Anda di halaman 1dari 22

1

MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluruh seluk-

beluk kehidupan mikroorganisme. Peranan mikroorganisme sudah sejak

lama diketahui disegala aspek kehidupan manusia antara lain di pertanian,

perikanan, kesehatan, farmasi, dan lain-lain. Hingga saat ini ilmu tersebut

telah memberi warna wawasan dan cakrawala baru bagi kehidupan

terutama dalam perkembangan bioteknologi modern yang melibatkan ilmu

mikrobiologi.

Fungi atau cendawan adalah mikroorganisme heterotrofik, mereka

memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari

benda organik mati yang terlarut, mereka disebut saprofit. Saprofit

menghancurkan sisa – sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks,

menguraikannya menjadi zat – zat kimia yang lebih sederhana, yang

kemudian dikembalikan ke dalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan

kesuburannya. Jadi mereka dapat menguntungkan bagi manusia. Sebaliknya

mereka juga dapat merugikan kita bilamana mereka membusukkan kayu,

makanan, dan bahan – bahan lainnya.

Pada umumnya bahan – bahan yang berasal dari alam mudah untuk

ditumbuhi jamur atau cendawan, misalnya pada buah – buahan. Jamur atau

cendawan tersebut biasanya akan mengakibatkan rusaknya bahan – bahan

tersebut.

Jamur terdiri dari kapang dan khamir. Untuk mengetahui

morfologi dari jamur atau cendawan maka dilakukan percobaan yang

berjudul morfologi kapang dan khamir. Pengamatan morfologi biasanya

dilakukan baik secara makroskopik maupun mikroskopik secara langsung

maupun tidak langsung.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
2
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengamati morfologi

kapang dan khamir dengan metode mikroskopik langsung dan tidak

langsung.

C. Manfaat

Manfaat dari percobaan ini adalah dapat mengetahui bentuk-bentuk

morfologi kapang dan khamir yang dilakukan dengan metode mikroskopis

secara langsung dan tidak langsung.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
3
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Mikrobiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan organisme

hidup yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang (Sundararaj, 2004).

Mikrobiologi mencakup studi tentang bakteri (bakteriologi), virus

(virulogi), khamir dan jamur (miko-logi), protozoa (protozoologi), beberapa

ganggang, dan beberapa bentuk kehidupan yang tidak sesuai untuk

dimasukkan kedalam kelompok tersebut diatas. Bentuk kehidupan yang

kecil seperti itu disebut mikroorganisme. Kadang-kadang disebut mikroba

atau dalam bahasa sehari-hari, mikroba (Volk, 1993).

Mikroorganisme terdapat di berbagai tempat seperti tanah, debu,

air, udara, kulit dan selaput lendir. Mikroorganisme dapat berupa bakteri,

fungi, protozoa dan lain-lain. Mikroorganisme mudah terhembus udara dan

menyebar ke mana-mana karena ukuran selnya kecil dan ringan (Susilowati,

2000). Jamur merupakan mahluk hidup mikroskopis yang memiliki

organisasi seluler lebih tinggi dibandingkan dengan bakteri. Biasanya

dikenal dengan sebutan cendawan. Umumnya multiseluler (kapang)

beberapa yang uniseluler (khamir), heterotrof dan tidak berklorofil, dan

berukuran 1 -5 μ m (khamir) (Sundari, 2012).

Kapang merupakan mikroorganisme yang memerlukan air untuk

pertumbuhannya (Febriani, 2006). Media yang umum digunakan untuk

menganalisis kapang pada produk makanan termasuk yang diacu dalam

metode SNI 2332.7.2009 adalah Potato Dextrose Agar (PDA). Masalah

yang dihadapi dalam penggunaan PDA sebagai media untuk menghitung

jumlah kapang adalah adanya pertumbuhan yang melebar pada jenis kapang

tertentu hingga memenuhi cawan petri dan menghambat pertumbuhan

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
4
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

kapang lain. Akibatnya, selain menyulitkan penghitungan koloni, jumlah yang

terhitung juga tidak akurat karena adanya koloni yang terhambat

pertumbuhannya. Hal ini terjadi terutama bila terdapat kapang-kapang

yang sifat koloninya mudah menyebar seperti Rhizopus spp. dan Mucor spp

(Indriati, 2010).

Struktur kapang umumnya tersusun atas dinding sel yang khas

yaitu gklukan dan mannan (pada khamir) atau selulosa dan kitin (pada

kapang), serta organel-organel sel yang serupa dengan sel eukariota.

