Anda di halaman 1dari 44

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Matematika
dan Humanisme” ini dengan tepat waktu. Makalah ini disusun bertujuan untuk
melengkapi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika. Dengan menggunakan
beberapa sumber, makalah ini telah disusun secara sistematis untuk mempermudah
pemahaman terhadap isi.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Mega Teguh Budiarto
selaku dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika dan bagi seluruh pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa manusia
mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat
diselesaikan dengan sangat sempurna begitu pula dengan makalah ini, maka dari itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi para pembaca dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Surabaya, 16 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 1
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
2.1 Pengertian Humanisme ....................................................................................... 3
2.2 Sejarah Humanisme ............................................................................................ 4
2.3 Tokoh-Tokoh Humanisme ................................................................................ 15
2.4 Prinsip-Prinsip Humanisme .............................................................................. 26
2.5 Perbedaan Teori Humanisme dengan Teori yang lain ...................................... 27
2.6 Pandangan serta Kritik Humanisme .................................................................. 28
2.7 Kelebihan dan kelemahan humanisme .............................................................. 29
2.8 Teori matematika Humanisme dalam Kegiatan Pembelajaran ......................... 30
2.9 Manfaat penerapan teori pembelajaran matematika humanisme ...................... 33
2.10 Kendala dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Humanisme ....................... 33
2.11 Implikasi Teori Humanisme.............................................................................. 34
2.12 Implementasi Humanisme dalam Pembelajaran Matematika ........................... 35
KESIMPULAN ................................................................................................................. 40
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ iii

ii
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama
pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme.
Pemilihan pendekatan ini dimaksudkan agar pembelajaran membuat siswa antusias
terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan
persoalannya. Ilmu matematika sering dianggap sebagai sesuatu yang abstrak.
Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya
jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi
langsung kepada benda-benda konkret. Seorang guru perlu memperhatikan konsep
awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak
akan berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan kesulitan
belajar selanjutnya.

Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada


siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada
dan dimana ada kemungkinan konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka
pendidik harus membantu siswa dalam membangun konsepsi tersebut agar lebih
matang. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana sebenarnya
matematika dan konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam
membangun pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya
peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran matematika karena dihubungkan
dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari
lingkungan kehidupannya sehari-hari

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimana pandangan konstruktivisme menurut para ahli?
2. Bagaimana hubungan konstruktivisme dengan beberapa teori belajar?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan teori konstruktivisme?
4. Bagaimana implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar dan mengajar?
5. Bagaimana implikasi konstruktivisme terhadap pembelajaran matematika?

1.3 Tujuan
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan pandangan konstruktivisme menurut para ahli.
2. Menggambarkan bagaimana hubungan konstruktivisme dengan beberapa teori
belajar.
3. Mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan teori konstruktivisme.

1
4. Menggambarkan bagaimana implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar
dan mengajar.
5. Menggambarkan bagaimana implikasi konstruktivisme terhadap pembelajaran
matematika.

2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Humanisme

Istilah humanisme berasal dari humanitas, yang berarti pendidikan manusia.


Dalam bahasa Yunani disebut paideia. Kata ini populer pada masa Cicero dan Varro
pada abad ke-14. Dengan demikian, berarti ungkapan gerakan humanisme lahir di
Italia dan menyebar ke seluruh Eropa. Kebetulan sistem pendidikan pada waktu itu
menggunakan mata pelajaran “kesenian-kesenian bebas” yang terdiri dari seni kata
(pramasastra, logika, dan retorika) dan seni benda (ilmu ukur, ilmu falak, dan musik).

Secara umum, humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan
pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.
Paham ini memandang mansia sebagai makhluk yang mulia. Humnisme menegaskan
bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. Akan tetapi, secara historis,
humanisme merupakan segi husus dari gerakan kebudayaan renaisance yang
berupaya untuk menyatukan kembali manusia pada alam semesta. Kebesaran manusia
dihidupkan kembali, yang selama ini terkubur pada abad pertengahan. oleh karena
itu, warisan filsadat klasik harus dihidupkan dan warisa abad pertengahan
ditinggalkan, dimana pada waktu itu dihegemoni oleh agama.

