Anda di halaman 1dari 24

Vaskularisasi Ekstremitas Inferior dan Mekanisme Pembekuan Darah

Mutiara Rajany (102015129/F3)


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
mutiara.2015fk129@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

Darah merupakan substansi penting dalam tubuh yang berfungsi sebagai sel transport yang

ikut dalam mekanisme metabolisme dalam tubuh, dan pertahanan tubuh. Darah terdiri atas

eritrosit, limfosit, dan plasma darah. Normalnya darah mengalir disepanjang pembuluh darah.

Pada saat seseorang mengalami pendarahan, terjadi proses hemostasis di mana tubuh akan

berusaha untuk mempertahankan jumlah darah dengan mengurangi pendarahan dengan clotting/

koagulasi darah.

Kata kunci: darah, pembuluh darah, koagulasi darah

Abstract

Blood is an important substance in the body that functions as a transport cell. Blood

involved in the human metabolism, and the body’s defenses. Blood comprised of erythrocytes,

lymphocytes, and blood plasma. Normally the blood flow along the veins. If someone is bleeding,

hemostasis process occurs in which the body will attempt to maintain the blood level by reducing

the amount of bleeding by clotting / coagulation of blood.

Keywords: blood, veins, blood coagulation

Pendahuluan
Metabolisme dalam tubuh manusia terjadi sepanjang seseorang hidup. Dalam tubuh manusia
metabolisme bersifat aerob (membutuhkan oksigen). Oksigen dalam tubuh manusia didapat
melalui mekanisme respirasi, mekanisme respirasi terjadi melalui proses pengambilan O 2 dan
pembuangan sisa-sisa hasil metabolisme CO2. Pembuluh darah bertugas untuk melakukan
transportasi O2 dan CO2. Darah adalah substansi penting yang harus dipertahankan jumlah nya
dalam tubuh. Apabila seseorang mengalami pendarahan perlu adanya mekanisme hemostasis
untuk mempertahankan kadar darah.
Melalui makalah ini, akan dibahas seorang anak laki-laki 10 tahun, lututnya terluka dan
berdarah. Ibunya mengobatinya dengan povidone iodine, perdarahan terhenti, luka mengering
dan dalam 2 minggu luka tersebut sembuh. Dengan demikian para pembaca diharapkan mengerti
tentang vaskularisasi eksremitas inferior, regenerasi sel serta faktor-faktor pembukuan darah.

Vaskularisasi Ekstrimitas Inferior

Vaskularisasi ekstremitas inferior dimulai dari ventricle sinistra jantung menuju ke arah
inferior menjadi arteri thoracalis atau arteri descendens, kemudian pada daerah abdominal
sesudah menembus diafragma menjadi aorta pars abdominalis. Sebelum mencapai pelvis terjadi
percabangan aorta pars abdominalis yang disebut dengan bifurcatio aorta. Percabangan
bifucartio aorta akan menjadi arteri illiaca communis dextra dan sinistra. Arteri illiaca
communis bercabang menjadi arteri illiaca eksterna dan arteri illiaca interna. Arteri illiaca
eksterna berjalan ke arah inferior menembus ligamentum inguinal menjadi arteri femoralis.
Cabang arteri illiaca communis lainya, arteri illiaca interna/hypogastric berjalan ke arah infero-
posterior akan mempendarahi dinding visceral pelvis, gluteus, organ reproduksi, dan tungkai atas
medial.1,2
Gambar 1. Aorta Pars Abdominalis – Arteri Illiaca Communis. 1

Arteri femoralis berjalan ke arah inferior akan mempercabangkan cabang superfisial dan
cabang profundus; cabang superfisial arteri femoralis adalah arteri epigastrica inferior, arteri
pudenda eksterna, dan arteri circumflexa illium superfisialis. Arteri epigastrica inferior berjalan
menuju dinding perut depan sampai umbilicus, arteri pudenda eksterna berjalan medial menuju
alat kelamin, dan arteri circumfleksa illium superfisialis berjalan menuju spina illiaca anterior
posterior. Cabang profundus arteri femoralis adalah arteri profuna femoris. Arteri profunda
femoris akan mempercabangkan arteri circumfleksa femoris medialis, arteri circumfleksa
lateralis, dan arteri perforantes I,II, dan III, yang akan menembus otot-otot adduktor. Arteri
circumfleksa femoris lateralis akan bercabang lagi menjadi ramus descendens dan ramus
ascendens. Pada ramus descendens akan beranastomosis dengan arteri disekitar patella. Pada
arteri femoralis setelah menembus musculus adduktor magnus melalui hiatus adduktorius akan
berjalan ke arah posterior menjadi arteri poplitea.1,2
Gambar 2. Arteri Femoralis dan Percabanganya. 1

