Anda di halaman 1dari 33

JOURNAL READING

Fatal Diesel Poisoning : A Case Report and Brief Review of Literature

Diajukan guna melengkapi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Dosen Penguji :
dr. Saebani, SKM, M.Kes

Residen Pembimbing :
dr. Marlion Anthonius E

Disusun oleh:
Bangkit Yudha Prawira (03014025)
Muhammad Refan Mahardhitya (03014130)
RizkyYhulianti Safitri (03012238)
Zainab Nasution (1711901064)
Tri Pitaloka (1811901043)

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG
PERIODE 29 April 2019 – 25 Mei 2019
LEMBAR PENGESAHAN
Journal Reading berjudul

Fatal Diesel Poisoning : A Case Report and Brief Review of Literature

Disusun untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Penyusun:

Bangkit Yudha Prawira (03014025)


Muhammad Refan M. (03014130)
RizkyYhulianti Safitri (03012238)
Zainab Nasution (1711901064)
Tri Pitaloka (1811901043)

Telah dipresentasikan pada 16 Mei 2019

Mengetahui,

Dosen Penguji Residen Pembimbing

dr. Saebani, SKM, M.Kes dr. Marlion Anthonius E

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia Nya
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Fatal Diesel Poisoning : A Case Report
and Brief Review of Literature” Penulis menyusun journal reading ini untuk memahami
lebih dalam tentang euthanasia berdasarkan aspek hukum dan kode etik kedokteran Indonesia
dan sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Universitas Universitas Diponegoro di RSUP Dr Kariadi,
Semarang.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter –
dokter pembimbing di RSUP Dr. Kariadi, Semarang, antara lain :

1. dr. Saebani, SKM, M.Kes, sebagai dosen penguji yang telah bersedia meluangkan
waktu.
2. dr. Marlion Anthonius E, sebagai residen pembimbing yang telah memberikan
masukan, petunjuk serta bantuan dalam menyusun referat ini.
3. Kedua orang tua kami, atas bantuan dan doanya
4. Teman-teman yang telah memberikan bantuan baik secara material dan spiritual
kepada penulis dalam menyusun referat ini.
Penulis sadar pembuatan referat ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik yang
membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, kami mengharapkan semoga referat ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Semarang, 15 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................ii

DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

BAB II JOURNAL READING ............................................................................................... 3

2.1 Abstrak......................................................................................................................................... 3

2.2 Pendahuluan ................................................................................................................................ 3

2.3 Riwayat Kasus ............................................................................................................................. 4

2.4 Diskusi .......................................................................................................................................... 5

2.5 Kesimpulan .................................................................................................................................. 9

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................... 11

3.1 Definisi ....................................................................................................................................... 11

3.2 Hidrokarbon .............................................................................................................................. 12

3.3 Jenis Hidrokarbon .................................................................................................................... 13

3.4 Faktor Risiko ............................................................................................................................. 15

3.5 Patofisiologi ............................................................................................................................... 15

3.6 Manifestasi Klinis...................................................................................................................... 18

3.7 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................................................... 20

3.8 Tatalaksana ............................................................................................................................... 21

BAB IV Jurnal Pembanding ................................................................................................. 23


BAB V Kesimpulan……………………………………………………………………….. 28

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi mengenai
perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap organisme/mahluk hidup. Dalam
toksikologi, dipelajari mengenai gejala, mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi
keracunan pada sistem biologis makhluk hidup.1,2
Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang
hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk
hidup dan sistem biologik lainnya. Ia dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat
dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi. Apabila
zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang
berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu
organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di
reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme,
paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila
menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme
biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari

1
suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan
mekanisme biologi pada suatu organisme.2
Toksikologi merupakan ilmu yang sangat luas yang mencakup berbagai disiplin ilmu
yang sudah ada seperti Ilmu Kimia, Farmakologi, Biokimia, Forensik Medicine dan lain-lain.
Toksikologi forensik adalah salah satu dari cabang forensik sein. Meminjam pengertian
Forensic Science dari Saferstein adalah ”the application of science to low”, atau secara umum
dapat dimengerti sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk
penegakan hokum dan keadilan.
Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab
kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Jumlah maupun
jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi denganmakin banyaknya macam-macam zat
pembasmi hama. Selain karena faktor murni kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah
dan jenisnya ini dapat disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan
meracuni seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab Undang-Undang
Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak dijelaskan batasan dari
keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasan- batasan racun menurut beberapa ahli,
untuk tindakan kriminal ini, adanya racun harus dibuktikan demi tegaknya hukum.

2
BAB II

JOURNAL READING

Keracunan Diesel yang Fatal

Sebuah Laporan Kasus dan Ulasan Singkat Literatur

2.1 Abstrak

Hidrokarbon merupakan zat yang mudah menguap yang sering digunakan dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari untuk memasak atau sebagai bahan bakar mobil. Diesel merupakan
salah satu bahan bakal mobil yang umum digunakan yang diperoleh dari minyak mentah.
Kematian yang disebabkan keracunan diesel jarang dilaporkan. Paling sering mengenai
sistem respirasi baik setelah terhirup maupun tertelan. Tanda paling sering adalah pneumonia
kimia atau pneumonia aspirasi dari pasien yang biasanya pulih kembali. Teknik kromatografi
gas membantu dalam mendeteksi zat yang mudah menguap seperti diesel. Disini, kami
melaporkan sebuah kasus yang jarang dari keracunan diesel yang fatal pada pediatrik yang
tidak disengaja.

Kata kunci: keracunan diesel, konsolidasi pneumonia, pneumonia kimia, pneumonia


aspirasi.

2.2 Pendahuluan

Keracunan merupakan masalah kesehatan penting diseruh dunia. Pengenalan obat-


obatan terbaru dan penyalahgunaan zat-zat menyebabkan masalah kesehatan ini menjadi
semakin sulit. Keracunan merupakan hal umum pada semua kelompok umur, namun
perbedaan kelompok umum menunjukkan pola keracunan yang berbeda. Berdasarkan data
dari Sistem Data Racun Nasional (National Poison Data System (NPDS)), pada orang
dewasa, alasan tersering keracunan yang ditemukan adalah ketidaksengajaan, bunuh diri
merupakan alasan tersering saat keracunan yang tidak sengaja, dan jalur paparan utama
adalah mulut. Diantara anak-anak, kelompok usia paling rentan ditemukan pada usia 1
sampai 6 tahun, alasan tersering adalah ketidaksengajaan, dan jalur paparannya adalah mulut.
Hidrokarbon merupakan zat yang mudah menguap yang sering digunakan untuk berbagai
tujuan seperti memasak, lubrikasi, dan bahan bakan mobil. Penggunaan hidrokarbon untuk

3
keperluan komersil biasanya untuk penyulingan minyak bumi dan penyusun utamanya adalah
atom karbon dan hidrogen, yangmana tersusun dalam rantai alifatik atau sebuah cincin
aromatik (benzen). Dari sisi toksikologi, keracunan disebabkan hidrokarbon umumnya terjadi
secara tidak sengaja dan seringkali terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun. Potensial
racun hidrokarbon bergantung pada dosis yang masuk dan juga sifat fisik mereka, seperti
volatilitas, solubilitas, viskositas, dan ketegangan permukaan.

