Anda di halaman 1dari 37

Nilai :

Tanda tangan:

LAPORAN KASUS
Katarak Senilis Imature

Pembimbing :
dr. Moch Soewandi, Sp.M
Disusun Oleh :
Ester Marcelia Anastasia
11 – 2017 – 167

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA
WACANA
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR ESNAWAN ANTARIKSA
PERIODE 10 JUNI – 13 JULI 2019

1
LEMBAR PENILAIAN

Nama Ester Marcelia Anastasia

NIM 112017167

Tanggal Juni 2019

Judul kasus Katarak Senilis Imature

Skor
Aspek yang dinilai
1 2 3 4 5

Pengumpulan data

Analisa masalah

Penguasaan teori

Referensi

Pengambilan keputusan klinis

Cara penyajian

Bentuk laporan

Total

Nilai %= (Total/35)x100%

Keterangan : 1 = sangat kurang (20%), 2 = kurang (40%), 3 = sedang (60%), 4 = baik (80%),
dan 5 =sangat baik (100%)

Komentar penilai

Nama Penilai Paraf/Stempel

2
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus dengan judul:

Katarak Senilis Imature

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan kepanitraan


klinik

Ilmu Penyakit Mata RSAU Dr. Esnawan Antariksa periode 10 Juni – 13 Juli
2019

Disusun Oleh:

Ester Marcelia Anastasia

112017167

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Moch Soewandi, Sp.M selaku dokter
pembimbing Departement Mata RSAU Dr. Esnawan Antariksa

Jakarta, Juli 2019

Pembimbing

dr. Moch Soewandi, Sp.M

3
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Jl. Terusan Arjuna No. 6 Kebon Jeruk – Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Hari / Tanggal Ujian / Presentasi Kasus : Selasa / 2 Juni 2019 /


Kasus Katarak Senilis Imature

SMF ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT : RS TNI AU DR. ESNAWAN ANTARIKSA

Nama : Ester Marcelia Anastasia P

NIM : 112017167

Dokter Pembimbing : dr. Moch Soewandi Sp.M

I. IDENTITAS
Nama : Tn. B / 166362
Tanggal lahir : 11 September 1951
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak bekerja
Alamat : Jl. Halim Perdana Kusuma
Tanggal Pemeriksaan : 18 Juni 2019
II. ANAMNESIS
Auto Anamnesis Tanggal : 18 Juni 2019
Keluhan Utama : Pandangan kabur pada mata
kiri sejak 1 tahun yang lalu.
Keluhan Tambahan : Tidak ada.

4
 Keluhan Utama
Penglihatan buram yang semakin memberat pada mata kiri
sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit
 Keluhan Tambahan
Penglihatan mata kanan berkabut seperti tertutup asap,
merasa silau jika melihat cahaya.
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli mata RS TNI AU dr.Esnawan
Antariksa dengan keluhan penglihatan buram pada mata kiri sejak 1
tahun sebelum masuk rumah sakit. Keluhan penglihatan buram
dirasakan perlahan-lahan semakin memberat dan disertai penglihatan
yang berkabut seperti tertutup asap, merasa silau saat melihat
cahaya. Pasien juga merasa silau dan tidak nyaman apabila terkena
sinar matahari dan melihat cahaya secara langsung, namun pasien
merasa lebih nyaman bila berada di tempat yang lebih gelap atau saat
malam hari. Pasien tidak melakukan pengobatan dengan keluhan
tersebut karena masih dapat menggunakan mata kanan untuk
berkativitas.
Pasien mengaku tidak pernah memeriksakan kondisi mata ke
dokter sebelumnya, hingga saat ini keluhan yang dirasakan semakin
memberat dan menggangu aktivitas pasien.
Keluhan pada mata kiri tanpa disertai keluhan mata merah,
mata berair, mata terasa nyeri, melihat buram pada sore hari, pusing,
mual, muntah, dan penyempitan lapang pandang. Riwayat konsumsi
, alkohol,merokok dan terpapar sinar matahari berlebihan mata
disangkal.
 Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat menggunakan kacamata disangkal.
- Riwayat trauma pada kedua mata disangkal.
- Riwayat penyempitan lapang pandang disangkal
- Riwayat operasi mata sebelumnya disangkal.
- Riwayat penyakit Diabetes Melitus sejak 5 tahun yang lalu

5
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat alergi obat-obatan disangkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Compos Mentis
Tanda Vital : 120/80 mmHg, 85x/menit, 360 C
Kepala : Tidak ada kelainan
Mulut : Tidak ada kelainan
THT : Tidak ada kelainan
Thorak, jantung, paru : tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Tidak ada kelainan

Status Oftalmologis
KETERANGAN OD OS
VISUS
Visus Naturalis 6/12 ph 6/6 5/60 ph tetap
Koreksi S–1.00 6/6 Tidak terkoreksi
Addisi +3.00 +3.00
Distansia Pupil 60/- mm
KEDUDUKAN BOLA MATA
Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Gerakan mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah
SUPRA SILIA
Warna Hitam Hitam

