Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PANCASILA

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Disusun oleh :

Ari Rinaldi 1620401016


Farid Alvredo 1620401018
Sheila Zahra 1620401011

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA

POLITEKNIK CALTEX RIAU

2019
KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat,
taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
makalah ini untuk memenuhi tugas kewarganegaraan dengan judul Pendidikan
Anti Korupsi dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan yang terdapat
di dalamnya. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat penulis
rapkan demi penyempurnaan makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.

Pekanbaru, 27 Mei 2019

Penulis
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3


BAB I .................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .............................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 5
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 5
BAB II ................................................................................................................. 6
ISI ........................................................................................................................ 6
2.1 Pengertian Korupsi .................................................................................... 6
2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Korupsi ........................................................ 8
2.3. Dampak Masif Terjadinya Korupsi ........................................................ 11
2.4. Korupsi dan Mentalitas Kebudayaan ..................................................... 18
BAB III ............................................................................................................. 23
PENUTUP ......................................................................................................... 23
3.1. Kesimpulan ............................................................................................. 23
3.2 Saran ........................................................................................................ 23
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2014 Indonesia menempati urutan 107 negara paling korupsi
di dunia. Hal ini secara resmi di umumkan ketika hari anti korupsi sedunia yang
jatuh pada tanggal 9 Desember 2014.Pada tahun 2015 peningkatan korupsi di
Indonesia akan di prediksi naik sebesar 7%. Di Indonesia sendiri berdirinya KPK
sebagai badan independen di Indonesia untuk memberantas korupsi di nilai
masih sangat kurang, karena korupsi di Indonesia dari hari hari ke hari sejak di
dirikannya KPK tidak pernah berkurang.

Atas situasi yang seperti ini sudah selayaknya Indonesia mulai


membenahi diri untuk mencegah tindakan korupsi yang semakin merajalela.
Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan melakukan pendidikan
antikorupsi. Pendidikan antikorupsi kini telah banyak dilakukan baik oleh
instansi pemerintahan maupun oleh lembaga pendidikan seperti sekolah dan
perguruan tinggi. Terutama bagi lembaga pendidikan, pendidikan antikorupsi ini
harus sering digalakkan karena pendidikan menjadi modal pembangunan
karakter suatu bangsa.

Dengan pendidikan anti korupsi yang diterapkan di Indonesia, dapat


membantu pencegahan terjadinya internalisasi korupsi di Indonesia, sehingga
korupsi tidak akan menjadi suatu hal yang membudaya yang akhirnya akan
menjadi ciri mentalitas rakyat Indonesia.

Sebenarnya, korupsi itu ada karena situasi dan kondisi lingkungan kerja
yang mendukung. Lalu pertanyaannya disini adalah masih adakah warga negara
Indonesia ini yang masih benar-benar jujur dalam menjalankan tugasnyaa
sehingga korupsi itu tidak akan merajalela seperti sekarang ini? Kita sendiri tidak
bisa berpangku tangan pada KPK yang merupakan lembaga yang secara tegas
dalam Undang-Undang diberi tugas untuk menangani tindakan korupsi di
Indonesia. Dari sinilah, pendidikan anti korupsi sangat dibutuhkan untuk
membekali para calon pemimpin masa depan Indonesia agar menghindari
tindakan korupsi

Pendidikan antikorupsi jangan hanya dibuat wacana saja tetapi


diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan antikorupsi ini,
diharapkan bangsa Indonesia di tahun-tahun yang akan datang akan terbebas
dari tindakan korupsi dan pada akhirnya rakyat Indonesia dapat menjadi makmur
dan sejahtera tanpa korupsi.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa pengertian korupsi ?

b. Apa penyebab terjadinya korupsi ?

c. Apa dampak masif korupsi di Indonesia ?

e. Bagaimana keterkaitan antara korupsi dengan mentalitas kebudayaan ?

1.3 Tujuan

a. Mengidentifikasi pengertian korupsi

b. Mengetahui penyebab – penyebab terjadinya korupsi di Indonesia

c. Mengetahui berbagai dampak korupsi di Indonesia dari berbagai bidang

e.Mengetahui keterkaitan antara korupsi dalam bidang pendidikan


antikorupsi Indonesia dengan mentalitas kebudayaaan.
BAB II

ISI

2.1 Pengertian Korupsi

Kata Korupsi pertama kali disebutkan oleh Lord Acton dalam Dani
Krisnawati dkk., sebagai berikut: “ Power tends to corrupt, and absolute power
corrupts absolutely ”. Yang berarti kekuasaan cenderung untuk Korupsi dan
kekuasaan yang mutlak cenderung korupsi yang mutlak pula. Ungkapan tersebut
dapat jadi pengingat kita bahwa kekuasaan sangat rentan terhadap terjadinya
tindak pedina korupsi dan bisa terjadi di belahan dunia mana pun tanpa mengenal
usia pelakunya.

