Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

BREEDING SOUNDNESS EXAMINATION(BSE)


KOLEKSI, EVALUASI, PEMBUATAN SEMEN CAIR DAN
BEKU

Oleh :

Gusti Habiby Surya Nata, SKH B94154122


Mayahsastriah Binti Jusman, SKH B94154126
Nathasia Larizky Ronauli S, SKH B94154130
Rifa Rinaldi, SKH B94154142

Dibawah bimbingan :

Dr Drh Yudi, MSi

BAGIAN REPRODUKSI DAN KEBIDANAN


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
PENDAHULUAN
Peternakan merupakan salah satu sektor utama penyedia kebutuhan pangan
terutama daging dan susu. Peningkatan kebutuhan produk peternakan perlu
diimbangi dengan adanya teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi yang telah
berkembang diantaranya inseminasi buatan (IB), in vitro fertilitation (IVF), dan
embryo transfer (ET). Di Indonesia, inseminasi buatan (IB) merupakan teknologi
yang paling sering digunakan karena memiliki efektivitas tinggi dan biaya
terjangkau.
Dalam IB, semen dari seekor pejantan diberi pengencer sehingga
volumenya bertambah dan dapat digunakan untuk mengawini lebih dari seekor
betina. Kunci keberhasilan IB terletak pada kualitas semen yang digunakan.
Semen segar perlu dievaluasi terlebih dahulu sebelum diolah menjadi semen cair
dan semen beku yang dikemas dalam straw. Evaluasi dilakukan secara
makroskopis (warna, volume, pH, konsistensi,dan bau) dan mikroskopis (gerakan
massa, motilitas progresif, konsentrasi, dan viabilitas).
Kualitas semen setelah pengolahan menjadi semen cair maupun semen
beku diharapkan tetap terjaga selama periode peyimpanan. Bahan pengencer harus
mengandung sumber energi bagi kehidupan sperma, tidak bersifat toksik, mudah
diperoleh dan murah. Jenis bahan pengencer juga berpengaruh terhadap daya
hidup sperma, sehingga perlu komposisi yang sesuai bagi setiap spesies ternak.
Pemilihan pejantan untuk IB didasarkan pada keunggulan genetik. Tampilan fisik
pejantan, libido, dan kelayakan sperma merupakan parameter dalam penentuan
pejantan IB. Pejantan dengan mutu genetik unggul diharapkan dapat
menghasilkan keturunan yang unggul pula. Oleh karena itu perlu dilakukan
Breeding Soundness Examination (BSE) dalam pemilihan pejantan unggul.

TUJUAN
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui status fertilitas sapi dan
domba jantan dengan metode Breeding Soundness Examination (BSE).

METODE
Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah tali pengukur, vagina buatan, tabung


tulip, kain penutup, termometer, corong plastik, pinset, tabung penampung semen,
mikroskop cahaya, gelas objek, cover glass, pipet tetes, kamar hitung, tabung
eppendorf, heating table, mikro pipet, gunting, bak plastik, sterofoam box, gelas
ukur, tabung Erlemeyer, batang pengaduk, dan kawat penyangga.
Bahan-bahan yang digunakan adalah semen cair sapid an domba, air
hangat, air keran, Tris hidoxymetil amino methan, natrium sitrat, fruktosa, asam
sitrat, aquades, kuning telur, antibiotic penisilin-streptomisin, formo saline,
alkohol 70%, eosin nigrosine, NaCl 0.9%, nitrogen cair, KY-jelly, dan gliserol.
Cara Kerja

Pemeriksaan fisik dan alat reproduksi


Pemeriksaan fisik dilakukan secara screening dan dipusatkan pada
pemeriksaan alat reproduksi jantan terutama scrotum, lingkar scrotum, konsistensi
testis, preputium, dan keadaan penis. Lingkar scrotum diukur menggukan tali
pengukur, sedangkan pemeriksaan konsistensi dilakukan dengan cara palpasi.

Persiapan bahan pengencer


a. Tris kuning telur
Pengencer tris kuning telur terdiri dari buffer tris dan kuning telur dengan
perbandingan 4:1. Komposisi buffer tris sebagai berikut :
Tabel 1 Komposisi bahan pengencer untuk semen sapi dan domba
Bahan Semen sapi Semen domba
Tris hidroxymetilaminomethan 1.514 g 1.49 g
Asam sitrat 1.08 g 0.825 g
Fruktosa 0.78 g 1.00 g
Aqudest ad 50 ml ad 50 ml

Buffer tris yang telah dibuat kemudian ditambahkan kuning telur.


