Anda di halaman 1dari 30

HALAMAN JUDUL

EPIDEMIOLOGI PERNYAKIT MENULAR

“Malaria”

KELOMPOK 2 :

1. DESTA AMBARWATI TAMSIR J1A117030


2. HELDA TRIASTIKA J1A117049
3. IKHSANA NURUL AFIA J1A117055
4. ISTI RAHYANI J1A117062
5. KARTINI J1A117064
6. NENTI SULFIA J1A117089

A KESMAS 2017

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga
makalah ini bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah


berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Kendari, 3 Mei 2019

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I ............................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
BAB II ........................................................................................................................... 4
1.1 Pengertian Malaria ......................................................................................... 4
1.2 Segitiga Epidemologi Malaria ........................................................................ 4
1.3 Vektor Malaria ............................................................................................. 12
1.4 Epidemiologi Malaria ................................................................................... 14
1.5 Patofisiologi Malaria .................................................................................... 19
1.6 Pencegahan Malaria ..................................................................................... 22
BAB III ....................................................................................................................... 23
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 23
3.2 Saran ............................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 25

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut World Health Organization (WHO), malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasite plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan
nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Penyakit malaria dapat dicegah dan
disembuhkan, namun juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani
dengan tepat. Orang yang terkena gejala malaria akan mengalami demam, menggigil,
berkeringat, sakit kepala, mual atau muntah (Kemenkes RI, 2014). Pada sebagian
besar negara endemis malaria, penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau
pasien yang lebih tua dengan keluhan demam yang sedang mencari perawatan di
fasilitas kesehatan (WHO, 2017).

Indonesia adalah salah satu negara yang berisiko terhadap kasus malaria
dengan prevalensi sebesar 1,4% dan angka insiden sebesar 0,3% dengan angka
Annual Parasite Incidence (API) tahun 2015 sebesar 0,85% (Triana et al, 2017).
Salah satu agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 adalah
meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia melalui pelaksanaan
program Indonesia Sehat. Salah satu indikator dalam sasaran pembangunan kesehatan
tersebut adalah jumlah kabupaten/kota yang memiliki sertifikasi eliminasi malaria
(Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014). Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria di
Indonesia dikeluarkan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, terbebas dari
penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030 (Kemenkes, 2009). Pemerintah
menargetkan sebanyak 300 kabupaten/kota akan memiliki sertifikasi eliminasi
malaria pada tahun 2019 yang ditetapkan dalam RPJMN tahun 2015-2019 (Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014). Upaya penanggulangan penyakit malaria

1
di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2007 dan dipantau dengan menggunakan
indikator API yang merujuk pada kebijakan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia (Kemenkes, 2007).
WHO memperkirakan sebanyak 300 hingga 500 juta orang terinfeksi malaria
tiap tahunnya (Putra, 2011). Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 3 juta kasus
malaria berat (malaria komplikasi) dan kematian akibat malaria (Babba, 2007).
Sumber lain menyebutkan bahwa sebanyak 1,5 juta hingga 2,7 juta jiwa meninggal
setiap tahunnya terutama anak anak dan ibu hamil (Kemenkes, 2011). Kasus malaria
merupakan salah satu kasus penyakit yang tidak pernah hilang (emerging). Kejadian
Luar Biasa (KLB) kasus malaria terjadi hamper di semua benua, tidak hanya
meningkatkan gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan kematian,
menurunkan produktivitas kerja, dan dampak ekonomi lainnya termasuk menurunnya
pariwisata akibat malaria impor (Winardi, 2004). Malaria impor merupakan kasus
malaria yang terjadi pada seseorang yang berkunjung ke daerah yang rawan
timbulnya penyakit malaria dan kemudian kembali ke daerah asalnya yang bukan
merupakan wilayah endemis malaria. Beberapa KLB malaria diakibatkan oleh adanya
perubahan lingkungan dimana tempat perkembangbiakan potensial nyamuk vector
malaria semakin luas atau semakin bertambah (Santi, 2012).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan malaria?
2. Bagaimana segitiga epidemiologi malaria?
3. Apa vector dari malaria?
4. Bagaimana epidemiologi malaria?
5. Bagaimana patofisiologi dari malaria?
6. Apa saja langkah pencegahan malaria?

1.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan
malaria.

2
2. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami bagaimana segitiga
epidemiologi malaria.
3. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami apa vektor dari penyakit
malaria.
4. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami bagaimana epidemiologi
malaria.
5. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami bagaimana patofisiologi dari
malaria.
6. Agar mahasiswa(i) mengetahui dan memahami apa saja langkah pencegahan
malaria.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Malaria


Menurut World Health Organization (WHO), malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasite plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan
nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Penyakit malaria dapat dicegah dan
disembuhkan, namun juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani
dengan tepat. Orang yang terkena gejala malaria akan mengalami demam, menggigil,
berkeringat, sakit kepala, mual atau muntah (Kemenkes RI, 2014). Pada sebagian
besar negara endemis malaria, penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau
pasien yang lebih tua dengan keluhan demam yang sedang mencari perawatan di
fasilitas kesehatan (WHO, 2017).

Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium


ditularkan melalui gigitan nyamuk anhopeles betina. Malaria merupakan penyakit
infeksi penyebab kematian kelima di dunia setelah infeksi pernapasan, HIV/AIDS,
diare, dan tuberkulosis. Malaria telah menyerang 106 negara di dunia.

Malaria disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus Plasmodium, yang


ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Plasmodium yang menyebabkan
malaria pada manusia terdapat 4 spesies Plasmodium yaitu P falcifarum, P vivax, P
malariae dan P ovale. Plasmodium falcifarum menyebabkan infeksi paling berat
dan angka kematian tertinggi di bandingkan malaria lainnya.