Diesel merupakan hidrokarbon tersering yang sering digunakan pada industri mobil.
Ini ini merupakan campuran yang kompleks terutama didapat dari penyulingan minyak
mentah. Produk ini dinamai dari Dr. Rudolf Diesel, seorang insinyur Jerman, yang pada
tahun 1892, mematenkan sebuah mesin pembakar internal untuk membakar minyak. Kasus
pertama pneumonia akibat aspirasi hidrokarbon dilaporkan oleh Hamilton pada tahun 1897.
Aspirasi hidrokarbon ini menyebabkan jangkauan luas dari tampilan klinisnya mulai dari
suatu ketidaknyamanan bernapas yang ringan hingga berat dari sindrom distres napas akut.
Salah satu tanda umum meliputi pneumonia hidrokarbon juga dikenal sebagai “fire eaters
pneumonia”, yang terjadi setelah aspirasi hidrokarbon viskositas rendah dan volatilitas tinggi.
Meskipun inhalasi merupakan rute utama paparan hidrokarbon yang mudah menguap ini,
aspirasi tak sengaja dapat terjadi setelah tertelan. Toksisitas pulmonal dapat terjadi setelah
tertelan hidrokarbon akibat sifat fisiknya yang berpotensi risiko aspirasi. Pasien
mengembangkan toksisitas pulmonal setelah tertelan hidrokarbon terutama akibat aspirasi
bahan tersebut, bukti dugaan terlihat pada tampaknya gejala-gejala seperti batuk, tercekik,
atau tersedak dalam satu setengah jam setelah tertelan. Kematian merupakan kejadian jarang
terjadi pada 1% kasus.

2.3 RIWAYAT KASUS

Seorang anak berusia satu tahun, anak dari seorang mekanik mobil, yang dibawa ke
rumah sakit kami dengan riwayat mengkonsumsi sekitar 10 sampai 15 mL diesel, yang
ditaruh didalam botol minuman oleh ayahnya. Ayahnya menjadi seorang mekanik yang
sering menggunakan diesel yang ditaruh di dalam botol minuman yang kosong. Ketika dia
melihat anaknya mencoba meminum diesel tersebut, dia merebutnya dari anaknya namun
sejumlah kecil sudah tertelan. Setelah beberapa saat, anak mengalami satu episode muntah
sebelum dia mencapai rumah sakit. Pada saat sudah di rumah sakit, tanda-tanda vitalnya
stabil namun kemudian berkembang menjadi distres napas dengan takipnea, hidung terbakar,

4
retraksi interkosta, dan retraksi subkosta. Analisis gas darah arteri anak tersebut menunjukkan
tanda-tanda asidosis respiratori dengan pH darah 6.7, PaCO2 53.7 mmHg, PaO2 54 mmHg,
dan dikarbonat 4.8 mEq/L. Dia diintubasi dan memakai ventilator bantuan mengingat
kegagalan pernapasan yang akan datang. Pemantauan jantung dari kasus ini dilakukan terus-
menerus. Awalnya, denyut jantung saat istirahat terkontrol dengan baik sekitar 110/menit,
namun kemudian meningkat hingga lebih dari 160/menit, yang mengindikasikan takiaritmia.
Langkah-langkah untuk memperbaiki asidosis dimulai dengan pemberian antibitotik. X-ray
dada menunjukkan adanya konsolidasi pneumonia pada kedua lapang paru, lebih banyak
pada lobus tengah dan lobus bawah paru kanan, lobus apikal pada kedua paru, tidak ada (Gbr.
1), semua mendukung kemungkinan pneumonia aspirasi. Terlepas dari semua tindakan
resusitasi, anak ini meninggal setelah 3 hari.

Pemeriksaan postmortem eksternal tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan internal,


semua organ ditemukan mengalami kongesti. Cavum pleura mengandung sekitar 200mL
cairan berwarna pucat. Mukosa trakea ditemukan kongesti diikuti dengan konsolidasi pada
kedua paru. Cavum abdomen mengandung 300mL cairan berwarna kuning pucat. Perut
mengandung 20mL cairan berwarna kuning dengan kongesti mukosa dan tanpa memancarkan
bau yang tidak biasa. Analisis kimia viscera yang terdiri dari lambung dan isinya, segmen
usus kecil, sedikit liver, setengah bagian kedua ginjal, dan darah, tidak terdeteksi diesel atau
hidrokarbon lainnya ketika di tes dengan metode gas chromatography mass spectroscopy.
Bagian histopatologi dari paru menunjukkan bukti pneumonia dengan dilatasi alveoli (Gbr.
2A), yang terisi oleh neutrofil dan sesekali makrofag (Gbr. 2B). Dinding lambung
menunjukkan kongesti pembuluh darah dan tanda-tanda edema. Berdasarkan riwayat pasien,
tanda-tanda klinis, temuan radiologi, otopsi, dan temuan histopatologi, penyebab kematian
disinyalir asprirasi pneumonia setelah tertelah diesel.

Gambar 1. Opak multipel ruang udara yang tidak jelas terlihat pada bidang paru-paru bilateral, yang lebih
banyak berada di zona tengah dan bawah kanan dengan sedikit dari kedua apeks paru.

2.4 DISKUSI

Diesel merupakan bahan bakar hidrokarbon yang paling sering digunakan dibidang
mobil. Kasus keracunan baik akibat inhalasi maupun tertelan paling sering terjadi secara
tidak sengaja. Kasus seperti ini biasanya terjadi diantara orang-orang yang kebanyakan

5
terlibat dalam industri mobil atau anggota keluarga mereka dengan anak-anak yang sering
menjadi korban.

Studi menunjukkan bahwa anak-anak dibawah usia 5 tahun merupakan korban


tersering dan keracunan tidak sengaja seperti ini umumnya terjadi pada orang-orang kelas
menengah kebawah. Pada kasus kami juga, korban adalah anak berusia 1 tahun yang berasal
dari kelas menengah kebawah. Sumber hidrokarbon pada keracunan yang tidak disengaja
diantara anak-anak pada kebanyakan kasus dimasukkan kedalam botol minuman atau botol
air yang mirip dengan kasus kami dimana dimasukkan kedalam botol minuman.

Absorbsi hidrokarbon kedalam sistem manusia terjadi baik melalui rute tertelan,
inhalasi atau kulit. Data toksikokinetik manusia untuk hidrokarbon masih kurang, dan
kebanyakan pemahaman kami tentang aksinya pada tubuh manusia melalui penelitian in vitro
dan penelitian hewan. Inhalasi merupakan rute utama paparan pada kebanyakan hidrokarbon
yang mudah menguap, dan mereka sebagian besar menembus membran alveolus melalui
difusi pasif. Koefisien partisi merupakan faktor penentu untuk kecepatan, penyebaran
absorbsi, dan distribsi hidrokarbon. Tertelan merupakan rute umum lainnya, dan absorbsi
sepanjang traktus intestinal sebaliknya barkaitan dengan berat molekul hidrokarbon. Kulit
juga bisa terpapar pelarut hidrokarbon, namun jumlahnya untuk dapat diabsorbsi biasanya
dapat diabaikan karena struktur kulit. Berbagai faktor lainnya yang menentukan absorbsi
sepanjang kulit misalnya ketebalannya, intergritas, konsentrasi hidrokarbon, dan konstanta
difusi.