Pengencer semen cair terdiri dari 80% tris dan 20% kuning telur yang
dihomogenkan. Untuk semen beku, bahan pengencer dibuat dengan
perbandingan buffer tris 74%, kuning telur 20%, dan gliserol 6%. Seluruh
bahan pengencer disimpan pada suhu ruang sebelum proses pengenceran
semen.
b. Na sitrat kuning telur
Natrium sitrat dan fruktosa ditimbang masing-masing 1.16 g dan 0.62 g
dilarutkan dalam aquadest hingga 50 ml. Buffer yang telat dibuat kemudian
ditambah kuning telur dengan perbandingan larutan buffer dan kuning telur 4:1
untuk pengencer semen cair. Untuk semen beku, bahan pengencer dibuat
dengan perbandingan yaitu buffer 74%, kuning telur 20%, dan gliserol 6%.
Stok penisilin dan streptomisin yang tersedia masing-masing yaitu
200.000 IU/ml dan 200 mg/ml. Pada masing-masing bahan pengencer
ditambahkan antibiotik penisilin dan streptomisin dengan perhitungan :
volume pengencer
Volume antibiotik = × dosis antibiotik × 1 mL
stok antibiotik

Koleksi semen
Vagina buatan untuk sapi dan domba disiapkan dengan suhu optimum 50-
55oC. Sapi dan domba jantan yang telah dibersihkan preputiumnya didekatkan
pada sapi dan domba betina yang disiapkan. Sapi dan domba jantan dibiarkan
melakukan courtship sambil diamati libidonya. Pada mounting pertama, penis
diarahkan ke lateral dan tidak dimasukan ke dalam vagina buatan. Pada mounting
kedua, penis diarahkan ke lateral dan masuk ke dalam vagina buatan. Setelah
terjadi ejakulasi yang ditandai dengan adanya hentakan, vagina buatan dilepaskan
bersamaan dengan turunnya pejantan.

Evaluasi semen
Semen sapi dan domba dari hasil penampungan dibawa ke laboratorium
untuk diperiksa sebelum diproses menjadi semen beku. Pemeriksaan semen segar
dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis.
a. Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis bertujuan untuk mengetahui volume,
konsistensi, warna, pH, dan bau dari semen. Volume semen diukur
menggunakan pipet ukur. Konsistensi diperiksa dengan cara memiringkan
tabung dan melihat gerakan semen kembali ke dasar tabung. Pengukuran pH
dilakukan menggunakan pH paper dengan cara menempelkan sedikit semen
pada potongan pH paper kemudian dibandingkan dengan skala pada kemasan
pH paper.
b. Mikroskopis
Pemeriksaan semen secara mikroskopis meliputi gerakan massa,
motilitas, konsentrasi, viabilitas, dan morfologi (abnormalitas) sperma.
Gerakan massa dilihat dengan cara meneteskan satu tetes semen di atas objek
gelas kemudian diamati dengan mikroskop pada perbesaran 10x10. Sebelum
diamati, semen diencerkan dengan NaCl 0.9% sebanyak 4-5 tetes untuk semen
sapi dan 8-10 tetes untuk semen domba. Motilitas sperma diamati pada
perbesaran 10x10 dengan penilaian subyektif 1-100%. Pemeriksaan
konsentrasi sperma dilakukan dengan mengencerkan semen dan formo saline
dengan perbandingan 1:500 (untuk semen domba) dan 1:200 (untuk semen
sapi). Semen diperiksa menggunkan kamar hitung pada 5 kotak. Viabilitas
diperiksa dengan pewarnaan eosin negrosin dan dibuat preparat ulas.
Pengamatan dilakukan pada 10 lapang pandang pada perbesaran 40x10.
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.

Pembuatan semen cair dan beku


Dosis IB pada sapi :
a. Semen cair : 10-15 x 106 sel/0.5-1 ml
b. Semen beku : 25-30 x 106 sel/0.25 ml
Jumlah pengencer yang dibutuhkan dihitung berdasarkan rumus :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛×𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛×𝑚𝑜𝑡𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠×𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐼𝐵
Semen dan bahan pengencer = 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐼𝐵 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛
Volume pengencer = volume total – volume semen
Semen cair yang telah diperoleh kemudian dipreservasi dalam refrigerator
pada suhu 3-5oC, sedangkan untuk semen cair calon semen beku dikemas dalam
straw 0.25 ml menggunakan spuit yang telah dimodifikasi kemudian di –seal
dengan pinset dan heating table. Straw diequilibrasi pada refrigerator dengan suhu
3-5oC selama 3 jam, kemudian setelahnya dievaluasi motilitas dan viabilitasnya.
Langkah selanjutnya straw diuapkan diatas nitrogen cair selama 20 menit dan
dimasukkan ke dalam nitrogen cair selama 15 menit. Semen yang telah beku
selanjutnya di thawing dalam air bersuhu 37oC selama 30 detik dan 37oC selama
60 detik , kemudian dievaluasi kembali motilitas dan viabilitasnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan fisik sapi dan domba tersaji dalam Tabel 2. Sapi dan
domba jantan berdiri pada keempat kaki dan tidak terdapat kelainan pada kuku
dan kaki. Usia sapi >3 tahun dan usia domba 2 tahun. Secara umum, tampilan
fisik domba dan sapi tidak menunjukkan kelainan dan berada pada kisaran
normal.

