Anda di halaman 1dari 8

Aspek Kepribadian Tokoh

Dalam Cerpen Berakhirnya Ilmu Sihir Yudeo


Karya Setiawan G.Sasongko
Oleh
Angela Netasya
17017056

Pendahuluan

Menurut Sumardjo dan Sumaini, salah satu pengertian sastra adalah seni
bahasa. Maksudnya adalah, lahirnya sebuah karya sastra adalah untuk dapat
dinikmati oleh pembaca. Untuk dapat menikmati suatu karya sastra secara
sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan tentang sastra. Tanpa
pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya sastra hanya bersifat
dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Sebelumnya,
patutlah semua orang tahu apa yang dimaksud dengan karya sastra. Karya sastra
bukanlah ilmu. Karya sastra adalah seni, dimana banyak unsur kemanusiaan yang
masuk di dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode
keilmuan. Perasaan,semangat,kepercayaan,keyakinan sebagai unsur karya sastra
sulit dibuat batasnya.

Karya sastra adalah bentuk ungkapa pribadi manusia yang berupa


pengalaman,pemikiran,perasaan,ide,semangat,keyakinan dalam suatu bentuk
gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan
dilukiskan dalam bentuk tulisan. Jakop Sumardjo dalam bukunya yang berjudul “
Apresiasi Kesusastraan” mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha
merekam isi jiwa sastrawanya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra
adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.

Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra


juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat
sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang
dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak.
Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai
kemanusiaan,mepertahankan,serta menyebarluaskan termasuk kepada anak-anak.
Sebagai sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk
yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami
mereka dengan baik. Sastra anak dan merupakan pembayangan atau pelukisan
kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak
merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra
tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk
anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacaya. (
Puryanto,2008:2)

Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh
anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang
berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak
juga berfungsi sebagai media hiburan, membentuk kepribadian anak, serta
menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat
tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi kreatif,
serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam
sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang
dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacalan atau dideklamasikan, dan
mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan
emosinya (Wahidin,2009).

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karangan prosa yang berisi cerita
sebuah peristwa kehidupan manusia-pelaku/tokoh dalam cerita tersebut. Dalam
karangan tersebut terdapat pula peristiwa lain tetapi peristiwa tersebut tidak
dikembangkan, sehingga kehadirannya hanya sekedar sebagai pendukung
peristiwa pokok agar cerita tampak wajar. Ini berarti cerita hanya
dikonsentrasikan pada suatu peristiwa yang menjadi pokok cerita.

Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang tokoh dan


penokohan dalam cerpen Berakhirnya Ilmu SihirYudeo karangan Setiawan G.
Sasongko. Penokohan merupakan hal yang terpenting dalam karya sastra. Tanpa
adanya penokohan sebuah karya sastra tidak mampu disampaikan dengan baik.
Karena tokoh dan penokohan lah yang bertugas menyampaikan sesuatu pesan atau
peristiwa dalam karya sastra. Dalam cerpen Berakhirnya Ilmu Sihir Yudeo
karangan Setiawan G. Sasongko, tokoh-tokoh digambarkan secara langsung, dan
watak tokoh tersebut digambarkan secara datar tanpa permasalahan psikologis
yang rumit. Dalam cerpen ini penulis mengangkat judul Aspek Kepribadian
Tokoh Yang Tergambar Dalam Cerpen Berakhirnya Ilmu Sihir Yudeo.

Pembahasan

Pada kesempatan ini penulis akan menganalisis unsur instrinsik mengenai


tokoh dan penokohan dalam cerpen Berakhirnya Ilmu Sihir Yudeo karangan
Setiawan G. Sasongko. Dalam cerpen ini terdapat moral yang tidak baik yang di
gambarkan oleh tokoh Yudeo, dalam cerpen ini Yudeo digamabarkan memiliki
sifat yang sok jagoan di depan teman-teman sekolahnya. Diceritakan dalam
cerpen bahwa Yudeo memiliki ilmu sihir yang membuat ia memanfaatkan ilmu
itu untuk menakut-nakuti teman-teman sekolahnya. Yudeo selalu memperagakan
ilmunya dengan cara menggosokan tangannya lalu tangannya mengeluarkan
asap,hal itu tentu membuat teman-temannya kaget,dan ilmu itu dimanfaatkanya
untuk menguras uang jajan teman-temanya. Disini sangat terlihat bahwa Yudeo
sangat tidak pantas untuk ditiru oleh anak-anak lain. Dapat dilihat dalam kutipan
berikut:

“Akhir-akhir ini murid-murid SD Negeri 13 pagi merasa tidak nyaman


karena ada siswa kelas enam yang sok jagoan. Padahal sebelumnya, yang
namanya Yudeo biasa-biasa saja, tidak nakal. Anaknya memang tinggi
besar alias bongsor. Kini Yudeo selalu diikuti anak-anak yang lain,punya
banyak pengawal.” ( Setiawan G. Sasongko, 2011:48)

Terlihat sangat jelas dalam kutipan diatas bahwa Yudeo memanfaatkan


ilmunya itu untuk membuat teman-temannya bisa menjadi bawahannya,dalam arti
kata bisa menjadi anggota geng Yudeo yang bisa diperintahkannya
“Kelakuan ini sudah dilaporkan ke Pak Tanju, tapi nasib pelapor malah
menggenaskan karena makin diancam.“ Macam-macam dengan saya, nanti saya
santet!” ujar Yudeo mengancam Pring yang sudah melaporkan ulahnya”. Pring
anakkelas lima gemeteran. Kini tidak ada lagi yang berani mengadu ke guru,pilih
diam” (Setiawan G. Sasongko, :48)

Sangat jelas terlihat jelas di kutipan diatas bahwa moral anak dapat rusak
dengan sebuah ancaman walaupun itu dari temannya sendiri. Disana juga sangat
terlihat bahwa perilaku Yudeo itu sangat tidak pantas. Hanya dengan ilmu sihir
tidak jelas,ia bisa seenaknya menekan siswa dengan ancaman-
ancamanya.Ancaman yang dilontarkanolehYudeo pun
tidakpantasuntukanakseumuran dia. PerilakuYudeosangatmembuat mental teman-
temanyarusaksehinggamembuatteman-temannya
trauma.Dapatdilihatdalamkutipanberikut:

“Snot tidakkonsentrasi di kelas, berkeringatdingindangelisah.Gejala-


gejalaanehpadaSnot terlihatolehVista.”(Setiawan G. Sasongko,2011:53)

DisanadapatdilihatbahwaYudeotelahmembuat mental
seseorangrusak,sehinggamembuatSnot
tidakkonsentrasibelajarakibatperkataanYudeo yang seolah-olahmengancamSnot
berbuatsesuatu yang iamau. Karena mental ataupsikisanakbisasangatberpengaruh
di lingkungansekitariabermain.AncamanYudeoterhadapSnot
dapatdilihatdalamkutipanberikut:

“Awas, paling lambatbesoklusa!Permintaanmaafmusudahharusdipajang!


Bilatidak, kamutahuakibatnya!”YudeomeronggohsakuSnot,
mengambiluang yang ada” (Setiawan G. Sasongko,2011 :53)

DalamkutipandiatassangatjelasbahwaYudeomemanfaatkanilmunyauntukm
engancam,menekandanmemorotitemansekolahnya.Perilakuanaksepertiinisangat di
sayangkanuntukanak-
anakseumuranmereka.Karenadiusiamerekasangatrentanuntukterjerumuskedalamp
ergaulannegatif,jikadariusiadiniseoranganakbisamelakukankebiasaanburuksepertii
ni,makainiakanberdampakpadausianyadi
dewasananti,iaakanterlenadenganhidupsepertiitu,daniaakanmemanfaatkancarainiu
ntumenghasilkanuangdisaatdiatelahdewasa.

SedangakanSnot mempunyaiwatakbertolakbelakangdenganYudeo, Snot


selaluinginmembuktikankebenaran yang
dilakukanYudeo,karenamenurutSnot,sihir di zamansekarangtidakada,apalagi yang
melakukannyaadalahanakseusianya. Dapatdilihatdalamkutipanberikut:

“Snot tau Yudeosokjagoan,tapiberaninyasamasiswasatusekolahsaja”


sejakkapanYudeojadipreman sekolahan? Belum lama,
sejakdiamenyatakanmendapatilmukesaktiandarikakeknya”(Setiawan G.
Sasongko, 2011:46)

“Palingjugailmupengetahuanalamatauilmupengetahuansosial!!”
balasSnot”(Setiawan G. Sasongko, 2011:47)

DisiniterlihatSnot tidakpercayadenganilmuYudeo,
karenadiatahuYudeohanyaberanidengantemansekolahannyasaja,sedangkandengan
siswadarisekolah lain sajaYudeotidakberanimelawannya.
Karenaituiatidakpercayadenganilmu yang digunakanYudeo.
Tetapidiatidakpunyabuktiuntukmeyakinkanteman-
temanyabahwaYudeoitusamasekalitidakmempunyaiilmu. Bahkansaatteman-
temanSnot berusahameyakinkanSnot, Snot
malahmenjawabbahwailmuygdigunakannyahanyailmupelajaransekolah.