Pada kasus paparan hidrokarbon melalui rute inhalasi, mereka awalnya masuk ke
paru-paru dan kemudian aliran darah, selanjutnya mereka di tranfer kedalam sistem saraf
pusat (SSP). Efek dari hidrokarbon ini di dalam SSP akibat tingginya kandungan lemak
neuron. Kebanyakan hidrokarbon masuk melalui inhalasi memiliki aksi depresi SSP, namun
mekanisme pasti bentuk inhalan hidrokarbon memberikan efek pada SSP belum diketahui.
Paparan inhalasi akut atau kronik terhadap hidrokarbon dapat memberikan tanda-tanda

6
general intoksikasi seperti gejala SSP ringan (pusing, sakit kepala, mual) dan muntah. Nyeri
kepala berat telah dilaporkan oleh individu yang terpapar terhadap bahan bakar diesel selama
10 hari. Anoreksia juga telah dilaporkan setelah paparan kulit dan/atau inhalasi bahan bakar
diesel selama beberapa minggu. Inhalasi akut bahan bakar diesel tampak pada ataksia yang
induksi dosis tententu, peningkatan sensitivitas panas, berubahan kebiasaan, dan tremor pada
mencit. Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa risiko bertahan dari efek neurologis
meningkat ketika paparan terjadi pada ruang terbatas. The Occupational Safety and Health
Administration menetapkan batas paparan 400 bagian per juta (.1600 mg/m3) sulingan
minyak bumi pada udara tempat kerja. Batas ini berdasarkan pada 8 jam, rata-rata waktu
selama 40 jam kerja. Neurasthenia (mis. kelelahan, depresi suasana hati, kurang inisiatif,
pusing, dan gangguan tidur) dan gangguan perhatian dan kecepatan sensorimotorik berkaitan
dengan inhalasi kronik, oral, dan/atau paparan kulit terhadap bahan bakar jet di perusahaan
pekerja.

GAMBAR 2. Bagian histopatologi dari paru menunjukkan bukti pneumonia dengan dilatasi alveoli pada
hematoksilin dan pewarnaan eosin pada kali ke 200 (A), yang diisi dengan neutrofil dan kadang-kadang
makrofag pada hematoksilin dan pewarnaan eosin pada kali ke 400 (B).

Tertelan hidrokarbon dapat menyebabkan gejala seperti muntah, diare, dan nyeri
abdomen. Biasanya, gejala ini bersifat transien dan diobati secara simptomatik. Penyebab
hepatotoksisitas juga sudah dilaporkan pada paparan okupasi kronik terhadap hidrokarbon.
Diesel memiliki sifat iritan pada mukosa gaster, yangmana terlihat pada kasus kami dengan
kongesti mukosa lambung. Tidak banyak tanda gastrointestinal lainnya yang terlihat,
kemungkinan akibat konsumsi dalam jumlah kecil dan muntah terjadi dalam durasi yang
singkat setelah konsumsi. Aspirasi merupakan rute utama cidera hidrokarbon yang tertelan.
Mekanisme aspirasi hidrokarbon adalah kegagalannya dalam membangkitkan reflek batuk.
Sifat fisik yang meningkatkan risiko aspirasi adalah viskositas yang rendah, tegangan
permukaan yang rendah, dan volatilitas yang tinggi. Toksisitas pulmonal setelah hidrokarbon
tertelan tergantung pada sifat-sifat fisik ini, jumlah konsumsi, dan kejadian muntah. Ini
biasanya bermanifestasi secara klinis sebagai mengi, ronki, bronkospasme, takipnea,
hipoksemia, hemoptisis, dan sindrom distres napas akut. Sianosis terbentuk hanya pada 2%
sampai 3% kasus. Pada kasus kami, takipnea dan sindrom distres napas akut terlihat. Temuan
radiologi biasa diobservasi pada kasus ini dari aspirasi hidrokarbon adalah densitas perihilar,
bronchovascular markings, infiltrat bibasilar , konsolidasi pneumonia dan efusi pleura (pada

7
3% kasus). Keterlibatan lobus atas sangat tidak umum. Pada kasus terbaru, x-ray dada
menunjukkan konsolidasi pneumonia pada lobus tengah dan bawah pada kedua lobus,
terutama paru kanan dengan lobus apikal sedikit terkena pada kedua paru. Sesuai Goldfrank,
resolusi radiografi tidak berkaitan dengan resolusi klinis dari perubahan kondisi dan
perubahan radiografi biasanya ketinggalan beberapa hari hingga minggu. Penjelasan diatas
merupakan penjelasan untuk tidak tampaknya temuan-temuan radiologi biasa lainnya pada
kasus ini. Paparan kulit kronik terhadap diesel dapat menyebabkan dermatitis. Kulit atau
membran mukosa yang terpapar hidrokarbon dapat menunjukkan tanda inflamasi ringan atau
luka bakar kimia yang serius. Bagaimanapun, paparan berulang terhadap bahan ini dapat
menyebabkan dermatitis alergi. Huffers yang berulangkali menyalahgunakan bahan ini dapat
mengembangkan eksim perioral, yang dikenal sebagai “glue sniffer's rash”.

Studi kasus dengan riwayat penyalahgunaan hidrokarbon menunjukkan asidosis


metabolik pada lebih dari 87% pasien. Kebanyakan mereka (78%) berkaitan dengan gap
anion normal dalam plasma. Asidosis metabolik hiperkloremik, hipokalemia, dan insufisiensi
renal akut akibat konsentrasi volume ekstraseluler merupakan tanda yang menonjol dari
kasus ini. Asidosis metabolik kebanyakan dianggap sebagai akibat dari asidosis tubularis
distal. Pada kasus kami, ini merupakan paparan akut dan memiliki tanda-tanda pneumotinis
aspirasi bersama dengan kondisi kegagalan respirasi pada anak yang berkembang menjadi
asidosis metabolik.

Keterlibatan jantung sangat umum pada kasus keracunan hidrokarbon. Mereka,


terutama hidrokarbon halogen, memiliki potensi menginduksi aritmia. Studi menunjukkan
bahwa hidrokarbon menyebabkan sensitisasi miokardium, yang dapat menyebabkan aritmia,
namun ini dapat terjadi seringkali ketika ada peningkatan epinefrin. Fenomena ini merujuk
pada “sudden sniffing death”. Selain aritmia, hidrokarbon halogen memiliki efek inotropik
negatif, dromotropik, dan kronotropik pada jaringan jantung. Takiaritmia merupakan
manifestasi klasik dari beberapa kardiotoksisitas yang terkait dengan hidrokarbon, namun
penelitian juga menunjukkan kemungkinan bradiaritmia, blok atrioventrikular, dan disosiasi
atrioventrikular. Pada kasus kami, anak bertahan dari takiaritmia.

Temuan postmortem pada kasus dengan riwayat tertelan hidrokarbon akut atau
inhalasi seringkali akan ditemui tanda-tanda patologi pulmonal. Material biologi seperti isi
lambung, darah, dan urin dianalisis untuk melihat adanya diesel/produk petrolium. Deteksi
menggunakan Headspace gas chromatography dengan split flame ionization/electron

8
merupakan metode sederhana dari skrining jangkauan luas zat yang mudah menguap pada
cairan biologis.