1.2 Segitiga Epidemologi Malaria


Penularan Malaria Penyakit malaria disebabkan oleh parasit yang disebut
plasmodium spp yang hidup dalam tubuh manusia dan dalam tubuh nyamuk.
Parasit/plasmodium hidup dalam tubuh manusia. Menurut epidemiologi penularan
malaria secara alamiah terjadi akibat adanya interaksi antara tiga faktor yaitu Host,

4
Agent, dan Environment. Manusia adalah host vertebrata dari Humanplasmodium,
nyamuk sebagai Host invertebrate, sementara Plasmodium sebagai parasit malaria
sebagai agent penyebab penyakit yang sesungguhnya, sedangkan faktor lingkungan
dapat dikaitkan dalam beberapa aspek, seperti aspek fisik, biologi dan sosial ekonomi
(Chwatt-Bruce.L.J,1985). Sedangkan faktor lingkungan dapat dikaitkan dalam
beberapa aspek, seperti aspek fisik, biologi dan sosial ekonomi (Chwatt-
Bruce.L.J,1985).
1. Hubungan Host, Agent, dan Environment
a) Host
1. Manusia
(Host Intermediate)Pada dasarnya setiap orang dapat terkena malaria,
tetapi kekebalan yang ada pada manusia merupakan perlindungan terhadap
infeksi Plasmodium malaria. Kekebalan adalah kemampua n tubuh manusia
untuk menghancurkan Plasmodium yang masuk atau membatasi
perkembangannya.Ada dua macam kekebalan yaitu :
a. Kekebalan Alami (Natural Imunity) Kekebalan yang timbul tanpa
memerlukan infeksi terlebih dahulu.
b. Kekebalan didapat (Acqired Immunity) yang terdiri dari :
1. Kekebalan aktif (Active Immunity) yaitu kekebalan akibat dari
infeksi sebelumnya atau akibat dari vaksinasi.
2. Kekebalan pasif (Pasif Immunity) Kekebalan yang didapat melalui
pemindahan antibody atau zat-zat yang berfungsi aktif dari ibu
kepada janin atau melalui pemberian serum dari seseorang yang kekal
penyakit. Terbukti ada kekebalan bawaan pada bayi baru lahir dari
seorang ibu yang kebal terhadap malaria didaerah yang tinggi
endemisitas malarianya
2. Nyamuk Anopheles spp (Host Defenitive
Nyamuk Anopheles spp sebagai penular penyakit malaria yang
menghisap darah hanya nyamuk betina yang diperlukan untuk pertumbuhan

5
dan mematangkan telurnya. Jenis nyamuk Anopheles spp di Indonesia lebih
dari 90 macam. Dari jenis yang ada hanya beberapa jenis yang mempunyai
potensi untuk menularkan malaria (Vektor). Menurut data di Subdit SPP,
penular penyakit malaria di Indonesia berjumlah 18 species. Di Indonesia
dijumpai beberapa jenis Anopheles spp sebagai vector Malaria, antara lain :
An, sundaicus sp, An. Maculates sp, An. Balabacensis sp, An, Barbnirostrip
sp (Depkes RI, 2005). Di setiap daerah dimana terjdi transmisi malaria
biasanya hanya ada 1 atau paling banyak 3 spesies Anopheles yang menjadi
vektor penting. Vector-vektor tersebut memiliki habitat mulai dari rawa-
rawa, pegunungan, sawah, pantai dan lain-lain (Achmadi, 2005).

Menurut Achmadi (2005), secara umum nyamuk yang telah


diidentifikasi sebagai penular malaria mempunyai kebiasaan makan dan
istirahat yang bervariasi yaitu:
a. Zoofilik: nyamuk yang menyukai darah binatang.
b. Anthropilik : nyamuk yang menyukai darah manusia.
c. Zooanthropolik: nyamuk yang menyukai darah binatang dan manusia.
d. Endofilik: nyamuk yang suka tingga l didalam rumah/bangunan.
e. Eksofilik: nyamuk yang suka tinggal di luar rumah.
f. Endo fagik: nyamuk yang suka menggigit didalam rumah/bangunan.
g. Eksofagik: nyamuk yang suka menggigit diluar rumah.Tempat tinggal
manusia dan ternak, khususnya yang terbuat dari kayu merupakan tempat
yang paling disenangi oleh Anopheles. Vektor utama di Pulau Jawa dan
Sumantra adalah An. andaicus, An. maculates, An. aconitus, An.
balabacencis
b) Agent
Agent atau penyebab penyakit adalah semua unsur atau elemen hidup ataupun
tidak hidup dimana kehadirannya, bila diikuti dengan kontak efektif dengan
manusia yang rentan akan terjadi stimulasi untuk memudahkan terjadi suatu

6
proses penyakit.Agent penyebab penyakit malaria termasuk agent biologis yaitu
protozoa.
1. Jenis Parasit (Plasmodium) Sampai saat ini dikenal empat macam agent
penyebab malaria yaitu :
a. Plasmodium Falciparum, penyebab malaria tropika yang sering
menyebabkan malaria berat/malaria otak yang fatal, gejala serangnya
timbul berselang setiap dua hari (48 jam) sekali.
b. Plasmodium vivax, penyebab penyakit malaria tertiana yang gejala
serangannya timbul berselang setiap tiga hari (Sering Kambuh)
c. Plasmodium malariae, penyebab penyakit malaria quartana yang gejala
serangnya timbul berselang setiap empat hari sekali.
d. Plasmodium ovale, jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di
Afrika dan Pasifik Barat.Seorang penderita dapat ditulari oleh lebih dari
satu jenis Plasmodium, biasanya infeksi semacam ini disebut infeksi
campuran (mixed infection). Tapi umumnya paling banyak hanya dua
jenis parasit, yaitu campuran antara Parasit falsiparum dengan parasit
vivax atau parasit malariae. Campuran tiga jenis parasit jarang sekali
dijumpai (Depkes.RI.2005).
2. Siklus Hidup Parasit Malaria
Untuk kelangsungan hidupnya parasit malaria memerlukan dua
macam siklus kehidupan yaitu siklus dalam tubuh manusia dan siklus dalam
tubuh nyamuk.a. Siklus aseksual dalam tubuh manusia juga disebut siklus
aseksual (sporozoa, merozoit dalam sel darah merah, sizon dalam sel
merah).b. Siklus seksual dalam tubuh nyamuk (Gametosit, Ookinet dan
Ookista). Siklus seksual ini juga bias disebut siklus sporogami karena
menghasilkan sprozoit yaitu bentuk parasit yang sudah siap untuk ditularkan
oleh nyamuk kepada manusia atau binatang. Lama dan masa berlangsungnya
siklus ini disebut dengan masa inkubasi ekstrinsik, yaitu masuknya gametosit
kedalam tubuh nyamuk sampai terjadinya stadium sprogami dalam bentuk

