Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi

mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap

organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala,

mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistem biologis

makhluk hidup.1,2

Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan sebagai

kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai

bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Ia dapat juga

membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek tersebut

sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi. Apabila zat kimia

dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang

berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu

pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis,

konsentrasi racun di reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi

bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk

efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila menggunakan istilah toksik atau

toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek

berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat
kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan

mekanisme biologi pada suatu organisme.2

Toksikologi merupakan ilmu yang sangat luas yang mencakup berbagai

disiplin ilmu yang sudah ada seperti Ilmu Kimia, Farmakologi, Biokimia,

Forensik Medicine dan lain-lain. Toksikologi forensik adalah salah satu dari

cabang forensik sein. Meminjam pengertian Forensic Science dari Saferstein

adalah ”the application of science to low”, atau secara umum dapat dimengerti

sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk penegakan

hokum dan keadilan.

Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah

satu penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat

diabaikan. Jumlah maupun jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi

denganmakin banyaknya macam-macam zat pembasmi hama. Selain karena faktor

murni kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah dan jenisnya ini dapat

disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan meracuni

seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab Undang-Undang

Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak dijelaskan

batasan dari keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasan- batasan racun

menurut beberapa ahli, untuk tindakan kriminal ini, adanya racun harus

dibuktikan demi tegaknya hukum.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi

mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap

organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala,

mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistim biologis

makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau mengkaji

akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap manusia dan

lingkungannya.

Toksikologi forensik, adalah penerapan toksikologi untuk membantu

investigasi medikolegal dalam kasus kematian, keracunan maupun penggunaan

obat-obatan. Dalam hal ini, toksikologi mencakup pula disiplin ilmu lain seperti

kimia analitik, farmakologi, biokimia dan kimia kedokteran.

Hal yang menjadi perhatian utama dalam toksikologi forensik bukanlah

keluaran aspek hukum dari investigasi secara toksikologi, namun mengenai

teknologi dan teknik dalam memperoleh serta menginterpretasi hasil seperti:

pemahaman perilaku zat, sumber penyebab keracunan, metode pengambilan

sampel dan metode analisa, interpretasi data terkait dengan gejala/efek atau

dampak yang timbul serta bukti-bukti lainnya yang tersedia.

.
Dengan informasi tersebut serta sampel yang akan diteliti, ahli toksikologi

forensik harus dapat menentukan senyawa toksik apa yang terdapat dalam sampel,

dalam konsentrasi berapa, dan efek yang mungkin terjadi akibat zat toksik

tersebut terhadap seseorang (korban). Dalam mengungkap kasus kejahatan

lingkungan, toksikologi forensik digunakan untuk memahami perilaku pencemar,

mengapa dapat bersifat toksik terhadap biota dan manusia, dan sejauhmana

risikonya, serta mengidentifikasi sumber dan waktu pelepasan suatu bahan

pencemar.

Toksikologi forensik adalah salah satu dari cabang ilmu forensik. Menurut

Saferstein yang dimaksud dengan Forensic Science adalah ”the application of

science to low”, maka secara umum ilmu forensik (forensik sain) dapat dimengerti

sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk penegakan

hukum dan peradilan.

Guna lebih memahami pengertian dan ruang lingkup kerja toksikologi

forensik, maka akan lebih baik sebelumnya jika lebih mengenal apa itu bidang

ilmu toksikologi. Ilmu toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan

efek berbahaya zat kimia atau racun terhadap mekanisme biologis suatu

organisme. Racun adalah senyawa yang berpotensi memberikan efek yang

berbahaya terhadap organisme. Sifat racun dari suatu senyawa ditentukan oleh:

dosis, konsentrasi racun di reseptor, sifat fisiko kimis toksikan tersebut, kondisi

bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk

efek yang ditimbulkan. Tosikologi forensik menekunkan diri pada aplikasi atau

pemanfaatan ilmu toksikologi untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari


toksikologi forensik adalah melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari

racun dari bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam ungkapan

apakah ada atau tidaknya racun yang terlibat dalam tindak kriminal, yang

dituduhkan, sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan. Hasil

analisis dan interpretasi temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu

laporan yang sesuai dengan hukum dan perundanganundangan.

Menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP), laporan ini dapat disebut

dengan Surat Keterangan Ahli atau Surat Keterangan. Jadi toksikologi forensik

dapat dimengerti sebagai pemanfaatan ilmu tosikologi untuk keperluan penegakan

hukum dan peradilan. Toksikologi forensik merupakan ilmu terapan yang dalam

praktisnya sangat didukung oleh berbagai bidang ilmu dasar lainnya, seperti kimia

analisis, biokimia, kimia instrumentasi, farmakologitoksikologi, farmakokinetik,

biotransformasi.

PENDAHULUAN

Hidrokarbon merupakan senyawa organik paling sederhana yang terdiri dari


karbon dan hidrogen yang berikatan pada kerangka dasarnya yaitu karbon.
Hidrokarbon biasanya merupakan komponen utama dalam banyak jenis bahan
bakar dan produk yang digunakan setiap hari. Hidrokarbon bisa berupa dalam
bentuk gas, cairan, padatan, atau polimer. Paparan atau injeksi zat-zat ini dapat
menyebabkan risiko kesehatan yang signifikan. Toksisitas tergantung pada
beberapa faktor termasuk sifat senyawa, viskositas, tegangan permukaan,
volatilitas, dan aditif.1

JENIS HIDROKARBON
Hidrokarbon dibagi menjadi 3 kelompok bagian struktural
1. Aromatik - mengandung cincin benzena (paling beracun) dan digunakan
dalam pelarut dan lem tetapi juga ada dalam cat.

Gambar 1. Hidrokarbon Aromatik


2. Aliphatic – sulingan minyak bumi ditemukan dalam poles, minyak lilin,
dan cairan yang lebih ringan.

Gambar 2. Hidrokarbon Alifalatik


3. Halogenated - berfluorinasi, diklorinasi, atau brominasi, dan digunakan
untuk pendinginan (freon) dan sebagai insektisida dan herbisida.

Gambar 3. Hidrokarbon Halogen

Kemampuan hidrokarbon bisa menyebabkan gangguan hemodinamik tergantung


dari tiga faktor yaitu :2
1. Route of exposure
Kontak kulit langsung dapat terjadi, menyebabkan iritasi kulit lokal dan,
jarang, menyebabkan penyakit sistemik. Namun, pajanan yang lama dapat
menyebabkan kerusakan jaringan dan luka bakar kimiawi. Luka bakar
kimiawi dengan ketebalan penuh dapat menyebabkan manifestasi sistemik
yang akut. Ingesti dan aspirasi hidrokarbon juga dapat terjadi, yang dapat
menandakan penyakit dan menyebabkan toksisitas dan morbiditas atau
mortalitas.

Gambar 4. Route of Ecposure


2. The Chemical Properties
Sifat kimia hidrokarbon, termasuk volatilitas, viskositas, dan tegangan
permukaan, sangat memengaruhi potensi hidrokarbon akan terjadinya
resiko aspirasi. Volatilitas mengartikan pada tingkat di mana hidrokarbon
dapat menguap atau proses terbentuknya cairan menjadi gas. Bahan kimia
dengan volatilitas tinggi memiliki resiko tinggi pada pulmonary
absorption dan dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat (SSP).
Viskositas mengartikan pada kemampuan tahanan aliran. Viskositas
rendah memungkinkan lebih mudahnya penetrasi lebih dalam ke paru-
paru. Kemampuan molekul untuk melekat di sepanjang permukaan adalah
tegangan permukaan. Tegangan permukaan rendah dapat memungkinkan
senyawa menyebar dengan mudah.
3. Amount of Exposure
Paparan hidrokarbon, baik dalam dosis tunggal atau lebih, dapat
menentukan efek SSP sistemik pada pasien.
EPIDEMIOLOGI
Paparan hidrokarbon pada pasien yang sakit biasanya akan mempengaruhi dengan
tiga cara. Pertama, mengkonsumsi produk rumah tangga yang tidak disengaja oleh
anak-anak. Kedua, paparan pada kulit atau inhalasi yang terjadi pada para pekerja.
Terakhir, inhalasi hidrokarbon yang disengaja oleh remaja dan orang dewasa
sebagai penyalahgunaan obat. Dalam penelitian American Association of Poison
Control Center melaporkan paparan hidrokarbon termasuk dari 25 paparan paling
sering terlibat, yang menunjukkan dari 29.796 orang yang terkena paparan
terdapat 24 orang berujung kematian.3
Penelanan hidrokarbon adalah penyebab umum keracunan yang terjadi secara
tidak disengaja pada anak-anak. Di seluruh dunia 5% dari semua keracunan tak
disengaja dan sekitar 25% dari semua kematian pada anak-anak <5 tahun terkait
untuk tertelan hidrokarbon (HC).1,2 Anak-anak sering menjadi korban keracunan
Hidrokarbon akibat penyimpanan yang kurang baik dengan menyimpan suatu
bahan minuman di wadah tanpa label atau botol air sehingga sering terjadinya
kasus tertelan secara tidak sengaja.4

