Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI.......................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................4
1.1Latar Belakang ............................................................................................... 4
1.2 Batasan Masalah............................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 4
1.4 Metode Penulisan .......................................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 6
2.1 Anatomi Vitreus ........................................................................................... 6
2.2 Defenisi ......................................................................................................... 7
2.3 Epidemiologi ............... ................................................................................. 7
2.4 Etiologi ......................................................................................................... 8
2.5 Manifestasi Klinis......................................................................................... 11
2.6 Diagnosis ...................................................................................................... 12
2.7 Tatalaksana ................................................................................................... 13
2.8 Komplikasi ................................................................................................... 14
2.9 Prognosis ...................................................................................................... 14
BAB 3 KESIMPULAN ........................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

3
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perdarahan vitreus merupakan perdarahan pada vitreus yang dapat menyebabkan
kekeruhan karena kerusakan pembuluh darah iris, korpus siliaris, retina, atau koroid dan bisa
juga karena robekan retina. Perdarahan vitreus akan menghalangi cahaya menuju retina
sehingga sinar yang datang tidak dapat ditangkap dengan baik oleh retina. Perdarahan vitreus
dapat disebabkan karena perdarahan spontan, trauma, peradangan, kelainan vaskular,
penyakit metabolik, kelainan perdarahan, dan keganasan.1
Kejadian perdarahan vitreus 7:100.000 kasus dan disebabkan oleh satu atau lebih
robekan retina. Penyebab perdarahan vitreus pada dewasa yang paling sering karena
retinopati diabetik proliferatif 31-54% kejadian di Amerika Serikat, 6% di London dan 19,1%
di Swedia. Penyebab lain dari perdarahan vitreus yaitu oklusi pembuluh darah 4-16%,
robekan retina atau neovaskularisasi retina 11-44%, atau dapat disebabkan oleh trauma 12-
19%. Dalam sebuah penelitian dengan 230 sampel penelitian didapatkan penyebab
perdarahan vitreus terdiri dari retinopati diabetik proliferatif 35,2%, trauma 18,3%, oklusi
pembuluh darah 7,4%, robekan retina tanpa penekanan 7%, penekanan pada vitreus posterior
6,5%, proliferasi retinopati 5,7%, robekan retina dengan penekanan 4,8%, neovaskularisasi
2,2%, dan hipertensi retinopati 1,7%.1,5
Tatalaksana pada perdarahan vitreus sesuai dengan etiologi penyebabnya. Waktu yang
cepat dalam penanganan perdarahan vitreus menentukan prognosis dan komplikasi yang akan
terjadi. Semakin cepat perdarahan vitreus dibersihkan, semakin kecil kemungkinan kerusakan
anatomi dan fisiologi dari vitreus posterior dan retina sehingga semakin cepat melihat etiologi
perdarahan atau robekan dari retina.

1.2 Batasan Masalah


Case Report Session ini membahas tentang anatomi dan fisiologi vitreus,
epidemiologi, etiologi, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis perdarahan vitreus.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan Case Report Session adalah untuk menambah wawasan
tentang etiologi perdarahan vitreus.

4
1.4 Metode Penulisan
Melalui Case Report Session ini diharapkan dapat memberikan informasi dan
pengetahuan etiologi perdarahan vitreus kepada pembaca dan tentu penulis juga akan
memahami aspek klinis dari perdarahn vitreus tersebut.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Vitreus
Korpus vitreus didefinisikan sebagai membran yang membatasi internal retina di
bagian posterolateral, bagian anterolateral membatasi epitel tak berpigmentasi dari korpus
siliare, dan kapsul lensa posterior dan anterior serat zonular lensa. Ruang ini merupakan 80
persen dari mata dan memiliki volume sekitar 4 ml. Vitreus melekat erat di retina pada tiga
tempat, lapisan terkuat adalah anterior di dasar vitreus, diikuti oleh papil saraf optik dan
pembuluh darah retina.1
Vitreus memiliki sifat seperti gelatin, jernih, avaskuler dan terdiri dari 99% air dan
selebihnya merupakan campuran kolagen dan asam hialuronik. Fungsi vitreus sebenarnya
hampir sama dengan fungsi cairan mata, yaitu mempertahankan bola mata agar tetap bulat.
Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina.2,3
Vitreus memenuhi ruangan antara lensa mata, retina dan papil saraf optik. Bagian luar
(korteks) vitreus bersentuhan dengan kapsul posterior lensa mata, epitel pars plana, retina dan
papil saraf optik. Selain itu vitreus melekat sangat erat dengan epitel pars plana dan retina
dekat ora serata. Vitreus melekat tidak begitu erat dengan kapsul lensa mata dan papil saraf
optik pada orang dewasa.2,3
Vitreus yang normal sangat jernih sehingga tidak nampak apabila diperiksa dengan
oftalmoskopi direk maupun oftalmoskopi indirek. Apabila terjadi perubahan struktur vitreus
seperti misalnya pencairan sel, kondensasi, pengerutan, barulah keadaan ini dapat dilihat dan
inipun hanya dengan slit-lamp dan bantuan lensa kontak.4,5