Arteri poplitea bercabang menjadi arteri genus superior medialis, arteri genus superior
lateralis, arteri genus inferior medialis, arteri genus inferior lateralis, arteri genus media,
arteriae suralis. Arteri genus superior medialis dan lateralis akan melingkari tulang tibia. Arteri
genus media akan bercabang ke arah ventral mempendarahi ligamentum-ligamentum disekitar
regio genus. Arteri genus inferior medialis dan lateralis akan melingkari tulang tibia (lebih
inferior daripada arteri genuss superior medialis dan lateralis. Antara arteri genus superior
medialis dan lateralis, arteri genus inferior medialis dan lateralis akan beranastomosis menjadi
rete articulare genus. Arteri poplitea akan berjalan lagi ke arah inferior mempercabangkan arteri
tibialis anterior, arteri tibialis anterior menembus m. soleus berjalan ke arah ventral. Arteri
tibialis posterior dan arteri tibialis akan dipercabangkan lebih inferior, Arteri tibialis posterior
berjalan ke arah medial, sementara arteri tibialis berjalan ke arah lateral.1,2
Gambar 3. Arteri Poplitea – Arteri Tibialis Posterior – Arteri Fibularis. 1
Arteri tibialis anterior mempercabangkan arteri reccurens ke distal didaerah malleolus
mempercabangkan arteri malleolus anterior medial dan lateral. Arteri tibialis posterior
mempercabangkan arteri malleolaris posterior medialis pada daerah malleolus, arteri
malleolaris posterior medialis dan arteri malleolaris anterior medialis akan beransastomosis
membentuk rete malleolare laterale, sementara arteri fibularis akan mempercabangkan arteri
malleolaris posterior lateralis, bersama-sama dengan arteri malleolaris anterior lateralis
membentuk rete malleolare mediale.1,2
Gambar 4. Arteri Tibialis Anterior – Arteri Malleolus Anterior. 1
Pada daerah tarsalis, arteri tibialis anterior akan mempercabangkan arteri tarsalis lateralis
dan medialis kemudian sampai pada dorsum pedis berubah nama menjadi arteri dorsalis pedis.
Arteri dorsalis pedis mempercabangkan arteri arcuata yang bercabang lagi pada bagian
metatarsal menjadi arteri metatarasles dorsales II, III, IV, V, selain itu arteri arcuata
beranastomosis dengan arteri tarsalis lateralis. Cabang lainya adalah arteri plantari profundus
yang akan berjalan menuju bagian plantar pedis. Pada daerah metatarsal, arteri dorsum pedis
berubah nama menjadi arteri metatarsales dorsales I. Pada ujung distal metatarsal, arteri
metatarsales arteri digitales dorsales. Arteri tibialis posterior akan mempercabangkan arteri
plantaris medialis dan arteri plantaris lateralis pada daerah plantar pedis. Arteri plantaris
lateralis akan mempercabangkan arcus plantaris profundus. Arteri plantaris profundus akan
bercabang menjadi arteriae metatarsales plantares I-V, dan pada daerah digitales akan menjadi
arteriae digitales platares communis, sampai pada ujung distal berubah menjadi arteriae
digitales profundus. Arteri plantaris medialis bercabang menjadi ramus profundus dan ramus
superfisial arteri plantaris medialis. Arteri plantari medialis ramus profundus akan
beranastomosis dengan arcus plantaris profundus, sementara arteri plantaris medialis ramus
superfisialis berjalan ke arah medial mempendarahi subkutis. 1,2
Gambar 5. Arteri tarsalis pedis. 1
1. Struktur Mikroskopis Pembuluh Darah
Pembuluh darah memiliki struktur mikroskopis yang berbeda-beda bergantung pada fungsinya.
Setiap pembuluh darah memiliki ciri yang sama satu dengan lainya yaitu mempunyai tiga lapisan
pada dindingnya; tunika intima yang tersusun atas endotel dan jaringan ikat areolar, tunika media
yang biasanya tersususun atas jaringan elastin atau otot polos, dan tunika adventisia yang
tersusun oleh jaringan ikat, serat saraf, pembuluh limfe, dan vasa vasorum. Berikut adalah
penggolongan pembuluh darah;3
Gambar 6. Penggolongan Pembuluh Darah. 4