Teknik yang digunakan dengan inhalasi yang disengaja adalah berupa sniffing,
huffing, and bagging. sniffing lebih kepada menghirup langsung dari wadah
dimana zat itu ada. Huffing lebih kepada merendam handuk atau kain dengan zat
tersebut dan meletakkannya di atas mulut dan hidung untuk menghirupnya.
bagging adalah ketika pelaku menempatkan substansi zat tersebut dalam kantong
plastik atau kertas yang kemudian menghirupnya dengan maksimal. Paparan tidak
hanya dapat mempengaruhi sistem pernapasan dan SSP tetapi juga sistem
kardiovaskular, saluran pencernaan, dan ginjal. Paparan yang mengakibatkan
kejang dan kematian biasanya disebabkan oleh gagal napas, aritmia (kematian
mengendus mendadak), atau efek SSP yang parah.4
PATOFISIOLOGI

Paparan hidrokarbon bisa mengakibatkan gangguan secara sistemik , meliputi :


2,3,4

a) Pulmonary Effects

inhalasi atau aspirasi dapat menyebabkan asthma-like reactive airway


syndrome terkadang bisa juga menyebabkan pneumonitis kimia.
Hidrokarbon memiliki sifat viskositas dan tegangan permukaan cenderung
memiliki konsetrasi rendah sedangkan volatilitas cenderung lebih tinggi
maka risiko terjadinya aspirasi dan toksisitas semakin besar. Hal ini
dikarenakan tahanan pada aliran yang bersifat toksik tidak mampu untuk
di cegah sehingga mudah masuk melalui tubuh dan partikel-partikel toksik
tidak dapat disaring dalam bentuk yang sederhana di dalam tubuh, yang
berakibat gas toksik akan masuk ke dalam paru-paru dengan merusak
kinerja dari sistem pernafasan. Sehingga pada nantinya bisa menyebabkan
pneumonia nekrotikans berat. Zat kimia tersebut juga dapat mengganggu
produksi surfaktan, merusak epitel saluran napas, septa alveolar, dan
kapiler paru, yang menyebabkan peradangan, atelektasis, dan lain lain.
Gejala biasanya muncul sebagai batuk dan / atau sesak napas.

b) CNS Effects
Efek ke SSP dapat bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Dalam
keadaan akut, depresi umum dapat dilihat dengan bicara cadel,
disorientasi, sakit kepala, pusing, ataksia, sinkop, mual, halusinasi, agitasi,
perilaku kekerasan, dan kejang. Mekanisme yang tepat dimana
hidrokarbon mempengaruhi SSP tidak diketahui secara pasti; Namun,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa hidrokarbon dapat
mempengaruhi NMDA (N-methyl-D-aspartate) , serotonin, nikotinat,
reseptor glutamat, saluran ion tegangan-gated, dan jalur dopamin dan
GABA di otak. Beberapa efek juga mungkin disebabkan oleh metabolisme
hidrokarbon menjadi neurotoksin. Paparan yang berkepanjangan, seperti di
tempat kerja, juga dapat menyebabkan neuropati, pengurangan ukuran
otak, dan ensefalopati.

c) Cardiovasculer Effects
Hidrokarbon, sebagian besar dalam bentuk halogenasi, dapat
meningkatkan sensitivitas miokardium terhadap epinefrin, yang mengarah
ke ritme yang tidak beraturan. Mereka juga mungkin memiliki efek
inotropik negatif dan efek dromotropik dan kronotropik pada miokardium.
Mekanisme pastinya tidak diketahui tetapi tampaknya karena fungsi
kalsium, kalium, dan saluran natrium yang berubah dan
ketidakseimbangan dalam miokardium. Paparan kronis dapat
menunjukkan murmur yang berhubungan dengan hipertensi pulmonal.
Peningkatan rekuensi pada jantung terjadi akibat meningkatnya produksi
katekolamin dalam tubuh.