Letak Simetris Simetris

PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR


Edema Tidak Ada Tidak Ada

6
Nyeri tekan Tidak Ada Tidak Ada
Ektropion Tidak Ada Tidak Ada
Entropion Tidak Ada Tidak Ada
Blefarospasme Tidak Ada Tidak Ada
Trikiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Fisura palpebra 9 mm 9 mm
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Kalazion Tidak Ada Tidak Ada
Ptosis Tidak Ada Tidak Ada
KONJUNGTIVA TARSAL SUPERIOR DAN INFERIOR
Hiperemis Tidak Ada Tidak Ada
Folikel Tidak Ada Tidak Ada
Papil Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Anemia Tidak Ada Tidak Ada
Kemosis Tidak Ada Tidak Ada
KONJUNGTIVA BULBI
Injeksi konjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi siliar Tidak Ada Tidak Ada
Perdarahan
Tidak Ada Tidak Ada
subkonjungtiva
Pterigium Tidak Ada Tidak Ada
Pinguekula Tidak Ada Tidak Ada
Nervus pigmentosus Tidak Ada Tidak Ada
SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak Ada Tidak Ada

7
KORNEA
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Ukuran 12 mm 12 mm
Sensibilitas Baik Baik
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus senilis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Plasido Tidak dilakukan Tidak dilakukan
BILIK MATA DEPAN
Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak ada Tidak ada
IRIS
Warna Coklat Coklat
Kripte Jelas Jelas
Bentuk Bulat Bulat
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada
PUPIL
Letak Sentral Sentral
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 3 mm 3 mm
Refleks cahaya + +

8
langung
Refleks cahaya tidak
+ +
langsung
LENSA
Kejernihan Jernih Sebagian keruh
Letak Ditengah Ditengah
Tes shadow Negatif Positif

BADAN KACA
Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
FUNDUS OKULI
Batas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekskavasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ratio Arteri : Vena Tidak dilakukan Tidak dilakukan
C/D Ratio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Makula Lutea Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Eksudat Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sikatriks Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ablasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
PALPASI
Nyeri tekan Tidak Ada Tidak Ada
Massa tumor Tidak Ada Tidak Ada
Tensi okuli (digital) N+0/P N+0/P
Non Contact
13 mmHg 13 mmHg
Tonometers

9
IV. RESUME
Laki-laki 67 tahun datang dengan keluhan utama mata kiri buram
perlahan sejak 1 tahun SMRS. Pandangan berkabut (+), diplopia (-),
silau(+), nyeri (-), merah (-), riwayat trauma (-), sakit kepala (-),
mual (-), muntah (-). Pasien mengidap DM sejak 5 tahun, rutin
minum obat.
Pada pemeriksaan oftalmologi ditemukan visus OD 6/12, ph 6/6 dan
OS 5/60,tidak terkoreksi dengan pinhole. Lensa OS sebagian keruh
V. DIAGNOSIS KERJA
Katarak Senilis Imature OS
VI. DIAGNOSIS BANDING

Katarak Diabetika

Katarak Traumatika

VII. PENATALAKSANAAN

Rujuk ke spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut


dan tindakan ekstraksi katarak.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Funduskopi Direct

Pemeriksaan Biometri

Pemeriksaan Retinometri

IX. PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad bonam

Ad Functionam : dubia ad malam

Ad Sanationam : dubia ad bonam

10
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA1,2


Bola mata memiliki 3 lapisan. Bola mata memiliki 3 lapisan. Dari
permukaan luar, terdapat lapisan fibrosa, yang terdiri dari sklera di belakang
dan kornea di bagian depan. Lapisan kedua yaitu lapisan berpigmen dan
vaskular, yang terdiri dari koroid, korpus siliaris, dan iris. Lapisan ketiga
yaitu lapisan neural yang dikenal sebagai retina. Bola mata orang dewasa
normal hampir mendekati bulat, dengan diameter anteroposterior sekitar
24,5 mm.

Gambar 1. Anatomi Mata


a) Konjungtiva
Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebris/tarsal) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbi).
Perdarahan konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis.
b) Sklera
Merupakan pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar.
Jaringan bersifat padat dan berwarna putih, serta bersambungan
dengan kornea di sebelah anterior, dan durameter nervus optikus di
posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah
lapisan tipis dari jaringan elastik halus yang mengandung banyak

