Anda di halaman 1dari 13

1.

Resep Formula

Suppositoria Paracetamol (3,5 g)

Paracetamol 125 mg

Vaselin album 4 mg

Asetil alkohol 4%

Oleum cacao ad 3,5 g

Dibuat sebanyak 8 suppositoria

2. Dasar Teori

A. Definisi suppositoria

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur berbentuk torpedo,
dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh. Suppositoria adalah sediaan padat,
melunak, melumer, dan larut pada suhu tubuh, digunakan dengan cara menyisipkan kedalam
rectum berbentuk sesuai dengan maksud penggunaannya, umumnya berbentuk torpedo. Jadi,
suppositoria adalah suatu sediaan padat yang berbentuk torpedo yang biasanya digunakan
melalui rectum dan dapat juga melalui lubang di area tubuh, sediaan ini ditujukan pada pasien
yang mudah muntah, tidak sadar atau butuh penanganan cepat.

Macam-macam suppositoria

a. Suppositoria untuk rectum (rectal)

Suppositoria untuk rectum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya


suppositoria rectum panjangnya ±32 mm(1,5 inch) dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya
tajam. Bentuk suppositoria rectum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil,
tergantung pada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Menurut USP berarnya
sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao.

b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)

Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau
seperti kerucut. Beratnya sekitar 5 g bila basis yang digunaka oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)

Suppositoria untuk saluran urin disebut juga bougie, bentuknya ramping seperti pensil,
gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin
pria bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang ±140 mm. walaupun ukuran ini masih bervariasi
anatara satu dengan yang lain. Apabila basisnya oleum cacao beratnya ±4 g. Suppositoria
untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ±70 mm dan
beratnya 2 g ini berlaku jika basis yang digunakan oleum cacao.

d. Suppositoria untuk hidung dan telinga

Suppositoria untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil. Biasanya 2 mm,
suppositoria telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin.
Seperti dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan.

B. Keuntungan dan kerugian sediaan suppositoria

a. Keuntungan suppositoria :

1. Dapat menghindari terjadinya iritasi lambung.


2. Dapat menghibdari kerusakan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
3. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat menimbulkan
efek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral.
4. Baik untuk pasien yang mudah muntah ataupun tidak sadar (pingsan).

b. Kerugian suppositoria :

1. Pemakaiannya tidak menyenangkan.


2. Tidak dapat disimpan dalam suhu ruang.

C. Persyaratan suppositoria

Sediaan suppositoria memiliki persyaratan sebagai berikut :

a. Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit dalam suhu tubuh atau melarut
(persyaratan kerja obat)
b. Pembebasan dan response obat yang baik.
c. Daya tahan da daya penyimpanan yang baik.
d. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.

D. Tujuan penggunaan suppositoria

a. Untuk tujuan local, seperti pada pengobatan wasir atau hemorrhoid dan penyakit infeksi
lainnya.
b. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh
membrane mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat
peroral tidak memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
c. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena
obat diserap oleh mukosa rectal dan langsunng masuk kedalam sirkulasi pembuluh
darah.
d. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim didalam saluran gastrointestinal dan
perubahanobat secara biokimia didalam hati.

E. Basis suppositiria

Sediaan suppositoria ketika dimasukkan kedalam lubang tubuh akan melebur, melarut,
dan terdispersi. Dalam hal ini, basis suppositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu,
basis suppositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu
ruangan dan akan melebur maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif
atau obat yang dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan
efek terapi local maupun sistemik. Basis suppositoria yang ideal juga harus mempunyai
beberapa sifat seperti berikut :

a. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.


b. Dapat bercampur dengan macam-macam obat.
c. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta
pemisahan obat.
d. Kadar air mencukupi.
e. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan
harus diketahui jelas.

Adapun macam-macam basis suppositoria, diantaranya:


a. Basis berlemak, contohnya oleum cacao.
b. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak : campuran tween dengan gilserin laurat.
c. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya gliserin-gelatin, PEG (polietilen
glikol).

F. Bahan dasar suppositoria

a. Bahan dasar berlemak (oleum cacao)

Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuningan, memiliki bau yang khas
dan bersifat polimorf (mempunyai bentuk kristal). Jika dipanaskan pada suhu sekitar 30°C akan
mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34°-35°C, sedangkan dibawah 30°C berupa massa
semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti
minyak dan akan kehilangan semua inti Kristal menstabil.

Keuntungan oleum cacao :

1. Dapat melebur pada suhu tubuh.


2. Dapat memadat pada suhu kamar.

Kerugian oleum cacao :

1. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).


2. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik an kadang turun apabila ditambahkan
dengan bahan tertentu.
3. Meleleh pada udara panas.

b. Polietilenglikol (PEG)

PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-6000.