7
sporosit yang kemudian masuk kedalam kelenjar liur nyamuk. Masa inkubasi
tersebut sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara sehingga
berbeda-beda untuk setiap species. Prinsip pengendalian malaria antara lain
didasarkan pada siklus ini yaitu dengan mengusahakan umur nyamuk harus
lebih singkat dari masa inkubasi ekstrinsik sehingga siklus sprogami tidak
dapat berlangsung dengan demikian rantai penularan akan terputus. (Depkes
RI, 2005).
3. Morfologi Parasit Malaria
Parasit malaria tergolong Protozoa Genus plasmodium, Familia
plasmodiae dari Ordo coccidiidae yang terdiri dari 3 (tiga) stadium yaitu:
a. Stadium Tropozoit
Merupakan stadium terpanjang dalam siklus kehidupan parasit. Sebab
itu hampir pada semua Staduim (SD) positif dapat ditemukan stadium ini.
Memeriksa SD malaria berarti mencari tropozoit pada SD tersebut.Morfo
logi (cirri-ciri khas) inti:
a) Parasit vivax/parasit malariae, bentuk besar, sifat dan warna merah
bervariasi. Semakin tua tropozoid kekompakan intinya berkurang.
b) Parasit falciparum, bentuk intinya bulat, besar seperti titik
(halus/kasar),bersifat kompak atau padat sehingga warna menjadi
kontras dan jelas.
b. Stadium Sizon
Beberapa pedoman yang perlu diketahui mengenai sizon adalah
a) Dalam satu siklus kehidupan parasit, sizon (jam terjadinya sporulasi)
singkat sekali.
b) Bentuk sizon baru dapat ditemukan pada SD bila pengambilan darah
dilakukan dekat pada jam sebelum atau sesudah sporulasi (mengigil).
Keadaan klinis berat pada saat sporulasi menyebabkan penderita tidak
mampu pergi ke unit. kesehatan, tidak dapat dibuat SD-nya. Sebab itu
jarang ditemukan SD positif yang mengandung sizon.

8
c) Tidak pernah ditemuka n sizon Parasit falciparum SD yang berasal
dari darah organ, kadang-kadang sizon Parasit falciparum dapat
ditemukan.
d) Bila pada pemeriksaan SD lebih dahulu ditemukan bentuk sizon harus
dicari bentuk ring, Tropozoit amuboit dan gametosit Parasit
falciparum pada lapangan berikutnya untuk menentukan speciesnya.
c. Staduim gametositBeberapa pedoman yang perlu diketahui mengenai
gametosit:
a) Gametosit ada pada darah tepi paling cepat 1 (satu) minggu atau paling
lambat 10 hari setelah pasien mengalami demam pertama. Adanya
gametosit Parasit falciparum pasa SD memberi pengertian pasien
terlambat ditemukan. Jadi tidak semua SD positif mengandung
gametosit.
b) Gametosit Parasit vivax dan Parasit falciparum tidak pasti dapat
dibedakan demikian juga terhadap tropozoit dewasa pra sizon.
c) Gametosit Parasit falciparum adalah bentuk pasti untuk menentukan
species Falciparum.
c) Lingkungan (Environment)
1. Lingkungan Fisika.
a) Suhu
Udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus Sprogami atau
masa inkubasi Ektrinsik. Masa inkubasi Ekstrinsik adalah mulai saat
masuknya gametosit ke dalam tubuh nyamuk sampai terjadinya stadium
sporogami dalam nyamuk yaitu terbentuknya sporozoid yang kemudian
masuk kedalam kelenjar liur. Makin tingg i suhu maka makin pendek masa
inkubasi Ekstrinsik. Pengaruh suhu berbeda dari setiap species pada suhu
26,7oC masa inkubasi Ekstrinsik untuk setiap species sebagai berikut:
1. Parasit falciparum : 10 – 12 hari.
2. Parasit vivax: 8 – 11 hari

9
3. Parasit malariae : 14 hari
4. Parasit ovale: 15 hari
Masa inkubasi Intrinsik adalah waktu mulai masuknya Sprozoid darah
sampai timbulnya gejala klinis/demam atau sampai pecahnya sizon darah
dalam tubuh penderita. Masa inkubasi Intrinsik berbeda tiap species :
1. Plasmodium falciparum: 10 – 14 hari (12)
2. Plasmodium vivax: 12 – 17 hari (13)
3. Plasmodium malariae: 18 – 40 hari (28)
4. Plasmodium ovale: 16 – 18 hari (7)
b) Kelembaban udara
Kelembaban udara yang rendah, mempengaruhi umur nyamuk, tingkat
kelembaban 63 % misalnya merupakan angka paling rendah untuk
memungkinkan adanya penularan.

c) Hujan
Terdapat hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva
nyamuk menjadi dewasa. Hujan diselingi oleh panas akan memperbesar
kemungkinan berkembangnya Anopheles spp. Bila curah hujan yang normal
pada sewaktu-waktu maka permukaan air akan meningkat sehingga tidak
menguntungkan bagi malaria. Curah hujan yang tinggi akan merubah aliran
air pada sungai atau saluran air sehingga larva dan kepompong akan terbawa
oleh air (Chwaat-Bruce. L.J, 1985).
d) Angin
Jarak terbang nyamuk dapat dipengaruhi oleh kecepatan angin artinya
jarak jangkau nyamuk dapat diperpanjang atau di perpendek tergantung
kepada arah angin.
e) Sinar Matahari
Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-
beda. An.sundaicus. Lebih menyukai tempat yang teduh dan