d) Gastrointestinal Effects
Tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan kerusakan
epitel, yang menyebabkan mual, muntah, sakit perut, dan hematemesis.
Beberapa pelarut dapat menyebabkan toksisitas hati. Akibat reaksi dari
hidrokarbon sehingga muntah maka resiko tinggi akan terjadinya aspirasi
dan pneumonitis.

e) Kidney Effects
Hidrokarbon (sebagian besar disebabkan oleh toluena) dapat menyebabkan
asidosis metabolik tubulus ginjal, batu saluran kemih, glomerulonefritis,
hiperkloremia, dan hipokalemia. Penyalahgunaan dapat menyebabkan
cedera tubulus proksimal dan distal.

f) Dermatologic Effects
Paparan terhadap kulit dapat menyebabkan iritasi ringan, atau dengan
paparan yang berkepanjangan bisa menyebabkan tampakan seperti luka
bakar yang disebabkan oleh kimiawi mulai dari luka bakar yang ringan
hingga berat sehingga meninmulkan gejala sistemik. Paparan oleh bahan
hidrokarbon yang menyebabkan iritasi kulit dikenal sebagai “glue sniffer's
rash.” Lesi kulit dapat muncul sebagai bula atau lepuh. Manifestasi kulit
lainnya termasuk penyakit kuning dan / atau iritasi selaput lendir.

Gambar 6. Patofisiologi

TEMUAN FISIK

Temuan pada sistem Temuan pada sistem Temuan pada sistem GI


pernafasan saraf pusat tract
- Coughing - Headache - Nausea
- Choking - Dizziness - Vomiting
- Tachypnea - Lethargy - Abdominal
- Grunting - Ataxia Pain
- Cyanosis - Seizures
- Rales - Coma
- Wheezing

Ada juga dibagi berdasarkan paparan melalui inhalasi yang dibagi berdasarkan
akut dan kronis.

a) Inhalasi Akut
Keracunan pada SSP terjadi dalam tiga tahap. [3] Stadium 1
mencakup efek ringan yang menurut pengguna menyenangkan, dan
karenanya mengarah pada penyalahgunaan . Efek ini termasuk euforia,
kegembiraan, disinhibisi, dan perilaku impulsif. Namun, stadium 1 juga
biasanya disertai sakit kepala, pusing, dan mual, diikuti oleh disestesia
lidah, mati rasa pada kaki, kelemahan otot, tinitus, penglihatan kabur /
diplopia, tremor, dan ataksia. Beberapa pengguna juga dapat menunjukkan
perilaku agresif, mudah marah, amnesia, dan bicara tidak jelas.
Tahap 2 melibatkan depresi SSP. Bicara cadel, kebingungan, dan
halusinasi adalah temuan paling umum pada tahap ini.
Pada tahap 3, depresi SSP yang terlihat pada tahap 2 semakin
berkembang menjadi koma, kejang, dan kemungkinan kematian.
Kematian jantung mendadak dapat terjadi setelah paparan akut
berat pada hidrokarbon konsentrasi tinggi, diikuti oleh aktivitas fisik atau
eksitasi ekstrem karena kepekaan miokard terhadap lonjakan epinefrin
akibat kejadian tersebut. Vasospasme koroner juga dapat terjadi dan bisa
berakibat infark miokard akut.

b) Inhalasi Kronis
Temuan yang paling umum dari penggunaan jangka panjang termasuk
kelemahan otot, tremor, dan neuropati perifer. Tidak ada jangka waktu
penggunaan yang pasti telah ditentukan untuk timbulnya tanda-tanda
inhalasi kronis. Namun, sebagian besar tanda-tanda tidak berkembang
sampai orang telah menghirup hidrokarbon dua hingga tiga kali seminggu
selama sekitar 6 bulan. (3)
Penggunaan kronis menyebabkan gangguan memori dan dapat
membuat pengguna berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kejiwaan.
Dalam satu penelitian pengguna inhalansia pada dewasa dengan prevalensi
adalah sebagai berikut 3:
- Gangguan mood - 48%
- Gangguan kecemasan - 36%
- Gangguan kepribadian - 45%