 Arteri besar/arteri elastik


Fungsi arteri besar adalah untuk menyalurkan darah, meredam tekanan yang disebabkan
sistol jantung, menjaga agar aliran darah berjalan mulu dan tidak terhentak hentak. Contohnya
A.inominata, subclavia, A.carotis communis, A.illiaca. diamaeter nya kurang lebih 1-2,5cm.
Pada arteri besar, tunika intimanya mengandung sel endotel dengan lamina basalis. Lapisan
subendotel nya terdiri atas jaringan ikat kolagen, elastin dan otot polos, serta terdiri atas lamina
elastika interna. Pada bagian tunika medianya, terdiri atas serat elastin, kolagen dan sel otot
polos. Pada adventisia nya terdapat vasa vasorum dan serat saraf.3

Gambar 7.
Struktur
Mikroskopis Arteri
Besar.4

 Arteri
sedang/arteri
muscular

Fungsi arteri ini


adalah membagi
darah ke organ yang
membutuhkannya.
Tunika elastika
interna dan eksterna nya tampak jelas. Pada tunika intima, terdapat lapisan endotel dengan
lamina basalis. Pada tunika media nya terdapat otot polos sirkular, kolagen dan beberapa serat
elastin, namun tidak ditemukan adanya fibroblas. Pada tunika adventisia nya, memiliki tebal
lapisan jaringan ikat kira-kira sama dengan tebal tunika medianya.3

 Arteri kecil/ arteriol


Fungsi arteri ini adalah mendistribusikan darah ke jaringan organ dalam dan mengontrol
aliran darah kedalam kapiler. Arteri ini mempunyai 1-2 lapis otot polos pada tunika media. Arteri
kecil mempunyai sampai 8 lapis otot polos pada tunika media.
Kapiler tipe visceral atau fenesterated capillary memiliki pori-pori, terdapat di pancreas, usus,
kelenjar endokrin dan ginjal. Kapiler tipe muscular atau kapiler sempurna/utuh (continous
capillary) dan Sel endotel kontinu, banyak terdapat otot, jaringan saraf, dan jaringan ikat.

 Sinusoid (discontinous capillary)

Memiliki khas berongga tipis dan memiliki diameter yang besar, banyak ditemukan di hepar.

Gambar 8.
Kapiler Darah. 4

 Vena besar

Vena besar ,
seperti vena kava,
memiliki tunika
intima yang mirip
dengan vena sedang.
Tunika media dari
vena besar kurang
sempurna
perkembangannya,
kadang tidak ada.
Bila ada, struktur
histologisnya mirip
dengan vena sedang.
Sedangkan tunika
adven nya, beberapa
kali lebih tebal
dibandingkan dengan tunika medianya, terdiri atas jaringan ikat dengan serat kolagen yang
tersusun longitudinal, terdapat berkas otot polos yang sangat mencolok dan tersusun
longitudinal.3

 Vena sedang

Vena sedang memiliki selapis sel endotel pada tunika intimanya. Tunika medianya jauh lebih
tipis daripada arteri sedang, dan memiliki serat kolagen yang lebih menonjol daripada serat otot
polos. Tunika adventisia nya lebih tebal daripada tunika medianya, jaringan ikat dan beberapa
otot polos.3

 Vena kecil

Vena kecil merupakan vena yang berhubungan dengan kapiler darah tempat terjadinya
pertukaran zat antar jaringan. Sel otot polos pada vena kecil ini mula-mula selapis, kemudian
lapisan otot polos bertambah banyak mengelilingi endotel.3