10
An.barbirostrisdapat hidup di tempat yang teduh maupun tempat yang terang.
An.macculatus lebih suka hidup di tempat yang terlindung (sinar matahari
tidak langsung).
f) Arus air
Masing-masing nyamuk menyukai tempat perindukan yang aliran
airnya berbeda. An.barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya
statis atau sedikit mengalir. An.minimus menyukai tempat perindukan yang
airnya cukup deras dan An. Letifer di tempat air yang tergenang (Depkes RI,
2006).
2. Lingkungan Kimia
Beberapa species nyamuk dapat juga memanfaatkan oksigen yang terlarut
(Dissolved oxygen) melalui pernafasan kulit. Dari lingkungan kimia yang baru
diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan, seperti
An.sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar 12-
18% dan tidak dapat berkembang biak pada garam lebih dari 40%. Untuk
mengatur derajat keasaman air yang disenangi pada tempat perkembangbiakan
nyamuk perlu dilakukan pengukuran pH air, karena An.Letifer dapat hidup
ditempat yang asam atau pH rendah (Depkes RI, 2006).
3. Lingkungan Biologi
Jenis tumbuhan air yang ada seperti bakau (Mangroves), ganggang dan
berbagai jenis tumbuhan lain yang dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk,
karena ia dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau menghalangi dari
serangan mahkluk hidup lain. Beberapa jenis tanaman air merupakan indicator
bagi jenis-jenis nyamuk tertentu.Tanaman air bukan saja menggambarkan sifat
fisik, tetapi juga menggambarkan susunan kimia dan suhu air misalnya pada
lagun banyak ditemui lumut perut ayam (Heteromorpha) dan lumut sutera
(Enteromorpha) kemungkinan di lagun tersebut ada larva An. Sundaicus. Adanya
berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Plocheilus panchax
Panchax spp), Gambusi sp, Oreochromis niloticus (nila merah), Oreochromis

11
mossambica (mujair), akan mempengaruhi populasi nyamuk disuatu daerah.
Selain itu adanya ternak besar seperti sapid dan kerbau dapat mengurangi jumlah
gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan diluar
rumah, tetapi tidak jauh dari rumah atau cattle barrier (Rao, T.R, 1984).
4. Lingkungan Sosial Budaya
Faktor ini kadang- kadang besar sekali pengaruhnya dibandingkan dengan
faktor lingkungan yang lain. Kebiasaan untuk berada diluar rumah sampai larut
malam, di mana vector lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan memperbesar
jumlah gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan
penggunaan zat penolak nyamuk yang intensitasnya berbeda sesuai dengan
perbedaan status social masyarakat akan mempengaruhi angka kesakitan malaria
(Iskandar,1985).

1.3 Vektor Malaria


Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga
dikenal sebagai vector–borne diseases. Pada negara tropis Penyakit berbasis vektor
nyamuk diketahui masih menjadi kasus belum terselesaikan, seperti kasus malaria
yang ditularkan dari penderita ke orang yang sehat oleh nyamuk Anopheles.
Indonesia merupakan daerah endemis penyebaran kasus malaria. Peningkatan kasus
penderita malaria yang terjadi diberbagai daerah dari tahun ketahun terus meningkat
sehingga penyakit ini menjadi salah satu perhatian utama yang dilakukan oleh
pemerintah Indonesia. Menurut Depertemen Kesehatan RI 2013, Indonesia
merupakan negara yang masih terjadi transmisi malaria atau berisiko Malaria (Risk
Malaria), karena hingga tahun 2011, terdapat 374 Kabupaten endemis malaria. Pada
2011, jumlah kasus malaria di Indonesia 256.592 orang dari 1.322.451 kasus suspek
malaria yang diperiksa sediaan darahnya, dengan Annual Parasite Insidence (API)
1,75 per seribu penduduk. Hal ini berarti, setiap 1000 penduduk terdapat 2 orang
terkena malaria (Nuryady, 2015).

12
Malaria disebabkan oleh protozoa parasit dari genus plasmodium, terdapat empat
spesies plasmodium yang menjadi parasit pada manusia, yaitu : Plasmodium (P)
vivax, P. malariae, P. falciparum dan P. Ovale. Proses daur hidup keempat
plasmodium ini pada umumnya sama yang terdiri atas dua fase, yaitu fase seksual
(sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles betina dan fase aseksual (skizogoni)
dalam tubuh manusia (Nuryady, 2015).

Siklus hidup seksual plasmodium pada tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles
betina menghisap darah penderita malaria (mengandung gametosit), didalam tubuh
anopheles betina maka gamet jantan akan membuahi gamet betina menjadi zigot yang
nantinya akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung
nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista. Pada Inti
ookista akan membelah dan masing-masing inti diliputi oleh protoplasma dan
mempunyai bentuk memanjang (10-15 mikron) disebut sporozoit, kemudian ookista
akan pecah dan ribuan sporozoit dibebaskan dan kemudian memasuki kelenjar liur.
Sporozoit ini bersifat infektif dan akan menjadi sumber baru penularan malaria yang
akan ditularkan kemanusia (Nuryady, 2015).

