Anda di halaman 1dari 70

BAB XIII

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)


SEKTOR P2 (PEDESAAN & PERKOTAAN)
& BEA PERHOTELAN ATAS HAK TANAH
& BANGUNAN (BPHTB)

414
BAB XIII
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) SEKTOR P2 (PEDESAAN &
PERKOTAAN) & BEA PERHOTELAN ATAS HAK TANAH DAN
BANGUNAN (BPHTB)

BAGIAN PBB SEKTOR P2


PENGERTIAN PBB – P2

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Sektor Pedesaan dan Perkotaan yang selanjutnya disebut PBH-P2 adalah
Pajak Daerah yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Bagian Keenam Belas “Pajak
Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan”, Undang-Undang nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah. PBB-P2 dikelola Pemerintah Daerah dalam waktu paling lambat tanggal 31
Desember 2013.

PBB-P2 adalah pajak atas humi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh
orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan
dan pertambangan.

ISTILAH-ISTILAH PBB — P2

1. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk
melaporkan data subjek dan objek PBB — P2 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan daerah.

Pendataan dilakukan dengan menggunakan SPOP dan SPOP harus diisi dengan jelas, benar, dan
lengkap serta ditandatangani dan disampaikan kepada Kepala Daerah yang wilayah kerjanya meliputi
letak objek pajak, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah tanggal diterimanya SPOP
oleh subjek pajak (Pasal 83 UU PDRD).

2. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) adalah surat yang digunakan untuk memberitahukan
besarnya PBB - P2 yang terutang kepada Wajib Pajak.

Berdasarkan SPOP, Kepala Daerah menerbitkan SPPT. Kepala Daerah dapat mengeluarkan SKPD
(adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang) dalam
hal-hal sebagai berikut (Pasal 84 UU PDRD):

415
a. Apabila SPOP tidak disampaikan dan setelah Wajib Pajak ditegur secara tertulis oleh Kepala
Daerah sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran.

b. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang lebih
besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh Wajib Pajak.

3. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender.

4. Saat yang menentukan pajak yang terutang adalah menurut keadaan objek pajak pada tanggal 1
Januari.

5. Tempat pajak yang terutang adalah di wilayah daerah yang meliputi objek pajak.

OBJEK DAN SUBJEK PBB—P2

Objek PBB-P2 (Pasal 77 UU PDRD)

Yang menjadi objek PBB-P2 adalah “Bumi dan/atau Bangunan” yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan, perhutanan dan pertambangan. Pengertian bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah
dan perairan pedalaman serta laut wilayah kabupaten/kota. Sementara itu, bangunan adalah konstruksi
teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut.
Termasuk dalam pengertian bangunan adalah:

1. jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik dan
emplasemennya yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;
2. jalan tol;
3. kolam renang;
4. pagar mewah;
5. tempat olahraga;
6. galangan kapal, dermaga;
7. taman mewah;
8. tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak; dan
9. menara.

*) Kawasan adalah semua tanah dan bangunan yang digunakan oleh perusahaan perkebunan, perhutanan
dan pertambangan di tanah yang diberi hak guna usaha perkebunan, tanah yang diberi hak penguasaan
hutan dan tanah yang menjadi wilayah usaha pertambangan (Penjelasan Pasal 77 UU PDRD).

416
Objek Pajak yang tidak dikenakan PBB-P2 (Pasal 77 UU PDRD)

Objek pajak yang tidak dikenakan PBB—P2 adalah adalah objek yang:

1. Digunakan oleh Pemerintah dan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan;

2. digunakan semata- mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan,
pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan memperoleh keuntungan (adalah objek
pajak itu diusahakan untuk melayani kepentingan umum dan nyata-nyata tidak ditujukan untuk mencari
keuntungan. Hal ini dapat diketahui antara lain dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari
yayasan/badan yang bergerak dalam bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan
nasional tersebut);

3. digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu;

4. merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang
dikuasai oleh desa dan tanah negara yang belurn dibebani suatu hak;

5. digunakan oleh perwakilan diplornatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; dan

6. digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

Subjek Pajak dan Wajib Pajak PBB—P2 (Pasal 78 UU PDRD)


Subjek PBB—P2 adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:

1. mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau;

2. memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau;

3. memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau;

4. memperoleh manfaat atas bangunan.

Wajib Pajak PBB-P2 adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:

1. mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau;

2. memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau

3. memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau;

4. memperoleh manfaat atas bangunan.

PERHITUNGAN PBB – P2
NJOP BUMI
NJOP BANGUNAN +
NJOP SEBAGAI DASAR PENGENAAN PBB
NJOPTKP -
NJOPKP
PBB Terutang

417
Keterangan

1. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah sebagai Dasar Pengenaan PBB—P2. Besarnya NJOP ditetapkan
setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan
perkembangan wilayahnya yang dilakukan oleh Kepala Daerah (Pasal 79 UU PDRD).

NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan
bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek
lain yang sejenis atau nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti (Pasal 1 angka 40 UU PDRD).

Penetapan NJOP dapat dilakukan dengan:

a. Perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis adalah suatu pendekatan/metode penentuan
nilai jual suatu objek pajak dengan cara membandingkannya dengan objek pajak lain yang
sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan telah diketahui harga jualnya.

b. Nilai Perolehan Baru adalah suatu pendekatan/metode penentuan nilai jual objek pajak dengan
cara menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh objek tersebut pada saat
penilaian dilakukan, yang dikurangi dengan penyusutan berdasarkan kondisi pisik objek tersebut.

c. Nilal Jual Pengganti adalah suatu pendekatan/metode penentuan nilai jual objek pajak yang
berdasarkan pada hasil produksi objek pajak tersebut.

2. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) ditetapkan paling rendah sebesar
Rp10.000.000,- untuk setiap Wajib Pajak dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 77 UU
PDRD).

3. Tarif PBB P2 ditetapkan paling tinggi 0,3% dan ditetapkan dengan peraturan Daerah (Pasal 80 UU
PDRI)).

Contoh: PEMDA DKI JAKARTA

Untuk dapat mengelola pemungutan PBB-P2, Pemprov DKI Jakarta telah diterbitkan Peraturan Daerah
Nomor 16 Tahun 2011 selanjutnya disebut PERDA 16/2011, dimana cara menghitung PBB-P2 cukup
sederhana yaitu NJOP dikalikan prosentase tertentu setelah dikurangi NJOPTKP.
Adapun tarif PBB-P2 sebagai berikut:

NJOP Tanah dan/atau Bangunan Tarif PBB-P2 PEMPROV DKI JAKARTA

0 s.d. 200 juta 0,01%

200 juta – 2 Miliar 0,1%

2 Miliar – 10 Miliar 0,2%

Diatas 10 Miliar 0,3%

418
Contoh:

1. Tarif PBB-P2 = 0,01% NJOP di bawah Rp200 Juta

NJOP Bumi 90 1.500.000 135.000.000

NJOP Bangunan 60 1.000.000 60.000.000

NJOP Bumi dan Bangunan 195.000.000

- NJOPTKP 15.000.000

NJOPKP 180.000.000

PBB Terutang 0,01% 18.000

2. Tarif PBB-P2 = 0,1%, Rp200 juta < x < Rp2 Milyar

NJOP Bumi 204 1.500.000 306.000.000

NJOP Bangunan 100 1.000.000 100.000.000

NJOP Bumi dan Bangunan 406.000.000

- NJOPTKP 15.000.000

NJOPKP 391.000.000

PBB Terutang 0,1% 391.000

3. Tarif PBB-P2 = 0,2%, Rp2 Milyar < x < Rp10 Milyar

NJOP Bumi 3.000 1.500.000 4.500.000.000

NJOP Bangunan 500 1.000.000 500.000.000

NJOP Bumi dan Bangunan 5.000.000.000

- NJOPTKP 15.000.000

NJOPKP 4.985.000.000

PBB Terutang 0,2% 9.970.000

4. Tarif PBB-P2 = 0,2%, di atas Rp10 Milyar

NJOP Bumi 7.000 1.500.000 10.500.000.000

NJOP Bangunan 900 1.000.000 900.000.000

NJOP Bumi dan Bangunan 11.400.000.000

- NJOPTKP 15.000.000

NJOPKP 11.385.000.000

PBB Terutang 0,3% 34.155.000

419
BAGIAN BPHTB
PENDAHULUAN

Dengan berlakunya Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, hak-hak atas tanah
menurut hukum Barat menjadi tidak berlaku lagi. Karena itu, pungutan Bea Balik Nama atas pemindahan
harta tetap berdasarkan Ordonansi Bea Balik Nama menurut Staatshlad 1924 Nomor 291 tidak dapat
dilaksanakan.

Terhadap orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, perlu dikenakan pajak dengan nama Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan. Untuk itu, pada tahun 1997 dibentuk Undang-Undang yang dalam perjalanannya UU
No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) telah diubah dengan
UU No. 20 Tahun 2000 tanggal 2 Agustus 2000. Akan tetapi, sejak 1 Januari 2011 pengelolaan BPHTB
diserahkan ke Pemerintah Daerah dengan adanya diberlakukannya Undang-Undang Nornor 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah khususnya Bagian Ketujuh Belas Pasal 85 sampai dengan Pasal
93. Yang selanjutnya disebut UU PDRD.

Diskusi

1. Kapan berakhirnya UU No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB) telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2000 tanggal 2 Agustus 2000?

2. Apabila terjadi perolehan hak atas tanah dan bangunan untuk sektor PIIB-P3 pada saat ini, yang
menjadi dasar hukurn pengenaan BPHTB adalah?

Objek BPHTB - Pasal 85 UU PDRD

Yang menjadi objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan (adalah perbuatan atau
peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi
atau badan), yang meliputi:

1. Pemindahan hak karena:

a. jual beli;

b. tukar-menukar;

c. hibah;

d. hibah wasiat;

e. waris;

f. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya;

g. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;

h. penunjukan pembeli dalam lelang;

420
i. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;

j. penggabungan usaha;

k. peleburan usaha;

1. pemekaran usaha;

m. hadiah.

2. Pemberian hak baru karena:

a. kelanjutan pelepasan hak;

b. diluar pelepasan hak.

Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan di
atasnya, sebagaimana dimaksud dalam undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan.

Hak atas tanah sebagaimana dimaksud di atas adalah hak milik; hak guna usaha; hak guna bangunan; hak
pakai; hak milik atas satuan rumah susun; dan atau hak pengelolaan.

Non Objek BPHTB - Pasal 85 ayat (4) UU PDRD

Objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB adalah objek pajak yang diperoleh oleh:

1. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;

2. negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna
kepentingan umum;

3. badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan
syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau
perwakilan organisasi tersebut;

4. orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya
perubahan nama;

5. orang pribadi atau badan karena wakaf; atau

6. orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.

Subjek Pajak dan Wajib Pajak - Pasal 86 UU PDRD

Yang menjadi subjek pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah
dan/atau bangunan.

Yang menjadi wajib pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang rnemperoleh hak atas tanah
dan/atau bangunan.

421
TARIF DAN DASAR PENGENAAN BPHTB

Berbicara tentang tarif dan dasar pengenaan BPHTB dibahas didalam Pasal 87 sampai dengan Pasal 89 UU
PDRD.
Tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar 5% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Tarif BPHTB
ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
DPP-nya adalah sebesar Nilai Perolehan Objek Pajak, yang diuraikan berikut ini:

Sumber Perolehan Hak atas Tanah/Bangunan Dasar Pengenaan Pajak

1. Jual beli harga transaksi

2. Tukar-menukar nilai pasar

3. Hibah nilai pasar

4. Hibah Wasiat nilai pasar

5. Waris nilai pasar

6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya nilai pasar

7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan hak nilai pasar

8. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap

9. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak nilai pasar

10. Pemberian hak baru atas tanah diluar pelepasan hak nilai pasar

11. Penggabungan Usaha nilai pasar

12. Peleburan Usaha nilai pasar

13 Pemekaran Usaha nilai pasar

14. Hadiah nilai pasar

15. Penunjukan pembeli dalam lelang harga transaksi yang


tercantum dalam risalah
lelang. Risalah lelang adalah
kutipan risalah lelang yang
ditandatangani oleh Kepala
Kantor yang membidangi
pelayanan lelang Negara

1. Apabila Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud di atas tidak diketahui atau lebih rendah
daripada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya
perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah NJOP PBB (Pasal 87 ayat (3) UU PDRD).

2. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan paling rendah
Rp60.000.000,00 untuk setiap Wajib Pajak (Pasal 87 ayat (4) UU PDRD).

3. Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam
hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah
dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, NPOPTKP ditetapkan paling rendah
Rp300.000.000,00 (Pasal 87 ayat (5) UU PDRD).

4. NPOPTKP dimaksud pada butir 2 dan 3 ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 87 ayat (6) UU
PDRD).

422
5. Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah Nilai Perolehan Pajak dikurangi dengan
NPOPTKP (Pasal 89 UU PDRD).

6. Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Perolehan
Objek Pajak Kena Pajak atau BPHTB = persentase tertentu x NPOPKP (Pasal 89 UU PDRD).

7. BPHTB yang terhutang dipungut oleh daerah tempat tanah dan/atau bangunan berada (Pasal 89 UU
PDRD.

Contoh:

WP “A” membeli tanah dan bangunan dengan


Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 65.000.000
Nilal Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 60.000.000
Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak Rp 5.000.000
Pajak Yang Terutang 5% x Rp 5.000.000 Rp 250.000
SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG

Saat Pajak Terutang

Saat terutangnya pajak BPHTB ditetapkan untuk (Pasal 90 UU PDRD):

1. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

2. tukar menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

3. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

4. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

5. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan;

6. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan
ditandatanganinya akta;

7. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

8. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap;

9. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dan pelepasan hak adalah sejak tanggal
ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;

10. Pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat
keputusan pemberian hak;

11. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

12. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

13. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

14. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

15. lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.

Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak sebagaimana dimaksud pada butir di
atas.

423
Latihan Soal PBB - P2 Dengan UU PDRD

1. Hitung PBB - P2 rumah yang Saudara tempati dengan cara NJOP dikonversi sesuai PMK-150/
PMK.03/2010! Apabila NJOP Bumi dan Bangunan per meter2 adalah Rp5.000.000 dan
Rp3.000.000 serta Tarif PBB menggunakan Pemda DKI

2. Di dalam SPPT tertulis SPPT dan STTS bukan merupakan bukti kepemilikan hal apa maksudnya?
Jelaskan!

3. Nyonya Yakiniku menerima SPPT PBB - P2 tahun 2013 sebesar Rp800.000. Pada SPPT tersebut
tertera jatuh tempo pembayaran pada tanggal 30 Agustus 2013. Berapa Nyonya Yakiniku harus
membayar PBB nya jika dibayar pada:

a. Tanggal 31 Juli 2013

b. Tanggal 1 Juli 2014

c. Tanggal 30 September 2014

4. Sebuah perusahaan real estate & real properti dikawasan Royal Residence Jakarta Timur
menawarkan kompleks rumah susun yang berdiri di atas bumi seluas 5.000 m, NJOP/m2 =
Rp3.100.000 dengan rincian sebagai berikut:

a. Luas Bangunan Hunian 11.250 m2, NJOP/m2 = Rp2.200.000 terdiri atas:

– Tipe 21, 250 unit

– Tipe 36, 100 unit

– Tipe 48, 50 unit

b. Fasilitas (Lobby, lift, tangga. ruang pertemuan, dan lain-lain) dengan luas 1.500 m, NJOP/m2 =
Rp1.833.000.

c. Lingkungan (jalan, tanam, parkir, dan lain-2) dengan luas 2.000 m, NJOP/m2 Rp 1.200.000.
Hitunglah PBB terutang untuk tipe 48, jika NJOPTKP = Rp15.000.000,00!

5. Cari tarif PBB-P2 yang berlaku di daerah asal Saudara dan rumah yang Saudara tempati!

424
Latihan Soal BPHTB Dengan UU PDRD

1. Hitung BPHTB terutang tuan B atas rumah yang Saudara tempati tersebut dijual kepada Tn B!
Apabila tarif BPHTB 5% dan harga transaksi di hawah NJOP PBB P2 yang telah Saudara hitung.

2. Apa perbedaan Waris, Hibah dan Hibah Wasiat?

3. Pada tanggal 2 Mei 2011 Tuan Dorayaki dengan PT Baling Baling Bambu melakukan transaksi
didepan Notaris PPAT dengan harga transaksi sebesar Rp300.000.000,00. Surat Setoran BPHTB
(SSB) dibuat dengan bantuan salah seorang pegawai notaris dan telah dibayarkan ke Bank Pintu
Ajaib.

a. Hitunglah BPHTB yang dibayar oleh Tuan Dorayaki jika diketahui NPOPTKP = Rp80.000.000
atau Rp350.000.000.

b. Atas objek tersebut dilakukan pemeriksaan oleh Dinas Pajak Daerah setempat diterbitkan
SKBKB pada tanggal 30 Juni 2012 dengan data I.uas tanah 300 m; dengan nilai tanah

Rp l .200.000 dan Luas bangunan 150 m2; dengan nilai bangunan Rp 950.000. Hitunglah
besarnya SKBKB yang diterbitkan oleh Dinas Pajak Daerah setempat pada tanggal 30 Juni
2012!

4. Tuan Doraemon adalah seorang broker tanah di wilayah Jabodetabek, pada tanggal 14 Februari 2012
menjadi pemenang lelang yang diselenggarakan oleh Kantor Pelelangan dan Piutang Lelang Negara
atas sebuah rumah dengan harga Rp l.700.000.000 sedangkan NJOP PBB tersebut adalah

Rp 1 .900.000.000.

Pertanyaan:

a. Kewajiban Tuan Doraemon saat menjadi pemenang lelang adalah membayar BPHTB, hitung
besarnya BPHTB terutang apabila NPOPTKP Rp 60.000.000 atau Rp300.000.000 dan sarana
apa yang digunakan untuk membayar?

b. Kapan kasus tersebut terutang BPHTB?

5. Kapan saat terutang untuk transaksi jual beli yang belum ada haknya (dalam hal ini sertifikat/
sertifikat belum ada)?

425
BAB XIV
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)
SEKTOR P3 (PERKEBUNAN,
PERHUTANAN, PERTAMBANGAN)

428
BAB XIV
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) SEKTOR P3 (PERKEBUNAN,
PERHUTANAN, PERTAMBANGAN)

PENGERTIAN

Pengalihan kewenangan pengelolaan PBB - P2 dari Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) kepada
Pemerintah Kabupaten Kota dikenal PBB - P3. PBB - P3 adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap
bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang- Undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994.

PBB adalah pajak kebendaan atas bumi dan atau bangunan yang dikenakan terhadap orang pribadi atau
badan yang secara nyata mempunyai hak dan atau memperoleh manfaat atas bumi dan/atau memiliki
menguasai dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan. PBB merupakan pajak kebendaan, dalam arti
besarnva pajak terutang ditentukan oleh keadaan Objek yaitu bumi, tanah dan/atau bangunan: sedangkan
keadaan subjek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

Pembahasan modul PBB - P3 dikelompokkan menjadi:

1. PBB Sektor Perkebunan.

2 PBB Sektor Perhutanan (Hutan Tanaman Industri dan Hutan Alam).

3. PBB Sektor Pertambangan ((Mineral dan Batubara (Minerba) dan Minyak Bumi Gas Bumi (Migas)
serta Panas Bumi (Pabum)).

ISTILAH-ISTILAH PBB — P3

1. Objek PBB adalah “Bumi dan/atau Bangunan”: Pengertian bumi adalah permukaan bumi (tanah dan
perairan) dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, misalnya sawah, ladang kebun, tanah. pekarangan,
dan tambang. Sementara itu, bangunan adalah Konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan
secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilavah Republik Indonesia.

2. Subjek PBB adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:

– mempunyai suatu hak atas bumi. dan atau;

– memperoleh manfaat atas bumi, dan atau;

– memiliki, menguasai atas bangunan. dan atau;

– memperoleh manfaat atas bangunan.

3. Wajib Pajak adalah Subek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak.
Identitas Wajib Pajak telah distandarisasi dengan pemakaian Nomor Objek Pajak (NOP) yang
mempunyai karakteristik unik, permanen, standart dengan satuan blok dalam wilayah administrasi
pemerintahan desa/kelurahan yang berlaku secara nasional.

429
Susunan Nomor Objek Pajak terdiri dri 18 digit sebagal berikut:
AA— bb — ccc—ddd—eeee—f—g
A = 2 Digit Kode Provinsi (Dati I )
b = 2 Digit Kode Kabupaten (Dati II)
c = 3 Digit Kode Kecamatan
d = 3 Digit Kode Blok
e = 4 Digit Nomor Urut Objek
f = 1 Digit Kode Khusus
Nomor Objek Pajak tersebut berguna untuk:
– Memudahkan mengetahui lokasi/letak objek pajak
– Memudahkan pemantauan penyampaian/pengembalian SPOP sehingga dapat diketahul objek pajak
yang sudah atau belurn terdaftar
– Sebagai alat mengintegrasikan data atributik dan grafis/peta PBB
– Mengurangi adanya ketetapan ganda
– Memudahkan penyampaian SPPT, sehingga dapat diterima tepat waktu
4. Dasar pengenaan PBB adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP: NJOP ditentukan, per wilayah
berdasarkan keputusan kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan terlebih dahulu
memperhatikan:
1. harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual bei yang terjadi secara wajar;
2. perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan telah diketahui,
harga jualnya;
3. nilai perolehan baru;
4. penentuan nilai jual objek pengganti.
Dalam melaksanakan penilaian Objek PBB Ditjen Pajak menggunakan 3 pendekatan penilaian sebagai
berikut:
a. Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
NJOP Dihitung dengan cara membandingkan Objek pajak yang sejenis dengan objek pajak lain
yang telah diketahui harga pasarnya. Pendekatan ini pada umumnya digunakan untuk menentukan
NJOP tanah, namun dapat juga dipakai untuk menentukan NJOP bangunan.
b. Pendekatan Biaya (Cost Approach)
Pendekatan ini digunakan untuk menentukan nilai tanah atau bangunan terutama untuk menentukan
NJOP bangunan dengan menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat bangunan baru
yang sejenis dikurangi dengan penyusutan phisiknya
c. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk rnenentukan NJOP yang tidak dapat dilakukan berdasarkan
pcndekatan data pasar dan pendekatan biaya, tetapi ditentukan berdasarkan hasil bersih objek pajak
tersebut. Pendekatan ini terutama digunakan untuk menentukan NJOP galian tambang dan objek
perairan.

5. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan
yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya
Rp12.000.000 (dua belas juta rupiah) yang akan berlaku hingga Desember 2011. Mulai tanggal 1

430
Januari 2012 berdasarkan PMK No.67/PMK.03/2011, NJOPTKP diberikan sebesar Rp24.000.000 (dua
puluh empat juta rupiah).

Ketentuan mengenai NJOPTKP adalah sebagai berikut:

1. Setiap WP memperoleh pengurangan NJOPTK sebanyak satu kali dalam satu tahun Pajak (Per WP);

2. Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan;

3. Apabila WP rnempunyai beberapa Objek Pajak, maka yang rncndapatkan pengurangan NJOPTKP
hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak hisa digabungkan dengan Objek Pajak
lainnya.

6. Dasar penghitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Besarnya NJKP ditentukan serendah
rendahnya adalah 20% dan setinggi-tingginya 100%. Besarnya NJKP adalah sebagai berikut (PP 25
Tahun 2002):

1. Objek pajak perkebunan adalah 40%

2. Objek pajak kehutanan adalah 40%

3. Objek pajak pertambangan adalah 40%

7. Tahun Pajak adalah jangka waktu satu tahun takwim, yaitu dan tanggal 1 Januari s.d. 31 Desember.

8. Saat yang menentukan pajak terutang menurut Pasal 8 ayat 2 UU PBB adalah keadaan Objek Pajak
pada tanggal 1 Januari. Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi
setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnva.

Contoh:

A menjual tanah kepada B pada tanggal 2 Januari 2011.

Kewajiban PBB Tahun 2011 masih menjadi tanggung jawab A. Sejak Tahun Pajak 2012 kewajiban
PBB menjadi tanggung jawab B.

Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.

9. Tempat Pajak Terutang:

a. Untuk Daerah Jakarta, di wilayah DKI Jakarta;

b. Untuk daerah lainnya di wilayah kabupaten atau kota; yang meliputi letak objek pajak.

10. Cara Menghitung PBB - P3

Tarif PBB - P3 0.5%

Cara Menghitung PBB:

PBB - P3 TARIF x NJKP

NJKP (NJOP BUMI + NJOP BANGUNAN) – NJOPTKP

431
Rumus penghitungan PBB = Tarifx NJKP

Jika NJKP = 40% x (NJOP - NJOPTKP),

PBB P3 = 0,5% x 40% x (NJOP - NJOPTKP)

= 0,2% x (NJOP - NJOPTKP)

11. Dasar Penagihan PBB adalah Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Tagihan Pajak (STP),
Surat Ketetapan Pajak (SKP).

– Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Pratama (KPP Pratama) mengenai pajak terutang yang harus dibayar dalam 1 (satu) tahun
pajak.

– Surat Tagihan Pajak (STP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP
Pratama) untuk menagih pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar ditambah sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2 (dua) persen per bulan.

– Surat Ketetapan Pajak (SKP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP
Pratama) yang memberitahukan besarnya pajak yang terutang termasuk denda administrasi kepada
Wajb Pajak (WP)

PENDAFTARAN, PENDATAAN, DAN PENILAIAN OBJEK PBB - P3

Pendaftaran Objek PBB - P3

1. Cara Mendaftarkan Objek PBB — P3

Orang atau Badan yang menjadi Subjek PBB wajib mendaftarkan Objek Pajaknya ke kantor Pelayanan
Pajak Pratama (KPP Pratama) yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut, dengan
menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Surat Pemberitahuan Objek Pajak
(SPOP) adalah sarana hagi WP (WP) untuk mendaftarkan Objek Pajak yang akan dipakai sebagai dasar
untuk menghitung PBB yang terutang.

2. Sanksi Terkait dengan Pendaftaran Objek PBB-P3

a. Sanksi Aministrasi

1) Dalam hal WP tidak menyampaikan kembali SPOP pada waktunya dan setelah ditegur secara
tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. maka akan diterbitkan
Surat Ketetapan Pajak (SKP) dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 25% dari PBB
yang terutang.

2) Apabila pengisian SPOP setelah diteliti dan diperiksa ternyata tidak benar (lebih kecil), maka
akan diterbitkan SKP dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 25% dari selisih
besarnya PBB yang terutang.

b. Sanksi Pidana

1) Barang siapa karena kealpaannya tidak mengembalikan SPOP atau mengemhalikan SPOP
tetapi isinya tidak benar tan tidak lengkap dan atau melampirkan keterangan yang tidak benar

432
sehingga menimbulkan kerugian bagi Negara, dipidana dengan pidana kurungan selama-
lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya 2 (dua) kali lipat pajak yang terutang;

2) Barang siapa karena dengan sengaja

a) tidak mengembalikan atau menyampaikan SPOP kepada Direktorat Jenderal Pajak;

b) menyampaikan SPOP tetapi isinva tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan
keterangan yang tidak benar:

c) memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen yang palsu atau dipalsukan
seolah-olah benar;

d) tidak memperlihatkan data dan tidak meminjamkan surat atau dokumen lainnya;

e) tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang diperlukan;

sehingga menimbulkan kerugian pada negara, dipidana dengan pidana penjara selama-

lamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang

terutang. Sanksi pidana tersebut dilipatkan dua apabila seseorang melakukan lagi tindak

pidana di bidang perpajakan sebelum lewat satu tahun, terhitung sejak selesainya

menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarnya

denda.

Pendataan Objek PBB-P3

Dalam rangka pendataan, subjek pajak wajib mendaftarkan objek pajaknya dengan mengisi Surat
Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Dalam rangka pendataan WP akan diberikan surat Pemberitahuan
Objek Pajak untuk diisi dan dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Pajak. WP yang pernah dikenakan
IPEDA tidak wajib mendaftarkan objek pajaknya kecuali kalau ia menerima SPOP, dia wajib mengisinya
dan mengembalikannya kepada Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam hal data grafis peta desa, peta garis dan peta foto mengalami banyak perubahan, maka dilakukan
pendataan Objek PBB. Pendataan ini dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama)
dengan menggunakan SPOP dan dilaksanakan sekurang-kurangnya untuk satu wilayah administrasi desa/
kelurahan.

Pendataan Objek Pajak dilakukan dengan cara antara lain:

1. Penyerahan SPOP; Cara ini dapat dilakukan pada daerah/wilayah yang tidak/belum mempunyai peta,
terpencil dan mempunyai potensi PBB yang relatif kecil

2. Identifikasi Objek Pajak; Dilakukan pada daerah/wilayah yang sudah memiliki peta garis/peta foto
yang dapat menentukan posisi relatif objek pajak namun tidak mempunyai data administrasi
pembukuan PBB hasil pcndataan 3 (tiga) lahun terakhir secara lengkap.

3. Verifikasi objek dan subjek pajak; dilakukan pada daerah/wilayah yang sudah memiliki peta garis/peta
foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil pendataan 3 (tiga) tahun terakhir
secara lengkap.

433
4. Pengukuran Bidang Objek Pajak; dilakukan pada daerah/wilayah yang hanya memiliki sket desa/
kelurahan, sehingga belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif objek pajak, namun
letaknya strategis dan mempunyai potensi PBB yang pesat.

Penilaian Objek PBB - P3

Penilaian Objek PBB meliputi penilaian objek tanah dan bangunan yang dilakukan oleh ditjen pajak untuk
menentukan NJOP yang akan dijadikan dasar pengenaan Pajak.

I. Pendekatan Penilaian

Dalam melaksanakan penilaian Ojek PBB Ditjen Pajak menggunakan 3 pendekatan penilaian sebagai
berikut:

a. Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)

NJOP Dihitung dengan cara membandingkan Objek pajak yang sejenis dengan objek pajak lain yang
telah diketahui harga pasarnya. Pendekatan ini pada umumnya digunakan untuk menentukan NJOP
tanah, namun dapat juga dipakai untuk menentukan NJOP bangunan.

b. Pendekatan Biaya (Cost Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk menentukan nilai tanah atau bangunan terutama untuk menentukan
NJOP bangunan dengan menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat bangunan baru
yang sejenis dikurangi dengan penyusutan phisiknya.

c. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk menentukan NJOP yang tidak dapat dilakukan berdasarkan
pendekatan data pasar atau pendekatan biaya, tetapi dientukan berdasarkan hasil bersih objek pajak
tersebut. Pendekatan ini terutama digunakan untuk menentukan NJOP galian tambang dan objek
perairan.

2. Cara Penilaian PBB — P3

Akan dibahas lebih lanjut pada materi PBB Perhutanan, PBB Perkebunan dan PBB Pertambangan.

PENENTUAN NJOP PBB — P3

Akan dibahas lebih lanjut pada materi PBB Perhutanan, PBB Perkebunan, dan PBB Pertambangan.

DASAR PENGENAAN, PERHITUNGAN DAN SAAT TERUTANGNYA PBB - P3

Dasar Pengenaan PBB

Dasar pengenaan PBB adalah “Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)” NJOP ditentukan per wilayah berdasarkan
keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan terlebih dahulu memperhatikan:

1. harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar;

2. perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan telah diketahui harga
jualnya;

3. nilai perolehan baru;

4. penentuan nilai jual objek pengganti.

434
Nilal Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP
untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp12.000.000 (dua belas juta rupiah) yang akan
berlaku hingga Desember 2011. Mulai tanggal 1 Januari 2012 berdasarkan PMK No.67/PMK.03/2011
NJOPTKP diberikan sebesar Rp24.000.000 (dua puluh empat juta rupiah).

Ketentuan mengenai NJOPTK adalah sebagai berikut:

1. Setiap WP memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak (Per WP)

2. Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan;

3. Apabila WP mempunyai beberapa Objek Pajak maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP
hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya.

Dasar Penghitungan PBB - P3

Dasar penghitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Besarnya NJKP ditentukan serendah-
rendahnya adalah 20% dan setinggi-tingginya 100%. Besarnya NJKP untuk PBB - P3 (Obek pajak
perkebunan, Objek pajak kehutanan, Objek pajak pertambangan) adalah sebesar 40% (PP 25 Tahun 2002).

Tarif dan Cara Menghitung PHB P3

Tarif PBB 0.5%

Cara Menghitung PBB:

PBB TARIF X NJKP

NJKP (NJOP BUMI + NJOP BANGUNAN) NJOPTKP

Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP

Jika NJKP = 40% (NJOP — NJOPTKP),

PBB = 0.5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP)

= 0.2% x (NJOP — NJOPTKP)

Tahun Pajak, Saat dan Tempat yang Menentukan Pajak Terutang

1. Tahun Pajak adalah jangka waktu satu tahun takwim yaitu dari tanggal 1 Januari s.d. 31 Desember,

2. Saat yang menentukan pajak terutang menurut Pasal 8 ayat 2 UU PBB adalah keadaan Objek Pajak
pada tanggal 1 Januari. Dengan Demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi
setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak tahun berikutnya.

Contoh:

A menjual tanah kepada R pada tanggal 2 Januari 2011.

Kewajiban PBB Tahun 2011 masih menjadi tanggung jawab A. Sejak Tahun Pajak 2012 kewajiban
PBB menjadi tanggung awab B.

Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.

435
3. Tempat Pajak Terutang:

a. Untuk Daerah akarta, di wilayah DKI Jakarta;

b. Untuk daerah lainnya, di wilayah kabupaten atau kota; yang meliputi letak objek pajak.

SPPT, SKP, STP DAN TATACARA PEMBAYARAN PBB

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Pratama (KPP Pratama) mengenal pajak terutang yang harus dibayar dalam 1 (satu) tahun pajak.

1. Hak Wajib Pajak sehubungan dengan SPPT:

a. Menerima SPPT PBB setiap tahun pajak, paling lambat bulan Juni atau satu bulan setelah men
yerahkan Surat Pemheritahuan Objek Pajak (SPOP).

b. Mendapatkan penjelasan segala sesuatu yang berhubungan dengan ketetapan PBB.

c. Mengajukan keberatan dan pengurangan.

d. Mendapatkan Surat tanda Terima Setotan (STTS) PBB dari Bank/Kantor Pos dan Giro yang
tercantum pada SPPT atau Tanda Terima Sementara (TTS) dari petugas pemungut PBB
Kelurahan/Desa yang ditunjuk resmi

2. Kewajiban Wajib Pajak sehubungan dengan SPPT

a. Menandatangani bukti tanda terima SPPT dan mengirimkannya kembali kepada Lurah/Kepala
Desa/Dinas Pendapatan Daerah/Kantor Penyuluhan Pajak untuk diteruskan ke atau Kantor
Pelayanan Pajak Pratama yang menerbitkan SPPT.

b. Melunasi PBB pada tempat yang telah ditentukan.

3. Cara Mendapatkan SPPT

a. Mengambil sendiri di kantor Kelurahan/Kepala Desa/di tempat WP terdaftar atau tempat lain yang
ditunjuk.

b.. Dalam rangka pelayanan, SPPT dapat dikirim melalui kantor Pos dan Giro atau diantarkan oleh
aparat kelurahan/Desa.

Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Surat Ketetapan Pajak (SKP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang
memberitahukan besarnya pajak yang terutang termasuk denda administrasi kepada Wajib Pajak (WJ).

SKP diterbitkan apabila:

1. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP):

a. tidak diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta tidak ditandatangani oleh WP;

b. tidak disampaikan kembali dalam jangka waktu 30 hari dan setelah ditegur secara tertulis

tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam surat teguran

2. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar
dan jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh WP;

436
a. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang disebabkan SPOP tidak diisi dengan jelas, benar, dan
lengkap serta tidak ditandatangani oleh WP atau pengembalian SPOP lewat 30 hari setelah diterima
WP adalah sebesar pokok pajak ditambah dengan denda administrasi sebesar 25% dihitung dari
pokok pajak.

b. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang didasarkan atas hasil pemeriksaan atau keterangan lain
adalah selisih pajak yang terutang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain dengan pajak
terutang yang dihitung berdasarkan SPOP ditambah denda administrasi sebesar 25 % dari selisih
pajak yang terutang.

c. SKP disampaikan kepada WP melalui:

1) Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak.

2) Kantor Pos dan Giro.

3) Pemerintah Daerah.

d. SKP harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak SKP diterima oleh WP

e. Atas SKP dapat diajukan keberatan/pengurangan.

Surat Tagihan Pajak (STP)

1. Surat Tagihan Pajak (STP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama untuk
menagih pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar ditambah denda administrasi sebesar 2 (dua)
persen per bulan.

2. Dasar Penerbitan STP:

a. Wajib Pajak (WP tidak melunasi pajak yang terutang sedangkan saat jatuh tempo pembayaran Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak (SKP) telah lewat.

b. WP melunasi pajak yang terutang setelah lewat saat jatuh tempo pembayaran SPPT/SKP tetapi
denda administrasi tidak dilunasi.

3. STP disampaikan kepada WP melalui:

a. Kantor Pelayanan Pajak Pratama/Kantor Penyuluhan Pajak.

b. Kantor Pos dan Giro.

c. Pemerintah Daerah.

STP harus dilunasi selambat—lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal STP ditrima WP. Sanksi administrasi
berupa denda sebcsar 2% (dua persen) setiap bulan, untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat)
bulan dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran. Atas STP tidak dapat diajukan
keberatan atau pengurangan, tapi WP dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali atas STP jika
ternyata WP telah melunasi kewajiban pajaknya.

Pajak yang terutang dalam STP apabila tidak dilunasi setelah jangka waktu yang telah ditentukan dapat
ditagih dengan surat paksa.

437
Tata Cara Pcmbayaran PBB

Sesuai dengan PerMenkeu No. 16/PMK.03/2007, diatur tempat dan tata cara pembayaran PBB sbb.:

1. Pembayaran PBB terutang untuk objek pajak:

a. Perkebunan, Kehutanan dan pertambangan Non Migas dilakukan di Bank atau Pos Persepsi.

b. Pertambangan Migas dan Energi Panas Bumi dilakukan di Bank/Pos Persepsi yang merangkap
sebagai Bank Operasional (BO) III yaitu Bank Umum yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk
menerima pelimpahan hasil penerimaan PBB dari Bank/Pos Persepsi dan Bank/Pos Persepsi
elektronik, melakukan pembagian hasil penerimaan PBB dan membayar pengembalian kelebihan
pembayaran PBB.

2. Dalam hal PBB terutang dipungut oleh Petugas Pemungut, setiap hari kerja Petugas Pemungut wajib
menyetorkan hasil pemungutan PBB tersebut, kecuali untuk daerah tertentu yang sarana dan
prasarananya sulit, penyetorannya dapat dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari setelah pemungutan.

3. Pembayaran harus dilakukan sekaligus (tidak diperkenankan mencicil).

4. Jatuh tempo Pembayaran PBB adalah sebagai berikut:

a. SPPT Jatuh tempo 6 hulan sejak diterima

b. SKP Jatuh tempo 1 bulan sejak diterima

c. STP jatuh tempo 1 bulan sejak diterima

PENGURANGAN PBB

Pengertian Pengurangan PBB

Pengurangan PBB adalah pemberian keringanan pajak yang terutang atas Objek Pajak. Pengurangan PBB
diberikan dalam hal:

1. WP orang pribadi atau badan karena kondisi tertentu Objek Pajak yang ada hubungannya dengan
Subjek Pajak dan atau karena sebab- sebab tertentu lainnya, yaitu:

a. Objek Pajak berupa lahan pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan yang hasilnya sangat terbatas


yang dimiliki, dikuasai dan atau (dimanfaatkan oleh WP Orang Pribadi;

b. Objek Pajak yang dimiliki dikuasai dan atau (dimanfaatkan oleh WP orang pribadi yang
berpenghasilan rendah yang nilai jualnya meningkat akibat adanya pembangunan atau
perkembangan lingkungan;

c. Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh WP Orang Pribadi yang
penghasilannya semata mata berasal dan pensiunan, sehingga kewajiban PBB nya sulit dipenuhi;

d. Objek Paiak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh WP orang:

e. Pribadi yang berpenghasilan rendah sehingga kewaliban PBB_nya sulit dipenuhi;

f. Obek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh WP veteran pejuang kemerdekaan
dan veteran pembela kemerdekaan; dan

438
g. Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Badan yang mengalami
kerugian dan kesulitan likuiditas yang serius sepanjang tahun, sehingga tidak dapat memenuhi
kewajihan rutin perusahaan.

2. WP Orang pribadi atau badan dalam hal (Objek pajak yang terkena bencana alam (gempa bumi, banjir,
tanah longsor gunung meletus, dan sebagainya) atau sebab-sebab lain yang luar biasa (kebakaran,
kekeringan, wabah penyakit dan hama tanaman).

Cara Pengajuan Pengurangan PBB

Untuk mendapatkan pengurangan PBB, WP dapat mengajukan permohonan kepada Kantor Pelayanan PBB
dengan cara:

1. Permohonan pengurangan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala Kantor
Pelayanan PBB yang menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak
(SKP).

2. Isi surat permohonan menyebutkan persentase pengurangan yang dimohonkan.

3. Pengajuan permohonan dilakukan dengan ketentuan:

a. Untuk ketetapan PBB s/d Rl l00.000,- dapat diajukan secara perseorangan atau kolektif (meialui
Kepala Desa/Lurah yang bersangkutan) dengan formulir yang telah ditentukan.

b. Untuk ketetapan PBB di atas Rp l00.000,- harus diajukan oleh WP yang bersangkutan dengan
melampirkan fotokopi SPPT/SKP PBB Tahun Pajak yang dimohonkan.

c. Untuk WP Badan, melampirkan fotokopi:

– SPPT/SKP PBB tahun yang dimohonkan;

– SPT PPh tahun terakhir beserta lampirannya.

– STTS tahun pajak terakhir;

– laporan keuangan perusahaan.

4. Untuk Objek Pajak yang terkena bencana alam, hama tanaman, dan sebab lain yang luar biasa dan
bersifat kolektif diajukan oleh Kepala Desa/Lurah dengan diketahui oleh Camat dengan mencantumkan
nama-nama WP yang dimohonkan pengurangannya dengan mempergunakan formulir yang telah
ditentukan,

a. Permohonan diajukan selambat-lambatnya 3 bulan sejak SPPT/SKP diterima WP atau sejak


terjadinya bencana alam atau sebab-sebab lain yang luar biasa.

b. Pengurangan secara kolektif diajukan sebelum SPPT diterbitkan selambat-lambatnya tanggal 10


Januari untuk tahun pajak yang bersangkutan.

c. Apabila batas waktu pengajuan tersebut tidak dipenuhi, maka permohonannya tidak diproses, dan
Kepala Kantor Pelayanan PBB yang bersangkutan harus memberitahukan secara tertulis kepada
WP/Kepala Desa/Lurah, disertai penjelasan seperlunya.

5. Keputusan atas permohonan pengurangan besarnya PBB yang diajukan WP dapat berupa

a. mengabulkan seluruh permohonan;

439
b. mengabulkan sebagian; atau

c. menolak.

PBB SEKTOR PERKEBUNAN

Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/ atau media
tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, rnengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman
tersebut dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan
kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat (Pasal 1 angka 1 UU No. 18 Tahun 2004).

Sektor Perkebunan adalah objek pajak PBB yang digunakan untuk pengusahaan tanaman perkebunan
dengan luasan paling sedikit 2 (dua) hektar, termasuk emplasemen. Jenis tanaman perkebunan untuk PBB
Sektor Perkehunana seperti: kelapa sawit, kelapa hibrida, karet, kopi.

Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan adalah objek pajak PBB yang dimiliiki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleb orang pribadi atau badan, yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang
diberikan Hak Guna Usaha Perkebunan.

Penentuan NJOP Bumi

NJOP Bumi sektor Perkebunan adalah Nilai Dasar Tanah ditambah dengan Stándar Investasi Tanaman
(SIT).

– Nilai Dasar Tanah adalah nilai tanah areal perkebunan tidak termasuk SIT. Nilai Dasar Tanah
diperoleh melalui proses penilaian properti menggunakan Pendekatan Perbandingan Data Pasar, yang
mana data pembanding diperoleh daerah sekitar perkebunan.

– SIT adalah jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan,
penanaman dan pemeliharaan tanaman. Untuk memudahkan dalam penghitungan PBB Sektor
Perkebunan terhutang maka besarnya SIT ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal

Walaupun tanaman bukanlah didefinisikan sebagai bumi atau bangunan, tetapi keberadaan tanaman
ikut andil dalam rneningkatkan nilai bumi, sehingga wajar jika dilakukan pemajakan terhadap tanaman
tersebut.

Areal perkebunan dikelornpokkan menjadi:

1. Areal Produktif yaitu areal yang sudah ditanami yang meliputi areal tanaman belum menghasilkan dan
areal tanaman yang menghasilkan.

2. Areal Belum Produktif, terdiri dan areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami dan areal yang belum
diolah.

3. Areal Emplesemen yaitu areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana pelengkap
lainnya dalam perkebunan.

4. Areal Lainnya, terdiri dari:

a. Areal tidak produktif/tidak dapat dimanfaatkan, seperti: rawa, cadas dan jurang.

440
b. Areal jalan meliputi jalan utama yang terletak di dalam dan/atau di luar areal perkebunan, jalan
produksi yang berfungsi untuk pengumpulan hasil dan jalan control yang berfungsi untuk
pengawasan areal perkebunan.

Penentuan NJOP Bangunan

Luas bangunan dapat didasarkan pada Izin Mendirikn Bangunan (IMB) atau didasarkan pada pengukuran
langsung di lapangan. Akan tetapi, ada sebab bangunan yang tidak bisa diukur berapa luasnya dan
Volumenya, sehingga diasumsikan sebagai lumpsum seperti: empatan gorong-gorong, tangki, silo, pipa dan
bangunan lainnya.

Perhitungan nilai bangunan dapat menggunakan alat bantü berupa LSPOP standar ataupun individual. Jika
tidak mcnggunakan LSPOP maka harus dilakukan perhitungan secara manual (Rencana Anggaran Biaya
/RAB).

Hitunglah NJOP Bangunan di bawah ini!

Nilai
No Jenis Bangunan Luas (m²) Bangunan Nilai Bangunan
/ m²

1 Pabrik/kilang 1.000 1.500.000

2 Perkantoran 500 2.000.000

3 Perumahan 400 2.000.000

4 Mess/Guest house 300 2.500.000

5 Gudang 250 1.000.000

6 Ruang workshop 150 1.000.000

7 Sarana Olah Raga/rekreasi 100 1.000.000

8 Poliklinik/Baskebun/Puskebun dan lain-lain 100 1.500.000

9 MCK 40 1.000.000

10 Jalan diperkeras 10.000 2.000.000

11 Landasan pesawat udara/helipact 5.000 4.000.000

12 Pelabuhan LS 5.000.000.000

13 Jembatan LS 5.000.000.000

14 Gorong-gorong LS 1.000.000.000

15 Bangunan Lainnya LS 500.000.000

16 Tangki LS 100.000.000

17 Silo LS 1.000.000.000

18 Pipa LS 5.000.000.000

.................... .......................................

NJOP Bangunan per m² (sebelum dikonversi) .......................................

441
NJOP Bangunan per m² (setelah dikonversi) *) .......................................

*) Lihat Lampiran PMK-139/PMK.03/2014

NJOP Sektor Perkebunan

1. NJOP bumi per meter persegi sebesar hasil konversi nilai tanah per meter persegi ke dalam klasifikasi,
penggolongan dan ketentuan nilai jual permukaan bumi (tanah) sebagaimana dimaksud pada lampiran
A Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

2. NJOP bangunan per meter persegi sebesar hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam
klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana dimaksud pada lampiran B
Peraturan Menteri Keuangan Nornor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

PBB SEKTOR PERHUTANAN

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan (Pasal 1 angka 2 UU No. 41 Tahun 1999).

Sektor Perhutanan adalah objek PBB yang meliputi areal pengusahaan hutan dan budi daya hutan. Ruang
lingkup hutan adalah hutan produksi yaitu kawasan titian yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
hutan. Hutan ini dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Hutan Tanaman, adalah hutan produksi yang dibangun dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan
berupa penyiapan lahan, pembenihan atau pembibitan, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan atau
penebangan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan. Contohnya: Jelutung (Pulai), Rotan, Sengon,
Jabon, Akasia, Jati.

2. Hutan Alam, adalah hutan produksi yang didalamnya telah bertumbuh pohon-pohan alami dan
dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa pemanenan atau penebangan, penanaman,
pemeliharaan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan.

Objek PBB Sektor Perhutanan adalah bumi dan/atau bangunan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perhutanan yang diberikan hak pengusahaan hutan, yang meliputi:

1. izin Usaha Pemanfaatan dan Pemungutan Hasil Hutan

a. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK);

b. izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK);

c. Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu (IPHHK);

d. Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK);

e. Hak Pengusahaan Hutan (HPH);

f. Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH)

442
2. Izin lainnya yang syah pada Hutan Produksi antara lain berupa penugasan khusus terkait dengan
usaha pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan pada Hutan Produksi Perum Perhutani (PP 72/20 10).

Areal Perhutanan atas Hutan Tanaman dikelompokkan menjadi:

1. Areal Produktif, yaitu areal hutan yang telah ditanami pada Hutan Tanaman, atau areal blok tebangan
pada Hutan Alam.

2. Areal Belum Produktif, yaitu areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami pada Hutan Tanaman, atau
areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada Hutan Alam.

3. Areal Emplasemen, yaitu areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana pelengkap
lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang diperkeras.

4. Areal Lainnya, yaitu areal selain Areal Produktif, Areal Belum Produktif, dan Areal Emplasemen, yang
terdiri dari:

a. Log ponds, yaitu areal berupa perairan yang digunakan untuk penimbunan kayu bulat.

b. Log yards, yaitu areal berupa daratan yang digunakan untuk penimbunan kayu bulat.

c. Areal tidak produktif, yaitu areal hutan yang tidak ada tegakannya, seperti: areal rawa, payau,
waduk/danau atau yang digunakan pihak ketiga secara tidak sah.

Areal Perhutanan atas Hutan Alam dikelompokkan menjadi:

1. Areal Produktif, yaitu areal blok tebangan pada Hutan Alam.

Nilai Dasar Tanah diabaikan, sehingga areal produktif dihitung dengan perkalian antara pendapatan
bersih setahun dengan Angka kapitalisasi. Cara ini merupakan penerapan Pendekatan NJOP Pengganti.
Areal Produksi sebesar 8,5 x Hasil Bersih setahun sebelurn tahun pajak berjalan.
Areal produksi adalah areal hutan blok tebangan sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan
Rencana Karya Tahunan (RKT).

Hasil bersih setahun adalah pendapatan kotor setahun dan penjualan hasil produksi dikurangi dengan
biaya eksploitasi.

Pendapatan kotor adalah total hasil produksi dalam tahun pajak sebelurnnya dikalikan dengan harga
pasar kayu bulat sebagaimana harga pasar per 1 Januari dan tahun pajak berjalan.

Biaya eksploitasi adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi meliputi penebangan/upah
tenaga kerja dan peralatan, pengangkutan sampai di tempat penimbunan kayu (log ponds/log yards)
dalam areal hutan, penanaman, pemeliharaan hutan/perawatan, pengendalian kebakaran dan
pengamanan hutan, Pajak Bumi dan Bangunan dan Provisi Sumber Daya Hutan (untuk areal blok
tebangan) tahun pajak sebelumnya.

2. Areal Belum Produktif, areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada Hutan Alam.

3. Areal Emplasemen, yaitu areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana pelengkap
lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang diperkeras.

443
4. Areal Lainnya, yaitu areal selain Areal Produktif, Areal Belum Produktif, dan Areal Emplasernen, yang
terdiri dari:

a. Log ponds, yaitu areal berupa perairan yang digunakan untuk penimbunan kayu bulat.

b. Log yards, yaitu areal berupa daratan yang digunakan untuk penimbunan kayu bulat.

c. Areal tidak produktif, yaitu areal hutan yang tidak ada tegakannya, seperti: areal rawa, payau,
waduk, danau atau yang digunakan pihak ketiga secara tidak sah.

Khusus untuk Objek PBB Sektor Perhutanan atas HPHTI cara menghitung NJOP Areal Produktif mirip
dengan Objek PBB Sektor Perkebunan.

NJOP atas Objek PBB Sektor Perhutanan atas HPHTI untuk Areal Hutan adalah sebesar NJOP berupa tanah
ditambah Jumlah Biaya Pembangunan Hutan Tanaman Industri menurut umur tanaman. Untuk
memudahkan dalam penghitungan PBB Terutang maka besarnya stándar biaya pembangunan Hutan
Tanaman Industri ditetapkan oleh Kepala Kanwil DJP.

Subjek PBB Sektor Perhutanan adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak
atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau
memperoleh manfaat atas bangunan, yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan yang diberikan hak
pengusahaan hutan.

NJOP Sektor Perhutanan

1. NJOP sektor perhutanan atas Hak Pengusahaan Hutan, Hak Pengusahaan hasil Hutan, Izin
Pemanfàatan Kayu serta Izin Sah Lainnya selain Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri

a. Areal Produktif sebesar 8,5 x hasil bersih setahun sebelum tahun pajak berjalan.

b. Areal belurn/tidak produktif, emplasemen dan areal lainnya, adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak
berupa tanah sekitarnya dengan penyesuaian seperlunya.

c. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objck Pajak yaitu sebesar nilai konversi
biaya pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan
metode penilaian kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana
dimaksud pada lampiran B Peraturan Menteri Keuangan Nornor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli
2014.

2. NJOP Sektor Perhutanan atas Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri

a. Areal hutan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak berupa tanah ditambah dengan Jumlah Biaya
Pembangunan Hutan Tanaman Industri

b. Areal emplasemen dan areal lainnya dalam Kawasan Hutan Tanaman Industri, adalah sebesar Nilai
Jual Objek Pajak berupa tanah sekitarnya dengan penyesuaian seperlunya.

c. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi
biaya pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan
metode penilaian kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan
sebagaimana dimaksud pada Lampiran lampiran B Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/
PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

444
d. Penggolongan Wilayah, dan Besarnya Standar Biaya Pembangunan Hutan Tanaman Industri adalah
sebagaimana tercantum pada Lampiran lampiran B Peraturan Menteri Keuangan Nomor
139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

PBB SEKTOR PERTAMBANGAN

Bahan galian menurut Undang-Undang Nomor 11 adalah unsur-unsur kimia mineral-mineral, bijih-bijih dan
segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan- Bahan Galian,
ditentukan bahwa sesuai kemajuan teknologi di bidang pertambangan dan perkembangan kegunaan bahan
bahan galian dan berdasarkan terdapatnya suatu bahan galian di dalam alam, penggunaannya sebagai bahan
industria, nilai strategis dan atau ekonomis bagi Negara dan pemerataan kesempatan berusaha serta
pemeliharaan pembangunan di seluruh Indonesia

PBB PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATU BARA

Pendahulaun PBB Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba)

Mineral adalah senyawa organik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta
susunan kristal teratur atau gabungannva yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu,
meliputi mineral logam, mineral bukan logam dan batuan.

Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alarniah dari sisa tumbuh-
tumbuhan.

Objek PBB Minerba

Objek PBB Minerba adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha pertambangan minerba.

Bangunan merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau
perairan. Pembagian kawasan PBB Pertambangan Minerba meliputi:

a. Wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenisnya;

h. Wilayah di luar wilayah izin pertambangan atau wilayah pertarnbangan sejenisnya yang merupakan
satu kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan minerba.

Bumi Minerba dibagi menjadi 2 (dua) bagian, vaitu:

1. Permukaan Bumi, berupa perairan lepas pantai (offshore) baik untuk kegiatan eksplorasi atau
operasi produksi yaitu areal yang terdiri dari luas seluruh wilayah izin pertambangan (wilayah yang
dimanfaatkan saja) yang meliputi areal objek pajak offshore, jika tidak terdapat areal lainnya, berupa
areal perairan lepas pantai (offshore) atau laut di dalarn wilayah izin pertambangan.

Permukaan Bumi meliputi Tanah & Perairan Pedalaman (onshore) untuk Eksplorasi atau Operasi
Produksi dan Areal Offshore.

Tanah & Perairan Pedalaman (Onshore) untuk Eksplorasi atau Operasi Produksi terdiri dari:

445
a. Areal Produktif, adalah suatu areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan yang sedang
dilakukan pengambilan galian tambang. Contohnya adalah area kerja pada open pit atau quarry yang
sedang dilakukan penggalian tambang.

b. Areal Belum Produktif

– Areal Cadangan Produktif, adalah areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan, tetapi
belum dilakukan pengambilan galian tambang. Contohnya adalah open pit atau quarry yang belum
dilakukan penggalian tambang, areal di dalam wilayah izin pertambangan sejenisnya yang telah
diketahui ketersediaan cadangan terbukti berdasarkan hasil kegiatan studi kelayakan.

– Areal Belum Dimanfaatkan, adalah areal yang dipakai untuk kegiatan penambangan atau areal
yang sedang dilakukan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi dan/atau studi kelayakan.

c. Areal Tidak Produktif, adalah areal yang sama sekali tidak dapat diusahakan untuk kegiatan
penambangan atau areal yang telah selesai diusahakan. Contohnya adalah areal bekas
penambangan/areal reklamasi, areal yang sama sekali tidak terdapat cadangan galian tambang
berdasarkan hasil kegiatan studi kelayakan.

d. Onshore Areal Emplasemen, adalah areal yang dimanfaatkan untuk bangunan atau pekarangan serta
fasilitas penunjangnya. Contohnya adalah areal untuk kantor, perumahan, pabrik, gudang, lapangan
olah raga dan lain-lain.

e. Onshore Areal Pengaman, adalah areal yang dimanfaatkan sebagai pendukung dan pengaman kegiatan
usaha pertambangan. Contohnya adalah areal untuk penimbunan/pembuangan tanah (dump
area/disposal area), areal untuk pengolahan lingkungan (sumpipond), areal untuk penimbunan galian
tambang (stockyard/stockpile), areal untuk jalur konveyor, areal untuk jalur pipa dan/atau keselarnatan
lingkungan.

f. Onshore Areal Lainnya, adalah areal onshore di dalam wilayah izin pertambangan yang dikuasai oleh
pihak ketiga dan dikenakan PBB sektor lainnya, atau merupakan objek pajak yang tidak dikenakan
PBB. Contohnya adalah areal pemukirnan penduduk areal pertambangan lain, areal perkebunan. areal
perhutanan, kuburan atau hutan lindung di dalarn wilayah izin pertambangan.

2. Tubuh Bumi

Tubuh Bumi, meliputi:

a. Eksplorasi, adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara
terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur
dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. Tubuh Bumi
Eksplorasi adalah areal yang memiliki potensi hasil produksi galian tambang berupa sumber daya
mineral atau batubara. Nilai bumi per m2 untuk tubuh bumi eksplorasi menggunakan nilai bumi
per m2 yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

b. Operasi Produksi, adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi,
penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan. serta sarana
pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan. Tubuh Bumi Operasi Produksi
adalah areal yang telah menghasilkan hasil produksi galian tambang berupa mineral atau batubara.

446
Penetapan PBB Pertambangan Minerba

Nilai bumi per m2 masing-masing areal adalah sebagai berikut:

1. Permukaan Onshore

Luas Areal adalah total luas areal objek pajak yang dikenakan sesuai wilayah administrasi kabupaten/
kota dalam satuan m2. Luas meliputi : areal belum dimanfaatkan, areal emplasernen, areal cadangan
produksi. areal tidak produksi dan areal pengamanan. Areal ditentukan dengan Pendekatan Data Pasar.

Areal Offshore

Luas areal offshore adalah total luas areal objek pajak yang dikenakan, dalam satuan m2. Nilai burni
per m2 yang ditetapkaan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

2. Tubuh Bumi

Luas Tubuh Bumi adalah luas Wilayah Izin Pertambangan/Wilayah Pertambangan Sejenis sesuai wilayah
administrasi kabupaten/kota, dalam satuan m2.

Wilayah Izin Pertambangan adalah wilayah pertambangan yang diberikan kepada pemegang izin
pertambangan untuk kegiatan usaha pertambangan yang meliputi:

– Wilayah izin Usaha Pertambangan (WTUP), adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin
Usaha Pertambangan.

– Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK), adalah wilayah wilayah yang diberikan kepada
pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus.

– Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), adalah bagian dari wilayah pertambangan tempat dilakukan
kegiatan usaha pertambangan rakyat.

Wilayah Pcrtambangan Sejenis adalah wilayah pertarnbangan yang telah diberikan kcpada pemegang
kontrak karya atau perjanjian karya perusahaan pertambangan batubara yang masih berlaku.

Wilayah Pertambangan adalah wilayah yang merniliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak
terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

3. Tubuh Bumi Eksplorasi

Nilai bumi per m2 untuk tubuh bumi eksplorasi menggunakan nilai bumi per m2 yanag ditetapkan
dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

4. Tubuh Bumi Operasi Produksi

Nilai tubuh bumi operasi produksi ditentukan sebagai berikut:

a. Nilai bumi per m2 untuk tubuh bumi operasi produksi merupakan hasil pembagian antara nilai
bumi untuk tubuh bumi operasi produksi dengan luas wilayah izin pertambangan.

b. Nilai bumi untuk tubuh bumi operasi produksi ditentukan sebesar hasil bersih produksi galian
tambang dalarn satu tahun sebelum tahun pajak dikalikan dengan angka kapitalisasi yang telah
ditentukan oleh Dirjen Pajak. Angka kapitalisasi adalah angka pengali yang digunakan untuk
mengonversi hasil bersih produksi galian tambang dalam satu tahun sebelum tahun pajak menjadi
Nilai Tubuh Bumi Operasi Produksi.

447
c. Hasil Bersih Produksi Galian Tambang, ditentukan sebesar pendapatan kotor dikurangi dengan
biaya produksi galian tambang. Pendapatan kotor merupakan perkalian antara harga jual produksi
galian tambang dengan nilai produksi galian tambang.

d. Harga Jual Produksi, dalam harga jual produksi galian tambang menggunakan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat (USD), maka harus dikonversi dalam satuan mata uang Rupiah
berdasarkan kurs mata uang pada tanggal 1 Januari tahun pajak sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Menteri Keuangan. Dalam hal tidak terdapat harga patokan, harga jual produksi galian
tambang ditentukan berdasarkan harga galian tambang setahun sebelum tahun pajak, merupakan
harga jual rata-rata yang disepakati antara penjual dan pembeli dalam setahun sebelum tahun
pajak. Harga jual produksi galian tambang dalam setahun sebelum pajak, berupa:

– Rata-rata harga patokan mineral logam

Ditentukan berdasarkan formula penetapan harga patokan mineral logam untuk masing-masing
komoditas tambang ditetapkan setiap bulan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral pada suatu titik serah panjualan (at sale point) secara Free on Board di atas kapal
pengangkut (vessel). Dalam at sale point di luar titik Free on Board vessel, harga patokan
mineral logam memperhatikan besaran biaya penyesuaian harga patokan mineral logam yang
ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

– Rata-rata harga patokan mineral bukan logam

Ditentukan berdasarkan harga patokan mineral bukan logam yang ditetapkan untuk masing-
masing komoditas tambang dalam satu provinsi oleh Gubernur atau dalam satu kabupaten/ kota
oleh bupati/walikota.

– Rata-rata harga patokan batuan


Ditentukan berdasarkan harga patokan batuan yang ditetapkan untuk masing-masing
komoditas tambang dalam satu provinsi oleh gubernur atau dalam satu kabupaten/kota oleh
bupati/walikota.
– Rata-rata harga patokan batubara
Ditentukan berdasarkan formula untuk penetapan harga patokan batubara untuk steam
(thermal) coal dan coking (metallurgical) coal yang ditetapkan setiap bulan oleh Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral pada suatu titik serah penjualan (at sale point) secara Free on
Board di atas kapal pengangkut (vessel).
Dalam hal titik serah penjualan (at sale point) di luar titik Free on Board di atas kapal
pengangkut (vessel), harga patokan batubara yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral.
e. Biaya Produksi
Biaya produksi galian tambang dalam setahun sebelum tahun pajak, berupa biaya langsung untuk:
– Pengupasan lapisan tanah
Merupakan biaya untuk pengupasan lapisan tanah selama kegiatan operasi produksi, terdiri dan
biaya kegiatan penggaruan/dorong, gali/muat, dan/atau pengangkutan tanah dari lokasi
penggalian ke lokasi penimbunan.
– Pengambilan hasil produksi galian tambang

448
Merupakan biaya untuk kegiatan pengambilan galian tambang yang bersangkutan, terdiri dari
biaya penggalian, penyemprotan dengan air, penggunaan alat-alat berat (shovel dan buldozer),
pengerukan dengan kapal keruk, dan/atau peledakan.
– Pengolahan dan/atau pemurnian hasil produksi galian tambang
i) Biaya pembersihan dan pemisahan galian tambang utama dan bahan galian ikutannya
yang dilakukan dengan menggunakan air, bahan kimia (proses kimia), alat pencuci, atau
saringan.
ii) Biaya pembentukan ukuran/besarnya galian tambang, yang terdiri dari biaya untuk
penghancuran galian tambang yang berukuran besar menjadi ukuran sesuai dengan
ukuran yang ditetapkan perusahaan menggunakan mesin penghancur (crusher).
iii) Biaya peningkatan kualitas hasil produksi galian tambang.
iv) Pengangkutan hasil produksi galian tambang.
Merupakan biaya yang terkait dengan kegiatan untuk mengangkut hasil produksi galian
tambang dari lokasi penambangan ke stasiun pengumpul, pelabuhan khusus, kapal
pengangkut, dan/atau pengguna akhir, yang meliputi:
• Hauling dengan menggunakan dump truck, kereta api, tongkang, atau conveyor belt;
• Angkutan Laut dengan dengan menggunakan tongkang/ponton (barge), atau kapal
pengangkutan (vessel);
• Surveyor;
• Asuransi.

Bangunan merupakan kontruksi teknik yang ditanam atau diletakan secara tetap pada tanah dan/atau
perairan

PBB Pertambangan Minerba Terutang menurut Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-33/PJ/2014

Area Produksi
Areal Cadangan
Areal Belum Produksi

Tanah & Perairan, Produksi Areal Belum


perdalaman dimanfaatkan Pendekatan,
Permukaan (Onshore) untuk Areal Tidak Produksi Perbandingan
Bumi eksplorasi atau data pasar
operasi produksi Areal Emplasemen

BUMI Areal Pengamanan


Areal Lainnya
Areal Offshoe Rp11.204,-/m2
Eskplorasi Rp140,-/m2
8,2 (mineral;)
Tubuh Bumi Operasi Produksi
atau 10,25 (batu
bara)

Subjek PBB Minerba

Adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat
atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan, atas objek pajak

449
PBB Minerba. Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar PBB Minerba disebut Wajib Pajak PBB
Minerba.

Penetapan PBB Pertambangan Kontrak Karya

Tata cara penetapan PBB Minerba atas Kontrak Karya atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan
Batubara ditetapkan sesuai dengan ketentuan Kontrak Karya atau Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara yang masih berlaku. Hal ini sesuai dengan Pasal 30 UU PBB bahwa:

Terhadap objek pajak dalam bidang penambangan migas serta atau bidang penambangan lainnya,
sehubungan dengan Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil yang masih berlaku pada saat ini
berlakunya Undang- Undang ini, tetap dikenakan iuran Pembangunan Daerah (Ipeda) berdasarkan
ketentuan-ketentuan dalam per anjian Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil yang masih berlaku.
Penjelasannya

“Ketentuan Undang-undang ini baru berlaku terhadap objek pajak yang digunakan dalam rangka
Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil dalam bidang penambangan migas serta dalam bidang
penambangan lainnya yang perjanjiannya ditandai dengan sejak berlakunya Undang- Undang ini
yaitu tanggal 1 Januari 1 986, sedangkan Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil yang telah ada tetap
berlaku ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam kontrak karya dan kontrak bagi Hasil tersebut.

Penentuan besarnya Nilai Jual Objek Pajak atas Objek Pajak sektor pertambangan yang dikelola
berdasarkan Kontrak Karya atau Kontrak Kerjasama ditetapkan sesuai dengan yang diatur dalam kontrak
yang berlaku.

PBB PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

Pendahuluan PBB Migas

PBB Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi (PBB Migas) adalah PBB atas
bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
pertambangan Migas.

Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperature
atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, him, mineral atau ozokerit, dan bitumen yang
diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara atau endapan hidrokarbon lain yang
berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha migas.

Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperature
atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan migas, termasuk antara lain gas metan
batubara (coal bed methan).

Sektor Pertambangan Migas adalah objek PBB yang meliputi areal usaha penambangan bahan-bahan galian
dari semua golongan yaitu bahan galian strategis, bahan galian vital dan bahan gahian lainnya.

Objek PBB Migas

Objek PBB Migas adalah bumi dan/atau bangunan, yang berada di dalarn kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha pertambangan Migas, atau bumi dan/atau bangunan yang berada di dalarn wilayah kerja
pertambangan atau sejenisnya terkait pertambangan migas yang diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai,

450
dan/atau dimanfaatkan oleh KKKS. Sedangkan, bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap di areal daratan (onshore) atau areal perairan lepas pantai (offshore), ketentuan
tersebut berlaku juga untuk objek PBB Pabum.

Besarnya NJOP atas Objek Pajak Sektor Pertambangan Migas ditentukan sebagai berikut:

1. Areal produktif adalah sebesar 9,5 x hasil penjualan minyak dan gas bumi dalam satu tahun sebelum
tahun pajak berjalan.

2. Areal belum produktif, tidak produktif serta emplasemen dan areal lainnya di dalam atau di luar
wilayah kuasa pertambangan, adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak berupa tanah sekitarnya dengan
penyesuaian seperlunya.

3. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi biaya
pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan metode
penilaian kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana dimaksud
pada Lampiran A Peraturan Menteri Keuangan Nornor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014

Subjek PBB Migas

Subjek PBB Migas adalah orang atau badan (Kontraktor Kontrak Kerja Sama/KKKS) yang secara nyata
mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleb manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai,
dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, atas Objek Pajak PBB Migas dalam wilayah kerja pertambangan
atau yang sejenis. Oleh karena itu, Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar PBB Migas menjadi
Wajib Pajak PBB Migas.

KKKS adalah badan usaha atau Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang ditetapkan untuk melakukan eksplorasi
dan eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak kerja sama.

Wilayah kerja adalah daerah tertentu di dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia untuk pelaksanaan
eksplorasi dan eksploitasi.

PBB PERTAMBANGAN PANAS BUMI

Pendahuluan PBB Pabum

PBB Sektor Pertambangan untuk pertambangan Panas Bumi (PBB Pabum) adalah PBB atas Bumi dan/atau
Bangunan yang berada di dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha Pertambangan Pabum.

Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama
mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem
pabum dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.

Objek PBB Pabum

Objek PBB Pabum adalah bumi dan/atau bangunan, yang berada di dalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan meliputi pertambangan Pabum, atau bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam wilayah kerja
pertambangan atau sejenisnya terkait pertambangan pabum yang diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai,
dan/atau dimanfaatkan oleh Pengusaha Panas Bumi.

451
Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan meliputi wilayah kerja atau wilayah
sejenisnya dan wilayah di luar wilayah kerja atau wilayah sejenisnya yang merupakan satu kesatuan dan
digunakan untuk kegiatan pertambangan.

Besarnva NJOP atas Objek Pajak Sektor Pertambangan Pabum ditentukan sebagai berikut:

1. Areal produktif adalah sebesar 9,5 x hasil penjualan energi panas bumi/listrik dalam satu tahun sebelum
tahun pajak berjalan.

2. Areal belum produktif, tidak produktif dan emplasemen serta areal lainnya di dalam atau di luar
wilayah kuasa pertambangan, adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak berupa tanah sekitarnya dengan
penyesuaian seperlunya.

3. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi biaya
pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan metode

penilaian ke dalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana
dimaksud pada Lampiran lb Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli
2014.

Subjek PBB Pabum

Subjek PBB Pabum adalah orang atau badan (Kontraktor Kontrak Kerja Sama/KKKS atau Pengusaha Panas
Bumi) yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi,
dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, atas Objek Pajak PBB Pabum
dalam wilayah kerja pertambangan atau yang sejenis dengan itu. Oleh karena itu, Subjek Pajak yang
dikenakan kewajiban membayar PBB Pabum menjadi Wajib Pajak PBB Pabum.

KKKS adalah bada usaha atau Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang ditetapkan untuk melakukan eksplorasi dan
eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak kerja sama.

Pengusaha Panas Bumi adalah Pertamina atau perusahaan penerusnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, kontraktor kontrak operasi bersama (joint operation contract), dan pemegang izin
pengusahaan sumber daya pabum.

Wilayah kerja adalah daerah tertentu di dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia untuk pelaksanaan
eksplorasi dan eksploitasi.

Pendalaman Objek PBB Migas dan PBB Pabum

Bumi Migas dan Bumi Pabum meliputi:

1. Permukaan Bumi, yang digunakan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang terdiri dari:

a. Areal Daratan (Onshore), NJOP ini ditentukan melalui harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi
jual beli yang terjadi secara wajar atau perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis (Nilai
bumi per meter persegi tersebut dengan Pendekatan Data Pasar atau Pendekatan Perbandingan Data
Pasar).

452
Areal Daratan (Onshore), terdiri dari:

– Areal Belum Produktif, adalah areal yang dapat diusahakan tetapi belum dimanfaatkan.

– Areal Emplasemen, adalah areal yang diatasnya dimanfaatkan untuk berdirinya bangunan
penambangan dan bangunan penunjang, tidak termasuk areal produktif dan areal belum produktif.

– Areal Produktif, adalah areal yang telah diusahakan atau areal yang telah dimanfaatkan untuk
mengambil dan menunjang hasil produksi.

– Areal Tidak Produktif, adalah areal yang sama sekali tidak dapat diusahakan atau dimanfaatkan.

– Areal Pengamanan, adalah areal yang dimanfaatkan sebagai pengamanan bangunan, seperti jalur
pipa, keselamatan lingkungan.

b. Areal Perairan Lepas Pantai (Offshore), Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore
menggunakan nilai bumi per meter persegi yang telah ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal
Pajak, dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal
offshore di wilayah Indonesia.

2. Tubuh Bumi, yang merupakan bagian bumi yang berada di bawah permukaan bumi.

Tubuh Bumi, terdiri dari:

a. Tubuh Bumi Eksploitasi, yaitu tubuh bumi yang telah rnenghasilkan hasil produksi berupa Migas
atau Pabum. Eksploitasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan migas dan pabum
dari wilayah kerja atau sejenisnva. Nilai tubuh bumi ditentukan melalui Nilai Jual Pengganti.

Nilai Jual Pengganti untuk Tubuh Bumi Eksploitasi, yaitu:

– Minyak Bumi, besarnya NJOP adalah angka kapitalisasi x Hasil Produksi Minyak Bumi
Harga Minyak Mentah Indonesia. Hasil produksi minyak bumi merupakan minyak bumi yang
terjual (lifting) dalam satu tahun sebelum tahun pajak berjalan.

– Gas Bumi, besarnya NJOP adalah angka kapitalisasi x Hasil Produksi x Harga Minyak Bumi
dan/atau Harga Produksi Gas Bumi. Hasil produksi gas bumi merupakan gas bumi yang terjual
(lifting) dalam satu tahun sebelum tahun pajak berjalan.

– Panas Bumi. Dalam hal pembangkit listriknya dikelola sendiri oleh pengusaha panas bumi,
besarnya NJOP adalah kapitalisasi x Hasil Produksi x Harga Produksi uap dan/atau harga
produksi listrik. Akan tetapi, dalam hal pembangkit listriknya tidak dikelola sendiri oleh
Pengusaha Panas Bumi, besarnya NJOP adalah kapitalisasi x Hasil Produksi x Harga Produksi
uap. Hasil produksi uap dan/atau listrik merupakan uap dan/atau listrik yang terjual dalarn satu
tahun sebelum Tahun Pajak Berjalan.

Harga produksi minyak bumi, harga produksi gas bumi, harga produksi uap, dan harga produksi
listrik yang digunakan sebagai dasar perhitungan untuk menetapkan NJOP PBB Migas dan NJOP
PBB Panas Bumi ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan besaran harga
yang digunakan dalam APBN/APBN Perubahan.

Dalam hal Menteri Keuangan tidak rnenetapkan harga produksi minyak bumi, harga produksi gas
bumi, harga produksi uap, dan harga produksi listrik, maka harga produksi untuk:

453
– Minyak Bumi ditentukan berdasarkan harga minyak mentah Indonesia yang ditetapkan dalam
APBN/APBN Perubahan tahun sebelum tahun pajak.

– Gas Bumi ditentukan sebesar 17,96% dari harga minyak mentah indonesia yang ditetapkan
dalam APBN/APBN Perubahan tahun sebelum tahun pajak.

– Uap dan/atau listrik ditentukan berdasarkan rata-rata harga kontrak yang berlaku.

b. Tubuh Bumi Eksplorasi, adalah tubuh bumi yang memiliki potensi migas dan/atau panas bumi.
Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk
menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan migas dan panas bumi di wilayah kerja atau
sejenisnya. Nilai bumi per m2 yang telah ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

Pengenaan PBB Migas dan PBB Pabum adalah kegiatan menetapkan WP dan besarnya pajak terutang
untuk PBB Migas dan PBB Pabum berdasarkan peraturan perundang-undangan PBB.

PBB Pertambangan Migas dan Pabum Terutang menurut Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-
33/PJ/2014

BUMI Permukaan Bumi


–Eksplorasi Daratan/Onshore
–Eksploitasi – Areal Produkstif
– Areal Belum Produktif
– Areal Tidak Produktif Pedekatan Data Pasar

– Areal Emplasemen
– Areal Pengaman
– Lepas Pantai/Offshore Rp 11.204/m2
Tubuh Bumi
Eksploitasi
Eksplorasi NJOP Pengganti, atau tidak berlaku apabila belum atau
tidak produktif. Angka kapitalisasi 10,04
– Migas
– Panas Bumi
Eksplorasi Rp 140/m2

NJOP Sektor Pertambangan Non Migas selain Pertambangan Energi Panas Bumi dan Galian C

1. Areal Produktif adalah sebesar 9,5 x hasil bersih galian tambang dalam satu tahun sebelum tahun.
pajak berjalan.

2. Areal belum produktif, tidak produktif dan emplasmen serta areal lainnya di dalam atau di luar
wilayah kuasa pertambangan, adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak berupa tanah sekitarnya dengan
penyesuaian seperlunya.

3. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi
biaya pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan
metode penilaian kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana

454
dimaksud pada Lampiran A Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Julil
2014.

Lama waktu
Lama WAktu Penambangan Angka Kapitalisasi Angka Kapitalisasi
Penambangan

1 0.91 16 7.82
2 1.74 17 8.02
3 2.49 18 8.20
4 3.17 19 8.36
5 3.79 20 8.51
6 4.36 21 8.65
7 4.87 22 8.77
8 5.33 23 8.88
9 5.76 24 8.98
10 6.14 25 90.8
11 6.50 26 9.16

12 6.81 27 9.24
13 7.10 28 9.31
14 7.37 29 9.37
15 7.61 30 9.43

NJOP Sektor Pertambangan Non Migas Galian C

Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi biaya
pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan metode penilaian
kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana dimaksud pada lampiran
A Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

PBB SEKTOR PERIKANAN (PBB SEKTOR P/PBB - P)

Kebanyakan orang hanya mengenal PBB-P2 dan PBB-P3, padahal terdapat juga PBB usaha bidang
perikanan yang belum dikenal banyak orang. penulis singkat dengan nama PBB Sektor Perikanan (PBB-P).
Objek PBB-P adalah Areal perikanan yaitu perairan indonesia, sungai, danau, waduk, rawa dan genangan
air lainnya dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
22/PJ.6/1999.

NJOP Usaha Bidang Perikanan Laut

1. Areal penangkapan ikan adalah sebesar 10 x hasil bersih ikan dalam satu tahun sebelum tahun pajak
berjalan.

2. Areal pembudidayaan ikan adalah sebesar 8 x hasil bersih ikan dalam satu tahun sebelum tahun pajak
berjalan.

455
3. Hasil Bersih setahun adalah pendapatan kotor dari hasil penjualan ikan setahun dikurangi dengan
biaya operasional (biaya pemeliharaan, penangkapan dan angkutan) sampai di tempat pelelangan ikan.

4. Areal emplasemen dan areal lainnya adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak berupa tanah sekitarnya
dengan penyesuaian seperlunya.

5. Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi biaya
pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan metode
penilaian kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana
dimaksud pada Lampiran B Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli
2014

NJOP Usaha Bidang Perikanan Darat

Objek Pajak berupa bangunan adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak yaitu sebesar nilai konversi biaya
pembangunan baru setiap jenis bangunan setelah dikurangi penyusutan fisik berdasarkan metode penilaian
kedalam klasifikasi, penggolongan, dan ketentuan nilai jual bangunan sebagaimana dimaksud pada
Lampiran B Peraturan Menteri Keuangan Nornor 139/PMK.03/2014 tanggal 10 Juli 2014.

Latihan Soal PBB - P3


1. PBB Perkebunan
Pertanyaan:

a. Untuk Bumi: Berapakah Luas Bumi, Nilai Bumi baik sebelum dikonversi maupun sesudah
dikonversi?

b. Untuk Bangunan: Berapakah Luas Bangunan, Nilai Bangunan baik sebelum dikonversi maupun
sesudah dikonversi?

c. Hitung PBB Perkebunan Terutang atas objek di bawah ini apabila NJOPTKP diketahui sebesar
Rp15.000.000!

Data sebagai berikut:

Wajib pajak bergerak di bidang perkebunan karet. Areal kebun berupa:

1. Areal sudah menghasilkan seluas 37.000.000 m², harga tanah sebesar Rp 12.000/m², SIT sebesar
Rp2.000/ m²

2. Areal belum menghasilkan berumur 1 tahun seluas 330.000 m2, harga tanah sebesar Rp12.000/
m², SIT sebesar Rpl.000/ m²

3. Areal Emplasemen seluas 660.000 m², harga tanah sebesar Rp45.000/ m²

4. Areal yang tidak dapat ditanami seluas 2.000.000 m², harga tanah sebesar Rp10.000/ m²

Bangunan berupa:

1. Pabrik seluas 3.500 m², biaya membangun sebesar Rpl.500.000/ m²

2. Kantor seluas 800 m², biaya membangun sebesar Rp2.000.000/ m²

3. Gudang seluas 1.500 m², biaya membangun sebesar Rp800.000/ m²

456
4. Perumahan seluas 8.000 m², biaya membangun sebesar Rp2.000.000/ m²

5. Kesehatan seluas 150 m², biaya membangun sebesar Rp 1.500.000/ m²

6. Sosial seluas 600 m², biaya membangun sebesar Rpl.500.000/ m²

7. Lain-lain seluas 2.500 m², biaya membangun sebesar Rpl.000.000/ m²

2. PBB Perhutanan
Pertanyaan:
Hitung PBB Perhutanan Terutang atas objek selain Hutan Tanaman Industri di bawah ini! Apabila
NJOPTKP diketahui sebesar Rp15.000.000

Data sebagai berikut:

Wajib pajak bergerak dibidang perhutanan selain Hutan Tanaman Industri, dengan data sebagai berikut:

1. Areal produktif (tanah hutan blok tebangan/Rencana Karya Tahunan/RKT) seluas 300.000/ m²,
harga tanah sebesar Rp 128.000/ m² atau kelas 094.

2. Areal belum produktif (tanah hutan non blok tebangan di luar RKT) seluas 1.300.000 m², harga
tanah sebesar Rpl17.000/ m² atau kelas 096.

3. Areal tidak produktif (tanah hutan non blok di luar RKT) seluas 1.660.000 m², harga tanah sebesar
Rp 107.000/ m² atau kelas 098.

4. Areal yang tidak dikenakan PBB seluas 35.700.000 m².

5. Areal Emplesemen (Perkantoran) seluas 300 m² harga tanah sebesar Rp160.000 / m² atau kelas
090.

6. Bangunan perkantoran seluas 375 m², harga bangunan sebesar Rp 1 .020.000/ m² atau kelas 065.

7. Harga pasar hasil produksi sebesar Rp710.115 per m² dan biaya eksploitasi sebesar
Rp603.261.123.

3. PBB Pertambangan
Pertanyaan:

Hitung PBB Pehutanan Terutang atas objek Pertambangan Galian C dibawah ini! Apabila NJOPTKP
diketahui sebesar Rp15.000.000,-

Data sebagai berikut:

Wajib pajak bergerak dibidang perhutanan Pertambangan Galian C dengan data sebagai berikut:

1. Bumi Areal produktif seluas 70 ha, harga tanah sebesar Rp350/ m² atau kelas 194.

2. Areal belum produktif seluas 170 ha, harga tanah sebesar Rp310/ m² atau kelas 195.

3. Areal tidak produktif seluas 60 ha, harga tanah sebesar Rp200/ m² atau kelas 198.

4. Areal Emplesemen seluas 10.000 m² harga tanah sebesar Rp 1.700/ m² atau kelas 178.

457
5. Bangunan, terdiri dari:

a. Pabrik seluas 1.375 m², harga bangunan sebesar Rp968.000/ m² atau kelas 066

b. Gudang seluas 875 m², harga bangunan sebesar Rpl.020.000/ m² atau kelas 065

c. Kantor seluas 275 m², harga bangunan sebesar Rpl.020.000/ m² atau kelas 065

d. Perumahan seluas 1.000 m², harga bangunan sebesar Rp 1.020.000/ m² atau kelas 065

6. Hasil bersih galian tambang marmer 1 tahun sebelum tahun pajak berjalan Rp l.000.000.000. Sisa
umur penambangan 8 tahun lagi.

LAMPIRAN PMK NO.1 39/PMK.03/2014, TANGGAL 10 JULI 2014


Lampiran Bagian A
KLASIFIKASI NILAI JUAL OBJEK PAJAK BUMI UNTUK OBJEK PAJAK SEKTOR PERKEBUNAN,
OBJEK PAJAK SEKTOR PERHUTANAN, DAN OBJEK PAJAK SEKTOR PERTAMBANGAN, DAN
OBJEK PAJAK SEKTOR LAINNYA.

Klas Pengelompokan Nilai Jual Bumi Nilai Objek Pajak Bumi


(Rp/m²) (Rp/m²)

001 > 3.064.000,00 s/d 3.136.000,00 3.100.000,00


002 > 3.010.000,00 s/d 3.064.000,00 3.037.000,00

458
003 > 2.948.000,00 s/d 3.010.000,00 2.979.000,00
004 > 2.902.000,00 s/d 2.948.000,00 2,925.000,00
005 > 2.850.000,00 s/d 2.902.000,00 2.876.000,00
006 > 2.804.000,00 s/d 2.850.000,00 2.827.000,00
007 > 2.754.000,00 s/d 2.804.000,00 2.779.000,00
008 > 2.710.000,00 s/d 2.754.000,00 2.732.000,00
009 > 2.662.000,00 s/d 2.710.000,00 2.686.000,00
010 > 2.618.000,00 s/d 2.662.000,00 2.640.000,00
011 > 2.574.000,00 s/d 2.618.000,00 2.596.000,00
012 > 2.530.000,00 s/d 2.574.000,00 2.552.000,00
013 > 2.486.000,00 s/d 2.530.000,00 2.508.000,00
014 > 2.426.000,00 s/d 2.486.000,00 2.456.000,00
015 > 2.382.000,00 s/d 2.426.000,00 2.404.000,00
016 > 2.324.000,00 s/d 2.382.000,00 2.353.000,00
017 > 2.260.000,00 s/d 2.324.000,00 2.292.000,00
018 > 2.206.000,00 s/d 2.260.000,00 2.233.000,00
019 > 2.146.000,00 s/d 2.206.000,00 2.176.000,00
020 > 2.094.000,00 s/d 2.146.000,00 2.120.000,00
021 > 2.038.000,00 s/d 2.094.000,00 2.066.000,00
022 > 1.988.000,00 s/d 2.038.000,00 2.013.000,00
023 > 1.936.000,00 s/d 1.988.000,00 1.962.000,00
024 > 1.888.000,00 s/d 1.936.000,00 1.912.000,00
025 > 1.836.000,00 s/d 1.888.000,00 1.862.000,00
026 > 1.794.000,00 s/d 1.836.000,00 1.815.000,00
027 > 1.742.000,00 s/d 1.794.000,00 1.768.000,00
028 > 1.702.000,00 s/d 1.742.000,00 1.722.000,00
029 > 1.642.000,00 s/d 1.702.000,00 1.672.000,00
030 > 1.602.000,00 s/d 1.642.000,00 1.622.000,00
031 > 1.544.000,00 s/d 1.602.000,00 1.573.000,00
032 > 1.496.000,00 s/d 1.544.000,00 1.520.000,00
033 > 1.438.000,00 s/d 1.496.000,00 1.467.000,00
034 > 1.394.000,00 s/d 1.438.000,00 1.416.000,00

035 > 1.340.000,00 s/d 1.394.000,00 1.367.000,00


036 > 1.300.000,00 s/d 1.340.000,00 1.320.000,00
037 > 1.248.000,00 s/d 1.300.000,00 1.274.000,00
038 > 1.214.000,00 s/d 1.248.000,00 1.231.000,00
039 > 1.164.000,00 s/d 1.214.000,00 1.189.000,00
040 > 1.130.000,00 s/d 1.164.000,00 1.147.000,00
041 > 1.080.000,00 s/d 1.130.000,00 1.105.000,00
042 > 1.050.000,00 s/d 1.080.000,00 1.065.000,00
043 > 1.004.000,00 s/d 1.050.000,00 1.027.000,00
044 > 968.000,00 s/d 1.004.000,00 986.000,00

459
045 > 930.000,00 s/d 968.000,00 949.000,00
046 > 902.000,00 s/d 930.000,00 916.000,00
047 > 870.000,00 s/d 902.000,00 886.000,00
048 > 844.000,00 s/d 870.000,00 857.000,00
049 > 814.000,00 s/d 844.000,00 829.000,00
050 > 790.000,00 s/d 814.000,00 802.000,00
051 > 762.000,00 s/d 790.000,00 776.000,00
052 > 740.000,00 s/d 762.000,00 751.000,00
053 > 714.000,00 s/d 740.000,00 727.000,00
054 > 692.000,00 s/d 714.000,00 703.000,00
055 > 668.000,00 s/d 692.000,00 680.000,00
056 > 646.000,00 s/d 668.000,00 657.000,00
057 > 624.000,00 s/d 646.000,00 635.000,00
058 > 604.000,00 s/d 624.000,00 614.000,00
059 > 584.000,00 s/d 604.000,00 594.000,00
060 > 566.000,00 s/d 584.000,00 575.000,00
061 > 546.000,00 s/d 566.000,00 556.000,00
062 > 528.000,00 s/d 546.000,00 537.000,00
063 > 508.000,00 s/d 528.000,00 518.000,00
064 > 492.000,00 s/d 508.000,00 500.000,00
065 > 472.000,00 s/d 492.000,00 482.000,00
066 > 456.000,00 s/d 472.000,00 464.000,00
067 > 434.000,00 s/d 456.000,00 445.000,00
068 > 420.000,00 s/d 434.000,00 427.000,00
069 > 400.000,00 s/d 420.000,00 410.000,00
070 > 388.000,00 s/d 400.000,00 394.000,00
071 > 368.000,00 s/d 388.000,00 378.000,00
072 > 358.000,00 s/d 368.000,00 363.000,00
073 > 340.000,00 s/d 358.000,00 349.000,00
074 > 330.000,00 s/d 340.000,00 335.000,00
075 > 314.000,00 s/d 330.000,00 322.000,00
076 > 304.000,00 s/d 314.000,00 309.000,00

077 > 290.000,00 s/d 304.000,00 297.000,00


078 > 280.000,00 s/d 290.000,00 285.000.00
079 > 268.000,00 s/d 280.000,00 274.000,00
080 > 258.000,00 s/d 268.000,00 263.000,00
081 > 248.000,00 s/d 258.000,00 253.000,00
082 > 237.000,00 s/d 248.000.00 243.000,00
083 > 227.000,00 s/d 237.000,00 232.00000
084 > 215.000,00 s/d 227.000,00 221.000,00
085 > 205.000,00 s/d 215.000,00 210.000,00
086 > 195.000,00 s/d 205.000,00 200.00000

460
087 > 184.000,00 s/d 195.000,00 190.000,00
088 > 176.000,00 s/d 184.000,00 180.000,00
089 > 164.000,00 s/d 176.000,00 170.000,00
090 > 156.000,00 s/d 164.000,00 160.000,00
091 > 146.000,00 s/d 156.000,00 151.000,00
092 > 139.000,00 s/d 146.000,00 143.000,00
093 > 131.000,00 s/d 139.000,00 135.000,00
094 > 124.000,00 s/d 131.000,00 128.000,00
095 > 120.000,00 s/d 124.000,00 122.000.00
096 > 114.000,00 s/d 120.000,00 117.000,00
097 > 110.000,00 s/d 114.000,00 112.000,00
098 > 105.000,00 s/d 110.000,00 107.500,00
099 > 100.900,00 s/d 105.000,00 103.000,00
100 > 96.300,00 s/d 100.900,00 98.600,00
101 > 92.300,00 s/d 96.30000 94.300,00
102 > 92.300,00 s/d 96.300,00 90.100,00
103 > 84.100,00 s/d 87.900,00 86.000,00
104 > 79.900,00 s/d 84.100,00 82.000,00
105 > 76.110,00 s/d 79.900,00 78.000,00
106 > 72.300,00 s/d 76.100,00 74.200,00
107 > 68.900100 s/d 72.300,00 70.600,00
108 > 65.500,00 s/d 68.900,00 67.200,00
109 > 62.500,00 s/d 65.500,00 64.000,00
110 > 59.500,00 s/d 62.500,00 61.000,00
111 > 56.700,00 s/d 59.500,00 58.100,00
112 > 54.100,00 s/d 56.700,00 55.400,00
113 > 51.500,00 s/d 54.100,00 52.800,00
114 > 49.100,00 s/d 51.500,00 50.300,00
115 > 46.900,00 s/d 49.100,00 48.000,00
116 > 44.700,00 s/d 46.900,00 45.800,00
117 > 42700,00 s/d 44.700,00 43.700,00
118 > 40.700,00 s/d 42.700,00 41.700,00
119 > 38.700,00 s.d 40 700,00 39.700,00
120 > 36.900,00 s/d 38.700,00 37.800,00
121 > 35.100,00 s/d 36.900,00 36.000,00

122 > 33.500,00 s/d 35.100,00 34.300,00


123 > 32.100,00 s/d 33.500,00 32.800,00
124 > 30500,00 s/d 32.100,00 31.300,00
125 > 29.100,00s/d 30.500,00 29.800,00
126 > 27.700,00 s/d 29.100,00 28.400,00
127 > 26.300,00 s/d 27.700,00 27.000,00
128 > 24900,00 s/d 26.300,00 25.600,00
129 > 23.700,00 s/d 24.900,00 24.300,00
130 > 22.500,00 s/d 23.700,00 23.100,00

461
131 > 21.500,00 s/d 22.500,00 22.000,00
132 >20.500,00 s/d 21.500,00 21.000,00
133 > 19.500,00 s/d 20.50000 20.000,00
134 > l8.500,00 s/d 19.500,00 19.000,00
135 > 17.600,00 s/d 18.500,00 18.100,00
136 > 16.800,00 s/d 17.600,00 17.200,00
137 > 16.000,00 s/d 16800,00 16.400,00
138 > 15.200,00 s/d 16.000,00 15.600,00
139 > 14.400,00 s/d 15.200,00 14.800,00
140 > 13.600,00 s/d 14.400,00 14.000,00
141 > 10.000,00s/d 13.600,00 13.300,00
142 > 12.400,00 s/d 13.000,00 12.700,00
143 > 11.800,00 s/d 12.400,00 12.100,00
144 > 11.200.00 s/d 11 800,00 11.500,00
145 > 10.700,00 s/d 11.200,00 11.000,00
146 > 10.200,00 s/d 10.700,00 10.500,00
147 9.700,00 s/d 10.200,00 10.000,00
148 > 9.300,00 s/d 9.700,00 9.500,00
149 > 8 900,00 s/d 9300,00 9.100,00
150 > 8.500,00 s/d 8.900,00 8.700,00
151 > 8.100,00 s/d 8.500,00 8.300,00
152 > 7.700,00 s/d 8.100,00 7.900,00
153 > 7.300,00 s/d 7.700,00 7.500,00
154 > 7.000,00 s/d 7.300,00 7.150,00
155 > 6.600,00 s/d 7.000,00 6.800,00
156 > 6.300,00s/d 6.600,00 6.450,00
157 > 5.900,00 s/d 6.300,00 6.100,00
158 > 5.600,00 s/d 5.900,00 5.750,00
159 > 5.400,00 s/d 5.600,00 5.500,00
160 > 5.100,00 s/d 5.400,00 5.250,00
161 > 4.900,00 s/d 5.100,00 5.000,00
162 > 4.600,00 sld 4.900,00 4.750,00
163 > 4.400,00 s/d 4.600,00 4.500,00
164 > 4.200,00 s/d 4.400,00 4.300,00
165 > 4.000,00 s/d 4.200,00 4.100,00
166 > 3.800,00 s/d 4.000,00 3.900,00

167 > 3.600,00 s/d 3.800,00 3.700,00


168 > 3.400,00 s/d 3.600,00 3.500,00
169 > 3.200,00 s/d 3.400,00 3.300,00
170 > 3.000,00 s/d 3.200,00 3.100,00
171 > 2.800,00 s/d 3.000,00 2.900,00
172 > 2.600,00 s/d 2.800,00 2.700,00
173 > 2.400,00 s/d 2.600,00 2.500,00
174 > 1.220,00 s/d 2.400,00 3.310,00
175 > 2.060,00 s/d 2.220,00 2.140,00

462
176 > 1.910,00 s/d 2.060,00 1.990,00
177 > 1.770,00 s/d 1.910,00 1.840,00
178 > 1 .620,00 s/d 1770,00 1.700,00
179 > 1.500,00 s/d 1.620,00 1.560,00
180 > 1.380,00 s/d 1.500,00 1.440,00
181 > 1.250,00 s/d 1.380,00 1.320,00
182 > 1.150,00 s/d 1.250,00 1.200,00
183 > 1.050,00s/d l.15000 1.100,00
184 > 950,00 s/d 1.050,00 1.000,00
185 > 860,00 s/d 950,00 910,00
186 > 780,00 s/d 860,00 820,00
187 > 700,00 s/d780,00 740,00
188 > 630,00 s/d 700,00 670,00
189 > 560,00 s/d 630,00 600,00
190 > 510,00 s/d 560,00 540,00
191 > 450,00 s/d 510,00 180,00
192 > 410,00 s/d 450,00 430,00
193 > 370,00 s/d 410,00 390,00
194 > 330,00 s/d 370,00 350,00
195 > 290,00 s/d 330,00 310,00
196 > 250,00 s/d 290,00 270,00
197 > 210,00 s/d 250,00 230,00
198 > 190,00s/d 210,00 200,00
199 > 150,00 s/d 190,00 170,00
200 <150,00 140,00

463
Lampiran Bagian B

KLASIFIKASI NILAI JUAL OBJEK PAJAK BANGUNAN UNTUK OBJEK PAJAK SEKTOR PERKEBUNAN, OBJEK
PAJAK SEKTOR PERHUTANAN, DAN OBJEK PAJAK SEKTOR PERTAMBANGAN, DAN OBJEK PAJAK SEKTOR
LAINNYA.

Klas Pengelompokan Nilai Jual Bumi Nilai Objek Pajak Bumi


(Rp/m²) (Rp/m²)

001 > 15.800.000,00 s/d 16.100.000,00 16.000.000,00


002 > 15.434.000,00 s/d 15.800.000,00 15.600.000,00
003 > 15.066,000,00 s/d 15.434.000,00 15.250 000,00
004 > 14.688.000,00 s/d 15.066.000,00 14.800.000,00
005 > 14.330.000,00 s/d 14.688000,00 14.500.000,00
006 > 13.970.000,00 s/d 14.330.000,00 14.150.000,00
007 > 13.612.000,00 s/d 13.970.000,00 13.800.000,00
008 > 13.246.000,00s/d 13.612.000,00 13.430.000,00
009 > 12.904.000,00 s/d 13.246 000,00 13.075.000,00
010 > 12.538.000,00 sld 12.904.000,00 12.720.000,00
011 > 12.213.000.00 s/d 12.538.000.000 12.380.000,00
012 > 11.887.000,00 s/d 12.213.000,00 12.050.000,00
013 > 11.562.000,00 s/d 11.887.000,00 11.725.000,00
014 > 11.229.000,00 s/d 11.562.000,00 11.395.000,00
015 > 10.921.000,00 s/d 11.229.000,00 11.075.000,00
016 > 10.612.000,00 s/d 10.921.000,00 10.770.000,00
017 > 10.296.000,00 s/d 10.612.000,00 10.450.000,00
018 > 10.004.000,00 s/d 10.296.000,00 10.150.000,00
019 > 9.688.000,00 s/d 10.004.0000,00 9.850.000,00
020 > 9.413.000,00 s/d 9.688.000,00 9.550.000,00
021 > 9.137.000,00 s/d 9.413.000,00. 9.275.000,00
022 > 8.862.000,00 s/d 9.137.000,00 9.000.000,00
023 > 8.579.000,00 s/d 8.862.000,00 8.720.000,00
024 > 8.321.000,00 s/d 8.597.000,00 8.450.000,00
025 > 8.063.000,00 s/d 8.321.000,00 8.190.000,00
026 > 7.796.000,00 s/d 8.063.000,00 7.930.000,00
027 > 7.554.000,00 s/d 7.796.000,00 7.675.000,00
028 > 7.313.000,00 s/d 7.554.000,00 7.430.000,00
029 > 7.070.000,00 s/d 7.313.000,00 7.190.000,00
030 > 6.830.000,00 s/d 7.070.000,00 6.950.000,00
031 > 6.588.000,00 s/d 6.830.000,00 6.710.000,00
032 > 6.346.000,00 s/d 6.588.000,00 6.470.000,00
033 > 6.104.000,00 s/d 6.346.000,00 6.225.000,00
034 > 5.862.000,00 s/d 6.104.000,00 5.980.000,00
035 > 5.613.000,00 s/d 5.862.000,00 5.470.000,00
036 > 5.387.000,00 s/d 5.613.000,00 5.500.000,00
037 > 5.138.000,00 s/d 5.387.000,00 5.260.000,00

464
038 > 4.930.000,00 s/d 5.138.000,00 5.030.000,00
039 > 4.700.000,00 s/d 4.930.000,00 4.825.000,00
040 > 4.488.000,00 s/d 4.700.000,00 4.600.000,00
041 > 4.296.000,00 s/d 4.488.000,00 4.390.000,00
042 > 4.100.000,00 s/d 4.296.000,00 4.200.000,00
043 > 3.912.000,00 s/d 4.104.000,00 4.010.000,00
044 > 3.713.000,00 s/d 3.912.000,00 3.813.000,00
045 > 3.537.000,00 s/d 3.713.000,00 3.625.000,00
046 > 3.362.000,00 s/d 3.537.000,00 3.450.000,00
047 > 3.180.000,00 s/d 3.362.000,00 3.270.000,00
048 > 3.020.000,00 s/d 3.362.000,00 3.100.000,00
049 > 2.862.000,00 s/d 3.020.000,00 2.940.000,00
050 .> 2.696.000,00 s/d 2.862.000,00 2.780.000,00
051 > 2.544.000,00 s/d 2.696.000,00 2.625.000,00
052 > 2.384.000,00 s/d 2.554.000,00 2.470.000,00
053 > 2.261.000,00 s/d 2.384.000,00 2.320.000,00
054 > 2.100.000,00 s/d 2.261.000,00 2.200.000,00
055 > 1.975.000,00 s/d 2.100.000,00 2.050.000,00
056 > 1.885.000,00 s/d 1.975.000,00 1.950.000,00
057 > 1.781.000,00 s/d 1.885.000,00 1.833.000,00
058 > 1.675.000,00 s/d 1.781.000,00 1.730.000,00
059 > 1.568.000,00 s/d 1.675.000,00 1.620.000,00
060 > 1.464.000,00 s/d 1.568.000,00 1.516.000,00
061 > 1.359.000,00 s/d 1.464.000,00 1.410.000,00
062 > 1.239.000,00 s/d 1.359.000,00 1.300.000,00
063 > 1.161.000,00 s/d 1.239.000,00 1.200.000,00
064 > 1.041.000,00 s/d 1.161.000,00 1.100.000,00
065 > 993.000,00 s/d 1.041.000,00 1.020.000,00
066 > 943.000,00 s/d 993.000,00 968.000,00
067 > 895.000,00 s/d 943.000.00 920.000,00
068 > 844.000,00 s/d 895.000,00 870.000,00
069 > 802.000,00 s/d 844.000,00 823.000,00
070 > 753.000,00 s/d 802.000,00 780.000,00
071 > 718.000,00 s/d 753.000,00 730.000,00
072 > 682.000,00 s/d 718.000,00 700.000,00
073 > 647.000,00 s/d 682.000,00 660.000,00
074 > 610.000,00 s/d 647.000,00 630.000,00
075 > 580.000,00 s/d 610.000,00 595.000,00
076 > 550.000,00 s/d 580.000,00 565.000,00
077 > 518.000,00 s/d 550.000,00 530.000,00
078 > 492.000,00 s/d 518.000,00 505.000,00
079 > 461.000,00 s/d 492.000,00 480.000,00
080 > 440.000,00 s/d 461.000,00 450.000, 00
081 > 418.000,00 s/d 440.000,00 429.000,00

465
082 > 397.000,00 s/d 418.000,00 408.000,00
083 > 374.000,00 s/d 397.000,00 385.000,00
084 > 356.000,00 s/d 374.000,00 365.000,00
085 > 338.000,00 s/d 356.000,00 347.000,00
086 > 282.000,00 s/d 338.000,00 310.000,00
087 > 278.000,00 s/d 282.000,00 280.000,00
088 > 250.000,00 s/d 278.000,00 264.000,00
089 > 230.000,00 s/d 250.000,00 240.000,00
090 > 220.000,00 s/d 230.000,00 225.000,00
091 > 185.000,00 s/d 220.000,00 191.000,00
092 > 170.000,00 s/d 185.000,00 180.000,00
093 > 136.000,00 s/d 170.000,00 162.000,00
094 > 128.000,00 s/d 136.000,00 132.000,00
095 > 104.000,00 s/d 128.000,00 116.000,00
096 > 92.000,00 s/d 104.000,00 98.000,00
097 > 74.000.00 s/d 92.000,00 83.000,00
098 > 68.000,00 s/d 74.000,00 71.000,00
099 > 52.000,00 s/d 68.000,00 60.000,00
100 > 52.000,00 50.000,00

466
467
BAB XV
BEA MATERAI

470
BAB XV
BEA MATERAI
PENGERTIAN

Bea materai merupakan pajak atas dokumen yang dipakai oleh masyarakat dalam lalu lintas hukum, yaitu
dokumen yang bersifat perdata. Akan tetapi, dokumen yang bersifat publik tidak dikenakan Bea Meterai,
seperti: paspor, SIM, STNK, IMB, KTP, Akta Nikah, Akta Kelahiran. Pengenaan bea meterai di Indonesia
telah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya abad ke-19 dengan dikeluarkannya staatblad
isi: No. 50 (De’ heffing van Ilet recth het kleinzegel van 1817) pada tahun 1817. Kemudian pada tahun 1921
pengenaan bea meteraj diatur melalui Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921) yang berlaku
sampai tahun 1985. Undang-Undang yang mengatur mengenai bea meterai yang berlaku saat ini adalah
Undang-Undang No. 13 Tahun 1985 jo. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000.

Diskusi

1. Apa perbedaan Pajak dengan Bea?

2. Apa fungsi Bea Materai?

ISTILAH TEKNIS BEA MATERAI

Beberapa terminologi yang berkaitan dengan bea materai sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 13
Tahun 1985 adalah sebagai berikut:

1. Dokumen. Yang dimaksud dengan dokumen dalam undang-undang ini adalah kertas yang berisikan
tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau kenyataan bagi seseorang
dan atau pihak-pihak yang berkepentingan.

2. Benda materai. Yang dimaksud dengan benda materai dalam undang-undang ini adalah materai tempel
dan kertas materai yang dikeluarkan oleh pemerintah RI.

3. Tanda tangan. Yang dimaksud dengan tanda tangan dalam undang-undang ini adalah tanda tangan
sebagaimana lazimnya dipergunakan termasuk pula paraf, teraan atau cap tanda tangan atau cap paraf,
teraan cap nama atau tanda lainnya sebagai pengganti tanda tangan

4. Pemateraian kemudian. Yang dirnaksud pemateraian kemudian dalam undang-undang ini adalah suatu
cara pelunasan Bea Materai yang dilakukan oleh pejabat pos atas permintaan pemegang dokumen
yang bea materainya belum dilunasi sebagairnana mestinya

5. Pejabat pos. Yang dirnaksud pejabat pos dalam undang-undang ini adalah pejabat PT Pos dan giro yang
diserahi tugas melayani permintaan pemateraian kemudian.

471
OBJEK BEA METERAI

Sampai saat ini, Undang-Undang Bea Materai belum pernah dilakukan perubahan, walaupun sudah
diberlakukan sejak 1 Januari 1986. Perlu diketahui bahwa dokumen yang beredar di masyarakat banyak
sekali jenisnya maka penyusun modul menyarankan kepada pembaca untuk menentukan sendiri dokumen
yang dimilikinya tergolong dalam salah satu dokumen yang menjadi objek Bea Materai. Oleh karena itu,
masyarakat seharusnya menyadari bahwa objek Bea Materai bersifat open list, artinya masyarakat
dipersilahkan menentukan sendiri dokumen yang dimilikinya, apakah tergolong dalam bentuk dokumen
yang menjadi objek Bea Materai atau tidak. Bea Materai dikenakan atas dokumen yang menurut Pasal 2
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 adalah sebagai berikut:
Keywords: 7 (tujuh) jenis dokumen yang dikenakan Bea Meterai

1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (antara lain: Surat Kuasa, Surat Hibah, Surat Pernyataan) yang
dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau
keadaan yang bersifat perdata;

Berdasarkan undang-undang ada 5 (lima) macam alat pembuktian yang sah, yaitu surat-surat,
kesaksian, persangkaan, pengakuan dan sumpah. Surat dapat dibagi dalam Surat-surat akta (adalah
suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal atau peristiwa, karenanya suatu
akta harus selalu ditandatangani) dan surat-surat lainnya. Akta secara umum ada 2 (dua) macam yaitu
Akta Otentik dan Akta di bawah tangan.

Akta Otentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum menurut
undang-undang ditugaskan untuk membuat surat-surat akta tersebut. Pejabat tersebut adalah notaris,
hakim, juru sita pada suatu pengadilan, pegawai catatan sipil dan sebagainya. Akta di bawah tangan
adalah setiap akta yang tidak dibuat oleh atau dengan perantara seorang pejabat umum, seperti : surat
perjanjian jual beli atau sewa menyewa yang dibuat sendiri dan ditandatangani sendiri oleh kedua belah
pihak yang mengadakan perjanjian itu.

2. akta-akta notaris termasuk salinannya;

Salinan akta adalah tembusan atau fotokopi yang ditandatangani oleh notaris. Jika salinan tidak
ditandatangani oleh notaris atau salah satu pihak maka hal itu bukan disebut salinan. Tanda tangan
notaris sebagai pejabat negara menjamin bahwa isi salinan sama dengan asli sahihnya (Soemitro,
1988:43).

3. akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk rangkap-rangkapnya;

Rangkap-rangkap akta juga dikenakan bea rnaterai. Undang-undang menggunakan kata rangkap-
rangkapnya dan bukan kata salinan, maksudnya adalah sama yaitu harus juga ditandatangani oleh
PPAT (Soemitro, 1998:45).

4. surat yang memuat jumlah uang. Termasuk juga jumlah uang ataupun harga nominal yang dinyatakan
dalam mata uang asing. Untuk menentukan nilai rupiahnya maka jumlah uang atau harga nominalnya
tersebut dikalikan dengan nilai tukar yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat
dokumen itu dibuat, sehingga dapat diketahui apakah dokumen tersebut dikenakan atau tidak dikenakan
Bea Materai.

a. yang menyebutkan penerimaan uang;

472
b. Contoh kwitansi. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tentang Intensifikasi Bea
Meterai maka termasuk juga dalarn bentuk dokumen ini adalah tagihan bulanan Perusahaan Air
Minum, Perusahaan Telekomunikasi.

c. yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;

d. yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;

e. yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau
diperhitungkan;

5. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep dan cek.

Terdapat banyak dokumen berbentuk surat berharga. Ada yang diatur dalam Kitab Umum Hukum
Dagang (KUHD) seperti: surat wesel, surat sanggup, surat cek, carter partai, konosemen, delivery order
(do), surat saham, prornes atas unjuk atau promes untuk membawa. Ada juga yang diatur di luar
KUHD seperti: surat obligasi sertifikat, sertifikat deposito, sertifikat bank Indonesia, bilyet giro,
surat berharga komersial (comercial papper/CP), kartu kredit.

6. Efek dengan nama dan dalarn bentuk apapun.

Efek merupakan suatu surat-surat berharga jangka panjang yang diperjualbelikan di Pasar Modal. Pada
umumnya instrumen atau surat-surat berharga yang diperdagangkan di Pasar Modal dapat dibedakan
menjadi surat berharga yang bersifat hutang (dikenal dengan narna obligasi) dan surat berharga yang
bersifat pemilikan (dikenal dengan nama saham). Nama lain efek, yaitu:

Bahasa Latin Effectus


Bahasa Belanda Effecten
Bahasa Inggris Securities

Selain diterjemahkan menjadi efek, dalam bahasa Indonesia terdapat pula istilah surat berharga dan
sekuritas untuk menyebut Efek. Definisi Umum Efek adalah bukti-bukti pemilikan sebagian dari
kekayaan (perusahaan), pemilikan hak sebagian keuntungan atau hak sebagian atas hutang berjangka
panjang. Sedangkan Efek menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1985 tentang Pasar Modal adalah surat
pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan
kontrak Investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dari setiap derivatif dan efek.

7. dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan. Termasuk juga surat-surat
yang semula tidak dikenakan Bea Meterai, tetapi karena kemudian digunakan sebagai alat pembuktian
di muka pengadilan, maka dikenakan Bea Meterai (Pasal 2 ayat (3)).

a. surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;

Surat-surat ini dibuat tidak untuk tujuan sesuatu pembuktian maka surat tersebut tidak dikenakan
Bea Materai, seperti surat cinta, daftar barang. Apabila surat tersebut (surat cinta,

daftar barang, dan lain-lain) dikemudian hari ada sengketa dan dipakai sebagai alat pembuktian
dimuka Pengadilan maka surat tersebut terlebih dahulu dilakukan pemateraian kemudian.

b. surat-surat yang semula tidak dikenakan bea materai berdasarkan tujuannya jika digunakan untuk
tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula;

473
Adalah surat-surat yang karena tujuannya tidak dikenakan Bea Materai, tetapi apabila tujuannya
kemudian diubah maka surat yang dernikian itu dikenakan Bea Materai, seperti tanda penerimaan
uang. Apabila tanda penerimaan uang dipakai sebagai alat pembuktian dimuka Pengadilan maka
surat tersebut terlebih dahulu dilakukan pemeteraian kemudian.

Diskusi

Surat Perjanjian tanpa dibubuhkan Bea Materai itu sah atau tidak?

TARIF BEA MATERAI

Besarnya tarif bea materai telah disesuaikan dari waktu ke waktu. Pada awal diberlakukannya Undang-
undang No. 13 Tahun 1985, tariff bea materai sebesar Rp l.000 dan Rp 500. Berdasarkan Pasal 3 Undang-
undang No. 13 Tahun 1985, perubahan besarnya tarif bea materai dan batas nominal yang dikenakan bea
materai dapat diubah dengan Peraturan Pemerintah. Tarif bea Materai yang berlaku saat ini, sebagaimana
diatur melalui Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000 adalah sebagai berikut:

1. Tarif bea materai sebesar Rp 6.000 dikenakan atas dokumen angka 1 sampai dengan angka 7 (lihat
Objek Bea Materai)

2. Tarif bea materai sebesar Rp 3.000 dikenakan atas:

a. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 250.000 tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000 (lihat
jenis dokumen angka 4)

b. surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih dari Rp250.000
tetapi tidak lebih dari Rpl.000.000 (satu juta rupiah);

c. efek dan sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya
tidak lebih dari Rpl.000.000 (satu juta rupiah).

d. Cek atau bilyet giro tanpa batasan nilai nominal.

DOKUMEN YANG TIDAK DIKENAKAN BEA MATERAI

Pasal 4 Undang-Undang Bea Materai mengatur bahwa dokumen yang tidak dikenakan Bea Materai yaitu:

1. Dokumen yang berupa (dengan tujuan menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam mengatur
kelancaran arus barang):

a. surat penyimpanan barang;

b. konosemen (cognossernent/Bill of Lading – BL) adalah kontrak pengangkutan barang antara


eksportir dengan maskapai pelayaran, mengenai pengangkutan barang milik eksportir dari
pelabuhan muat sampai pelabuhan tujuan. Di samping itu, berfungsi sebagai dokumen tanda

terirna barang dari maskapai pelayaran dan merupakan dokurnen utama dalam suatu transaksi
ekspor atau impor;

c. surat angkutan penumpang dan barang;

d. keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1,
angka 2, dan angka 3;

e. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;

474
f. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;

g. surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam butir a
sampai f di atas.

Artinya surat-surat yang isi dan kegunaannya dapat disamakan seperti surat titipan barang, manifest
penumpang.

2. Segala bentuk ijazah;

Termasuk surat tanda tamat belajar, tanda lulus, surat ketèrangan telah mengikuti sesuatu pendidikan,
latihan, kursus, dan penataran baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun swasta.

3. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya
dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu;

4. tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas Pemerintah Daerah, dari bank;

Artinya bukti pengeluaran uang dalam rangka pelaksanaan APBN dan APBD berupa DIP atau DIK
suatu bantuan atau sumbangan yang diberikan oleh Negara. Akan tetapi, penerimaannya sebagai
pemhayaran atas belanja barang atau jasa walaupun dari uang Negara tetap dikenakan Bea Materai.
Contoh: pembayaran untuk pembelian ATK, perbaikan gedung kantor.

5. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari
kas negara, kas Pemerintahan Daerah, dan bank;

ini ditujukan agar tidak membebani Wajib Pajak dalam membayar/menyetor pajak.

6. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;

7. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank,
koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut; ini ditujukan dalam rangka
menunjang kebijaksanaan pemerintah di bidang Tabanas dan jenis tabungan lainnya.

8. surat gadai yang diberikan oleh Perum Penggadaian;

9. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Diskusi

Apabila dokumen yang tidak dikenakan Bea Meterai tersebut di atas, dijadikan sebagai barang bukti di
muka pengadilan. Apakah terhutang Bea Meterai?

SAAT TERUTANGNYA BEA MATERAI

Pasal 5 menentukan bahwa saat terhutang Bea Materai adalah:

1. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak

Saat terutangnya bea materai atas dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen
diserahkan kepada pihak untuk siapa dokumen itu dibuat, misalnya cek, kwitansi.

2. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak

475
Saat terutangnya bea materai adalah pada saat dokumen tersebut selesai dibuat, yang ditutup dengan
tanda tangan dari pihak-pihak yang bersangkutan, misalnya surat perjanjian jual beli.

3. Dokumen yang dibuat di luar negeri

Saat terutangnya bea materai atas dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat dokumen
tersebut digunakan di Indonesia.

Pasal 9 menentukan bahwa dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia harus
telah dilunasi Bea Materai yang terhutang dengan cara pemateraian kemudian.

Diskusi

Berdasarkan Pasal 5 Undang-undang Bea Materai bahwa terdapat 3 (tiga) macam saat terutang Bea Materai.
Kapan saat terutang Bea Materai atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) apabila
dokumen tersebut digunakan sebagai alat bukti dimuka pengadilan?

SUBJEK BEA METERAI

Bea materai terutang oleh:

1. Pihak yang memegang dokumen

Dalam memori penjelasan Pasal 2 ayat (1) huruf a dijelaskan bahwa pihak-pihak yang memegang surat
perjanjian atau surat-surat lainnya tersebut, dibebani kewajiban untuk mernbayar Bea Materai atas surat
perjanjian atau surat-surat yang dipegangnya.

2. Pihak yang mendapat manfaat dari dokumen

Pasal 6 telah menentukan bahwa Bea Materai terhutang oleh pihak yang mendapat manfaat dari
dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.

3. Pihak yang menerima dokumen

Dalam memori penjelasan Pasal 6 dijelaskan bahwa:

– Apabila dokurnen dibuat sepihak, seperti kwitansi, Bea Materai terhutang oleh penerima kwitansi.
– Apabila dokumen dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, seperti surat perjanjian di bawah tangan,
maka masing-masing pihak terhutang bea Materai atas dokumen yang diterimanya.
– Apabila surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris maka Bea Materai yang terhutang baik atas
sahih yang disimpan Notaris maupun salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak yang
bersangkutan terhutang oleh pihak-pihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, dalam
contoh ini adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.

4. Pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain

Dalam memori penjelasan Pasal 6 dijelaskan bahwa pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan

lain, maka Bea Materai terhutang oleh pihak atau pihak-pihak yang ditentukan dalam dokumen tersebut.

TATACARA PELUNASAN BEA MATERAI

Cara Pelunasan Bea Materai

Pada dasarnya pelunasan Bea Materai (di atur dalam Pasal 7) dapat ditempuh dengan 2 (dua) cara yaitu:

476
1. Dengan menggunakan Benda Materai, yaitu Materai Tempel dan Kertas Materai.

Pelunasan dengan Benda Metcrai ml bisa dilakukan dengan cara biasa, yaitu oleh Wajib Pajak sendiri,
dan dapat pula dilakukan melalui pemateraian kemudian oleh pejabat pos.

a. Jika pelunasan bea materai dilakukan dengan materai tempel, maka harus diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:

1) Materai tempel harus direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen
yang dikenakan Bea materai.

2) Materai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan

3) Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal. bulan, dan tahun dilakukan
dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas
kertas dan sebagian lagi di atas materai tempel.

4) Jika digunakan lebih dan satu materai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di
atas semua meterai tempel dan sehagian di atas kertas.

5) Bila ketentuan penggunaan dan cara pelunasan bea materai tidak dipenuhi, dokumen yang
bersangkutan dianggap tidak bermaterai.

Ketentuan tersebut di atas dikenal dengan istilah ketentuan formal sebagaimana di atur dalam
Pasal 7 ayat (3) sampai dengan ayat (6).

Pasal 7 ayat (9) rnenentukan bahwa apabila ketentuan sebagairnana dimaksud dalam ayat (1)
sampai dengan ayat (8) tidak dipenuhi, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermaterai.

Artinya wajib pajak melunasi Bea Materai menggunakan materai tempel.

b. Jika pelunasan bea materai dilakukan dengan menggunakan kertas materai, maka harus
diperhatikan hal-hal berikut:

1) Kertas materai yang sudah digunakan tidak boleh digunakan lagi.

2) Jika isi dokumen yang dikenakan bea materai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di
atas kertas materai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat
digunakan kertas tidak bermaterai.

3) Jika ketentuan penggunaan dan cara pelunasan bea materai tidak dipenuhi, maka dokumen
yang bersangkutan dianggap tidak bermaterai.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Bentuk, Ukuran, Warna Benda Materai dijelaskan
bahwa kertas materai yang dicetak dengan menggunakan desain tahun 2002 masih dapat dipergunakan
sampai dengan tanggal 31 Maret 2010.

2. Pelunasan bea materai dengan cara lain yang

a. Membubuhkan tanda Bea Materai Lunas

1) mesin teraan materai;

2) teknologi percetakan;

477
3) sistem komputerisasi; atau

4) dengan alat lain dan teknologi tertentu.

Keputusan Menteri Keuangan tentang Pelunasan Bea Materai dengan Cara Lain menentukan
bahwa pelunasan Bea Materai dengan menggunakan cara lain harus mendapatkan izin tertulis dari
Direktur Jenderal Pajak. Pelunasan Bea Meterai menggunakan cara lain sebagai berikut:

No Keterangan MTMD Mesin Teraan Sistem Teknologi


Meterai Komputerisasi Percetakan
1 Dasar Hukum SE-63/PJ/2008 SE-07/PJ.5/2001 SE-05/PJ.5/2001 SE-04/PJ.5/2001
2 Bentuk Segala Benyuk Dokumen Pasal 2 ayat (1) Cek, Bilyet Giro,
Dokumen huruf d UU Bea Efek
Meterai
3 Jumlah Minumal 50 Minimal 100 –
Dokumen/hari
4 Permohonan Surat Keeterangan Jenis Mesin, Jenis Dokumen, Jenis Dokumen,
Izin Tertulis Layak Pakai dan Pernyataan Pernyataan Lembar SSP
Surat Pernyataan minimal 50 minimal 100
Kepemilikan dokumen, dokumen, Lembar
Lembar SSP SSP
5 Setor Deposit Minimal Rp 15 Minimal Rp 15 Minimal 1 bulan Sesuai jumlah
juta/kelipatannya juta Dokumen dicetak
6 Masa Berlaku 4 tahun 2 Tahun Deposit cukup 1 –
Izin bulan berikutnya
7 Bea Materai Pemindah Bukuan Mesin Teraan Mesin Teraan Mesin Teraan
Tersisa (Pbk) Meterai, Meterai, Meterai,
Dialihkan ke Teknologi Teknologi Teknologi
Percetakan, Percetakan Percetakan,
Sistem Sistem
Komputerisasi Komputerisasi
8 Kewajiban – Selambatnya Selambatnya –
Pemegang tanggal 15 jika tanggal 15
Izin pindah/jika tidak realisasi
Melaporkan dipakai
9 Perusahaan – – – Lapor
Percetakan selambatnya
Securiti tanggal 10
10 Penggunaan Sanksi Pasal 14 Undang-Undang Bea Meterai
Tanpa Izin

b. Menggunakan benda materai tindih

Pemateraian Kemudian

Pemateraian kemudian dilakukan oleh Pejabat Pos menurut tata cara yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan RI terhadap dokumen sebagai berikut (Pasal 10):

1. Yang akan digunakan sebagai alat bukti di muka Pengadilan (Pasal 1 ayat (3)).

2. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang Bea Materai-nya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana
mestinya (Pasal 8).

3. Pelunasan Bea Materai atas Dokumen yang Dibuat di Luar Negeri

Dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat akan digunakan di Indonesia harus telah dilunasi materai
dengan cara pemateraian kemudian (Pasal 9).

478
Cara Pemateraian Kemudian.

Pelunasan bea materai dengan pemateraian kemudian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Dengan menggunakan materai tempel:

1) Pemegang dokurnen membawa dokumen ke Kantor Pos terdekat;

2) Pemegang dokumen melunasi bea materai yang terutang atas dokumen yang dimateraikan
kemudian;

3) Pernegang dokumen yang bea materainya tidak atau kurang dilunasi, dikenakan denda
administrasi sebesar- 200% dan bea materai yang tidak atau kurang dilunasi dengan
menggunakan SSP dengan kode MAP 0174.

4) Dokurnen yang telah dimateraikan kemudian dan SSP dicap TELAH DIMATERAIKAN
KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 jo. 476/
KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama, dan nomor pegawai
Pejabat Pos bersangkutan.

b. Dengan rnenggunakan SSP (Surat Setoran Pajak)

1) Membuat daftar dokumen yang akan dimateraikan kemudian;

2) Membayar bea materai yang terutang berdasarkan Pasal 4 KMK Nornor 476/KMK.03/2002;

3) Pemegang dokumen yang bea materainya tidak atau kurang dilunasi dikenakan denda
administrasi sebesar 200% dan bea materai yang tidak atau kurang dilunasi dengan
rnenggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan untuk memateraikan kemudian

4) SSP diisi dengan

a) SSP yang digunakan untuk melunasi pemateraian kemudian diisi dengan Kode Jenis
Pajak (MAP) 0171;

b) SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi diisi dengan Kode Jenis
Pajak (MAP) 0174;

5) Daftar dokurnen yang telah dimateraikan kemudian dan SSP yang digunakan untuk
membayar pemateraian kemudian dicap TELAH DIMATERAIKAN KEMUDIAN SESUAI
UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 jo. 476/KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos
disertai dengan tanda tangan, nama, dan nomor pegawai Pejabat Pos bersangkutan.

SANKSI-SANKSI DAN DALUWARSA BEA MATERAI

Sanksi

1. Sanksi Administrasi

a. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam objek bea materai yang tidak atau kurang dilunasi
sebagaimana mestinya dikenakan sanksi administrasi sebesar 200% dari bea materai yang tidak
atau kurang dibayar (Pasal 8 dan Pasal 9).

479
b. Sanksi juga diterapkan kepada pemegang mesin teraan materai apabila dalam menggunakan
mesin teraan tersebut melebihi jumlah yang telah disetor.

c. Sanksi administrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku juga diterapkan
terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintah, hakim, panitera, jurusita, notaris,
dan pejabat umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya (Pasal 11):

1) menerima, mempertimbangkan, atau menyimpan dokumen yang bea materainya tidak atau
kurang dibayar;

2) meletakan dokumen yang bea materainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarifnya
pada dokumen lain yang berkaitan;

3) membuat salinan, tembusan, rangkapan, atau petikan dari dokumen yang bea materainya
tidak atau kurang dibayar;

4) memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak atau kurang dibayar sesuai
dengan tarif bea materainya.

2. Sanksi Pidana (Pasal 13 dan Pasal 14)

a. Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain untuk melunasi bea materai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) hurufb UU Bea Materai, tanpa izin Menteri Keuangan, dipidana
dengan pidana penjara selama-larnanya 7 (tujuh) tahun.

b. Sanksi pidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diberikan
dalam hal:

1) barang siapa meniru atau memalsukan materai tempel dan kertas materai atau meniru dan
memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan materai;

2) barang siapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau memasukan
ke negara Indonesia materai palsu, yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan
hukum;

3) barang siapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan


menyediakan untuk dijual, atau dimasukan ke negara Indonesia materai yang mereknya,
capnya. tanda tangannya, tanda sahnya, atau tanda waktunya mempergunakan telah
dihilangkan seolah-olah materai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain
menggunakan dengan melawan hukum

4) barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan


untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda materai.

Daluwarsa

Kewajiban pemenuhan bea materai dan denda administrasi yang terutang daluwarsa setelah melampaui
waktu 5 tahun, terhitung sejak dokumen dibuat sebagaimana diatur dalam pasal 12 Undang-undang Bea
Materai

480
Diskusi

1. Mengapa daluarsa Bea Materai setelah melampaui waktu 3 Tahun. terhitung sejak dokumen dibuat
bukan terhitung sejak saat terhutang?

2. Jika sebuah dokumen sudah melampaui daluarsa, kemudian dijadikan sebagai alat bukti di muka
pengadilan apakah dokumen tersebut terhutang Bea Materai?

DOKUMEN PERBANKAN YANG DIKENAKAN BEA MATERAI

Dokumen perbankan dan besarnya tarif bea materai sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Dirjen Pajak
Nomor SE-29/PJ.5/2000 tanggal 20 Oktoher 2000 adalah sebagai berikut:

1. Dokumen perbankan yang dikenakan Bea Materai adalah sebagai berikut:

Jenis Dokumen Tarif BM (Rp) Keterangan


1. Perjanjian pembukaan rekening giro 6.000

2. Rekening Koran bulanan khusu giro 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga


nominal
3. Surat Kuasa 6.000

4. Sertifikat Deposito 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga


nominal
5. Deposito Berjangka 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
6. Bukti pencairan deposito (baik tunai ataupun pemindah bukuan) 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
7. Deposito on call (dalam bentuk sertifikat) 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
8. Pencairan kiriman uang masuk untuk nasabah 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal

Jenis Dokumen Tarif BM (Rp) Keterangan

9. Stop Payment Order (baik atas cek/bilyet giro atau bentuk perintah 6.000
pembayaran lainnya oleh nasabah)

10. Cek/bilyet giro 3.000 Berdasarkan harga


nominal
11. Penarikan kuitansi (selain untuk tabungan) 3.000 / 6.000

12. Bank Draft yang dibayarkan di dalam negeri 6.000


13. Penegasan pemenang SBI 6.000
14. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
15. Bukti pelunasan SBI 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
16. Pencairan deposito antar Bank 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
17. Kontrak jual/beli forward 6.000
18. Kuitansi penarikan Giro Valas 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
19. Aplikasi pembelian Devisa Umum 6.000

481
20. Surat Pengikatan perjanjian transaksi derivative 6.000
21. Aplikasi pembelian Traveller Check 6.000
22. Draf (ekspor, negoisasi L/C, dan Bank Garansi 6.000
23. Indemnity/pelunasan pakai copy Airway Bill (surat pernyataan 6.000
guarantee)
24. Jaminan (counter guarantee) 6.000
25. Perjanjian permohonan plafon untuk pengeluaran Bank Garansi 6.000
26. Aplikasi permohonan pengeluaran/ perubahan Bank Garansi (yang 6.000
disetarakan dengan suatu perjanjian)
27. Garansi Bank 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
28. Penerbitan Shipping Guarantee 6.000
29. Perjanjian Kredit 6.000
30. Tanda terima pencairan kredit secara tunai 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
31. Pengakuan hutang 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
32. Surat sanggup bayar (promes) 3.000 / 6.000 Berdasarkan harga
nominal
33. Cessie di bawah tangan 6.000
34. FEO/fidusia di bawah tangan 6.000
35. Laporan stock dari debitur 6.000
36. Borgtocht di bawah tangan 6.000

Jenis Dokumen Tarif BM (Rp) Keterangan


37. Akta pemberian tanggungan (personal guarantee) 6.000

38. Surat pernyataan tidak menyewakan barang jaminan 6.000


39. Perjanjian Risk Sharing 6.000

40. Surat perjanjian electronic banking 6.000


41. Perjanjian pembukaan sewa deposit box 6.000

2. Dalam hal dokumen perbankan syariah mempunyai nama yang tidak sama dengan dokumen pada butir
1 di atas, maka untuk menentukan dokumen tersebut dikenakan Bea Materai atau tidak adalah dengan
cara mencocokan isi dan makna dokumen dimaksud dengan dokumen yang tercanturn dalam butir 1.

3. Pada dasarnya Bea Materai atas seluruh dokumen perbankan pada butir 1 dapat dilunasi dengan
menggunakan Benda Materai atau dengan membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan Teraan
Materai.

4. Cara pelunasan selain yang tercantum dalam butir 3, pelunasan atas dokumen perbankan tertentu dapat
dilunasi dengan membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan Teknologi Percetakan (contohnya:
Cek, Bilyet Giro, Sertifikat Bank Indonesia-SBI) atau Sistem Komputerisasi (contohnya: Rekening
Koran bulanan khusus giro).

482
FASILITAS BEA MATERAI

Sesuai dengan PP No. 32 Tahun 2007, bea materai, yang terutang atas dokumen yang diperlukan dalam
rangka perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan melalui program Pemerintah di bidang pertanahan
untuk penanggulangan bencana alam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalarn dan Kepulauan Nias, Provinsi
Sumatera Utara, ditanggung oleh Pemerintah.

ISU TERKINI

Efek dan Sekumpulan Efek dengan Nama dan Dalam Bentuk Apapun

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-14/PJ.53/2000 tentang Bea Materai atas Efek dan
Sekumpulan Efek dengan Nama dan Dalam bentuk Apapun dijelaskan bahwa:

- Pengenaan Bea Materai atas efek dengan nama dan dalam bentuk apapun dikenakan Bea Materai
berdasarkan harga nominal per lembar, seperti: obligasi dan surat berharga komersial (commercial
paper/ CP).

- Sekumpulan Efek dengan Nama dan Dalam bentuk Apapun yang tercantum dalam surat kolektif
dikenakan Bea Materai berdasarkan jumlah harga nominal atas sekumpulan efek tersebut, seperti:
saham yang tercantum dalam Surat Kolektif Saham.

Saat terhutang atas dokumen tersebut adalah pada saat Efek dan Sekumpulan Efek dengan Nama dan Dalam
bentuk Apapun tersebut diserahkan pertama kali kepada investor, sehingga pada saat transaksi di pasar
sekunder/pasar modal dokumen tersebut sudah dilunasi Bea Materainya dan tidak dikenakan Bea Materai
lagi.

Pihak yang mempunyai kewajiban untuk melunasi Bea Materai yang terhutang atas Efek dan Sekumpulan
Efek dengan Nama dan Dalam bentuk Apapun adalah pihak investor, kecuali pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain.

Kartu Kredit

Nilai dalam tagihan kartu kredit yang dipergunakan sebagai harga nominal yang dikenakan Bea Materai
adalah nilai pembayaran yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit dalam satu periode tagihan karena
jumlah tersebut menunjukan suatu pengakuan dari penerbit kartu kredit atas pelunasan sebagian atau
seluruhnya hutang pemegang kartu kredit. Sebagai contob, Ny. Rubiyanti adalah pemegang kartu kredit
yang melakukan pembayaran sebanyak 3 kali untuk tagiham bulan Juli 2014 dengan jumlah sebesar
Rp3.000.000 maka Bea Materai yang dikenakan atas tagihan kartu kredit yang memuat pembayaran tersebut
adalah sebesar Rp6.000.

SAH ATAU TIDAK SAHNYA SUATU PERJANJIAN

Sah atau tidak sahnya suatu perjanjian tidak ditentukan oleh pelunasan Bea Materai, tetapi ditentukan oleh
Pasal 1320 Kitab Umum Hukum Perdata, yaitu ada 4 (empat) syarat sah suatu perjanjian:

1. Adanya kata sepakat antara para pihak yang akan mengadakan perjanjian (kedua pihak harus seia
sekata). Kesepakatan harus diberikan secara bebas dengan tidak terdapat unsur paksaan (Dwang),
kekeliruan/kesesatan (Dwaling), penipuan (Bedrog).Paksaan (Dwang) disini lebih terorientasi pada
paksaan psikis/kejiwaan.

483
2. Cakap untuk membuat perjanjian. Pada asasnya setiap orang yang sudah dewasa, akan cakap bertindak
dalam hukum. Berdasarkan Pasal 1330 Kitab Umum Hukum Perdata disebutkan bahwa mereka yang
tidak cakap hertindak dalam hukum adalah anak yang belum dewasa (mindujarig),

dewasa tetapi terganggu akal pikirannya, wanita yang sudah bersuami. Dengan dikeluarkannya Surat
Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963 bahwa wanita yang sudah bersuami sudah dapat bertindak
dalam hukum (cakap).

3. Mengenai hal tertentu.

4. Adanya sebab yang halal, tidak boleh hertentangan dengan Undang-Undang kesusilaan dan ketertiban
umum.

Latihan Soal Bea Materal

1. Pada tanggal 10 Januari 2008, Than Takasimura dari Jepang dan Tuan Terimakasih dari Indonesia
membuat surat perjanjian kerjasama di Jepang dalam bidang perdagangan. Bea Materai telah dilunasi
di Jepang menurut Undang-Undang Bea Materai Jepang. Karena suatu hal, pada tanggal 10 Februari
2010 Tuan Takasirnura menggugat Tuan Terimakasih di Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena tuan
Terima kasih ingkar janji terhadap surat perjanjian tersebut.

a. Kapan saat terhutang Bea Materai atas dokumen tersebut?

b. Apa sarana yang digunakan untuk melunasi Bea Materai atas dokumen tersebut?

c. Bagaimana cara pelunasan Bea Materai atas dokumen tersebut?

d. Siapa yang harus melunasi Bea Materai atas dokumen tersebut dan berapa besar Bea Materai
yang harus dilunasi?

2. Tuan Batman dan Tuan Spiderman sepakat untuk mendirikan perusahaan dengan nama PT Hero. Akte
pendirian dibuat oleh notaris Sinichi Kudo pada tanggal 8 Oktober 2012 dan dibuat salinan 10 rangkap.
Modal perseroan disetor oleh tuan Batman dengan menggunakan cek BNI sebanyak dua lembar
masing-masing Rp700.000.000 dan Rp800.000.000. Sedangkan tuan Spiderman menyetor dengan cek
Mandiri masing-masing sebesar Rp400.000.000, Rp800.000.000 dan Rp300.000.000. Atas kesepakatan
bersama rekening yang digunakan atas nama perusahaan adalah rekening giro BRI. Gedung kantor
menyewa dari tuan Nobita dan bukti pembayaran dengan menggunakan cek BRI sebesar
Rp100.000.000 per tahun selama 3 tahun.

a. Atas peristiwa-peristiwa tersebut, berapa jumlah Bea Materai yang terhutang?

b. Siapa yang wajib melunasi Bea Materai atas peristiwa-peristiwa tersebut?

c. Bagaimana cara pelunasan Bea Materai atas dokurnen-dokumen yang terkait?

3. Tuan Shinchan membeli sebuah mesin genset seharga Rp150.000.000. Pembayaran uang muka sebesar
20%. Sisanya diangsur selama empat kali berturut-turut sebesar 25%, 25%, 25%, dan 5%. Hitunglah
besarnya Bea Materai yang terhutang jika

a. Seluruh dokurnen yang digunakan adalah kuitansi!

b. Seluruh dokurnen yang digunakan adalah cek!

484
4. Pak Indra Gunawan, seorang pengusaha telah memperoleh izin mencetak tanda lunas Bea Materai
dengan sistem komputerisasi. Pemateraian dokumen setiap harinya sebanyak 100 dokumen yang
terutang Bea Materai sebesar Rp 6.000,00 setiap dokumen dan satu bulan diasumsikan 25 hari kerja

Pada tanggal 30 Juni 2005. saldo pernbayaran Bea Materai dimuka tinggal Rp 8.000.000

Pertanyaan:

a. Apa yang harus dilakukan oleh Pak Indra agar dapat tetap menggunakan sistem komputerisasi
untuk melakukan permateraian dokumen di kantornya?

b. Andaikata Pak indra tetap melaksanakan pemateraian dokumen sampai dengan akhir bulan Juli
2005 tanpa memohon izin kepada Direktur Jenderal Pajak, berapa sanksi administrasi yang harus
dibayar oleh Pak Indra?

5. Pak Sumarsono membeli beberapa jenis material dari toko bahan bangunan. Karena sesuatu keperluan
maka Pak Sumarsono tidak dapat langsung mengambil barang-barang yang dibelinya, tetapi beliau
menerima Nota Bon pembelian barang setelah beliau membayar harga barang-barang tersebut.
Ternyata jumlah material yang diantar ke rumah Pak Sumarsono tidak sesuai dengan yang tercantum di
dalam Nota bon tersebut. Pak Sumarsono mengajukan klaim ke pernilik toko bahan bangunan. namun
si pemilik menyatakan barang sudah sesuai dengan yang tercantum dalam Nota. Oleh Pak Sumarsono
kasus ini dibawa ke Pengadilan.

Pertanyaan:

a. Apakah Nota bon yang diterirna oleh Pak Sumarsono terutang Bea Materai pada waktu diterima
dari pemilik toko?

b. Apa yang harus dilakukan oleh Pak Sumarsono terhadap Nota Bon tersebut untuk perkara di
pengadilan?

485
488