Korupsi dan koruptor berasal dari bahasa latin corruptus, yakni berubah
dari kondisi yang adil, benar dan jujur menjadi kondisi yang sebaliknya (Azhar,
2003:28). Sedangkan kata corruptio berasal dari kata kerja corrumpere, yang
berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok, orang yang
dirusak, dipikat, atau disuap (Nasir, 2006:281-282).

Korupsi adalah penyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi


(Anwar, 2006:10). Masyarakat pada umumnya menggunakan istilah korupsi
untuk merujuk kepada serangkaian tindakan-tindakan terlarang atau melawan
hukum dalam rangka mendapatkan keuntungan dengan merugikan orang lain.
Hal yang paling mengidentikkan perilaku korupsi bagi masyarakat umum adalah
penekanan pada penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan publik untuk
keuntungan pribadi.

Dalam Kamus Lengkap Oxford (The Oxford Unabridged


Dictionary) korupsi didefinisikan sebagai penyimpangan atau perusakan
integritas dalam pelaksanaan tugas-tugas publik dengan penyuapan atau balas
jasa. Sedangkan pengertian ringkas yang dipergunakan World Bank, korupsi
adalah penyalahgunaan jabatan publik untuk keuntungan pribadi (the abuse of
public office for private gain).

Definisi lengkap korupsi menurut Asian Development Bank


(ADB) adalah korupsi melibatkan perilaku oleh sebagian pegawai sektor publik
dan swasta, dimana mereka dengan tidak pantas dan melawan hukum
memperkaya diri mereka sendiri dan atau orang-orang yang dekat dengan
mereka, atau membujuk orang lain untuk melakukan hal-hal tersebut, dengan
menyalahgunakan jabatan dimana mereka ditempatkan. Dengan melihat
beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa korupsi secara implisit
adalah menyalahgunakan kewenangan, jabatan atau amanah secara melawan
hukum untuk memperoleh keuntungan atau manfaat pribadi dan atau kelompok
tertentu yang dapat merugikan kepentingan umum. Dari beberpa definisi
tersebut juga terdapat beberapa unsur yang melekat pada korupsi. Pertama,
tindakan mengambil, menyembunyikan, menggelapkan harta negara atau
masyarakat. Kedua, melawan norma-norma yang sah dan berlaku. Ketiga,
penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang atau amanah yang ada pada dirinya.
Keempat, demi kepentingan diri sendiri, keluarga, kerabat, korporasi atau
lembaga instansi tertentu. Kelima, merugikan pihak lain, baik masyarakat
maupun negara.

Menurut perspektif hukum, definisi korupsi secara gamblang telah


dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo.UU No. 20
Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan kedalam tiga
puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi yang dapat dikelompokkan; kerugian
keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan,
perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, gratifikasi. Pasal-
pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa
dikenakan pidana penjara karena korupsi (KPK, 2006: 19-20). Dalam UU No.
20 Tahun 2001 terdapat pengertian bahwa korupsi adalah tindakan melawan
hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang
berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Ada sembilan
tindakan kategori korupsi dalam UU tersebut, yaitu: suap, illegal profit, secret
transaction, hadiah, hibah (pemberian), penggelapan, kolusi, nepotisme, dan
penyalahgunaan jabatan dan wewenang serta fasilitas negara.
Menurut Robert Klitgaard, Pengertian Korupsi adalah suatu tingkah laku
yang meyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam negara, dimana untuk
memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi
(perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri), atau melanggar aturan
pelaksanaan yang menyangkut tingkah laku pribadi. Pengertian korupsi yang
diungkapkan oleh Robert yaitu korupsi dilihat dari perspektif administrasi
negara.

Pengertian Korupsi menurut The Lexicon Webster Dictionary, Korupsi


adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak
bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina
atau memfitnah.

Pengertian Korupsi menurut Gunnar Myrdal, korupsi adalah suatu


masalah dalam pemerintahan karena kebiasaan melakukan penyuapan dan
ketidakjujuran membuka jalan membongkar korupsi dan tindakan-tindakan
penghukuman terhadap pelanggar. Tindakan pemberantasan korupsi biasanya
dijadikan pembenar utama terhadap KUP Militer.

Menurut Mubyarto, Pengertian Korupsi adalah suatu masalah politik


lebih dari pada ekonomi yang menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di
mata generasi muda, kaum elite terdidik dan para pegawai pada umumnya.
Akibat yang ditimbulkan dari korupsi ini ialah berkurangnya dukungan pada
pemerintah dari kelompok elite di tingkat provinsi dan kabupaten. Pengertian
korupsi yang diungkapkan Mubyarto yaitu menyoroti korupsi dari segi politik
dan ekonomi.

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Korupsi

 Tidak Menerapkan ajaran Agama

Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, bahkan Indonesia merupakan


negara yang memiliki ragam agama terbanyak, yakni 6 agama. 6 agama
tersebut meliputi : Islam, kristen, katolik, hindu, budha, dan konghuchu.
Tentunya dalam ajaran masing masing agama akan melarang tindak korupsi
dalam bentuk apapun. Kenyataan di lapangan menunjukkan bila korupsi
masih berjalan subur di tengah masyarakat. Situasi paradok ini menandakan
bahwa ajaran agama kurang diterapkan dalam kehidupan.