PEMERIKSAAN PENUNJANG

a) Darah lengkap
Paparan benzen kronis dapat menghasilkan leukemia myelogenous akut
atau anemia aplastik. Dalam konsumsi akut, leukositosis dapat terjadi.
Anemia dapat terjadi sebagai akibat dari hemolisis intravaskular.
Pemerisaksaan darah lengkap harus anjurkan dalam pemeriksaan
penunjang jika ada kekhawatiran atas temuan di atas. Namun, tidak perlu
dilakukan pemeriksaan darah lengkap secara rutin di semua paparan
hidrokarbon.5
b) Kimia
Pemeriksaan dasar dalam menilai metabolisme dasar berupa nilai dari
kreatinin, glukosa, elektrolit, dan celah anion. Setiap pasien yang terjadi
intoksikasi dilakukan pemeriksaan kadar glukosa serum secepatnya.5
Anion gap kemungkinan tidak begitu berpengaruh, tetapi pada keracunan
toluena akut, akan didapatkan peningkatan anion gap. Adanya anion gap,
terutama jika dikaitkan dengan asidosis yang terjadi pada pasien
intoksikasi, harus segera dievaluasi untuk mengetahui etiologi lain
(misalnya, metanol, etilen glikol, salisilat).5
Gagal ginjal akut setelah konsumsi hidrokarbon masif jarang terjadi.
Pengujian tingkat transaminase hati harus dilakukan, karena ini dapat
meningkat setelah konsumsi hidrokarbon (terutama hidrokarbon
terhalogenasi).5
Level serum creatine kinase (CK) harus diperiksa, karena rhabdomyolysis
akut telah dilakukan penilitian bahwa rhabdomyolysis akut berhubungan
dengan keracunan hidrokarbon terisolasi.5
c) Pemeriksaan Radiologi
Pasien yang asimptomatik (mis., Tidak ada batuk atau tanda / gejala
gangguan pernapasan) tidak harus mendapatkan radiografi dada segera.
Dalam kasus akut tidak akan ada gambaran spesifik pada semua
pemeriksaan radiologi. Namun dengan aspirasi bisa didapatkan temuan
yang berupa infiltrat unilateral/bilateral, biasanya di lobus tengah dan
bawah, bronkogram udara, pneumatocele, atelektasis, dan efusi pleura.
Kelainan ini dapat bertahan selama berbulan-bulan. 5
Jika pasien dengan tanpa adanya gejala makan pemulangan atau rawat
jalan pada pasien bisa dipertimbangkan, dengan syarat rontgen dada harus
diperoleh 6 jam setelah paparan untuk mendokumentasikan tidak
didapatkannya kelainan pada temuan. 5
Pada MRI, kelainan yang diduga berhubungan dengan paparan inhalan
yang paling umum meliputi perubahan substansia alba dan kelainan
subkortikal di thalamus, ganglia basal, pons, dan otak kecil. Kelainan ini
kemungkinan disebabkan oleh kerusakan aksonal dan gliosis, meskipun
mekanismenya tidak jelas. Temuan ini cenderung mulai di daerah
periventrikular, kemudian meluas ke substansia alba di subkortikal. 5
d) Pemeriksaan lainnya
Setelah inhalasi akut, hidrokarbon biasanya tidak langsung terdeteksi pada
skrining pertama, meskipun spesifik dideteksi pada kromatografi gas yang
dilakukan dalam waktu 10 jam setelah paparan. Dengan paparan metilen
klorida (misal, paparan pekerjaan dari pengupasan cat), konsentrasi
karboksihemoglobin akan meningkat. Jika riwayat menunjukkan paparan
hidrokarbon terhalogenasi, tes fungsi hati harus dilakukan untuk
mengevaluasi tanda-tanda cedera hati.5
Kromatografi gas merupakan jenis kromatografi yang umum digunakan
dalam analisis kimia untuk pemisahan dan analisis senyawa yang dapat
menguap tanpa mengalami dekomposisi. Penggunaan umum KG
mencakup pengujian kemurnian senyawa tertentu, atau pemisahan
komponen berbeda dalam suatu campuran (kadar relatif komponen
tersebut dapat pula ditentukan). Dalam beberapa kondisi, KG dapat
membantu mengidentifikasi senyawa. Dalam kromatografi preparatif, KG
dapat digunakan untuk menyiapkan senyawa murni dari suatu campuran.5

