Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena atas berkat,
rahmat dan hidayah-Nya kami bias menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami
buat guna memenuhi tugas dari dosen.

Makalah ini membahas tentang “Konsep Islam dan IPTEK”, semoga dengan
makalah yang kami susun ini kita sebagai mahasiswa Almuslim dapat menambah
dan memperluas pengetahuan kita.

Kami mengetahui makalah yang kami susun ini masih sangat jauh dari sempurna,
maka dari itu kami masih mengharapkan kritik dan saran dari bapak/ibu selaku
dosen-dosen pembimbing kami serta temen-temen sekalian, karena kritik dan saran
itu dapat membangun kami dari yang salah menjadi benar.
Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita, akhir
kata kami mengucapkan terima kasih.

Bandar Lampung, 08 Juni 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………...1


DAFTAR ISI ……………………………………………………………………..2
BAB
I PENDAHULUAN ……………………………………………………......3
1.2 Latar Belakang …………………………………………………………3
1.3 Rumusan Masalah………………………………………………………4
1. Tujuan…………………………………………………………………..4
BAB
II PEMBAHASAN ………………………………………………………...5
2.1 Pengertian IPTEK ……………………………………………………...5
2.2 Pandangan Islam tentang IPTEK………………………………………..6
2.3 Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK…………………………………....10
2.4 Keselarasan IMTAQ dan IPTEK………………………………………………11
2.5 Pentingnya Umat Beragama Mengikuti Perkembangan IPTEK……….13
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………1
7
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………17
3.2 Saran …………………………………………………………………..18
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..19

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peran Islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama,
menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah
yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada
sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan
landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan
berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan,
melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan
yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang
bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua,
menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi
pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari.

Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan
standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar
syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada
ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh
memanfaatkan iptek jika telah dihalalkan oleh Syariah Islam. Sebaliknya jika suatu
aspek iptek dan telah diharamkan oleh Syariah, maka tidak boleh umat Islam
memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi
kebutuhan manusia.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh perdaban
barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru
dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material yang dihasilkan oleh
perkembangan iptek modern membuat orang lalu mengagumi dan meniru- niru

3
gaya hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis trhadap segala dampak
negatif yang diakibatkanya.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1. Apa Pengertian IPTEK


2. Bagaimana Pandangan Islam tentang IPTEK?
3. Bagaimana Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK?
4. Bagaimana Keselarasan IMTAQ dan IPTEK?
5. Pentingkah umat beragama mengikuti perkembangan IPTEK ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu:

1. Untuk memahami pandangan islam tentang IPTEK.


2. Untuk memahami dampak positif dan negatif tentang perkembangan
IPTEK.
3. Untuk memahami Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK.
4. Untuk memahami Keselarasan IMTAQ dan IPTEK.
5. Untuk memahami tentang Pentingnya Umat Beragama Mengikuti
IPTEK.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian IPTEK


Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yg tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan
kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun
teknoogi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yg dapat ditunjukkan dalam hasil
nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia utk berkembang lebih maju
lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk
mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Alquran sebab
kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan
dan teknologi.

Seperti kita ketahui, teknologi kini telah merembet dalam kehidupan kebanyakan
manusia bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana
upaya tersebut merupakan cara atau jalan di dalam mewudkan kesejahteraan dan
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Atas dasar kreatifitas, akalnya,
manusia mengembangkan iptek dalam rangka untuk mengolah SDA yang di
berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dimana dalam pengembangan iptek harus
didasari terhadap moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua
masyarakat mengecam IPTEK secara merata. Disatu sisi telah terjadi
perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun
oelaksanaan pembangunan IPTEK masih belum merata.

Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk


mendapatkan pengetahuan dan teknologi. Hal itu dikarenakan tingginya biaya
pendidikan yang harus mereka tanggung. Makadari itu pemerintah perlu menyikapi
dan menanggapi masalah-masalah tersebut, agar peranan IPTEK dapat bertujuan

5
untuk meningkatkan SDM yang ada. Perkembangan IPTEK disamping bermanfaat
untukkemajuan hidup Indonesia juga memberikan dampak negatif. Hal yang perlu
diperhatikan dalam penerapan IPTEK untuk menekan dampaknya seminimal
mungkin antara lain:

1. Menjaga keserasian dan keseimbangan dengan lingkungan setempat.


2. Teknologi yang akan diterapkan hendaknya betul-betul dapat mencegah
timbulnya permasalahan di tempat itu.
3. Memanfaatkan seoptimal mungkin segala sumber daya alam dan sumber
daya manusia yang ada.
Dengan perkembangan dan kemajuan zaman dengan sendirinya pemanfaatan dan
penguatan iptek mutlak diperlukan untuk mencapaikesejahteraan bangsa. Visi dan
Misi iptek dirumuskan sebagai paduan untuk mengoptimalkan setiap sumber daya
iptek yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.Undang-undang No.18 Tahun2002
tentang Sistem Nasional Penelitiha, Pengembangan dan Penerapan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi yang yelah berlaku sejak 29 Juli 2002, merupakan
penjabaran dari visi dan misi Iptek sebagaimana termaksud dalam UUD 1945
Amandemen pasal 31 ayat 5, agar dapat dilaksanakan oleh pemerintah beserta
seluruh rakyat dengan sebaik baiknya. Selain itu pula perkembangan iptek di
berbagai bidang di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat semestinya
dapat meningkatkan kualitas SDM di tengah bermunculannya dampak negatif dari
adanya perkembangan iptek, sehingga diperlukan pemikiran yang serius dan
mantap dalam menghadapi permasalahan dalam penemuan-penemuan baru
tersebut.
2.2 Pandangan Islam Tentang IPTEK
Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah swt berupa “alat” untuk
mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah (1) indera, untuk
menangkap kebenaran fisik, (2) naluri, untuk mempertahankan hidup dan
kelangsungan hidup manusia secara pribadi maupun sosial, (3) pikiran dan atau
kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis
pengetahuan akali (pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi). Akal juga merupakan
penghantar untuk menuju kebenaran tertinggi, (4) imajinasi, daya khayal yang

6
mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya, (5) hati
nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah laku
manusia sebagai makhluk yang harus bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK
yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan
norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani
(1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK ilmuwan muslim dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok; (1) Kelompok yang menganggap IPTEK
modern bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen
dengan mencari ayat-ayat Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja
dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu
agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami, (3) Kelompok yang
percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya. Untuk kelompok
ketiga ini memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah “islamisasi
ilmu pengetahuan”. Dalam konsep Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang
tegas antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sebab pada dasarnya ilmu
pengetahuan yang dikembangkan manusia merupakan “jalan” untuk menemukan
kebenaran Allah itu sendiri. Sehingga IPTEK menurut Islam haruslah bermakna
ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk IPTEK
yang mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat
manusia secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan
membawa manusia ketingkat yang lebih rendah martabatnya.

Dari uraian di atas “hakekat” penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang
islami adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat
manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah swt. Kebenaran IPTEK
menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri. IPTEK
akan bermanfaat apabila (1) mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan
menjauhkannya, (2) dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang
baik), (3) dapat memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan
persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat dikatakan mengandung
kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.

7
Ada beberapa kemungkinan hubungan antara agama dan iptek:

1. Berseberangan atau bertentangan.


2. Bertentangan tapi dapat hidup berdampingan secara damai
3. Tidak bertentangan satu sama lain
4. Saling mendukung satu sama lain, agama mendasari pengembangan
iptek atau iptek mendasari penghayatan agama.
Pola hubungan pertama adalah pola hubungan yang negatif, saling tolak. Apa yang
dianggap benar oleh agama dianggap tidak benar oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi. Demikian pula sebaliknya. Dalam pola hubungan seperti ini,
pengembangan iptek akan menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran agama
dan pendalaman agama dapat menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran
ilmu pengetahuan. Orang yang ingin menekuni ajaran agama akan cenderung untuk
menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Pola
hubungan pertama ini pernah terjadi di zaman Galileio-Galilei. Ketika Galileo
berpendapat bahwa bumi mengitari matahari sedangkan gereja berpendapat bahwa
matahari lah yang mengitari bumi, maka Galileo dipersalahkan dan dikalahkan. Ia
dihukum karena dianggap menyesatkan masyarakat.

Pola hubungan ke dua adalah perkembangan dari pola hubungan pertama. Ketika
kebenaran iptek yang bertentangan dengan kebenaran agama makin tidak dapat
disangkal sementara keyakinan akan kebenaran agama masih kuat di hati, jalan
satu-satunya adalah menerima kebenaran keduanya dengan anggapan bahwa
masing-masing mempunyai wilayah kebenaran yang berbeda. Kebenaran agama
dipisahkan sama sekali dari kebenaran ilmu pengetahuan. Konflik antara agama dan
ilmu, apabila terjadi, akan diselesaikan dengan menganggapnya berada pada
wilayah yang berbeda. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek tidak
dikaitkan dengan penghayatan dan pengamalan agama seseorang karena keduanya
berada pada wilayah yang berbeda. Baik secara individu maupun komunal,
pengembangan yang satu tidak mempengaruhi pengembangan yang lain. Pola
hubungan seperti ini dapat terjadi dalam masyarakat sekuler yang sudah terbiasa
untuk memisahkan urusan agama dari urusan negara/masyarakat.

8
Pola ke tiga adalah pola hubungan netral. Dalam pola hubungan ini, kebenaran
ajaran agama tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan tetapi juga
tidak saling mempengaruhi. Kendati ajaran agama tidak bertentangan dengan iptek,
ajaran agama tidak dikaitkan dengan iptek sama sekali. Dalam masyarakat di mana
pola hubungan seperti ini terjadi, penghayatan agama tidak mendorong orang untuk
mengembangkan iptek dan pengembangan iptek tidak mendorong orang untuk
mendalami dan menghayati ajaran agama. Keadaan seperti ini dapat terjadi dalam
masyarakat sekuler. Karena masyarakatnya sudah terbiasa dengan pemisahan
agama dan negara/masyarakat, maka. ketika agama bersinggungan dengan ilmu,
persinggungan itu tidak banyak mempunyai dampak karena tampak terasa aneh
kalau dikaitkan. Mungkin secara individu dampak itu ada, tetapi secara komunal
pola hubungan ini cenderung untuk tidak menimbulkan dampak apa-apa.

Pola hubungan yang ke empat adalah pola hubungan yang positif. Terjadinya pola
hubungan seperti ini mensyaratkan tidak adanya pertentangan antara ajaran agama
dan ilmu pengetahuan serta kehidupan masyarakat yang tidak sekuler. Secara teori,
pola hubungan ini dapat terjadi dalam tiga wujud: ajaran agama mendukung
pengembangan iptek tapi pengembangan iptek tidak mendukung ajaran agama,
pengembangan iptek mendukung ajaran agama tapi ajaran agama tidak mendukung
pengembangan iptek, dan ajaran agama mendukung pengembangan iptek dan
demikian pula sebaliknya.

Dalam wujud pertama, pendalaman dan penghayatan ajaran agama akan


mendukung pengembangan iptek walau pengembangan iptek tidak akan
mendorong orang untuk mendalami ajaran agama. Sebaliknya, dalam wujud ke dua,
pengembangan iptek akan mendorong orang untuk mendalami dan menghayati
ajaran agama walaupun tidak sebaliknya terjadi. Pada wujud ke tiga,
pengembangan iptek akan mendorong orang untuk lebih mendalami dan
menghayati ajaran agama dan pendalaman serta penghayatan ajaran agama akan
mendorong orang untuk mengembangkan iptek.

9
Adapun alasan mengapa kita harus menguasai IPTEK, terdapat tiga alasan pokok,
yakni:

1. Ilmu pengetahuan yang berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh
negara-negara barat. Ini fakta, tidak bisa dipungkiri.
2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan
IPTEK di negara-negara Islam. Ini fakta yang tak dapat dipungkiri.
3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan
kemajuan IPTEK-nya, misalnya umat Islam disodori persoalan-
persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan
akhirnya bertengkar sendiri.
2.3 Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK
Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah SWT berupa “alat” untuk
mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah :
a. indera, untuk menangkap kebenaran fisik,
b. naluri, untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara
probadi maupun sosial
c. pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan
tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi). Akal juga
merupakan penghantar untuk menuju kebenaran tertinggi
d. imajinasi, daya khayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan
menyempurnakan pengetahuannya e. hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk
dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus
bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK
yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan
norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani
(1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK ilmuwan muslim dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok: Kelompok yang menganggap IPTEK
moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen
dengan mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai;

10
Kelompok yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari
sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami,
Kelompok yang percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya. Untuk
kelompok ketiga ini memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah
“islamisasi ilmu pengetahuan”. Dalam konsep Islam pada dasarnya tidak ada
pemisahan yang tegas antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sebab pada
dasarnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia merupakan “jalan” untuk
menemukan kebenaran Allah itu sendiri.
Sehingga IPTEK menurut Islam haruslah bermakna ibadah. Yang dikembangkan
dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk IPTEK yang mampu mengantarkan
manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat manusia secara alamiah.
Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan membawa manusia ketingkat
yang lebih rendah martabatnya. Dari uraian di atas “hakekat” penyikapan IPTEK
dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah memanfaatkan perkembangan
IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah
kepada Allah SWT. Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah sebanding dengan
kemanfaatannya IPTEK itu sendiri. IPTEK akan bermanfaat apabila:
a. Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya
b. Dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik),
c. Dapat memberikan pedoman bagi sesama,
d. Dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat
dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.

2.4 Keselarasan IMTAQ dan IPTEK


“Barang siapa ingin menguasai dunia dengan ilmu, barang siapa ingin
menguasai akhirat dengan ilmu, dan barang siapa ingin menguasai kedua-duanya
juga harus dengan ilmu” (Al-Hadist). Perubahan lingkungan yang serba cepat
dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek), harus diakui telah memberikan kemudahan terhadap berbagai
aktifitas dan kebutuhan hidup manusia. Di sisi lain, memunculkan kekhawatiran
terhadap perkembangan perilaku khususnya para pelajar dan generasi muda kita,
dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru yang cenderung menjauh dari nilai-nilai

11
spiritualitas. Semuanya ini menuntut perhatian ekstra orang tua serta pendidik
khususnya guru, yang kerap bersentuhan langsung dengan siswa.
Dari sisi positif, perkembangan iptek telah memunculkan kesadaran yang kuat pada
sebagian pelajar kita akan pentingnya memiliki keahlian dan keterampilan.
Utamanya untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, dalam
rangka mengisi era milenium ketiga yang disebut sebagai era informasi dan era bio-
teknologi. Ini sekurang-kurangnya telah memunculkan sikap optimis, generasi
pelajar kita umumya telah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan itu.
Don Tapscott, dalam bukunya Growing up Digital (1999), telah melakukan survei
terhadap para remaja di berbagai negara. Ia menyimpulkan, ada sepuluh ciri dari
generasi 0 (zero), yang akan mengisi masa tersebut. Ciri-ciri itu, para remaja
umumnya memiliki pengetahuan memadai dan akses yang tak terbatas. Bergaul
sangat intensif lewat internet, cenderung inklusif, bebas berekspresi, hidup
didasarkan pada perkembangan teknologi, sehingga inovatif, bersikap lebih
dewasa, investigative arahnya pada how use something as good as possible bukan
how does it work.
Sikap optimis terhadap keadaan sebagian pelajar ini tentu harus diimbangi dengan
memberikan pemahaman, arti penting mengembangkan aspek spiritual keagamaan
dan aspek pengendalian emosional. Sehingga tercapai keselarasan pemenuhan
kebutuhan otak dan hati (kolbu). Penanaman kesadaran pentingnya nilai-nilai
agama memberi jaminan kepada siswa akan kebahagiaan dan keselamatan hidup,
bukan saja selama di dunia tapi juga kelak di akhirat. Jika hal itu dilakukan, tidak
menutup kemungkinan para siswa akan terhindar dari kemungkinan melakukan
perilaku menyimpang, yang justru akan merugikan masa depannya serta
memperburuk citra kepelajarannya. Amatilah pesta tahunan pasca ujian nasional,
yang kerap dipertontonkan secara vulgar oleh sebagian para pelajar. Itulah salah
satu contoh potret buram kondisi sebagian komunitas pelajar kita saat ini.
Untuk itu, komponen penting yang terlibat dalam pembinaan keimanan dan
ketakwaan (imtak) serta akhlak siswa di sekolah adalah guru. Kendati faktor lain
ikut mempengaruhi, tapi dalam pembinaan siswa harus diakui guru faktor paling
dominan. Ia ujung tombak dan garda terdepan, yang memberi pengaruh kuat pada
pembentukan karakter siswa. Kepada guru harapan tercapainya tujuan pendidikan

12
nasional disandarkan. Ini sebagaimana termaktub dalam Pasal 3 Undang-
undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Intinya, para
pelajar kita disiapkan agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Sekaligus
jadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan pendidikan
sebenarnya mengisyaratkan, proses dan hasil harus mempertimbangkan
keseimbangan dan keserasian aspek pengembangan intelektual dan aspek spiritual
(rohani), tanpa memisahkan keduanya secara dikhotomis.
Namun praktiknya, aspek spiritual seringkali hanya bertumpu pada peran guru
agama. Ini dirasakan cukup berat, sehingga pengembangan kedua aspek itu tidak
berproses secara simultan. Upaya melibatkan semua guru mata ajar agar
menyisipkan unsur keimanan dan ketakwaan (imtak) pada setiap pokok bahasan
yang diajarkan, sesungguhnya telah digagas oleh pihak Departeman Pendidikan
Nasional maupun Departemen Agama. Survei membuktikan, mengintegrasikan
unsur ‘imtaq’ pada mata ajar selain pendidikan agama adalah sesuatu
yang mungkin. Namun dalam praktiknya, target kurikulum yang menjadi beban
setiap guru yang harus tuntas serta pemahaman yang berbeda dalam menyikapi
muatan-muatan imtaq yang harus disampaikan, menyebabkan keinginan
menyisipkan unsur imtak menjadi terabaikan. Memang tak ada sanksi apapun jika
seorang guru selain guru agama tidak menyisipkan unsur imtaq pada pelajaran
yang menjadi tanggung jawabnya. Jujur saja guru umumnya takut salah
jika berbicara masalah agama, mereka mencari aman hanya mengajarkan apa yang
menjadi tanggung jawabnya. Sesungguhnya ia bukan sekadar tanggung jawab guru
agama, tapi tanggung jawab semuanya. Dalam kacamata Islam, kewajiban
menyampaikan kebenaran agama kewajiban setiap muslim yang mengaku beriman
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

2.5 Pentingnya Umat Beragama Mengikuti Perkembangan IPTEK


Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang disebut ilmu itu tidak hanya
terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu
oleh Allah dirumuskan dalam lauhil mahfudz yang disampaikan kepada kita
melalui Alquran dan As-Sunnah. Ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang

13
alam semesta dan manusia sendiri. Jadi bila diikuti jalan pikiran ini, maka dapatlah
kita pahami, bahwa Alquran itu merupakan sumber pengetahuan dan ilmu
pengetahuan manusia (knowledge and science).

Seandainya penggunaan satu hasil teknologi telah melalaikan seseorang dari zikir
dan tafakur serta mengantarkannya kepada keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan
maka ketika itu bukan hasil teknologinya yang mesti ditolak, melainkan kita harus
memperingatkan dan mengarahkan manusia yang menggunakan teknologi itu. Jika
hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari jati diri dan
tujuan penciptaan sejak dini pula kehadirannya ditolak oleh islam. Karena itu
menjadi suatu persoalan besar bagi martabat manusia mengenai cara memadukan
kemampuan mekanik demi penciptaan teknologi dengan pemeliharaan nilai-nilai
fitrahnya.

Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang islam. Ia tidak harus berupa nasihat
langsung, atau anjuran berbuat kebajikan,bukan juga penampilan abstrak tentang
akidah. Seni yang islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini dengan
bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni islam adalah ekspresi
tentang keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang alam, hidup, dan
manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan
keindahan.

Ada 4 hal pandangan Islam dalam etos kerja yaitu: Niat (komitmen) sebagai dasar
nilai kerja, Konsep ihsan dalam bekerja, Bekerja sebagai bentuk keberadaan
manusia, dan Orang mukmin yang kuat lebih disukai. Secara lebih spesifik,
integrasi pendidikan iptek dan imtaq ini diperlukan karena empat alasan:

Pertama, iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi
kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan taqwa
kepada Allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtaq, iptek bisa disalahgunakan pada
tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat mengancam nilai-nilai
kemanusiaan. Jika demikian, iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan
miskin secara maknawi.

14
Kedua, pada kenyataannya, iptek yang menjadi dasar modernisme, telah
menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan
hedonistik, yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang
dianut oleh bangsa kita.

Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan jasmani,


tetapi juga membutuhkan imtaq dan nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh
karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan
menjadi pincang dan berat sebelah, dan menyalahi hikmat kebijaksanaan Tuhan
yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia
dan akhirat.