11
pembuluh darah yang memasuk sklera, yang disebut sebagai
episklera.
c) Kornea
Merupakan jaringan transparan yang memiliki tebal 0,54 mm
ditengah, dan 0,65 mm di tepi, serta berdiameter sekitar 11,5 mm.
Sumber nutrisi kornea berasal dari pembuluh darah limbus, humor
aqueous, dan air mata. Dalam axis penglihatan, kornea berperan
sebagai jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan
difokuskan ke dalam pupil . Bentuk kornea cembung dengan sifat
yang transparan dimana kekuatan pembiasan sinar yang masuk 80
% atau 40 dioptri, dengan indeks bias 1,38 .
d) Uvea
Uvea terdiri atas iris, korpus siliaris, dan koroid. Bagian ini adalah
lapisan vaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera.
e) Iris
Merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris terletak
bersambungan dengan anterior lensa, yang memisahkan bilik
anterior dan blik posterior mata. Di dalam stroma iris terdapat otot
sfingter dan dilator pupil. Iris juga merupakan bagian yang memberi
warna pada mata. Dalam axis penglihatan, iris berfungsi mengatur
jumlah sinar yang masuk kedalam bola mata dengan mengatur besar
pupil menggunakan otot sfingter dan dilator pupil.
f) Pupil
Pupil berwarna hitam pekat yang mengatur jumlah sinar masuk
kedalam bola mata. Pada pupil terdapat m.sfinger pupil yang bila
berkontraksi akan mengakibatkan mengecilnya pupil (miosis) dan
m.dilatator pupil yang bila berkontriksi akan mengakibatkan
membesarnya pupil (midriasis).
g) Corpus siliaris
Membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris.
Corpus silliaris berperan untuk akomodasi dan menghasilkan humor
aquaeus.

12
h) Lensa
Merupakan struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan
transparan. Memiliki tebal sekitar 4 mm dan diameter 9 mm.
Terletak di belakang iris. Lensa digantung oleh zonula yang
menghubungkannya dengan korpus siliaris. Dalam axis penglihatan,
lensa berperan untuk berakomodasi dan memfokuskan cahaya ke
retina.
i) Retina
Merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan yang
melapisi dua per tiga bagian dalam posterior dinding bola mata.
Dalam aksis penglihatan, retina berfungsi untuk menangkap
rangsangan jatuhnya cahaya dan akan diteruskan berupa bayangan
benda sebagai impuls elektrik ke otak untuk membentuk gambaran
yang dilihat. Pada retina terdapat sel batang sebagai sel pengenal
sinar dan sel kerucut yang mengenal frekuensi sinar.
j) Nervus Optikus
Saraf penglihatan yang meneruskan rangsangan listrik dari mata ke
korteks visual untuk dikenali bayangannya.

Gambar 2. Fisiologis Penglihatan

13
ANATOMI DAN HISTOLOGI LENSA1,2
Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin
terletak di antara iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10
mm dengan ketebalan 3,5 mm – 5 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi
pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Serat zonula tersebut
menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior
dari kapsul lensa. Kapsul merupakan membran dasar yang melindungi
nukleus, korteks, dan epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa
memiliki beda kelengkungan, dimana permukaan anterior lensa lebih
melengkung dibandingkan bagian posterior. Kedua permukaan ini bertemu
di bagian ekuator. Sebagai media refraksi, lensa memiliki indeks refraksi
sebesar 1,39, dan memilki kekuatan hingga 15-16 dioptri. Dengan
bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa akan berkurang, sehingga
kekuatan lensa pun akan menurun.
Struktur lensa dapat diurai menjadi :
1. Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul
lensa tersusun dari kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel
lensa. Kapsul berfungsi untuk mempertahankan bentuk lensa saat
akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian anterior dan
posterior zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian
tengah kutub posterior (3um).
2. Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul
anterior. Merupakan selapis sel kuboid yang berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi serat lensa. Pada
bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif untuk
membentuk serat lensa baru.
3. Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat
lensa yang matur adalah serat lensa yang telah keihlangan
nucleus, dan membentuk korteks dari lensa. Serat-serat yang

14
sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke
tengah lensa.
4. Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)
Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat
tergantungnya lensa, sehingga lensa terfiksasi di dalam mata.
Ligamentum suspensorium menempel pada lensa di bagian
anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium
merupakan panjangan dari corpus silliaris.

Gambar 3. Anatomi Lensa

FISIOLOGI LENSA1,2
1. Transparansi lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf.
Untuk mempertahankan kejernihannya, lensa harus menggunakan
aqueous humour sebagai penyedia nutrisi dan sebagai tempat
pembuangan produknya. Namun hanya sisi anterior lensa saja
yang terkena aqueous humour. Oleh karena itu, sel-sel yang
berada ditengah lensa membangun jalur komunikasi terhadap
lingkungan luar lensa dengan membangun low resistance gap
junction antar sel.

15
2. Akomodasi lensa
Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan
oleh mata untuk mengubah fokus dari benda jauh ke benda dekat
yang bertujuan untuk menempatkan bayangan yang terbentuk
tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa
oleh badan silluar terhadap serat zonula. Saat m. cilliaris
berkontraksi, serat zonular akan mengalami relaksasi sehingga
lensa menjadi lebih cembung dan mengakibatkan daya akomodasi
semakin kuat. Terjadinya akomodasi dipersarafi ole saraf
simpatik cabang nervus III. Pada penuaan, kemampuan
akomodasi akan berkurang secara klinis oleh karena terjadinya
kekakuan pada nukelus.
Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi sebagai berikut:

Gambar 4. Fisiologi Lensa

DEFINISI KATARAK1,3,4
Katarak berasal dari Yunani “Katarrhakies”, Inggris “Cataract”,
Latin “Cataracta” yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut
blur dimana seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak
adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, proses penuaan.
Kekeruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya untuk mencapai retina,
sehingga penderita katarak mengalami gangguan penglihatan dimana objek

16
terlihat kabur. Mereka mengidap kelainan ini mungkin tidak menyadari
telah mengalami gangguan katarak apabila kekeruhan tidak terletak
dibagian tengah lensanya.

