Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

SODOMI PADA ANAK

Verifikator:
dr. Julia Ike Haryanto MH, Sp.KF

Pembimbing:
dr. Liya Suwarni

Disusun oleh :

Thesia Nathalia 201806010065


Lisha Siswanto 201806010056
Ignasia Irina 201806010071
Kevin Gracia Pratama 201806010055
Yufilia Suci Amelia 201806010027
Yenny Rusli 201806010033
Astrid Dwijayanti 201806010093
Esmeralda P. Sugiarto 201806010114
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Salah satu bentuk perbuatan cabul yaitu sodomi. Definisi sodomi menurut KBBI yang
pertama adalah pencabulan dengan sesama jenis kelamin atau dengan binatang, definisi yang
kedua adalah sanggama antar manusia secara oral atau anal.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat bahwa kasus pelanggaran hak anak pada
tahun 2018 meningkat dibandingkan pada tahun 2017, yaitu mencapai 4885 kasus dibandingkan
dengan 4579 kasus pada tahun 2017. Kasus terbanyak yaitu kasus anak berhadapan dengan
hukum (ABH). Untuk kasus ABH tersebut didominasi oleh kasus kekerasan seksual.​1
Pada tahun 2017, kasus kekerasan pada anak masih didominasi oleh kasus kekerasan
seksual. Jumlah kasus sodomi anak memiliki jumlah kasus yang tertinggi dibandingkan kasus
kekerasan seksual pada anak lainnya. Dari 2737 kasus kekerasan pada anak, 52% merupakan
kasus kekerasan seksual, dan dari kasus kekerasan seksual tersebut didapatkan presentase kasus
sodomi anak sebesar 54%.​2
Oleh karena tingginya kasus sodomi pada anak, sehingga diperlukan pembahasan
mengenai sodomi agar dapat melakukan pemeriksaan yang baik terhadap kasus sodomi,
mengetahui dampak sodomi terhadap psikologis dan medis korban, serta hukum yang mengatur
kasus sodomi.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui prevalensi, dampak, serta dasar hukum yang mengatur kasus sodomi di
Indonesia dan negara lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sodomi pada anak
2.1.1. Definisi
Definisi sodomi menurut KBBI yang pertama adalah pencabulan dengan sesama
jenis kelamin atau dengan binatang, definisi yang kedua adalah sanggama antar manusia
secara oral atau anal.​15
2.1.2. Epidemiologi
Sodomi merupakan masalah kekerasan seksual yang dialami di seluruh dunia
yang terjadi tidak hanya pada dewasa namun juga pada anak-anak. Berdasarkan data
WHO, terdapat sebanyak 73 juta laki-laki dan 150 juta wanita merupakan korban
kekerasan seksual. Dari proporsi tersebut 7.9% laki-laki dan 19.7% wanita telah
mengalami pelecehan seksual tersebut sebelum usia 18 tahun. Prevalensi tertinggi
pelecehan seksual anak terjadi di Afrika sebanyak 34.4%. Berdasarkan data yang sama,
ditemukan prevalensi di Asia sebanyak 23.9%.(3)
Prevalensi pelecehan seksual di Indonesia berdasarkan studi penelitian yang
dipublikasikan oleh Unicef, pada tahun 2018, ditemukan sebanyak 6% sampai dengan
12% kasus pelecehan seksual pada laki-laki dan 6% sampai dengan 14% untuk
perempuan. Pada review tersebut juga membahas studi yang dilakukan oleh
KEMENKES (2015), bahwa prevalensi kekerasan seksual pada anak lebih besar pada
anak laki-laki (5%) dibanding perempuan (3%). United Nations melakukan penelitian
multi-country di Indonesia dan mendapatkan prevalensi pelecehan seksual pada anak
laki-laki dibawah 18 tahun sebanyak 12% di Jayapura, 7% di Jakarta, dan 6% di
Purworejo. (4) Demografi usia korban dimulai dari 0-5 tahun (15%), 6-10 tahun (48%),
11-15 tahun (26%), dan 16 tahun keatas (11%). Tipe kekerasan seksual yang sering
ditemukan adalah sodomi (64%), diikuti dengan ​fondling (18%), oral-genital (10%),