Alternatif lainnya, metode simulated distillation bisa digunakan. Ini merupakan


analisis program temperatur yang menentukan distribusi rentang didih sampel minyak bumi
menggunakan teknik gas kromatografi (gas chromatography (GC)). Gak kromatografi dapat
dikombinasikan dengan spektroskopi masa untuk identifikasi lebih baik. Metode tes
American Society for Testing and Materials umumnya dilakukan untuk mendeteksi produk
petrolium menggunakan GC. Biasanya sangat sulit untuk mendeteksi inhalan hidrokarbon
pada pengujian laboratorium karena volatilitasnya yang tinggi. Mereka tidak terdeteksi pada
pemeriksaan obat-obatan pada urin rutin jika tidak terdapat kecurigaan keracunan akibat
hidrokarbon dan tidak ada tes yang dapat menangkap seluruh kelompok. Inhalan spesifik
dapat dideteksi pada GC jika kromatografi dilakukan dalam 10 jam paparan terhadap volatil
alami. Meskipun demikian, deteksi pada racun yang mudah menguap ini sangat bergantung
pada keterlambatan waktu antara insidensi dan waktu pengumpulan sampel, metode
pengumpulan, metode pengepakan spesimen, pengobatan yang diterima, dan penundaan
kematian. Pada pasien yang mati setelah beberapa hari pengobatan, kesempatan untuk
mendapatkan hasil yang positif pada analisis kimia diabaikan. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa, karena tingginya lipofilisitas dan juga tingginya kandungan lipid pada
otak, yang tampak pada ruang tertutup kranium, terdapat penundaan pelepasan senyawa dari
otak. Oleh karena itu, otak dapat bertindak sebagai sampel yang penting dalam analisis
toksikologi pada kematian akibat hidrokarbon. Bagaimanapun, pada kasus kami, kami gagal
untuk mengirimkan otak, karena ini bukan organ yang sering kami kirimkan untuk analisis
toksikologi. Pada kasus dengan negatif palsu menghasilkan hubungan dengan riwayat kasus,
tampilan klinis dan kemajuan di rumah sakit, temuan radiologi, histopatologi, dan temuan
otopsi telah diananlisis untuk mencapai kesimpulan.

2.5 KESIMPULAN

Kesimpulannya, kami menampilkan kasus pneumonia aspirasi setelah tertelan diesel


yang tidak disengaja. Pada kasus ini, anak bertahan beberapa hari setelah insiden. Ini
mungkin alasan paling mungkin untuk laporan analisis kimia negatif. Temuan otopsi juga
tidak spesifik. Pemeriksaan histopatologi paru-paru, yang menunjukkan tanda-tanda aspirasi
pneumonia seperti halnya temuan radiologi, merupakan temuan yang menguatkan. Oleh

9
karena itu, tanda-tanda klinis, temuan radiologi, dan histopatologi melaporkan bahwa temuan
yang menguatkan ditambah riwayat pasien membantu kita dalam menduga penyebab
kematian. Kami menyimpulkan dengan mengatakan bahwa, pada kasus keracunan diesel,
temuan otopsi biasanya tidak spesifik dan laporan analisis kimia bisa menjadi negatif jika
korban bertahan beberapa hari. Oleh karena itu, dalam skenario seperti ini, informasi
investigatif harus dikombinasikan dengan temuan klinis, radiologi, dan histopatologi untuk
membuat diagnosis yang mendukung keracunan diesel.

10
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi mengenai
perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap organisme/mahluk hidup. Dalam
toksikologi, dipelajari mengenai gejala, mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi
keracunan pada sistim biologis makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk
memprediksi atau mengkaji akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat
terhadap manusia dan lingkungannya.
Toksikologi forensik, adalah penerapan toksikologi untuk membantu investigasi
medikolegal dalam kasus kematian, keracunan maupun penggunaan obat-obatan. Dalam hal
ini, toksikologi mencakup pula disiplin ilmu lain seperti kimia analitik, farmakologi, biokimia
dan kimia kedokteran.
Hal yang menjadi perhatian utama dalam toksikologi forensik bukanlah keluaran
aspek hukum dari investigasi secara toksikologi, namun mengenai teknologi dan teknik
dalam memperoleh serta menginterpretasi hasil seperti: pemahaman perilaku zat, sumber
penyebab keracunan, metode pengambilan sampel dan metode analisa, interpretasi data
terkait dengan gejala/efek atau dampak yang timbul serta bukti-bukti lainnya yang tersedia.
Dengan informasi tersebut serta sampel yang akan diteliti, ahli toksikologi forensik
harus dapat menentukan senyawa toksik apa yang terdapat dalam sampel, dalam konsentrasi
berapa, dan efek yang mungkin terjadi akibat zat toksik tersebut terhadap seseorang (korban).
Dalam mengungkap kasus kejahatan lingkungan, toksikologi forensik digunakan untuk
memahami perilaku pencemar, mengapa dapat bersifat toksik terhadap biota dan manusia,
dan sejauhmana risikonya, serta mengidentifikasi sumber dan waktu pelepasan suatu bahan
pencemar.
Toksikologi forensik adalah salah satu dari cabang ilmu forensik. Menurut Saferstein
yang dimaksud dengan Forensic Science adalah ”the application of science to low”, maka
secara umum ilmu forensik (forensik sain) dapat dimengerti sebagai aplikasi atau
pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk penegakan hukum dan peradilan.
Guna lebih memahami pengertian dan ruang lingkup kerja toksikologi forensik, maka
akan lebih baik sebelumnya jika lebih mengenal apa itu bidang ilmu toksikologi. Ilmu
toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek berbahaya zat kimia atau racun

11
terhadap mekanisme biologis suatu organisme. Racun adalah senyawa yang berpotensi
memberikan efek yang berbahaya terhadap organisme. Sifat racun dari suatu senyawa
ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor, sifat fisiko kimis toksikan tersebut,
kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek
yang ditimbulkan. Tosikologi forensik menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu
toksikologi untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari toksikologi forensik adalah
melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari racun dari bukti fisik dan
menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam ungkapan apakah ada atau tidaknya racun yang
terlibat dalam tindak kriminal, yang dituduhkan, sebagai bukti dalam tindak kriminal
(forensik) di pengadilan. Hasil analisis dan interpretasi temuan analisisnya ini akan dimuat ke
dalam suatu laporan yang sesuai dengan hukum dan perundanganundangan.
Menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP), laporan ini dapat disebut dengan Surat
Keterangan Ahli atau Surat Keterangan. Jadi toksikologi forensik dapat dimengerti sebagai
pemanfaatan ilmu tosikologi untuk keperluan penegakan hukum dan peradilan. Toksikologi
forensik merupakan ilmu terapan yang dalam praktisnya sangat didukung oleh berbagai
bidang ilmu dasar lainnya, seperti kimia analisis, biokimia, kimia instrumentasi,
farmakologitoksikologi, farmakokinetik, biotransformasi.