Gambar 5. Katarak Pada Lensa


Gangguan penglihatan yang dirasakan oleh penderita katarak tidak
terjadi secara instan, melainkan terjadi berangsur-angsur, sehingga
penglihatan penderita terganggu secara tetap atau penderita mengalami
kebutaan. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang lain, namun
dapat terjadi pada kedua mata secara bersamaan.
Katarak biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan
pasen mungkin meninggal sebelum diperlukan pembedahan. Apabila
diperlukan pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaii
ketajaman penglihtan pada > 90% kasus.sisanya mungkin mengalami
kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius misalnya
glaukoma, ablasio retina, atau infesi yang menghambat pemulihan daya
pandang.

ETIOLOGI4
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau
bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada
umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi
karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.
Penyebab katarak lainnya meliputi:

17
a. Faktor keturunan
b. Cacat bawaan sejak lahir
c. Masalah esehatan, misalnya diabetes
d. Pengguanaan obat tertentu, khususnya steroid
e. Gangguan pertumbuhan
f. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang
cukup lama
g. Asap rokok
h. Operasi mata sebelumnya
i. Trauma (kecelakaan) pada mata.
j. Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui

PATOFISIOLOGI3,4
Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori
hidrasi dan sklerosis.
Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel
lensa yang berada di subkapsular anterior, sehingga air tidak
dapatdikeluarkan dari lensa. Air yang banyak ini akan
menimbulkan bertambahnya tekanan osmotik yangmenyebabkan kekeruhan
lensa.
Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana
serabutkolagen terus bertambah sehingga terjadi pemadatan
serabut kolagendi tengah. Makin lama serabut tersebut semakin bertambah
banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.
Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:
1. Kapsula
a. Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
b. Mulai presbiopia
c. Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
d. Terlihat bahan granular

18
2. Epitel
a. Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan
berat)
b. Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
3. Serat lensa
a. Serat irregular
b. Pada korteks jelas kerusakan serat sel
c. Brown sclerotic nucleu, sinar UV lama kelamaan merubah
proteinnukelus lensa, sedang warna coklat protein lensa
nucleusmengandung histidin dan triptofan disbanding
normal.
d. Korteks tidak berwarna karenai kadar asam
askorbat tinggi dan menghalangi foto oksidasi.
Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan
fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat
perubahan pada serabut halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke
sekitar daerah di luar lensa, misalnya menyebabkan penglihatan mengalami
distorsi. Pada protein lensa menyebabkan koagulasi, sehingga
mengakibatkan pandangan dengan penghambatan jalannya cahaya ke retina.

Gambar 6. Bagan Patofisiologi Katarak

19
KLASIFIKASI KATARAK3,4
A. Menurut kejadian
1. Katarak Developmental
2. Katara Degeneratif
B. Menurut Umur
1. Katarak kongenital
2. katarak juvenil
3. katarak senil
C. Menurut Konsistensi
1. Katarak cair
2. Katarak lunak
3. Katarak keras
D. Menurut lokasi kekeruhannya
1. Katarak nukleus
2. Katarak kortikal
3. Katarak subskapular
E. Menurut warna
1. Katarak nigra ( Hitam)
2. Katarak rubra (Merah)
3. Katarak Brusnesecent (coklat)
F. Menurut bentuk kekeruhan
1. Katarak pungtata
2. Katarak stelata
3. Katarak linier

KATARAK DEVELOPMENTAL3,4
 Katarak Kongenital
Katarak kongenital adalah katarak yang ditemukan pada bayi
ketika lahir (atau beberapa saat kemudian) dan berkembang pada
tahun pertama dalam hidupnya. Katarak kongenital bisa merupakan
penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa

20
disebabkan oleh infeksi kongenital, seperti campak Jerman,
berhubungan dengan penyakit anabolik, seperti galaktosemia.
Katarak kongenital dianggap sering ditemukan pada bayi yang
dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit misalnya Diabetes
Melitus. Jenis katarak ini jarang sering terjadi. Faktor risiko
terjadinya katarak kongenital adalah penyakit metabolik yang
diturunkan, riwayat katarak dalam keluarga, infeksi virus pada ibu
ketika bayi masih dalam kandungan.

Gambar 7. Katarak Kongenital

Kekeruhan pada katarak kongenital dijumpai dalam berbagai bentuk,


antara lain :
o Katarak Hialoidea yang persisten
Arteri hialoidea merupakan cabang dari arteri retina
sentral yang memberi makan pada lensa. Pada usia 6 bulan
dalam kandungan, arteri hialoidea mulai diserap sehingga
pada keadaan normal, pada waktu bayi lahir sudah tidak
nampak lagi. Kadang-kadang penyerapan tidak berlangsung
sempurna, sehingga masih tertinggal sebagai bercak putih
dibelakang lensa, berbentuk ekor yang dimulai di posterior
lensa. Gangguan terhada visus tidak begitu banyak. Visus
biasanya 5/5, kekeruhannya statisioner, sehingga tidak
memerlukan tindakan.

