Anda di halaman 1dari 6

Odontektomi

Definisi.
Impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang atau terblokir, biasanya oleh gigi didekatnya atau
jaringan patologis. Impaksi diperkirakan secara klinis apabila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa
dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi (Pederson).

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau terhambat, biasanya oleh gigi di
dekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal di
dalam deretan susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi atau akar gigi yang tidak terangkat saat pecabutan sebelumnya.

Umumnya gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior. Namun gigi anterior
yang mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui. Pada gigi posterior yang sering mengalami impaksi adalah
sebagai berikut :

 Gigi molar tiga (48 dan 38) mandibula


 Gigi molar tiga (18 dan 28) maksila
 Gigi premolar (44,45,34 dan 35) mandibula
 Gigi premolar (14,15,24 dan 25) maksila

Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah sebagai berikut :

 Gigi kaninus maksila dan mandibula (13,23,33 dan 43)


 Gigi incisivus maksila dan mandibula (11,21,31 dan 41)

B. KLASIFIKASI Impaksi

Klasifikasi dilakukan bertujuan untuk membantu operator dalam memastikan dan membuat rencana kerja serta
memperkirakan kesulitan- kesulitan yang mungkin ditemuinya pada saat melalukan pencabutan gigi tersebut. Klasifikasi
menurut Pell dan Gregory yang meliputi sebagian klasifikasi dari George B. Winter:

Hubungan Gigi Dengan Tepi Ramus Antara Mandibula Dan Tepi Distal Molar Kedua

 Kelas I: Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal molar kedua untuk lebar mesiodistal molar tiga
 Kelas II: Ruangan antara distal molar kedua dan ramus lebih kecil daripada lebar mesiodistal molar ketiga
 Kelas III: Sebagian besar atau seluruh molar ketiga terletak di dalam ramus

a. Berdasarkan Letak Molar Ketiga Di Dalam Rahang

1. Posisi A: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi garis


2. Posisi B: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah garis oklusal tapi masih lebih tinggi daripada garis
servikal molar kedua
3. Posisi C: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada dibawah garis servikal molar

b. KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI M3 ATAS

Didasari Pada Posisi Anatomi (Menurut Pell And Gregory)

Berdasarkan kedalaman relatif impaksi gigi M3 atas dalam tulang,yaitu:

 Klas A : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi M3 atas berada segaris dengan oklusal gigi M2
 Klas B : Bagian terbawah mahkota gigi impaksi M3 atas berada diantara dataran oklusal dan garis servikal gigi M2
disebelahnya
 Klas C : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi M3 atas berada pada atau terletak diatas servikal gigi M2

Etiologi impaksi
Penyebab dari gigi impaksi bisa disebabkan oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor-faktor tersebut
meliputi:
• Gigi yang berdekatan crowded atau tidak cukup tempat pada lengkung rahang.
• Padatnya tulang diatas gigi impaksi.
• Tebalnya jaringan lunak yang meliputi gigi impaksi.
• Gigi sulung yang mengalami retensi dan ankylosis.
• Keadaan patologis seperti : gigi supernumerary, odontoma, kista.
Impaksi dapat terjadi selain karena faktor lokal maupun sistemik yaitu:
 Penyebab prenatal: Hereditas dan Miscegenation.
 Penyebab postnatal: yaitu kondisi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak seperti Ricketsia, Anemia,
Congenital Syphilis, Tuberculosis, Disfungsi endokrin dan malnutrisi.
 Kelainan genetika: Cleidocrainal distiosis, Oxycephaly, Progeria, Achondroplasia dan Cleft palate.

Kondisi akibat gigi impaksi.


Gigi impaksi dapat menyebabkan gangguan pada daerah rongga mulut tertutama pada daerah yang
mengalami impaksi. Kondisi tersebut dapat berupa:
 Infeksi : Pericoronitis, Alveolar abses akut/kronis, Osteitis suppurative kronis, Nekrosis, Osteomyelitis.
 Kecenderungan karies.
 Rasa sakit.
 Resorbsi gigi yang berdekatan.
 Kista, tumor, fraktur.

Klasifikasi impaksi M3 rahang bawah.


secara garis besar gigi molar ketiga rahang bawah dapat dikelompokkan berdasarkan kedalaman letaknya,
posisinya terhadap gigi molar kedua, terhadap nervus alveolaris inferior, dan terhadap ramus ascendens.
Pemahaman terhadap posisi molar ketiga impaksi sangat diperlukan karena posisi gigi molar ketiga impaksi
dapat berkaitan erat dengan kesulitan tindakan odontektominya.
Klasifikasi gigi molar ketiga impaksi rahang bawah telah diplublikasikan oleh Winter tahun 1926 dan Pell
& Gregory tahun 1942 yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Klasifikasi gigi molar ketiga menurut Winter (1926).
 vertikal
 Horizontal
 Inverted
 Unusual
 Mesioangular
 Distoangular
 Buccoangular
 Linguoangular

Klasifikasi gigi molar ketiga menurut Pell & Gregory (1933).


- Berdasarkan ruang antara ramus dan sisi distal M2 :  3 klas
1. Klas I  ruang cukup
2. Klas II  ruang kurang
3. Klas III  tdk ada ruang/M3 dalam ramus mandibula.
- Berdasarkan relasi antara ramus mandibula dan molar kedua meliputi.
1. Posisi A  bagian tertinggi dari gigi terletak lebih tinggi atau sejajar dengan garis oklusal gigi M2.
2. Posisi B  bagian tertinggi dari gigi terletak diantara garis oklusal dan garis servikal gigi M2.
3. Posisi C  bagian tertinggi dari gigi terletak dibawah servikal line gigi M2.

Klasifikasi gigi molar ketiga menurut Archer ( gabungan antara Winter dengan Pell& Gregory).

Odontektomi.
• Definisi Odontektomi menurut Archer (1975).
Pengeluaran satu atau beberapa gigi secara bedah dengan cara membuka flap mukoperiosteal, kemudian
dilakukan pengambilan tulang yang menghalangi dengan tatah atau bur.
• Definisi Odontektomi menurut Pederson (1996).
Tindakan pembedahan untuk mengeluarkan gigi yang tidak dapat dilakukan dengan cara ekstraksi biasa
atau dapat dilakukan pada gigi yang impaksi atau tertanam di bawah tulang atau mukosa.

Indikasi dan kontra indikasi Odontektomi gigi impaksi.


Indikasi dilakukan tindakan odontektomi gigi impaksi yaitu:
 Sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal
(Perikoronitis), dan mencegah berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (Kista odontegenik dan
Neoplasia).
 Usia periode emas (akar  1/3 atau 2/3) dan sebelum mineralisasi tulag (15 – 25 th).
 Bila terdapat infeksi (fokus selulitis).
 Bila terdapat kelainan Patologis (odontegenik).
 Maloklusi.
 Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit.
 Gigi impaksi terlihat mendesak gigi molar kedua.
 Diperkirakan akan mengganggu perawatan orthodonsia dan pembuatan protesa.
 Akan mengganggu perawatan di bidang konservasi atau pembuatan mahkota gigi pada gigi molar kedua.
 Terdapat keluhan neurologi, misalnya : cephalgia, migrain, pain lokal atau diteruskan (reffered).
 Merupakan penyebab karies pada molar kedua karena retensi makanan.
 Terdapat karies yang tidak dapat dilakukan perawatan.
 Telah terjadi defek pada jaringan periodontal pada gigi molar kedua.
 Karies distal molar kedua yang disebabkan oleh karies posisi gigi molar ketiga.
Kontraindikasi odontektomi gigi impaksi yaitu:
 Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut.
 Bila panjang akar belum mencapai sepertiga atau dua pertiga.
 Bila tulang yang menutupi gigi yang tertanam terlalu banyak.
 Bila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat yaitu pada pasien yang berusia lebih dari
26 th atau usia lanjut.

 Compromised Medical Status. Yaitu apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan
terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu.
 Kemungkinan timbulnya kerusakan yang parah pada jaringan yang berdekatan.

Persiapan tindakan odontektomi.


Dalam mempersiapkan tindakan odontektomi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Dilakukan pemeriksaan foto Ro berupa foto periapikal, foto bitewing, foto oklusal, foto panoramic dan foto
lateral view of mandibula. Jenis foto yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan pada tindakan
odontektomi. Dengan adanya foto Ro maka akan didapatkan informasi tentang :
 Bentuk gigi, jumlah, ukuran serta kurvatur akar.
 Posisi akar atau mahkota dengan gigi sebelahnya atau struktur lainnya.
 Klasifikasi impaksi.
 Posisi bukal atau lingual gigi impaksi.
 Hubungan akar gigi impaksi dengan struktur anatomis penting didekatnya.
b. Mengetahui dari klasifikasi gigi impaksi. Hal ini penting karena dengan mengetahui klsifikasi maka operator
dapat memperkirakan tingkat kesulitan yang akan dihadapi dalam tindakan odontektomi sehingga operator
dapat mempersiapkan prosedur operasi dengan lebih baik.
c. Desain flap. Hal yang harus diperhatikan dalam membuat desain atau outlina flap adalah:
 Suplai darah ke flap harus terpelihara. Dasar flap harus lebih panjang / lebar dari tepi bebasnya, insisi sejajar
dengan pembuluh darah untuk memberikan vaskularisasi
 Flap harus cukup luas, sehingga lapangan operasi dapat terlihat dengan jelas..
 Desain diusahakan menghindari saraf (n. mentalis) dan pembuluh darah yang berada didalam
 Jika tulang diangkat, flap harus merupakan suatu flap yang tebal. Untuk flap mukoperiosteal, periosteum
diambil secara menyeluruh, tidak sobek , tidak lubang dan tidak terkoyak.
 Jika dilakukan penutupan bone defect maka tepi flap harus didukung diatas dasar tulang.
d. Menentukan arah jalan keluar/pengambilan dengan trauma minimal yaitu :
 Approach IO atau EO.
 Searah dng arah erupsi.
e. Menentukan metode odontektomi yang dipilih dengan memperhatikan faktor intrinsik (gigi) dan faktor
extrinsik ( jaringan sekitar gigi). Ada 3 metode / cara yaitu:
 Pengambilan tulang sekitar gigi yang cukup banyak.
 Gigi impaksi dipotong-potong (tooth div. tech) = split = odontotomi.
 Kombinasi cara keduanya.
f. Menentukan apakah memungkinkan pembedahan dilakukan dengan anestesi lokal atau membutuhkan anestesi
umum.

Penatalaksanaan tindakan Odontektomi pada gigi impaksi M3 rahang bawah.


Langkah-langkah pembedahan dilakukan sebagai berikut:
 Mempersiapkan instrumentarium steril untuk tindakan odontektomi.
 Pembedahan dilakukan dengan teknik asepsis. Sangat dianjurkan untukmemberikan antibiotika dan
antiflogistik sehari sebelum dilakukan odontektomi.
 Selanjutnya dilakukan mandibular blok anestesi.
 Dibuat garis insisi yang dimulai dari pertengahan bagian distal gig molar kedua ke arah posterior
membelok ke lateral agar insisi tetap berada di atas tulang untuk menghindari trauma iris jaringan lunak,
pembuluh darah di daerah lingual dan saraf lingualis. Insisi ke arah anterior dibuat tepat pada
gingiva dan padabagian distal gigi molar kedua turun ke arah kaudal dan kembali ke arah anterior sejajar garis
oklusal untuk menghindari kerusakan pada gingival attachment gigi molar kedua. Insisi dengan menggunakan
teknik ini mempunyai keuntungan, yaitu flap dapat dibuka dengan luas sesuai dengan kebutuhannnya,
dengan cara memperpanjang garis insisi ke arah anterior.
 Pengambilan tulang yang menutupi gigi impaksi dan pemotongan gigi dilakukan dengan menggunakan
round bur putaran rendah dengan pendingin air garamfisiologis 0,09 % atau air steril. Dilakukan dengan cara
memotong tulang lapis demi lapis sehingga bagian gigi yang tertutup tulang terlihat. Selanjutnya pembukaan
tulang dapat diperluas dengan mengambil tulang di sekeliling gigiimpaksi dan berpedoman pada
bentuk gigi yang impaksi. P ada tahapan ini pemakaian fissure bur sangat tidak dianjurkan untuk menghindari
trauma pada jaringan yang lebih dalam.
 Dalam melakukan pengambilan tulang yang meliputi gigi impaksi perludipertimbangkan beberapa hal:
 Pengambilan tulang harus cukup dan awal pengeboran dimulai dengan menyesuaikan letak gigi sesuai
dengan jenis klasifikasi grgr impalsinya.
 Tidak melakukan pengambilan tulang secara berlebihan karena akan menyebabkan trauma yang besar.
 Tidak dianjurkan untuk menggunakan bur putaran tinggi (high speed) dikarenakan akan sukar dalam mencapai
akses yang jauh dan dalam serta tidak mungkin untuk dapat mencapai teknik asepsis.
7. Pada semua kasus gigi molar ketiga impaksi dengan posisi miring, tindakan pembedahan untuk mengeluarkan
gigi tersebut sangat dianjurkan untuk melakukan pemotongan pada gigi yang impaksi (split technique)
dikarenakan:
 Menghindari trauma pada gigi molar kedua dan trauma karena tekanan pada jatingan tulang sekitar pada saat
gigi diungkit dan menghindari trauma pada kanalis mandibula.
 Menghindari terjadinya fraktur tulang mandibula akibat tekananberlebihan
 Memudahkan pengambilan gigi karena telah terbebas dari retensi j aringan sekitarnya

Odontektomi Molar Ketiga Rahang Bawah Metode Split Technique.