Gambar 2.1 : Anatomi Vitreus6

6
2.2 Definisi
Perdarahan vitreus adalah ekstravasasi darah ke salah satu dari beberapa ruang
potensial yang terbentuk di dalam dan di sekitar korpusvitreus. Kondisi ini dapat diakibatkan
langsung oleh robekan retina atau neovaskularisasi retina, atau dapat berhubungan dengan
perdarahan dari pembuluh darah yang sudah ada sebelumnya.1,7
Perdarahan vitreus dapat terjadi akibat dari retinitis proliferans, oklusi vena sentral,
oklusi vena cabang, ablasio retina, kolaps posterior vitreus akut tanpa harus ada robekan.
Perdarahan tersebut terletak pada belakang gel vitreus atau dengan sineretic kavitas.6

2.3 Epidemiologi
Prevalensi perdarahan vitreusadalah 7 per 100.000 kasus.Prevalensi penyebab
perdarahan vitreus tergantung pada populasi penelitian, rata-rata usia pasien, dan wilayah
geografis di mana penelitian dilakukan. Pada orang dewasa, retinopati diabetik proliferatif
merupakan penyebab paling sering pada perdarahan vitreus, 31,5-54% di Amerika Serikat,
6% di London, dan 19,1% di Swedia.1
Penyebab lain dari perdarahan vitreus meliputi:1,5
• Robekan retina (11,4-44%)
• Posterior Vitreous Detachment (PVD) dengan robekan pembuluh darah retina (3,7-11,7%)
• Ablasio retina Regmatogen (7-10%)
 Proliferatif sickle cell retinopati (0.2-5.9%)
• Makroaneurisma (0,6-7,4%)
• Age Related Macular Degeneration (0,6-4,3%)
 Terson syndrome (0.5-1%)
• Trauma (12-18,8%)
• Neovaskularisasi retina sebagai akibat dari cabang atau pusat oklusi vena retina (3,5-16%)
Penyebab langka perdarahan vitreus sekitar 6,4-18%. Dalam beberapa penelitian, 2-
7,6% dari perdarahan tidak bisa dikaitkan dengan penyebab spesifik. Retinoskisis bawaan
dan pars planitis juga dapat menyebabkan perdarahan vitreus pada anak-anak dan orang
dewasa. Penyebab utama perdarahan vitreus pada orang muda adalah trauma.1
Pada kulit hitam, diabetesmerupakan penyebab yang paling umum pada perdarahan
vitreus. Pada orang tua berkulit putih dengan perdarahan vitreus, robekan vaskular retina dan
neovaskularisasi yang disebabkan oleh retinopati diabetik proliferatif dan cabang oklusi vena

7
retina yang lebih umum terjadi. Pada populasi yang sama, degenerasi makula dan perdarahan
vitreusjarang terjadi.1

