Anda di halaman 1dari 4

Alternatif pendekatan oportunistik adalah pendekatan kontrak yang efisien.

Jika kontrak efisien,


mereka menyelaraskan kepentingan agen dan prinsipalsehingga tindakan yang menguntungkan agen
juga menguntungkan prinsipalitu sendiri, dan meningkatkan nilai perusahaan. Meskipun mengakui
bahwaagen memiliki insentif untuk mentransfer kekayaan dari prinsipal, kontrakefisien atau ex ante,
pendekatan teori keagenan berpendapat bahwa agenmengakui bahwa jika mereka mencoba untuk
mentransfer kekayaan dariprinsipal, mereka akan dikenakan sanksi untuk kegiatan di masa depan.
Expost oportunismterjadi ketika, setelah kontak adalah di tempat, agenmengambil tindakan yang
mentransfer kekayaan dari prinsipal untuk dirimereka sendiri. Ex ante efficient contractingterjadi
ketika agen mengambiltindakan yang memaksimalkan jumlah kekayaan yang tersedia
untukmendistribusikan di antara para pelaku dan agen ex ante - sebelum kontrakselesai

Ex post opportunism versus ex ante efficient contractingAgency contracts memberikan insentif bagi
agen untuk melakukan tindakan yangbertentangan dengan pemilik (principal). Satu pendekatan
untuk memperlihatkan bahwa agen bersifatopportunis dan mencari perpindahan kekayaan dari
principal karena agen tersebut menganggapbahwa perlindungan harga (price protection) tidaklah
cukup. Istilah ini sering kali disebut perspectiveopportunistic dan dapat juga disebut pendekatan ex
post karena dilakukan setelah kontrak dibuat.Agen memiliki insentif untuk memindahkan kekayaan
dari principal karena termin dari kontrakmaupun proses renegosiasi tidak dapat diselesaikan (di
settle-up) atau pun dapat mengeliminasibenefit yang seharusnya bisa didapatkan.Aplikasi dari teori
perspektif opportunistic dari contracting theory terhadap debt contractsmengimplikasikan bahwa
manajer akan mengusahakan perpindahan kekayaan dari kreditur kepadapemegang saham. Apabila
manajer merasa bahwa perusahaan sedang berda dalam kesulitan finansial

(financial distressed), mereka akan mengambil tindakan untuk memastikan perusahaan tidak
akanmelanggar perjanjian utang (debt convenant) dan kreditur tidak menyadari (unware) masalah
kesulitankeuangan tersebut selam periode waktu tertentu (as long as possible).Di satu sisi tindakan
tersebut memungkinkan perusahaan untuk melanjutkan aktivitasoperasionalnya dan membayar
dividen kepada pemegang sahamnya. Namun, disisi lainnya, hal iniakan mengurangi jumlah uang
yang tersedia untuk membayar utang apabila seandalnya perusahaanbenar – benar bangkrut.

Satu pendekatan untuk memperlihatkan bahwa agen bersifatopportunis dan mencari perpindahan
kekayaan dari principal karena agen tersebut menganggapbahwa perlindungan harga (price
protection) tidaklah cukup. Istilah ini sering kali disebut perspectiveopportunistic dan dapat juga
disebut pendekatan ex post karena dilakukan setelah kontrak dibuat.

Perilaku oportunistik (opportunistic behavior) adalah perilaku yang mengeksploitasi peluang


keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan keuntungan jangka panjang.

Oportunisme adalah kebijakan dan praktik sadar mengambil keuntungan dari keadaan -
dengan sedikit memperhatikan prinsip atau dengan apa konsekuensinya bagi orang
lain.Tindakan oportunis adalah tindakan bijaksana yang dipandu terutama oleh motif yang
mementingkan diri sendiri. Istilah ini dapat diterapkan pada manusia individu dan organisme
hidup, kelompok, organisasi, gaya, perilaku, dan tren.
Oportunisme adalah kebijakan dan praktik sadar mengambil keuntungan egois dari
keadaan. [1]
Meskipun di banyak masyarakat, oportunisme sering kali memiliki konotasi moral negatif
yang kuat, oportunisme juga dapat didefinisikan secara lebih netral sebagai menempatkan
kepentingan pribadi di atas kepentingan lain ketika ada peluang untuk melakukannya, atau
secara fleksibel beradaptasi dengan keadaan yang berubah untuk memaksimalkan
kepentingan diri sendiri (meskipun biasanya dengan cara yang meniadakan beberapa prinsip
yang sebelumnya diikuti).
Opportunisme kadang-kadang didefinisikan sebagai kemampuan untuk memanfaatkan
kesalahan orang lain: untuk mengeksploitasi peluang yang diciptakan oleh kesalahan,
kelemahan atau gangguan lawan untuk keuntungan sendiri. [2]
Mengambil pendekatan realistis atau praktis untuk suatu masalah dapat melibatkan bentuk
oportunisme "lemah". Demi melakukan sesuatu yang akan berhasil, atau yang berhasil
memecahkan masalah, prinsip yang sebelumnya disepakati secara sadar dikompromikan atau
diabaikan - dengan pembenaran bahwa tindakan alternatif, secara keseluruhan, akan memiliki
efek yang lebih buruk.
Dalam memilih atau merebut peluang, oportunisme manusia kemungkinan besar terjadi di
mana:
 Orang dapat memperoleh hasil maksimal untuk diri mereka sendiri dengan biaya paling
sedikit untuk diri mereka sendiri.
 Kontrol internal atau eksternal yang relevan pada perilaku mereka tidak ada.
 Orang-orang ditekan untuk memilih dan bertindak.