pornografi (8%). 14
Faktor risiko yang sering ditemukan pada korban sodomi adalah usia. Sodomi
lebih sering terjadi pada anak-anak. Satu per tiga korban sodomi berusia rata-rata kurang
dari 15 tahun. Setelah itu, adanya konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan. Hal
ini akan menyebabkan peningkatan kerentanan dari korban karena korban menjadi lebih
sulit untuk melakukan pertahanan diri dan menginterpretasi adanya tanda-tanda bahaya.
Selain itu, riwayat kekerasan atau pelecehan seksual sebelumnya ditemukan memiliki
asosiasi dengan kemungkinan risiko mengalaminya kembali melalui efek psikologis yang
biasa didapatkan oleh korban tersebut. Korban sodomi juga biasanya merupakan
penduduk dengan latar belakang ekonomi yang buruk. Hal tersebut terjadi karena
biasanya jika korban tersebut merupakan anak-anak, pada penduduk yang kurang
mampu, mereka biasa sudah mulai bekerja dari usia dini dan jarang berada dalam
pengawasan ketat orang tua.​5
Faktor risiko yang sering ditemukan pada pelaku sodomi dibagi menjadi 3 yaitu
faktor individu, hubungan, sosial dan komunitas. Faktor individu adalah seperti
penggunaan alkohol, preferensi dan fantasi seksual yang tidak lazim, kepribadian
antisosial dan impulsif, dan riwayat kekerasan atau pelecehan seksual sebelumnya. Faktor
hubungan seperti adanya sifat hubungan keluarga atau pasangan dengan pelaku yang
tidak suportif seperti hubungan yang mengandung kekerasan atau pelecehan seksual.
Faktor sosial dan komunitas yang dapat memberi peran adalah seperti kurangnya aturan
atau hukum yang mengatur mengenai pelecehan seksual, kurangnya edukasi dan
kewaspadaan mengenai pelecehan seksual pada masyarakat sekitar, dan tempat tinggal di
daerah kurang mampu. Studi lain menemukan bahwa 8​ 1% offender k​ ekerasan seksual

pada anak merupakan di luar lingkup keluarga. 5,14

2.1.3. Pemeriksaan Pada Korban Sodomi


Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada korban sodomi antara lain adalah
pemeriksaan melalui anamnesis serta pemeriksaan fisik. Pada anamnesis, dapat dilakukan
anamnesis secara umum serta anamnesis spesifik. Pada pemeriksaan fisik, yang
dilakukan adalah pemeriksaan secara spesifik pada daerah sekitar genitalia dan anus.​6,7
2.1.3.1 Anamnesis
1. Anamnesis Umum (General)

- Riwayat penyakit sebelumnya


-​ Riwayat tindakan operasi


-​ Pengobatan yang sedang digunakan atau penggunaan alkohol


- Kebiasaan buang air besar dan apakah ada operasi atau instrumentasi pada usus

besar (bowel).
2. . Anamnesis Spesifik
- Tanggal, tempat, dan waktu kejadian.
- Apakah terdapat tindak kekerasan yang terjadi.
- Apakah terdapat penggunaan lubrikan atau pelumas saat kejadian.
- Apakah ada riwayat nyeri, atau perdarahan dari anus.
- Apakah korban sudah defekasi sejak waktu kejadian terjadi.
- Apakah korban telah mengganti pakaian sejak kejadian.
- Apakah korban telah mencuci daerah anus.
- Pakaian korban perlu ditelaah dan diperiksa dengan lebih detail. Apabila pakaian
korban belum berganti, maka pakaian dilepas satu per satu dan diletakkan pada
kertas putih untuk mengumpulkan supaya tidak ada bukti yang hilang. Pakaian
pada bagian selangkangan perlu diperiksa lebih hati-hati karena kemungkinan
terdapat cairan semen, darah, atau lubrikan.

2.1.3.2 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik yang spesifik, dilakukan pada area genital, anus, serta
daerah di sekitarnya.​6,7
- Pemeriksaan pada rambut pubis. Rambut pubis diperiksa, dan apabila
terdapat area yang lebih kusut rambut pubis dipotong sedekat mungkin
dari kulit, dan dikirim untuk diperiksa di laboratorium. Di cari juga apakah
terdapat rambut yang asing atau jejak lainnya harus dicari.
- Pemeriksaan pada area penis. Area penis juga diperiksa karena pada
beberapa kasus adanya kontak oropenile dapat terjadi sebelum hubungan
seks anal. Dilakukan pemeriksaan swab pada batang penis dan glans penis
untuk mencari apakah terdapat jejak saliva atau jejak bukti lain.
- Pemeriksaan area perineum: untuk pemeriksaan perineum, pasien
diposisikan pada posisi knee-elbow, dan sebelum pemeriksaan digital
dilakukan perlu diambil swab dari perineum, pinggir perineum, serta anus.
- Pemeriksaan area anus : pada area anus perlu diamati pada bagian ​anal
verge (area tepi anus). Normalnya orifisium anus berbentuk seperti celah
(​slit-like​), berjalan secara anteroposterior, kulit sekitarnya terdapat lipatan
yang terbentuk secara natural karena adanya muskulus ​corrugator cutis
ani​. Apabila telah terjadi hubungan seks anal, maka dapat terjadi beberapa
perubahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor:
❏ Frekuensi hubungan seks anal
❏ Interval antara waktu terakhir berhubungan dengan waktu
pemeriksaan
❏ Usia, ukuran orifisium dari masing-masing individu
❏ Tingkat kekuatan yang digunakan saat kejadian
❏ Ukuran dari penis
❏ Penggunaan lubrikan
Hubungan pertama yang dilakukan cenderung menyebabkan
timbulnya perubahan pada tepi anus, yang dapat menyebabkan beberapa
hal seperti sobeknya kulit anus serta sfingter ani, timbulnya fisura ani,
timbulnya lecet atau memar. Luka lecet dapat disebabkan oleh penetrasi
penis atau dapat juga disebabkan oleh kuku saat penggarukan oleh karena
kebersihan yang kurang. Pada beberapa kasus disproporsi ukuran penis
dengan orifisium juga dapat menyebabkan timbulnya luka lecet.
Penggunaan lubrikan dapat meminimalisir terjadinya luka lecet dan
robekan. Robek pada sfingter juga sering terjadi pada anak-anak, namun
jarang pada dewasa.