Siklus hidup aseksual plasmodium dimulai dari tubuh nyamuk betina yang telah
mengandung sporozoit, nyamuk tersebut akan menghisap darah manusia sehat. Pada
saat nyamuk betina menghisap darah maka terjadi transmisi pathogen yaitu sporozoit
yang terdapat pada kelenjar liur akan berpindah kedalam aliran darah melalui
proboscis . Sporozoit kemudian menuju hati dan masuk kedalam sel hati dan menjadi
tropozoit hati. Kemudian tropozoit hati akan berkembang menjadi skizon hati
(skizogoni pra eritrosit) yang terdiri dari 10.000– 30.000 merozoit hati (Pedoman
Penata Laksana Malaria, 2010). Siklus ini dikatakan siklus ekso-eritrositer yang
berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Pada P. vivax dan P. Ovale sebagian
tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, namun menjadi hipnozoit
(bentuk dorman). Hipnozoit dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan
hingga bertahuntahun. (Nuryady, 2015)

13
Skizon akan pecah dan melepaskan merozoit yang akan masuk ke peredaran
darah dan meninfeksi sel darah merah. Selanjutnya merozoit akan berubah bentuk
menjadi tropozoit dan berkembang menjadi skizon (terdapat 8-30 merozoit,
tergantung spesiesnya). Proses perkembangan secara aseksual ini disebut dengan
skizogoni. Eritrosit yang telah terinfeksi akan pecah menyebabkan merozoitkeluar
dan akan menginfeksi sel darah merah lainnya, siklus ini disebut siklus eritrositer
yang terjadi pada eritrosit (sel darah merah). Sebagian merozoit yang menginfeksi
eritrosit akan membentuk stadium seksual yaitu bentuk gametosit yang dapat
dibedakan sebagai gametosit jantan (mikro gametosit) dan gametosit betina (makro
gametosit) (Nuryady, 2015).

1.4 Epidemiologi Malaria


A. Frekuensi
Menurut World Health Organization (WHO) Setidaknya 270 juta orang di
dunia menderita malaria dan lebih dari 2 miliar atau 42% dari populasi bumi
memiliki risiko malaria. Angka kematian malaria di dunia pada tahun 2013 masih
mencapai 47% dan 78% diantaranya adalah anak-anak di bawah 5 tahun
(Anonim, 2015).
Di Indonesia dilaporkan sebagai penyumbang terbesar untuk kasus malaria
adalah Provinsi Papua 2014 (29,57 per 1000 penduduk), 2015 (31,93 per 1000
penduduk) dan 2016 (45,85 per 1.000 penduduk) (Anonim, 2017). Pada tahun
2017 jumlah kasus positif malaria di Sulawesi Tenggara sebanyak 1.069 dengan
Angka Kesakitan (Annual Parasite Incidence/API) per 1000 penduduk beresiko
sebesar 0,41, sedikit lebih rendah dibanding tahun 2016. Trend kasus malaria
dapat dilihat pada gambar 6.23.
GAMBAR 6.23
JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN (API) MALARIA PROVINSI
SULAWESI TENGGARA TAHUN2013-2017

14
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota dan Program P2PL Dinkes Sultra Tahun 2017
Jumlah kasus penyakit malaria cenderung menurun dari tahun 2013-2017,
kecuali pada tahun 2016 tampak sedikit meningkat. Jika mengacu pada target
Renstra Kemenkes untuk Angka Kesakitan Malaria (API) < 1,25 per 1000
penduduk, Sulawesi Tenggara dengan API 0,46 telah memenuhi target. Capaian
API tersebut juga sekaligus menunjukan bahwa Sulawesi Tenggara termasuk
dalam kategori rendah (API lebih kecil dari 1) untuk angka kesakitan malaria.
Kematian akibat malaria yang dilaporkan sebanyak 2 kasus, keduanya berasal dari
Kabupaten Muna, sehingga Case Fatality Rate (CFR) untuk Sulaweasi Tenggara
mencapai 0,19%.
Permasalahan yang ditemui dalam pemberantasan penyakit malaria antara lain
adalah kurangnya kegiatan yang dilakukan dalam rangka penemuan penderita,
sehingga nilai ABER (Anual Blood Examination Rate) masih sangat rendah dan
di sisi lain nilai SPR (Slide Positive Rate) masih cukup tinggi.
Sebaran kasus positif malaria berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada
gambar berikut.
GAMBAR 6.24

15
SEBARANKASUS MALARIA MENURUT KABUPATEN/KOTA
PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN2017

Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota dan Program P2PL Dinkes Sultra Tahun 2017
Gambar 6.24 menunjukkan tidak ada daerah di Sulawesi Tenggara yang bebas
dari penyakit malaria. Kasus positif malaria tertinggi tahun 2017 dilaporkan oleh
Kabupaten Muna dengan 530 kasus yang tercatat. Sebagai catatan, Kabupaten
Muna (bersama dengan Kabupaten Buton dan pemekarannya) telah lama dikenal
sebagai daerah endemis malaria di Sulawesi Tenggara, yang belum dapat
dieliminasi atau dihilangkan sampai saat ini, hal ini terkait dengan kondisi
geografis dan lingkungan daerah tersebut yang merupakan habitat yang cocok
untuk nyamuk malaria, selain itu kebiasaan dan pola hidup masyarakat setempat
yang cenderung tidak mendukung upaya pemberantasan penyakit malaria. Namun
demikian pada tahun ini Kabupaten Buton dan daerah pemekarannya telah
berhasil menekan angka kejadian malaria dibanding tahun sebelumnya.
B. Distribusi

16
Nyamuk Anopheles hidup di iklim tropis dan subtropics, namun bias juga
hidup d daerah yang beriklim sedang. Anopheles juga ditemukan pada daerah
pada daerah dengan ketinggian lebih dari 2000-2500m. Menurut Myrna (2003),
nyamuk Anopheles betina membut uhkan minimal 1 kali memangsa darah agar
telurnya dapat berkembang biak. Anopheles mulai menggigit sejak matahari
terbenam (jam 18.00) hingga subuh dan puncaknya pukul 19.00-21.00. Menurut
Prabowo (2004), jarak terbang Anopheles tidak lebih dari 0,5 – 3 km dari tempat
perindukannya. Waktu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan (sejak telur menjadi
dewasa) bervariasi antara 2-5 minggu, tergantung pada spesies, makanan yang
tersedia dan suhu udara