“Snot menggosok-
gosoktelapaktanganlagi,laludengancepatmembukajurus…….kabutkeluardarikedua
telapaktangannya.Sekalilagidilakukanya, terjadihal yangsama. “aha…
inirahasiasihirYudeo!”bukan main senanghatinyamengetahuihalitu” (Setiawan G.
Sasongko, 2011:57)
SecaratidaksengajaSnottahutrik yang
dilakukanolehYudeountukmengelabuiteman-
temanya.semuanyaberawalpadasaatSnot
memakanjerukdanmemainkankulitjerukitu di
telapaktangannya,lalutidaksengajamelihatnenek-
nenekkeberatanmengangkatjerigenminyaktanah, laluSnot
menolongnenekitu,akibatnyatanganyaterkenatumpahanmintaktanahitu,karenamera
sabau,iakembalimemeraskankulitjerukitu di tangannya agar
wangi,padasaatiamengusaptanganya,
VistaterkejutmelihatadagumpalanasapkeluardaritanganSnotdanakhirnyamerekatau
triksulap yang digunakanYudeo.

Moral Snot jugadapatdilihatpadasaatiamenolongNekNorma yang


keberatanmengangkatjerigenminyak,
iadengancekatanmenolongNekNormahinggakerumah,
bahkanmenawarkandiriuntukmengantarkansampaikedapur,
danjugamenawarkandirinyauntukNekNormapanggiljikaadabarang yang
ingindiangkat, dapatdilihatdalamkutipanberikut:

“NekNorma yang
tinggaldibelakangrumahmerekamencegattukangminyakitu.Tetapiketikame
mbawajerigenitu, tampakkepayahan, Snot berlarikejalanmembantunya”

“Biarsayabawakan, nek!Snot mengangkatjerigenminyak,


tangannyaterasabasahkenaminyaktanah.Sampai di
berandarumahNekNorma, diaberhentidanmenaruhjerigen.“
Sayabawasampaidapur? tanyaSnot “ (Setiawan G. Sasongko, 2011:56)

“Nek, jangansungkanmemanggilsayajikaadaperluangkat-angkat!”
(Setiawan G. Sasongko,2011 :57)

DapatdilihatpadakutipandiatasbahwakepribadianSnot
sangatbaikdanpantasuntukditiru.Iaselaluberbuatbaikkepadasemua orang yang
membutuhkanpertolongannya. Dan
menawarkandirinyauntukselalumenolongseseorang.

“BagaimanakubuYudeo?Tentusajakebakaranjenggot,rencanaunjukkeboleh
annyagagal total.Yudeoditinggalkanteman-temannya yang
selamainijadipengawalnya.Dianggapmembohongimereka.Yudeosangatterp
ukul”(Setiawan G. Sasongko,2011 :61)

Dan akhirnya Snot bisamembuktikan didepanteman-


temansekolahnyabahwaYudeotelahberbohongselamaini.
DiamembongkarsemuakedokYudeodengancaramelakukannyasaatYudeohendakm
emamerkanilmunya di depanteman-temanya. Dan itukesempatanSnot
danVistauntukmembukasemuakebusukkan Yudeo.

Penutup

Di novel
inipenulisterlihatmembandingkanduasifatkepribadianseoranganak,yaituYudeodan
Snot,padatulisan diatassangatterlihatjelasbahwaYudeoadalahseoranganak yang
tidakbaikkepribadiannya,iamengelabuitemannyadengancarasulappalsunya,danme
manfaatkanitusemuauntukmenekandanmenindasanak-anak yang
tidakmengikutikemauannya,daniajugamemoroisemuauangsakuteman-temannya.
Sedangkanperbandingananak yang satulagiadalahSnot,dalamtulisan
diatasterlihatpenulismembuatwatakSnot sebagaianak yang baik.Snot
mempunyaiwatak yang tidakpercayasesuatutanpa tahu
kebenarannya.KarenakebaikannyamenolongNekNorma,iabisamembongkarsemua
kebusukanYudeo.Dan padaakhiryaSnot
bisamembuktikankepadatemansekolahnyabahwaYudeotelahmembohongimerekas
emua.

DaftarReferensi

Alwisol. (2005)psikologikepribadian.malang:
penerbituniversitasmuhammadiyahmalang.
SagimunMulusDumadi. (1982) pembentukandanpendidikanwatak.Jakarta
:PradnyaPramita.

SumadiSayabrata. (2005) psikologikepribadian. Jakarta: CV Rajawali.

Bernard, W., Leopold, J (2002) TesAnalisa IQ Dan


KepribadianManusia.Bandung :Pionir Jaya.

Naisaban, L (2003). PsikologiJung :TipeKepribadianManusia Dan


RahasiaSuksesDalamHidup ( TipeKebijaksanaan Jung). Jakarta: PT.
GramediaWidiasarana Indonesia.