Tabel 2 Hasil pemeriksaan fisik Sapi dan Domba


Pemeriksaan Fisik Sapi Domba
Umur >3 tahun 2 tahun
Suhu (°C) 39.3 39.4
Frekuensi nadi (kali/menit) 64 94
Frekuensi nafas (kali/menit) 28 84
Body Condition Score 3 2
Tanda khusus Tidak ada Tidak ada

Tabel 3 Hasil pemeriksaan organ reproduksi eksternal dan mating ability


Kategori yang dinilai Sapi Domba
Lingkar scrotum 39 cm 23 cm
Konsistensi testis Kenyal Kenyal
Keadaan testis Simetris Simetris
Penggantung testis Menggantung Menggantung
Arah Preputium Ke depan Ke depan
Keadaan preputium Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Libido Tinggi Rendah

Tabel 4 Data karakteristik semen segar domba hari ke-1


Parameter Hasil
Makroskopis
Volume (mL) 1.2 mL
Warna Krem putih
Konsistensi Kental
pH 6.4
Bau Khas
Mikroskopis 1 2 3 Rataan
Gerakan massa ++ ++ ++ ++
Gerakan individu 4 3 3 3.33
Motilitas prograsif (%) 65 60 60 61.66
Persentase hidup (%) 57.60 55.06 56.41 56.35
Konsentrasi spermatozoa
(106/mL)
- Estimasi 1000 1000 1000 1000
- Counting Chamber 1150 1225 1125 1166.66
Abnormalitas morfologi
21.01 4.58 8.38 11.32
(%)

Hasil menunjukkan bahwa volume semen domba sebesar 1.2 mL. Hasil ini
sesuai dengan pendapat Garner dan Hafez (2008) yang menyatakan bahwa
volume semen domba rata-rata berkisar antara 0,8 – 1,2 mL. Warna semen domba
yaitu krem putih dengan bau khas semen. Nilai pH semen segar domba adalah 6.4.
Hal ini sesuai dengan Hafez (2000) bahwa semen segar domba berwarna krem,
memiliki konsistensi kental, nilai pH rata-rata 5.9 – 7.3.
Pemeriksaan mikroskopis diperoleh hasil gerakan masa rata-rata (++) dan
motilitas progresif 61.66%. Rata-rata persentase motilitas semen domba yang baik
adalah 60–80% (Hafez 2000). Konsentrasi semen domba pada pemeriksaan
adalah 1166.66 juta/mL. Semen domba yang mempunyai kualitas baik memiliki
konsentrasi sekitar 950 – 4368 juta/ml (Herdis et a.l 2005). Persentase hidup
spermatozoa pada pemeriksaan yaitu sebesar 56.35% dengan keabnormalan
morfologi 11.32%. Persentase spermatozoa hidup 64.32% (19 – 95%) (Inounu et
al. 2001), 86,6% (Herdis et al. 2005), dan 87.33% (Rizal et al. 2003). Persentase
maksimal spermatozoa abnormal domba rata-rata adalah 5 – 20% (Hafez 2000).

Tabel 5 Data karakteristik semen segar sapi hari ke-1


Parameter Hasil
Makroskopis
Volume (mL) 5.5 mL
Warna Krem abu
Konsistensi Encer
Ph 6.4
Bau Khas
Mikroskopis 1 2 3 Rataan
Gerakan massa + + + +
Gerakan individu 4 4 4 4
Motilitas progresif (%) 80 80 70 76.66
Persentase hidup (%) 89.82 90.09 91.4 90.43
Konsentrasi spermatozoa
(106/mL)
- Estimasi 500 500 500 500
- Counting Chamber 440 440 440 440
Abnormalitas morfologi
4.94 1.51 3.1 3.18
(%)

Kualitas semen segar merupakan dasar utama proses perlakuan selanjutnya.