Malaria ditemukan hampir di seluruh belahan dunia, terutama di negara-


negara yang beriklim tropis dan subtropics. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan
laki-laki, namun kehamilan dapat maningkatkan resiko malaria. Ada beberapa
faktor yang turut mempengaruhi seseorang terinfeksi malaria adalah (Nugroho
dan Tumewu, 2000) :
1. Ras atau suku bangsa
Pada penduduk benua Afrika prevalensi Hemoglobin S (HbS) cukup tinggi
sehingga lebih tahan terhadap infeksi P. falciparum karena HbS dapat
menghambat perkembangbiakan P. falciparum.
2. Kekurangan enzim tertentu
Kekurangan terhadap enzim Glukosa 6 Phosphat Dehidrogenase (G6PD)
memberikan perlindungan terhadap infeksi P. falciparum yang berat.
Defisiensi terhadap enzim ini merupakan penyakit genetik dengan manifestasi
utama pada wanita.
3. Kekebalan pada malaria terjadi apabila tubuh mampu mengancurkan
Plasmodium yang masuk atau mampu menghalangi perkembangannya.

17
Hanya pada daerah dimana orang-orang mempunyai gametosit dalam
darahnya dapat menjadikan nyamuk anopheles terinfeksi. Anak-anak mungkin
terutama penting dalam hal ini. Penularan malaria terjadi pada kebanyakan
daerah tropis dan subtropics, walaupun Amerika Serikat, Kanada, Eropa,
Australia dan Israel sekarang bebas malaria local, wabah setempat dapat
terjadi melalui infeksi nyamuk local oleh wisatawan yang datang dari daerah
endemis (Harijanto, 2000). Malaria congenital, disebabkan oleh penularan
agen penyebab melalui barier plasenta, jarang ada. Sebaliknya malaria
neonates, agak sering dan dapat sebagai akibat dari pencampuran darah ibu
yang terinfeksi dengan darah bayi selama proses kelahiran.
C. Determinan
Salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah
lingkungan dimana lingkungan sekitar rumah sangat mempengaruhi tempat
perkembangbiakan penyakit malaria melalui nyamuk Anopheles (Utara dan
Mayulu, 2013). Pembangunan sanitasi di Indonesia menjadi masalah yang relatif
kompleks. Masih banyak pemerintah kabupaten yang belum mampu mengurus
dan memecahkan masalah di bidang sanitasi dan hygiene. Masyarakat miskin di
wilayah perdesaan dan perkotaan memiliki akses yang rendah terhadap
pemanfaatan sanitasi (Ichwanudin, 2016).
Hasil studi literature bahwa faktor risiko yang diduga berperanan terhadap
kejadian malaria diantaranya adalah tingkat pendidikan masyarakat yang rendah,
tingkat kemiskinan penduduk, wilayah/permukiman kumuh, kepadatan penduduk,
tingkat sanitasi lingkungan, luas lahan perkebunan, banyaknya perusahaan
tambang, dan jumlah petani karet. Derajat kesehatan masyarakat yang masih
rendah dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kemampuan ekonomi yang
lemah, dan rendahnya pendidikan sehingga menimbulkan kurangnya pengetahuan
masyarakat (Rustam, 2002).
Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi
menunjukkan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah berpeluang terkena

18
malaria 1,8 kali lebih besar dibandingkan dengan tingkat pendidikan tinggi, dan
hasil studi yang dilakukan di Fakfak menunjukkan kondisi fisik rumah yang
kurang baik diantaranya keadaan dinding, ventilasi, jendela, atap rumah, berisiko
4,4 kali lebih besar dibanding kondisi rumah yang tergolong baik (Wamaer,
2003).

1.5 Patofisiologi Malaria


1. Etiologi
Malaria disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus Plasmodium, yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Plasmodium yang menyebabkan
malaria pada manusia terdapat 4 spesies Plasmodium yaitu P falcifarum, P vivax,
P malariae dan P ovale. Plasmodium falcifarum menyebabkan infeksi paling
berat dan angka kematian tertinggi di bandingkan malaria lainnya.
Parasit malaria merupakan Genus Plasmodium dari anggota Phyllum Protozoa
Apicomplexa, kelas : Sporozoa, subkelas: coccidiida, ordo : Eucoccidides, sub-
ordo: Haemosporina.
Lebih dari 100 spesies genus Plasmodium ditemukan pada darah reptil,
burung dan manusia. Pada hampir semua kasus, malaria ditransmisi melalui
gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Tetapi parasit dapat juga
ditransmisi secara congenital, melalui transfusi darah atau melalui jarum
terkontaminasi.
2. Marfologi dan Daur Hidup
Daur hidup semua spesies parasit malaria pada manusia adalah sama, yaitu
mengalami stadium-stadium yang berpindah dari vektor nyamuk ke manusia dan
kembali ke nyamuk lagi. Terdiri dari siklus seksual (sporogoni) yang berlangsung
pada nyamuk Anopheles, dan siklus aseksual yang berlangsung pada manusia
yang terdiri dari fase eritrosit (erythrosytic schizogony) dan fase yang berlangsung
di dalam parenkim sel hepar (exoerythrosytic schizogony).
3. Patogenesis

19
Perubahan patologik pada malaria dimungkinkan berhubungan dengan
gangguan aliran darah sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung
parasit pada endothelium kapiler. Peran beberapa mediator humoral
dimungkinkan menyebabkan pathogenesis demam dan peradangan. Skizogoni
eksoeritrositik dapat menyebabkan reaksi leukosit dan fagosit, sedangkan
sporozoit dan gametozit tidak menimbulkan perubahan patofisiologi.
Patofisiologi malaria adalah multi factorial dan mungkin berhubungan
dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Penghancuran eritrosit, eritrosit dihancurkan tidak saja oleh pecahnya
eritrosit yang mengandung parasit, tetapi juga oleh fagositosit eritrosit
yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga
menyebabkan anemia dan anpksia jaringan, dengan hemolisis
intravaskuler yang berat dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever)
dan dapat mengakibatkan gagal ginjal.
b. Mediator endotoksin-makrofag, pada saat skizogoni, eritrosit yang
mengandung parasit memicu makrofog yang sensitive endotoksin untuk
melepaskan berbagai mediator yang menyebabkan perubahan patofiologis
yang berhubungan dengan malaria.
c. Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi, eritrosit yang terinfeksi dengan
stadium lanjut P falcifarum dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knob)
pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan
bereaksi dengan antibody malaria dan berhubungan dengan afinitas
eritrosit yang mengandung P falcifarum terhadap endothelium kapiler
darah dalam alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi alat
dalam, bukan di sirkulasi perifer. Eritrosit yang terinfeksi menempel pada
endothelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang
membendung kapiler alat-alat dalam. Protein dan cairan merembes
melalui membrane kapiler yang bocor (menjadi permeable) dan
menimbulkan anoksia dan endema jaringan, anoksia jaringan yang cukup