21
o Katarak Polaris Anterior
Berbentuk piramid yang mempunyai dasar dan
puncak, karena itu disebut juga katarak piramidalis anterior.
Puncaknya dapat kedalam atau keluar. Keluhan terutama
mengenai penglihatan yang kabur waktu terkena sinar,
karena pada waktu ini pupil mengecil, sehingga sinar
terhalang oleh kekeruhan di polus anterior. Sinar yang redup
tidak terlalu mengganggu, karena pada cahaya redup, pupil
melebar, sehingga lebih banyak cahaya yang dapat masuk.
Pada umumnya tiddak menimbulkan gangguan stationer,
sehingga tidak memerlukan tinakan operatif. Dengan
pemberiann midriatika, seperti sulfas atropin 1% atau
homatropin 2% dapat memperbaiki visus, karena pupil
menjadi lebih lebar, tetapi terjadi pula kelumpuhan dari Mm.
Siliaris, sehingga tidak dapat berakomodasi.
o Katarak Polaris Posterior
Kekeruhan terletak di polus posterior. Sifat-sifatnya
sama dengan katarak polaris anterior. Juga stationer, tidak
menimbulkan banyak ganggan visus, sehingga tidak
memerlukan tindakan operasi. Tindakan yang lain sama
dengan katarak polaris anterior.
o Katarak Aksialis
Kekeruhan terletak pada aksis pada lensa. Kelainan
dan tindakan sama dengan katarak polaris posterior.
o Katarak Zonularis
Mengenai daerah tertentu, biasanya disertai
kekeruhan yang lebih padat, tersusun sebagai garia-garis
yang mengelilingi bagian yang keruh dan disebut riders ,
merupakan tanda khas untuk katarak zonularis. Paling sering
terjadi pada anak-anak, kadang herediter dan sering disertai
anamnesa kejang-kejang. Kekeruhannya berupa cakram
(diskus), mengelilingi bagian tengah yang jernih.

22
o Katarak Stelat
Kekeruhan terjadi pada sutura, dimana serat-serat dari
substansi lensa bertemu, yang merupakan huruf Y yang tegak
di depan dan huruf Y terbalik di belakang. Biasanya tidak
banyak mengganggu visus, sehingga tidak memerlukan
pengobatan.
o Katarak kongenital membranasea
Terjadi kerusakan dai kapsul lensa, sehingga
substansi lensa dapat keluar dan di serap, maka lensa
semakin menadi tipis dan akhirnya timbul kekeruhan seperti
membran.
o Katarak kongenital total
Katarak kongenital total disebabkan gangguan
pertumbuhan akibat peradangan intrauterin. Katarak ini
mungkin herediter atau timbul tanpa diketahui sebabnya.
Lensa tampak putih, rata, keabu-abuan seperti mutiara.
 Katarak Juvenil
Katarak juvenil terjadi pada anak-anak sesudah lahir,
termasuk kedalam katarak Developmental, karena terjadi pada waktu
masih terjadinya perkembangan serat-serat lensa. Konsistensinya
lembek seperi bubur disebut juga “soft cataract” . katarak juvenil
biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.
Pada katarak kongenital bilateral yang lengkap, operasi harus
dikerjakan pada bulan pertama, sejarak katarak itu diketahui pada
kedua mata. Katarak unilateral lengkap biasanya akibat trauma.
Tindakan pembedahan harus dilakukan jangan melebihi 6 bulan
setelah katarak itu diketahui, untuk menghindari ambliopia dan
terjadinya strabismus.

23
KATARAK DEGENERATIF4
Katarak degeneratif dibagi menjadi dua, yaitu primer dan komplikata.
 Katarak Primer
Katarak primer menurut usia terbagi menjadi katarak presenile
biasanya pada usia 40-50 tahun dan katarak senilis, usia lebih dari 50
tahun.
a) Katarak Senilis Kortikal
Katarak senilis semua kekeruhan lensa yang terdapat pada
usia lanjut, yaitu diatas usia 50 tahun keatas.

Gambar 6. Katarak Senilis


Katarak senilis merupakan katarak yang sering dijumapai.
Satu-satunya gejala adalah distorsi penglihatan dan pengihatan
yang semakin kabur. Katarak ini biasanya berkembang lambat
selama beberapa tahun, dan pasien mungkin meninggal sebelum
timbul indikasi pembedahan. Apabila diindikasikan pembedahan,
maka eksraksi lensa akan secara definitif akan memperbaiki
ketajaman penglihatan pada lbih dari 90% kasus. Sisanya (10%)
mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami
penyulit pasca bedah serius misalnya glaukoma, ablasi retina,
perdarahan korpus vitreum, infeksi atau pertumbuhan epitel ke
bawah kamera okuli anterior yang menghambat pemulihan
visual.
Perubahan lensa pada usia lanjut :
o Kapsul : menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak),
mulai presbiopia, bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur,
terlihat bahan granular.

24
o Epitel : sel epitel pada equator bertambah berat dan besar
o Serat lensa : lebih iregular, pada korteks jelas kerusakan serat
sel, brown slerosis nucleus , sinar UV lama kelamaan
merubah protein nukleus lensa, korteks tidak bewarna.
Secara klinis katarak seniis dapat dibagi dalam 4 stadium, yaitu :
 Stadium Insipien
Pada stadium ini belum menimbulkan gangguan
visus. Visus pada stadium ini bisa normal atau 6/6 – 6/20.
Dengan koreksi, visus masih dapat 5/5 – 5/6. Kekeruhan
terutamaterdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak
seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai korteks
anterior, sedangkan aksis masih terlihat jernih. Gambaran ini
disebut Spokes of wheel, yang nyata bila pupil dilebarkan.
 Stadium Imatur
Sebagian lensa keruhtetapi belum mengenai seluruh
lapis lensa. Visus pada stadium ini 6/60 – 1/60. Kekeruhan
ini terutama terdapat dibagian posterior dan bagian belakang
nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka
sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang
dipantulkan. Oleh karena kekeruhan berada di posterior
lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh
ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan
terlihat di pupil, ada daerah yang terang sebagai reflek
pemantulan cahaya pada daerah lensa yang eruh dan daerah
yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang
keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+).
Pada stadium ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang
mengakibatkan lensa menjadi cembung, sehingga indeks
refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata
menjadi miopia. Keadaan ini dinamakan intumesensi.
Dengan mencembungnya lensa iris terdorong kedepan,

25
menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi lebih sempit,
sehingga dapat menimbulkan glaukoma sebagai penyulitnya.
 Stadium Matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa,
sehingga semua sinar yang melalui pupil dipantulkan
kembali ke permukaan anterior lensa. Kekeruhan seluruh
lensa yang bila lama akan mengakibatkan klasifikasi lensa.
Visus pada stadium ini 1/300. Bilik mata depan akan
berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat
bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan
iris negatif (shadow test (-) ). Di pupil tampak lensa seperti
mutiara.
 Stadium Hipermatur
Pada stadium hipermatur terjadi proses degenerasi
lanjut yang dapat menjadi keras atau lembek dan mencair.
Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa
sehingga lensa menjadi mengecil, bewarna kuning dan
kering. Visus pada stadium ini 1/300 – 1/~. Pada
pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul
lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga
berhubungan dengan zonula zinii menjadi kendur. Bila
proses kekeruhan berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal
maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar,
maka korteks akan memperlihtkan bentuk sebagai sekantung
susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks
lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut katarak
morgagni.
Menurut mansjoer (2000), pada katarak senil, dikenal 4 stadium
yaitu seusai dengan tabel berikut :

26
Tabel 1. Stadium Maturitas pada Katarak

b) Katarak senilis nuklear


Terjadi proses sklerotik dari nukleus lensa. hal ini
menyebabkan lensa menjadi keras dan kehilangan daya
akomodasi.
Maturasi pada katarak senilis nuklear terjadi melalui proses
sklerotik, dimana lensa kehilangan daya elastisitas dan keras,
yang mengakibatkan menurunnya kemampuan akomodasi lensa,
dan terjadi obtruksi sinar cahaya yang melewati lensa mata.
Maturasi dimulai dari sentral menuju perifer. Perubahan warna
terjadi akibat adanya deposit pigmen. Sering terlihat gambaran
nukleus berwarna coklat (katarak brunesens) atau hitam (katarak
nigra) akibat deposit pigmen dan jarang berwarna merah (katarak
rubra).

27
Gambar 8. Katarak Nigra, Brunescens dan Rubra pada Katarak
Nuklear

MANIFESTASI KLINIK3,4
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya,
pasien melaporkan penurunan ketajaman fungsi penglihatan, silau, dan
gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena
kehilangan penglihatan tadi, temuan objektif biasanya meliputi
pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan
tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan
dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan
terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup,
menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah
melihat di malam hari. Pupil yang normalnya hitam, akan tampak
kekuningan, abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama
bertahun-tahun , dan ketika katarak sudah sangat memburuk, lensa koreksi
yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi
untuk menghindari silau yang menjengkel yang disebabkan oleh cahaya
yang salah arah. Misalnya, ada yang mengatur ulang perabotan rumahnya
sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka. Ada yang
mengenakan topi berkelepak lebar atau kaca mata hitam dan menurunkan
pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari (Smeltzer, 2002).

28
Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak
terjadi secara progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan
penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak yang diderita
pasien.
Gejala pada penderita katarak adalah sebagai berikut:
1. Penurunan visus
2. Silau
3. Perubahan miopik
4. Diplopia monocular
5. Halo bewarna
6. Bintik hitam di depan mata

Gambar 9. Perbandingan penglihatan normal dan katarak

DIAGNOSA3,4
Diagnosa katarak senilis dapat dibuat dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk
mendeteksi adanya penyakit-penyakit yang menyertai, seperti DM,
hipertensi, dan kelainan jantung.

29
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk
mengetahui kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak
subcapsuler posterior dapat membaik dengan dilatasi pupil. Pemeriksaan
adneksa okuler dan struktur intraokuler dapat memberikan petunjuk
terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya.
Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi
opasitas lensa tetapi dapat juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva,
kornea, iris, bilik mata depan. Ketebalan kornea harus diperiksa dengan
hati-hati, gambaran lensa harus dicatat dengan teliti sebelum dan sesudah
pemberian dilator pupil, posisi lensa dan intergritas dari serat zonular juga
dapat diperiksa sebab subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya
trauma mata sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak hipermatur.
Pemeriksaan shadow test dilakukan untuk menentukan stadium pada katarak
senilis. Selain itu, pemeriksaan ofthalmoskopi direk dan indirek dalam
evaluasi dari intergritas bagian belakang harus dinilai.

KOMPLIKASI4
Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa
glaucoma dan uveitis. Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan
intraokuler yang menyebabkan atrofi saraf optik dan kebutaan bila tidak
teratasi. Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea.

PENATALAKSANAAN3,4
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi
lensa. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah
lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler
cataract ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum
tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan
yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi.
1. Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa
bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya

30
dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi
korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan
hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE
tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan
pembedahan yang sangat lama populer.ICCE tidak boleh
dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40
tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular.
Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme,
glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
2. Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar
melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak
muda, pasien dengan kelainan endotel, implantasi lensa intra
ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra
ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata
dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata
sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca, ada riwayat
mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema,
pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat
melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca.
Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat
terjadinya katarak sekunder.
3. Phacoemulsification
Phakoemulsifikasi (phaco) adalah teknik untuk membongkar
dan memindahkan kristal lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan
yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic
akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin
PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai
bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan
melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak

31
diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan
aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis

Gambar 10. Mekanisme Facoemulsification

PENCEGAHAN
Pencegahan katarak ditujukan pada faktor risiko yang dapat
dimodifikasi. Dokter harus menggunakan steroid pada dosis terapeutik yang
paling kecil dan dihentikan saat keadaan pasien sudah memungkinkan.
Pasien yang menggunakan steroid jangka panjang (topikal atau sistemik)
harus diskrining untuk katarak. Pasien disarankan untuk berhenti merokok,
menghindari paparan sinar ultraviolet dengan menggunakan kacamata saat
berada diluar ruangan, dan menghindari trauma pada mata dengan cara
menggunakan kacamata atau alat pelindung mata pada pekerja industri.
Kemungkinan dari penggunaan antioksidan untuk memberikan efek proteksi
terhadap katarak telah diteliti, tetapi hasilnya tidak bersifat konklusif.
KATARAK SEKUNDER
Definisi
Katarak sekunder adalah katarak yang terjadi akibat terbentuknya
jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini
terlihat sesudah dua hari operasi EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra

32
Kapsuler), dan penanaman lensa di segmen posterior. Atau, katarak
yang terjadi sesudah suatu trauma yang memecah lensa.4

Etiologi
Katarak sekunder biasanya disebut juga dengan Posterior Capsular
Opacity (PCO),5 atau juga katarak ikutan (membran sekunder), yang
menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak traumatik yang
terserap sebagian atau setelah terjadinya EKEK.6 Dokter mata biasanya
pada saat operasi katarak lebih senang untuk meletakkan lensa tanam
intraokuler pada tempat anatomi yang sama dengan tempat lensa asli,
yakni di kapsul posterior lensa. Bagian kapsul anterior dibuka untuk
mengeluarkan katarak, dan kapsul posterior ditinggalkan untuk menahan
lensa yang akan ditanam, dan juga untuk mencegah vitreous humor
masuk ke segmen anterior mata.
Setelah operasi, ± 20% pasien akan timbul gambaran berkabut pada
kapsul, yang dikenal dengan Posterior Capsule Opacity (PCO), yang
menimbulkan gejala penglihatan kabur. Hal ini karena pertumbuhan
epitelial sel dari kapsul. Bila proses ini berkembang secara signifikan,
penglihatan mungkin dapat menjadi lebih buruk daripada sebelum
dilakukan operasi katarak.5

Patofisiologi
Epitel lensa subkapsuler yang tersisa mungkin mencoba melakukan
regenerasi serat-serat lensa (epitel subkapsuler berproliferasi dan
membesar), sehingga memberikan gambaran “Busa Sabun atau Telur
Kodok” pada kapsul posterior, disebut juga dengan Mutiara Elsching
atau Elsching Pearl. Lapisan epitel yang berproliferasi tersebut,
mungkin menghasilkan banyak lapisan, sehingga menimbulkan
kekeruhan. Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi
miofibroblastik. Kontraksi serat-serat ini menimbulkan banyak kerutan-
kerutan kecil di kapsul posterior, yang menimbulkan distorsi
penglihatan.6

33
Cincin Soemmering juga dapat timbul sebagai akibat kapsul anterior
yang pecah dan traksi kearah pinggir-pinggir melekat pada kapsul
posterior, meninggalkan daerah yang jernih ditengah, dan membentuk
gambaran cincin. Pada cincin ini tertimbun serabut lensa epitel yang
berproliferasi. Semua faktor ini dapat menyebabkan penurunan
ketajaman penglihatan setelah EKEK.4