Kritik oportunisme biasanya merujuk pada situasi di mana kepercayaan dan prinsip diuji atau
ditantang.
Oportunisme manusia tidak harus disamakan dengan "mencari peluang", atau "memanfaatkan
peluang ketika mereka muncul". Oportunisme lebih mengacu pada cara spesifik
untuk menanggapi peluang, yang melibatkan unsur kepentingan diri sendiri plus
mengabaikan prinsip-prinsip (etika) yang relevan, atau untuk tujuan yang telah disepakati
atau yang sebelumnya disepakati, atau untuk kepedulian bersama suatu kelompok. [3]
Agak membingungkan, meskipun, oportunisme kadang-kadang juga didefinisikan ulang oleh
pengusaha hanya sebagai "teori menemukan dan mengejar peluang". [4] Pengusaha ini
termotivasi oleh ketidaksukaan mereka akan gagasan bahwa akan ada yang salah dengan
memanfaatkan peluang. Menurut definisi ulang ini, "oportunisme" adalah eufemisme untuk
"kewirausahaan".
Managemen laba bisa muncul dari adanya problem asimetri informasi dan konflik keagenan.
Kondisi asimetri informasi ini akan eksis apabila kepemilikan ekuitas terpisah dari operasi
perusahaan dan manager memiliki keunggulan atas informasi dibandingkan pemegang
saham. Di sisi lain kondisi pasar tidak sempurna mampu menciptakan lingkungan bagi
manager untuk melakukan diskresi akuntansi yang dilakukan untuk kepentingan manager
yang dibebankan pada pemegang saham. Namun, di sisi lain managemen laba juga mampu
menciptakan kesempatan bagi manager untuk menggunakan diskresi akuntansi untuk
mengkomunikasikan kinerja perusahaan terkait dengan informasi dengan cara yang
memadai kepada para investor.

Salah satu alasan yang mendasari fenomena managemen laba ini terus eksis dan dilakukan
oleh banyak perusahaan karena adanya sisi baik dari managemen laba. Sisi baik dari
managemen laba bisa ditinjau dari sudut pandang kontrak efisien dan pelaporan keuangan.
Dari perspektif kontrak efisien dalam Positive Accounting Theory, tingkat managemen laba
bisa dianggap baik karena mampu meningkatkan efisiensi kontrak, alih-alih dilakukan
sebagai bentuk perilaku oportunistik managemen. Kontrak yang efisien, memberikan
keleluasaan kemampuan bagi manager untuk mengelola laba dalam kontrak
yang rigid dan incomplete. Dalam kondisi ini, interpretasi terhadap perilaku managemen
laba yang dilakukan manager dalam hal skema bonus, perjanjian hutang dan biaya politik
harus dilakukan secara hati-hati, karena perilaku tersebut bisa mengambil bentuk sebagai
perilaku yang efisien atau oportunis.

Perspektif perilaku oportunistik atas managemen laba, memiliki sudut pandang bahwa
manager menggunakan asimetri informasi antara pihak eksternal dan internal perusahaan
untuk memaksimisasi utilitas mereka terkait dengan kontrak kompensasi, kontrak hutang
dan regulasi. Investor kemudian dikelabuhi dengan laporan informasi yang tidak reliabel.
Manfaat dari manajemen laba ditengarai diperoleh jika manajer melakukan manajemen
laba demi kepentingan entitas, khususnya pemegang saham. Fenomena ini banyak ditemui
dalam hal political cost dan debt covenant. Penggunaan manajemen laba yang
mengedepankan kepentingan perusahaan ini masuk dalam perspektif efisien. Dua sisi
manajemen laba, yakni perspektif efisien dan perspektif oportunistik terjadi dalam banyak
perusahaan. Usaha untuk menekan perilaku manajemen laba tentunya kemudian sedikit
banyak harus memperhatikan dampak yang muncul atas perilaku tersebut, apakah
dilakukan dalam kepentingan pribadi manajer atau untuk kepentingan entitas.

Kata kunci: Manajemen Laba, Perspektif Oportunistik


Teori akuntansi positif dapat menjelaskan tindakan yang akan diambil oleh manajer
dengan pendekatan hipotesis yang merupakan bagian penting dari teori akuntansi positif yang
memberikan prediksi empiris yang dapat diuji. Hipotesis tersebut dinyatakan dalam bentuk
oportunistik dan versi efisiensi. Dari perspektif oportunistik, kemampuan manajemen untuk
memilih kebijakan akuntansi untuk keuntungannya sendiri dapat terpengaruh. Dalam
perspektif efisiensi, seperangkat kebijakan yang ada mempengaruhi fleksibilitas perusahaan.
Perubahan dalam seperangkat kebijakan yang tersedia akan bermasalah bagi manajer.
Sehingga, kita mengharapkan manajemen utuk bereaksi, dan semakin besar standar baru
berpengaruh terhadap kontrak yang ada dan/atau mengurangi pilihan kebijakan akuntansi,
semakin kuat reaksi yang akan terjadi.