Anda di halaman 1dari 20

PENGARUH GIGI SAKIT TERHADAP SISTEM

PERNAFASAN

DOKTER PEMBIMBING:
NISWATUN CHASANAH drg., M,SI.

DISUSUN OLEH:
ERIANTI NURAZIZAH (10618033)
ERNA MILLINIA (10618034)
ESA ILHAM MEI SASMITA (10618035)
ETNA DEFI TRINATA (10618036)
FAIZAL AKBAR ABABIL (10618037)
FAJAR AYU CHOIRINNISA (10618038)
FATHUR HIDAYAH ABDULLAH (10618039)
FATWA YUAN NAROTAMA (10618040)
FAYANG ANGGIA PUTRI (10618041)
FEBIANTY PUTRI SALSABILA (10618042)
FIRDA USNUR (10618043)
GABRILIA DWI AGUSTINA (10618044)
GALEKA ALI PRASETYA (10618045)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHATI WIYATA KEDIRI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya kepada kelompok kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah blok V skenario I kami yang berjudul ”Pengaruh gigi sakit terhadap
system pernafasan ” dengan tepat waktu.

Dalam proses belajar, kami menyadari apa yang tertuang dalam makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penulisan maupun pengkajian. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Semoga
Tuhan memberikan balasan yang lebih baik atas segala keikhlasan hati dan bantuan
dari semua pihak serta mendapat Rahmat dan Berkah dari Tuhan yang Maha Esa.
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kediri, 20 April 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER ........................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan .......................................................................................... 2
D. Manfaat ......................................................................................... 2

BAB II Landasan Teori


A. Sistem Pernafasan ......................................................................... 3
1. Definisi Saluran Pernafasan ................................................... 3
2. Fungsi Saluran Pernafasan ..................................................... 6
3. Macam-Macam Saluran pernafasan ........................................ 6
4. Mekanisme Saluran Pernafasan .............................................. 7
5. Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan ..................................... 7
6. Factor yang mempengaruhi Sistem Pernafasan ....................... 9
7. Gangguan pada Sistem Pernafasan ........................................ 10
8. Proses atau tahapan Respirasi ................................................ 11

BAB III Metodologi Penelitian


A. Peta Konsep ................................................................................. 16

BAB IV Pembahasan ..................................................................................... 17


BAB V Penutup
A. Kesimpulan ................................................................................. 18
B. Saran ............................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia dalam bernafas menghirup oksigen dalam udara bebas dan
membuang karbondioksida ke lingkungan. Pernapasan adalah proses ganda
yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau “ respirasi internal “
dan yang terjadi didalam paru - paru “ respirasi ekternal “. Respirasi ekternal
yang merupakan pertukaran pertukaran antara O 2 dan CO 2 antara darah
dan udara. Respirasi internal yang merupakan pertukaran O 2 dan CO 2 dari
aliran darah ke sel - sel tubuh. Sistem penafasan secara garis besar terdiri
dari paru - paru dan susunan saluran yang menghubungkan paru - paru
dengan yang lainnya, yaitu hidung, laring, faring, trakea, bronkus
bronkiolus, alveolus dan paru - paru. Pada manusia, sistem pernafasan
yang termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke dalam
paru - paru di mana terjadi pertukaran gas. Diafragma menarik udara masuk
dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi sistem pernafasan ditemukan
pada berbagai jenis makhluk hidup.
B. Rumusan Masalah
Apakah gigi geraham atas yang sakit perbengaruh terhadap Sistem
Pernafasan?
C. Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari sistem pernapasan
2. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari saluran pernapasan
3. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi dari sistem pernapasan
4. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam dari sistem pernapasan
5. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme dari sistem pernapasan
6. Mahasiswa mampu menjelaskan organ yang berperan dalam sistem
pernapasan
7. Mahasiswa mampu menjelaskan gangguan pada sistem pernapasan
8. Mahasiswa mampu menjelaskan fakor-faktor yang mempengaruhi sistem
pernapasan
9. Mahasiswa mampu menjelaskan proses dari respirasi
D. Manfaat
1. Mampu menjelaskan definisi dari sistem pernapasan
2. Mampu menjelaskan definisi dari saluran pernapasan
3. Mampu menjelaskan fungsi dari sistem pernapasan
4. Mampu menjelaskan macam-macam dari sistem pernapasan
5. Mampu menjelaskan mekanisme dari sistem pernapasan
6. Mampu menjelaskan organ yang berperan dalam sistem pernapasan
7. Mampu menjelaskan gangguan pada sistem pernapasan
8. Mampu menjelaskan fakor-faktor yang mempengaruhi sistem
pernapasan

