Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang
menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam
sebuah reaksi kimia. Hal ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti
oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida, atau reduksi karbon oleh
hidrogen menghasilkan metana(CH4), ataupun ia dapat berupa proses yang
kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh manusia melalui rentetan transfer
elektron yang rumit. Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi dan
oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut:
a. Oksidasi menjelaskan pelepasan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion.
b. Reduksi menjelaskan penambahan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau
ion.
Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan
diatas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada
perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan
selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan
bilangan oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam
prakteknya, transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun
terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada
transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan
kovalen).
Dalam alpikasinya, reaksi redoks ini dapat diaplikasikan dalam
pengolahan logam seperti pembuatan besi dan baja. Pada dewasa ini penggunaan
logam yang paling banyak masih didominasi oleh logam besi dan paduannya
terutama di bidang permesinan. Logam aluminium dan paduannya juga mengalami
penggunaan yang meningkat akhir-akir ini karena beberapa sifat-sifatnya yang
disukai yang salah satunya adalah bobotnya yang ringan. Dalam penggunaannya pada
bidang teknik diharuskan memilih bahan logam yang sesuai dengan keperluan
aplikasi dalam hal kekuatan, kekerasan, kekuatan lelah, ketahan korosi dan

1
sebagainya sehingga dalam pemakaiannya akan memberikan hasil yang paling
optimal. Dari itu teknik pengolahannya harus memahami reaksi yang tepat, seperti
halnya penggunaan reaksi redoks tersebut dalam penanganan yang tepat.

1.2 Perumusan Masalah


Masalah yang ada dalam makalah yang berjudul penerapan konsep reaksi
redoks sangat banyak dan tidak mungkin untuk diteliti semuanya oleh penulis
oleh karena itu penulis membatasi masalah pada :
1. Apa yang dimaksud reaksi redoks itu?
2. Aplikasi reaksi tersebut dalam industri?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami konsep dasar dari reaksi redoks
2. Dapat menerapkan konsep reaksi redoks dalam industri pembuatan logam

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Reaksi Redoks


Pengetahuan manusia mengenai reaksi redoks senantiasa berkembang.
Perkembangan konsep reaksi redoks menghasilkan dua konsep, klasik dan
modern. Awalnya, reaksi redoks dipandang sebagai hasil dari perpindahan atom
oksigen dan hidrogen. Oksidasi merupakan proses terjadinya penangkapan
oksigen oleh suatu zat. Sementara itu reduksi adalah proses terjadinya pelepasan
oksigen oleh suatu zat. Oksidasi juga diartikan sebagai suatu proses terjadinya
pelepasan hidrogen oleh suatu zat dan reduksi adalah suatu proses terjadinya
penangkap hidrogen. Oleh karena itu, teori klasik mengatakan bahwa oksidasi
adalah proses penangkapan oksigen dan kehilangan hidrogen. Di sisi lain, reduksi
adalah proses kehilangan oksigen dan penangkapan hidrogen. Seiring
dilakukannya berbagai percobaan, konsep redoks juga mengalami perkembangan.
Munculah teori yang lebih modern yang hingga saat ini masih dipakai. Dalam
teori ini disebutkan bahwa:
a. Oksidasi adalah proses yang menyebabkan hilangnya satu atau lebih elektron
dari dalam zat. Zat yang mengalami oksidasi menjadi lebih positif.
b. Reduksi adalah proses yang menyebabkan diperolehnya satu atau lebih
elektron oleh suatu zat. Zat yang mengalami reduksi akan menjadi lebih
negatif.
Teori ini masih dipakai hingga saat ini. Jadi proses oksidasi dan reduksi
tidak hanya dilihat dari penangkapan oksigen dan hidrogen, melainkan dipandang
sebagai proses perpindahan elektron dari zat yang satu ke zat yang lain.
Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan
diatas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada
perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan
selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan
bilangan oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam
prakteknya, transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun
terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada

3
transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan
kovalen). Reaksi non-redoks yang tidak melibatkan perubahan muatan formal
(formal charge) dikenal sebagai reaksi metatesis.

2.2 Reduktor dan Oksidator


Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi
senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen
oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya
sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai
penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki
unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2, MnO4−, CrO3,
Cr2O72−, OsO4) atau senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga dapat
mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah
senyawa (misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin).
Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa
lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau agen reduksi.
Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri
teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai
penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa reduktor sangat bervariasi.
Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai
reduktor. Logam-logam ini akan memberikan elektronnya dengan mudah.
Reduktor jenus lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan
LiAlH4), reagen-reagen ini digunakan dengan luas dalam kimia organik[1][2],
terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode
reduksi lainnya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis
paladium, platinum, atau nikel, Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada
reduksi ikatan rangkap dua ata tiga karbon-karbon.

4
Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor
mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor
melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan
tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi
disebut sebagai pasangan redoks.

2.3 Konsep oksidasi-reduksi


Pentingnya reaksi oksidasi-reduksi dikenali sejak awal kimia. Dalam
oksidasi-reduksi, suatu identitas diambil atau diberikan dari dua zat yang bereaksi.
Situasinya mirip dengan reaksi asam basa. Singkatnya, reaksi oksidasi-reduksi
dan asam basa merupakan pasangan sistem dalam kimia. Reaksi oksidasi reduksi
dan asam basa memiliki nasib yang sama, dalam hal keduanya digunakan dalam
banyak praktek kimia sebelum reaksi ini dipahami. Konsep penting secara
perlahan dikembangkan: misalnya, bilangan oksidasi, oksidan (bahan
pengoksidasi), reduktan (bahan pereduksi), dan gaya gerak listrik, persamaan
Nernst, hukum Faraday tentang induksi elektromegnet dan elektrolisis.
Perkembangan sel elektrik juga sangat penting. Penyusunan komponen reaksi
oksidasi-reduksi merupakan praktek yang penting dan memuaskan secara
intelektual. Sel dan elektrolisis adalah dua contoh penting, keduanya sangat erat
dengan kehidupan seharihari dan dalam industri kimia.

2.3.1 Penemuan oksigen


Karena udara mengandung oksigen dalam jumlah yang besar, kombinasi
antara zat dan oksigen, yakni oksidasi, paling sering berlangsung di alam.
Pembakaran dan perkaratan logam pasti telah menatik perhatian orang sejak dulu.
Namun, baru di akhir abad ke- 18 kimiawan dapat memahami pembakaran dengan
sebenarnya. Pembakaran dapat dipahami hanya ketika oksigen dipahami. Sampai
doktrin Aristoteles bahwa udara adalah unsur dan satu-satunya gas ditolak,
mekanisme oksidasi belum dipahami dengan benar. Kemungkinan adanya gas
selain udara dikenali oleh Helmont sejak awal abad ke-17.
Metoda untuk memisahkan gas tak terkontaminasi dengan uap
menggunakan pompa pneumatik dilaporkan oleh Hales di sekitar waktu itu.

5
Namun, walau telah ada kemajuan ini, masih ada satu miskonsepsi yang
menghambat pemahaman peran oksigen dalam pembakaran. Miskonsepsi ini
adalah teori flogiston. Teori ini dinyatakan oleh dua kimiawan Jerman, Georg
Ernst Stahl (1660-1734) dan Johann Joachim Becher.
Menurut teori ini, pembakaran adalah proses pelepasan flogiston dari zat
yang terbakar. Asap yang muncul dari kayu terbakar dianggap bukti yang baik
teori ini. Massa abu setelah pembakaran lebih ringan dari massa kayu dan ini juga
konsisten dengan teori flogiston. Namun, ada kelemahan utama dalam teori ini.
Residu (oksida logam) setelah pembakaran logam lebih berat dari logamnya.
Priestley dan Scheele, yang menemukan oksigen di akhir abad ke-18, adalah
penganut teori flogiston. Jadi mereka gagal menghayati peran oksigen dalam
pembakaran.
Sebaliknya, Lavoiseur yang tidak terlalu mengenali teori ini, dengan benar
memahami peran oksigen dan mengusulkan teori pembakaran baru yakni oksidasi
atau kombinasi zat terbakar dengan oksigen. Ia mendukung teroinya dengan
percobaan yang akurat dan kuantitatif yang jauh lebih baik dari standar waktu itu.
Ia menyadari bahwa penting untuk memperhatikan kuantitas gas yang terlibat
dalam reaksi untuk memahami reaksi kimia dengan cara kuantitatif. Jadi ia
melakukan reaksinya dalam wadah tertutup. Peran oksigen dalam pembakaran
dikenali Lavoiseur; oksidasi-reduksi didefinisikan sebagai berikut. Oksidasi-
reduksi dan oksigen.
Oksidasi  menerima oksigen
Reduksi  mendonorkan oksigen
Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas
disebut reaksi redoks.

6
2.3.2 Peran hidrogen
Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organik dapat
dijelaskan dengan pemberian dan penerimaan oksigen. Misalnya, walaupun reaksi
untuk mensintesis anilin dengan mereaksikan nitrobenzen dan besi dengan
kehadiran HCl adalah reaksi oksidasi reduksi dalam kerangka pemberian dan
penerimaan oksigen, pembentukan CH3CH3 dengan penambahan hidrogen pada
CH2=CH2, tidak melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen. Namun,
penambahan hidrogen berefek sama dengan pemberian oksigen. Jadi, etena
direduksi dalam reaksi ini. Dengan kata lain, juga penting mendefinisikan
oksidasi-reduksi dalam kerangka pemberian dan penerimaan hidrogen.
Oksidasi-reduksi dan hidrogen:
Oksidasi  mendonorkan hidrogen
Reduksi  menerima hidrogen
Contoh lain yaitu etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan


zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan
kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan
hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium
tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:

7
2.3.3 Peran elektron
Pembakaran magnesium jelas juga reaksi oksidasi-reduksi yang jelas
melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen.
2Mg + O2  2MgO
Reaksi antara magnesium dan khlorin tidak diikuti dengan pemberian dan
penerimaan oksigen.
Mg + Cl2  MgCl2
Namun, mempertimbangkan valensi magnesium, merupakan hal yang
logis untuk menganggap kedua reaksi dalam kategori yang sama. Memang,
perubahan magnesium, Mg  Mg2+ + 2e- , umum untuk kedua reaksi, dan dalam
kedua reaksi magnesium dioksidasi. Dalam kerangka ini, keberlakuan yang lebih
umum akan dicapai bila oksidasireduksi didefinisikan dalam kerangka pemberian
dan penerimaan elektron.
Oksidasi-reduksi dan elektron
Oksidasi  mendonorkan elektron
Reduksi  menerima elektron
Bila kita menggunakan definisi ini, reaksi oksidasi-reduksi dapat dibagi
menjadi dua, satu adalah reaksi oksidasi, dan satunya reaksi reduksi. Jadi,
Mg  Mg2+ + 2 e- (mendonorkan elektron  dioksidasi)
Cl2 + 2e-  2Cl- (menerima elektron  direduksi)
Masing-masing reaksi tadi disebut setengah reaksi. Akan ditunjukkan bahwa
reaksi oksidasi reduksi biasanya paling mudah dinyatakan dengan setengah reaksi
(satu untuk oksidan dan satu untuk reduktan).
Contoh lain Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:

Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang


dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai
persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion
penonton).

8
Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom
tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II).
Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi (reduktor).Sebaliknya, ion
tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan ion
magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator).
Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal
transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi
dalam hal transfer elektron.

2.3.4 Oksidasi kobalt(II) menjadi kobalt(III) dengan hidrogen peroksida


Jika kita menambahkan larutan amonia berlebih ke dalam larutan
mangandung ion kobalt(II), kita akan mendapat ion kompleks, ion
heksaaminkobalt(II), Co(NH3)62+. Ion ini dioksodasi dengan cepat oleh larutan
hidrogen peroksida menjadi ion heksaaminkobalt(III),Co(NH3)63+.
Setengah-reaksi untuk kobalt cukup mudah. Dimulai dengan menulis apa
yang kita tahu dari soal.

Semua atom sudah setara, hanya muatan yang belum setara. Dengan
menambah satu elektron pada sisi kanan akan menyetarakan muatan, yaitu 2+.

Setengah-reaksi hidrogen peroksida juga tidak terlalu sulit, kecuali kita


belum tahu apa hasil reaksi dari hidrogen peroksida ini, jadi kita harus menebak.
Persamaan akan setara jika kita buat 2 ion hidrogen pada sisi kanan.Ini adalah
contoh yang baik untuk kasus dimana kita dapat jelas melihat dimana harus
menempatkan ion hidroksida.

9
Kemudian kita hanya perlu menambah 2 elektron pada sisi kiri untuk
menyetarakan muatan.

Menggabungkan setengah-reaksi untuk mendapat persamaan reaksi


Yang telah kita dapat sejauh ini adalah:

Perkalian dan penjumlahan setengah reaksi:

2.3.5 Oksidasi besi(II)hidroksida oleh udara


Jika kita menambah larutan natrium hidroksida ke dalam larutan senyawa
besi(II), kita akan mendapat endapan hijau besi(II)hidroksida. Endapan ini cepat
dioksidasi oleh oksigen dari udara manjadi endapan jingga-coklat
besi(III)hidroksida.Setengah-reaksi untuk besi(II)hidroksida sangat sederhana.

Kita jelas perlu ion hidroksida lain pada sisi kiri. Ini bahkan lebih
sederhana dan mudah dari contoh sebelumnya.

Untuk menyetarakan muatan, kita tambah satu elektron pada sisi kanan.

Setengah reaksi untuk oksigen tidak terlalu mudah. Kita tidak tahu apa
hasil reaksi yang terbentuk.

Tidak pasti apakah kita perlu menyetarakan oksigen dengan molekul air
atau ion hidroksida pada sisi kanan. Untuk soal ini, kita akan buat seolah-olah
reaksi dalam suasana asam.Pada kasus ini, kita hanya dapat menyetarakan oksigen
dengan menambah molekul air pada sisi kanan.

10
Setarakan hidrogen dengan menambah ion hidrogen pada sisi kiri.

Lalu, setarakan muatan dengan menambah 4 elektron.

Sekarang kita dapat setengah reaksi yang setara. Permasalahannya kini,


persamaan itu hanya jika dalam suasana asam. Reaksi yan gkita kerjakan adalah
suasana basa, dengan ion hidroksida bukan ion hidrogen.
Jadi, kita harus menyingkirkan ion-ion hidrogen. Tambahkan ion
hidroksida secukupnya padakedua sisi persamaan sehingga dapat menetralkan
semua ion hidrogen. Karena persamaan ini telah setara, kita harus menambah ion
hidroksida dalam jumlah yang sama pada kedua sisi untuk mempertahankan
kesetaraannya.

Ion hidrogen dan ion hidroksida pada sisi kiri akan menjadi 4 molekul air.

Akhirnya, ada molekul air pada kedua sisi persamaan. Kita dapat
meniadakan molekul air pada salah satu sisi.

Jangan lupa untuk memeriksa kembali bahwa semua penyetaraan telah


diselesaikan.
Menggabungkan setengah-reaksi untuk mendapat persamaan reaksi
Dari sini, pengerjaan selanjutnya sama dengan yang sebelumnya telah kita
kerjakan berulang-ulang. Kita telah mendapat dua setengah-reaksi:

Persamaan untuk besi harus terjadi 4 kali untuk dapat menyediakan


elektron yang cukup bagi oksigen.

Perhatikan bahwa ion hidroksida pada masing-masing sisi saling meniadakan.

11
2.3.6 Oksidan dan reduktan (bahan pengoksidasi dan pereduksi)
Oksidasi reduksi seperti dua sisi dari selembar kertas, jadi tidak mungkin
oksidasi atau reduksi berlangsung tanpa disertai lawannya. Bila zat menerima
elektron, maka harus ada yang mendonorkan elektron tersebut. Dalam oksidasi
reduksi, senyawa yang menerima elektron dari lawannya disebut oksidan (bahan
pengoksidasi sebab lawannya akan teroksidasi. Lawan oksidan, yang mendonor-
kan elektron pada oksidan, disebut dengan reduktan (bahan pereduksi) karena
lawannya (oksidan tadi tereduksi. Diantara contoh diatas, magnesium, yang
memberikan elektron pada khlorin, adalah reduktan, dan khlorin, yang menerima
elektron dari magnesium adalah reduktan.
Umumnya, unsur elektropositif seperti logam alkali dan alkali tanah
adalah reduktan kuat, sementara unsur elektronegatif seperti khlorin adalah
oksidan yang baik. Suatu senyawa dapat berlaku sebagai oksidan dan juga
reduktan. Bila senyawa itu mudah mendonorkan elektron pada lawannya,
senyawa ini dapat menjadi reduktan. Sebaliknya bila senyawa ini mudah
menerima elektron, senyawa itu adalah oksidan. Tabel mendaftarkan setengah
reaksi oksidan dan reduktan yang umum.
Tabel Beberapa oksidan dan reduktan
Oksidan
I2(aq) + 2 e-  2I-(aq)
Br2(aq) + 2e-  2Br-(aq)
Cr2O72-(aq) + 14H+(aq) + 6e-  2Cr3+(aq) + 7H2O(l)
Cl2(aq) + 2e-  2Cl-(aq)
MnO4-(aq) + 8H+(aq) + 5e-  Mn2+(aq) + 4H2O(l)
S2O82-(aq) + 2e-  2SO42-(aq)
Reduktan
Zn(s)  Zn2+(aq) + 2e-
H2(g)  2H+(aq) + 2e-
H2S(aq)  2H+(aq) + S(s) + 2e-
Sn2+(aq)  Sn4+(aq) + 2e-
Fe2+(aq)  Fe3+(aq) + 2e-.