Semen segar yang diperoleh dilakukan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis
sebelum dilakukan pengenceran dan penyimpanan. Pemeriksaan makroskopis
meliputi volume, warna, konsistensi, pH, dan bau, sedangkan pemeriksaan secara
mikroskopis meliputi gerakan massa, gerakan individu (%), motilitas progresif
(%), viabilitas (%), konsentrasi, dan abnormalitas (%).
Rataan volume semen segar sapi yang dihasilkan adalah 5.5 mL. Menurut
Arifiantini (2012), rata-rata volume ejakulat sapi adalah 4 – 8 mL. Volume semen
termasuk dalam kisaran normal. Warna semen sapi segar adalah krem abu.
Susilawati (2011) menyatakan bahwa warna krem pada semen disebabkan oleh
adanya ribloflavin dari sekresi kelenjar vesikularis. Lopes (2002) juga
menyatakan bahwa kualitas semen dinyatakan baik apabila memiliki warna
kekuningan sampai dengan putih susu. Konsentrasi semen segar pada sapi adalah
sedang. Rata-rata pH semen segar hasil penampungan adalah 6.4. Menurut Ismaya
(2014) menyatakan bahwa keasaman semen dapat diketahui dengan menggunakan
pH meter atau dengan kertas lakmus. Pada sapi mempunyai pH 6.2 – 7.8. Bau
semen sapi segar adalah bau khas atau anyir.
Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan gerakan masa rata-rata (+) dengan
motilitas progresif sebesar 76.66 %. Motilitas progresif ini berarti normal dan
fertil. Konsentrasi semen sapi pada pemeriksaan adalah 440 juta/mL dengan
persentase hidup 90.43 %. Menurut Campbell et al. (2003), konsentrasi
spermatozoa pada sapi jantan dewasa berkisar antara 800 – 1200 juta/mL semen.
Rata-rata nilai abnormalitas 3.18% masih tergolong baik dan memenuhi kriteria
semen yang baik. Tambing et al. (2000) menyatakan persentase abnormal tidak
boleh lebih dari 15%.

Tabel 6 Data karakteristik semen segar sapi hari ke-2


Parameter Hasil
Makroskopis
Volume (mL) 4.5
Warna Krem abu
Konsistensi Encer
Ph 6.4
Bau Khas
Mikroskopis 1 2 3 Rataan
Gerakan massa +++ +++ +++ +++
Gerakan individu 4 3 3 3.33
Motilitas prograsif (%) 80 70 70 73.33
Persentase hidup (%) 96.26 91.32 90.45 92.67
Konsentrasi spermatozoa
(106/mL)
- Estimasi 600 600 600 600
- Counting Chamber 530 760 430 573.33
Abnormalitas morfologi
12.1 21 23.15 18.75
(%)

Volume ejakulat sapi pada hari ke-2 adalah 4,5 mL. Volume yang diperoleh
lebih rendah dari pada hari pertama. Menurut Arifiantini (2012), rata-rata volume
ejakulat sapi adalah 4 – 8 mL dan pH semen mamalia berkisar antara 6 – 7.5.
Warna semen sapi segar adalah krem abu. Warna tersebut tergolong normal
menurut Suyadi et al. (2004) bahwa warna semen yang baik adalah putih krem,
putih susu atau kuning. Rata-rata pH semen segar hasil pemeriksaan adalah 6.4,
sesuai Suyadi et al. (2004) yang menyatakan pH semen sapi berkisar antara 6.4 –
7.0.
Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan gerakan masa rata-rata (+++)
dengan motilitas progresif sebesar 73.33%. Motilitas progresif ini berarti normal
dan fertil. Konsentrasi semen sapi pada pemeriksaan adalah 573.33 juta/mL
dengan persentase hidup 92.67 %. Menurut Campbell et al. (2003), konsentrasi
spermatozoa pada sapi jantan dewasa berkisar antara 800 – 1200 juta/mL semen.
Rata-rata nilai abnormalitas 18.75 % masih tergolong baik. Hafez (2008)
menyatakan bahwa abnormalitas spermatozoa tidak boleh melebihi 20%. Hasil
evaluasi semen segar yang telah diperoleh menunjukkan bahwa kualitas semen
segar dapat dipakai sebagai bahan semen cair maupun semen beku.
Bahan pengencer berfungsi untuk menambah volume semen dan menjaga
kualitas selama penyimpanan sampai semen digunakan. Bahan pengencer yang
baik adalah dapat menyediakan nutrisi bagi kebutuhan spermatozoa selama
penyimpanan, memungkinkan sperma dapat bergerak secara progresif, tidak
bersifat racun bagi sperma, menjadi penyanggah bagi sperma, dan dapat
melindungi sperma dari kejutan dingin (cold shock) (Solihati dan Kune 2011).
Sebelum dilakukan pengenceran, terlebih dahulu semen segar sapi
dievaluasi meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. Adanya evaluasi
semen diharapkan dapat mengetahui kualitas dan kuantitas semen segar yang akan
digunakan untuk inseminasi buatan. Kualitas spermatozoa yang dimaksud adalah
spermatozoa yang mempunyai daya hidup tinggi, morfologi normal dan motilitas
progresif tinggi (Herdis et al. 2005). Evaluasi semen merupakan salah satu
rangkaian Breeding Soudness Evaluation (BSE) untuk mendeteksi secara dini
kelainan fertilitas hewan jantan yang digunakan dalam program inseminasi buatan
(Chenoweth 2004).