2.1.3.3 Pemeriksaan Laboratorium


Sodomi merupakan perlakuan yang memerlukan pemeriksaan yang
hati-hati bagi mereka yang aktif maupun yang pasif, namun terdapat
beberapa hal utama yang perlu dilihat pada pemeriksaan laboratorium
adalah:
a. Partner pasif (yang menerima) = adanya keberadaan semen yang
disertai feses, dan adanya bekas lubrikan (seperti jelly petroleum),
di bagian dalam celana dalam maupun celana yang dekat dengan
area selangkangan maupun pada sebelah dalam baju bagian
belakang basah. Adanya semen pada ​anal swab,​ serta adanya
rambut pubis asing.
b. Partner aktif (yang melakukan penetrasi) = adanya jejak semen,
sisa feses dan sisa lubrikan pada penis, pada dan dekat bagian
dalam celana area selangkangan dan bagian depan bawah baju
yang digunakan.
Beberapa pemeriksaan antara lain:
1. Pemeriksaan Cairan Mani (Semen)
Pemeriksaan yang penting untuk dilakukan dalam membuktikan
adanya persetubuhan.
a. Pemeriksaan Sperma
- Langsung (Tanpa pewarnaan)
Mengetahui apakah terdapat spermatozoa yang bergerak.
Cara pemeriksaan langsung adalah dengan mengamati
pergerakan sperma dengan mikroskop.
- Pewarnaan/pengecatan
Untuk mengetahui apakah terdapat sperma atau tidak.
Sediaan apus dibuat dan difiksasi dengan melewatkan gelas
sediaan apus pada nyala api, dan di pulas dengan HE,
Methylene blue, atau malachite green. Cara yang paling
mudah adalah dengan pulasan malachite green.
Keuntungan dari pulasan ini adalah inti sel epitel dan
leukosit tidak terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah
muda merata dan leukosit tidak terwarnai, serta kepala
sperma tampak berwarna merah, leher merah muda, serta
ekor berwarna hijau.
b. Pemeriksaan Mani / Penentuan Cairan Mani
- Pemeriksaan Fisik
Keberadaan bercak cairan mani pada baju menggunakan
mata telanjang dapat dilakukan, tergantung apa motif fabrik
tersebut. Bercak pada fabrik berwarna putih akan terlihat
lebih kuning dengan batas yang tampak lebih gelap dari
bagian tengah, sedangkan pada fabrik bermotif tidak
terlibat apa-apa. Pada permukaan nonabsorben seperti area
kulit manusia dan kulit sintetis, dapat terlihat seperti sisik
kasar (​starchy​). Area yang dapat menyerap denan baik
seperti kapas, sutera atau kain wol, maka bercak menjadi
tak berwarna atau berwarna keabuan. Ketika diperiksa
dibawah sinar ultra violet, akan terlihat adanya floresensi
berwarna putih kebiruan yang terang atau kuat.
- Pemeriksaan Kimiawi
- Reaksi fosfatase asam:
Sekarang tes ini lebih sering digunakan sebagai tes
skrining apakah cairan yang ditemukan merupakan
semen atau bukan, karena adanya P-30 (​prostate
specific antigen)​ pada prostat dan MHS-5 (​seminal
vesicle specific antigen​) pada vesika seminalis.
Kedua antigen tersebut spesifik untuk semen
manusia dan diproduksi oleh sel epitel prostat dan
vesika seminalis. Antibodi terhadap antigen tersebut
dapat dideteksi menggunakan pemeriksaan seperti
ELISA. Antigen ini juga dilaporkan telah
ditemukan pada semen orang yang aspermic. Pada
prinsipnya enzim fosfatase asam menghidrolisis
Na-alfa naftil fosfat. Alfa- naftol yang telah
dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine dan
akan menghasilkan zat warna azo yang berwarna
biru-ungu.
- Reaksi Florence
Merupakan salah satu dari ​rapid ​test yang dapat
dilakukan, dan akan memperlihatkan kristal rombus
berwarna coklat gelap yang berasal dari iodida
kolin, dan terlihat seperti haemin namun berukuran
lebih besar, tersusun dalam kluster atau berbentuk
rossete atau crosses. Tes ini digunakan untuk
mengetahui adanya keberadaan substansi dari
hewan atau tumbuhan. Hasil negatif tidak lengsung
menyingkirkan kemungkinan adalah air mani.
- Reaksi Berberio
Biasanya dilakukan bersama dengan tes Florence,
dan akan terlihat kristal spermin pikrat yang
berwarna kuning dan berbentuk seperti jarum.
Tujuan tes ini sama seperti tes Florence, dan
adanya hasil negatif tidak menyingkirkan
kemungkinan substansi yang dites adalah air mani.
2.1.3.4 Tanda ​habitual anal intercourse​6
Beberapa tanda yang biasanya dapat ditemukan pada agen
pasif (penerima) yang telah menjadi terbiasa melakukan sodomi
adalah sebagai berikut:
- Mencukur rambut di area anus, namun tidak dengan rambut
pubis
- Dilatasi anus yang terlihat jelas, lipatan normal pada tepi
anus cenderung menghilang sehingga tepi anus terlihat
lebih mulus
- Penebalan kulit pada tepi anus, yang dapat memanjang
kedalam kanalis anal sampai ​mucocutaneous junction
- Bekas luka masih dapat terlihat
- Pada kasus yang ekstrim, anus bisa terlihat pada stase
“deep-seated”​ yang mana anus terlihat seperti corong. Cara
yang berguna untuk melihat habituasi seseorang terhadap
hubungan lewat anal adalah ​lateral buttock traction test,​
dimana ibu jari digunakan untuk meregangkan pantat
pasien sehingga lubang anus kelihatan. Pada orang yang
tidak terbiasa dengan penetrasi anal maka akan terjadi
reflex kontraksi sfingter, sebaliknya bagi yang terbiasa
dengan penetrasi anal, terjadi reflex dilatasi sfingter.
- Adanya keberadaan cairan dari infeksi gonore, chancre atau
condylomata​ perlu dipastikan.

2.1.4. Dampak
2.1.4.1. Psikologis​9,10
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara
pelecehan seksual pada masa kanak-kanak dengan kesehatan mental yang
merugikan di kemudian hari pada para korban. Sebagian besar korban mengalami
tekanan psikologis, trauma, gangguan mental seperti gangguan stres pasca trauma
(PTSD), depresi, cemas, gangguan kepribadian, ide bunuh diri, gangguan obsesif
kompulsif (OCD), dan gangguan mood.
Beberapa dampak psikologis pelecehan seksual pada masa kanak-kanak
tidak menimbulkan gangguan mental yang dapat didiagnosis, tetapi dapat
menimbulkan efek yang merugikan bagi kualitas hidup korban. Sesaat setelah
tindakan pelecehan seksual, korban dapat mengalami berbagai emosi, seperti
ketakutan, sedih, marah, rasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, dan
kebingungan. Keakraban dengan pelaku dan penggunaan kekerasan dikaitkan
dengan emosi negatif dari penghinaan, ketakutan, serta berkurangnya kemampuan
untuk mengungkapkan pelecehan seksual yang telah dialami. Emosi negatif
tersebut dapat bertahan hingga dewasa dan korban menggambarkan perasaan
tersebut seperti tidak berharga, tidak berdaya, harga diri rendah, dan membenci
diri sendiri. Gangguan mental yang paling umum dialami korban adalah depresi,
diikuti dengan gangguan cemas, khususnya PTSD.

Depresi ditandai dengan suasana hati yang rendah secara terus menerus
yang mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Depresi ditemukan terjadi pada lebih
dari setengah (57%) korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Beberapa
penelitian menunjukkan hubungan sebab-akibat antara pelecehan seksual pada
masa kanak-kanak dan depresi, banyak penelitian yang menunjukkan adanya
faktor protektif dan faktor risiko yang membantu menjelaskan hubungan tersebut.
Cemas merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai gangguan, tetapi
umumnya ditandai dengan rasa gugup, tegang, dan gelisah berkaitan dengan apa
yang akan terjadi atau yang mungkin terjadi di masa mendatang. Seseorang dapat
menderita beberapa gangguan cemas. Menurut penelitian, 37% korban pelecehan
seksual pada masa kanak-kanak mengalami gangguan cemas menyeluruh, 58%
mengalami gangguan cemas akan perpisahan, dan 73% mengalami gangguan
stress pasca trauma.
2.1.4.2. Medis
Pelecehan seksual menyebabkan efek fisik secara langsung yang
menggambarkan masalah kesehatan jangka panjang dan berkelanjutan. Dampak
fisik yang umum dilaporkan adalah masalah tidur, dan sejumlah gangguan
kesehatan yang meluas seperti gangguan pendengaran, otot, dan tulang. Efek fisik
dapat menyebabkan berkurangnya kualitas hidup dan mempengaruhi pekerjaan,
keluarga, dan hobi. Sejumlah penelitian menunjukkan kesehatan fisik yang buruk
pada korban pelecehan seksual pada anak-anak.​9
Dampak fisik yang dapat dihasilkan secara terutama adalah trauma akut
pada jaringan anal maupun genital. Pada jaringan anal dapat ditemukan adanya
laserasi atau memar pada area perineum dan sekitarnya. Setelah beberapa waktu
dapat ditemukan sisa-sisa luka berupa jaringan penyembuhan atau disebut juga
perianal scar. ​Dampak medis lain yang cukup berbahaya adalah infeksi menular
seksual baik pada bagian genital atau anal. Pada bagian tersebut dapat ditemukan
adanya infeksi ​Molluscum contagiosum,​ infeksi ​Human Papilloma Virus (​ HPV)
dalam bentuk kondiloma akuminata, infeksi ​Herpes Simplex Virus (HSV) -1 atau
2 pada bagian oral, genital atau anal atau infeksi lain seperti ​Neisseria gonorrhea,
Chlamydia trachomatis ​ dan ​Human Immunodeficiency Virus​ (HIV).​10

2.1.5 Dasar Hukum yang Berlaku


2.1.5.1 Dasar Hukum di Indonesia
Sebagai bentuk perlindungan anak-anak di Indonesia, pembuat
Undang-Undang, melalui perundang-undangan, seperti KUHP, UU No. 23 Tahun
2002 sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang
Sistem Peradilan Pidana Anak yang secara mutlak memberikan berbagai bentuk
perlindungan hukum yang berkaitan dengan masalah perlindungan anak terhadap
tindak kekerasan seksual.
Pengertian anak berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2014
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Dalam KUHP terdapat beberapa pasal yang memberikan perlindungan
bagi anak terhadap kekerasan seksual, perlindungan terhadap anak ditunjukkan
dengan pemberian hukuman (sanksi) pidana bagi pelaku. Hal ini tercantum dalam
KUHP pada pasal-pasal dalam sebagai berikut:
1. Masalah persetubuhan diatur dalam : Pasal 287, Pasal 288, Pasal 291
2. Perbuatan cabul diatur dalam Pasal 289, Pasal 292, Pasal 293, Pasal 294,
Pasal 295, Pasal 298.
KUHP bagi anak terhadap kekerasan seksual merupakan
pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku, bukanlah pertanggungjawaban
terhadap kerugian/penderitaan korban secara langsung dan konkret, tetapi lebih
tertuju pada pertanggungjawaban yang bersifat individual.
Pasal 15 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa, setiap anak berhak
untuk memperoleh perlindungan dari:
a. Penyalahgunaan dalam kegiatan politik
b. Perlibatan dalam sengketa bersenjata
c. Perlibatan dalam kerusuhan sosial
d. Perlibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan
e. Perlibatan dalam peperangan
f. Kejahatan seksual.
Kejahatan seksual merupakan salah satu kejahatan yang benar-benar
mendapatkan perhatian khusus dalam masalah perlindungan anak. Hal ini terlihat
jelas pada Pasal 15 undang-undang ini yang memberikan ketegasan agar setiap
anak berhak memperoleh perlindungan dari kejahatan seksual, penyebabnya
adalah semakin banyaknya kejahatan tindak kekerasan seksual yang menimpa
anak-anak di Indonesia, dikarenakan anak-anak mudah untuk diancam dan dilukai
oleh pelaku kejahatan seksual untuk melakukan kekerasan seksual. UU No.35
Tahun 2004 menitikberatkan serta memberikan kewajiban dan tanggung jawab
kepada Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan
Orang Tua atau Wali dalam penyelenggaraan perlindungan anak.
Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak berisi tentang larangan-larangan melakukan perbuatan yang melanggar
hak-hak anak yang diatur dalam BAB XIA yang terdiri dari Pasal 76A-76D yang
berisi perbuatan-perbuatan yang dilarang dilakukan terhadap anak. Khusus untuk
larangan melakukan tindak kekerasan seksual diatur dalam Pasal 76D dan 76E:
Pasal 76D Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman
Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan
orang lain.
Pasal 76E Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman
Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian
kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka KUHP dalam memberikan
sanksi (hukuman) tidak dapat memberikan efek jera sehingga menimbulkan lebih
banyak lagi anak-anak menjadi korban tindak kekerasan seksual. Oleh karenanya
pembuat undang-undang membuat suatu aturan khusus yang berfungsi untuk
melindungi anak-anak terhadap kekerasan-kekerasan yang dialaminya baik
merupakan kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual yang diatur
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
pada Pasal 81 dan 82 diubah, sehingga bunyi dari pasal-pasal tersebut adalah:
Pasal 81 berbunyi :
1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap
Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan,
atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
Orang Tua, Wali pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka
pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).
Pasal 82 berbunyi :
1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka
pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1)(11)(12)

2.1.5.2 Dasar Hukum di Eropa


Pelecehan seksual pada anak di Eropa diatur oleh hukum yang tercantum
pada ​Directive 2​ 011/92/EU, yang berbunyi demikian “​Combating the sexual
abuse and sexual exploitation of children and child pornography​”, yang artinya
tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual dengan anak. Kata
“anak” pada konteks tersebut mengacu pada anak berusia <18 tahun. Pentingnya
ketentuan batasan usia tersebut adalah bahwa anak berusia <18 tahun yang terlibat
dalam aktivitas seksual tidak diperhitungkan dalam pengertian hukum. Melalui
batasan usia pada undang-undang tersebut, para legislatif berupaya melindungi
kaum muda, baik perempuan maupun laki-laki, dari pelecehan seksual dan
eksploitasi seksual oleh orang dewasa.
Semua yurisdiksi di benua Eropa memiliki ketentuan peraturan
masing-masing. Hal tersebut diwujudkan dalam Kode Pidana Nasional atau
Undang-undang Pelanggaran Seksual Khusus. Setiap undang-undang di benua
Eropa bervariasi secara signifikan, namun sebagian besar yurisdiksi memberikan
satu karakteristik umum, yaitu: batasan usia untuk anak, laki-laki maupun
perempuan, baik dalam hubungan homoheteroseksual, akan mendapat
perlindungan pada tingkat yang sama.(13)

2.1.5.3 Dasar Hukum di Republik Rakyat Cina (RRC)


Sistem hukum di Cina dan perkembangannya telah dipengaruhi oleh
undang-undang dan teori hukum yang berasal dari negara Barat. Undang-undang
mengenai pelecehan seksual di Cina diatur dalam ​Criminal Code ​di RRC Pasal
236 yang disahkan pada tahun 1997. Hukum mengenai usia kejahatan seksual di
Cina terdiri atas tiga unsur, yaitu:
1. Siapa pun, dengan kekerasan, pemaksaan atau cara lain, memperkosa
seorang wanita akan dihukum tiga hingga sepuluh tahun penjara.
2. Siapapun yang melakukan hubungan seksual dengan seorang gadis <14
tahun dianggap telah melakukan pemerkosaan dan akan diberikan
hukuman yang lebih berat.
3. Siapa pun yang memperkosa seorang wanita atau melakukan hubungan
seksual dengan seorang gadis yang melibatkan satu keadaan berikut harus
dihukum minimal sepuluh tahun penjara, penjara seumur hidup, atau
kematian:
a. Memperkosa seorang wanita atau melakukan hubungan seksual
dengan seorang gadis dalam keadaan yang memberatkan
b. Memperkosa beberapa wanita atau melakukan hubungan seksual
dengan beberapa gadis
c. Memperkosa seorang wanita di tempat umum.
d. Memperkosa seorang wanita dengan orang lain atau lebih
e. Menyebabkan korban cedera serius, kematian, atau konsekuensi
serius lainnya.
Berdasarkan hukum tersebut, telah dijelaskan bahwa siapapun yang
melakukan hubungan seksual dengan seorang gadis <14 tahun dianggap telah
melakukan pemerkosaan. Disimpulkan bahwa batasan usia dalam hukum di RRC
adalah 14 tahun dengan ruang lingkup perempuan sebagai korban dan laki-laki
sebagai pelaku.
Hukum mengenai pelecehan seksual terhadap anak juga diatur dalam
Pasal 237 yang berbunyi “siapa pun yang bertindak tidak senonoh terhadap anak
<14 tahun dapat dituntut sebagai penganiayaan anak (seksual)”. Disimpulkan
bahwa aktivitas seksual dengan anak <14 tahun akan dikenakan hukum pelecehan
anak, kecuali untuk hubungan laki-laki dengan seorang gadis termasuk dalam
kejahatan pemerkosaan. Pada pasal 237 menyatakan bahwa laki-laki dan
perempuan menerima perlindungan yang sama. Perbedaannya adalah bahwa
hubungan seksual laki-laki dengan seorang gadis usia <14 tahun akan dikenakan
tuduhan perkosaan, sementara semua kegiatan homoseksual dan heteroseksual
lainnya dengan anak laki-laki atau perempuan di bawah usia 14 tahun akan
dibebankan dengan penganiayaan anak.(13)
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Sodomi merupakan masalah yang dialami di seluruh dunia, dengan prevalensi
yang tinggi terutama pada anak-anak. Anak-anak lebih rentan menjadi korban sodomi
karena kurangnya pertahanan diri dan kemampuan menginterpretasi tanda-tanda bahaya.
Selain karena faktor individu tersebut, anak-anak rentan menjadi korban dikarenakan
faktor hubungan keluarga yang kurang suportif, kurang kewaspadaaan orangtua, dan
faktor resiko lainnya. Untuk dapat mengidentifikasi kasus sodomi diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis mencakup anamnesis
umum dan spesifik, dan untuk pemeriksaan fisik mencakup pemeriksaan fisik umum dan
spesifik pada daerah genitalia dan anus. Dampak psikologis dari sodomi dapat berupa
depresi, gangguan cemas terutama PTSD. Untuk dampak medis juga dapat menimbulkan
trauma jaringan anal dan genital, yang setelah beberapa waktu menimbulkan perianal
scar, juga dapat menyebabkan infeksi menular seksual. Indonesia memiliki hukum untuk
melindungi anak yang dituangkan dalam perundang-undangan seperti KUHP, UU no 23
tahun 2002 yang telah diubah dengan UU no 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak,
dan UU lainnya.
3.2. Saran
Dokter sebagai ahli diperlukan bantuannya untuk menemukan bukti-bukti medis agar
dapat membantu dalam penegakan keadilan. Oleh karena itu, sebaiknya dokter mampu
untuk melakukan pemeriksaan yang benar pada kasus sodomi dikarenakan prevalensinya
yang tinggi dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan akibat sodomi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Setyawan D.KPAI: 4.885 Kasus Pelanggaran Hak Anak, Terbanyak ABH. ​Komisi
Perlindungan Anak Indonesia.​ 2019.
2. Indriani R, Nodia F. "Sodomi, Kasus Kejahatan Seksual Tertinggi pada Anak Tertinggi di
Tahun 2017". ​Suara​. Desember 2017.
3. Singh MM, Parsekar SS, Nair SN. An epidemiological overview of child sexual abuse. ​J
Family Med Prim Care​. 2014;3(4):430–435. doi:10.4103/2249-4863.148139*
4. Rumble, Lauren et al. Childhood sexual violence In indonesia: a systematic review
trauma, violence, & abuse.​ ​SAGE Publications,​ doi:10.1177/1524838018767932
5. Krug EG, Dahlberg LL, Mercy JA, Zwi AB, Lozano R ed. ​World Report on Violence and
Health​. Geneva: World Health Organization; 2002.
6. Vij, K. (2011). Textbook of forensic medicine and toxicology. New Delhi: Elsevier.
7. Manual for Medical Examination of Sexual Assault. (2010). [ebook] Mumbai. Available
at:
http://pldindia.org/wp-content/uploads/2013/04/Manual-for-medical-examination-of-Sex
ual-Assault-CEHAT.pdf​ [Accessed 20 Jun. 2019].
8. Blakemore T, Herbert JL, Arney F, Parkinson S. The impacts of institutional child sexual
abuse: A rapid review of the evidence. Child Abuse & Neglect 2017;74;35-48.
9. Fisher C, Goldsmith A, Hurcombe R, Soares C. The impacts of child sexual abuse: A
rapid evidence assessment. IICSA Research Team. 2017.
10. Joyce A. Adams, Karen J. Farst, Nancy D. Kellogg, Interpretation of Medical Findings in
Suspected Child Sexual Abuse: An Update for 2018, Journal of Pediatric and Adolescent
Gynecology, Volume 31, Issue 3, 2018.
11. Sitompul, A. Kajian hukum tentang tindak kekerasan seksual terhadap anak di indonesia.
Lex crimen [Internet]. 2015 [cited 2019 Jun 23];4(1). Available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/view/6999
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak [Internet]. Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 2014 [cited 2019 Jun 20]. Available from:
http://www.kpai.go.id/hukum/undang-undang-republik-indonesia-nomor-35-tahun-2014-t
entang-perubahan-atas-undang-undang-nomor-23-tahun-2002-tentang-perlindungan-anak
13. A comparison of the gender-specificity of age of consent legislation in Europe and China:
Towards a gender-neutral age of consent in China? | SpringerLink [Internet]. [cited 2019
Jun 19]. Available from:
https://link.springer.com/article/10.1007/s10610-017-9353-2
14. Essabar L, Khalqallah A, Dakhama BS. Child sexual abuse: report of 311 cases with
review of literature. ​Pan Afr Med J.​ 2015;20:47. Published 2015 Jan 19.
doi:10.11604/pamj.2015.20.47.4569
15. Sugono D. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta : Gramedia. 2008