1
9. Mampu menjelaskan proses dari respirasi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Pernafasan
1. Definisi Saluran Pernafasan
Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti
sinus ,rongga telinga dan pleura .(solane,2004)
2. Fungsi Saluran Pernafasan
a. Respirasi : pertukaran gas O² dan CO²
b. Keseimbangan asam basa
c. Keseimbangan cairan
d. Keseimbangan suhu tubuh
e. Membantu venous return darah ke atrium kanan selama fase inspirasi
f. Endokrin : keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dan
angiotensin
g. Perlindungan terhadap infeksi: makrofag yang akan membunuh bakteri
(guyton & hall , 2004)
3. Macam –Macam Saluran Pernafasan
a. Proses Pernapasan Pulmonal (Eksternal)
Ventilasi pulmonary atau gerak pernapasan yang menukar udara
dalam alveoli dengan udara luar, apabila ventilasi kurang baik maka
pernapasan tidak baik atau terganggu. Jumlah udara yang mencapai
alveoli pada volume pernapasan semenit 6 liter adalah 500 minus
150 ml kali 12 pernapasan per menit atau 4,2 liter per menit.
b. Pernapasan Jringan (Internal).
Ikatan O2 + Hb dari jantung di pompa ke seluruh tubuh. Tiap sel
mengambil O2 untuk proses metabolisme dan darah menerima hasil
buangan CO2 dari jantung dan paru-paru keluar. Darah merah
(hemoglobin) yang banyak mengandung oksigen dari seluruh tubuh
masuk ke dalam jaringan akhirnya mencapai kapiler darah
mengeluarkan O2 kedalam jaringan, mengambil CO2 untuk dibawa
ke paru-paru dan diparu-paru terjadi pernapasan eksternal.
c. Pernapasan Tingkat Sel
Penggunaan O2 oleh sel-sel tubuh untuk produksi energy dan
pelepasan produksi

2
CO2 oleh sel-sel tubuh (Setiadi, 2007)
4. Mekanisme Sistem Pernafasan
Mekanisme sistem pernapasan (ventilasi pulmonar)
Prinsip dasar
Pernapasan adalah proses inspirasi (inhalasi) udara ke dalam paru-paru dan
ekspirasi (ekshalasi) udara dari paru-paru ke lingkungan luar tubuh.
Sebelum inspirasi di mulai tekanan udara atmosfer (sekitar 760 mmHg)
sama dengan tekanan udara dalam alveolus yang disebut sebagai tekanan
intra-alveolar (intrapulmonar). Tekanan intrapleura dalam rongga pleura
(ruang antar pleura) adalah tekanan sub-atmosfer atau kurang dari tekanan
intra-alveolar yang secara mekanik menyebabkan otot – otot inspirasi
memperbesar rongga toraks dan meningkatkan volumenya. Otot – otot
ekspirasi menurunkan volume rongga toraks. (sloane,2004)
Paru – paru dapat di kembang – kempiskan melalui dua cara :
a) Dengan gerakan naik – turun diafragma untuk memperbesar
atau memperkecil rongga dada,
b) Dengan mengangkat dan menekan tulang iga untuk
memperbesar atau memperkecil diameter anteroposterior
rongga dada.