12
2.4 Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi adalah muatan formal atom dalam suatu molekul atau
dalam ion yang dialokasikan sedemikian sehingga atom yang keelektronegativan-
nya lebih rendah mempunyai muatan positif. Karena muatan listrik tidak berbeda
dalam hal molekul yang terdiri atas atom yang sama, bilangan oksidasi atom
adalah kuosien muatan listrik netto dibagi jumlah atom. Dalam kasus ion atau
molekul mengandung atom yang berbeda, atom dengan ke-elektronegativan lebih
besar dapat dianggap anion dan yang lebih kecil dianggap kation. Misalnya,
nitrogen berbilangan oksidasi 0 dalam N2; oksigen berbilangan oksidasi -1 dalam
O22-; dalam NO2 nitrogen +4 dan oxygen -2; tetapi dalam NH3 nitrogen -3 dan
hidrogen +1.
Jadi, bilangan oksidasi dapat berbeda untuk atom yang sama yang
digabungkan dengan pasangan yang berbeda dan atom dikatakan memiliki muatan
formal yang sama nilainya dengan bilangan oksidasinya. Walaupun harga nilai
muatan formal ini tidak mengungkapkan muatan sebenarnya, namun nilai ini
sangat memudahkan untuk untuk menghitung elektron valensi dan dalam
menangani reaksi redoks.
Bilangan oksidasi logam dalam senyawa logam transisi dapat bervariasi
dari rendah ke tinggi. Bilangan oksidasi ini dapat berubah dengan reaksi redoks.
Akibat hal ini, jarak ikatan dan sudut ikatan antara logam dan unsur yang
terkoordinasi, atau antar logam, berubah dan pada saat tertentu keseluruhan
struktur kompleks dapat terdistorsi secara dramatik atau bahkan senyawanya
dapat terdekomposisi.Reaksi senyawa logam transisi dengan berbagai bahan
oksidator atau reduktor juga sangat penting dari sudut pandang sintesis.
Khususnya, reaksi reduksi digunakan dalam preparasi senyawa organologam,
misalnya senyawa kluster atau karbonil logam.Sementara itu, studi transfer
elektron antar kompleks, khususnya reaksi redoks senyawa kompleks logam
transisi telah berkembang.
Taube mendapat hadiah Nobel (1983) untuk studi reaksi transfer elektron
dalam kompleks logam transisi dan mengklasifikasikan reaksi ini dalam dua
mekanisme. Mekanisme transfer elektron dengan ligan jembatan digunakan
bersama antara dua logam disebut dengan mekanisme koordinasi dalam, dan

13
mekanisme reaksi yang melibatkan transfer langsung antar logam tanpa ligan
jembatan disebut mekanisme koordinasi luar.
1. Mekanisme koordinasi dalam bila [CoCl(NH3)5]2+ direduksi dengan
[Cr(OH2)6]2+, suatu kompleks senyawa antara, [(NH3)5Co-Cl-Cr(OH2)5]4+,
terbentuk dengan atom khlor membentuk jembatan antara kobal dan
khromium. Sebagai akibat transfer elektron antara khromium ke kobalmelalui
khlor, terbentuk [Co(NH3)5Cl]+, dengan kobal direduksi dari trivalen menjadi
divalen, dan [Cr(OH2)6]3+, dengan khromium dioksidasi dari divalen menjadi
trivalen. Reaksi seperti ini adalah jenis reaksi redoks melalui mekanisme
koordinasi dalam. Anion selain halogen yang cocok untuk pembentukan
jembatan semacam ini adalah SCN-, N3-, CN-,dsb.
2. Mekanisme koordinasi luar. Bila [Fe(phen)3]3+ (phen adalah ortofenantrolin)
direduksi dengan [Fe(CN)6]4- , tidak ada jembatan ligan antar logam dan
elektron berpindah dari HOMO Fe(II) ke LUMO Fe(III) dalam waktu yang
sangat singkat dan kontak langsung antar dua kompleks. Akibat transfer
elektron ini, terbentuk [Fe(phen)3]2+ dan [Fe(CN)6]3-. Reaksi seperti ini adalah
reaksi redoks melalui mekanisme koordinasi luar, dan karakteristik sistem
kompleks yang memiliki laju substitusi ligan yang sangat lambat
dibandingkan dengan laju transfer elektron, khususnya dalam sistem yang
memiliki ligan yang sama tetapi bilangan oksidasi yang berbeda, [Fe(CN) 6]3-
dan [Fe(CN)6]4- yang memiliki laju transfer elektron yang besar. R. A.
Marcus mendapatkan hadiah Nobel (1992) untuk studi mekanisme transfer
elektron koordinasi luar ini.