20
meluas dapat menyebabkan kematian. Protein kaya histidin P falcifarum
ditemukan pada tonjolan-tonjolan tersebut.
4. Mekenisme
Gejala malaria timbul saat pecahnya eritrosit yang mengandung parasit.
Demam mulai timbul bersamaan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan
macam-macam antigen. Antigen ini akan merangsang makrofag, monosit atau
limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, diantaranya Tumor Necrosis
Factor (TNF). TNF akan dibawa aliran darah ke hipothalamus, yang merupakan
pusat pengatur suhu tubuh manusia. Sebagai akibat demam terjadi vasodilasi
perifer yang mungkin disebabkan oleh bahan vasoaktif yang diproduksi oleh
parasit.
Limpa merupakan organ retikuloendotelial. Pembesaran limpa disebabkan
oleh terjadi peningkatan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit, teraktifasinya
sistem retikuloendotelial untuk memfagositosis eritrosit yang terinfeksi parasit
dan sisa eritrsit akibat hemolisis.
Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan fagositosis oleh
sistem retikuloendotetial. Hebatnya hemolisis tergantung pada jenis plasmodium
dan status imunitas penjamu. Anemia juga disebabkan oleh hemolisis autoimun,
sekuentrasi oleh limpa pada eritrosit yang terinfeksi maupun yang normal dan
gangguan eritropoisis. Hiperglikemi dan hiperbilirubinemia sering terjadi.
Hemoglobinuria dan Hemoglobinemia dijumpai bila hemolisis berat. Kelainan
patologik pembuluh darah kapiler pada malaria tropika, disebabkan kartena sel
darah merah terinfeksi menjadi kaku dan lengket, perjalanannya dalam kapiler
terganggu sehingga melekat pada endotel kapiler karena terdapat penonjolan
membran eritrosit. Setelah terjadi penumpukan sel dan bahan-bahan pecahan sel
maka aliran kapiler terhambat dan timbul hipoksia jaringan, terjadi gangguan
pada integritas kapiler dan dapat terjadi perembesan cairan bukan perdarahan
kejaringan sekitarnya dan dapat menimbulkan malaria cerebral, edema paru, gagal
ginjal dan malobsorsi usus.

21
1.6 Pencegahan Malaria
Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan
terhadap risiko malaria, mencegah gigitan nyamuk, pengendalian vektor dan
kemoprofilaksis. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan
kelambu berinsektisida, repelen, kawat kasa nyamuk dan lain-lain.

Obat yang digunakan untuk kemoprofilaksis adalah doksisiklin dengan dosis


100mg/hari. Obat ini diberikan 1-2 hari sebelum bepergian, selama berada di daerah
tersebut sampai 4 minggu setelah kembali. Tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan
anak dibawah umur 8 tahun dan tidak boleh diberikan lebih dari 6 bulan.

Kemenkes (2014) menyebutkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan


bahaya malaria dapat mempengaruhi kesediaan masyarakat dalam melakukan upaya
pencegahan untuk menanggulangi kemungkinan terjangkit malaria. Kesadaran
masyarakat tersebut dapat dilihat dari tindakan pencegahan yang dilakukan seperti (1)
Kebiasaan berada di luar rumah sampai larut malam, (2) Melakukan kegiatan
penyehatan lingkungan, (3) Menggunakan kelambu. Tujuan dari penggunaan
kelambu saat tidur adalah untuk membatasi nyamuk infektif menggigit orang yang
sehat dan nyamuk yang sehat menggigit orang sakit, (4) Menggunakan insektisida
rumah tangga. Insektisida rumah tangga adalah produk anti nyamuk yang sering
digunakan masyarakat seperti obat anti nyamuk bakar maupun obat anti nyamuk
semprot (5) Penggunaan repellent. Fungsi dari repellent ini adalah untuk menolak
serangga khususnya nyamuk dan mencegah adanya kontak langsung dengan nyamuk.
Repellent dikatakan baik apabila nyaman digunakan di kulit, tidak menimbulkan
iritasi, tidak terasa panas atau lengket jika digunakan, dan berbahan dasar alami, (6)
Penggunaan penutup badan. Penggunaan pakaian yang tertutup sangat membantu
dalam mencegah gigitan nyamuk terlebih jika melakukan kegiatan di malam hari
seperti memancing, ronda malam, berkemah ataupun masuk hutan, (7) Pemasangan
kawat kasa pada pintu dan jendela. Upaya ini bertujuan agar nyamuk tidak masuk ke
dalam rumah.

