Anda di halaman 1dari 16

STASE FORENSIK RSHS

TRAUMATOLOGI

Pembimbing : dr. Nita Novita, Sp.PA

Disusun oleh:
Dimas Hervian Putera
M. Hasan Passamula
Nessa Rahmadini Fajri
Radian Adi A.K.
Rika Elita M.S

Fakultas Kedokteran dan Kesehatan


Universitas Muhammadiyah Jakarta
2016
BAB I

Pendahuluan

Didalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan
pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan keterangan dari permasalahan
tersebut, baik jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan dan senjata yang digunakan sehingga
menyebabkan luka tersebut terjadi dan ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan kekerasan adalah traumatologi forensik.
BAB II

Pembahasan

Traumatologi forensik adlah ilmu yang mempelajari tentang luka dan ceder aserta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa).

Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan.

Pengertian luka disini semata-mata pengertian ilmu kedokteran forensik, yang hanya baru
dipahami setelah memperlajari pasal-pasal Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang
bersangkutan dengan Bab XX ( Tentang Penganiayaan ) terutama padal 351 dan pasal 352; dan
Bab IX ( Tentang Arti Beberapa Istilah Yang Dipakai Dalam Kitab Undang-undang ), yaitu pasal
90.

Pasal-pasal yang berkaitan tentang luka dan kekerasan serta penganiayaan

Pasal 351

1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah;
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, maka yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama lima tahun;
3) Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun;
4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan;
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352

1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356 maka penganiayaan yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam
sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda
paling banyak tiga ratus rupiah.
Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang-orang yang melakukan kejahatan ini terhadap
orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 90

Luka berat berarti:

 Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau
yang menimbulkan bahaya maut:
 Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian;
 Kehilangan salah satu panca indera;
 Mendapat cacat berat ( verminking );
 Menderita sakit lumpuh;
 Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
 Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.

Dari pasal pasal tersebut dapat dibedakan empat jenis tindakan pidana; yaitu:

1. Penganiayaan ringan;
2. Penganiayaan;
3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat;
4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian.

Oleh karena itu “penganiayaan” merupakan istilah hukum, yaitu “dengan sengaja
melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang” maka di dalam Visum et Repertum
yang dibuat dokter tidak boleh mencamtunkan istilah penganiayaan , oleh karena dengan sengaja
atau tidak merupakan urusan Hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan nyeri sukar
sekali untuk dapat dipastikan secara objektif, maka kewajiban dokter di dalam membuat Visum
et Repertum hanyalah menentukan secara objektif adanyaluka, dan bila ada luka, dokter harus
menentukan derajatnya.
Derajat luka tersebut harus disesuaikan dengan salah satu dari ketiga jenis tindak pidana
yang telah disebutkan tadi.
i) Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulakn penyakit atau
halangan untuk menjalakan pekerjaan jabatan atau pencaharian; didalam ilmu
forensik pengertiannya menjadi “luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabaran atau pencaharian’. Luka ini dinamankan ‘ luka
derajat pertama’
ii) Bila sebagai akobat penganiayaan seseroang itu mendapatkan luka atau menimbulkan
penyakit atau halangan untuk melakukan pekerjaan jabatan atau pencaharian akan
tetapi hanya untuk sementara waktu saja, maka luka ini dinamankan “luka derajat
kedua”
iii) Apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan luka berat seperti yang dimaksud
dalam pasal 90 KUHP, luka tersebut dinamakan “luka derajat ketiga”.

Dengan demikian di dalam penulisan kesimpulan Visum et Repertum kasus-kasus


perlukaan, penulisan kualifaikasi adalah sebagai berikut:

(1) Luka yang tidak mengakibatkan prnuakit atau halangan dalam menjalankan
jabatan atau pencaharian;
(2) Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan perkerjaan
atau jabaran untuk sementara waktu
(3) Luka yang termasuk dalam pengertian hukum “luka berat” ( pasal 90 KUHP )

Suatu hal yang petning harus diingan didalam menentukan ada tidaknya luka akibat
kekerasan adalah adanya kenyataan bahwasanya tidak selamanya kekerasan akan itu
meninggalkan bekas/luka. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya faktor yang
menentukan terbentuknya luka akibat kekerasan sesuatu benda, yaitu luas permukaan yang
bersentuhan dengan tubuh. Bila luas permukaan benda yang bersentuhan itu cukup besar, yang
berarti kekuatan untuk dapat menimbulkan luka lebih kecil bila dibandingkan dengan benda yang
mempunyai luas permukaan yang mengenai tubuh lebih kecil.

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah faktor waktu, oleh karena berjalannya waktu
maka suatu luka dapat sembuh dan tidak ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan. Dalam hal
yang demikian penulisan di dalam kesimupaln Visum et Repertum juga berbunyi “tidak
ditemukan tanda-tanda kekerasan”.

Berdasarkan sifat dan penyebanya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang
bersifat:
a) Mekanik
i) Kekerasan oleh benda tajam
ii) Kekerasan oleh benda tumpul
iii) Tembakan senjata api
b) Fisika
i) Suhu
ii) Listrik dan petir
iii) Perubahan tekanan udara
iv) Akustik
v) Radiasi
c) Kimia
i) Asam atau basa kuat

LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka ini adalah benda yang
memiliki permukaan tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa memam ( kontusia, hematom ),
luka lecet (eksoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek (laseratum).

A. Memar

Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan
vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala memberi
petuinjjuk tentang bentu benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya adalah suatu
perdarahan tepi.

Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit,
kerapuhan pembuluh darah, penyakit (hipertensi, penyebab kardio vaskuler, diatesis hemoragik).

Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan
masih tipitsnya jaringan lemak subkutin, demikian pula pada usia lanjut sehubungan dengan
menipisnya jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah pembuluh darah yang kurang
terlindungi.
Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan, misalnya
kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra atau kekerasan benda
tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi luar tungkai
bawah.

Umur luka secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat
timbul, memar berwarna merah kemudian berubah menjadi warna unggu atau hitam, setelah 4-5
hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan
akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi
dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar dapat merupakan hal penting,
apalagi bila luka memar tersebut disertai luka lecet atau laserasi. Dengan perjalanan waktu, baik
pada orang hidup maupun orang mati, luka memar akan memberi gambaran yang semakin jelas.

Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari
lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hipostasis pascamati)
darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila dialiri air,
penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom penampang sayatan tetap
berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi
ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan.

B. Luka lecet

Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh
terbentur aspal jalan atau sebaliknya benda tersebut bergerak dan bersentuhan dengan kulit.

Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan,
padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan
peristiwa yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang semula diperkirakan sebagai
akibat jatuh dan terbentur aspal jalanan atau tanah, seharusnya dijumpai pula aspal atau debu
yang menempel di luka tersebut. Bila setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak
dijumpai benda asing tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa luka tersebut bukan terjadi
akibat jatuh ke aspal/tanah, tetapi mungkin akibat tindak kekerasan.

Sesuai dengan mekanismenya luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka lecet gores
(scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression) dan luka lecet geser (firction
abration).

(1) Luka lecet gores diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang
menggores kulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di
depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga menunjukan arah
kekerasan tersebut.
(2) Luka lecet serut adalah variasi luka lecet gores yang daerah persentuhannya
dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat
letak tumpukan epitel.
(3) Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena
kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama
dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-
kusu radiator mobil, jejas gigitan dan sebagainya.
Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang
kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya
jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati.
(4) Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan
bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka
lecet geser terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser
yang terjadi segera pasca mati

C. Luka robek

Luka robek atau luka terbuka yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul dapat terjadi
bila kekerasan yang terjadi sedemikian kuatnya hingga melampaui elastisitas kulit atau otot, dan
lebih dimungkinkan bila arah dari kekerasan tumpul tersebut membentuk sudut dengan
permukaan tubuh yang terkena benda tumpul. Dengan demikian bila luka robek tersebut salah
satu tepinya terbuka ke kanan misalnya, maka kekerasan atau benda tumpul tersebut datang dari
arah kiri; jika membuka ke depan maka kekerasan benda tumpul datang dari arah belakang.
Pelukisan yang cermat dari luka terbuka akibat benda tumpul dengan demikian dapat sangat
membantu penyidik khususnya sewaktu dilakukannya rekonstruksi; demikian pula sewaktu
dokter dijadikan saksi di meja hakim.

Luka robek atau luka terbuka akibat kekerasan benda tumpul dapat dibedakan dengan
luka terbuka akibat kekerasan benda tajam, yaitu dari sifat-sifatnya serta hubungan dengan
jaringan sekitar luka. Luka robek mempunyai tepi yang tidak teratur, terdapat jembatan-jembatan
jaringan yang menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur atau tercabut bila
kekerasannya di daerah yang berambut, di sekitar luka robek ssring tampak adanya luka lecet
atau luka memar.

Oleh karena luka pada umumnya mendatangkan rasa nyeri yang hebat dan lambat
mendatangkan kematian, maka jarang dijumpai kasus bunuh diri dengan membuat luka terbuka
dengan benda tumpul.

LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TAJAM

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi
tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti golok, pisau, dan
sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan tepi kertas atau rumput.

Putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat alat/senjata yang
bermata tajam dan atau berujung runcing. Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah
dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka tembakan senjata api.
Luka akibat kekerasan benda tajam antara lain

1. Luka iris atau sayat


2. Luka tusuk
3. Luka bacok
A. Luka iris atau sayat.

Luka iris adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat
ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.

Luka iris memiliki kedua sudut luka yang lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang
luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat
pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak
memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu berbentuk garis.

B. Luka tusuk

Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi
dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: belati, bayonet,
keris, clurit, kikir, tanduk kerbau.

Selain itu, pada luka tusuk , sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda
penyebabnya, apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Luka tusuk memiliki dalam
luka lebih besar daripada panjang luka

C. Luka bacok

Luka bacok adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak
tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang,
clurit, kapak, baling-baling kapal. Luka bacok memiliki karakteristik yang sama seperti luka iris.

LUKA AKIBAT TEMBAKAN SENJATA API

Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil perledakan mesiu, dapat
melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya.

Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal dapat pula tunggal beruntun
secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu secara bersamaan.
Akibat yang ditimbulkan oleh anak peluru pada sasaran tergantung pada berbagai faktor,
antara lain:

1. Besar dan bentuk anak peluru


2. Balistik
3. Kerapuhan anak peluru
4. Kepadatan jaringan sasaran
5. Vulnerabilitas jaringan sasaran

Tembakan yang mengenai tubuh akan menimbulkan luka tembak, yang gambarannya
tidak hanya terjadi sebagai akibat terjangan anak peluru pada sasaran, tetapi juga oleh produk
ikutan yang terjadi saat tembakan dilepaskan, yaitu partikel logam akibat geseran anak peluru
dengan laras, butir mesiu yang tidak sempurna terbakar, asap serta panas akibat ledakan mesiu
dan pada luka tembak yang terjadi akibat tembak tempel terjadi kerusakan jaringan akibat
mocong laras menempel/menekan sasaran.

Luka tembak masuk (LTM) dibagi menjadi luka tembak masuk jarak jauh, luka tembak
masuk jarak dekat, luka tembak masuk sangat dekat dan luka tembak tempel.

Luka tembak jarak jauh hanya dibentuk oleh komponen anak peluru, sedangkan LTM
jarak dekat dibentuk oleh komponen anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar.
LTM jarak sangat dekat dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga dan panas/api.
LTM tempel/kontak dibentuk oleh seluruh komponen tersebut di atas (yang akan masuk ke
saluran luka) dan jejas laras. Saluran luka akan berwarna hitam dan jejas laras akan tampak
mengelilingi luka tembak masuk sebagai luka lecet jenis tekan, yang terjadi sebagai akibat
tekanan berbalik dari udara hasil ledakan mesiu.

Gambaran LTM jarak jauh dapat ditemukan pada korban yang tertembak pada jarak yang
dekat/sangat dekat, apabila di atas permukaan kulit terdapat penghalang misalnya pakaian yang
tebal, ikat pinggang, helm dan sebagainya sehingga komponen-komponen butir mesiu yang tidak
habis terbakar, jelaga dan api tertahan oleh penghalang tersebut.
Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban akan ditemukan luka tembak keluar
(LTK). LTK umumnya lebih besar dari LTM akibat terjadinya deformitas anak peluru,
bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari LTK.

LTK mungkin lebih kecil dari LTM dari LTM bila terjadi pada luka tembak
tempel/kontak, atau pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat akan keluar
meninggalkan tubuh. Di sekitar LTK mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada tempat
keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya ikat pinggang, atau korban sedang bersandar
pada dinding.

LUKA AKIBAT SUHU

Luka akibat suhu dibagi menjadi dua, luka akibat suhu tinggi dan luka akibat suhu
rendah.

Luka bakar adalah luka yang sering terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu
tinggi. Kerusakan kulit dengan uap air panas selama 2 detik mngakibatkan suhu kulit pada
kedalam 1mm dapat mencapai 66 derajat celsius

Kekerasan oleh benda bersuhu tinggi akan dapat menimbulkan luka bakar yang cirinya
amat tergantung dari jenis bendanya, ketinggian suhu serta lamanya kontak dengan kulit. Api,
benda padat panas atau membara dapat mengakibatkan luka bakar derajat I, II, III atau IV. Zat
cair panas dapat mengakibatkan luka bakar tingkat I, II atau III. Gas panas dapat mengakibatkan
luka bakar tingkat I, II, III atau IV.

I Eritema
II Vesikel dan bulla
III Nekrosis koagulasi
IV Karbonisasi

Luka akibat suhu dingin (rendah)


Kekerasan oleh benda bersuhu dingin biasanya dialami oleh bagian tubuh yang terbuka;
seperti misalnya tangan, kaki, telinga atau hidung.

Mula-mula pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial
sehingga terlihat pucat, selanjutnya akan terjadi paralise dari vasomotor kontrol yang
mengakibatkan daerah tersebut menjadi kemerahan. Pada keadaan yang berat dapat menjadi
gangren.

I Hiperemia
II Edema dan vesikel
III Nekrosis
IV Pembekuan disertai kerusakan jaringan

LUKA AKIBAT TRAUMA LISTRIK

Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Besarnya pengaruh listrik pada jaringan tubuh
tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus (ampere), besarnya tahanan
(keadaan kulit kering atau basah), lamanya kontak serta luasnya daerah yang terkena kontak.

Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan lapisan kulti
dengan tepi agak menonjol dan disekitarnya terdapat daerah pucat dikelilingi daerah hiperemis.
Sering ditemukan adanya metalisasi.

Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukannya luka. Bahkan kadang-
kadang bagian dari baju atau sepatu yang dilalui oleh arus listrik ketika meninggalkan tubuh juga
ikut terbakar. Tegangan arus kurang dari 65 voltase biasanya tidak membahayakan, tetapi
tegangan antara 65-1000 volt dapat mematikan. Sedangkan kuat arus (ampere) yang dapat
mematikan adalah 100 mA.

Kematian tersebut terjadi akibat fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan atau
pusat pernapasan. Sedang faktor yang sering memperngaruhi kefatalan adalah kesadaran
seseorang akan adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya. Bagi orang-orang tidak
menyadari adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya biasanya pengaruhnya lebih berat
dibanding orang-orang yang pekerjaannya setiap hari berhubungan dengan listrik.

LUKA AKIBAT PETIR

Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang tegangannya dapat
mencapai 10 mega Volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka karena
sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan
udara. Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang
mirip dengan akibat persentuhan dengan benda tumpul.

Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan susunan syaraf pusat,
menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi karena efek ledakan atau efek dari
gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark
(percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon), metalisasi benda-benda dari
logam yang dipakai, magnetisasi benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar
atau robek-robek akibat ledakan atau panas.1

LUKA AKIBAT PERUBAHAN TEKANAN UDARA

Peningkatan tekanan udara yang diikutioleh perubahan volume gas didalam tubuh dapat
mengakibatkan trauma fisik, berupa barotrauma aural, barotrauma pulmoner, penyakit
dekompresi dan emboli udara.1

Barotrauma aural adalah rasa nyeri ringan dan berdengung pada telinga yang sering
dijumpai pada saat pesawat terbang lepas landas atau pada saat akan mendarat, atau waktu
menyelam. Gejala yang lebih berat adalah retraksi gendang telinga, hiperemi, kongesti telinga
tengah dan pecahnya gendang telinga.

Barotrauma pulmoner dapat berkembang menjadi emfisema pneumothoraks, kerusakan


jaringan paru dan emoboli udara.
Kelainan lain yang dapat timbul adalah nyeri pada gigi berkavitas, vertigo, gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran serta keseimbangan.

Perubahan volume gas dalam susunan saraf pusat dapat mengakibatkan tremor konvulsi,
somnolen, pusing dan mual. Sedangkan perubahan volume gas pada persendian mengakibatkan
artalgia hiperbarik.

Penyakit dekompresi merupakan reaksi fisiologis terhadap tekanan tinggi. Pada saat
tekanan tinggi, kelarutan gas-gas tubuh terutama nitrogen akan meningkat. Apabila kemudian
terjadi penurunan tekanan secara tiba-tiba, maka kelarutan gas juga akan turun sehingga terjadi
pe,bebasan gas-gas tersebut dalam bentuk gelembung-gelembung mikro dalam pembuluh darah
(emboli udara) dan jaringan. gejala utama adalah nyeri, pusing, paralisis, napas pendek, keleahan
ekstrimitas dan kolaps.

LUKA AKIBAT TRAUMA BAHAN KIMIA

Zat-zat kimia korosif dapat menimbulkan luka-luka apabila mengenai tubuh manusia.

Ciri-ciri lukanya amat tergantung dari golongan zat kimia tersebut3, yaitu :

(a) Golongan Asam.

Termasuk zat kimia korosif dari golongan asam antara lain :

• Asam mineral, antara lain : H2SO4, HCl dan NO3.

• Asam organik, antara lain : asam oksalat, asam formiat dan asam asetat.

• Garam mineral, antara lain : AgNO3 dan Zinc Chlorida.

• Halogen, antara lain : F, Cl, Ba dan J.

Cara kerja zat kimia korosif dari golongan ini sehingga mengakibatkan luka, ialah:

• Mengekstraksi air dari jaringan.

• Mengkoagulasi protein menjadi albuminat.


• Mengubah hemoglobin menjadi acid hematin.

Ciri-ciri dari luka yang terjadi akibat zat-zat asam korosif tersebut di atas ialah:

• Terlihat kering.

• Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan oleh nitric acid berwarna kuning
kehijauan.

• Perabaan keras dan kasar.

(b) Golongan Basa.

Zat-zat kimia korosif yang termasuk golongan basa antara lain :

• KOH

• NaOH

• NH4OH

Cara kerja dari zat-zat tersebut sehingga menimbulkan luka ialah:

• Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga membentuk alkaline albumin dan


sabun.

• Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematin.

Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat persentuhan dengan zat-zat ini :

• Terlihat basah dan edematus

• Berwarna merah kecoklatan

• Perabaan lunak dan licin.