2.5 Aplikasi Reaksi Redoks dalam Industri


2.5.1 Pendahuluan
Secara umum logam bisa dibedakan atas dua yaitu : logam-logam besi
(ferous) dan logam-logam bukan besi (non feorus). Sesuai dengan namanya
logam-logam besi adalah logam atau paduan yang mengandung besi sebagai unsur
utamanya, sedangkan logam-logam bukan besi adalah logam yang tidak atau
sedikit sekali mengandung besi.

14
Logam-logam besi terdiri atas :
 Besi tuang (cast iron)
 Baja karbon (carbon steel)
 Baja paduan (alloy steel)
 Baja spesial (specialty steel)
Keempat kelompok besi diatas terbagi lagi atas pengelompokan yang lebih
kecil yang diperlihatkan pada tabel 1. Untuk logam bukan besi contohnya adalah
logam dan paduan seperti : aluminium, tembaga, timah, emas, magnesium dsb.
Dalam penggunaannya pada bidang teknik diharuskan memilih bahan
logam yang sesuai dengan keperluan aplikasi dalam hal kekuatan, kekerasan,
kekuatan lelah, ketahan korosi dan sebagainya sehingga dalam pemakaiannya
akan memberikan hasil yang paling optimal.
Sifat-sifat yang diperlukan di dalam aplikasi sangat dipengaruhi oleh
struktur bahan tersebut, sedangkan struktur yang terbentuk dipengaruhi oleh
komposisi kimia, teknik/proses pembuatan serta proses perlakuan panas yang
diberikan kepada logam tersebut. Secara skematik hubungan antara struktur, sifat
mekanik dan kualitas yang diberikan logam diperlihatkan pada gambar 1.
Pada produk rekayasa, selain pengaruh faktor-faktor diatas, kualitasnya
juga dipengaruhi oleh faktor desain (perencanaan) dan kondisi pengoperasian.
Pada dewasa ini penggunaan logam yang paling banyak masih didominasi
oleh logam besi dan paduannya terutama di bidang permesinan. Logam
aluminium dan paduannya juga mengalami penggunaan yang meningkat akhir-
akir ini karena beberapa sifat-sifatnya yang disukai yang salah satunya adalah
bobotnya yang ringan.

15
16
2.5.2 Teknologi Pengolahan Logam
Proses pengolahan logam secara garis besar diperlihatkan pada gambar 2.
Dari gambar tersebut proses pengolahan logam dibagi atas 3 bagian pokok yaitu :
1. Industri hulu : industri yang mengolah bahan tambang berupa biji logam
menjadi logam dasar melalui proses pemurnian dan proses reduksi/peleburan.
2. Industri antara : industri yang mengolah logam dasar baik yang berbentuk
ingot primer atau masih berupa logam cair menjadi produk antara seperti
billet, slab, bloom, rod atau ingot paduan untuk industri pengecoran.
3. Industri hilir : industri yang mengolah lebih lanjut produk industri antara
menjadi produk setengah jadi dan selanjutnya melalui proses pabrikasi dan
pengerjaan akhir menjadi produk jadi.
Proses pengolahan logam pada ke tiga industri tersebut diatas akan
dijelaskan berikut ini, dengan penekanan pada pembuatan besi dan baja serta
pembuatan aluminium.

2.5.3 Proses Pembuatan Besi dan Baja


Secara singkat proses pembuatan besi dan baja dapat dilihat pada gambar
3 dan 4. Uraian singkat mengenai tahapan proses pengolahan besi dan baja
tersebut diuraikan dibawah ini.

17
Diagram alir Proses Pengolahan Logam Dalam Industri.
Asyari Daryus – Proses Produksi Universitas Darma Persada - Jakarta 5

Aliran Proses/Pembuatan Besi & Baja Menurut Kelompok Industri.

18
Proses Pembuatan Besi dan Baja, Mulai Dari Biji Besi Sampai Menjadi Produk
Jadi Dengan Menggunakan Dapur Tinggi (Blast Furnace).

2.5.4 Penambangan dan Pengolahan Biji Besi


Terlihat dari gambar 3 dan 4 bahwa bahan baku awal dalam pembuatan
besi dan baja adalah biji besi (iron core). Biji besi yang didapatkan dari alam
umumnya merupakan senyawa besi dengan oksigen seperti hematite (Fe2O3);
magnetite (Fe3O4); limonite (Fe2O3); atau siderite (Fe2CO3). Pembentukan
senyawa besi oksida tersebut sebagai proses alam yang terjadi selama beribu-ribu
tahun. Kandungan senyawa besi dibumi ini mencapai 5 % dari seluruh kerak bumi
ini.
Penambangan biji besi tergantung keadaan dimana biji besi tersebut
ditemukan. Jika biji besi ada di permukaan bumi maka penambangan dilakukan
dipermukaan bumi (open-pit mining), dan jika biji besi berada didalam tanah
maka penambangan dilakukan dibawah tanah (underground mining). Karena biji
besi didapatkan dalam bentuk senyawa dan bercampur dengan kotoran-kotoran
lainnya maka sebelum dilakukan peleburan biji besi tersebut terlebih dahulu harus
dilakukan pemurnian untuk mendapatkan konsentrasi biji yang lebih tinggi (25 -
40%). Proses pemurnian ini dilakukan dengan metode : crushing, screening, dan

19
washing (pencucian). Untuk meningkatkan kemurnian menjadi lebih tinggi (60 -
65%) serta memudahkan dalam penanganan berikutnya, dilakukan proses
agglomerasi dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Biji besi dihancurkan menjadi partikel-partikel halus (serbuk).
2. Partikel-partikel biji besi kemudian dipisahkan dari kotoran-kotoran dengan
cara pemisahan magnet (magnetic separator) atau metode lainnya.
3. Serbuk biji besi selanjutnya dibentuk menjadi pellet berupa bola-bola kecil
berdiameter antara 12,5 - 20 mm.
4. Terakhir, pellet biji besi dipanaskan melalui proses sinter/pemanasan hingga
o
temperatur 1300 C agar pellet tersebut menjadi keras dan kuat sehingga tidak
mudah rontok.