TATALAKSANA 4

Perawatan dini harus didasarkan pada temuan dan harus memperhatikan pada
kemungkinan gagal napas atau gagal jantung. Tenaga medis yang ada harus siap
untuk memberikan penanganan kegawatdaruratan pada jalan napas saat
dibutuhkan, menggunakan teknik noninvasif atau invasif. Beta-agonists dapat
digunakan jika ditemukan wheezing. Jika toksisitas paru yang berat ,segera
lakukan intubasi karena pasien dapat melakukan dekompensasi dengan cepat.
Tekanan ekspirasi akhir positif yang tinggi umumnya diindikasikan untuk
mempertahankan alveoli. Antibiotik mungkin diperlukan jika diduga ada infeksi.
Mereka yang mengalami gejala kardiovaskular akan membutuhkan hidrasi cairan
intravena yang agresif dalam kasus hipotensi. Disritmia ventrikel harus diobati
dengan beta-blocker untuk mencegah peningkatan katekolamin. Katekolamin
seperti epinefrin harus dihindari mengingat peningkatan sensitivitas sistem
konduksi yang terkait dengan hidrokarbon.
Pasien yang terkena paparan kulit perlu pakaiannya dilepas dan didekontaminasi
dengan sabun dan air hangat. Kewaspadaan kontak harus digunakan untuk
keselamatan staf dan penyedia. Jika pasien mengalami gelisah, bisa diberikan
benzodiazepin. Gejala GI umumnya tidak memerlukan perawatan. Pengendalian
racun lokal harus dikonsultasikan sebelum memulai dekontaminasi GI. CHAMP
pneumonik sangat membantu dalam menentukan konsumsi serius mengancam
jiwa.

 C - Camphor
 H - Halogenated hydrocarbons
 A - Aromatic hydrocarbons
 M - Metals
 P - Pesticides

Hidrokarbon terhalogenasi dapat menyebabkan disritmia dan hepatotoksisitas,


dimana hidrokarbon aromatik dapat menyebabkan penekanan padasumsum tulang
dan kanker.5

