Anda di halaman 1dari 27

Referat

Fraktur Femur

Oleh:

Tety Mariani Doris. S 1740312418

Preseptor:
dr. Mensyuknil Hasra, SpOT

BAGIAN ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT DR. REKSODIWIRYO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2019

1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang
rawan umumnya di karenakan rudapaksa. Dalam kehidupan sehari-hari yang
semakin padat dengan aktifitas, manusia tidak akan lepas dari fungsi
muskuloskeletal yang salah satu komponennya adalah tulang. Tulang membentuk
rangka penujang dan pelindung bagian tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-
otot yang menggerakan kerangka tubuh. Namun, akibat ulah manusia itu sendiri,
fungsi tulang dapat terganggu karena mengalami fraktur. Fraktur biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.1

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari
5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1.3 juta
orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki
prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah, yakni sekitar
46,2% dari seluruh insiden kecelakaan yang terjadi. Dari 45.987 orang dengan
kasus fraktur ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 19.629 orang mengalami
fraktur pada tulang femur,14.027 orang mengalami fraktur cruris, 3.775 orang
mengalami fraktur tibia,970 orang mengalami fraktur pada tulang-tulang kecil di
kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula.2

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyebutkan bahwa


kejadian kecelakaan lalu lintas di Indonesia setiap tahunnya mengalami
peningkatan yaitu 21,8% dalam jangka waktu lima tahun.3 Menurut Desiartama &
Aryana (2017) di Indonesia kasus fraktur femur merupakan kasus yang paling
sering yaitu sebesar 39% diikuti fraktur humerus (15%), fraktur tibia dan fibula
(11%), dimana penyebab terbesar fraktur femur adalah kecelakaan lalulintas.4

Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas tulang femur yang bisa


terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian),
kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis. Femur merupakan
tulang terbesar dan terkuat dalam tubuh orang dewasa. Dengan demikian, trauma
langsung yang keras, seperti yang dapat dialami pada kecelakaan lalu lintas,

2
diperlukan untuk menimbulkan fraktur tulang femur. Patah pada tulang femur
dapat menimbulkan perdarahan cukup banyak serta mengakibatkan penderita
mengalami syok.5
Prinsip penanganan fraktur tidak terlepas dari primary survey untuk
menemukan dan mengatasi kondisi life threatening yang ada pada pasien,
terutama pada layanan primer. Penatalaksaan yang tepat pada pasien fraktur
menentukan outcome pasien. Bila dalam penatalaksanaan dan perawatan tepat,
tulang yang patah dapat menyatu kembali dengan sempurna (union). Namun bila
penatalaksanaan tidak tepat, maka fraktur dapat menyatu tidak sempurna
(malunion), terlambat menyatu (delayed union), ataupun tidak menyatu (non
union). Perawatan yang baik juga perlu untuk mencegah terjadinya komplikasi
pada pasien fraktur.5

Oleh karena insiden fraktur femur yang cukup tinggi dan penatalaksanaan
kegawatdaruratan cukup penting, maka penulis merasa perlu untuk membahas
mengenai fraktur femur

1.2 Batasan Masalah


Referat ini membahas tentang anatomi femur, definisi, etiologi, klasifikasi,
manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan fraktur femur.
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk meningkatkan pengetahuan penulis dan pembaca tentang fraktur
femur.
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan referat ini adalah menggunakan metode tinjauan pustaka
dengan mengacu kepada beberapa literatur.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Femur


Femur adalah tulang terpanjang dan terkuat pada tubuh. Tulang femur
menghubungkan antara tubuh bagian panggul dan lutut. Femur pada ujung bagian
atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan minor. Bagian caput
merupakan lebih kurang dua pertiga berbentuk seperti bola dan berartikulasi
dengan acetabulum dari tulang coxae membentuk articulation coxae. Pada pusat
caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan
ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan
sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea.6

Gambar 2.1. Anatomi Tulang Femur

Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher
dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea
intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di
bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang
femur umumnya berbentuk cembung ke arah depan. Berbentuk licin dan bulat
pada permukaan anteriornya, pada bagian belakangnya terdapat linea aspera,
tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke

4
bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum
pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista
supracondylaris lateralis. Pada permukaan postertior batang femur, di bawah
trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan
dengan linea aspera. Bagian batang melebar kearah ujung distal dan membentuk
daerah segitiga datar pada permnukaan posteriornya, disebut fascia poplitea.6

Ujung bawah femur memilki condylus medialis dan lateralis, yang di


bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior
condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut
membentuk articulation genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan
medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus
medialis.5

Vaskularisasi femur berasal dari arteri iliaka komunis kanan dan kiri. Saat
arteri ini memasuki daerah femur maka disebut sebagai arteri femoralis. Tiap-tiap
arteri femoralis kanan dan kiri akan bercabang menjadi arteri profunda femoris,
ramiarteria sirkumfleksia femoris lateralis asenden, rami arteria sirkumfleksia
femoris lateralis desenden, arteri sirkumfleksia femoris medialis dan arteria
perforantes. Perpanjangan dari arteri femoralis akan membentuk arteri yang
memperdarahi daerah genu dan ekstremitas inferior yang lebih distal. Aliran balik
darah menuju jantung dari bagian femur dibawa oleh vena femoralis kanan dan
kiri.6

Gambar 2.2.Struktur Vaskularisasi Femur

5
2.2 Fraktur
2.2.1 Definisi Fraktur

Fraktur merupakan diskontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang


umumnya disebabkan trauma, baik trauma langsung ataupun tidak langsung1.
Akibat dari suatu trauma pada tulang dapat bervariasi tergantung pada jenis,
kekuatan dan arahnya trauma.2

2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi fraktur menurut Rasjad (2007):

1. Berdasarkan etiologi:
a) fraktur traumatik
b) fraktur patologis
c) fraktur stress terjadi karena adanya trauma terus menerus di suatu
tempat
2. Berdasarkan klinis:
a) Fraktur terbuka
b) Fraktur tertutup
Ada beberapa subtipe fraktur secara klinis antara lain:

1. Fragility fracture
Merupakan fraktur yang diakibatkan oleh karena trauma minor.
Misalnya, fraktur pada orang osteoporosis, dimana kondisi tulang
mengalami kerapuhan. Kecelakaan ataupun tekanan yang kecil bisa
mengakibatkan fraktur.
2. Pathological fracture
Fraktur yang diakibatkan oleh struktur tulang yang abnormal. Tipe
fraktur patologis misalnya terjadi pada individu yang memiliki penyakit
tulang yang mengakibatkan tulang mereka rentan terjadi fraktur.
3. High-energy fraktur
High-energy fraktur adalah fraktur yang diakibatkanoleh adanya trauma
yang serius, misalnya seseorang yang mengalami kecelakaan jatuh dari
atap sehingga tulangnya patah. Stress fracture adalah tipe lain dari high-

6
energy fracture, misalnya pada seorang atlet yangmengalami trauma
minor yang berulang kali. Kedua tipe fraktur ini terjadi pada orang yang
memiliki struktur tulang yang normal.8

2.2.3 Derajat Fraktur


Derajat fraktur tertutup menurut Tscherne dan Oestern berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

1. Derajat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
2. Derajat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
3. Derajat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak
bagian dalam dan adanya pembengkakan.
4. Derajat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman terjadinya sindroma kompartement.
Derajat fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson berdasarkan
keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

1. Derajat I: laserasi < 1 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.


2. Derajat II: laserasi >1 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi
fragmen jelas, kontaminasi sedang
3. Derajat III: luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar,
kontaminasi berat, konfigurasi fraktur kominutif
 IIIa: fraktur segmental atau sangat kominutif, penutupan tulang
dengan jaringan lunak cukup adekuat
 IIIb; terkelupasnya periosteum dan tulang tampak terbuka
 IIIc: disertai kerusakan pembuluh darah tanpa memperhatikan
kerusakan jaringan lunak

Patah tulang dapat dibagi menurut garis frakturnya, misalnya fisura, patah
tulang segmental, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif, patah tulang
segmental, patah tulang kompresi, impresi, dan patologis.9