 Kurang Memiliki Keteladanan Pimpinan

Posisi pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal mempunyai


pengaruh penting bagi bawahannya. Bila pemimpin tidak bisa memberi
keteladanan yang baik di hadapan bawahannya, misalnya berbuat korupsi,
maka kemungkinan besar bawahnya akan mengambil kesempatan yang sama
dengan atasannya. Setiap perilaku perilaku atasan akan dicontoh oleh
bawahannya. Pemimpin yang baik akan menjadikan rakyat yang baik juga,
begitu juga sebaliknya.

 Manajemen Cendrung Menutupi Korupsi di Organisasi

Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang


dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi, ini yang membuat para
oknum korupsi merasa aman karna terlindunggi. Akibat sifat tertutup ini
pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk.

 Aspek peraturan perundang-undangan

Korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan


perundang-undangan kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan
yang kurang disosialisasikan, sangsi yang terlalu ringan, penerapan sangsi
yang tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan
revisi peraturan perundang-undangan. Pada intinya peraturan perundang –
undangan yang tidak nyata pada lapangan.
 Aspek Individu Pelaku

Sifat Tamak Manusia Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan karena


orangnya miskin atau penghasilan tak cukup. Kemungkinan orang tersebut
sudah cukup kaya, tetapi masih punya hasrat besar untuk memperkaya diri.
Unsur penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang dari dalam diri
sendiri, yaitu sifat tamak dan rakus. Faktor utama penyebab sifat manusia
yang demikian adalah kurangnya rasa bersyukur. Manusia yang kurang
bersyukur akan selalu merasa kurang terhadap apa yang ia miliki.

 Moral yang Kurang Kuat

Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk


melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat,
bawahanya, atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk berniatan
korupsi. Pembentukan moral yang tidak sempurna dari keluarga bisa menjadi
faktor utama dalam hal ini.

 Kebutuhan Hidup yang Mendesak

Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi


terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang bagi
seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan
korupsi. Misalnya kurang dalam hal ekonomi, sedangkan ia harus tetap
membiaya kehidupan keluarga, sehingga muncul niatan untuk melakukan
korupsi demi menafkahi keluarga.

 Gaya Hidup yang Konsumtif

Kehidupan di kota-kota besar seringkali mendorong gaya hidup seseorang


konsumtif. Perilaku konsumtif semacam ini bila tidak diimbangi dengan
pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk
melakukan tindakan korupsi untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi
dan lagi sebagai bentuk pemenuhan keinginan.
 Malas atau Tidak Mau Bekerja

Banyak orang yang ingin mendapat penghasilan banyak namun mereka tidak
mau berusaha dengan cara yang susah, tidak ingin banyak mengeluarkan
keringan, ini merupakan contoh orang malas dan tidak mau bekerja. Sifat
semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara
mudah dan cepat, diantaranya melakukan korupsi.

2.3. Dampak Masif Terjadinya Korupsi

Beberapa tahun terakhir, sejumlah studi komprehensif mengenai


berbagai dampak korupsi terhadap variabel-variabel ekonomi secara ekstensif
telah dilakukan. Usaha rintisan telah dimulai oleh Mauro (1995) yang
menegaskan bahwa korupsi memperlemah investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya, kajian Tanzi dan Davoodi (1997) yang lebih elaboratif melaporkan
bahwa korupsi mengakibatkan penurunan tingkat produktivitas yang dapat
diukur melalui berbagai indikator fisik, seperti kualitas jalan raya.

Namun ternyata korupsi tidak hanya berdampak dalam satu aspek


kehidupan saja seperti diterangkan dalam penelitian-penelitian. Korupsi telah
menimbulkan efek domino yang meluas terhadap eksistensi bangsa dan
negara. Meluasnya praktik korupsi di suatu negara akan memperburuk kondisi
ekonomi bangsa, harga barang-barang menjadi mahal dengan kualitas yang
buruk, akses rakyat terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi sulit, keamanan
suatu negara terancam, citra pemerintahan yang buruk di mata internasional akan
menggoyahkan sendi-sendi kepercayaan pemilik modal asing, krisis ekonomi
menjadi berkepanjangan, negara pun menjadi semakin terperosok dalam
kemiskinan.

Indonesia sendiri, berdasarkan Laporan Bank Dunia, dikategorikan


sebagai negara yang utangnya parah, berpenghasilan rendah, dan termasuk
dalam kategori negara-negara termiskin di dunia seperti Mali dan
Ethiopia. Berbagai dampak masif korupsi telah merongrong berbagai aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara seperti diuraikan dalam poin-poin berikut
ini.
Dampak Korupsi terhadap Ekonomi

The price of corruption is poverty. –David Peck

Korupsi memiliki berbagai efek penghancuran yang hebat (an enermous


destruction effects) terhadap orang miskin, dengan dua dampak yang saling
bertaut satu sama lain. Pertama, dampak langsung yang dirasakan oleh orang
miskin yakni semakin mahalnya harga jasa berbagai pelayanan publik,
rendahnya kualitas pelayanan, dan juga sering terjadinya pembatasan akses
terhadap berbagai pelayanan vital seperti air, kesehatan, dan pendidikan. Kedua,
dampak tidak langsung terhadap orang miskin yakni pengalihan sumber daya
milik publik untuk kepentingan pribadi dan kelompok, yang seharusnya
diperuntukkan guna kemajuan sektor sosial dan orang miskin, melalui
pembatasan pembangunan. Dampak yang tidak langsung ini umumnya
memiliki pengaruh atas langgengnya sebuah kemiskinan.

Secara sederhana penduduk miskin di wilayah Indonesia dapat dikategori


dalam dua hal yaitu :

1. Kemiskinan kronis (chronic poverty) atau kemiskinan struktural yang


bersifat terus menerus;

2. Kemiskinan sementara (transient poverty), yaitu kemiskinan yang


indikasinya adalah menurunnya pendapatan (income) masyarakat untuk
sementara waktu akibat perubahan yang terjadi, semisal terjadinya krisis
moneter.

Mengingat adanya kemiskinan struktural, maka adalah naif jika kita


beranggapan bahwa virus kemiskinan yang menjangkit di tubuh masyarakat
adalah buah dari budaya malas dan etos kerja yang rendah (culture of poverty).
William Ryan, seorang sosiolog ahli kemiskinan, menyatakan bahwa
kemiskinan bukanlah akibat dari berkurangnya semangat wiraswasta, tidak
memiliki hasrat berprestasi, fatalis. Pendekatan ini dapat disebut
sebagai blaming the victim (menyalahkan korban).
Pada tahun 2000-2001, the Partnership for Governanve Reform in
Indonesia and the World Bank telah melaksanakan proyek “Corruption and the
Porr”. Proyek ini memotret wilayah permukiman kumuh di Makassar,
Yogyakarta, dan Jakarta. Tujuannya ingin menjelaskan bagaimana korupsi
mempengaruhi kemiskinan kota. Dengan mengaplikasikan suatu metode the
Participatory Corruption assessment (PCA), di setiap lokasi penelitian, tim
proyek melakukan diskusi bersama 30-40 orang miskin mengenai pengalaman
mereka bersentuhan dengan korupsi. Kegiatan ini juga diikuti dengan
wawancara perseorangan secara mendalam untuk mengetahui dimana dan
bagaimana korupsi memiliki pengaruh atas diri mereka.

Sebuah wawasan dan pemahaman yang holistik tentang pengaruh korupsi


terhadap kehidupan sosial orang miskin pun didapat. Para partisipan program
PCA ini mengidentifikasi empat risiko tinggi korupsi, yakni :

1. Ongkos finansial (financial cost). Korupsi telah menggerogoti budget ketat


yang tersedia dan meletakkan beban yang lebih berat ke pundak orang
miskin dibandingkan dengan si kaya.

2. Modal manusia (human capital). Korupsi merintangi akses pada efektivitas


jasa pelayanan sosial termasuk sekolah, pelayanan kesehatan, skema subsidi
makanan, pengumpulan sampah, yang kesemuanya berpengaruh pada
kesehatan orang miskin dan keahliannya.

3. Kehancuran moral (moral decay). Korupsi merupakan pengingkaran dan


pelanggaran atas hukum yang berlaku (the rule law) untuk meneguhkan
suatu budaya korupsi (culture of corruption)

4. Hancurnya modal sosial (loss of social capital). Korupsi mengikis


kepercayaan dan memberangus hubungan serta memporakporandakan
kohesifitas komunitas.
Dampak Sosial

Korupsi, tidak diragukan, menyuburkan berbagai jenis kejahatan dalam


masyarakat. Menurut Alatas, melalui praktik korupsi, sindikat kejahatan atau
penjahat perseorangan dapat leluasa melanggar hukum, menyusupi berbagai
oraganisasi negara dan mencapai kehormatan. Di India, para penyelundup yang
populer sukses menyusup ke dalam tubuh partai dan memangku jabatan penting.
Bahkan, di Amerika Serikat, melalui suap, polisi korup menyediakan proteksi
kepada organisasi-organisasi kejahatan dengan pemerintahan yang
korup. Semakin tinggi tingkat korupsi, semakin besar pula kejahatan.

Menurut Transparensy International, terdapat pertalian erat antara


jumlah korupsi dan jumlah kejahatan. Rasionalnya, ketika angka korupsi
meningkat, maka angka kejahatan yang terjadi juga meningkat. Sebaliknya,
ketika angka korupsi berhasil dikurangi, maka kepercayaan masyarakat terhadap
penegakan hukum (law enforcement) juga meningkat. Jadi bisa dikatakan,
mengurangi korupsi dapat juga (secara tidak langsung) mengurangi kejahatan
lain dalam masyarakat.