3.2 Hidrokarbon

Hidrokarbon merupakan senyawa organik paling sederhana yang terdiri dari karbon
dan hidrogen yang berikatan pada kerangka dasarnya yaitu karbon. Hidrokarbon biasanya
merupakan komponen utama dalam banyak jenis bahan bakar dan produk yang digunakan
setiap hari. Hidrokarbon bisa berupa dalam bentuk gas, cairan, padatan, atau polimer.
Paparan atau injeksi zat-zat ini dapat menyebabkan risiko kesehatan yang signifikan.
Toksisitas tergantung pada beberapa faktor termasuk sifat senyawa, viskositas, tegangan
permukaan, volatilitas, dan aditif.1

12
3.3 Jenis Hidrokarbon
Hidrokarbon dibagi menjadi 3 kelompok bagian struktural
1. Aromatik - mengandung cincin benzena (paling beracun) dan digunakan dalam
pelarut dan lem tetapi juga ada dalam cat.

Gambar 1. Hidrokarbon Aromatik


2. Aliphatic – sulingan minyak bumi ditemukan dalam poles, minyak lilin, dan cairan
yang lebih ringan.

Gambar 2. Hidrokarbon Alifalatik


3. Halogenated - berfluorinasi, diklorinasi, atau brominasi, dan digunakan untuk
pendinginan (freon) dan sebagai insektisida dan herbisida.

Gambar 3. Hidrokarbon Halogen

13
Kemampuan hidrokarbon bisa menyebabkan gangguan hemodinamik tergantung dari tiga
faktor yaitu :2
1. Route of exposure

Kontak kulit langsung dapat terjadi, menyebabkan iritasi kulit lokal dan, jarang,
menyebabkan penyakit sistemik. Namun, pajanan yang lama dapat menyebabkan
kerusakan jaringan dan luka bakar kimiawi. Luka bakar kimiawi dengan ketebalan
penuh dapat menyebabkan manifestasi sistemik yang akut. Ingesti dan aspirasi
hidrokarbon juga dapat terjadi, yang dapat menandakan penyakit dan menyebabkan
toksisitas dan morbiditas atau mortalitas.

Gambar 4. Route of Ecposure


2. The Chemical Properties
Sifat kimia hidrokarbon, termasuk volatilitas, viskositas, dan tegangan permukaan,
sangat memengaruhi potensi hidrokarbon akan terjadinya resiko aspirasi. Volatilitas
mengartikan pada tingkat di mana hidrokarbon dapat menguap atau proses
terbentuknya cairan menjadi gas. Bahan kimia dengan volatilitas tinggi memiliki
resiko tinggi pada pulmonary absorption dan dapat menyebabkan depresi sistem
saraf pusat (SSP). Viskositas mengartikan pada kemampuan tahanan aliran.
Viskositas rendah memungkinkan lebih mudahnya penetrasi lebih dalam ke paru-
paru. Kemampuan molekul untuk melekat di sepanjang permukaan adalah tegangan
permukaan. Tegangan permukaan rendah dapat memungkinkan senyawa menyebar
dengan mudah.
3. Amount of Exposure
Paparan hidrokarbon, baik dalam dosis tunggal atau lebih, dapat menentukan efek
SSP sistemik pada pasien.

14
3.4 Faktor Resiko
Paparan hidrokarbon pada pasien yang sakit biasanya akan mempengaruhi dengan
tiga cara. Pertama, mengkonsumsi produk rumah tangga yang tidak disengaja oleh anak-anak.
Kedua, paparan pada kulit atau inhalasi yang terjadi pada para pekerja. Terakhir, inhalasi
hidrokarbon yang disengaja oleh remaja dan orang dewasa sebagai penyalahgunaan obat.
Dalam penelitian American Association of Poison Control Center melaporkan paparan
hidrokarbon termasuk dari 25 paparan paling sering terlibat, yang menunjukkan dari 29.796
orang yang terkena paparan terdapat 24 orang berujung kematian.3
Penelanan hidrokarbon adalah penyebab umum keracunan yang terjadi secara tidak disengaja
pada anak-anak. Di seluruh dunia 5% dari semua keracunan tak disengaja dan sekitar 25%
dari semua kematian pada anak-anak <5 tahun terkait untuk tertelan hidrokarbon (HC).1,2
Anak-anak sering menjadi korban keracunan Hidrokarbon akibat penyimpanan yang kurang
baik dengan menyimpan suatu bahan minuman di wadah tanpa label atau botol air sehingga
sering terjadinya kasus tertelan secara tidak sengaja.4
Teknik yang digunakan dengan inhalasi yang disengaja adalah berupa sniffing,
huffing, and bagging. sniffing lebih kepada menghirup langsung dari wadah dimana zat itu
ada. Huffing lebih kepada merendam handuk atau kain dengan zat tersebut dan
meletakkannya di atas mulut dan hidung untuk menghirupnya. bagging adalah ketika pelaku
menempatkan substansi zat tersebut dalam kantong plastik atau kertas yang kemudian
menghirupnya dengan maksimal. Paparan tidak hanya dapat mempengaruhi sistem
pernapasan dan SSP tetapi juga sistem kardiovaskular, saluran pencernaan, dan ginjal.
Paparan yang mengakibatkan kejang dan kematian biasanya disebabkan oleh gagal napas,
aritmia (kematian mengendus mendadak), atau efek SSP yang parah.4

3.5 Patofisiologi

Paparan hidrokarbon bisa mengakibatkan gangguan secara sistemik , meliputi : 2,3,4

a) Pulmonary Effects
Inhalasi atau aspirasi dapat menyebabkan asthma-like reactive airway syndrome
terkadang bisa juga menyebabkan pneumonitis kimia. Hidrokarbon memiliki sifat
viskositas dan tegangan permukaan cenderung memiliki konsetrasi rendah sedangkan
volatilitas cenderung lebih tinggi maka risiko terjadinya aspirasi dan toksisitas
semakin besar. Hal ini dikarenakan tahanan pada aliran yang bersifat toksik tidak
mampu untuk di cegah sehingga mudah masuk melalui tubuh dan partikel-partikel

15
toksik tidak dapat disaring dalam bentuk yang sederhana di dalam tubuh, yang
berakibat gas toksik akan masuk ke dalam paru-paru dengan merusak kinerja dari
sistem pernafasan. Sehingga pada nantinya bisa menyebabkan pneumonia nekrotikans
berat. Zat kimia tersebut juga dapat mengganggu produksi surfaktan, merusak epitel
saluran napas, septa alveolar, dan kapiler paru, yang menyebabkan peradangan,
atelektasis, dan lain lain. Gejala biasanya muncul sebagai batuk dan / atau sesak
napas.

b) CNS Effects

Efek ke SSP dapat bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Dalam keadaan akut,
depresi umum dapat dilihat dengan bicara cadel, disorientasi, sakit kepala, pusing,
ataksia, sinkop, mual, halusinasi, agitasi, perilaku kekerasan, dan kejang. Mekanisme
yang tepat dimana hidrokarbon mempengaruhi SSP tidak diketahui secara pasti;
Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa hidrokarbon dapat mempengaruhi
NMDA (N-methyl-D-aspartate) , serotonin, nikotinat, reseptor glutamat, saluran ion
tegangan-gated, dan jalur dopamin dan GABA di otak. Beberapa efek juga mungkin
disebabkan oleh metabolisme hidrokarbon menjadi neurotoksin. Paparan yang
berkepanjangan, seperti di tempat kerja, juga dapat menyebabkan neuropati,
pengurangan ukuran otak, dan ensefalopati.

c) Cardiovasculer Effects

Hidrokarbon, sebagian besar dalam bentuk halogenasi, dapat meningkatkan


sensitivitas miokardium terhadap epinefrin, yang mengarah ke ritme yang tidak
beraturan. Mereka juga mungkin memiliki efek inotropik negatif dan efek
dromotropik dan kronotropik pada miokardium. Mekanisme pastinya tidak diketahui
tetapi tampaknya karena fungsi kalsium, kalium, dan saluran natrium yang berubah
dan ketidakseimbangan dalam miokardium. Paparan kronis dapat menunjukkan
murmur yang berhubungan dengan hipertensi pulmonal. Peningkatan rekuensi pada
jantung terjadi akibat meningkatnya produksi katekolamin dalam tubuh.