Tabel 7 Hasil evaluasi semen cair sapi setelah pengenceran dan ekuilibrasi
Parameter Setelah pengenceran Setelah ekuilibrasi
1 2 3 Rataan 1 2 3 Rataan
Tris-KT
Motilitas (%) 70 60 60 63.33 60 55 60 58.33
Viabilitas
91.67 88.51 74.54 84.90 75.47 79.59 73.29 76.11
(%)
Na Sitrat-
KT
Motilitas (%) 70 70 70 70 60 65 65 63.33
Viabilitas
85 86.27 91.51 87.59 79.18 77.86 81.2 79.41
(%)

Pada hasil pengamatan setelah pengenceran (Tabel 7) terlihat bahwa nilai


persentase motilitas dan viabilitas dari pengenceran tris kuning telur (Tris-KT)
dan natrium sitrat kuning telur (Na Sitrat-KT) mengalami penurunan dari nilai
persentase sebelum dilakukan pengenceran. Penurunan persentase tersebut karena
penambahan bahan pengencer yang menyebabkan volume bertambah sehingga
spermatozoa terlihat menyebar. Menurut Herdis et al. (2005) bahwa fungsi
pengencer antara lain menyediakan zat-zat makanan sebagai sumber energi bagi
spermatozoa, melindungi spermatozoa terhadap cold shock, menyediakan suatu
penyanggah (buffer) untuk mencegah perubahan pH akibat pembentukan asam
laktat dari hasil metabolisme spermatozoa, mempertahankan tekanan osmotik dan
keseimbangan elektrolit yang sesuai, serta memperbanyak volume semen. Oleh
karena itu, daya hidup dari spermatozoa diharapkan dapat dipertahankan dalam
waktu yang lebih lama.
Setelah dilakukan ekulibrasi terjadi pula penurunan nilai persentase
motilitas dan viabilitas dalam kedua media. Namun perbedaan dari kedua media
pengencer tersebut tidak terlalu signifikan. Ekuilibrasi dalam suhu 3-5oC
diharapkan dapat menjaga suhu semen sehingga tidak terjadi kematian
spermatozoa.

Tabel 8 Hasil evaluasi semen cair sapi


Waktu Tipe Pengencer
Pengamatan Tris-KT Na Sitrat-KT
(Hari ke-) Motilitas (%) Viabilitas (%) Motilitas (%) Viabilitas (%)
1 58.33 76.11 63.33 79.41
2 48.33 70.69 50 76.06
3 45 66.10 46.66 64.31
4 41.66 59.22 38.33 58.05
5 38.33 51.27 33.33 49.39
6 31.66 44.49 23.33 42.52
7 21.66 36.06 16.66 34.83
8 16.66 29.28 10 25.67
9 8.33 24.76 5 16.86
10 5 16.74 0 11.67
11 0 13.42 - -

Pada hasil pengamatan semen cair, didapatkan nilai persentase motilitas dan
viabilitas dari semen sapi yang diencerkan baik dengan bahan pengencer Tris-KT
maupun Na Sitrat-KT mengalami penurunan bertahap seiring dengan lama masa
simpan. Fenomena penurunan motilitas spermatozoa setelah penyimpanan yang
lama diakibatkan oleh menurunnya zat makanan spermatozoa dan pengaruh zat
toksik hasil sampingan dari proses metabolisme spermatozoa (Hafez 2000).
Metabolisme spermatozoa akan menghasilkan asam laktat yang bila ada dalam
jumlah yang banyak akan merubah pH semen menjadi asam. Hal ini disebabkan
adanya penimbunan asam laktat yang merupakan hasil akhir proses metabolisme,
yaitu pemecahan fruktosa. Penurunan pH ekstraseluler secara efektif dapat
menurunkan pH intraseluler. Rizal et al. (2003) menambahkan bahwa motilitas
spermatozoa sangat bergantung pada suplai energi berupa adenosin triphosphate
(ATP) hasil dari proses metabolisme sel.
Nilai persentase motilitas dan viabilitas dari semen cair dengan pengencer
Tris-KT secara umum lebih tinggi dari semen cair dengan pengencer Na Sitrat-
KT, namun perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan. Spermatozoa sapi dapat
bertahan hidup hingga hari ke-10 untuk bahan pengencer Na Sitrat-KT, sementara
untuk bahan pengencer Tris-KT spermatozoa hanya dapat bertahan hingga hari
ke-11. Menurut Kulaksız et al. (2012), motilitas serta viabilitas dari semen yang
diencerkan dengan pengencer berbasis tris lebih baik daripada semen yang
diencerkan dengan pengencer berbasis natrium sitrat ataupun susu skim.
Peningkatan konsentrasi dari larutan penyangga pada pengencer dapat
mengurangi efek merugikan dari ion-ion hidrogenik yang hadir dalam jumlah
banyak sebagai produk dari aktivitas metabolisme spermatozoa. Penurunan pH
pengencer menyebabkan kerusakan integritas membran spermatozoa yang
berdampak pada penurunan kapasitas spermatozoa untuk melakukan fertilisasi.