Soerjono Soekanto menyatakan bahwa penegakan hukum di suatu negara


selain tergantung dari hukum itu sendiri, profesionalisme aparat, sarana dan
prasarana, juga tergantung pada kesadaran hukum masyarakat. Memang secara
ideal, angka kejahatan akan berkurang jika timbul kesadaran masyarakat
(marginal detterence). Kondisi ini hanya terwujud jika tingkat kesadaran hukum
dan kesejahteraan masyarakat sudah memadai.

Dampak terhadap Demokrasi

Negara kita sering disebut bureaucratic polity. Birokrasi pemerintah


merupakan sebuah kekuatan besar yang sangat berpengaruh terhadap sendi-
sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, birokrasi pemerintah
juga merupakan garda depan yang berhubungan dengan pelayanan umum
kepada masyarakat. Namun di sisi lain, birokrasi sebagai pelaku roda
pemerintahan merupakan kelompok yang rentan terhadap jerat korupsi.
Korupsi melemahkan birokrasi sebagai tulang punggung negara. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa birokrasi di tanah air seolah menjunjung tinggi
pameo “jika bisa dibuat sulit, mengapa harus dipermudah”. Semakin tidak
efisien birokrasi bekerja, semakin besar pembiayaan tidak sah atas institusi
negara ini. Sikap masa bodoh birokrat pun akan melahirkan berbagai masalah
yang tidak terhitung banyaknya. Singkatnya, korupsi menumbuhkan
ketidakefisienan yang menyeluruh di dalam birokrasi.

Korupsi dalam birokrasi dapat dikategorikan dalam dua kecenderungan


umum : yang menjangkiti masyarakat dan yang dilakukan di kalangan mereka
sendiri. Korupsi tidak saja terbatas pada transaksi yang korup yang dilakukan
dengan sengaja oleh dua pihak atau lebih, melainkan juga meliputi berbagai
akibat dari perilaku yang korup, homo venalis.

Transparency International (TI), sebagai lembaga internasional yang


bergerak dalam upaya antikorupsi, membagi kegiatan korupsi di sektor publik
ke dalam dua jenis, yaitu :

1. Korupsi Administratif. Secara administratif, korupsi bisa dilakukan “sesuai


dengan hukum”, yaitu meminta imbalan atas pekerjaan yang seharusnya
memang dilakukan, serta korupsi yang “bertentangan dengan hukum” yaitu
meminta imbalan uang untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya dilarang
untuk dilakukan. Di tanah air, jenis korupsi administratif berwujud uang
pelicin dalam mengurus berbagai surat-surat, seperti Kartu Tanda Penduduk
(KTP), Surat Ijin Mengemudi (SIM), akte lahir, dan paspor agar prosesnya
lebih cepat. Padahal, seharusnya tanpa uang pelicin surat-surat ini memang
harus diproses dengan cepat.

2. Korupsi Politik. Jenis korupsi politik muncul dalam bentuk “uang


damai”. Misalnya, uang yang diberikan dalam kasus pelanggaran lalu lintas
agar si pelanggar tidak perlu ke pengadilan.

Manajemen kerja birokrasi yang efisien sungguh merupakan barang yang


langka di tanah air. Menurut HS. Dillon, birokrasi hanya dapat digerakkan oleh
politikus yang berkeahlian dalam bidangnya. Bukan sekedar pejabat yang
direkrut dari kalangan profesi atau akademikus tanpa pengalaman dan
pemahaman tentang kerumitan birokrasi.

Dampak terhadap Fungsi Pemerintahan

Korupsi, tidak diragukan, menciptakan dampak negatif terhadap kinerja


suatu sistem politik atau pemerintahan. Pertama, korupsi mengganggu kinerja
sistem politik yang berlaku. Pada dasarnya, isu korupsi lebih sering bersifat
personal. Namun, dalam manifestasinya yang lebih luas, dampak korupsi tidak
saja bersifat personal, melainkan juga dapat mencoreng kredibilitas organisasi
tempat si koruptor bekerja. Pada tataran tertentu, imbasnya dapat bersifat sosial.
Korupsi yang berdampak sosial sering bersifat samar, dibandingkan dengan
dampak korupsi terhadap organisasi yang lebih nyata.Kedua, publik cenderung
meragukan citra dan kredibilitas suatu lembaga yang diduga terkait dengan
tindak korupsi.Ketiga, lembaga politik diperalat untuk menopang terwujudnya
berbagai kepentingan pribadi dan kelompok. Ini mengandung arti bahwa
lembaga politik telah dikorupsi untuk kepentingan yang sempit (vested interest).
Sering terdengar tuduhan umum dari kalangan anti-neoliberalis bahwa lembaga
multinasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), IF, dan Bank Dunia
adalah perpanjangan kepentingan kaum kapitalis dan para hegemoni global yang
ingin mencaplok politik dunia di satu tangan raksasa. Tuduhan seperti ini sangat
mungkin menimpa pejabat publik yang memperalat suatu lembaga politik untuk
kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dalam kasus seperti ini, kehadiran
masyarkat sipil yang berdaya dan supremasi hukum yang kuat dapat
meminimalisir terjadinya praktik korupsi yang merajalela di masyarakat.