Judul jurnal Pendahuluan Studi Kasus Kesimpulan


Fatal Case of Aspirasi hidrokarbon Seorang laki-laki berusia 18 tahun secara tidak sengaja Kasus ini menyoroti
Hydrocarbon yang mengarah ke mengonsumsi diesel saat menyedot dari tangki bahan fakta bahwa
Aspiration and keadaan fatal sangat bakar truk. Mengeluh mengalami peningkatan sesak napas penyelidikan
Use of Lipoid jarang (dalam kisaran dan nyeri dada. Pada pemeriksaan, pasien mengalami histopatologis 'sel
Cells as 1%). buku teks takipnea. Dia mengalami dispnea saat istirahat. Mengi lipoid' dapat
Corroborative standar toksikologi bilateral muncul. Refleks batuk lemah. Foto thoraks membantu dalam
Finding for dan patologi forensik menunjukkan konsolidasi bilateral zona tengah dan otopsi diagnosis
Rapid Autopsy memberikan sedikit bawah. Pasien diberikan inhalasi oksigen, analgesik, dan aspirasi hidrokarbon
Diagnosis in informasi mengenai antibiotik intravena. Namun, kondisi pasien memburuk di mana pasien
Cases of aspirasi hidrokarbon dan ia tetap menggunakan bantuan ventilator pada hari ke- meninggal setelah 4-
Delayed Death dan temuan otopsi. 2. Terlepas dari semua tindakan resusitasi, pasien 5 hari perawatan dan
Ini mungkin karena meninggal dunia setelah 5 hari perawatan. Pemeriksaan kemungkinan
tingkat kematian postmortem dilakukan. Rigor mortis telah menyebar di mendapatkan hasil
yang rendah dalam seluruh tubuh. Rajah kuku jari menunjukkan perubahan positif pada analisis
aspirasi hidrokarbon warna kebiruan. Tanda garis intravena hadir pada kedua kimia dapat
lengan. Tidak ada luka lain yang terlihat. diabaikan. Meskipun
Pada pemeriksaan internal, semua organ internal kematian jarang
tersumbat. Rongga pleura menunjukkan perlengketan terjadi, pengobatan
pleura bilateral dan berisi 100 ml cairan . Kedua paru-paru harus dimulai sedini
dikonsolidasikan. Berat kedua paru meningkat dengan mungkin dalam
paru kanan seberat 834 g dan paru kiri 728 g. Permukaan semua kasus
hati menunjukkan perdarahan petekie yang terdistribusi simtomatik.
dengan baik. Perut mengandung 20 ml cairan berwarna
coklat tanpa bau yang tidak biasa dan hemoragik mukosa.
Pemeriksaan histopatologis jaringan paru menunjukkan
adanya sel lipoid dengan gambaran sugestif kongesti,
edema, nekrosis hemoragik, perubahan emfisematosa, dan
fitur fokus konsolidasi.
“Diesel Pneumonia lipoid Seorang pasien pria berusia 40 tahun datang dengan Pneumonia lipoid
siphoner’s adalah bentuk riwayat demam berulang yang berhubungan dengan batuk harus selalu
lung”: pneumonia yang berdahak selama 18 bulan. Tidak ada riwayat penurunan dipertimbangkan
Exogenous tidak biasa yang berat badan, nyeri dada, mengi atau napas pendek, tidak dalam daftar
lipoid disebabkan oleh ada riwayat TBC di masa lalu. Dia telah dirawat dengan diagnosis banding
pneumonia aspirasi zat beberapa antibiotik selama 1 tahun terakhir dan terapi sambil menangani
following berlemak. Diagnosis antitubercular empiris juga telah diberikan. Pemeriksaan pasien dengan
hydrocarbon pasti dicapai dengan fisik secara umum biasa-biasa saja, pemeriksaan sistemik pneumonia yang
aspiration adanya makrofag normal, Parameter laboratorium dasar berada dalam batas tidak terselesaikan.
lipid intra-alveolar normal, tidak ada leukositosis. Tes fungsi hati dan ginjal Diperlukan indeks
dan lipid sarat dan gas darah arteri dalam batas normal. Kultur sputum kecurigaan yang
histopatologi. negatif untuk pertumbuhan bakteri, mikobakteri atau tinggi untuk
Meskipun data jamur. Radiografi toraks menunjukkan infiltrat paru mendiagnosis
tentang kejadian bilateral, lebih banyak di zona kiri bawah dan computed kondisi tersebut
pneumonia lipoid tomography (CT) thorax menunjukkan area multifokal karena riwayat
yang tepat masih dari konsolidasi atenuasi rendah terutama di lobus kiri pajanan tidak selalu
kurang, kejadiannya bawah. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening muncul terutama
telah dilaporkan 1,0- mediastinum, pneumotoraks atau efusi pleura / dalam kasus kronis.
2,5% dalam studi perikardial. Pemeriksaan cairan bronchoalveolar lavage
otopsi. Indeks (BAL) dan biopsi paru-paru bronkoskopi menunjukkan
kecurigaan dan makrofag sarat lipid dalam alveoli dan interstitium, yang
diagnosis dini yang memastikan diagnosis pneumonia lipoid
tinggi dapat
membantu
menghentikan
perkembangan
penyakit dengan
menghindari pajanan
lebih lanjut pada
agen penyebab dan
memungkinkan
manajemen yang
tepat dan tepat
waktu.
Hydrocarbon Tertelannya Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dibawa ke gawat Prognosis biasanya
hidrokarbon adalah darurat dengan serangan demam, lesu, batuk, dan nyeri baik pada anak-anak
Poisoning penyebab umum dada yang mendadak. Keadaan anak normal sampai 3 jam dengan keracunan
keracunan tak yang lalu ketika ibunya memperhatikan dia menyeruput hidrokarbon.
disengaja pada anak- dari botol yang berisi minyak tanah. Pada pemeriksaan, ia Sebagian besar anak-
anak. Di seluruh lesu, sianosis, takipnea dengan nafas cuping hidung dan anak juga memiliki
dunia 5% dari semua retraksi dada. Saturasi nafas nya 85% dan auskultasi dada resolusi lengkap dari
keracunan tak di dapatkan wheezing dan rhonchi. temuan radiologis.
disengaja dan sekitar
25% dari semua
kematian pada anak-
anak <5 tahun terkait
dengan konsumsi
hidrokarbon (HC).
Anak-anak sering
menjadi korban
keracunan HC karena
produk-produk ini
secara tidak tepat
disimpan dalam
wadah yang tidak
berlabel atau botol
air dan sering
berwarna menarik.
Hidrokarbon adalah
kelompok beragam
zat yang secara luas
diklasifikasikan
menjadi dua jenis
berdasarkan efek
klinisnya:
1) HC dengan
potensi aspirasi
dominan: minyak
tanah, bensin, nafta,
dan minyak mineral
segel
2) HC dengan
toksisitas sistemik di
samping potensi
aspirasinya:
trichloroethane,
methyl chloride,
benzene, toluene,
xylene.
BAB III