Proses Pembekuan Darah


Pada saat endotel mengalami luka, kolagen terkspose terhadap platelets sehingga platelets
mengaktifkan reseptor membran Ia/IIa. Keadaan ini diperkuat dengan vWF (von Willebrand
factor), yang meningkatkan jumlah ikatan platelets dengan reseptor membran Ia/IIa. Aktivasi
platelets akan melepaskan granul-granul berupa ADP, serotonin, platelet-activating factor (PAF),
vWf, platelet faktor 4, dan thromboxane A2. Sehingga terjadi protein-G cascade yang
meningkatkan kadar Ca2+ pada sitosol platelets. Ion kalsium akan mengaktifkan protein kinase C,
di mana kinase C akan mengaktifkan phosphlipase A2 (PLA2). PLA2 akan memodifikasi
membran glikoprotein IIb/IIIa, meningkatkan affinitasnya terhadap fibrinogen. Platelet yang
sudah teraktivasi akan berubah bentuk dari spherical menjadi stellate, ikatan silang antara
fibrinogen dengan glikoprotein IIb/IIIa membantu aggregasi platelets yang berdekatan.4,5
Gambar 11. Sinonim
Faktor Clotting
Darah. 5

Proses
koagulasi adalah
hemostasis tahap
kedua yang
menyebabkan
terbentuknya formasi
fibrin. Proses ini
teridiri atas jalur
intrinsik yang
melibatkan jalur
kontak aktivasi, serta
jalur ekstrinsik yang berhubungan dengan jalur faktor jaringan. Awalnya proses ini dimulai dari
jalur ekstrinsik di mana jaringan pembuluh darah yang terluka akan menyebabkan FVII keluar
dari sirkulasi darah (diaktivasi oleh thrombin, FXIa, FXII, dan FXa) dan terjadi kontak dengan
tissue factor (TF). Bertemunya FVII dengan TF akan mengaktifkan kompleks TF-FVIIa.
Kompleks ini akan mengaktivasi FIX dan FX. Aktivasi FX akan secara cepat diinhibisi oleh
tissue factor pathway inhibitor (TFPI). FXa dan ko-faktor nya FVa akan membentuk
prothrombinase kompleks, yang akan mengaktivasi prothrombin menjadi thrombin. Thrombin
akan mengaktivasi komponen lain dari cascade koagulasi, termasuk FV dan FVIII. FIXa bersama
dengan ko-faktor nya FVIIIa akan membentuk tenase-complex (activating complex), yang akan
mengaktivasi FX. Siklus ini akan berulang terus-menerus sampai terjadi hemostasis.4,5
Gambar 12. Mekanisme Koagulasi Darah.4
Jalur intrinsik dimulai pada saat terbentuknya kompleks antara kolagen, prekallikrein
(Fletcher Factor) atau serine protease, dan FXII (Hageman Factor). Prekallikrein dirubah
menjadi kallikrein (enzim) dan FXII diubah menjadi FXIIa. FXIIa akan mengubah FXI menjadi
FXIa. FXIa akan mengaktivkan FIX yang juga bersama dengan ko-faktor nya FVIIIa
membentuk tenase kompleks, yang akan mengaktifkan FX menjadi FXa. FXa akan mengubah
prothrombin menjadi thrombin. Di mana pada akhir proses koagulasi, thrombin digunakan untuk
mengubah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin.4,5

Gambar 13. Jalur Intrinsik Koagulasi Darah. 5

Kalsium dan fosfolipid diperlukan untuk mekanisme tenase dan prothrombin. Kalsium
akan memediasi ikatan kompleks FXa dan FIXa terhadap membran fosfolipid. Vitamin K juga
merupakan faktor yang essensial, dibutuhkan sebagai ko-faktor dari FII, FVII, FIX, dan FX.5

Terdapat beberapa zat yang diperlukan sebagai regulator koagulasi sehingga tidak terjadi
koagulasi yang berlebihan, seperti; protein C, antithrombin, TFPI, plasmin, α1-antitripsin, dan
prostacyclin. Protein C sebagai antikoagulan bekerja dengan menurunkan FVa dan FVIIIa.
Antithrombin sebagai inhibitor serine protease menurunkan prekallikrein, FIXa, FXa, FXIa, dan
FXIIa, serta meningkatkan heparin. Tissue factor pathway inhibitor (TFPI) menurunkan tissue
factor. Plasmin, mencegah terjadinya formasi fibrin yang berlebihan (degradasi fibrin). α1-
antitripsin meningkatkan aktivitas antithrobin. Prostacyclin akan mengaktivasi adenilil siklase
yang akan mensintesis cAMP. cAMP akan menginhibisi aktivasi platelet dengan mengurangi
kadar kalsium dalam sitosol.5