Keempat, imtaq menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar
manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar imtaq, segala atribut duniawi,
seperti harta, pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal
mengantar manusia meraih kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman
dan upaya mencari ridha Allah SWT, hanya akan menghasilkan fatamorgana yang
tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur’an :

Artinya : “Dan orang – orang yang kafir amal – amal mereka adalah laksana
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang – orang yang
dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal – amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitungan-Nya”. (Q.S An-Nur : 39)
Dengan demikian integrasi iptek dan imtaq harus diupayakan dalam format yang
tepat sehingga keduanya berjalan seimbang dan dapat mengantar kita meraih
kebaikan dunia dan kebaikan akhirat seperti do’a yang setiap saat kita panjatkan
kepada Allah.

15
َ َ‫سنَةً َوقِنَا َعذ‬
ِ َّ‫اب الن‬
‫ار‬ َ ‫سنَةً َوفِي ْاْل ِخ َرةِ َح‬
َ ‫َو ِم ْن ُه ْم َم ْن يَقُو ُل َربَّنَا آتِنَا فِي الدُّ ْنيَا َح‬

Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat
dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah : 201)
Sehubungan dengan alasan yang disebutkan di atas, maka perlu dikembangkan
usaha perbaikan yang lebih mendasar terhadap pendekatan dan metode
pembelajaran misalnya usaha-usaha yang berhubungan dengan psikologi belajar,
mengintensifkan program imtaq di sekolah-sekolah salah satunya dapat dilakukan
dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama (imtaq) ke dalam setiap mata pelajaran.
Dengan kata lain model pembelajaran harus memadukan antaraIptek dengan imtaq.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kemajuan IPTEK merupakan tantangan yang besar bagi kita. Apakah kita
sanggup atau tidak menghadapi tantangan ini tergantung pada kesiapan pribadi
masing-masing. Diantara penyikapan terhadap kemajuan IPTEK masa terdapat tiga
kelompok, yaitu: (1) Kelompok yang menganggap IPTEK moderen bersifat netral
dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen dengan mencari ayat-ayat
Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi
berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-
elemen yang tidak islami, (3) Kelompok yang percaya adanya IPTEK Islam dan
berusaha membangunnya.

Perkembangan iptek adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk
memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek. Dari uraian di atas dapat
dipahami, bahwa peran Islam yang utama dalam perkembangan iptek setidaknya
ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan
ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam sebagai standar penggunaan
iptek. Jadi, syariah Islam-lah, bukannya standar manfaat (utilitarianisme), yang
seharusnya dijadikan tolak ukur umat Islam dalam mengaplikasikan iptek.

Adapun dampak negatif maupun positif dalam perkembangan iptek, Kemajuan


dalam bidang iptek telah menimbulkan perubahan sangat cepat dalam kehidupan
umat manusia. Perubahan ini, selain sangat cepat memiliki daya jangkau yang amat
luas. Hampir tidak ada segi-segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh perubahan.
Perubahan ini pada kenyataannya telah menimbulkan pergeseran nilai nilai dalam
kehidupan umat manusia, termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, moral, dan
kemanusiaan.

17
3.2 Saran
Diharapkan kepada kita semua baik yang tua maupun yang muda agar dapat
mewujudkan Imtaq dan Iptek secara seimbang di negeri yang tercinta ini yaitu
Indonesia. Yakni melalui peningkatan kualiatas sumber daya manusia, potensi,
perbaikan sistem ekonomi, serta menerapkan budaya zakat, infak, dan sedekah.
Insya Allah dengan menjalankan syariat Islam dengan baik dan teratur kita dapat
memperbaiki kehidupan bangsa ini secara perlahan.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://aqwam.com/fikih/menjadi-muslim-terbaik
http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-menghadapi-
arus-globalisasi/
http://sarahayu9.blogspot.com/2011/04/pengertian-integrasi.html
Din Syamsuddin, M, Dr, Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani,
penerbit kalimat, Jakarta, 2001

http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=
54:mkdu-4221-berkehidupan-bermasyarakat&catid=33:mkdu&Itemid=77
http://nasirmat.wordpress.com/2009/09/26/integrasi-iptek-dan-imtaq-kedalam-
pembelajaran/
http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/39

19