Umumnya mempunyai struktur berfilamen yang disebut hifa. Kumpulan

hifa membentuk suatu jaringan yang disebut miselium. Klasifikasi

kapang/cendawan dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu

kapang, khamir dan jamur (sebutan cendawan makroskopik). Berdasarkan

mekanisme reproduksi aseksual: ada 5 filum yaitu: 1) Zygomycotina

(Rhizopus) kelompok Kapang; 2) Chytridiomycotina (Chytrid) kelompok

kapang; 3) Ascomycotina (Sacccharomyces cerevisiae) kelompok khamir; 4)

Basidiomycotina (Agaricus bisporus) kelompok jamur; 5) Deuteromycotina

merupakan kelompok fungi yang memiliki reproduksi seksual yang belum

jelas (Penicillium) merupakan kelompok kapang. Reproduksi: alat

reproduksi kapang umumnya dalam bentuk Spora, Spora ada yang bersifat:

1) Seksual, misalnya Zygospora, Oospora, Askospora dan Basidiospora; 2)

Aseksual, misalnya konidia, Sporangiospora, Klamidospora, Blastospora

(Sundari, 2012).

Analisis jumlah kapang dilakukan dengan metode tuang (pour plate)

dengan menggunakan media tumbuh DRBC dan PDA (Oxoid) yang ditambah

dengan klorampenikol (BSN, 2009). Kedua media disterilisasi dahulu (suhu

121OC dengan tekanan 1 atm selama 15 menit) dan dilakukan penambahan

klorampenikol dengan konsentrasi akhir 0,01% (b/v) (Indriati, 2010).

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
5
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Media yang paling cocok untuk menghitung jumlah kapang atau

khamir adalah DRBC, karena dapat menekan pertumbuhan kapang yang

melebar tanpa mempengaruhi germinasi dari sporanya. Dichloran Rose

Bengal Chloramphenicol (DRBC) adalah media yang dikembangkan oleh King

et al. (1979) dan merupakan modifikasi dari Rose-bengal- chloramphenicol

(RBC) Agar dari Jarvis (1973). Perbedaannya dengan RBC, media ini

mengandung dichloran (0,002 g/L) dan rose bengal dengan konsentrasi

separuhnya yaitu 0,025 g/L, dengan pH 5,6 (Indriati, 2010).

Penghambat pertumbuhan kapang dalam pengkulturan adalah adanya

persaingan dengan bakteri meski media yang selektif untuk kapang telah

digunakan. Pada awalnya, media pertumbuhan untuk kapang yang umum

digunakan adalah PDA yang diberi asam, akan tetapi dewasa ini

dikembangkan media dengan penambahan antibiotik yang menyebabkan pH-

nya lebih tinggi sehingga memungkinkan lebih banyak jenis kapang yang

tumbuh (Indriati, 2010).

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
6
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Uraian Bahan

1. Agar (Ditjen POM, 1979: 74).

Nama resmi : Agar

Nama lain : Agar-agar

Pemerian : Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput dan

berlekatan, atau berbentuk keping, serpih atau

butiran, jingga lemah kekuningan, abu-abu

kekuningan sampai putih kekuningan atau tidak

berwarna, tidak berbau atau berbau lemah, rasa

berlendir, jika lembab liat, ika kering rapuh

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam air mendidih

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Produksi : Difco TM. Bocton, Dickinson and company Sparks,

MD 21152 USA

2. Akuades (Ditjen POM, 1979:96).

Nama resmi : Aqua destillata

Nama lain : Air suling

RM/ BM : H2O / 18,02

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Stabilitas : Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil

dalam bentuk Fisik (es , air , dan uap). Air harus

disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada saat

penyimpanan dan penggunaannya harus terlindungi dari

kontaminasi partikel - pertikel ion dan bahan organik

yang dapat menaikan konduktivitas dan jumlah karbon

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
7
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

organik. Serta harus terlindungi dari partikel – partikel

lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan merusak

fungsi air.