Tabel 9 Hasil evaluasi semen beku sapi


Parameter Setelah pengenceran Setelah ekuilibrasi
Tris-KT 1 2 3 Rataan 1 2 3 Rataan
Motilitas (%) 60 60 60 60 50 50 50 50
Viabilitas
80.35 84.28 82.92 82.51 77.78 79.12 80.39 79.09
(%)
Na Sitrat-
KT
Motilitas (%) 70 70 70 70 65 50 50 55
Viabilitas
81.08 89.83 84.61 85.17 85.4 87.31 89.56 87.42
(%)

Post Thawing air 37oC Post Thawing air keran 25oC


Parameter
1 2 Rataan 1 2 Rataan
Tris-KT
Motilitas (%) 10 10 10 10 5 7.5
Viabilitas (%) 40.63 38.12 39.37 36.99 35.21 36.10
Na Sitrat- KT
Motilitas (%) 20 15 17.5 20 20 20
Viabilitas (%) 37.28 36.72 37 34.42 35.77 35.09

Pengamatan semen beku pada sapi dilakukan pada saat setelah pengenceran
atau sebelum ekulibrasi, setelah ekuilibrasi, setelah thawing pada air dengan suhu
37 oC dan air keran 25 oC. Berdasarkan pengamatan semen sapi setelah
pengenceran terjadi penurunan persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa
pada bahan pengencer Tris-KT dan juga pada bahan pengencer Na Sitrat-KT. Hal
ini diduga disebabkan karena pemberian gliserol. Menurut Febriani et al. (2014)
gliserol dapat merusak struktur membran plasma dan organel-organel sel yang
mengakibatkan metabolisme energi menjadi terhambat. Energi yang terhambat
menyebabkan spermatozoa tidak mendapatkan cukup nutrisi sehingga akan terjadi
kematian. Selain itu, penurunan motilitas dan viabilitas spermatozoa setelah
dilakukan ekulibrasi juga dapat disebabkan oleh suhu dingin pada saat
penyimpanan.
Motilitas spermatozoa setelah dilakukan ekulibrasi pada bahan pengencer
Tris-KT dibandingkan pada bahan pengencer Na sitrat-KT memiliki persentase
yang tidak berbeda signifikan, namun penurunan persentase motilitas setelah
ekuilibrasi pada bahan pengencer Tris-KT lebih rendah dibandingkan Na Sitrat-
KT. Pengencer Tris-KT mampu melindungi sperma lebih baik dibandingkan Na
Sitrat-KT karena titik beku Tris-KT (-15⁰C) lebih rendah dibandingkan dengan
titik beku Na Sitrat-KT (-12⁰C) sehingga spermatozoa dapat lebih bertahan hidup
(Herdiawan 2004). Menurut Arifiantini dan Yusuf (2006), untuk menghasilkan
semen beku yang berkualitas tinggi dibutuhkan bahan pengencer seperti buffer
dan krioprotektan yang dapat melindungi dan mempertahankan kualitas
spermatozoa selama proses pendinginan, pembekuan dan thawing. Buffer yang
umumnya digunakan adalah tris (hydroxymethyl) aminomethan yang mempunyai
kemampuan sebagai penyangga yang baik dengan toksisitas yang rendah. Peranan
tris dalam pengencer juga berfungsi untuk mempertahankan daya hidup
spermatozoa serta sebagai buffer (penyangga) dari perubahan pH bahan
pengencer.
Pada post thawing mengunakan air suhu 37 oC dan air keran 25oC dengan
bahan pengencer Tris-KT dan Na Sitrat-KT, motilitas dan viabilitas spermatozoa
mengalami penurunan. Hal ini dapat disebabkan karena adanya pengaruh kejut
dingin (cold shock) pada saat pembekuan yang dapat merusak membran plasma
sel yang berakibat kematian pada spermatozoa. Pada saat pembekuan, semen
mengalami penurunan kualitas sekitar 10 – 50% (Parrish 2003). Hafez (2000),
menyatakan bahwa spermatozoa yang dibekukan akan mengalami kerusakan
sekitar 40%. Pada post thawing mengunakan air suhu suhu 37 oC relatif lebih baik
dibandingkan dengan air keran 25oC. Hasil ini sesuai dengan penelitian dari
Pratiwi et al. (2009). Hasil tersebut menunjukkan bahwa straw semen beku yang
dimasukkan ke dalam air keran dengan kisaran temperatur 25‐30oC dalam waktu
lebih dari 15 menit akan mengalami perubahan temperatur yang tidak sesuai
dengan kehidupan sel spermatozoa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan cold