2.4 Etiologi
Etiologi terjadinya perdarahan vitreus menjadi tiga kategori utama yaitu. :3,6,8,9
1. Pembuluh darah retina abnormal
Pembuluh darah retina abnormal biasanya akibat iskemia pada penyakitseperti diabetik
retinopati, sickle cell retinopati, oklusi vena retina, retinopatiprematuritas atau sindrom
iskemik okular.Retina mengalami pasokan oksigenyang tidak memadai, Vascular Endotel
Growth Factor (VEGF) dan factorkemotaktik lainnya menginduksi
neovaskularisasi.Pembuluh darah baru initerbentuk karena kurangnya endotel tight junction
yang merupakan factorpredisposisi terjadinya perdarahan spontan. Selain itu, komponen
berserat yangsering menyebabkan tekanan tambahan pada pembuluh darah yang sudah
rapuhserta traksi vitreus normal dengan gerakan mata dapat menyebabkan
pecahnyapembuluh tersebut.8

2. Pecahnya pembuluh darah normal


Pecahnya pembuluh darah normal dapat diakibatkan kekuatan mekanik yangtinggi. Selama
PVD, traksi vitreus pada pembuluh darah retina dapatmembahayakan pembuluh darah. Hal
ini bisa terjadi dengan robekan retina atauablasio.Namun, perdarahan vitreus dalam bentuk
sebuah PVD akut harusdiwaspadai dokter karena risiko robeknya retina cukup tinggi(70-95
persen).Trauma tumpul atau perforasi bisa melukai pembuluh darah utuhsecara langsung dan
merupakan penyebab utama perdarahan vitreus pada orangmuda terutama umur kurang dari
40 tahun.Penyebab yang jarang dari perdarahanvitreus adalah sindrom Terson, yang berasal
dari ekstravasasi darah ke dalamvitreus karena perdarahan subaraknoid. Sebaliknya
peningkatan tekananintrakranial dapat menyebabkan venula retina pecah.8

3. Darah dari sumber lainnya


Darah dari sumber lainnya, keadaan patologi yang berdekatan denganvitreus juga dapat
menyebabkan perdarahan vitreus seperti pada perdarahandari makroaneurisma retina, tumor
dan neovaskularisasi koroidal, semua dapatmemperpanjang melalui membran batas dalam
vitreus dan menyebabkanperdarahan..8

8
Mekanisme Perdarahan Vitreus.8

1. Pembuluh darah Abnormal


 Diabetik retinopati (31-54 persen perdarahan vitreus disebabkan oleh diabetes)
 Neovaskularisasi dari cabang atau pusat oklusi vena retina (4-16 persen)
 Retinopati sickle sel (0,2-6 persen)

2. Pecahnya Pembuluh darah normal


 Robekan retina (11-44 persen)
 Trauma (12-19 persen)
 Posterior Vitreous Detachement (PVD) dengan robekan pembuluh darah retina(4-12
persen)
 Ablasio retina (7-10 persen)
 Sindrom Terson (0,5-1 persen)

3. Darah Dari Sumber Lain


 Makroaneurisma (0,6-7 persen)
 Age Related Macula Degeneration (0,6-4 persen)

9
Gambar 2.2
Mekanisme perdarahan vitreus.6

10
Gambar 2.3
Gambaran Perdaahan Vitreus 6

2.5 Gejala Klinis


Pasien dengan perdarahan vitreus sering datang dengan keluhan mata kabur atau
berasap, ada helai rambut atau garis (floaters), fotopsia, seperti ada bayangan dan jaring laba-
laba.Gejala subyektif yang paling sering ialah fotopsia, floaters. Fotopsia ialah keluhan
berupa kilatan cahaya yang dilihat penderita seperti kedipan lampu neon di lapangan. Kilatan
cahaya tersebut jarang lebih dari satu detik, tetapi sering kembali dalam waktu beberapa
menit. Kilatan cahaya tersebut dilihat dalam suasana redup atau dalam suasana gelap.
Fotopsia diduga oleh karena rangsangan abnormal vitreus terhadap retina.1,3,8,9

