Anda di halaman 1dari 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

Keluarga

sadar

gizi

(Kadarzi)

adalalah

suatu

keluarga

yang

mampu

mengenal,

mencegah

dan

mengatasi

masalah

gizi

setiap

anggotanya.

Suatu

keluarga disebut Kadarzi apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan

minimal dengan menimbang berat badan secara teratur, memberikan air susu ibu

(ASI) saja kepada bayi sejak

lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif), makan

beraneka ragam, menggunakan garam beryodium, minum suplemen gizi (kapsul

vitamin A dosis tinggi) (Depkes RI, 2007).

Dalam hal ini, keluarga merupakan tatanan masyarakat terkecil dan paling

inti dengan beranggotakan bapak, ibu, dan anak-anak. Di sinilah tata cara nilai,

norma, kepedulian dan kasih sayang terbina sejak dini. Dalam keluarga, sumber

daya dimiliki dan dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan termasuk

kebutuhan fisik yang paling dasar yaitu makan dan minum. Ditingkat keluarga juga

dilakukan

pengambilan

keputusan

tentang

makanan,

gizi

dan

kesehatan

dilaksanakan. Masalah yang terjadi ditingkat keluarga seperti gizi kurang, gizi

buruk, anemia dan sebagainya, sangat erat kaitannya dengan perilaku keluarga

yang bersangkutan selain akar masalah adalah kemiskinan. Pemahaman Kadarzi

oleh semua yang bertujuan mewujudkan keluarga sehat, cerdas dan mandiri sangat

diperlukan untuk menjadikan bangsa sehat dan negara kuat (Syahartini, 2006).

Diharapkan bahwa dalam satu keluarga sadar gizi sedikitnya ada seorang

anggota

keluarga

yang

dengan

sadar

bersedia

20

melakukan

perubahan

kearah

Universitas Sumatera Utara

21

keluarga yang berperilaku gizi baik dan benar. Bisa seorang ayah, ibu, anak, atau

siapa pun yang terhimpun dalam keluarga itu (Depkes RI, 1998).

2.2. Pembinaan Keluarga Sadar Gizi

Pembinaan keluarga sadar gizi adalah melakukan berbagai upaya untuk

meningkatkan kemampuan keluarga, agar terwujud keluarga yang sadar gizi.

Upaya meningkatkan kemampuan keluarga itu dilakukan dengan penyuluhan,

demo, diskusi dan pelatihan (Depkes RI, 1998).

2.3. Tujuan Pembinaan Keluarga Sadar Gizi

Tujuan Pembinaan Keluarga Sadar gizi (KADARZI) adalah

a. Menimbang balita ke posyandu secara berkala.

b. Mampu

mengenali

tanda-tanda

kurang dan gizi lebih).

sederhana keadaan

kelainan gizi (gizi

c. Mampu menerapkan susunan hidangan yang baik dan benar, sesuai dengan

Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).

d. Mampu mencegah dan mengatasi kejadian atau mencari rujukan, manakala

terjadi kelainan gizi di dalam keluarga.

e. Menghasilkan makanan melalui pekarangan.

Universitas Sumatera Utara

 

22

2.4.

Sasaran Pembinaan Keluarga Sadar Gizi

 
 

Sasaran

pembinaan

Kadarzi

adalah

semua

keluarga

di

wilayah

kerja

puskesmas. Namun perhatian utama pembinaan ditujukan kepada keluarga yang

memiliki kelainan gizi, keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera tahap I.

Dengan adanya pembinaan kadarzi maka diharapkan agar :

a. Dalam setiap keluarga, setidak-tidaknya terdapat seorang anggota keluarga

yang menjadi kader kadarzi.

b. Semua keluarga menjadi Keluarga Sadar Gizi (KADARZI).

c. Tidak ada lagi masalah gizi utama dikalangan keluarga (Depkes RI, 1998).

2.5. Kegiatan Dalam Pelaksanaan Program Kadarzi.

a. Pemetaan Kadarzi

Pemetaan kadarzi dilakukan untuk menganalisis situasi kadarzi di suatu

wilayah kerja puskesmas yang dilakukan pertama kali oleh Tenaga Pelaksana Gizi

(TPG) kemudian untuk berikutnya dilakukan oleh ketua kelompok posyandu.

Pemetaan dilakukan setiap 6 bulan sekali yaitu setiap bulan Februari dan Agustus.

Tujuan pemetaan kadarzi yaitu :

1.

Mendapatakan

informasi

situasi

kadarzi

dalam

satu

wilayah

atau

dasawisma berdasarkan indikator yang ditentukan.

 

2.

Mendapatkan gambaran masalah gizi dan perilaku gizi yang baik dan benar

yang belum dapat dilaksanakan oleh keluarga.

Universitas Sumatera Utara

23

3. Sebagai bahan acuan pemantauan dan evaluasi situasi kadarzi dari waktu-

kewaktu.

Sasaran Pemetaan Kadarzi

Sasaran pemetaan kadarzi adalah semua keluarga yang ada di wilayah kerja

puskesmas.

b. Konseling Kadarzi

Konseling kadarzi adalah dialog atau konsultasi antara kader dasawisma,

tenaga penggerak masyarakat (TPM) untuk membantu memecahkan masalah

prilaku gizi yang belum dapat dilakukan oleh keluarga.

Tujuan konseling kadarzi adalah untuk memantapkan kemauan dan

kemampuan keluarga dalam melaksanakan perilaku gizi yang baik dan benar

dengan memanfaatkan yang dimiliki keluarga atau yang ada di lingkungannya.

Pelaksanaan konseling kadarzi, untuk pertama kali konseling dilakukan

oleh

tenaga

pelaksana

gizi

(TPG)

puskesmas

bersama

tenaga

penggerak

masyarakat dan kader dasawisma. Untuk selanjutnya konseling kadarzi dilakukan

oleh kader dasawisma dan TPM.

Sasaran konseling kadarzi

Konseling dilakukan pada keluarga yang belum menerapkan indikator

sadar gizi. Konseling ditujukan kepada anggota keluarga yang sudah dewasa

(Depkes RI, 2000).

Universitas Sumatera Utara

24

2.6. Strategi untuk mencapai sasaran keluarga sadar gizi (Kadarzi).

Strategi untuk mencapai sasaran kadarzi adalah :

1. Meningkatkan

fungsi

dan

peranan

posyandu

sebagai

wahana

masyarakat dalam memantau dan mencegah secara dini gangguan

pertumbuhan balita.

2. Menyelenggarakan pendidikan/promosi gizi secara sistematis melalui

advokasi, sosialisasi, dan pendampingan keluarga.

3. Menggalang kerja sama dengan lintas sektor dan kemitraan dengan

swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta pihak lainnya

dalam mobilisasi sumber daya untuk penyediaan pangan.

4. Mengupayakan terpenuhinya kebutuhan suplemen gizi terutama zat gizi

mikro dan MP-ASI bagi balita dalam keluarga di bawah garis miskin.

5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas puskesmas dan

jaringannya dalam pengelolaan dan tatalaksana pelayanan gizi.

6. Mengupayakan

dukungan

sarana

dan

prasarana

pelayanan

untuk

meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi di puskesmas dan

jaringannya (Depkes RI, 2007).

2.7. Indikator Keluarga Sadar Gizi

Indikator keluarga sadar gizi digunakan untuk mengukur tingkat sadar gizi

keluarga. Menurut Depkes (2007), ada 5 indikator kadarzi

yang

meliputi

:

penimbangan berat badan secara teratur, memberikan ASI saja kepada bayi sejak

lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif), makan beraneka ragam, menggunakan

Universitas Sumatera Utara

25

garam beryodium, memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A pada balita)

sesuai anjuran.

a.

Memantau pertumbuhan balita dengan menimbang Berat Badan balitanya secara teratur

Menurut Soekirman (2000) status gizi balita erat hubungannya dengan

pertumbuhan anak, oleh karena itu perlu suatu ukuran/ alat untuk mengetahui

adanya kekurangan gizi dini, monitoring penyembuhan kurang gizi dan efektivitas

suatu program pencegahan. Sejak tahun 1980-an pemantauan berat badan anak

balita telah dilakukan dihampir semua desa di Indonesia melalui posyandu. Dengan

meningkatkan mutu penimbangan dan pencatatannya, maka melalui posyandu

dimungkinkan untuk memantau status gizi setiap anak balita di wilayahnya

(Soekirman, 2000).

Pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan dengan menimbang selain

di posyandu bisa juga dilakukan di rumah atau tempat lain setiap bulan dengan

menggunakan alat penimbang badan. Dapat dipantau dengan melihat catatan

penimbangan balita pada KMS selama 6 bulan terakhir yaitu bila bayi berusia > 6

bulan ditimbang 4 kali atau lebih berturut-turut dinilai baik dan jika kurang dari 4

kali dianggap belum baik. Bila bayi 4-5 bulan ditimbang 3 kali atau lebih dinilai

baik dan jika kurang dari 3 kali dinilai belum baik. Bila bayi berusia 2-3 bulan

ditimbang 2 kali atau lebih berturut-turut dinilai baik dan jika kurang dinilai belum

baik, dan pada bayi yang masih berumur 0-1 bulan, baik jika pernah ditimbang

dan belum baik jika tidak pernah ditimbang (Depkes RI, 2007).

Universitas Sumatera Utara

 

26

Ada

beberapa

hal

yang

mempengaruhi

kesinambungan

seorang

ibu

membawa balitanya ke posyandu untuk ditimbang yaitu : tingkat pengetahuan

responden

terhadap

penimbangan,

sikap

responden

terhadap

penimbangan,

manfaat

yang

dirasakan

dalam

penimbangan

balita,

kepuasan

pelayanan

penimbangan balita, jadwal pelayanan, tempat pelayanan, tingkat partisipasi tokoh

masyarakat (Lius, 1994).

b. Memberikan ASI Eksklusif

ASI Eksklusif merupakan makanan terbaik bagi bayi. Pemberian ASI

Eksklusif adalah menyusui bayi secara murni. Bayi hanya diberi ASI saja tanpa

cairan lain seperti susu, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan

makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim

(Danuatmojo, 2004).

ASI sangat baik diberikan kepada bayi segera setelah dia lahir karena ASI

merupakan gizi terbaik bagi bayi dengan komposisi zat-zat gizi didalamnya secara

optimal mampu menjamin pertumbuhan tubuh bayi. Kualitas zat gizi ASI juga

terbaik

karena

mudah

diserap

dicerna

oleh

usus

bayi.

Pemberian

makanan

padat/tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI Eksklusif

serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Tidak ditemukan bukti yang

menyokong bahwa pemberian makanan tambahan sebelum 4 atau 6 bulan lebih

menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak negatif

terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk pertumbuhan dan

perkembangan (Roesli, 2008).

Universitas Sumatera Utara

27

ASI yang juga merupakan makanan yang sempurna, seimbang, bersih

sehat. Dapat diberikan setiap saat dan mengandung zat kekebalan serta dapat

menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi (Syahartini, 2006).

Namun masih banyak ibu yang tidak memberikan bayinya ASI Eksklusif

dengan faktor penyebab antara lain :

- Produksi ASI yang kurang atau tidak keluar sama sekali,

- Umur; dimana ibu yang berusia muda kurang mengetahui manfaat

ASI Eksklusif,

pemberian

- Penghasilan keluarga; keluarga dengan penghasilan besar menginginkan anak

yang sehat sehingga mereka membeli dan memberikan susu atau makanan lain

kepada bayinya tanpa mereka sadari bahwa ASI dapat mencukupi sampai

berumur 6 bulan,

- Status kesehatan ibu; pikiran kacau dan emosi saat menyusui mengakibatkan bayi

cengeng,

- Kurang persiapan ibu saat menghadapi masa laktasi sehingga ASI tidak keluar

pada masa 1-3 hari setelah melahirkan, sehingga pemberian ASI tidak lancar dan

ibu memilih memberi bayinya susu formula dengan sendirinya ASI Eksklusif

terabaikan (Fatimah, 2007).

c. Makan beranekaragam makanan

Makanan

beragam artinya

makanan

yang

bervariasi

(tidak

monoton).

Variasi berarti susunan hidangan itu berubah dari hari-kehari. Jenis makanan atau

masakan yang tersusun menjadi hidangan juga harus menunjukkan kombinasi,

artinya dalam satu kali hidangan, misalnya makan siang, susunan tersebut terdiri

Universitas Sumatera Utara

28

dari masakan yang berlain-lainan. Untuk mencapai kondisi demikian maka bahan

makanan yang dipergunakan dan juga jenis masakannya atau cara memasaknya

harus selalu beraneka ragam (Sediaoetama, 2006).

Menurut Depkes RI (2007), makan beraneka ragam makanan

adalah

keluarga mengonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah setiap hari.

Susunan

makanan

menurut

Pedoman

Umum

Departemen Kesehatan RI yaitu:

Gizi

Seimbang

(PUGS)

1.

Beragam, apabila dalam setiap kali makan hidangan terdiri dari makanan

pokok + lauk pauk, sayur, buah atau makanan pokok + lauk pauk +sayur

2.

Tidak Beragam, apabila dalam setiap kali makan hanya terdiri dari 2 atau 1

jenis pangan.

d.