shock dan rusaknya dinding sitoplasma sel spermatozoa dan sel spermatozoa
banyak yang mati. Selk (2002) melaporkan bahwa untuk menghindari bahaya cold
shock pada straw beku dilakukan thawing selama 10 hingga 60 detik
menggunakan air hangat. Menurut Sayoko et al.(2007) thawing menggunakan air
hangat akan memberikan hasil persentase spermatozoa hidup lebih tinggi
dibandingkan dengan menggunakan air sumur. Pada post thawing mengunakan air
suhu 37 oC dengan bahan pengencer Na Sitrat-KT memiliki viabilitas spermatozoa
dengan yang lebih besar dibandingkan pada air keran 25oC. Namun perbedaan
viabilitas pada kedua pengencer tersebut tidak terlalu jauh. Hal ini diduga dapat
disebabkan karena waktu thawing yang tidak begitu tepat.
Kerusakan sel yang terjadi dapat diminimalisasi dengan menambahkan
krioprotektan (Solihati et al. 2008). Krioprotektan terdiri atas dua macam yaitu
krioprotektan intraseluler dan krioprotektan ekstraseluler. Krioprotektan
intraseluler contohnya adalah gliserol sedangkan ekstraseluler contohnya adalah
kuning telur. Salah satu jenis krioprotektan yang sering digunakan pada mamalia
adalah gliserol. Gliserol dapat masuk ke dalam sel spermatozoa untuk mengikat
sebagian air bebas, sehingga kristal-kristal es yang terbentuk pada medium
pengencer pada waktu pembekuan dapat dicegah (Azizah dan Arifiantini 2009).
Fungsi lain gliserol adalah menjaga keseimbangan elektrolit intra dan ekstra
seluler sehingga proses biokimia yang terjadi di dalam sel spermatozoa tetap
berlangsung dan mengurangi kematian sel spermatozoa yang berlebihan (Tambing
et al. 2000). Gliserol dapat berdifusi ke dalam sel spermatozoa dan dapat
dimetabolisir dalam proses-proses yang menghasilkan energi dan membentuk
fruktosa. Gliserol yang memasuki sel akan menggantikan sebagian besar air yang
bebas dan mendesak ke luar elektrolit-elektrolit, menurunkan konsentrasi
intraseluler elektrolit-elektrolit tersebut dan mengurangi daya perusaknya terhadap
spermatozoa adanya gliserol dalam pengencer maka efek dari kejut dingin
tersebut dapat diminimalisir sehingga kematian spermatozoa dapat dicegah.
Gliserol akan memberikan perlindungan yang efektif terhadap spermatozoa
selama proses pembekuan bila konsentrasinya di dalam pengencer optimal.
Tambing et al. (2000) menyatakan bila konsentrasi gliserol tidak optimal akan
menimbulkan gangguan pada sperma berupa penurunan kualitas spermatozoa.
Persentase viabilitas spermatozoa pada bahan pengencer tris dengan Na
sitrat diduga disebabkan karena keduanya diberikan kuning telur. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Solihati dan Kune (2009) bahwa tidak ada perbedaan yang
mencolok antar perlakuan dalam memperpanjang daya tahan hidup spermatozoa
sapi yang kemungkinan disebabkan karena bahan pengencer ditambahkan kuning
telur sebagai sumber energi bagi proses metabolisme. Khasiat kuning telur terletak
pada lipoprotein dan lechitin yang terkandung di dalamnya dan berfungsi untuk
mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein spermatozoa
(Arifiantini dan Yusuf 2004). Lesitin kuning telur diharapkan akan melindungi
lesitin membran plasma sel spermatozoa dari kerusakan selama proses pengolahan
semen, terutama selama pendinginan, pembekuan dan thawing semen beku
(Minitub 2001). Kuning telur juga mengandung glukosa yang lebih sering
dipergunakan oleh sel-sel sperma sapi untuk metabolismenya daripada fruktosa
yang terdapat di dalam semen. Selain itu, kuning telur juga dapat berguna sebagai
anti cold shock yang dapat melindungi spermatozoa pada saat perubahan suhu
(Aboagla dan Terada 2004).