11
Floaters adalah kekeruhan vitreus yang sangat halus, dilihat penderita sebagai
bayangan kecil yang berwarna gelap dan turut bergerak bila mata digerakkan. Bayangan kecil
tersebut dapat berupa titik hitam, benang halus, cincin, lalat kecil dan sebagainya. Floaters
tidak memberikan arti klinik yang luar biasa, kecuali bila floaters ini datangnya tiba-tiba dan
hebat, maka keluhan tersebut patut mendapat perhatian yang serius, karena keluhan floaters
ini dapat menggambarkan latar belakang penyakit yang serius pula, misalnya ablasio retina
atau perdarahan di vitreus.1,2,3
Perdarahan vitreusringan sering dianggap sebagai beberapa floaters baru, perdarahan
vitreus moderat dianggap sebagai garis-garis gelap, dan berat pada perdarahan vitreus
cenderung untuk secara signifikan mengurangi penglihatan bahkan persepsi cahaya.Biasanya,
tidak ada rasa sakit yang terkait dengan perdarahan vitreus. Pengecualian mungkin terjadi
apabila termasuk kasus glaukoma neovaskular, hipertensi okular akut sekunder yang parah
atau trauma.1,6,7,8

2.6 Diagnosis
Pasien harus ditanyakan mengenai riwayat trauma, operasi mata, diabetes, anemia
sickle sel, leukemia dan miopia tinggi.8 Pemeriksaan lengkap terdiri dari oftalmoskopi
langsung dengan depresi skleral, gonioskopi untuk mengevaluasi neovaskularisasi sudut, TIO
dan B-scan ultrasonografi jika tampilan lengkap segmen posterior tertutup oleh darah.
Pemeriksaan dari mata kontralateral dapat membantu memberikan petunjuk etiologi dari
perdarahan vitreus, seperti retinopati diabetik proliferatif.(7,8)
Gambaran perdarahan pada vitreus melalui ultrasonografi berbentuk kecil dan
semakin banyak terlihat dan semakin tebal diartikan banyak perdarahan di dalamnya. Dapat
pula dibedakan perdarahan yang masih baru “fresh hemorrhage” atau sudah lama “clotted
hemorrhage”. Bila perdarahan disebabkan oleh PVD, akan terlihat gambaran membran yang
sejajar di B-scan ultrasonografi.3,8,9
Kehadiran perdarahan vitreus tidak sulit untuk dideteksi. Pada slit lamp, sel darah
merah dapat dilihat di posterior lensa dengan cahaya set "off-axis" dan mikroskop pada
kekuatan tertinggi. Dalam perdarahan vitreus ringan, pandangan ke retina dimungkinkan dan
lokasi dan sumber perdarahan vitreus dapat ditentukan. 3,8,9
Perdarahan vitreus hadir dalam ruang subhialoid juga dikenal sebagai perdarahan
preretinal. Perdarahan berbentuk seperti perahu dimana darah terperangkap dalam ruang
potensial antara hialoid posterior dan basal membran, dan mengendap keluar seperti hifema.

12
Perdarahan vitreus yang tersebar ke dalam korpus vitreus tidak memiliki batas dapat berkisar
dari beberapa bintik sel darah merah sampai memenuhi keseluruhan dari segmen posterior.3,8

2.7 Tatalaksana
Adanya ablasio retina dapat ditentukan dengan menggunakan ultrasonografi jika tidak
dapat diperiksa secara oftalmoskopi . Vitrektomi dilakukan segera apabila teridentifikasi. Jika
pemeriksaan segmen posterior tidak dapat dilakukan, maka dapat dilakukan pembatasan
kegiatan dan saat tidur kepala dapat ditinggikan 30-45 ° sehingga memungkinkan darah
untuk turun ke inferior agar dapat terlihat periferal fundus superior. Robekan retina dapat
dilihat dengan kriotherapi atau laser fotokoagulasi. Jika ablasio retina telah dikesampingkan,
pasien dapat kembali ke aktifitas normalserta hindari penggunaan obat anticlotting seperti
aspirin dan sebagainya.1,4,6,8
Setelah retina dapat divisualisasikan, pengobatan ditujukan untuk etiologi yang
mendasari sesegera mungkin. Jika neovaskularisasi dari retinopati proliferatif adalah
penyebabnya, dilakukan laser fotokoagulasipanretinal untuk meregresi neovaskularisasi, akan
lebih baik hasilnya apabila melalui perdarahan residual .1,8
Vitrektomi diindikasikan untuk perdarahan vitreus, neovaskularisasi dari iris atau
glaukoma. Waktu vitrektomi tergantung pada etiologi yang mendasari.8
Timing of Vitrektomi

Retinal detachment Urgent

Iris or angle neovascularization Urgent

Type 1 diabetes one month

Subhyaloid vitreus hemorrhage one month

Type 2 diabetes two or three months

Other causes three months or more

Gambar 2.4
Perencanaan vitrektomi berdasar etiologi8

13
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada perdarahan vitreus diantaranya adalah
hemosiderosis bulbi, vitreoretinopati proliferatif dan glaukoma hemolitik. Hemosiderosis
bulbi merupakan komplikasi serius yang diduga disebabkan oleh keracunan zat besi ketika
hemoglobin dipecah. Ketika hemolisis terjadi secara perlahan, kapasitas besi mengikat
protein dalam vitreus biasanya membuat hemolisis lambatsehingga menghindari
hemosiderosis bulbi.8
Vitreoretinopati proliferatif dapat terjadi setelah perdarahan vitreus. Diperkirakan
bahwa makrofag dan faktor kemotaktik menginduksi proliferasi fibrovaskular, yang dapat
menyebabkan jaringan parut dan ablasi retina berikutnya. Sedangkan pada glaukoma
hemolitik, hemoglobin yang bebas, hemoglobin dengan makrofag dan debris sel darah merah
dapat menghalangi trabecular meshwork.8

2.9 Prognosis
Absorpsi perdarahan vitreus merupakan proses yang lama. Perjalanan klinis akan tergantung
pada lokasi, penyebab dan beratnya perdarahan. Perdarahan pada korpus vitreus diabsorbsi
lambat.6Jika pasien memiliki penyakit sistemik, seperti diabetes, tindak lanjut dengan
penyedia perawatan primer juga harus dianjurkan. Jika pemeriksaan segmen posterior tidak
memungkinkan, pasien harus dievaluasi setiap dua atau tiga minggu dengan B-scan
ultrasonografi untuk menyingkirkan adanyaablasio retina atau PVD. Pada perdarahan vitreus
berulang, dianjurkan untuk melakukan rujukan ke spesialis retina untuk kemungkinan
dilakukan vitrektomi,baik bila ditangani secara tepat.8

14
BAB 4
KESIMPULAN
1. Perdarahan vitreus merupakan perdarahan pada vitreus yang dapat menyebabkan
kekeruhan karena kerusakan pembuluh darah iris, korpus siliaris, retina, atau koroid
dan bisa juga karena robekan retina.
2. Perdarahan vitreus dapat disebabkan karena perdarahan spontan, trauma, peradangan,
kelainan vaskular, penyakit metabolik, kelainan perdarahan, dan keganasan.
3. Tatalaksanakan yang dilakukan pada perdarahan vitreus sesuai dengan etiologi dari
perdarahan tersebut.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Phillpotts BA, Blair NP, Gieser JP et al. Vitreous hemorrage. Diunduh dari
www.emedicine.com, 25 Juni 2019.
2. Kincaid MC, Green WR. Anatomy of the vitreous retina, and choroid. Dalam: Regillo
CD, Brown GC, Flynn HW, ed.Vitreoretinal disease the essentials. New
York;Thieme;1998:h.11-24.
3. Dibernardo C. Ultrasonography. Dalam: Regillo CD, Brown GC, Flynn HW,
ed.Vitreoretinal disease the essentials. New York; Thieme;1998:h.65-86.
4. Crick RP, Khaw PT. Painless impairment of vision. Dalam: A textbook of clinical
ophtalmology. Edisi-3. London; World Scientific 2003; 111-112.
5. Retina Eye Specialist. Vitreous hemorrage. Diunduh dari www.retinaeye.com, 25Juni
2019.
6. Lang GK.Vitreous body. Dalam: Ophtalmology a short textbook; 2009; 287-290.
7. Charles S, Edward WO. Vitreus. Dalam: Susanto D, ed.Oftalmologiumum. Edisi-17.
Jakarta; EGC 2009; 178-184.
8. Berdahl JP, Mruthyunjaya P, Scott IU et al. Vitreous hemorrage: diagnosis and treatment.
Diunduh dar iwww.americanacademyofophtalmology.com, 25Juni 2019.
9. Green RL, Byrne SF. Diagnostic ophtalmic ultrasound. Dalam: Ryan SJ, ed. Retina.
Edisi-3. Missouri; Mosby 2001; 224-306.

16