7
Gambar 2.3 Jenis patah tulang: A. Fisura, B. Oblik, C. Tranversal(lintang),
D. Kominutif, E. Segmental.3

2.3 Klasifikasi Fraktur Femur


Fraktur femur dapat terjadi mulai dari proksimal sampai ke distal tulang.
Berdasarkan letak patahannya, fraktur femur dikategorikan sebagai:10

a. Fraktur collum femur


b. Fraktur trokanterik
c. Fraktur subtrokanterik
d. Fraktur diafisis
e. Fraktur suprakondiler
f. Fraktur kondiler

Gambar 2.4 Anatomi Lokasi Fraktur Femur10

8
2.3.1 Fraktur collum femur
Fraktur collum femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada
orang tua terutama wanita umur 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis.

2.3.1.1 Mekanisme trauma


Jatuh pada daerah trokanter baik karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh
dari tempat tidak terlalu tinggi seperti terpeleset di kamar mandi dimana
panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi.

2.3.1.2 Klasifikasi
1. Klasifikasi menurut Garden
Tingkat I: Fraktur impaksi yang tidak total
Tingkat II: Fraktur total tetapi tidak bergeser (non-displaced)
Tingkat III: Fraktur total disertai dengan sedikit pergeseran
Tingkat IV: Fraktur disertai dengan pergeseran yang hebat

Gambar 2.5Fraktur Collum Femur menurut Garden

9
2. Klasifikasi menurut Pauwel

Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut inklinasi collum femur.


Tipe I : Garis fraktur membentuksudut 30º dengansumbuhorizontal
Tipe II : Garis fraktur membentuksudut 50º dengansumbuhorizontal
Tipe III : Garis fraktur membentuksudut 70º dengansumbuhorizontal

Gambar 2.6 Klasifikasi Sudut Inklinasi Collum Femur

2.3.1.3 Patologi
Caput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber, yaitu:

a. Pembuluh darah intrameduler di dalam collum femur


b. Pembuluh darah servikal asendens dalam retinakulum kapsul sendi
c. Pembuluh darah dari ligamen yang berputar

Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intrameduler dan pembuluh


darah retinakulum selalu mengalami robekan, bila terjadi pergeseran fragmen.
Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler yang mempunyai
kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan
pembuluh darah, periosteum yang rapuh serta hambatan dari cairan sinovial.

2.3.2 Fraktur daerah trokanter


Fraktur daerah trokanter biasa juga disebut fraktur trokanterik
(intertrokanterik) adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan
minor. Fraktur ini bersifat ekstra-artikuler dan sering terjadi pada orang tua di atas
umur 60 tahun.

10
2.3.2.1 Mekanisme trauma
Fraktur trokanterik terjadi bila penderita jatuh dengan trauma langsung
pada trokanter mayor atau pada trauma yang bersifat memuntir. Keretakan
tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor dimana fragmen proksimal
cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat komunitif terutama
pada korteks bagian posteromedial.

2.3.2.2 Klasifikasi
Fraktur trokanterik diklasifikasikan atas empat tipe, yaitu
Tipe I : Fraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran
Tipe II : Fraktur melewati trokanter mayor dan minor disertai pergeseran
trokanter minor
Tipe III : Fraktur yang disertai dengan fraktur komunitif
Tipe IV : Fraktur yang disertai dengan fraktur spiral femur

Gambar 2.7 Fraktur Trokanter Femur

2.3.2.3 Gambaran klinis


Penderita lanjut usia dengan riwayat trauma pada daerah femur proksimal.
Pada pemeriksaan didapatkan pemendekan anggota gerak bawah disertai rotasi
eksterna.

2.3.3 Fraktur subtrokanter


Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya akibat
trauma yang hebat. Anggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna,
memendek dan ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai
nyeri pada pergesekan.

11
2.3.4 Fraktur diafisis femur
Fraktur diafisis femur dapat terjadi pada setiap umur, biasanya karena
trauma hebat misalnya kecelakaan lalu lintas atau trauma lain misalnya jatuh dari
ketinggian. Femur diliputi oleh otot yang kuat dan merupakan proteksi untuk
tulang femur, tetapi juga dapat berakibat jelek karena dapat menarik fragmen
fraktur sehingga bergeser. Femur dapat pula mengalami fraktur patologis akibat
metastasis tumor ganas. Fraktur femur sering disertai dengan perdarahan masif
yang harus selalu dipikirkan sebagai penyebab syok.

2.3.4.1 Mekanisme trauma


Fraktur spiral terjadi apabila jatuh dengan posisi kaki melekat erat pada
dasar sambil terjadi putaran yang diteruskan pada femur. Fraktur yang bersifat
transversal dan oblik terjadi karena trauma langsung dan trauma angulasi.

2.3.4.2 Klasifikasi
Fraktur femur dapat bersifat tertutup atau terbuka, simpel, komunitif,
fraktur Z atau segmental.

Gambar 2.8 Fraktur diafisis femur

2.3.4.3 Gambaran klinis


Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan
deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai
dan mungkin datang dalam keadaan syok.

12
2.4.5 Fraktur suprakondiler femur
Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur
dan batas metafisis dengan diafisis femur. Terapi konservatif dengan cara lutut
difleksi dilakukan untuk menghilangkan tarikan otot.
2.3.5.1 Mekanisme trauma
Fraktur terjadi karena tekanan varus atau valgus disertai kekuatan aksial
dan putaran.

2.3.5.2 Klasifikasi
1. Tidak bergeser
2. Impaksi
3. Bergeser
4. Komunitif

Gambar 2.9 Fraktursuprakondiler

2.3.5.3 Gambaran klinis


Berdasarkan anamnesis ditemukan riwayat trauma yang disertai
pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Pada pemeriksaan
mungkin ditemukan adanya krepitasi.

13
2.3.6 Fraktur suprakondiler femur dan fraktur interkondiler
Menurut Neer, Grantham, Shelton (1967) :
Tipe I : Fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T
Tipe IIA : Fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis
(bentuk Y)
Tipe IIB : Sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil
Tipe III : Fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang
tidak total

Gambar 2.10Klasifikasi Fraktur Suprakondiler dan Interkondiler Femur


2.3.7 Fraktur kondilus femur

2.3.7.1 Klasifikasi
Tipe I : Fraktur kondilus dalam posisi sagital
Tipe II : Fraktur dalam posisi koronal dimana bagian posterior kondilus
femur bergeser
Tipe III : Kombinasi antara sagital dan koronal

14
Gambar 2.11 Klasifikasi Fraktur Kondilus Femoris

2.4 Epidemiologi
Secara epidemiologi, fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada
perempuan dengan perbandingan 3:1. Insiden fraktur femur di USA diperkirakan
1 orang setiap 10.000 penduduk setiap tahunnya. Berdasarkan data yang
dikumpulkan oleh unit pelaksana teknis terpadu Imunoendokrinologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2006 di Indonesia dari 1690 kasus
kecelakaan lalu lintas, 249 kasus atau 14,7%-nya mengalami fraktur femur.10

2.5 Etiologi dan Patofisiologi


Fraktur umumnya terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan akibat
trauma. Trauma tersebut dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Trauma
langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif ataupun
transverse dan jaringan lunak juga mengalami kerusakan. Sementara itu, pada
trauma yang tidak langsung trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur dan biasanya jaringan lunak tetap utuh.9
Tekanan pada tulang dapat berupa:
1. Berputar (twisting) yang menyebabkan fraktur bersifat spiral
2. Kompresi yang menyebabkan fraktur oblik pendek
3. Membengkok (bending) yang menyebabkan fraktur dengan
fragmen segitiga ‘butterfly’

15
4. Regangan (tension) cenderung menyebabkan patah tulang
transversal; di beberapa situasi dapat menyebabkan avulsi sebuah
fragmen kecil pada titik insersi ligamen atau tendon.8

Gambar 2.12: Mekanisme cedera: (a) spiral (twisting); (b) oblik pendek
(kompresi); (c) pola ‘butterfly’ segitiga (bending); (d) transversal
(tension). Pola spiral dan oblik panjang biasanya disebabkan trauma
indirek energi rendah; pola bending dan transversal disebabkan oleh
trauma direk energi tinggi.9

Setelah terjadinya fraktur komplit, biasanya fragmen yang patah akan


mengalami perpindahan akibat kekuatan cedera, gravitasi, ataupun otot yang
melekat pada tulang tersebut.