Pernapasan normal dan tenang dapat dicapai dengan hampir sempurna


melalui metode pertama, yaitu metode diafragma. Selama inspirasi,
kontraksi diafragma menarik permukaan bawah ke paru bawah. Kemudian,
selama ekspirasi diafragma berelaksasi dan sifat rekoil elastik paru, dinding
dada, dan struktur abdomen akan menekan paru – paru dan mengeluarkan
udara. Metode kedua untuk mengembangkan paru – paru adalah dengan
mengangkat rangka iga. Pengembangan paru dapat terjadi karena pada
posisi istirahat, iga miring ke bawah dengan demikian sternum turun ke
belakang ke arah kolumna vertebralis. Namun, bila rangka iga di angkat
tulang iga langsung maju sehingga sternum juga bergerak ke depan
menjauhi spinal, membuat jarak anteroposterior dada di perbesar selama
inspirasi maksimum dibandingkan selama ekspirasi. (Hall,2011)

5. Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan

Sistem respirasi terdiri dari hidung, faring (tenggorokan), laring (kotak


suara), trakea, bronkus, dan paru-paru. Bagian-bagiannya dapat diklasifikasikan
berdasarkan struktur dan fungsinya. Secara structural, sistem respirasi terdiri dari
sistem pernapasan atas, yaitu hidug, faring, dan struktur yang terkait, dan sistem
pernapasan bawah, yaitu laring, trakea bronkus, dan paru-paru. Secara fungsional,
sistem respirasi terdiri dari 2 bagian, yaitu zona konduksi yang terdiri dari
rangkaian interkoneksi rongga dan tabung baik diluar ataupun di dalam paru-paru.
Ini termasuk hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan bronkiolus
terminal yang fungsinya untuk menyaring, menghangatkan, dan melembabkan

3
udara dan menghubungkannya ke dalam paru-paru. Zona kedua adalah zona
respiratori yang terdiri dari jaringan di dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran
gas. Ini termasuk bronkiolus respiratori, duktus alveolar, kantung alveolar, dan
alveoli yang mereka merupakan tempat utama pertukaran gas antara air dan darah.

Anatomi Organ Respirasi Bagian Anterior

a) Hidung

Hidung dibagi menjadi bagian eksternal dan internal. Hidung


eksternal merupakan bagian dari hidung yang terlihat pada wajah dan terdiri
dari kerangka penunjang tulang dan kartilago hialin yang dilingkupi dengan
otot dan kulit, dan dibatasi oleh membrane mukosa. Rangka tulang hidung
eksternal dibentuk dari tulang frontalis, tulang nasale, dan maksilae. Rangka
kartilago hidung eksternal terdiri dari kartilago septi nasi yang membentuk
bagian anterior septum nasalis, kartilago nasi lateralis yang terletak inferior
ke tulang nasale, dan kartilago ala nasi yang membentuk dinding nostril. Di
permukaan inferior hidung terdapat dua pintu masuk yang disebut nares atau
nostril.

4
Anatomi Tulang pada Hidung

Struktur inferior hidung eksternal memiliki 3 fungsi, yaitu:

 Menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang masuk


 Mendeteksi stimulus olfaktori
 Memodifikasi vibrasi suara ketika melewati ruang yang besar beresonasi.

Anatomi Hidung Potongan Sagital

5
Hidung internal merupakan suatu rongga besar di anterior tulang yang
membentang inferior ke os nasale dan superior mulut. Secara anterior, hidung
internal berbatasan dengan hidung eksternal, dan di posterior berhubungan dengan
faring melalui dua pintu bernama nares internal atau choana. Sinus paranasalis
adalah rongga-rongga di tulang cranium dan wajah tertentu yang dibatasi membrane
mukosa yang berlanjut dengan rongga hidung. Sinus ini terdiri dari sinus frontalis,
ethmoidalis, sphenoidalis, dan maksilaris. Fungsi sinus-sinus ini tidak diketahui
pasti; sinus meringankan tulang tengkorak dan menambah resonansi suara.

Lantai hidung dibentuk oleh palatum yang memisahkan rongga hidung dari rongga
mulut di bawahnya. Di anterior, di mana palatum disokong oleh processuss
maksilaris dan tulang palatum, dinamakan palatum durum (hard palate). Di
posterior yang tidak disoking adalah otot palatum molle (soft palate).

