Anda di halaman 1dari 6

A.

Asam Askorbat

Asam Askorbat (C6H8O6) mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari

100,5%. Asam askorbat berbentuk hablur atau serbuk; putih atau agak kuning, oleh pengaruh

cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering, stabil di udara, dalam

larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190o (Anonim, 2014).

Injeksi vitamin C adalah larutan steril dalam air yang dibuat dengan menambahkan

Natrium bikarbonat, Natrium metabisulfit dan Dinatrium EDTA. Vitamin C mengandung

tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 100,5% (Anonim, 2014) dari jumlah yang tertera

pada etiket. Syarat pH untuk sediaan injeksi asam askorbat adalah 5,5 – 7,0. Struktur asam

askorbat sebagai berikut : (Gambar 1)

Gambar 1. Struktur Asam Askorbat (Anonim, 2014)

Asam askorbat memiliki berbagai fungsi biologis antara lain menginduksi sintesis

kolagen, memperkuat jarikan kulit, mengurangi pigmentasi, dan memiliki aktivitas anti

radikal bebas. Vitamin C adalah vitamin yang paling tidak stabil dari semua vitamin dan

mudah rusak selama pemrosesan dan penyimpanan. Laju perusakan meningkat karena kerja

logam, terutama tembaga, besi, dan juga oleh kerja enzim. Asam askorbat sangat sensitif

terhadap cahaya, agen pengoksidasi dan ion logam, pemanasan, dan juga sangat mudah

terdegradasi dalam aqueous solution (Lee et al, 2004).

Kunci utama proses degradasi asam askorbat terletak pada ionisasi gugus hidroksi

senyawa ini, maka kontrol pada tahap ionisasi gugus hidroksi asam askorbat mungkin dapat

membantu melindungi senyawa ini dari degradasi dalam aqueous system (Lee et al, 2004)
Menurut Novakova et al, (2008) asam askorbat terdegradasi pada cahaya alami dan

diperlukan pengemas berbahan kaca coklat, dan bila perlu wadah dilapisi dengan aluminium

foil. Adanya ion logam juga merupakan faktor yang dapat menurunkan stabilitas asam

askorbat dalam larutan. Beberapa ion logam yang dapat mengganggu stabilitas antara lain:

Cu2+, Fe2+, Mg2+, Ca2+, Mn2+, dan Zn2+. Keadaan ini dapat ditangani dengan menggunakan

agen pengkelat seperti ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) atau monosodium glutamate

(MSG) (Novakova et al, 2008).

Vitamin C memiliki berbagai fungsi biologis antara lain menginduksi sintesis kolagen,

memperkuat jaringan kulit, mengurangi pigmentasi, dan memiliki aktivitas anti radikal bebas

(Lee et al, 2004). Tubuh dapat menyerap sekitar 500 mg vitamin C setiap hari. Kelebihan

dosis segera dikeluarkan oleh ginjal.

1. Indikasi dan dosis

Vitamin C berfungsi untuk pencegahan dan pengobatan penyakit sariawan, serta

untuk pengasaman urine (Lacy et al, 2009), dan untuk pencegahan flu, influenza, serta

meningkatkan sistem imun (Iqbal et al, 2004).

a. Dosis penggunaan vitamin C tidak lebih dari 2000 mg/hari (Lacy et al, 2009).

b. Dosis 60 mg/hari – 200 mg/hari untuk defisiensi vitamin C (Anonim, 2015).

c. 1 g/ hari peroral untuk menghambat pembentukan melanin (Baumann dan Alleman,

2009).

d. 500-1000 mg dapat menurunkan kadar kolesterol darah yang meningkat (Rahardja,

2015).

e. 500-2000 mg sebagai antioksidan (Lacy et al, 2009).


2. Peringatan selama penggunaan

Penggunaan vitamin C harus dimonitoring, terutama pada pasien dengan kondisi

sebagai berikut :

a. Pasien diabetes sebaiknya tidak mengkonsumsi dosis tinggi dalam jangka waktu

lama

b. Pasien riwayat batu ginjal sebaiknya tidak mengkonsumsi dosis tinggi dalam jangka

waktu lama (Lacy et al, 2009).