Menggunakan garam berjodium dalam makanannya

Garam beryodium baik adalah garam yang mempunyai kandungan yodium

dengan kadar yang cukup (>30 ppm kalium yodat ). Garam beryodium sangat perlu

dikonsumsi

oleh

keluarga

karena

zat

yodium

diperlukan

tubuh

setiap

hari.

Gangguan

akibat

kekurangan

yodium

(GAKY)

menimbulkan

penurunan

kecerdasan pada anak-anak, gangguan pertumbuhan dan pembesaran kelenjar

gondok (Depkes RI, 2005).

Namun

demikian

garam

juga

tidak

dianjurkan

dikonsumsi

secara

berlebihan karena garam mengandung natrium, yang mana kelebihan natrium dapat

memicu timbulnya penyakit tekanan darah tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Tekanan

darah

tinggi

merupakan

pencetus

terjadinya

stroke

yaitu

29

pecahnya

pembulu darah di otak. Stroke merupakan penyebab kematian pada orang dewasa

di atas 40 tahun. Sedangkan penyakit tekanan darah tinggi membawa resiko timbul

penyakit jantung pada orang dewasa. Karena itu konsumsi garam yang dianjurkan

tidak lebih dari 6 gram atau satu sendok setiap harinya ( Depkes RI, 1996).

Untuk mengetahui garam yang digunakan oleh keluarga mengandung

yodium atau tidak secara umum dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melihat ada

tidaknya label garam beryodium atau melakukan test yodina. Disebut baik jika

berlabel dan bila ditest dengan yodina berwaran ungu, tidak baik jika tidak berlabel

dan bila ditest dengan yodina warna tidak berubah (Depkes RI, 2007).

e. Pemberian Kapsul Vitamin A Pada Balita

Telah lama dikenal persenyawaan dengan aktifitas

vitamin A, misalnya

vitamin A1 yang terdapat dalam jaringan mamalia dan ikan laut, vitamin A2 pada

ikan tawar. Vitamin A larut dalam lemak, stabil terhadap suhu yang tinggi dan

tidak dapat diekstraksi oleh air yang dipakai untuk merebus makanan. Akan tetapi

vitamin

makanan

A

dapat dihancurkan oleh pengaruh oksidasi,

cara

secara biasa tidak mempengaruhi keadaan vitamin

memasak

bahan

A. Kekurangan

vitamin A menyebabkan Xerofthalmia, kekurangan tersebut tersebar luas dan

merupakan

penyakit

gangguan

gizi

pada

manusia

yang

sangat

penting.

Di

Indonesia penyakit tersebut merupakan salah satu diantara 4 masalah gizi utama,

prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak dibawah 5 tahun (Pudjiadi, 2000).

Universitas Sumatera Utara

30

Sering kali kebutuhan vitamin A tidak terpenuhi dengan makan sehari-hari.

Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan pemberian vitamin A dosis tinggi 100.000 SI

(kapsul biru) untuk balita umur 6-11 bulan dan vitamin A dosis tinggi 200.000 SI

(kapsul merah) untuk balita umur 12-59 bulan. Pemberian vitamin A dilakukan

setiap bulan Februari dan Agustus dan dapat diperoleh di posyandu maupun di

puskesmas (Depkes RI, 2007).

2.8. Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Sadar Gizi Keluarga

a. Pengetahuan dan Pendidikan Ibu

Pendidikan yang rendah belum tentu kurang mampu menyusun makanan

yang

memenuhi

persyaratan

gizi

dibandingkan

dengan

seseorang

yang

pendidikannya lebih tinggi. Walaupun pendidikan seorang ibu itu rendah akan

tetapi

dia

bisa

mendapatkan

pengetahuan

gizi

dari

luar

formal

seperti

dari

penyuluhan, diskusi, dll. Tetapi memang perlu dipertimbangkan bahwa faktor

tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan

memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh.

b. Pendapatan Keluarga

Keluarga dengan

pendapatan

terbatas

besar

kemungkinan

tidak

dapat

memenuhi kebutuhan makanannya, setidaknya keanekaragaman bahan makanan

kurang bisa dijamin.Banyak sebab yang turut berperan dalam menentukan besar

kecilnya pendapatan keluarga. Pada keluarga dimana hanya ayah yang mencari

nafkah tertentu berbeda dengan besarnya pendapatannya dengan keluarga yang

mengandalkan sumber keuangan dari ayah dan ibu serta pekerjaan sampingan yang

Universitas Sumatera Utara

31

bisa di usahakan sendiri dirumah. Keterbatasan kesempatan kerja yang bisa segera

menghasilkan uang, biasanya untuk pekerjaan diluar usaha tani, juga sangat

mempengaruhi besar kecilnya pendapatan keluarga. Kemampuan keluarga untuk

membeli bahan makanan dalam jumlah yang mencukupi juga amat dipengaruhi

oleh harga bahan makanan. Bahan makanan yang mahal harganya biasanya jarang,

atau bahkan tidak pernah di beli.