KESIMPULAN

Toksikologi adalah studi mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari

suatu zat terhadap organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari

mengenai gejala, mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada

sistim biologis makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi

atau mengkaji akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap

manusia dan lingkungannya.

Toksikologi forensik berperan dalam melakukan analisis kualitatif maupun

kuantitatif dari racun dari bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya.

Pemeriksaan laboratorium forensik mempunyai peranan yang penting dalam

membantu proses tindak kriminal pada kasus kematian yang diduga karena

keracunan.

Jenis-jenis racun dapat dibagi berdasarkan sumber, tempat dimana racun

tersebut didapat, dan efek kerja yang dihasilkan. Kelainan atau perubahan yang

terjadi pada korban yang meninggal karena keracunan dapat mengetahui jenis

racun yang terdapat dalam tubuhnya. Karena setiap jenis racun memiliki tanda

dan gejala keracunan yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

1. I.M.A. Gelgel Wirasuta. 2009. Analisis Toksikologi Forensik. http://gelgel-

wirasuta.blogspot.com/2009/12/analisis-toksikologi-forensik.html. Diunduh

tanggal 21 Agustus 2011

2. DiMaio VJ, DiMaio Dominick. 2001. Forensic Pathology 2nd ed. New York:

CRC Press

3. Anonim. Pencegahan Keracunan Secara Umum.

http://www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/CegahRacunUmum.pdf

4. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

1997. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta

5. Abdul Mun’im Idries. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi

Pertama. Binarupa Aksara

6. Mukono. 2009. Arsen (As), Dampak terhadap Kesehatan Serta

Penanggulangannya. http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/arsen-as-

dampak-terhadap-kesehatan-serta-penanggulangannya-prof

drdrhjmukonomsmph/

7. Spheherd R. 2003. Simpson’s Forensic Medicine 12th ed. London: Arnold

Publishers

8. Anonim. 2008. Macam/Jenis Narkotika Yang Sering Disalahgunakan/Dipakai

- Ganja, Opium, Kokain, Morfin, Heroin, Dkk.http://organisasi.org/macam-

jenis-narkotika-yang-sering-disalahgunakan-dipakai-ganja-opium-kokain-

morfin-heroin-dkk. Diunduh tanggal 29 Oktober 2013


9. Wirasuta, M. G, Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan

Analisis, Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55

10. Bell, S. Forensic Chemistry. Pearson Education Inc., 2006

11. Budiawan. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus Keracunan

dan Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensic

Sciences 2008; 1(1):35-39

DAFTAR PUSTAKA

12. Kim CS, Kim SS, Bae EH, Ma SK, Kim SW. Acute kidney injury due to
povidone-iodine ingestion: A case report. Medicine (Baltimore). 2017
Dec;96(48):e8879. [PMC free article] [PubMed]
13. Ghezzi M, Odoni M, Testagrossa O, Messina D, Ruocco JD, Lovati C,
Kantar A. Pneumonia in a Teenager Hiding a Fire-Eating Stunt. Pediatr
Emerg Care. 2017 Nov 27; [PubMed]
14. Johnson J, Williams K, Banner W. Adolescent with prolonged toxidrome.
Clin Toxicol (Phila). 2017 Jun;55(5):364-365. [PubMed]
15. Mygatt J, Amani M, Ng P, Benson B, Pamplin J, Cancio L. Hydrocarbon
Enema: An Unusual Cause of Chemical Burn. J Burn Care Res. 2017
Sep/Oct;38(5):e872-e876.
16. Mowry JB, Spyker DA, Brooks DE, Zimmerman A, Schauben JL. 2015
Annual Report of the American Association of Poison Control Centers'
National Poison Data System (NPDS): 33rd Annual Report. Clin Toxicol
(Phila). 2016 Dec. 54 (10):924-1109.
17.