia subendokardi.

Gambar 56 : Hypokalemia dan Hyperkalemia

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 44


DAFTAR PUSTAKA

1. Karim,S. Kabo P : EKG dan Penanggulangan beberapa


Penyakit Jantung untuk Dokter Umum. Jakarta. 2001.
2. Longo, Fauci, Kasper, Hauser, Jameson, Loscalzo.
HARRISON’S Manual Of Medicine,18th Edition.
International Edition. 2013
3. Asri. M, EKG Praktis Sehari-Hari, Makassar.2009.
4. Prakoso.R, Muliawan.H.S. Dasar-Dasar Interpretasi EKG.
Department of Cardiology and Vascular Medicine.FK UI.
5. SA. H. Meurs, A.C Arntzenius : Practische
Elektrocardiografie. Jakarta, 1995.
6. Mary. M. Canibbio, RN, MN. In : Cardiovascular Disorders .
Los Angeles, California. 1990.
7. John. R. Hampton, In : The ECG in Practice, London,
1989.
8. Guyton & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran : Edisi 9
EGG, Jakarta, 2000.
9. Katheleen Dracup, RN, DNSc. In : Meltzer’s Intensive
Coronary Care : a manual for nurses : Los Angeles,
California, 1995.
10. Pakpahan HA. Elektrokardiografi ilustratif. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas kedokteran Universitas Indonesia; 2012;
1-2.
11. Surya D. Sistematika Interpretasi EKG. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2010; 3-5 12-16 19-25.
12. Thaler MS. Satu-satunya buku EKG yang anda perlukan.
Jakarta : Hipokrates; 2000.

Panduan EKG untuk Dokter Muda Page 45