Gambar
14. Regulasi
Koagulasi Darah. 4

Regenerasi Sel
Regenerasi ialah
memperbaiki bagian
tubuh yang rusak
atau lepas kembali
seperti semula.
Regenerasi juga
diartikan sebagai
proses pertumbuhan
dan perkembangan
sel yang bertujuan untuk mengisi ruang tertentu pada jaringan atau memperbaiki bagian yang
rusak. Regenerasi sel juga diartikan proses pembentukan sel untuk menggantikan sel yang mati
yang diatur mulai tingkat terkecil dalam sel tubuh kita. Proses regenerasi dominant mulai usia
anak – anak sampai kira – kira 30 tahun. Kemudian digantikan dengan proses degenerasi yang
paling dominant. Namun pada dasarnya regenerasi (pembentukan) dan degenerasi (perusakan)
sel akan selalu terjadi dalam tubuh kita.6
Proses regenerasi kulit terjadi setelah luka mengalami tiga fase, yaitu fase inflamasi, fase
proliferasi, dan fase penyudahan.6
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. Pembuluh
darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha
menghentikannya dengan vasokontriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus, dan reaksi
hemostatis. Hemostatis terjadi karena trombosit yang yang keluar dari pembuluh darah saling
melekat, dan bersama jalan fibril yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh
darah. Sementara itu terjadi proses inflamasi, Sel mast dalam jaringan akan menghasilkan
serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi,
penyebutan sel radang disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan
pembengkakan. Tanda gejala klinis reaksi radang terlihat jelas berupa warna kemerahan karena
rubor, dolor, kalor, dan tumor.6
Aktivitas seluler yang terjadi adlah pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah
menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu
dalam mencerna bakteri dan kotoran luka. Limfosit yang muncul ikut memakan kotoran luka dan
bakteri. Fase ini disebut juga fase lamban karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit dan
luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah.6
2. Fase Proliferasi
Fase ini disebut juga dengan fase fibroplasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi
fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir minggu ketiga.
Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi menghasilkan
mukopolisakarida, asam aminoglisin, dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang
akan mempertautkan tepi luka. 6
Pada fase ini serat-serat akan dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri
dengan tegangan pada luka yang cenderung mengkerut. 6
Pada fase fibroplasia ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, embentuk
jarngan kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi.
Epitel tepi luka yang terdiri atas sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi
permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis.
Proses migrasi hanya terjadi pada daerah yang lebih rendah dan datar. Proses ini baru berhenti
setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh luka. Dengan tertutupnya permukaan luka,
proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan grnulasi juga akan berhenti dan mulailah proses
pematagan.6
3. Fase Penyudahan
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan kembali jaringan yang
berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perumpaan kembali jaringan
yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalo
semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan semua yag abnormal karena
proses penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru
menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebihan diserap dan sisanya mengerut sesuai
dengan regangan yang ada.6
Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis dan lemas serta mudah
digerakan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka dan perupaan luka kulit mampu
menahan regangan. Hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan.6
Kesimpulan
Darah merupakan substansi penting dalam tubuh yang berfungsi sebagai jaringan sel
transport yang ikut dalam mekanisme metabolisme dalam tubuh, dan pertahanan tubuh. Darah
terdiri atas eritrosit, limfosit, dan plasma darah. Normalnya darah mengalir disepanjang
pembuluh darah. Pada saat seseorang mengalami pendarahan, terjadi proses hemostasis di mana
tubuh akan berusaha untuk mempertahankan jumlah darah dengan mengurangi
pendarahan/clotting/ koagulasi darah serta regenerasi sel dalam penyembuhan kulit turut
berperan.
Daftar Pustaka
1. Sobotta J. Atlas of human anatomy.14th ed. Munchen: Elsevier Urban and Fischer; 2010.h.
351-75.
2. Netter F H. Atlas anatomi manusia. 5 th ed. Singapore: Elsevier (Singapore) Pte Ltd.h.
492, 500, 518-9.
3. Luiz CJ. Histologi dasar: teks & atlas. Edisi ke-10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2011.h. 219-34.

4. Sherwood L. Human physiology: from cells to system. 7 th ed. Stamford: Brooks/Cole


Cengage Learning;2010.h.392-410.
5. Guyton AC, Hall JE. Medical physiology. 11 th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders;
2006.h. 459-62.

6. Wasitatmadja, Syarif M. Anatomi dan Faal kulit In : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S


editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2012.h.205-9.