Dipasaran terdapat PEG 400 (carbowax 400), PEG 1000 (carbowax 1000) dan PEG 6000
(carbowax 6000). PEG dibawah 1000 berbentuk cair, sedangkan PEG diatas 1000 berbentuk
padat lunak seperti mala. Formlua PEG yang dipakai sebagai berikut :

1. Bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % (25%) dan PEG 1000 96% (75%).
2. Bahan dasar berair : PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua + obat 20%. Titik lebur
PEG antara 35°-63°C, tidak meleleh pada suhu tubuh tapi larut dalam cairan sekresi
tubuh.
Keuntungan penggunaan PEG adalah :

1. Tidak mengiritasi atau merangsang.


2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao.
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh.
4. Kerugian penggunaan PEG adalah :
5. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan sehingga timbul rasa yang
menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan suppositoria kedalam air
sebelum digunakan.
6. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.

Pembuatan susppositoria dengan bahan dasar PEG dilakukan dengan melelehkan bahan
dasar lalu dituang kedalam cetakan seperti pembuatan suppositoria berbahan dasar lemak.

G. Pengujian zat aktif suppositoria

a. Titik lebur

Titik lebur adalah suhu dimana zat yang akan diuji pertama kali melebur atau meleleh
seluruhnya yang ditunjukkan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa farmasi, titik
lebur untuk menetapkan karakteristik senyawa dan identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik
lebur dibutuhkan alat pengukuran titik lebur yaitu, Melting Point Apparatus (MPA) alat ini
digunakan untuk melihat atau mengukur besarnya titik lebur suatu zat.

b. Bobot jenis

Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25° terhadap bobot air dengan
volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan
membagi bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer. Lalu dinyatakan lain dalam
monografi keduanya ditetapkan pada suhu 25°. Bobot jenis dapat digunakan untuk :

1. Mengetahui kepekaan suatu zat.


2. Mengetahui kemurnian suatu zat.
3. Mengetahui jenis zat.

Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda dengan
zat cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat terdefinisi dengan
jelas, berat jenis sejati merupakan berat jenis yang dihitung tanpapori atau rongga ruang.
Sedangkan beat jens nyata merupakan berat jenis yang dihitung sekaligus dengan porinya
H. Evaluasi sediaan suppositoria

a. Uji homogenitas

Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat terca,pur rata
dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi
proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara
uji homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah)
masing-masing diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah mikroskop, cara
selanjutnya dengan mebguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.

b. Bentuk

Bentuk suppositoria juga perlu diperhatika karena jika bentuknya tidak seperti sediaan pada
umumnya, maka sesorang yang tidak tahun akan mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah
obat. Untuk itum bentuk juga sangat mendukung karena akan memeberikan keyakinan pada
pasien bahwa sediaan tersebut merupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo.

c. Uji waktu hancur

Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat
hancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan kedalam air yang diset sama
dengan suhu tubuh manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu
hancurnya ±15 menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas
maka sediaan tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Air digunakan
sebagai media dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.

d. Keseragaman bobot

Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama
atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap
kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain akan ikut tercampur.caranya dengan
timbang seksama 10 suppositoria satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil
penetapan kadar yang diperoleh dalam masing-masing monografi hitung jumlah zar aktif dari
masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat
sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat
dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan
yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek
terapi yang sama.

e. Uji titik lebur

Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan
suppositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan
suhu ±37°c. Kemudian dimasukkan suppositoria kedalam air dan diamati waktu lenurnya.
Untuk basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya , adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG
1000 adalah 15 menit.

f. Kerapuhan

Suppositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya
sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastilitas. Suppositoria dipotong
horizontal kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan
jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar, kemudain diberi beban seberat 20N
(2 kg) dengan cara menggerakan jari atau batang yang dimasukkan kedalam tabung.

3. Preformulasi

a. paracetamol

Nama Paracetamol
Nama lain Acetaminofhen
Nama kimia n-acetil-4-aminofenol
Berat molekul 151,16
Pemerian Serbuk hablur,putih,tidak berbau,rasa pahit (FI III,hal 37)
Suhu lebur 1690C-1720C
pH Antara 5,3 dan 6,5 (codek hal 988)
Kelarutan Larut dalam 70 bagian air,7 bagian etanol,13 bagian aceton,40 bagian
glicerol,9 bagian propilen glikol,larut dalam larutan alkali hidroksida
Stabilitas  Terhidrolisis pada ph minimal 5-7
 Stabil pada temperatur 450C (dalam bentuk serbuk)
 Dapat terdegradasi oleh quinominim dan terbentuk warna
pink,coklat dan hitam
 Relatif stabil terhadap oksidasi
 Menyerap uap air dalam jumlah tidak signifikan pada suhu
250C dan kelembaban 90%
 Tablet yang dibuat granulasi basah menggunakan pasta gelatin
tidak dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dibandingkan
menggunakan povidon
(codek hal 988)
Inkompatibilitas Inkompatibilitas terhadap permukaan nilon dan rayon (codek hal 988)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat,tidak tembus cahaya (FI IV,hal 650)
Daftar pustaka FI III,hal 37
FI IV,hal 650
codek hal 988-989