Hal ini menyebabkan satu jenis bahan makanan tidak pernah di hidangkan

dalam susunan makanan keluarga. Menghadapi ini ada ibu-ibu rumah tangga yang

menjalankan cara tertentu. Agar bisa mendapatkan bahan makanan yang mahal

dengan harga

lebih murah, biasanya mereka berbelanja setelah pasar mulai sepi.

Hanya saja masih perlu dipertanyakan apakah para ibu tersebut bisa memilih bahan

makanan yang mutu gizinya masih baik. Oleh karena itu tingkat ekonomi keluarga

sangat berpengaruh terhadap kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan

untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarganya (Susidasari,1999).

2.9. Pengertian Status Gizi.

Menurut Supariasa (2002) yang dikutip dari salah satu istilah

pendapat

Idrus dan Kunanto, Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam

bentuk variabel tertentu, atau perwujudan nutriture dalam bentuk variabel tertentu.

Contohnya gondok endemik merupakan keadaan tidak seimbangnya pemasukan

dan pengeluaran yodium dalam tubuh (Supariasa, 2002).

Universitas Sumatera Utara

32

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi yang dibedakan antara gizi buruk, gizi kurang, gizi baik,

dan gizi lebih (Almatsier, 2002).

2.10. Status Gizi Balita.

Status gizi anak yang berumur di bawah lima tahun (balita) merupakan

salah satu indikator yang dapat dipakai untuk menunjukkan tingkat perkembangan

sosial dan ekonomi suatu bangsa. Status gizi anak disamping menunjukkan kualitas

hidup, juga memberikan kesempatan untuk intervensi sehingga akibat lebih buruk

dapat dicegah dan perencanaan lebih baik dapat dilakukan untuk mencegah anak-

anak dari penderitaan yang sama ( Santoso, 2004).

Pada

bayi

dan

anak

balita,

kekurangan

gizi

dapat

mengakibatkan

terganggunya pertumbuhan dan pekembangan fisik, mental dan spritual. Bahkan

pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk

diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi dan balita demikian akan mengakibatkan

rendahnya kualitas sumber daya manusia (Syarief, 2004).

2.10.1 Pengukuran Status Gizi Balita

Status Gizi Balita diukur dengan indeks antropometri BB/U, TB/U, BB/TB.

1. Berat badan menurut umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa

tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,

misalnya

karena

terserang

penyakit

infeksi,

menurunnya

nafsu

makan

atau

Universitas Sumatera Utara

33

menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter

antropometri yang sangat labil.

Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan

antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang

mengikuti pertambahan umur. Sebalikya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2

kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih

lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka

indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran

status gizi. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U

lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini.

2. Tinggi badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi

badan

merupakan

antropometri

yang

menggambarkan

keadaan

pertumbuhan

skletal.

Pada

keadaan

normal,

tinggi

badan

tumbuh

seiring

pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif

kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.

Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang

relatif

lama.

Berdasarkan

karakteristik

tersebut

di

atas,

maka

indeks

ini

menggambarkan status gizi masa lalu (Supariasa, 2002).

3. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam

keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan

tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB adalah merupakan indikator

Universitas Sumatera Utara

34

yang baik untuk menilai status gizi saat kini (sekarang). Indeks BB/TB adalah

merupakan indeks yang independen terhadap umur.

2.11. Kerangka Konsep

Keluarga sadar gizi diukur dengan menggunakan lima indikator yang dapat

mempengaruhi status gizi pada balita. Dapat dilihat pada konsep sebagai berikut:

Keluarga Sadar Gizi

1. Memantau Pertumbuhan balita

2. Memberikan ASI Eksklusif

3. Makan beraneka ragam pada

anggota keluarga

4. Menggunakan garam

berjodium

5. Memberikan suplemen kapsul

vitamin A.

Status Gizi

Balita

Menggunakan garam berjodium 5. Memberikan suplemen kapsul vitamin A. Status Gizi Balita Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara