Anda di halaman 1dari 6

Kadang kita suka mandang fenomena social climbing sebagai hal

yang baru dan cenderung negatif. Tapi secara ilmu sosiologi, social
climbing merupakan salah satu bagian dari mobilitas sosial, yaitu
suatu perubahan, pergeseran, or even peningkatan, penurunan
status atau peran seseorang, dan bisa dialamin sama siapa aja.
Kalo kata para sosiologi, Kimball Young and Raymond W. Mack,
mobilitas adalah suatu gerakan dalam struktur sosial. Struktur
sosial tadi mencakup sifat-sifat hubungan antara satu orang dengan
kelompoknya juga hubungan antara satu orang dengan kelompok
lainnya.

Sementara istilah social climbing sendiri lebih kepada


penggambaran saat adanya peningkatan status atau
kedudukan seseorang. Social climbing termasuk ke dalam
bentuk mobilitas sosial vertikal ke atas karena dalam hal
ini social climbing identik sama peningkatan status seseorang.

Social climbing sendiri punya dua bentuk. Yang pertama adalah


keadaan di mana seseorang yang berstatus sosial rendah naik ke
status sosial yang lebih tinggi. Sementara yang kedua adalah
keadaan di mana terbentuknya kelompok baru yang lebih tinggi dari
lapisan yang udah kebentuk. Hal yang nyebapin ada fenomena ini
pun beragam, di antaranya bisa karena prestasi yang diraih atau
regenerasi posisi yang dimiliki.

Perilaku manusia pada zaman sekarang memiliki beragam gaya dan pola kehidupan yang
berbeda-beda. Tidak jarang perilaku manusia memiliki ketertarikan hidup yang lebih mewah
agar dapat diterima masyarakat luas, baik dalam segi berbicara, cara berperilaku, cara mereka
menempatkan diri dalam suatu kelompok dan cara mereka berkomunikasi.
Jean Baudrillard melihat masyarakat kontemporer atau masyarakat saat ini tidak lagi didominasi
oleh produksi melainkan oleh media, model sibenertika yaitu proses dari sistem yang memiliki
tujuan, sistem pengendali informasi hiburan, industri pengetahuan dan lain sebagainya. Dapat
dikatakan masyarakat telah bergeser dari masyarakat yang lebih mengedepankan kebutuhan
menuju masyarakat yang dikontrol oleh kode Produksi atau apa yang disajikan pada media (
Ritzer, 2009 : 677). Cara lain yang ditempuh Baudrillard, menggambarkan dunia postmodern
bahwa dunia ini ditandai oleh simulasi, ketika pemisahan antara tanda dengan realitas
mengalami implosi, sulit memperkirakan hal yang riil dari menyimulasikan hal-hal riil (Ritzer,
2009:678), yaitu apa yang disajikan itu adalah bukan yang sebenarnya ada
Seiring dengan perubahan zaman dan perkembangannya, kata social climbing memiliki
perubahan makna dan arti dari yang sebenarnya. Karena adanya perubahan makna tersebut, maka
social climbing berubah kata menjadi “social climber”. Social climber memiliki pengertian yang
menyimpang dari arti yang sebenarnya. Tujuan social climber sama seperti social climbing,
sama-sama ingin memiliki pengakuan atau perubahan status sosial dari status sosial yang rendah
menjadi ke status sosial yang lebih tinggi, akan tetapi social climber memiliki cara yang kurang
tepat dalam mendapatkan kedudukan atau pengakuan dari masyarakat, kelompok, maupun
kalangan yang lainnya.
Fenomena

Artikel ini telah tayang di tribunbatam.id dengan judul WASPADA! Bahaya Social
Climber, http://batam.tribunnews.com/2017/05/15/waspada-bahaya-social-climber.
Penulis: Andriani Mona
Editor: Rio Batubara
Social climber belum dinyatakan sebagai penyakit, hanya sebagai fenomena karena
terpengaruh dengan semakin maraknya media sosial yang menampilkan tren foto-
foto gaya hidup glamour. Jika fenomena social climber ini tidak diubah, maka lama
kelamaan akan berdampak pada kejiwaan, akhirnya mengganggu dan menjadi
penyakit kejiwaan.
So guys, hati-hati dengan gaya hidup ya! Jangan demi tampil glamour dan hidup
seperti sosialita, kamu melakukan berbagai cara, termasuk terjerumus pada dunia
prostitusi terselubung atau dunia hitam. Menjadi diri kamu sendiri akan menjadi lebih
baik dalam menjalani hidup ini. (*)
TIPS

Artikel ini telah tayang di tribunbatam.id dengan judul WASPADA! Bahaya Social
Climber, http://batam.tribunnews.com/2017/05/15/waspada-bahaya-social-climber.
Penulis: Andriani Mona
Editor: Rio Batubara

Munculnya media sosial telah memberikan perubahan yang


sangat signifikan pada kehidupan masyarakat. Hanya dalam
genggaman handphone dan tanpa bertatap muka, kini seorang
sudah bisa terhubung dengan orang lain. Sehingga Sekarang
memiliki sebuah media sosial adalah seperti hal yang wajib
bagi masyarakat.

Sayangnya kemunculan media sosial ternyata juga dibarengi


dengan berbagai penyakit sosial yang dulu tidak pernah
ditemui sebelumnya. Salah satunya adalah penyakit sosial
climber. Perilaku yang selalu ingin terlihat kaya ini sudah mulai
menjamur di masyarakat. Bukan main bahayanya dan mungkin
saja kamu menjadi salah satu yang terkena penyakit ini. Berikut
info lengkapnya.
Penyakit Sosial berbahaya
Social Climber sendiri adalah sebuah penyakit sosial yang
punya kemungkinan untuk meruntuhkan moral bangsa. Wujud
dari penyakit ini adalah perasaan ingin terlihat tampil kaya
dimana pun dan kapan pun. Akibatnya, segala hal bakal
dilakukan untuk menjaga status sosialnya di masyarakat. Sejak
kemunculan media social, satu per satu para pengguna media
sosial seolah sudah terjangkit penyakit ini. Misalnya saja saat
nongkrong di sebuah tempat makan atau kafe terkenal, kadang
orang harus mempostingnya terlebih dahulu di akun media
sosial mereka.

Hanya sebuah topeng [image source]Atau


saat orang baru saja membeli
barang mahal atau branded, adalah hal yang wajib untuk
diunggah di media sosial. Bisa dibilang beberapa media sosial
juga ikut andil dalam membentuk mental sosial climber pada
bangsa Indonesia. Tidak jarang para sosial climber ini bisa
memanfaatkan orang lain demi tercapainya keinginannya.
Masalah kesetiaan, nilai mereka nol.
Semua bisa saja terjangkit
Pertanyaannya, siapa saja yang bisa terjangkit? Mungkin kalau
dulu hanya para remaja yang sering terkena penyakit ini.
Namun sekarang data tersebut sudah tidak valid lagi.
Pasalnya, pengguna media sosial sudah dari berbagai
kalangan usia. Bukan hanya remaja, kini para orang tua juga
ikut pamer memposting kegiatan hedonis seperti liburan, beli
barang mewah bahkan beramal.

Tidak lupa posting barang mewah [image source]Hal


itu sebenarnya adalah
hak pribadi, namun jika dilakukan secara terus-menerus maka
bakal membentuk mental yang status sosialnya selalu ingin
diakui. Jadi kesimpulannya semua bisa terjangkit penyakit
sosial ini.

Indikasi dari para Social Climber


Sangat banyak contoh gejala social climber yang mulai tampak
di Indonesia. Selain karena perkembangan zaman, juga
banyak public figur yang ikut andil dalam menyebarkan
fenomena sosial ini. Misalnya banyak sekali bukan, artis atau
tokoh politik Indonesia yang menunjukkan gaya hidup
hedonisnya pada khalayak umum. Membeli barang mewah,
liburan keluar negeri dan kehidupan serba hura-hura adalah
indikasi awal dari seorang sosial climber.

Hidup hedonis para public figur


Padahal meskipun mempunyai barang sebanyak itu, belum
tentu kehidupan mereka sebahagia apa yang orang lain
pikirkan. Yang terpenting bagi seorang sosial climber adalah
statusnya yang bakal dianggap tinggi oleh orang lain. Akhirnya
hal tersebut juga ditiru oleh masyarakat biasa, dengan
mencoba hidup ala seorang hedonis dengan sering
memamerkan apa yang mereka punya.

Dampak dari Social Climber sendiri


Seorang yang memperoleh kekayaan yang dia dapat dengan
kerja keras, jarang sekali menjadi seorang social climber.
Mereka tahu betapa sulitnya mendapatkan kekayaan tersebut,
sehingga lebih memilih untuk berhemat. Sebaliknya, para
orang yang terjangkit penyakit sosial climber ini justru paling
sering pamer dalam menghamburkan uang, pasalnya mereka
mendapatkan uang dengan cara yang sangat mudah atau
mungkin itu adalah uang pemberian orang tua.

kaya sejati, tanpa barang mewah [image source]Hal


tersebutlah yang membuat
miris karena menjadi potret keadaan masa kini. Sayangnya
orang tua pun sekarang juga banyak yang bersifat seperti itu
sekarang, berpamer kegiatan apapun di media sosial
merupakan agenda yang wajib bagi mereka.
Memiliki hidup mewah bukanlah hal yang salah, namun jika
selalu dipamerkan bakal negatif dampaknya. Selain bakal
mempengaruhi orang lain untuk hidup hedonis, juga
berpengaruh pada diri sendiri yang bakal butuh pengakuan
orang lain. Tidak perlu ingin terlihat ‘wah’ di mata orang lain,
cukup jadi diri sendiri saja.