16
d) Gastrointestinal Effects

Tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan kerusakan epitel, yang
menyebabkan mual, muntah, sakit perut, dan hematemesis. Beberapa pelarut dapat
menyebabkan toksisitas hati. Akibat reaksi dari hidrokarbon sehingga muntah maka
resiko tinggi akan terjadinya aspirasi dan pneumonitis.

e) Kidney Effects

Hidrokarbon (sebagian besar disebabkan oleh toluena) dapat menyebabkan asidosis


metabolik tubulus ginjal, batu saluran kemih, glomerulonefritis, hiperkloremia, dan
hipokalemia. Penyalahgunaan dapat menyebabkan cedera tubulus proksimal dan
distal.

f) Dermatologic Effects

Paparan terhadap kulit dapat menyebabkan iritasi ringan, atau dengan paparan yang
berkepanjangan bisa menyebabkan tampakan seperti luka bakar yang disebabkan oleh
kimiawi mulai dari luka bakar yang ringan hingga berat sehingga meninmulkan gejala
sistemik. Paparan oleh bahan hidrokarbon yang menyebabkan iritasi kulit dikenal
sebagai “glue sniffer's rash.” Lesi kulit dapat muncul sebagai bula atau lepuh.
Manifestasi kulit lainnya termasuk penyakit kuning dan / atau iritasi selaput lendir.

17
Gambar 6. Patofisiologi

3.6 Manifestasi Klinis

Temuan pada sistem Temuan pada sistem saraf Temuan pada sistem GI tract
pernafasan pusat
- Coughing - Headache - Nausea
- Choking - Dizziness - Vomiting
- Tachypnea - Lethargy - Abdominal Pain
- Grunting - Ataxia
- Cyanosis - Seizures
- Rales - Coma
- Wheezing

18
Berikut manifestasi klinis yang terbagi berdasarkan paparan melalui inhalasi berdasarkan
akut dan kronis.

a) Inhalasi Akut
Keracunan pada SSP terjadi dalam tiga tahap. [3] Stadium 1 mencakup efek ringan
yang menurut pengguna menyenangkan, dan karenanya mengarah pada
penyalahgunaan . Efek ini termasuk euforia, kegembiraan, disinhibisi, dan perilaku
impulsif. Namun, stadium 1 juga biasanya disertai sakit kepala, pusing, dan mual,
diikuti oleh disestesia lidah, mati rasa pada kaki, kelemahan otot, tinitus, penglihatan
kabur / diplopia, tremor, dan ataksia. Beberapa pengguna juga dapat menunjukkan
perilaku agresif, mudah marah, amnesia, dan bicara tidak jelas.
Tahap 2 melibatkan depresi SSP. Bicara cadel, kebingungan, dan halusinasi adalah
temuan paling umum pada tahap ini.
Pada tahap 3, depresi SSP yang terlihat pada tahap 2 semakin berkembang menjadi
koma, kejang, dan kemungkinan kematian.
Kematian jantung mendadak dapat terjadi setelah paparan akut berat pada
hidrokarbon konsentrasi tinggi, diikuti oleh aktivitas fisik atau eksitasi ekstrem karena
kepekaan miokard terhadap lonjakan epinefrin akibat kejadian tersebut. Vasospasme
koroner juga dapat terjadi dan bisa berakibat infark miokard akut.

b) Inhalasi Kronis
Temuan yang paling umum dari penggunaan jangka panjang termasuk kelemahan
otot, tremor, dan neuropati perifer. Tidak ada jangka waktu penggunaan yang pasti
telah ditentukan untuk timbulnya tanda-tanda inhalasi kronis. Namun, sebagian besar
tanda-tanda tidak berkembang sampai orang telah menghirup hidrokarbon dua hingga
tiga kali seminggu selama sekitar 6 bulan. (3)
Penggunaan kronis menyebabkan gangguan memori dan dapat membuat
pengguna berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kejiwaan. Dalam satu penelitian
pengguna inhalansia pada dewasa dengan prevalensi adalah sebagai berikut 3:
- Gangguan mood - 48%
- Gangguan kecemasan - 36%
- Gangguan kepribadian - 45%

19
3.7 Pemeriksaan Penunjang

a) Darah lengkap
Paparan benzen kronis dapat menghasilkan leukemia myelogenous akut atau anemia
aplastik. Dalam konsumsi akut, leukositosis dapat terjadi. Anemia dapat terjadi
sebagai akibat dari hemolisis intravaskular. Pemerisaksaan darah lengkap harus
anjurkan dalam pemeriksaan penunjang jika ada kekhawatiran atas temuan di atas.
Namun, tidak perlu dilakukan pemeriksaan darah lengkap secara rutin di semua
paparan hidrokarbon.5
b) Kimia
Pemeriksaan dasar dalam menilai metabolisme dasar berupa nilai dari kreatinin,
glukosa, elektrolit, dan celah anion. Setiap pasien yang terjadi intoksikasi dilakukan
pemeriksaan kadar glukosa serum secepatnya.5
Anion gap kemungkinan tidak begitu berpengaruh, tetapi pada keracunan toluena
akut, akan didapatkan peningkatan anion gap. Adanya anion gap, terutama jika
dikaitkan dengan asidosis yang terjadi pada pasien intoksikasi, harus segera dievaluasi
untuk mengetahui etiologi lain (misalnya, metanol, etilen glikol, salisilat).5
Gagal ginjal akut setelah konsumsi hidrokarbon masif jarang terjadi. Pengujian
tingkat transaminase hati harus dilakukan, karena ini dapat meningkat setelah
konsumsi hidrokarbon (terutama hidrokarbon terhalogenasi).5
Level serum creatine kinase (CK) harus diperiksa, karena rhabdomyolysis akut telah
dilakukan penilitian bahwa rhabdomyolysis akut berhubungan dengan keracunan
hidrokarbon terisolasi.5
c) Pemeriksaan Radiologi
Pasien yang asimptomatik (mis., Tidak ada batuk atau tanda / gejala gangguan
pernapasan) tidak harus mendapatkan radiografi dada segera. Dalam kasus akut tidak
akan ada gambaran spesifik pada semua pemeriksaan radiologi. Namun dengan
aspirasi bisa didapatkan temuan yang berupa infiltrat unilateral/bilateral, biasanya di
lobus tengah dan bawah, bronkogram udara, pneumatocele, atelektasis, dan efusi
pleura. Kelainan ini dapat bertahan selama berbulan-bulan. 5
Jika pasien dengan tanpa adanya gejala makan pemulangan atau rawat jalan pada
pasien bisa dipertimbangkan, dengan syarat rontgen dada harus diperoleh 6 jam
setelah paparan untuk mendokumentasikan tidak didapatkannya kelainan pada
temuan. 5