Sementara itu, dampak korupsi yang menghambat berjalannya fungsi


pemerintah, sebagai pengampu kebijakan negara, dapat dijelaskan sebagai
berikut :

1. Korupsi menghambat peran negara dalam pengaturan alokasi.

2. Korupsi menghambat negara melakukan pemerataan akses dan asset

3. Korupsi juga memperlemah peran pemerintah dalam menjaga stabilitas


ekonomi dan politik.
Dengan demikian, suatu pemerintahan yang terlanda wabah korupsi akan
mengabaikan tuntutan pemerintahan yang layak. Menurut Wang An Shih,
koruptor sering mengabaikan kewajibannya oleh karena perhatiannya tergerus
untuk kegiatan korupsi semata-mata. Hal ini dapat mencapai titik yang membuat
orang tersebut kehilangan sensitifitasnya dan akhirnya menimbulkan bencana
bagi rakyat.

Dampak terhadap Akhlak dan Moral

Korupsi yang merajalela di lingkungan pemerintah akan menurunkan


kredibilitas pemerintah yang berkuasa. Ia meruntuhkan kepercayaan masyarakat
terhadap berbagai tindakan pemerintah. Jika suatu pemerintah tidak lagi mampu
memberi pelayanan terbaik bagi warganya, maka rasa hormat rakyat dengan
sendirinya akan luntur. Jika pemerintahan justru memakmurkan praktik korupsi,
maka lenyap pula unsur hormat dan trust (kepercayaan) masyarakat kepada
pemerintahan.

Karenanya, praktik korupsi yang kronis menimbulkan demoralisasi di


kalangan masyarakat. Korupsi yang menjangkiti kalangan elit turut memaksa
masyarakat menganut berbagai praktik di bawah meja demi mempertahankan
diri. Mereka pun terpaksa melakukan korupsi agar mendapat bagian yang wajar,
bukan untuk mencapai berbagai keuntungan luar biasa. Inilah lingkaran setan
yang klasik. Singkatnya, demoralisasi terhadap perilaku koruptif kalangan elit
pemerintah, juga sering menyuburkan perilaku koruptif di kalangan masyarakat.

Aspek demoralisasi juga mempengaruhi lembaga internasional dalam


menetapkan kebijakan untuk membantu negara-negara berkembang. Lembaga
internasional menolak membantu negara-negara yang korup. Sementara pada
gradasi tertentu, praktik korupsi akan memunculkan antipati dan mendorong
sumber-sumber resistensi yang luar biasa di kalangan warga
masyarakat. Akibatnya kemudian adalah terjadinya delegitimasi aparat dan
lembaga pemerintahan, oleh karena mereka dianggap warga masyarakat tidak
kredibel. Menurut Sun Yan Said, korupsi menimbulkan demoralisasi, keresahan
sosial, dan keterasingan politik.
2.4. Korupsi dan Mentalitas Kebudayaan

Korupsi berasal dari kata corrupti(Latin) yang berarti busuk, rusak atau
dalam bentuk kata kerja corrumpere yang berarti menggoyahkan,
memutarbalik, menyogok. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi
secara garis besar mencakup unsur-unsur perbuatan melawan hokum,
penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri
orang lain atau korporasi, merugikan keuangan negara atau perekonomian
Negara, penggelapan dalam jabatan, dan pemerasan dalam jabatan.

Fenomena korupsi telah menjadi persoalan yang berkepanjangan di


negara Indonesia. Bahkan negara kita memiliki rating yang tinggi di antara
negara-negara lain dalam hal tindakan korupsi. Perilaku korupsi di Indonesia
dalam sejarahnya sudah menjadi kebiasaan (budaya) yang sulit untuk diberantas,
karena banyaknya permasalahan-permasalahan diberbagai aspek yang
mendukung terjadinya korupsi. Kompleksitas korupsi ini seolah-olah tidak
menjadi permasalahan prioritas yang harus diselesaikan secara bersama-sama
namun lebih kepada korupsi dijadikan alat bagi penguasa yang mempunyai
wewenang dan otoritas untuk memberikan kesempatan serta peluang untuk
dirinya sendiri dan kelompoknya (partai).

Budaya korupsi akan menjadi cermin dari kepribadian bangsa yang


bobrok dan sungguh membuat negara ini miskin karena kekayaan-kekayaan
negara dicuri untuk kepentingan segelintir orang tanpa memperdulikan bahwa
dengan tindakannya akan membuat sengsara berjuta-juta rakyat ini.

Korupsi yang telah terjadi di Indonesia berlangsung sejak masa


pemerintahan Soeharto atau bahkan pada masa pemerintahan Soekarno.
Sekarang korupsi tidak berkurang meskipun sebuah generasi baru
muncul(reformasi) bahkan korupsi di era refomasi semakin besar. Boleh
dikatakan korupsi merupakan warisan kebudayaan orde baru yang terus melekat
dalam generasi reformasi sekarang ini.