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan disimpulkan bahwa jenis pengencer natrium
sitrat kuning telur mampu mempertahankan kualitas semen sapi lebih rendah
dibandingkan pengencer tris kuning telur baik pada semen cair maupun semen
beku.

DAFTAR PUSTAKA

Aboagla EME, Terada T. 2004. Effects of supplementation of trehalosa extender


containing egg yolk with sodium dodecyl sulfate on the freezability of goat
spermatozoa. J Dairy Sci. 85:453‐456.
Arifiantini RI, Yusuf TL. 2004. Keberhasilan penggunaan tiga pengencer dalam
dua jenis kemasan pada proses pembekuan semen sapi Frisien Holstein.
Bogor (ID): Fakultas Kedokteran Hewan.
Arifiantini RI, Yusuf TL. 2006. Keberhasilan menggunakan tiga bahan pengencer
dala dua jenis kemasan pada proses pembekuan semen sapi Frisien Holstein.
Majalah Ilmiah Peternakan. 9(3): 89–93.
Arifiantini I. 2012. Teknik Koleksi dan Evaluasi Semen pada Hewan. Bogor (ID):
IPB Pr.
Azizah, Arifiantini RI. 2009. Kualitas semen beku kuda pada pengencer susu skim
dengan kosentrasi gliserol yang berbeda. J Vet. 10(2): 63-70.
Campbell JR, Campbell KL, Kenealy MD. 2003. Artificial Insemination. In:
Anim. Sci. Ed ke-4. New York (US): McGraw-Hill.
Chenoweth PJ. 2004. Semen evaluation. Dalam: Applied Reproductive Strategies
in Beef Cattle. Prosiding. North Platte, Nebraska: 1-2 September 2004.
Garner DL, Hafez ESE. 2008. Spermatozoa and Seminal Plasma. In Reproduction
in Farm Animmal. Hafex ESE (editor) 7th Edition. Lea and Febiger: 96-110.
Febriani GD, Hamdan, Melia J. 2014. Pengaruh Waktu Ekuilibrasi Terhadap
Kualitas Semen Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) Setelah Thawing. J
Medika Veterinarian. 853-1943.
Hafez ESE. 2000. Artificial Insemination. in: Reproduction in Farm Animals. Ed
ke-7. Philadelphia (US): Lea and Febiger.
Herdiawan I. 2004. Pengaruh laju penurunan suhu dan jenis pengencer terhadap
kualitas semen beku domba Priangan. JITV. 9(2):98-107.
Herdis, Rizal M, Boediono A, Arifiantini RI, Saili T, Aku AS, Yulnawati. 2005.
Optimasi kualitas semen beku domba garut melalui penambahan trehalosa
ke dalam pengencer kuning telur. J Pengembangan Peternakan Tropis. 30:
229-236.
Inounu I, Hidajati N, Jarmani SN, Priyanto D, Hastono, Setiadi B, Subandriyo.
2001. Pengaruh interaksi genetik dan lingkungan terhadap produksi domba
persilangan dan domba lokal pada beberapa lokasi pengamatan: evaluasi
kualitas semen domba hasil persilangan. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian. Puslitbang Peternakan. 64-73.
Ismaya. 2014. Bioteknologi Inseminasi Buatan pada Sapi dan Kerbau.
Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Kulaksız R, Cebi C, Akcay E. 2012. The effect of different extenders on the
motility and morphology of ram sperm frozen or stored at 4 °C. Turk J Vet
Anim Scien. 36(2):177-182.
Lopes FP. 2002. Semen Collection and Evaluation in Ram. ANS 33161. Florida
(US): University of Florida.
Minitub. 2001. Certificate Andromed. (GR): Minitub Abfullund Labortechnik
GmbH and Co KG.
Parrish J. 2003. Techniques in domestic animal reproduction-evaluation and
freezing of semen. [internet]. [diunduh 2016 Jan 29]. Tersedia pada:
http://www.wisc.edu/anscirepro.
Pratiwi WC, Affandhy L, Ratnawati D. 2009. Pengaruh lama thawing terhadap
kualitas semen beku sapi limousin dan brahman. Animal Production. 11(1):
48‐52.
Rizal M, Toelihere MR, Yusuf TL, Purwantara B, Situmorang. 2003. Kualitas
semen beku domba Garut dalam berbagai dosis gliserol. J Vet. 7: 194-199.
Sayoko Y, M Hartono, PE Silotonga. 2007. Faktor‐faktor yang Mempengaruhi
Persentase Spermatozoa Hidup Semen Beku Sapi pada Berbagai
Inseminator di Lampung Tengah. Kumpulan Abstrak Skripsi Jurusan
Produksi Ternak. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.
Selk G. 2002. Artificial Insemination for Beef Cattle. [internet]. [diunduh 2016
Jan 29]. Tersedia pada: http://www.osuextra.com
Solihati N, Idi R, Rasad SD, Rizal dan Fitriati. 2008. Kualitas spermatozoa cauda
epididymis sapi Peranakan Ongol (PO) dalam pengencer susu, tris dan 45
sitrat kuning telur pada penyimpanan 4-50 C. J Anim. Prod. 10(1) : 22-29.
Solihati N, Kune P. 2011. Pengaruh jenis pengencer terhadap motilitas dan daya
tahan hidup spermatozoa semen cair sapi Simmental. Bandung (ID):
Universitas Padjadjaran.
Susilawati, T. 2011. Spermatology. Malang (ID): Universitas Brawijaya Press.
Suyadi, Susilawati T, Isnaini N. 2004. Uji coba produksi semen beku kambing
boer. Laporan Penelitian. Malang (ID): Fakultas Peternakan UB.
Tambing SN, Toelihere MR, Yusuf TL, Sutama IK. 2000. Pengaruh Gliserol
dalam Pengencer Tris Terhadap Kualitas Semen Beku Kambing Peranakan
Etawah. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 5(2): 1 – 8.