b. Vacelin Album

Nama Vacelin Album


Nama lain Vaselin putih
Pemerian Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk.
Suhu lebur 380 dan 560
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) P; larut
dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P.
Larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
Khasiat dan Zat tambahan
penggunaan
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Daftar pustaka FI III,hal 633

c. Asetil Alkohol

Nama Asetil Alkohol


Nama lain Alkohol cetylicus. Ethal, ethol
Pemerian Serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak memiliki bau dan
rasa yang khas.
Kelarutan Mudah larut dalam etanol (95%) dan eter, kelarutannya meningkat
dengan penigkatan temperature, serta tidak larut dalam air
Khasiat dan Sebagai emolien dan pengemulsi
penggunaan
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik Dalam wadah tertutup baik, itempat yang
sejuk dan kering
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan oksidator kuat, setil alkohol bekerja untuk
menurunkan titik leleh ibuprofen, yang hasil dalam kecenderungannya
selama proses lapisan flim ibuprofen kristal
Daftar pustaka Excipient 6 th, 2009:156

d. Olium Cacao

Nama Olium Cacao


Nama lain Lemak coklat
Pemerian lemak padat, putih kekuninga, bau khas aromatik, rasa khas lemak,
agak rapuh.
Suhu lebur 310 sampai 340
Kelarutan Sukar larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam kloroform p, dalam
eter p dan dalam eter minyak tanah p.
Khasiat dan Analgetikum, Antipiretikum
penggunaan
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Daftar pustaka FI Edisi III : 453

4. Formulasi Suppositoria
Suppositoria Paracetamol (3,5 g)
Paracetamol 125 mg
Vaselin album 4 mg
Asetil alkohol 4%
Oleum cacao ad 3,5 g
Dibuat sebanyak 8 suppositoria
5. Alat Dan Bahan

Alat

Adapun alat-alat yang digunakan dalam pembuatan suppositoria parasetamol adalah


sebagai berikut:

a. Timbangan

b. Gelas beaker

c. Penangas air

d. Sendok tanduk

e. Kertas perkamen

f. Batang pengaduk

g. Cawan porselen

h. Cetakan suppositoria

i. Termometer

j. Aluminium foil

Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pembutan suppositoria

parasetamol adalah sebagai berikut:

a. Paracetamol 125 mg
b. Vaselin album 4 mg
c. Asetil alkohol 4%
d. Oleum cacao ad 3,5 g

6. Perhitungan Bahan

1. Paracetamol

125 × 8 = 1000 𝑚𝑔 = 1 𝑔
2. Vaselin album

4 𝑚𝑔 × 8 = 32 𝑚𝑔

3. Asetil alkohol

(4% × 3,5 𝑔) × 8 = 0,14 𝑔 × 8 = 1,12 𝑔

4. Oleum cacao

{3500 − (125 + 4 + 140)} × 8

3321 𝑚𝑔 × 8 = 25848 𝑚𝑔 = 25,848 𝑔

7. Cara Kerja

A. Pembuatan

1. Siapkan alat dan bahan.


2. Oleskan paraffin dalam cetakan suppositoria.
3. Lebur oleum cacao dan asetil alkohol hingga terbentuk seperti massa krim (M1),
angkat.
4. Masukkan paracetamol dan vaselin album kedalam M1, aduk hingga homogen.
5. Tuang kedalam cetakan suppositoria.
6. Biarkan dingin dahulu, kemudian masukkan kulkas agar membeku.
7. Siapkan alumunium foil sebagai kemasan

B. Evaluasi

a. Uji Homogenitas

1) Diambil 3 titik bagian suppos (atas, tengah, bawah atau kanan, tengah, kiri).
2) Masing – masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop.
3) Cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.

b. Uji Keseragaman Bentuk dan Ukuran

1) Diambil suppos yang sudah dibuat.


2) Diamati satu dengan yang lainnya bentuk dan ukurannya sesuai dengan standar suppos
(Berbentuk torpedo).
c. Uji Waktu Hancur

1) Suppos dimasukkan dalam air yang diset sama dengan suhu tubuh manusia, selama 3
menit.

d. Uji Keseragaman Bobot

1) Timbang suppos satu persatu dan hitung rata – ratanya.


2) Hitung persen kelebihan masing – masing suppos terhadap bobot rata – ratanya.
Keseragaman bobot yang didapat tidak boleh lebih dari ± 5%.

e. Uji Kerapuhan

1) Suppos dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian
yang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar.
2) Kemudian diberi beban seberat 20N (± 2 kg) dengan cara menggerakkan jari atau
batang yang dimasukkan kedalam tabung.
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat. Jajarta : Univesitas
Indonesia

Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia edisi III Jakarta

Departemen Kesehatan RI, 1995. Farmakope Indonesia edisi IV Jakarta

Anief, Moh. 2000. Ilmu meracik obat teori dan praktik. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press

Syamsuni, 2012. Ilmu resep. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC