Anda di halaman 1dari 4

KOPERASI & UMKM

OBSERVASI UMKM LOKAL

OLEH:

I Made Rama Wiguna


1833121381
D8

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS WARMADEWA
TAHUN AJARAN 2018/2019
A. Nama UMKM

Sanggar Lukis Wayang Kamasan Nyoman Mandra.

B. Profil Usaha

Sanggar Lukis Wayang Kamasan ini didirikan oleh Nyoman Mandra yang merupakan
pelukis Wayang Kamasan. Sanggar ini terletak di Br. Sangging Desa Kamasan, Klungkung.
Sanggar ini merupakan tempat untuk belajar melukis wayang kamasan. Selain itu tempat ini
juga menjual produk seperti lukisan wayang kamasan, capil yang berisi lukisan wayang
kamasan, dan souvenir – souvenir yang dilukis wayang kamasan.

C. Sejarah Usaha

Sanggar Lukis Wayang Kamasan ini didirikan oleh seorang pelukis yang bernama Nyoman
Mandra pada tahun 1970. Namun saat itu keberadaannya masih belum resmi hingga sanggar
ini diresmikan pada tahun 1971. Awalnya sanggar itu dijadikan tempat anak – anak berkumpul
untuk belajar melukis wayang. Hasil dari karya anak – anak tersebut kemudian dijual. Saat itu
Pemerintah memberikan bantuan untuk pengelolaan sanggar ini. Bantuan tersebut berupa dana,
pemasaran, dan pengadaan pameran di Kota sehingga produk dapat dipasarkan. Produk
pertama yang dijual adalah lukisan, kemudian seiring berkembangnya kepariwisataan di Bali
maka dikembangkanlah produk tersebut ke media yang berbeda seperti pada bambu, pada
kipas, pada capil, pada tempurung kelapa, pada telur sebagai souvenir. Saat ini Sanggar ini
dikelola oleh anak dari Nyoman Mandra yaitu Nyoman Sri Wedari.

D. Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia pada sanggar ini berjumlah 6 orang.

E. Proses Produksi

Proses produksi dalam sanggar ini masih manual karena tradisi. Proses yang manual inilah
menyebabkan harga produknya cukup mahal karena pengerjaannya membutuhkan waktu yang
cukup lama, beda halnya dengan teknologi zaman sekarang yang mampu mencetak ribuan
dalam waktu 1 bulan. Proses manual hanya dapat mengerjakan 1 atau 2 lukisan dalam 1 hari
dengan ukuran yang kecil. Untuk ukuran yang besar dapat diproduksi dengan kurun waktu
hingga 1 minggu. Pada awal perkembangannya, bahan yang digunakan adalah Kain Bali atau
seperti Kain Nusa yang memiliki serat yang tidak keras. Saat ini kain yang digunakan adalah
Kain Blacu. Kain ini hanya diproduksi di Kamasan dibuat dengan tradisi menggunakan tepung
beras sebagai campurannya. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Namun ada
beberapa produk yang menggunakan warna sintetis dikarenakan warna alami yang sulit dicari.
Untuk bingkai pada lukisan, tempurung kelapa, dan capil itu biasanya dibeli di pasar, kemudian
di sanggar hanya tinggal di lukis saja. Namun ada beberapa kerajinan yang memang dibuat di
sanggar ini seperti souvenir dari telur, kipas, dan bambu. Untuk harga 1 figur wayang yang
paling kecil adalah Rp. 100.000,-, kipas seharga Rp.100.000,- dan lukisan wayang yang paling
mahal bisa mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Saat ini ada inovasi baru yang dicoba
yaitu melukis pada keramik.

F. Sistem Pemasaran

Untuk sistem pemasaran, sanggar ini memasarkan lewat bantuan pemerintah, oleh
masyarakat lokal, dan lewat internet atau media sosial. Biasanya ada masyarakat menjadi
reseller dari produk sanggar ini. Mereka datang ke sanggar dan memesannya kemudian dijual
kembali dengan brandnya sendiri. Untuk orderan biasanya ada yang harian dan ada yang
borongan.

G. Sistem Keuangan

Sistem keuangan yang digunakan pada sanggar ini masih manual, tidak ada manajemen
pasti. Di sanggar ini, keuntungan yang dihasilkan akan dibagi 2 yaitu untuk menggaji karyawan
dan untuk membeli bahan lagi seperti kanvas, beruk yang digunakan seperti kelapa, dan bahan
yang lainnya. Untuk yang melukis, me - reka, dan yang memberi warna itu digaji berbeda –
beda. Biasanya pesanan akan dikelola oleh Nyoman Sri Wedari, kemudian dibagi siapa saja
yang melukis, me – reka, dan memberi warna. Penghasilan yang didapat perbulannya tidak
menentu. Jika banyak pesanan, penghasilan dapat mencapai puluhan juta. Namun saat sepi
penghasilan hanya berkisar 5 juta-an.

H. Kendala

Dari segi SDM dan bahan tidak ada kendala di sanggar ini. Namun kendala yang dihadapi
hanya pemasaran. Produk ini berupa lukisan atau souvenir jadi cukup sulit untuk dipasarkan
karena tidak semua orang memerlukan lukisan atau souvenir tersebut. Saat ini kunjungan di
sanggar ini mengalami penurunan karena tren nya objek wisata alam.
I. Lampiran