3. Interaksi Vitamin C dengan Obat Lain

Penggunaan vitamin C dengan beberapa obat yang digunakan secara bersama

menimbulkan interaksi, baik menguntungkan maupun merugikan. Interaksinya sebagai

berikut:

a. Vitamin C dengan Al(OH)3 dapat meningkatkan absorbsi Al(OH)3 .

b. Vitamin C dengan amfetamin : agen pengoksidasi vitamin C digastrointestinal dapat

menurunkan konsentrasi serum amfetamin.

c. Vitamin C dengan deferoxamin : vit c meningkatkan toksisitas deferoxamin (Lacy et

al, 2009).

d. Vitamin C dengan dosis >10g/hari memperlambat efek koagulan oral.

e. Vitamin C dengan kontrasepsi hormonal : vitamin c dalam beberapa kasus

menyebabkan kegagalan kontrasepsi.

f. Vitamin C dengan propanolol : vitamin c mengurangi bioavailabilitas propanolol.

g. Vitamin C dengan fluphenazine : vit c mereduksi serum fluphenazin.

h. Vitamin C dengan indinavir : vitamin C dengan dosis 1g/ hari menyebabkan sedikit

penurunan efektivitas pada indinavir.


i. Vitamin C dengan zat besi : dosis tinggi pada vitamin C menyebabkan gangguan

fungsi jantung pada sebagian pasien yang di terapi dengan deferoxamin (Tjay et al,

2002).

4. Efek samping

Vitamin C memiliki bebrapa efek samping, seperti berikut:

a. 1% - 10 % : dalam dosis tinggi menyebabkan hiperoksaluria

b. 1% : pingsan, pusing, kelelahan, mulas, mual, muntah dan diare (Lacy et al, 2009).

c. Konsumsi vitamin C >1,5 g/hari dapat menyebabkan diare. Terjadinya batu ginjal

oksalat dan urat pada dosis diatas 1-10 g dan ini belum dilaporkan (Tjay et al, 2002).

5. Kontra indikasi

Penggunaan vitamin C dikontra indikasikan beberapa pasien dengan kondisi

sebagai berikut :

a. Kontra indikasi : pasien yang menderita gangguan fungsi ginjal, pasien yang

menjalani hemodialisis, pasien yang kelebihan zat besi, dan riwayat batu ginjal

(Riordan et al, 2003)

b. Wanita hamil kategori (A/C) (Lacy et al, 2009).

6. Toksisitas

Dosis besar mungkin menyebabkan diare atau gangguan gastrointestinal lainnya

(Rowe et al, 2009). Hal ini terjadi karena efek iritasi langsung pada mukosa usus yang

mengakibatkan peningkatan peristaltik. Dosis besar juga dapat meningkatnya bahaya

terbentuknya batu ginjal, karena sebagian besar vitamin C dimetabolisme dan

diekskresikan sebagai oksalat. Menurut Arroyave (2015) asam askorbat dalam dosis

sangat besar memiliki beberapa resiko seperti hyperuricemia, batu ginjal urea, batu

ginjal oksalat, dan menghambat absorbsi vitamin B12.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, Farmakope Indonesia Edisi Kelima, Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia.

Anonim, 2015: World Health Organization.

Arroyave, G., 2015, Risk and Abuses of Megadoses of Vitamins,

archive.unu.edu/unupress/food/8F102E04.htm, diakses tanggal 31 Mei 2016.

Baumann, L. dan Alleman, I. B, 2009, Antioxidants, dalam: Baumann, L., Saghari, S.,

Weisberg, E. (Eds.), Cosmetic Dermatology: Principles and Practice, 2nd Ed. McGraw-

Hill Professional, New York, hal. 292–311.

Iqbal K, Khan A, and Khattak, 2004, Biological Attention Deficit Hyperactivity Disorder

(ADHD).,The Significance of Ascorbic Acid (Vitamin C), Human Journal of

Alternative and Complementary Medicine, 3(1): 5-13.

Lacy, C. F., Amstrong, L. L., Goldman, M. P., and Lance, L. L, 2009, Drug Information

Handbook, 17th Edition, Lexi-comp for the American Pharmacist Assosiation.

Lee, J. S., Kim, J. W., Han, S. H., Chang, I. S., Kang, H. H., Lee, O. S., et al, 2004, The

Stabilization of L-ascorbic Acid in Aqueous Solution and Water-in- Oil-in-Water

Double Emulsion by Controlling pH and Electrolyte Concentration, J. Cosmet. Sci, 55,

1-12.

Novakova, L., Solich, P., and Solichova, D., 2008, HPLC Methods for Simultaneous

Determination of Ascorbic and Dehydroascorbic Acids, Trends in Analytical Chemistry,

27(10), 942-958.

Riordan et al, 2003, Intravenous Ascorbic Acid: Protocol For Its Application and Use,

PRHSJ, 22(3) 287-290.

Rowe, R. C., Sheskey, P. J., dan Quinn, M. E, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients.

Sixth, USA: Pharmaceutical Press.


Tjay, T. H., dan Rahardja, K, 2002, Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek

Sampingnya, Edisi Kelima, 270-279, Efek Media Komputindo, Jakarta.