Gejala Klinis
 Penglihatan kabur (seperti berkabut atau berasap), mungkin dapat
lebih buruk daripada sebelum di operasi.
 Fotofobia, yaitu rasa silau bila melihat cahaya.
 Tajam penglihatan menurun

Pemeriksaan Klinis
 Pada awal gejala akan tampak gelembung-gelembung kecil dan
debris pada kapsul posterior.7
 Pada tahap selanjutnya akan ditemukan gambaran Mutiara Elsching
pada kapsul posterior lensa. Mutiara Elsching ini mungkin akan
menghilang dalam beberapa tahun oleh kerena dindingnya pecah.
 Dapat juga ditemukan cincin Soemmering pada daerah tepi kapsul
posterior lensa.1

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan pada pasien setelah menjalani operasi
EKEK ataupun setelah suatu trauma pada mata, yang mengakibatkan
penglihatan menjadi semakin kabur, juga rasa silau bila melihat cahaya.
Dan jika dilakukan pemeriksaan, melalui pupil yang didilatasikan
dengan menggunakan oftalmoskop, kaca pembesar, atau slit lamp, akan
tampak gelembung-gelembung kecil pada daerah belakang lensa,
ataupun dapat ditemukan gambaran mutiara Elsching maupun cincin
Soemmering pada kapsul posterior lensa. Pada tes tajam penglihatan
didapatkan visus yang menurun.7

34
Terapi
Pengobatan katarak sekunder adalah dengan pembedahan seperti
disisio katarak sekunder, kapsulotomi, membranektomi, atau
mengeluarkan seluruh membran keruh.4 Sebelum laser Neodymium
yttrium (ndYAG) digunakan, katarak sekunder diobati dengan
melakukan kapsulotomi kecil dengan pisau jarum atau jarum nomor 27
gauge berkait, baik pada saat operasi utamanya atau sebagai prosedur
sekunder.
Namun pada tahun-tahun terakhir ini, laser Neodymium YAG telah
populer sebagai metoda non-invasif untuk melakukan disisi kapsul
posterior. Denyut-denyut energi laser menyebabkan “ledakan-ledakan”
kecil di jaringan target, sehingga menimbulkan lubang kecil di kapsul
posterior di sumbu pupil sebagai prosedur klinis rawat jalan.
Komplikasi teknik ini antara lain adalah :
1. Naiknya tekanan intraokuler sementara.
2. Kerusakan lensa intraokuler.
3. Ruptur muka hialoid anterior dengan penggeseran depan vitreous
menuju kamera anterior. Kenaikan tekanan intraokuler biasanya
dapat diketahui dalam 3 jam setelah terapi dan menghilang dalam
beberapa hari dengan terapi. Jarang, tekanan tidak turun ke normal
selama beberapa minggu, lubang atau retakan kecil dapat terjadipada
lensa intraokuler, tetapi biasanya tidak mengganggu tajam
penglihatan.
4. Pada mata afakia, ruptur muka vitreous dengan pergeseran vitreous
ke anterior cenderung menimbulkan abrasi retina regmatogen atau
edema makula sistoid.
Penelitian-penelitian baru menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan
yang nyata pada endotel kornea pada pemakaian laser Neodymium
yttrium (ndYAG). Penelitian yang ditujukan pada pengurangan
komplikasi ini, menunjukkan bahwa bahan yang digunakan untuk
membuat lensa, bentuk tepi lensa, dan tumpang tindih lensa intraokuler

35
dengan sebagian kecil cincin kapsul anterior penting dalam mencegah
opasifikasi kapsul posterior.

Gambar 11. PCO dan Post Laser nd-YAG

PROGNOSIS
Prognosis katarak adalah baik dengan lebih dari 95% pasien
mengalami perbaikan visual setelah dilakukan operasi. Prognosis visual
pada pasien anak yang mengalami katarak dan menjalani operasi tidak
sebaik pada pasien dengan katarak yang berhubungan dengan umur.
Prognosis untuk perbaikan kemampuan visual paling buruk pada katarak
kongenital unilateral yang dioperasi dan paling baik pada katarak kongenital
bilateral inkomplit yang bersifat progresif lambat. Prognosis pasien dengan
katarak sekunder biasanya baik dengan laser ndYAG.4

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment:2010. BR J


Ophthalmol. 2011.
2. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology. 17th ed. USA :
Mc Graw-Hill; 2007.
3. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 7th ed.
China: Elsevier : 2011. (e-book)
4. Ilyas, H.S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2004. Hal : 200-10.
5. Secondary Cataract. http://www.atlasofophthalmology.com. Diunduh
tanggal 30 Juni 2019.
6. Posterior Capsular Opacity. http://www.jakarta-eye-centre.com.
Diunduh tanggal 30 Juni 2019.
7. Voughan, D.G.Asbury, T. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Penerbit Widya
Medika. Jakarta. 2016. Hal : 175-81.
8. James, B. Chew, C. Bron, A. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi 9.
Penerbit Erlangga. Jakarta. 2005. Hal : 82.

37