Perpindahan yang terjadi yaitu sebagai berikut:


1. Translasi (shift) – fragmen bergeser ke samping, ke depan, atau ke
belakang.
2. Angulasi (tilt) – fragmen mengalami angulasi dalam hubungannya
dengan yang lain.
3. Rotasi (twist) – Satu fragmen mungkin berbutar pada aksis
longitudinal; tulang terlihat lurus.
4. Memanjang atau memendek – fragmen dapat terpisah atau mengalami
overlap.9

16
2.6 Proses Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap fraktur.

1. Destruksi jaringan dan pembentukan hematom


Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang
disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periosteum yaitu
fase hematom (2-8 jam sesudah trauma).

2. Inflamasi dan proliferasi seluler


Dalam 8 jam sesudah terjadinya fraktur terjadi reaksi inflamasi akut
yaitu dengan adanya migrasi sel-sel inflamasi dan inisiasi proliferasi sel,
dibawah periosteum dan didalam saluran medula yang tertembus. Ujung
fragmen tulang dikelilingi oleh jaringan seluler yang menghubungkan lokasi
fraktur. Hematom yang membeku perlahan- lahan diabsorbsi kemudian akan
menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga
hematom berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler baru yang halus di
dalamnya. Jaringan ini menyebabkan fragmen tulang saling menempel yang
dinamakan kalus fibrosa.

3. Pembentukan Kalus
Di dalam jaringan fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel jaringan
mesenkim yang bersifat osteogenic dan kondrogenik. Sel ini berubah menjadi
sel kondroblast yang akan membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar
tulang rawan, sedangkan di tempat yang jauh dari patahan tulang yang
vaskularisasinya relatif banyak, sel ini berubah menjadi osteoblast dan
membentuk osteoid yang merupakan bahan dasar tulang. Pada fase ini juga
terbentuk osteoklas yang mulai membersihkan tulang yang mati. Pada tahap
selanjutnya terjadi penulangan atau osifikasi. Kesemuanya ini menyebabkan
kalus fibrosa berubah menjadi kalus tulang yang lebih padat dan pada empat
minggu setelah cedera fraktur menyatu. Pada foto rontgen, proses ini terlihat
sebagai bayangan radio-opak, tetapi bayangan garis patah tulang masih terlihat.
Fase ini disebut fase penyatuan klinis.

17
4. Konsolidasi
Bila aktivitas osteoblas dan osteoklas berlanjut, sel tulang ini mengatur
diri secara lamellar seperti sel tulang normal. Selanjutnya, terjadi pergantian sel
tulang secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai
dengan garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. Akhirnya Kekuatan
kalus ini sama dengan kekuatan tulang biasa yang cukup kaku sehingga tidak
memungkinkan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur,
dan dibelakangya osteoblast mengisi celah- celah sisa antara fragmen tulang
yang baru. Proses ini berjalan cukup lambat dan mungkin butuh beberapa bulan
sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban normal (6-12 minggu).

5. Remodeling
Pada fase ini fraktur telah dijembatani oleh tulang yang solid. Selama
beberapa bulan bahkan tahun, tulang yang baru terbentuk tersebut akan
kembali diubah oleh proses pembentukan dan resorpsi tulang, lamela yang
lebih tebal pada tempat yang tekanannya tinggi, dinding – dinding yang tak
perlu dibuang, rongga sumsum dibentuk sehingga tidak akan tampak lagi garis
fraktur, terutama pada anak- anak dapat memperoleh bentuk yang mirip dengan
normalnya.5,9

Gambar 2.13:Fase Penyembuhan Fraktur: (a)Hematoma; (b)Inflamasi; (c)


Kalus; (d)Konsolidasi; (e)Remodeling.9

2.7 Diagnosis
2.7.1 Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma, baik yang hebat maupun
trauma ringan dengan keluhan bahwa tulangnya patah karena jelasnya keadaan

18
patah tulang tersebut bagi pasien atau ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak.Sebaliknya juga mungkin, patah tulang tidak disadari oleh
penderita dan mereka datang dengan keluhan “keseleo”, terutama patah yang
disertai dengan dislokasi fragmen yang minimal ataupun dengan keluhan lain
seperti nyeri, bengkok, bengkak.Setelah mengetahui keluhan utama pasien, harus
ditanyakan mekanisme trauma dan seberapa kuatnya trauma tersebut.5,8

2.7.2 Pemeriksaan fisik


1. Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
a. Tanda syok, anemia atau perdarahan.
b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
2. Pemeriksaan lokal
a. Inspeksi (Look)
 Bandingkan dengan bagian yang sehat.
 Perhatikan posisi anggota gerak.
 Keadaan umum penderita secara keseluruhan.
 Ekspresi wajah karena nyeri.
 Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan.
 Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka.
 Perhatikan adanya pembengkakan, deformitas berupa angulasi,
rotasi dan kependekan, gerakan yang tidak normal.
 Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada
organ-organ lain.
 Keadaan vaskularisasi.
b. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri.
 Temperatur setempat yang meningkat.

19
 Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya
disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat
fraktur pada tulang.
 Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan
secara hati-hati.
 Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi
arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai
dengan anggota gerak yang terkena.
 Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian
distal daerah trauma , temperatur kulit.
 Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk
mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai.5
c. Pergerakan (Movement)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan
secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang
mengalami traumauntuk menilai apakah terdapat nyeri dan krepitasi ketika
sendi digerakkan. Selain itu dilakukan juga penilaian Range of Movement
(ROM).Pada pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan
nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar,
disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak
seperti pembuluh darah dan saraf.5

3 Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris
dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia,
aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang didapatkan harus
dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan
tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan
selanjutnya.

4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta
ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan

20
lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang
bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.Syarat pemeriksaan radiologis yang dilakukan
adalah:Two view: Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film
sinar X tunggal, dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua sudut
pandang (antero posterior dan lateral).1

2.9 Tatalaksana
2.9.1 Tatalaksana Umum
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada suatu fraktur, maka
diperlukan tatalaksana kondisi umum pasien. Berdasarkan protokol ATLS, prinsip
penanganan trauma dibagi menjadi tiga, yaitu:9
1. Primary survey: penilaian cepat dan tatalaksana cedera yang
mengancam nyawa. Tahap ini terdiri dari Airway dengan proteksi
vertebra servikal, Breathing, Circulation dengan kontrol perdarahan,
Disability dan status neurologis, serta Exposure (paparan) dan
Environment (lingkungan).
2. Secondary survey: evaluasi detail dari kepala hingga ke jari kaki untuk
mengidentifikasi cedera lainnya. Tahap ini terdiri dari: anamnesis,
pemeriksaan fisik, selang dan jari pada setiap lubang, pemeriksaan
neurologis, uji diagnostik lebih jauh, dan evaluasi ulang.
Pada fraktur, tujuan utama terapi adalah mempertahankan fungsi
dengan komplikasi minimal. Prinsip penanganan fraktur ada empat, yaitu
rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.8
1. Rekognisi, yaitu mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan radiologis. Perlu diperhatikan
lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik pengobatan yang
sesuai, komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah
pengobatan.
2. Reduksi, yaitu tindakan mengembalikan posisi fraktur seoptimal
mungkin ke keadaan semula, dan sedapat mungkin mengembalikan
fungsi normal, mencegah komplikasi seperti kekakuan dan

21
deformitas.Seringkali setelah fraktur direduksi perlu distabilisasi
selama masa penyembuhan berlangsung. Terdapat beberapa metode
untuk stabilisasi, yaitu penggunaan gips, spalk, traksi, plates and
screws, intramedullary nailing, atau fiksator eksternal.
3. Retensi, yaitu imobilisasi fraktur sehingga mempertahankan kondisi
reduksi selama penyembuhan.
4. Rehabilitasi, untuk mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal
mungkin.

2.9.2 Fraktur tertutup9,10


1. Konservatif
Penanganan fraktur secara konservatif dapat berupa:
a. Imobilisasi dengan bidai eksterna
Indikasi: fraktur yang perlu dipertahankan posisinya dalam proses
penyembuhan seperti fraktur femur.
b. Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi eksterna dengan
menggunakan gips.
Indikasi: diperlukan manipulasi pada fraktur displaced dan diharapkan dapat
direduksi dengan cara tertutup dan dipertahankan.
c. Reduksi tertutup dengan traksi berlanjut diikuti dengan imobilisasi.
Dilakukan dengan beberapa cara yaitu traksi kulit dan traksi tulang.
d. Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi
Indikasi: bila reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi tidak
memungkinkan, mencegah tindakan operatif, terdapat angulasi, overriding,
dan rotasi yang beresiko menimbulkan penyembuhan tulang abnormal,
fraktur yang tidak stabil pada tulang panjang dan vertebra servikalis, fraktur
femur pada anak mupun dewasa.
Terdapat empat jenis traksi kontinu yaitu traksi kulit, traksi menetap, traksi
tulang serta traksi berimbang dan traksi sliding.

2. Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang


Metode ini merupakan metode operatif dengan cara membuka daerah fraktur
dan fragmen direduksi secara akurat.

22
Indikasi reduksi terbuka dengan fiksasi interna: diperlukan fiksasi rigid
misalnya pada fraktur collum femur, fraktur terbuka, fraktur dislokasi yang
tidak dapat direduksi dengan baik, eksisi fragmen yang kecil, fraktur epifisis,
dan fraktur multipel pada tungkai atas dan bawah.
Indikasi reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna: fraktur terbuka grade II dan II,
fraktur dengan infeksi, fraktur yang miskin jaringan ikat, fraktur tungkai bawah
pada penderita diabetes melitus.

3. Eksisi fragmen tulang dan penggantian dengan protesis


Protesis merupakan alat dengan komposisi metal tertentu untuk menggantikan
bagian tulang yang nekrosis. Biasanya digunakan pada fraktur collum femur
dan sendi siku pada orang tua yang terjadi nekrosis avaskuler dari fragmen atau
nonunion.

2.9.3 Fraktur terbuka


Fraktur terbuka merupakan keadaan gawat darurat ortopedi yang
memerlukan penanganan terstandar untuk mengurangi resiko infeksi dan masalah
penyembuhan. Prinsip dasar penanganan fraktur terbuka adalah:9,10
1. Obati fraktur sebagai kegawatdaruratan
2. Evaluasi awal dan diagnosis kelainan yang dapat menyebabkan kematian
3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, kamar operasi dan setelah
operasi
4. Segera lakukan debridemen dan irigasi
5. Ulangi debridement 24-72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur
7. Biarkan luka terbuka 5-7 hari
8. Lakukan bone graft autogeneous secepatnya
9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena

23
Tahap pengobatan fraktur terbuka:11

1. Pembersihan luka
Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl
fisiologis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. Jumlah cairan yang
digunakan berbeda tergantung pada derajat fraktur terbuka. Larutan antibiotik
dapat digunakan walaupun belum banyak literatur yang membahasnya. Hindari
penggunaan larutan antiseptik karena bersifat toksik pada jaringan.

2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)


Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya dapat menjadi tempat
kolonisasi kuman sehingga diperlukan tindakan eksisi operatif pada kulit,
jaringan subkutaneus, lemak, fasia, otot dan fragmen yang lepas (debridemen).
Debridemen harus dilakukan dalam 6 jam pasca trauma untuk mencegah
infeksi dan bila perlu dapat diulangi 24 sampai 48 jam berikutnya.
3. Pengobatan fraktur
Fraktur dengan luka hebat memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi
terbuka dengan fiksasi eksterna. Traksi skeletal dapat digunakan pada fraktur
pelvis dan fraktur femur untuk sementara. Fiksasi eksternal dianjurkan pada
fraktur derajat IIIA dan IIIB.
4. Penutupan kulit
Bila fraktur terbuka telah ditangani dalam waktu kurang dari enam jam,
sebaiknya kulit ditutup. Luka dapat dibiarkan terbuka selama beberapa hari tapi
tidak lebih dari 10 hari. Prinsipnya adalah penutupan kulit tidak dipaksakan
yang dapat mengakibatkan kulit menjadi tegang.
5. Pemberian antibiotik
Antibiotik diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum, saat dan sesudah
tindakan operasi. Antibiotik yang dianjurkan pada fraktur terbuka derajat I
adalah golongan sefalosporin, derajat II golongan sefalosporin dan
aminoglikosida, dan derajat III golongan sefalosporin, penisilin dan
aminoglikosida.