20
Pada MRI, kelainan yang diduga berhubungan dengan paparan inhalan yang paling
umum meliputi perubahan substansia alba dan kelainan subkortikal di thalamus,
ganglia basal, pons, dan otak kecil. Kelainan ini kemungkinan disebabkan oleh
kerusakan aksonal dan gliosis, meskipun mekanismenya tidak jelas. Temuan ini
cenderung mulai di daerah periventrikular, kemudian meluas ke substansia alba di
subkortikal. 5
d) Pemeriksaan lainnya
Setelah inhalasi akut, hidrokarbon biasanya tidak langsung terdeteksi pada skrining
pertama, meskipun spesifik dideteksi pada kromatografi gas yang dilakukan dalam
waktu 10 jam setelah paparan. Dengan paparan metilen klorida (misal, paparan
pekerjaan dari pengupasan cat), konsentrasi karboksihemoglobin akan meningkat.
Jika riwayat menunjukkan paparan hidrokarbon terhalogenasi, tes fungsi hati harus
dilakukan untuk mengevaluasi tanda-tanda cedera hati.5
Kromatografi gas merupakan jenis kromatografi yang umum digunakan dalam
analisis kimia untuk pemisahan dan analisis senyawa yang dapat menguap tanpa
mengalami dekomposisi. Penggunaan umum KG mencakup pengujian kemurnian
senyawa tertentu, atau pemisahan komponen berbeda dalam suatu campuran (kadar
relatif komponen tersebut dapat pula ditentukan). Dalam beberapa kondisi, KG dapat
membantu mengidentifikasi senyawa. Dalam kromatografi preparatif, KG dapat
digunakan untuk menyiapkan senyawa murni dari suatu campuran.5

3.8 Tatalaksana

Perawatan dini harus didasarkan pada temuan dan harus memperhatikan pada
kemungkinan gagal napas atau gagal jantung. Tenaga medis yang ada harus siap untuk
memberikan penanganan kegawatdaruratan pada jalan napas saat dibutuhkan, menggunakan
teknik noninvasif atau invasif. Beta-agonists dapat digunakan jika ditemukan wheezing. Jika
toksisitas paru yang berat ,segera lakukan intubasi karena pasien dapat melakukan
dekompensasi dengan cepat. Tekanan ekspirasi akhir positif yang tinggi umumnya
diindikasikan untuk mempertahankan alveoli. Antibiotik mungkin diperlukan jika diduga ada
infeksi. Mereka yang mengalami gejala kardiovaskular akan membutuhkan hidrasi cairan
intravena yang agresif dalam kasus hipotensi. Disritmia ventrikel harus diobati dengan beta-
blocker untuk mencegah peningkatan katekolamin. Katekolamin seperti epinefrin harus

21
dihindari mengingat peningkatan sensitivitas sistem konduksi yang terkait dengan
hidrokarbon.

Pasien yang terkena paparan kulit perlu pakaiannya dilepas dan didekontaminasi dengan
sabun dan air hangat. Kewaspadaan kontak harus digunakan untuk keselamatan staf dan
penyedia. Jika pasien mengalami gelisah, bisa diberikan benzodiazepin. Gejala GI umumnya
tidak memerlukan perawatan. Pengendalian racun lokal harus dikonsultasikan sebelum
memulai dekontaminasi GI. CHAMP pneumonik sangat membantu dalam menentukan
konsumsi serius mengancam jiwa.

 C - Camphor
 H - Halogenated hydrocarbons
 A - Aromatic hydrocarbons
 M - Metals
 P - Pesticides

Hidrokarbon terhalogenasi dapat menyebabkan disritmia dan hepatotoksisitas, dimana


hidrokarbon aromatik dapat menyebabkan penekanan padasumsum tulang dan kanker.5

22
BAB IV

Jurnal Pembanding

Judul jurnal Pendahuluan Studi Kasus Kesimpulan


Fatal Case of Aspirasi hidrokarbon Seorang laki-laki berusia 18 tahun secara tidak sengaja Kasus ini menyoroti
Hydrocarbon yang mengarah ke mengonsumsi diesel saat menyedot dari tangki bahan fakta bahwa
Aspiration and keadaan fatal sangat bakar truk. Mengeluh mengalami peningkatan sesak napas penyelidikan
Use of Lipoid jarang (dalam kisaran dan nyeri dada. Pada pemeriksaan, pasien mengalami histopatologis 'sel lipoid'
Cells as 1%). buku teks takipnea. Dia mengalami dispnea saat istirahat. Mengi dapat membantu dalam
Corroborative standar toksikologi bilateral muncul. Refleks batuk lemah. Foto thoraks otopsi diagnosis aspirasi
Finding for dan patologi forensik menunjukkan konsolidasi bilateral zona tengah dan hidrokarbon di mana
Rapid Autopsy memberikan sedikit bawah. Pasien diberikan inhalasi oksigen, analgesik, dan pasien meninggal
Diagnosis in informasi mengenai antibiotik intravena. Namun, kondisi pasien memburuk setelah 4-5 hari
Cases of aspirasi hidrokarbon dan ia tetap menggunakan bantuan ventilator pada hari ke- perawatan dan
Delayed Death dan temuan otopsi. 2. Terlepas dari semua tindakan resusitasi, pasien kemungkinan
Ini mungkin karena meninggal dunia setelah 5 hari perawatan. Pemeriksaan mendapatkan hasil
tingkat kematian postmortem dilakukan. Rigor mortis telah menyebar di positif pada analisis
yang rendah dalam seluruh tubuh. Rajah kuku jari menunjukkan perubahan kimia dapat diabaikan.
aspirasi hidrokarbon warna kebiruan. Tanda garis intravena hadir pada kedua Meskipun kematian
lengan. Tidak ada luka lain yang terlihat. jarang terjadi,
Pada pemeriksaan internal, semua organ internal pengobatan harus
tersumbat. Rongga pleura menunjukkan perlengketan dimulai sedini mungkin
pleura bilateral dan berisi 100 ml cairan . Kedua paru-paru dalam semua kasus
dikonsolidasikan. Berat kedua paru meningkat dengan simtomatik.
paru kanan seberat 834 g dan paru kiri 728 g. Permukaan
hati menunjukkan perdarahan petekie yang terdistribusi
dengan baik. Perut mengandung 20 ml cairan berwarna
coklat tanpa bau yang tidak biasa dan hemoragik mukosa.
Pemeriksaan histopatologis jaringan paru menunjukkan
adanya sel lipoid dengan gambaran sugestif kongesti,
edema, nekrosis hemoragik, perubahan emfisematosa, dan
fitur fokus konsolidasi.
“Diesel Pneumonia lipoid Seorang pasien pria berusia 40 tahun datang dengan Pneumonia lipoid harus
siphoner’s adalah bentuk riwayat demam berulang yang berhubungan dengan batuk selalu dipertimbangkan

23
lung”: pneumonia yang berdahak selama 18 bulan. Tidak ada riwayat penurunan dalam daftar diagnosis
Exogenous tidak biasa yang berat badan, nyeri dada, mengi atau napas pendek, tidak banding sambil
lipoid disebabkan oleh ada riwayat TBC di masa lalu. Dia telah dirawat dengan menangani pasien
pneumonia aspirasi zat beberapa antibiotik selama 1 tahun terakhir dan terapi dengan pneumonia yang
following berlemak. Diagnosis antitubercular empiris juga telah diberikan. Pemeriksaan tidak terselesaikan.
hydrocarbon pasti dicapai dengan fisik secara umum biasa-biasa saja, pemeriksaan sistemik Diperlukan indeks
aspiration adanya makrofag normal, Parameter laboratorium dasar berada dalam batas kecurigaan yang tinggi
lipid intra-alveolar normal, tidak ada leukositosis. Tes fungsi hati dan ginjal untuk mendiagnosis
dan lipid sarat dan gas darah arteri dalam batas normal. Kultur sputum kondisi tersebut karena
histopatologi. negatif untuk pertumbuhan bakteri, mikobakteri atau riwayat pajanan tidak
Meskipun data jamur. Radiografi toraks menunjukkan infiltrat paru selalu muncul terutama
tentang kejadian bilateral, lebih banyak di zona kiri bawah dan computed dalam kasus kronis.
pneumonia lipoid tomography (CT) thorax menunjukkan area multifokal
yang tepat masih dari konsolidasi atenuasi rendah terutama di lobus kiri
kurang, kejadiannya bawah. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
telah dilaporkan 1,0- mediastinum, pneumotoraks atau efusi pleura /
2,5% dalam studi perikardial. Pemeriksaan cairan bronchoalveolar lavage
otopsi. Indeks (BAL) dan biopsi paru-paru bronkoskopi menunjukkan
kecurigaan dan makrofag sarat lipid dalam alveoli dan interstitium, yang
diagnosis dini yang memastikan diagnosis pneumonia lipoid
tinggi dapat
membantu
menghentikan
perkembangan
penyakit dengan
menghindari pajanan
lebih lanjut pada
agen penyebab dan
memungkinkan
manajemen yang
tepat dan tepat
waktu.

Hydrocarbon Tertelannya Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dibawa ke gawat Prognosis biasanya baik
hidrokarbon adalah darurat dengan serangan demam, lesu, batuk, dan nyeri pada anak-anak dengan
Poisoning
penyebab umum dada yang mendadak. Keadaan anak normal sampai 3 jam keracunan hidrokarbon.
keracunan tak yang lalu ketika ibunya memperhatikan dia menyeruput Sebagian besar anak-

24
disengaja pada anak- dari botol yang berisi minyak tanah. Pada pemeriksaan, ia anak juga memiliki
anak. Di seluruh lesu, sianosis, takipnea dengan nafas cuping hidung dan resolusi lengkap dari
dunia 5% dari semua retraksi dada. Saturasi nafas nya 85% dan auskultasi dada temuan radiologis.
keracunan tak di dapatkan wheezing dan rhonchi.
disengaja dan sekitar
25% dari semua
kematian pada anak-
anak <5 tahun terkait
dengan konsumsi
hidrokarbon (HC).
Anak-anak sering
menjadi korban
keracunan HC karena
produk-produk ini
secara tidak tepat
disimpan dalam
wadah yang tidak
berlabel atau botol
air dan sering
berwarna menarik.
Hidrokarbon adalah
kelompok beragam
zat yang secara luas
diklasifikasikan
menjadi dua jenis
berdasarkan efek
klinisnya:
1) HC dengan
potensi aspirasi
dominan: minyak
tanah, bensin, nafta,
dan minyak mineral
segel
2) HC dengan
toksisitas sistemik di
samping potensi

25
aspirasinya:
trichloroethane,
methyl chloride,
benzene, toluene,
xylene.

26
BAB V
KESIMPULAN

Toksikologi adalah studi mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat
terhadap organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala,
mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistim biologis makhluk hidup.
Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau mengkaji akibat yang berkaitan
dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap manusia dan lingkungannya.
Toksikologi forensik berperan dalam melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif
dari racun dari bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya. Pemeriksaan laboratorium
forensik mempunyai peranan yang penting dalam membantu proses tindak kriminal pada
kasus kematian yang diduga karena keracunan.
Jenis-jenis racun dapat dibagi berdasarkan sumber, tempat dimana racun tersebut
didapat, dan efek kerja yang dihasilkan. Kelainan atau perubahan yang terjadi pada korban
yang meninggal karena keracunan dapat mengetahui jenis racun yang terdapat dalam
tubuhnya. Karena setiap jenis racun memiliki tanda dan gejala keracunan yang berbeda.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. I.M.A. Gelgel Wirasuta. 2009. Analisis Toksikologi Forensik. http://gelgel-


wirasuta.blogspot.com/2009/12/analisis-toksikologi-forensik.html. Diunduh tanggal 21
Agustus 2011
2. DiMaio VJ, DiMaio Dominick. 2001. Forensic Pathology 2nd ed. New York: CRC Press
3. Anonim. Pencegahan Keracunan Secara Umum.
http://www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/CegahRacunUmum.pdf
4. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997. Ilmu
Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta
5. Abdul Mun’im Idries. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama.
Binarupa Aksara
6. Mukono. 2009. Arsen (As), Dampak terhadap Kesehatan Serta Penanggulangannya.
http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/arsen-as-dampak-terhadap-kesehatan-serta-
penanggulangannya-prof drdrhjmukonomsmph/
7. Spheherd R. 2003. Simpson’s Forensic Medicine 12th ed. London: Arnold Publishers
8. Anonim. 2008. Macam/Jenis Narkotika Yang Sering Disalahgunakan/Dipakai - Ganja,
Opium, Kokain, Morfin, Heroin, Dkk.http://organisasi.org/macam-jenis-narkotika-yang-
sering-disalahgunakan-dipakai-ganja-opium-kokain-morfin-heroin-dkk. Diunduh tanggal
29 Oktober 2013
9. Wirasuta, M. G, Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis,
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55
10. Bell, S. Forensic Chemistry. Pearson Education Inc., 2006
11. Budiawan. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus Keracunan dan
Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008;
1(1):35-39
12. Kim CS, Kim SS, Bae EH, Ma SK, Kim SW. Acute kidney injury due to povidone-iodine
ingestion: A case report. Medicine (Baltimore). 2017 Dec;96(48):e8879. [PMC free
article] [PubMed]
13. Ghezzi M, Odoni M, Testagrossa O, Messina D, Ruocco JD, Lovati C, Kantar A.
Pneumonia in a Teenager Hiding a Fire-Eating Stunt. Pediatr Emerg Care. 2017 Nov 27;
[PubMed]

28
14. Johnson J, Williams K, Banner W. Adolescent with prolonged toxidrome. Clin Toxicol
(Phila). 2017 Jun;55(5):364-365. [PubMed]
15. Mygatt J, Amani M, Ng P, Benson B, Pamplin J, Cancio L. Hydrocarbon Enema: An
Unusual Cause of Chemical Burn. J Burn Care Res. 2017 Sep/Oct;38(5):e872-e876.
16. Mowry JB, Spyker DA, Brooks DE, Zimmerman A, Schauben JL. 2015 Annual Report of
the American Association of Poison Control Centers' National Poison Data System
(NPDS): 33rd Annual Report. Clin Toxicol (Phila). 2016 Dec. 54 (10):924-1109.

29