Rongga hidung memiliki 3 regio, yaitu:

 Vestibulum : sebuah pelebaran tepat di sebelah dalam nares yang dilapisi


kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan aliran partikel
yang terkandung di dalam udara yang dihisap
 Penghindu : di sebelah cranial; dimulai dari atap rongga hidung meluas
sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi di hadapan
concha tersebut. Region ini terdiri dari reseptor bau.
 Pernapasan : bagian rongga hidung selebihnya

Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yaitu concha nasalis puperior,
medius, dan inferior. inferolateral terhadap masing-masing concha nasalis ini
terdapat meatus nasi yang sesuai. Susunan concha dan meatus meningkatkan area
permukaan hidung internal dan mencegah dehidrasi dengan menangkap tetesan air
selama ekshalasi.

Faring

Faring atau tenggorokan adalah sebuah pipa muskulomembranosa, panjang 12-14


cm, membentang dari basis crania sampat setinggi vertebra C6 atau tepi bawah
kartilago cricoidea. Faring membentang posterior dari rongga hidung dan mulut,
superior dari laring, dan anterior vertebra cervicalis. Dindingnya terdiri dari otot
rangka dan dibatasi membrane mukosa. Kontraksi otot rangka membantu menelan.
Fungsi laring sebagai jalan untuk udara dan makanan, memberika ruang resonansi
untuk suara, dan tempat tonsil yang berperan dalam reaksi imunologis melawan
benda asing.

Faring dapat dibagi menjadi 3 daerah anatomis:

1. Nasofaring

Nasofaring merupakan bagian superior dari faring, membentang posterior dari


rongga hidung dan meluas ke palatum molle. Terdapat 5 bukaan pada dindingnya,
yaitu dua nares internal, dua bukaan ke tuba auditorius (tuba eustachius), dan
bukaan ke orofaring. Nasofaring dan orofaring berhubungan melalui isthimus

6
praringeum yang dibatasi tepi palatum molle dan dinding posterior faring. Sewaktu
proses menelan dan ebrbicara, isthimus pharingeum akan terturup oleh elevasi
palatum molle dan pembentukan lipatan Passavant di dinding dorsal faring. Dinding
posteriornya terdiri dari tonsil faringeal (adenoid).

2. Orofaring

Orofaring merupakan bagian tengah dari faring, membentang dari posterior rongga
mulut dan meluas dari palatum molle inferior ke tulang hyoid. Orofaring hanya
memiliki 1 bukaan, yaitu faucium (isthimus orofaringeum), bukaan dari mulut.
Bagian faring ini memiliki fungsi respirasi dan digestif, terdapat dua pasang tonsil,
yaitu tonsila palatine dan lingual.

3. Laringofaring

Laringofaring adalah bagian inferior dari faring, dimulai dari tulang hyoid. Pada
ujung inferiornya, laringofaring terbuka ke esophagus di posterior dan laring di
anterior. Laringofaring juga sebagai jalur respirasi dan digesti.

Laring

Laring atau kotak suara adalah jlur pendek yang menghubungkan laringofaring
dengan trakea. Dia membentang di midline leher anterior ke esophagus dan vertebra
C4-C6. Dinding laring dibentuk dari 9 cartilago. Terdiri dari kartilago thyreoidea,
kartilago cricoidea, dan kartilago epiglottis yang masing-masing satu buah; serta
kartilago arytaenoidea, kartilago cuneiforme, dan kartilago corniculatum yang
masing-masing sepasang.

Kartilago thyreoidea (Adam’s apple) merupaka tulang rawan laring terbesar, terdiri
dari dua lamina kartilago hyaline yang menyatu yang membentuk dinding anterior
laring, membuat bentuk segitiga. Ini terdapat pada laki-laki dan perempuan, tetapi

7
biasanya lebih besar pada laki-laki karena pengaruh hormone seks laki-laki saat
pertumbuhan selama pubertas.

Epiglottis merupakan kartilago elastic berbentuk daun yang ditutupi dengan epitel.
Batang epiglottis meruncing ke inferior yang menempel ke tepi anterior kartilago
thyroid dan tulang hyoid. Daun superior epoglotis tidak menempel dan bebas maju
ke atas dan bawah. Selama menelan, faring dan laring terangkat. Elevasi faring
memperluas faring untuk menerima makanan, sedangkan elevasi laring
menyebabkan epiglottis bergerak ke bawah dan menutupnya. Glottis terdiri dari
sepasang lipatan membrane mukosa, lipatan vocal (true vocal cords) di laring, dan
ruang antara mereka yang disebut rima glottidis. Kartilago cricoids merupakan
cincin kartilago hyaline yang membentuk dinding inferior laring. Kartilago ini
merupakan tanda untuk membuat jalan napas darurat bernama tracheotomy.

Kartilago arytenoids berbentuk triangular yang sebagian besar kartilago hyaline.


Dia berlokasi di batas posterior, superior dari kartilago cricoids. Kartilago
corniculatum yang merupakan kartilago elastic berbentuk tanduk, berlokasi di apeks
dari tiap kartilago arytenoids. Cartilago cuneiforme merupakan kartilago elastic di
anterior kartilago curniculatum, menyokong lipatan vocal dan epiglottis lateral.

Trakea

Trakea atau pipa udara adalah suatu jalur tubular untuk udara sepanjang 12 cm dan
berdiameter 2,5 cm. trakea berlokasi di anterior esophagus dan meluas dari laring ke
batas superior vertebra T5, di mana dibagi menjadi bronkus utama kanan dan kiri.
Lapisan dinding trakea dari dalam ke luar adalah mukosa, submukosa, kartilago
hyaline, dan adventisia. Trakea memiliki 16-20 cincin tulang rawan hyaline yang
masing-masing membentuk gambaran huruf U, yang membatasi 2/3 bagian anterior.

8
Karena elemen elastiknya, trakea dapat cukup fleksibel untuk meregang dan
bergerak inferior selama inspirasi dan recoil selama ekspirasi, tetapi cincin kartilago
mencegahnya kolaps dan menjaga jalan napas paten walaupun tekanan berubah
selama bernapas. Bagian posterior yang terbuka dari cincin kartilago yang
berbatasan dengan esophagus dihubungkan dengan serat otot polos dari otot
trakealis dan dengan jaringan ikat lunak. Karena bagian dinding trakea sebelah sini
tidak rigid, esophagus dapat mengembang ke anterior ketika menelan makanan
yang melaluinya.

Bronkus

Di batas superior vertebra T5, trakea terbagi menjadi bronkus utama kanan yang
masuk ke paru kanan, dan bronkus utama kiri yang masuk ke paru kiri. Bronkus
utama kanan lebih vertikal, lebih pendek, dan lebih luas dibandingkan dengan yang
kiri. Seperti trakea, bronkus utama terdiri dari cincin kartilago yang tidak komplit.
Pada titik di mana trakea terbagi menjadi bronkus utama kanan dan kiri, terdapat
carina yang dibentuk dari proyeksi posterior dan inferior kartilago trakea terakhir.
Membrane mukosa carina merupakan salah satu area paling sensitive dari seluruh
laring dan trakea untuk memicu refleks batuk.

Bronkus

9
Paru-paru

Paru-paru merupakan sepasang organ berbentuk kerucut di rongga toraks.


Keduanya dipisahkan oleh hati dan struktur lain di mediastinum. Setiap paru ditutup
dan dilindungi oleh membrane serosa lapis dua bernama membrane pleura. Lapisan
superficial disebut pleura parietal yang berbatasan dengan rongga toraks, lapisan
dalam disebut pleura visceral yang menutupi paru-paru. Di antara pleura parietal
dan visceral terdapat ruang kecil bernama rongga pleura yang mengandung sedikit
cairan lubrikan yang disekresikan oleh membrane. Cairan pleura ini mengurangi
friksi antara membrane.

Paru (Tampak Lateral) Paru (Tampak Medial)

10
Bagian inferior yang luas dari paru, basis, berbentuk cekung dan cocok di atas
daerah cembung diafragma. Bagian superior paru yang sempit adalah apeks.
Permukaan paru-paru membentang terhadap tulang rusuk, permukaan costalis,
sesuai dengan kelengkungan tulang rusuk. Permukaan mediastinalis dari tiap paru
berisi hilus yang dilalui bronkus, pembuluh darah paru, pembuluh limfa, dan
nervus.

Di medial, paru kiri terdapat cekungan, cardiac notch, tempat di mana ada jantung.
Karena ruang yang ditempati jantung, paru kiri 10% lebih kecil daripada paru
kanan. Walaupun paru kanan lebih tebal dan lebih luas, dia juga lebih pendek
daripada paru kiri karena diafragma lebih tinggi di sisi kanan untuk mengakomodasi
hati yang ada di inferiornya.

Setiap paru dibagi oleh 1 atau 2 fissura. Kedua paru-paru mempunyai sebuah fissure
oblik yang memanjang inferior dan anterior. Paru kanan juga memiliki fissure
horizontal. Fissure oblik di paru kiri memisahkan lobus superior dengan lobus
inferior. di paru kanan, bagian superior dari fissure oblik memisahkan lobus
superior dengan lobus inferior; bagian inferior dari fissure oblik memisahkan lobus
inferior dengan lobus medius yang berbatasan dengan fissure horizontal di superior.

Setiap lobus menerima bronkus sekunder, jadi bronkus utama kanan memberi 3
bronkus sekunder (bronkus superior, media, dan inferor), dan bronkus utama kiri
memberi 2 bronkus sekunder (bronkus superior dan inferior). Di dalam paru,
bronkus sekunder bercabang menjadi bronkus tersier/segmentorum (terdapat 10
bronkus tersier di tiap paru) yang masing-masing bercabang lagi menjadi segmen
bronkopulmonalis. Selanjutnya, masing-masing bronkus segmentorum memberikan
20-25 percabangan dan akhirnya menjadi bronkus terminalis. Masing-masing
bronkus terminalis bercabang banyak menjadi bronkiolus respirasi dan masing-
masing bronkiolus respirasi mempercabangkan 2-11 duktus alveolaris. Masing-
masing duktus alveolaris mempercabangkan 5-6 saccus alveolaris.(Gunardi,2009)

11
6. Factor yang mempengaruhi Sistem Pernafasan
Pernapasan secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh reflek seperti reflek
batuk, reflek bersin, cegukan, dan menguap. Factor yang juga
mempengaruhi pernapasan diantaranya suhu darah dan impuls sensori dari
reseptor termal kulit dan dari reseptor nyeri profinda atau superfisial (Asih,
2012)
7. Gangguan pada Sistem Pernafasan
 Asma disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan
akibat reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu.
 Bronchitis disebabkan karena adanya peradangan pada
saluran udara ke paru-paru/bronkus
 Influenza terjadi karena penyakit menular yang disebabkan
oleh virus influenza, menular lewat udara.
 Flu babi merupakan kasus-kasus penyakit influenza yang
disebabkan oleh virus orthomyxovindae.
 Asbestosis disebabkan karena menghirup serat asbes yang
menyebabkan terbentuknya jaringan parut di paru-paru.
 Faringitis disebabkan karena adanya peradangan yang
menyerang tenggorokan atau faring.
 TBC (Tuberkulosis) terjadi karena adanya infeksi pada paru-
paru yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium
tuberculosa.
 Emfisema terjadi karena hilangnya elastisitas alveolus akibat
asap rokok dan kekurangan enim alfa-1-antitripsin.
 Kanker paru-paru (Gibson,2015).
 Pneumotoraks adalah pengumpulan udara atau gas dalam
rongga pleura, yang berada antara paru - paru dan toraks.
 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah salah satu
penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat.
Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan hanya bersifat
ringan seperti batuk pilek, disebabkan oleh virus, dan tidak
memerlukan pengobatan dengan antibiotik.
 Sinusitis (radang dalam selaput lendir) adalah suatu radang
dan atau infeksi paranasal sinus mukosa. Istilah rhinosinusitis
digunakan oleh beberapa spesialis sebab radang dalam
selaput lendir secara khas juga melibatkan bunyi sengau
mukosa. Mayoritas dari infeksi ini adalah karena virus.
 Laringitis adalah gangguan pernapasan yang menyerang laring
atau pita suara. Peradangan yang terjadi biasanya disebabkan
oleh penggunaan pita suara berlebihan, iritasi, atau infeksi pada
laring. Suara serak atau parau bahkan hilang sama sekali adalah

12
gejala umum yang muncul jika seseorang mengalami laringitis
(Ganong william , 2003).
8. Proses Respirasi
i. Ventilasi pulmonar adalah jalan masuk dan keluar udara dari
pernapasan dan paru-paru
ii. Respirasi eksternal adalah difusi O2 dan CO2 antara udara
dalam paru dan kapiler pulmonar
iii. Respirasi internal adalah difusi O2 dan CO2 antara sel darah
dan sel-sel jaringan
iv. Respirasi selular adalah penggunaan O2 oleh sel-sel tubuh
untuk produksi energi dan
v. pelepasan produk oksidasi (CO2 dan Air) oleh sel-sel tubuh
(Sloane,

13
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pak
Samsoe

Gigi Geraham Atas Sistem


Sakit Pernapasan

Penyebab Infeksi Rongga Faring Laring Trakea Par


Gigi Sakit Gigi Hidung Par
Lainnya

Akar Sinus
Gigi Maksilaris

Sinusitis
Maksilaris

14
BAB IV

PEMBAHASAN

Pak Samsoe mengalami gangguan pernapasan seperti sesak napas dan keluar lendir dari
hidung. Pak Samsoe menduga bahwa dirinya mengalami gangguan pernapasan akibat gigi
geraham atasnya sering sakit. Sistem pernapasan merupakan sistem masuknya udara dari
atmosfer hingga ditukar dengan karbon dioksida di paru-paru melalui serangkaian proses
dan organ pernapasan. Organ pernapasan mulai dari hidung, faring, laring, trakea,
bronkhus, bronkeolus, dan alveolous di p-aru-paru. Ketika gigi sakit, harus terlebih dahulu
mengetahui penyebabnya, gigi sakit akibat gigi berlubang dapat menyebabkan infeksi
pada gigi. Infeksi gigi khususnya pada akar gigi sangat berbahaya yang dapat merambat
pada area hidung, karena pada sinus terdapat hubungan dengan dasar gigi. Sinusitis
maksilaris disebabkan oleh masalah gigi atau biasanya disebut dengan sinusitis dentogen.
Hal ini dapat terjadi jika timbul peradangan pada sinus maksilaris yang berasal dari infeksi
gigi.

15
BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
. 1. Sistem pernapasan adalah proses masuknya oksigen dari udara
bebas melalui
lubang hidung dan keluarnya zat sisa berupa karbondioksida dan uap
air.
2. Saluran pernapasan adalah tempat lintasan sistem pernapasan.
3. Organ pernapasan meliputi hidung, faring, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus, alveolus dan paru paru.
4. Gangguan dari sistem pernapasan bisa disebabkan oleh gigi
geraham atas yang
sakit karena gigi geraham atas berhubungan dengan sinus maksilaris
yang menghubungkan antara gigi geraham atas dengan hidung.

B. Saran
. Penulis selanjutnya lebih memaparkan sistem pernapasan lebih luas
dan lebih dalam memparkan hubungan antara sistem pernapasan dengan
gigi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asih, Niluh. 2012. Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: EGC

Ganong, William F., editor bahasa Indonesia: M Djauhari Widjajakusumah. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran.Edisi 17. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2003. hal. 669 – 724

Gibson, JMD. 2015. Anatomi dan Fisiologi Modern. Jakarta: EGC

Guyton & Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC.2004,hal. 655 – 667

Hall, John E. 2011. Guyton and Hall Text Book of Medical Physiology. 12th Edition. Amerika
Serikat :ELSEVIER

Irianto, koes. 2017, Anatomi dan Fisiologi. Bandung : alfabeta

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Sloane E. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:EGC.

Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : EGC

17