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Menurut World Health Organization (WHO), malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasite plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Penyakit malaria dapat
dicegah dan disembuhkan, namun juga dapat menyebabkan kematian apabila
tidak ditangani dengan tepat. Orang yang terkena gejala malaria akan
mengalami demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual atau muntah
(Kemenkes RI, 2014).
2. Menurut epidemiologi penularan malaria secara alamiah terjadi akibat adanya
interaksi antara tiga faktor yaitu Host, Agent, dan Environment. Manusia
adalah host vertebrata dari Humanplasmodium, nyamuk sebagai Host
invertebrate, sementara Plasmodium sebagai parasit malaria sebagai agent
penyebab penyakit yang sesungguhnya, sedangkan faktor lingkungan dapat
dikaitkan dalam beberapa aspek, seperti aspek fisik, biologi dan sosial
ekonomi (Chwatt-Bruce.L.J,1985). Sedangkan faktor lingkungan dapat
dikaitkan dalam beberapa aspek, seperti aspek fisik, biologi dan sosial
ekonomi (Chwatt-Bruce.L.J,1985).
3. Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga
dikenal sebagai vector–borne diseases. Pada negara tropis Penyakit berbasis
vektor nyamuk diketahui masih menjadi kasus belum terselesaikan, seperti
kasus malaria yang ditularkan dari penderita ke orang yang sehat oleh nyamuk
Anopheles.
4. Frekuensi kejadian Malaria di Sulawesi Tenggara Pada tahun 2017 jumlah
kasus positif malaria di Sulawesi Tenggara sebanyak 1.069 dengan Angka
Kesakitan (Annual Parasite Incidence/API) per 1000 penduduk beresiko
sebesar 0,41, sedikit lebih rendah dibanding tahun 2016. Distribusi penyakit

23
Malaria ditinjau dari rasa tau suku bangsa, kekurangan enzim tertentu, dan
kekebalan pada malaria terjadi apabila tubuh mampu mengancurkan
Plasmodium yang masuk atau mampu menghalangi perkembangannya.
Determinan penyakit Malaria dari hasil studi literature bahwa faktor risiko
yang diduga berperanan terhadap kejadian malaria diantaranya adalah tingkat
pendidikan masyarakat yang rendah, tingkat kemiskinan penduduk,
wilayah/permukiman kumuh, kepadatan penduduk, tingkat sanitasi
lingkungan, luas lahan perkebunan, banyaknya perusahaan tambang, dan
jumlah petani karet.
5. Patofisiologi malaria adalah multi factorial dan mungkin berhubungan
dengan hal-hal sebagai berikut: Penghancuran eritrosit, Mediator endotoksin-
makrofag dan Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi.
6. Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan
terhadap risiko malaria, mencegah gigitan nyamuk, pengendalian vektor dan
kemoprofilaksis. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan
menggunakan kelambu berinsektisida, repelen, kawat kasa nyamuk dan lain-
lain.

3.2 Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini dapat menambah wawasan
mahasiswa dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dilapangan tentang penyakit
malaria.

24
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2013. Pedoman Penyelenggaran Surveilans dan Sistem Informasi
Malaria, Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria di Indonesia.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Departemen Kesehatan RI.

Babba I. Faktor-faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Malaria (Studi Kasus di


Wilayah Kerja Puskesmas Hamadi Kota Jayapura). Tesis . Universitas
Diponegoro; 2007.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Rencana Pembangunan Jangka


Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 Buku I Agenda Pembangunan
Nasional. Jakarta; 2014.

Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 2017. Buku Saku Penatalaksanaan


Malaria. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.

Frits, Wamaer, Hubungan Kondisi Fisik Bangunan Rumah dan Tempat Perindukan
Nyamuk dengan Kejadian Malaria Pada Anak Umur 6-59 Bulan di Unit
Pelayanan Kesehatan di Fakfak, Thesis Program Pasca Sarjana FKM-UI Depok
2003.
Harijanto PN. Gejala Klinik Malaria. Dalam: Harijanto PN (editor). Malaria,
Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan. Jakarta: EGC,
Hal: 151-55, 2000.
Ichwanudin. Kajian Dampak Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Terhadap Akses
Sanitasi di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2016;
15 (2) : 46–49.
Kemenkes RI. Eliminasi Malaria di Indonesia. SK Nomor:
293/MENKES/SK/IV/2009. Jakarta; 2009.

25
Kemenkes RI. Pedoman Penatalaksana Kasus Malaria di Indonesia. Jakarta; 2011.

Kemenkes RI. Pedoman Surveilans Malaria. SK Nomor: 275/MENKES/SK/III/2007.


Jakarta; 2007.

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta: 2015.

Nugroho A, Tumewu WM. Siklus Hidup Plasmodium Malaria. Dalam Harijanto PN


(editor). Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan.
Jakarta: EGC, Hal: 38-52, 2000.
Nuryady, M. (2015). Identifikasi Morfologi : Spesies Anopheles yang Berpotensi
Sebagai Vektor Malaria. Jember. Jawa Timur.
Putra TRI. Malaria dan Permasalahannya. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 2011,
11(2):103–114.

Restu A, Retno A. Tindakan Pencegahan Malaria Di Desa Sudorogo Kecamatan


Kaligesing Kabupaten Purworejo. Jurnal Promkes, Vol. 4, No. 2 Desember 2016:
199–211.

Rustam. Faktor-faktor Lingkungan, Perilaku yang Berhubungan dengan Kejadian


Malaria pada Penderita yang Mendapat Pelayanan di Puskesmas Kabupaten
Sarolangun Provinsi Jambi. Universitas Indonesia. Depok. 2002 (baru)

Santi M. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria pada Penduduk


Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi yang Pernah Bermigrasi Tahun
2011. Skripsi. Universitas Indonesia; 2012.

Triana D, Rosana E, Anggraini R. Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku dalam


Penanggulangan Malaria di Kelurahan Sukarami Kota Bengkulu. Unnes Journal
of Public Health 2017, 6(2):107–112.

26
Utara BM, Mayulu N. Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Malaria
Pada Murid Sekolah Dasar Di Kabupaten Bolang Mongondow Utara. Ejournal
Keperawatan . 2013; 1 (1) : 1-7.
Wage Nurmaulina. 2017. Hubungan Pengetahuan,Sikap Dan Perilaku Penderita
Malaria Falciparum Dengan Derajat Infeksi Di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Skripsi.
Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Winardi E. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di kecamatan


Selebar kota Bengkulu. Tesis. Universitas Indonesia; 2004.

World Health Organization (WHO). World Malaria Report 2017. Geneva; 2017.

27