Adapun tahapan odontektomi dengan metode split technique adalah sebagai berikut
 Dilakukan disinfeksi jaringan di luar dan di dalam rongga mulut sebelumodontektomi, dapat digunakan
obat kumur antiseptik selanjutnya dilakukan blok anestesi.
 Dibuat insisi dengan memperhitungkan garis insisi tetap akan berada di atas tulang rahang setelah
pengambilan jaringan tulang pasca odontektomi, dan selanjutnya dibuat flap.
 Tulang yang menutup gigi diambil seminimal mungkin dengan perkiraan besar setengah dari besar gigi
yang akan dikeluarkan.
 Selanjutnya dilakukan pemotongan gigi yang biasanya dimulai denganmemotong pertengahan mahkota
gigi molar ketiga impaksi ke arah bifurkasi atau melakukan pemotongan pada regio servikal untuk memisahkan
bagian mahkota dan akar gigi. Selanjutnya dilakukan pemotongan menjadi bagian-bagian lebih kecil
sesuai dengan kebutuhan. Mahkota gigi dapat dipotong menjadi dua sampai empat bagian, demikian pula
pada bagian akarnya, kemudian bagian-bagian tersebut dikeluarkan satu per satu.
 Selanjutnya dilakukan kuretase untuk mengeluarkan kapsul gigi dan jaringan granulasi di sekitar
mahkota gig1 dan dilanjutkan dengan melakukan irigasi dengan air steril atau larutan saline 0,09 % steril.
 Pada saat melakukan pemotongan tulang dan gigi dengan menggunakan bur,tidak boleh dilakukan
secara blind akan tetapi operator harus dapat melihat secara langsung daerah yang dilakukan pengeboran.
Tindakan pengeboran secara blind akan dapat menyebabkan terjadinya trauma yang tidak diinginkan dijaringan
sekitarnya.
 Penjahitan dilakukan mulai dari ujung flap dibagian distal molar kedua dan dilanjutkan ke arah
anterior kemudian ke arah posterior.

Odontektomi pada gigi molar ketiga impaksi vertikal.


Untuk melakukan odontektomi pada gigi molar ketiga impaksi pada posisi vertikal seringkali ditemui
kesulitan. Hal ini disebabkan oleh karena beberapa hal berikut:
 Lebar mesiodistal antara gigi molar kedua dan ramus ascendens yang sempit, sehingga arah gerakan pencabutan
ke distal tidak memungkinkan.
 Akar gigi yang bengkok menuju distal sehingga gigi hanya dapat dikeluarkan dengan arah menuju ke distal,
tetapi tidak terdapat ruang cukup.
 Gigi impaksi hanya dapat dikeluarkan dengan arah pencabutan vertikal.
 Pada kasus posisi gigi yang sulit, misalnya mahkota menghadap ke lingual atau bukal dengan ruang yang sempit.
Pada kasus-kasus yang demikian, penggunaan split technique akan memudahkan tindakan odontektomi.
Dalam gambaran skematis di bawah ini dapat dilihat secara garis besar step by steptindakan
odontektomi pada kasus impaksi molar ketiga rahang bawah posisi vertikal, sebagai berikut:
 Rencana garis insisi odontekomi gigi molar ketiga rahang bawah dengan tetap mempertahankan
keutuhan attached gingiva gigi molar kedua dan gigi-gigilainnya.
 Tulang yang menutup gigi molar ketiga impaksi dibuka menggunakan round burnomor 23.
 Setelah gigi terlihat sampai dengan mahkota gigi di lingkar terbesar, gigi dipotong menjadi dua bagian,
mesial dan distal.
 Selanjutnya gigi dikeluarkan satu per satu, dengan mendahulukan bagian distal.
 Flap dikembalikan dan dijahit sesuai dengan prioritas agar flap dapat kembali ke tempat semula.
 Dalam melakukan pengeboran tulang di bagian bukal molar ketiga impaksi, tulang bukal di regio molar
kedua harus dijaga keutuhannya, agar tidak terjadi trauma pada akar molar kedua.