OTT : Dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan

eksipient lainya yang mudah terhidrolisis

3. Dekstrosa ( Ditjen POM, 1995:300)

Nama resmi : Dextrosum

Nama Lain : Dekstrosa ; Glukosa

RM / BM : C6H12O6.H20 / 180,16

Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk halus atau

butiran putih, tidak berbau, rasa manis.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam

air mendidih, larut dalam etanol mendidih sukar larut

dalam etanol.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Produksi : Difco TM. Bocton, Dickinson and company

Sparks, MD 21152 USA

4. Gliserol (Ditjen POM, 1979:271)

Nama resmi : Glycerolum

Nama lain : Gliserol, gliserin

RM/BM : C3H8O3/92,10

Pemerian : Cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna; tidak

berbau; manis diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika

disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat

memadat membentuk massa hablur tidak berwarna

yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang

200C

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
8
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Kelarutan : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%)

P; praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P

dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Zat tambahan

5. Metilen blue (Ditjen POM, 1995 : 554)

Nama Resmi : Methylthionin chloridum

Nama Bahan : Metiltionin Klorida

RM : C16H18CIN3S.3H2O

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur hijau tua, berkilau

seperti perunggu, tidak berbau atau praktis tidak

berbau. Stabil diudatra, larutan dalam air dan

dalam etanol berwarna biri tua.

Kelarutan : Larut dalam air dan dalam kloroform

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

6. Kentang ( Solanum tuberosum )

Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2007)

Regnum : Plantae

Divisio : Spermatophyt

Sub Divisio : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Sub Class : Sympetalae

Ordo : Solanales

Familia : Solanaceae

Genus : Solanum

Species : Solanum tuberosum

Kegunaan : Untuk ekstraknya, sebagai sumber nutrient mikroba.

Morfologi (Tjitrosoepomo, 2007)

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
9
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Bagian batang yang terletak dibawah permukaan tanah tumbuh daun-daun

kecil seperti sisik pada ketiak daun terdapat tunas ketiak yang dapat

tumbuh menjulur secara diageotropik. Buku-buku (internode) yang

memanjang dan melengkung pada bagian ujungnya disebut stolon. Umbi

Kentang merupakan bagian dari batang yang berfungsi sebagai tempat

menyimpan cadangan makanan serta untuk berproduksi. Tanaman Kentang

yang berasal dari umbi tidak terdapat akar utama tetapi hanya akar halus

atau akar serabut saja yang panjangnya dapat mencapai 60 cm. Dalam

tanah akar banyak terdapat kedalaman 20 cm.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
10
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:

- Batang ose

- Bunsen

- Cawan petri

- Deck glass

- Electromantel

- Inkubator

- Kaca objek

- Mikroskop

- Pipet tetes

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:

- Alkohol 70%

- Aluminium voil

- Asam tartrat

- Gliserol 10%

- Kertas bekas

- Kertas saring

- Metilen blue

- PDA sintesis

- Roti yang telah berjamur

- Sarung tangan

- Tissue

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
11
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Cara Kerja

1. Pengamatan mikroskopis secara langsung

Cara kerja dari pengamatan mikroskopis ini adalah :

 Disiapkan alat dan bahan.

 Dilakukan penanaman jamur 3-4 minggu

 Disiapkan alat dan bahan.

 Diambil kaca objek dan diletakkan diatasnya 1 ose sampel biakan

jamur roti.

 Ditetesi 1 tetes metilen blue lalu tutup rapat dengan deck glass.

 Diamati dibawah mikroskop.

2. Pengamatan mikroskopis secara tidak langsung

 Disiapkan alat dan bahan

 Diletakkan kertas saring, aluminium voil yang telah dibentuk

menjadi huruf V, kaca objek, dan deck glass.

 Letakkan diatas kaca objek 1 ose biakan jamur roti dan

ditambahkan 1 tetes medium PDA, ditutup dengan menggunakan

deck glass.

 Kertas saring yang berada dibawah sebagai alas aluminium voil

bentuk V ditetesi gliserol 10% kemudian cawan ditutup

 Diinkubasi selama 3-5 x 24 jam pada suhu kamar.

 Diamati dibawah mikroskop.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
12
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1) Pengamatan makroskopis

No. Nama sampel Gambar Keterangan

Roti boy 1. Jamur

2. Roti
1
1.
2

Roti boundelice 1. Jamur


2
2. Roti
2. 1

Roti caprisca 1. Jamur


1
3. 2. Roti
2

Roti celebes 1. Jamur


2
4. 2. Roti
1

Roti fresh house 1. Jamur


1
5. 2. Roti
2

Roti dhiba 1. Jamur


1
6. 2. Roti
2

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
13
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Roti holland 1. Jamur


7. 2
2. Roti
1

2) Pengamatan mikroskopis secara langsung

No. Nama sampel Gambar Keterangan

Roti boy 1. Hifa

2. Spora

1. 1

Roti boundelice 1. Hifa


1
2. Spora
2. 2

Perbesaran: 10x4,0

Roti caprisca 1. Hifa

2. Spora
3.
2

1
Roti celebes 1. Hifa
1
2. Spora
4. 2

Roti fresh 1. Hifa

house 1 2. Spora
5.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
14
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Roti dhiba 1. Hifa


1 2. Spora

6.

2
Perbesaran: 10x0,25

Roti holland 1. Hifa


2 2. Spora
7. 1

Perbesaran: 10x4,0

3) Pengamatan mikroskopis secara tidak langsung

No Nama sampel Gambar Keterangan

1. Roti boy 1. Hifa


2
2. Spora

2. Roti boundelice 1. Hifa


1
2. Spora

2
3. Roti caprisca 1. Hifa
1
2. Spora

4. Roti celebes 1. Hifa


1
2. spora

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
15
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

5. Roti fresh 1 1. Hifa

house 2. Spora
2

6. Roti dhiba 1. Hifa


1
2. Spora

7. Roti holland 1. Hifa


2
2. Spora

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
16
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Pembahasan

Fungi (jamur) merupakan organisme eukariot yang memiliki dinding

sel yang tersusun dari kitin dan memiliki nukleat yang banyak. Fungi

bersifat kemoorganotrof, karena mendapatkan nutrisi dengan cara

mensekresikan enzim ekstraselular yang dapat mencerna senyawa organik

kompleks seperti polisakarida dan protein menjadi penyusun monomer, dan

kemudian diserap ke dalam sel fungi. Fungi berkembangbiak secara

vegetatif dan generatif dengan berbagai macam spora. Perkembangbiakan

seksual dengan cara hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk

menjadi tubuh buah, sedangkan perkembangbiakan aseksual dengan cara

membentuk spora bertunas atau frakmentasi hifa. Secara umum fungi

dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas tipe selnya

yaitu,fungi bersifat uniselluler yang biasa disebut khamir dan fungi

bersifat multiselluler yang biasa disebut kapang.

Kapang adalah fungi yang berbentuk benang multiseluler tidak

berklorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringannya.

Pertumbuhan kapang pada makanan mudah dilihat karena penampakannya

yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna

putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna

tergantung dari jenis kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus yang

tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut hifa. Khamir adalah

fungi yang bersel satu atau uniseluler ada beberapa diantaranya bersifat

miselium dengan percabangan. Reproduksi vegetatif pada khamir terutama

dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal khamir tumbuh dan

berkembang biak lebih cepat dibanding dengan mould yang tumbuh dengan

pembentukan filamen. Khamir sangat mudah dibedakan dengan

mikroorganisme yang lain misalnya dengan bakteri, khamir mempunyai

ukuran sel yang lebih besar dan morfologi yang berbeda.


MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt
F1F1 13 031
17
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Pada percobaan ini dilakukan pengamatan makroskopik dan

mikroskopik untuk mengetahui morfologi dari kapang dan khamir. Sampel

yang digunakan adalah roti dhiba. Media yang digunakan untuk

pertumbuhannya adalah media PDA (Potato Dextrosa Agar). Digunakan

media PDA (Potato Dextrosa Agar) pada percobaan ini karena PDA (Potato

Dextrosa Agar) merupakan media yang sesuai dengan pertumbuhan jamur.

Media PDA terdiri dari kentang yang berfungsi sebagai sumber energi,

nitrogen organik, karbon dan vitamin, dekstrosa sebagai sumber karbon,

agar sebagai bahan pemadat medium dan aquadest sebagai pelarut untuk

menghomogenkan medium dan sumber O2.

Pengamatan mikroskopik secara langsung menggunakan metode

gores. Pada metode ini, jamur yang terdapat pada sampel diambil

menggunakan ose lurus dan jamurnya diletakkan di kaca preparat. Sebelum

digunakan, ose lurus terlebih dahulu dipanaskan di bunsen. Hal ini

bertujuan untuk mensterilkan ose yang akan digunakan agar tidak

terkontaminasi dengan zat-zat lain. Kemudian ditambahkan dengan metilen

blue. Penambahan metilen blue bertujuan untuk methylen blue memberi

warna pada kapang dan khamir sehingga dapat diamati morfologinya secara

mikroskopis dan juga metilen blue digunakan agar dapat dilihat perbedaan

pada sel yang mati (biru) dan sel yang hidup (transparan).

Pengamatan makroskopik secara tidak langsung dilakukan dengan

cara meletakkan kertas saring, batang V, kaca objek dan dek gelas di

dalam cawan petri. Kertas saring yang akan digunakan ditambahkan dengan

gliserol. Maksud dari penambahan gliserol pada kertas saring yaitu untuk

memberikan kelembapan pada cawan petri dimana fungi ditumbuhkan.

Penggunaan kertas saring agar gliserol yang diberikan dapat tersimpan

pada kertas saring, karena kertas saring dapat menyerap gliserol sehingga

kelembapan tetap terjaga. Kemudian diletakkan batang V diatas kertas

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
18
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

saring tersebut. Penggunan batang V bertujuan agar dek dan objek gelas

tidak berhubungan langsung dengan kertas saring yang telah ditetesi

gliserol sehingga fungi dapat tumbuh lebih baik. Jamur pada roti diambil

lagi menggunakan ose dan disimpan di atas objek gelas. Kemudian

ditambahkan dengan PDA yang telah diberi asam tartarat. Penambahan

asam tartarat ini bertujuan untuk untuk memberikan suasana asam, karena

fungi mudah tumbuh pada suasana asam. Kemudian diinkubasi selama 3x24

jam karena jamur pertumbuhannya sangat lambat.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
19
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Morfologi kapang khamir dapat diamati secara makroskopis

(menggunakan mata telanjang) dengan ditandai dengan jamur

membentuk koloni berserabut seperti kapas dengan warna putih

sampai berwarna agak gelap.

2. Pengamatan morfologi kapang khamir secara mikroskopik dapat

dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pada pengamatan

secara mikroskopis akan terlihat fragmen penyusun tubuh dari kapang

khamir tersebut.

B. Saran

Saran dari percobaan ini adalah agar saat praktikum dilakukan dengan

sebaik mungkin dengan mengikuti prosedur yang telah ditentukan agar

hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
20
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

DAFTAR PUSTAKA

Febriani Mifida., 2006, Subtitusi Protein Hewani dengan Tepung Kedelai dan
Khamir Laut untuk Pakan Patin (Pangasius sp.) dan Kerapu Tikus
(Cromileptes altivelis), Jurnal Perikanan, Vol. VIII (2).

Indriati N, Nanang P dan Radestya T., 2010, Penggunaan Dichloran Rose


Bengal Chloramphenicol Agar (DRBC) Sebagai Media Tumbuh Kapang
Pada Produk Perikanan, Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan
dan Perikanan ,Vol. 5 (2).

Sundari., 2012, Suatu Model Pengembangan Media Pembelajaran Slide Culture


Untuk Pengamatan Struktur Mikroskopis Kapang Pada Matakuliah
Mycologi, Jurnal Bioedukasi, Vol.1 (1).

Sundararaj T., 2004, Microbiology, College Road : Chennai

Susilowati. A dan Shanti. L ., 2001, Keanekaragaman Jenis Mikroorganisme


Sumber Kontaminasi Kultur In vitro di Sub-Lab. Biologi Laboratorium
MIPA Pusat UNS, Jurnal Biodiversitas, Vol.2 (1).

Volk., 1993, Wesley.Mikrobiologi Dasar.Jakarta:Erlangga.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
21
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

LAMPIRAN

SKEMA KERJA

1. Pengamatan Mikroskopis

Disiapkan alat dan bahan.

Dilakukan penanaman jamur 3-4


minggu

2. Pengamatan Mikroskopis Secara Tidak Langsung

Disiapkan alat dan bahan.

Diambil kaca objek dan diletakkan diatasnya 1 ose sampel


biakan jamur roti.

Ditetesi 1 tetes metilen blue lalu tutup rapat dengan


deck glass.

Diamati dibawah mikroskop.

3. Pengamatan Mikroskopik Secara Tidak Langsung

Disiapkan alat dan bahan

Diletakkan kertas saring, aluminium voil yang telah


dibentuk menjadi huruf V, kaca objek, dan deck glass.

Letakkan diatas kaca objek 1 ose biakan jamur roti dan


ditambahkan 1 tetes medium PDA yang telah diberi asam
tartrat secukupnya, ditutup dengan menggunakan deck glass.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031
22
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Kertas saring yang berada dibawah sebagai alas aluminium


voil bentuk V ditetesi gliserol 10% kemudian cawan ditutup
.

Diinkubasi selama 3-5 x 24 jam pada suhu kamar.

Diamati dibawah mikroskop.

MELISA ARDIANTI SRY AGSHARI AMIR, S.Farm, M.Si, Apt


F1F1 13 031