2.5.5 Proses Reduksi


Tujuan proses reduksi adalah untuk menghilangkan ikatan oksigen dari
biji besi. Proses reduksi ini memerlukan gas reduktor seperti hidrogen atau gas
karbon monoksida (CO).
Proses reduksi ini ada 2 macam yaitu proses reduksi langsung dan proses
reduksi tidak langsung.
a. Proses Reduksi Langsung
Proses ini biasanya digunakan untuk merubah pellet menjadi besi spons
(sponge iron) atau sering disebut: besi hasil reduksi langsung (direct reduced
iron). Gas reduktor yang dipakai biasanya berupa gas hidrogen atau gas CO yang
dapat dihasilkan melalui pemanasan gas alam cair (LNG) dengan uap air didalam
suatu reaktor yaitu melalui reaksi kimia berikut :
CH4 + H2O  CO + 3H2
Dengan menggunakan gas CO atau hidrogen dari persamaan diatas maka
proses reduksi terhadap pellet biji besi dapat dicapai melalui reaksi kimia berikut
ini :
Fe2O3 + 3H2  2Fe + 3H2O atau Fe2O3 + 3CO  2Fe + 3CO2

20
b. Proses Reduksi Tidak Langsung
Proses ini dilakukan dengan menggunakan tungku pelebur yang disebut
juga tanur tinggi (blast furnace). Sketsa tanur tinggi diperlihatkan pada gambar 5.
Biji besi hasil penambangan dimasukkan ke dalam tanur tinggi tersebut dan
didalam tanur tinggi dilakukan proses reduksi tidak langsung yang cara kerjanya
sebagai berikut :
Bahan bakar yang digunakan untuk tanur tinggi ini adalah batu bara yang
telah dikeringkan (kokas). Kokas dengan kandungan karbon (C) diatas 80%, tidak
hanya berfungsi sebagai bahan bakar, tetapi juga berfungis sebagai pembentuk gas
CO yang berfungsi sebagai reduktor. Untuk menimbulkan proses pembakaran
maka ke dalam tanur tersebut ditiupkan udara dengan menggunakan blower
(gambar 5) sehingga terjadi proses oksidasi sebagai berikut :
2C + O2  2CO + Panas
Gas CO yang terjadi dapat menimbulkan reaksi reduksi terhadap biji yang
dimasukkan ke dalam tanur tersebut. Sedangkan panas yang ditimbulkan berguna
untuk mencairkan besi yang telah tereduksi tersebut.
Untuk mengurangi kotoran-kotoran (impuritas) dari logam cair, ke dalam
tanur biasanya ditambahkan sejumlah batu kapur (limestone). Batu kapur tersebut
akan membentuk terak (slag) dan dapat mengikat kotoran-kotoran yang ada
didalam logam cair. Karena berat jenis terak lebih rendah dari berat jenis cairan
besi maka terak tersebut berada dipermukaan logam cair sehingga dapat
dikeluarkan melalui lubang terak (lihat gambar 5).

Gambar 5. Konstruksi sebuah tanur tinggi (Blast Furnace).

21
Besi hasil proses tanur tinggi ini disebut juga besi kasar (pig iron). Besi
kasar ini merupakan bahan dasar untuk membuat besi tuang (cast iron) dan baja
(steel). Komposisi kimia unsur-unsur pemadu dalam besi kasar ini terdiri dari 3-4
%C; 0,06-0,10 %S; 0,10-0,50 %P; 1-3 %Si dan sejumlah unsur-unsur lainnya,
sebagai bahan impuritas. Karena kadar karbonnya tinggi, maka besi kasar
mempunyai sifat yang sangat rapuh dengan kekuatan rendah serta menampakkan
wujud seperti grafit.
Untuk pembuatan besi tuang, besi kasar tersebut biasanya dicetak dalam
bentuk lempengan-lempengan (ingot) yang kemudian di lebur kembali oleh pabrik
pengecoran (foundry). Sedangkan untuk pembuatan baja, besi kasar dalam
keadaan cair langsung dipindahkan dari tanur tinggi ke dalam tungku pelebur
lainnya yang sering disebut: tungku oksigen basa (basic oxygen furnace, atau
disingkat BOF). Dalam tungku BOF ini kadar karbon besi kasar akan diturunkan
sehingga mencapai tingkat kadar karbon baja.

2.5.6 Proses Peleburan Besi Tuang dan Baja


Dilihat dari komposisi kimia yaitu dari unsur-unsur yang terkandung
antara besi tuang dan baja karbon tidak menunjukkan perbedaan (lihat tabel 1).
Tetapi perbedaannya terletak pada kadar karbon (C) dan kadar Silikon (Si) dimana
kadar dari kedua elemen ini dalam besi tuang lebih timggi dari baja karbon.
Karena itu dilihat dari sistem paduan, maka baja karbon termasuk sistem Fe - C,
sedangkan besi tuang termasuk sistem Fe-C-Si.
Karena perbedaan kadar C dan Si tersebut maka struktur dan sifat-sifat
besi tuang berbeda dengan struktur dan sifat-sifat baja karbon. Struktur besi tuang
pada umumnya mengandung grafit sedangkan pada baja tidak terjadi grafit.
Karena adanya grafit ini maka besi tuang mempunyai sifat kurang kuat dan rapuh
sedangkan baja pada umumnya mempunyai sifat kuat dan lebih ulet.
Perbedaan kadar C dan Si menyebabkan titik lebur besi tuang lebih rendah
dari baja, sehingga proses peleburannya berbeda. Berikut ini dijelaskan secara
singkat cara peleburan besi tuang dan baja.

