Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ariq Dewo Pangestu

Nim : 103217030

Dampak Urbanisasi Yang Tidak Terkendali di Kota Jakarta

Pendahuluan

Pembangunan Kota Jakarta sebagai DKI (Daerah Ibu Kota) dapat mengakibatkan pertumbuhan
ekonomi yang di mana akan menjadi daya tarik dari penduduk daerah lain untuk berdatang dan
mencari berbagai kebutuhan untuk memenuhi taraf kehidupan yang lebih baik. Namun urbanisasi
dapat menimbulkan masalah apabila tidak di kendalikan. Salah satu ini lah masalah yang sedang
di hadapi oleh Indonesia karena pertumbuhan penduduk yang tinggi. Apabila tidak dapat di
kendalikan maka akan menimbulkan urbanisasi berlebih. Urbanisasi yang berlebih ini tidak hanya
bagi kota Jakarta tetapi daerah yang di tinggal para pendatang pun bermasalah seperti
berkurangnya penduduk di desa. Urbanisasi di picu akibat perbedaan pertumbuhan dan berbagai
macam fasilitas dari pembangunan, khususnya daerah tempat tinggal dan kota Jakarta. Akibatnya
akan menjadi daya tarik pendatang.

Urbanisasi, merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat dengan sekala kecil
maupun besar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Di Indonesia sendiri urbanisasi
memilik penegertian yang di mana penduduk pedesaan pindah ke perkotaan. Karena Indonesia
sekarang sedang berkembang pesat menyebabkan adanya pertumbuhan penduduk yang
berkembang pesat juga sehingga hal ini tidak dapat di hindarkan apalagi sekarang ada yang
menyebutkan bahwa negara Indonesia sedang mengalami bonus demografi yang di mana usia
produktifnya lebih banyak dari pada usia tidak produktif.

Pembahasan

Di Jakarta sendiri urbanisasi bukanlah masalah baru, sudah dari tahun 1970 sejak kota
Pembangunan kota Jakarta sudah nampak bahwa urbanisasi yang mulai nampak di sebabkan akibat
beberapa faktor, seperti perbedaan fasilitas, lapangan pekerjaan yang banyak, pendidikan yang
lebih layak, dan lain-lain. Tetapi faktor utama urbanisasi terjadi adalah karena faktor ekonomi, di
mana mereka yang meingkatkan taraf kehidupan mereka. Tetapi hal ini tidak di imbangin dengan
keahlian para pendatang, karena para pendatang tidak memiliki keahlian yang memumpuni,
sehingga mereka lebih bekerja di sektor informal, dan menjadi penggangguran. Pemerintah pun
harusnya mengadakan pelatihan untuk keterampilan orang-orang yang berada di berada di
pedesaan karena hasil dari pelatihannya bisa berguna untuk mengembangkan daerah asal mereka.
Tetapi pemerintah masih belum memperhatikan penuh soal ini.

PROYEKSI PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN


TAHUN 2010-2035 (X1000)

Umur 2010 2020 2030 2035


0-4 848,4 870,2 666,1 618,2
5-9 781,3 943,5 755,8 662,1
10-14 703,2 812,3 865,8 753,2
15-19 825,0 729,1 923,1 861,4
20-24 1026,6 734,5 800,2 915,7
25-29 1100,1 892,9 726,3 791,1
30-34 1004,9 1012,5 724,7 717,0
35-39 840,7 989,6 864,7 715,7
40-44 697,4 882,4 972,8 853,4
45-49 565,7 749,0 948,5 956,9
50-54 439,2 629,4 840,0 926,4
55-59 312,9 505,3 699,9 809,7
60-64 205,9 377,3 567,1 659,9
65-69 133,3 251,1 427,5 514,6
70-74 82,1 146,2 285,2 361,8
75+ 73,7 119,7 242,3 342,5
Jumlah 9640,4 10729,1 11 310,0 11 459,6
Laki-Laki + Perempuan

Sumber : Bappenas
Bisa di lihat bahwa perkiran penduduk urbanisasi akan terus meningkat setiap tahunnya, dan
pendatangnya pun usia-usia produktif yang ingin memperbaiki taraf kehidupan, dan diperkirakan
akan terus meningkat hingga tahun 2035.

Urbanisasi yang tidak terkendali tentu akan memberi dampak pada kota Jakarta itu sendiri, seperti
merusak rencana pembangunan pemerintah Kota Jakarta, meningkatnya kriminalitas, turunnya
tingkat kesejahteraan. Dampak lainnya yaitu “over urbanisasi” yaitu dimana penduduk di suatu
kota tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi suatu negara. Selain itu ada juga “under
ruralisasi” yang di mana penduduk desa terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi yang ada.

Di Jakarta sendiri dampak akibat dari urbanisasi yaitu kemiskinan, ketimpangan pendapatan,
pengganguran, kriminalitas, tumbuhnya Kawasan penduduk kumuh, kemacetan, dan lain-lain.
Pemanfaatan lahan pun bermasalah yang seharusnya lahan untuk gedung atau tanah hijau atau
daerah resapan air berubah menjadi daerah perumahan penduduk. Air tanah pun menjadi maslah
karena terus di pakai untuk kebutuhan air Ibu Kota sehingga resapan air pun tidak ada, dan
akibatnya terjadi banjir yang akan menghambat kegiatan sehari-hari kota Jakarta. Polusi pun tidak
luput dari masalah Ibukota Jakarta, masayrakat yang melakukan urbanisasi baik untuk
memperoleh pekerjaan maupun memperoleh pendidikan umumnya menggunakan kendaraan baik
roda dua ataupun roda empat. Dan hal ini terus bertambah yang tidak dapat di kendalikan,
akiabtnya menimbulakan polusi atau pencemaran udara dan pencemaran suara karena suara bising
yang sangat besar dan terus menerus di telinga manusia. Para Urban yang tidak dapat pekerjaan
dan tidak mempunyai tempat tinggal biasanya akan membangun pemukimam liar di kawasan
daerah pinggiran sungai ataupun kali untuk tempat tinggal ataupun berdagang. Hal ini tentu yang
seharusnya fungsinya untuk menyerap air hujan malah menjadi penyebab banjir.

Penutup

Kesimpulan

Urbanisasi tidak dapat di hindarkan, tetapi seharusnya dapat di kendalikan dengan kebijakan-
kebijakan pemerintah baik pusat maupun dearah, baik dari pelatih-pelatihan yang untuk
mengembangkan daerah di luar Ibukota, mencari potensi untuk penggerak pembangunan suatu
daerah, mengadakan kebijakan tenang Upah Mininium Regional yang tidak terlalu
berketimpangan dengan daerah lain, kebijakan tentang penduduk untuk tinggal di daerah
sekiataran Ibukota Jakarta dan Kota Jakarta di jadikan kota pusat ekonomi dan mengadakan
program untuk para pendatang yang tinggal di Kawasan kumuh untuk di pulangkan ke daerah asal
dan di berikana pelatiahan untuk mengolah daerah maisng-masig.

Refrensi

Tri Joko S.Haryanto, “Dampak Urbanisasi terhadap Masyarakat Di Daerah Asal ,” Masyarakat,
Kebudayaan dan Politik , Th XII, No 4, Oktiber 1998, 67-68

Jurnal Society, Vol. I, No.1, Juni 2013 Fitri Ramadhan Harpan, S.Sos., M.Si* “Dampak
Urbanisasi Bagi Perkembangan Kota Di Indonesia”

Prijono Tjiptoherijanto, “Urbanisasi Dan Pengembangan Kota Di Indoensia” 1999