Keinginan untuk memeroleh kehidupan pribadi seorang koruptor dengan


menjalankan tindakan korupsi merupakan sebuah unsur budaya yang kurang
sehat. Sebab pada dasarnya perilaku korupsi bisa menghancurkan masyarakat
baik secara ekonomi, politik, sosial maupun budayanya. Negara Indonesia
mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, moralitas para politisi yang
kurang baik dan lain-lain.

Korupsi sebagai Budaya?

Franz Magnis-Suseno mengemukakan hubungan antara korupsi dan


nilai-nilai kebudayaan. Korupsi dapat dicari penyebabnya dalam nilai-nilai
budaya tradisonal yang berkembang di masyarakat atau negara itu. Selanjutnya
dia memberikan dua nilai budaya yang menunjang terjadinya korupsi yaitu
personalistik dan rasa kekeluargaan, dan pengaruh feodalisme. Nilai
personalistik dan feodalisme tertanam kuat dalam kebudayaan masyarakat
tertentu maka konsekuensinya korupsi yang ada dalam masyarakat itu akan
tertanam kuat juga dan sulit untuk dihilangkan. Nilai kekeluargaan dan
kekerabatan yang menjadi nilai yang sungguh kental dalam masyarakat
Indonesia. Rasa kekeluargaan yang tinggi melahirkan perilaku korupsi di
Indonesia seperti perilaku Soeharto dan keluarganya. Meskipun pada akhirnya
Magnis-Suseno juga membantah pendapatnya sendiri bahwa pengembalian
korupsi pada nilai-nilai budaya korupsi merupakan sebuah bentuk rasionalisasi.
Sebab korupsi juga terjadi di zaman modern ini(nilai-nilai modern telah
berkembang). Namun Ia menganggap nilai-nilai tradisional hanya menentukan
bentuk dan pola dari korupsi itu.

Kebudayaan juga bercirikan turun-temurun dari satu generasi ke


generasi(pengertian kebudayaan bagian keempat di atas). Kebudayaan adalah
hasil bersama yang melibatkan banyak generasi sebagai pendukung dan
pengembangnya. Korupsi yang telah terjadi di Indonesia berlangsung sejak masa
pemerintahan Soeharto atau bahkan pada masa pemerintahan Soekarno.
Sekarang korupsi tidak berkurang meskipun sebuah generasi baru
muncul(reformasi) bahkan korupsi di era refomasi semakin besar. Boleh
dikatakan korupsi merupakan warisan kebudayaan orde baru yang terus melekat
dalam generasi reformasi sekarang ini. Soejanto Poespowardojo mengatakan
bentuk-bentuk kebudayaan memiliki nilai relatif bukan hanya mengandung hal-
hal yang sehat dan membangun hidup manusia tetapi juga mengandung unsur-
unsur yang menghambat dan bahkan menghancurkan kehidupan masyarakat
itu. Keinginan untuk memeroleh kehidupan pribadi seorang koruptor dengan
menjalankan tindakan korupsi merupakan sebuah unsur budaya yang kurang
sehat. Sebab pada dasarnya perilaku korupsi bisa menghancurkan masyarakat
baik secara ekonomi, politik, sosial maupun budayanya. Negara Indonesia
mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, moralitas para politisi yang
kurang baik dan lain-lain.

Selain itu kebudayaan juga memiliki nilai yang tidak dibatasi oleh ruang
dan waktu. Misalnya sebuah barang peninggalan budaya masa lampau akan tetap
terpelihara dalam masyarakat sekarang ini jika nilai kebudayaan itu menunjang
kehidupan mereka. Korupsi didasarkan pada sebuah mentalitas untuk
memeroleh kekayaan yang berlimpah dengan mudah dan dalam waktu yang
cepat. Mentalitas instan seperti ini merupakan produk dari kebudayaan modern.
Manusia memeroleh segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Boleh dikatakan
bahwa korupsi merupakan sebuah produk dari kebudayaan modern.

Namun jika kita melihat pengertian kebudayaan dalam


pemahaman filosofis sangat berbeda. Soejanto Poespowardojo
mengatakan kebudayaan pada hakikatnya adalah humanisasi yaitu proses
peningkatan hidup yang lebih baik dalam lingkungan masyarakat yang
manusiawi. Oleh karena itu nilai-nilai manusiawi menjadi dasar dan ukuran
untuk langkah-langkah perkembangan dan pembangungan.Jika pemahaman
filosofis ini membedah perilaku korupsi sebagai sebuah budaya tidak akan
menemukan benang merah yang jelas dan pasti. Korupsi merupakan sebuah
perilaku yang melanggar tatanan nilai yang ada dalam masyarakat misalnya nilai
kejujuran, keadilan, kebaikan, kedamaian dan lain-lain. Nilai kejujuran yang
telah berkembang dalam masyarakat bangsa Indonesia telah digantikan oleh
sikap baru yaitu berbohong dan lain-lain. Nilai keadilan yang juteru menjadi
salah satu dasar dari kelima sila Pancasila telah digantikan sikap baru
yaitu mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu dan
mengabaikan kepentingan umum. Sikap-sikap ketidakjujuran, egoistik adalah
sebuah tindakan yang telah menghancurkan nilai-nilai kebudayaan nasional
bangsa Indonesia.

Namun jika kita menelisik motif dari perilaku korupsi maka akan
menemukan hubungannya meskipun secara tidak langsung. Korupsi pada
dasarnya sebuah tindakan kriminal baik terhadap hukum maupun terhadap nilai
yang ada dalam masyarakat. Sedangkan kebudayaan adalah sebuah nilai etis
untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik. Dengan demikian
tindakan korupsi dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat bertolak
belakang. Pada umumnya setiap orang yang melakukan korupsi
dilatarbelakangi oleh keinginan personal atau kelompok tertentu untuk
memeroleh bahagiaan(Bandingkan dengan pengertian dan motif korupsi di
atas). Kebahagiaan yang merupakan nilai diperjuangkan dan dicita-citakan oleh
setiap orang agar ia memeroleh hidup yang layak sebagai seorang manusia.
Maka korupsi merupakan instrumen untuk mengejar nilai kebahagiaan itu.
Keinginan untuk melakukan korupsi salah satu sarana untuk
merealisasikan cita-cita kebahagiaan hidupnya meskipun jalan yang ditempuh
justru melanggar norma atau nilai yang ada dalam masyarakat itu. Jika kita
menyimak motif korupsi ini maka kita akan menemukan unsur-unsur
kebudayaan itu sendiri. Unsur-unsur itu adalah nilai kebahagiaan yang justeru
melekat dalam diri manusia itu sendiri dan adanya usaha untuk merealisasikan
cita-cita kebahagiaan hidup.

Korupsi juga telah melanggar etika politik itu sendiri. Etika politik
merupakan salah satu segi nilai kebudayaan yang patut dikembangkan dalam
sebuah negara. Jika para pejabat negara tidak mampu mencitptakan sebuah
kebudayaan politik yang baik maka kebudayaan politik akan menjadi rusak.
Sebuah cita-cita politik yang etis harus mampu menciptakan sebuah masyarakat
yang sejahtera. Kesejahteraan bukan hanya monopoli orang-orang tertentu,
kelompok atau etnis tertentu tetapi seluruh rakyat. Korupsi sebagai salah satu
bentuk penyelewengan terhadap cita-cita sebuah masyarakat yang sejahtera dan
merata. Sebab korupsi menciptakan penumpukkan kekayaan pada pribadi,
kelompok tertentu. Hanya pihak-pihak atau orang tertentulah yang mampu
menikmati kelimpahan kekayaan.

Selain itu mentalitas korupsi yang mendarah daging bukanlah sifat hakiki
yang ada dalam manusia. Mentalitas korupsi pada dasarnya tercipta oleh
mentalitas modern seperti budaya konsumtif, easy going, tidak mau bekerja
keras dan lain-lain. Sebagai sebuah mentalitas yang ditambahkan korupsi bisa
dihilangkan dengan mengembangkan sebuah budaya tandingan seperti nilai-
nilai agama. Setiap agama pasti mengembangkan nilai-nilai kerja keras,
tanggung jawab, rasa bersalah dan lain-lain. Setiap orang harus mengusahakan
nilai kerja keras untuk memeroleh kebahagiaan. Setiap orang akan merasa
bahagia jika ia bisa menikmati hasil jerih payah yang merupakan buah dari kerja
kerasnya sendiri.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pendidikan anti korupsi adalah hal yang sangat penting dan di butuhkan
di Indonesia saat ini, karena dengan pendidikan anti korupsi dapat membantu
Indonesia untuk mengurangi kasus korupsi di Indonesia dengan cara
pencegahan. Dengan adanya pendidikan anti korupsi ini juga mencegah
munculnya kebudayaan korupsi di Indonesia. Yang mana telah kita sadari bahwa
korupsi sudah menjadi tradisi di Indonesia. Jika pendidikan anti korupsi ini
dilaksanakan dengan baik dan benar maka korupsi tidak akan menjadi mentalitas
kebudayaan rakyat Indonesia.

3.2 Saran

1. Menerapkan Pendidikan Anti Korupsi sejak usia dini.

2. Mengendalikan diri untuk menjauhi sifat sifat korupsi seperti mencotek


ketika ujian, terlambat datang ujian,dll

3. Seharusnya pemerintah memberikan hukuman yang tegas kepada para


koruptor agar mereka merasa jera dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.

4. Setiap individu harus menyadari bahwa korupsi adalah hal yang tercela dan
merugikan banyak pihak maupun diri sendiri.

5. Seluruh elemen masyarakat saling bekerja sama untuk memerantas korupsi.