22
a. Proses Peleburan Besi Tuang
Peleburan besi tuang biasanya dilakukan dalam tungku yang sering disebut
Kupola. Bentuk dan konstruksi Kupola tersebut hampir sama dengan konstruksi
tanur tinggi (blast furnace) seperti yang telah ditunjukkan dalam gambar 4. Bahan
baku yang dilebur terdiri dari ingot besi kasar yang dihasilkan dari proses tanur
tinggi, ditambah dengan skrap baja ataupun skrap besi tuang (return scrap).
Disamping itu penambahan bahan-bahan seperti ferosilikon (FeSi) dan
feromangan (FeMn) sering pula dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk menaikkan
kembali kadar Si dan Mn dalam besi tuang karena sebagian dari kedua unsur
tersebut biasanya berkurang (hilang) akibat oksidasi pada saat peleburan.
Bahan bakar yang digunbakan adalah kokas dan dimasukkan ke dalam
Kupola selang seling dengan muatan logam. Proses pembakaran terjadi dengan
meniupkan udara ke dalam Kupola dengan menggunakan Blower. Untuk
mendapatkan proses peleburan yang baik maka perbandingan antara muatan
logam, bahan bakar dan kebutuhan udara harus dijaga sebaik mungkin.
Disamping membutuhkan bahan-bahan seperti yang disebutkan diatas, ke
dalam Kupola juga ditambahkan sejumlah batu kapur. Bahan ini dapat membantu
pembentukan terak (slag) yang dapat mengikat kotoran-kotoran sehingga
memisahkannya dari besi cair.
Proses peleburan besi tuang dengan Kupola biasanya terjadi secara
kontinyu artinya begitu muatan logam mencair maka langsung mengalir keluar
tungku. Logam cair yang keluar dari Kupola ditampung pada alat perapian depan
(forehearth) yang kemudian diangkut dengan menggunakan ladel untuk dituang
ke dalam cetakan. Dengan proses peleburan seperti itu maka sering kali
mempersulit untuk melakukan pengaturan komposisi kimia. Hal ini dapat
mengakibatkan daerah komposisi kimia yang dihasilkan menjadi lebar sehingga
memberikan variasi pula terhadap kualitas produk yang dibuat.
Disamping itu kekurangan lainnya pada proses peleburan dengan Kupola
yaitu logam cair mudah mengalami kontaminasi oleh sulfur atau unsur-unsur
lainnya yang disebabkan oleh bahan bakar kokas. Pengotoran karena sulfur ini
dapat menurunkan sifat-sifat besi tuang.

23
Karena kekurangan-kekurangan di atas, maka dewasa ini banyak pabrik
pengecoran menggunakan tungku listrik untuk menggantikan Kupola. Tungku
listrik yang banyak digunakan adalah dari jenis tungku induksi. Bahan baku yang
dilebur pada umumnya tidak menggunakan besi kasar melainkan sebagian besar
berupa skrap baja atau skrap besi tuang. Peleburan dengan tungku ini dapat
menghasilkan logam cair dengan komposisi kimia yang lebih konsisten dengan
kadar impuritas yang lebih rendah karena bahan baku yang dilebur biasanya
berupa skrap baja, maka untuk menaikkan kadar karbon agar mencapai kadar
yang sesuai untuk besi tuang biasanya dilakukan dengan memasukkan sejumlah
arang kayu ke dalam tungku.
Dalam pemakaian di industri, ada tiga jenis besi tuang yang banyak
digunakan, yaitu : besi tuang kelabu (grey cast iron), besi tuang ulet atau besi
tuang nodular (nodular cast iron) dan besi tuang putih (white cast iron). Ketiga
jenis besi tuang ini mempunyai komposisi kimia yang hampir sama yaitu : 2,55 -
3,5 %C, 1-3 %Si, Mn kurang dari 1% sedangkan S dan P dibatasi antara 0,05-0,10
% (maksimum).
Walaupun komposisi kimianya hampir sama, tetapi karena prosesnya
berbeda maka struktur dan sifat-sifat dari ketiga besi tuang tersebut berbeda.

b. Proses Peleburan Baja


Pada gambar 3 dan 4 ditunjukkan proses peleburan baja dengan
menggunakan bahan baku berupa besi kasar (pig iron) atau berupa besi spons
(sponge iron). Disampin itu bahan baku lainnya yang biasanya digunakan adalah
skrap baja dan bahan-bahan penambah seperti ingot ferosilikon, feromangan dan
batu kapur. Proses peleburan dapat dilakukan pada tungku BOF (Basic Oxygen
Furnace) atau pada tungku busur listrik (Electric Arc Furnace atau disingkat
EAF). Tanpa memperhatikan tungku atau proses yang diterapkan, proses
peleburan baja pada umumnya mempunyai tiga tujuan utama, yaitu :
 mengurangi sebanyak mungkin bahan-bahan impuritas.
 mengatur kadar karbon agar sesuai dengan tingkat grade/spesifikasi baja yang
diinginkan.
 menambah elemen-elemen pemadu yang diinginkan.

24
2.5.7 Proses Peleburan Baja Dengan BOF
Proses ini termasuk proses yang paling baru dalm industri pembuatan baja.
Gambar sketsa dari tungku ini ditunjukkan dalam gambar 7. Terlihat bahwa dalam
gambar tersebut bahwa konstruksi BOF relatif sederhana, bagian luarnya dibuat
dari pelat baja sedangkan dinding bagian dalamnya dibuat dari bata tahan api
(firebrick). Kapasitas BOF ini biasanya bervariasi antara 35 ton sampai dengan
200 ton.
Bahan-bahan utama yang digunakan dalam proses peleburan dengan BOF
adalah: besi kasar cair (65-85%), skrap baja (15-35%), batu kapur dan gas oksigen
(kemurnian 99,5%). Keunggulan proses BOF dibandingkan proses pembuatan
baja lainnya adalah dari segi waktu peleburannya yang relatif singkat yaitu hanya
berkisar sekitar 60 menit untuk setiap proses peleburan.
Tingkat efisiensi yang demikian tinggi dari BOF ini disebabkan oleh
pemakaian gas oksigen dengan kemurnian yang tinggi sebagai gas oksidator
utama untuk memurnikan baja. Gas oksigen dialirkan ke dalam tungku melalui
pipa pengalir (oxygen lance) dan bereaksi dengan cairan logam di dalam tungku.
Gas oksigen akan mengikat karbon dari besi kasar berangsur-angsur turun sampai
mencapai tingkat baja yang dibuat. Disamping itu, selama proses oksidasi
berlangsung terjadi panas yang tinggi sehingga dapat menaikkan temperatur
o
logam cair sampai diatas 1650 C.
Pada saat oksidasi berlangsung, ke dalam tungku ditambahkan batu kapur.
Batu kapur tersebut kemudian mencair dan bercampur dengan bahan-bahan
impuritas (termasuk bahan-bahan yang teroksidasi) membentuk terak yang
terapung diatas baja cair.
Bila proses oksidasi selesai maka aliran oksigen dihentikan dan pipa
pengalir oksigen diangkat/dikeluarkan dari tungku. Tungku BOF kemudian
dimiringkan dan benda uji dari baja cair diambil untuk dilakukan analisa
komposisi kimia.
Bila komposisi kimia telah tercapai maka dilakukan penuangan (tapping).
Penuangan tersebut dilakukan ketika temperatur baja cair sekitar 1600 oC.
Penuangan dilakukan dengan memiringkan perlahan-lahan sehingga cairan baja
akan tertuang masuk kedalam ladel. Di dalam ladel biasanya dilakukan skimming

25
untuk membersihkan terak dari permukaan baja cair dan proses perlakuan logam
cair (metal treatment). Metal treatment tersebut terdiri dari proses pengurangan
impuritas dan penambahan elemen-elemen pemadu atau lainnya dengan maksud
untuk memperbaiki kualitas baja cair sebelum dituang ke dalam cetakan.

2.5.8 Proses Peleburan Baja Dengan EAF


Proses peleburan dalam EAF ini menggunakan energi listrik. Konstruksi
tungku ini ditunjukkan dalam gambar 8. Panas dihasilkan dari busur listrik yang
terjadi pada ujung bawah dari elektroda. Energi panas yang terjadi sangat
tergantung pada jarak antara elektroda dengan muatan logam di dalam tungku.
Bahan elektroda biasanya dibuat dari karbon atau grafit. Kapasitas tungku EAF ini
dapat berkisar antara 2 - 200 ton dengan waktu peleburannya berkisar antara 3 - 6
jam.
Bahan baku yang dilebur biasanya berupa besi spons (sponge iron) yang
dicampur dengan skrap baja. Penggunaan besi spons dimaksudkan untuk
menghasilkan kualitas baja yang lebih baik. Tetapi dalam banyak hal (terutama
untuk pertimbangan biaya) bahan baku yang dilebur seluruhnya berupa skrap
baja, karena skrap baja lebih murah dibandingkan dengan besi spons.

Gambar 7. Gambar sketsa sebuah tungku BOF.

26
Disamping bahan baku diatas, seperti halnya pada proses BOF, bahan-
bahan lainnya yang ditambahkan pada EAF adalah batu kapur, ferosilikon,
feromangan, dan lain-lain dengan maksud yang sama pula.
Proses basa dan asam dapat diterapkan dalam EAF. Untuk pembuatan baja
berupa produk cor maka biasanya digunakan proses asam, sedangkan untuk
pembuatan baja spesial biasanya digunakan proses basa.
Peleburan baja dengan EAF ini dapat menghasilkan kualitas baja yang lebih baik
karena tidak terjadi kontaminasi oleh bahan bakar atau gas yang digunakan untuk
proses pemanasannya.

27
BAB III
KESIMPULAN

Dari makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa:

1. Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang


menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom
dalam sebuah reaksi kimia.
2. Oksidasi adalah proses yang menyebabkan hilangnya satu atau lebih elektron
dari dalam zat. Zat yang mengalami oksidasi menjadi lebih positif.
3. Reduksi adalah proses yang menyebabkan diperolehnya satu atau lebih
elektron oleh suatu zat. Zat yang mengalami reduksi akan menjadi lebih
negatif.
4. Aplikasi redoks ini dalam industri pembuatan baja adalah bertujuan untuk
menghilangkan ikatan oksigen dari biji besi. Proses reduksi ini memerlukan
gas reduktor seperti hidrogen atau gas karbon monoksida (CO).

28
DAFTAR PUSTAKA

Daryus, A., 2008, Diktat Kuliah Proses Produksi, Universitas Darma Persada,
Jakarta

Diaz, R., 2012, Penerapan Konsep Reaksi Redoks Dalam Kehidupan Sehari-Hari,

Fajar, E., Rahayu, S., dkk, 2010, Pengenalan Reaksi Redoks, Universitas
Indonesia Press, Jakarta

29