24
6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka harus diberikan pencegahan
tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup diberikan
toksoid dan bagi yang belum dapat ditambahkan pemberian 250 unit tetanus
imunoglobulin (manusia).
2.9.4 Tindakan Operatif
ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Indikasi ORIF diantaranya adalah: fraktur yang tidak bisa sembuh atau
bahaya avasculair nekrosis tinggi (fraktur collum femur), fraktur yang tidak
bisa direposisi tertutup (fraktur avulse dan fraktur dislokasi), fraktur yang
dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan (fraktur monteggia, fraktur galeazzi,
fraktur antebrachii dan fraktur ankle), fraktur yang berdasarkan pengalaman
memberi hasil yang lebih baik dengan operasi (fraktur femur).
2.10 Komplikasi
2.10.1 Dini
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (baik
kehilangan darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan
kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi
pada fraktur ekstremitas, toraks, pelvis, dan vertebra. Pada fraktur
femur dapat terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar sebagai
akibat trauma. Penangannnya meliputi memeprtahankan volume
darah, mengurangi nyeri yang di derita pasien, memasang
pembebatan yang memadai, dan melindungi pasien dari cedera lebih
lanjut.
b. Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant
berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga
dapat terjadi karena luka yang tidak steril. Sehingga debridemen
harus dilakukan sebelum luka ditutup.
c. Cedera vaskular

25
Fraktur ½ bagian proksimal tibia dapat merusak arteri popliteus, dan
dapat menimbulkan kerusakan tulang yang diakibatkan adanya
defisiensi suplai darah akibat avaskuler nekrosis.
d. Sindroma kompartemen
Kompartemen sindrom merupakan suatu kondisi dimana terjadi
penekanan terhadap syaraf, pembuluh darah dan otot didalam
kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini mengawali terjadinya
peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan
pembuluh darah, dan diikuti dengan kematian jaringan. Dengan
gejala pain, paresthesia, pallor, pulselessness.
2.10.2 Lanjut
a. Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan
tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan
tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.
b. Non union
Non union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu
setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia,
kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur.
c. Mal union
Terjadi penyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak
benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau
kecacatan.
d. Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis.
e. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Arief Mansjoer (2010), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4, Jakarta :


Media Aesculapius. Mardiono.
2. Bailey and Love’s short practice of surgery 26th edition. CRC Press 2013.
3. Depkes RI (2013). Riset kesehatan dasar. Jakarta
4. Desiartama A, Wien A (2017). Gambaran Karakteristik Pasien Fraktur
Femur Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Pada Orang Dewasa Di Rumah
Sakit Umum Pusat Sanglah. E-Jurnal Medika, Vol. 6 No.5.ISSN: 2303 -
1395.
5. Sjamsuhidajat dan Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed 2. Jakarta: EGC.
2004.
6. Bucholz RW, Heckman JD, Court-Brown C, et al., eds. Rockwood and
Green. Fractures in adults. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2006. p. 2081-93.
7. Thompson JC. Netter’s Concise Atlas of Orthopaedic Anatomy. USA.
Elsevier. 2002
8. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Edisi ketiga, Yarsif Watampore,
Jakarta, 2007; 355-357
9. American Academy of Orthopaedics Surgeons. 2011. Open Fractures.
Available from http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582.
10. Helmi NZ. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : EGC
11. Thomas MS, Jason HC. Open Fractures. Mescape
Reference.Availablefromhttp://emedicine.medscape.com/article/1269242-
overview#aw2aab6b3

27