Jadi, sifat humanisme renaisance adalah anti agama. Humanisme mengurangi


peranan institusi gereja dan kerajaan yang begitu besar. Alasannya, menurut Pico
salah seorang tokoh humanisme, manusia dianugrahi kebebasan untuk memilih oleh
Tuhan dan menjadikannya pusat perhatian dunia. Dengan posisi itu dia bebas
memandang dan memilih yang terbaik.[4] Bagi penulis, yang dimaksud bebas di sini
adalah kebebasan untuk memilih kendatipun secara individualistis, manusia
terkekang oleh norma sosial dan norma adat (budaya). Akan tetapi, manusia yang
mau mengikuti norma budaya dan sosial, itu juga salah satu bentuk kebebasan
manusia. Jadi, kebebasan manusia adalah kebebasan yang berorientasi pada
kenyamanan hidupnya.

Berbeda lagi dalam pandangan Valla (seorang tokoh humanis) yang menolak
superioritas agama atas manusia. Menurutnya, manusia berhak menjadi dirinya
sekaligus menentukan nasibnya. Tujuan manusia adalah menikmati dunia dan
bersenang-senang (hedonis).

Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia.


Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangin dirinya untuk
melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut
sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya
memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang
terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang
nampak dari para pendidik beraliran humanism. Menurut Abraham, yang terpenting

3
dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanisme lebih melihat
pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada
“ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud.

Humanisme tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dan
dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada
pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Teori humanisme ini cocok untuk
diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian,
hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Psikologi
humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.

Dengan demikian, Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai macam


asumsi pikiran yang berbeda-beda tentang hal yang berhubungan dengan
kemanusiaan. Humanisme sarana pendoktrinan etika manusia dalam pandangan yang
global. Humanisme berarti harkat, hargadiri, dan nilai dari setiap manusia dalam
usaha untuk meningkatkan kemampuan alamiahnya secara penuh. Intinya,
humanisme adalah perjuangan untuk menjunjung tinggi kemampuan manusia secara
bebas.

2.2 Sejarah Humanisme

Sejarah manusia (humanis) dalam perjalanannya memiliki sifat yang berbeda-


beda, tentunya dengan faktor “pendidikan” yang berbeda pula. Oleh karena itu,
berikut akan dijelaskan perjalanan sejarah humanis dari primitif hingga modern.

a. Sejarah humanis primitive


Sejarah manusia pada masa primitif sangat memilukan, katakanlah
humanis yang amatiran. Manusia primitif “terdidik” oleh alam (alam adalah
gurunya) sekitarnya sehingga ilmu yang diperoleh hanya anggapan-anggapan dan
kepercayaan. Pada waktu itu manusia hanya mengandalkan kepercayaan dalam
menjalani hidupnya. Manusia dituntun oleh kepercayannya sendiri. Sesuai
dengan teori yang di utarakan oleh E.B. Tylor yang hampir mirip dengan teori
evolusi Darwin. Menurutnya, perkembangan alam dan sosial bergerak dari
bentuk yang lebih rendah menuju bentuk yang lebih tinggi dan sempurna; dari
yang sederhana menjadi yang lebih kompleks. Sistemp kepercayaan yang paling
primitif adalah dinamisme dan yang paling tinggi adalah monoteisme. Manusia
masih terikat dengan alam karena alam adalah faktor yang dominan dalam
kehidupan. Namun, alam tersebut kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang
mereka inginkan, kadang membantu dan terkadang “menganiaya”. Misalnya, air
yang mereka anggap sangat membantu proses hidupnya, ternyata juga
menganiaya dengan banjir yang dibuatnya. Dari faktor inilah kemudian lahir
suatu kepercayaan bahwa ada kekuatan hebat yang melebihi kekuatan manusia.
Teori humanisme barat dibangun atas asas yang sama yang dimiliki oleh
mitologi Yunani kuno yang memandang bahwa antara langit dan bumi, dewa-
dewa dan manusia terdapat pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul

4
kebencian dan kedengkian antara keduanya. Para dewa adalah kekuatan yang
memusuhi manusia. Seluruh perbuatan dan kesadarannya ditegakkan atas
kekuasaannya yang zalim terhadap manusia yang dibelenggu oleh kelemahan dan
kebodohannya. Hal itu dilakukan karena dewa-dewa takut menghadapi ancaman,
kesadaran, dan kebebasan, kemerdekaan, dan kepemimpinan manusia atas alam.
Setiap manusia yang menempuh jalan ini dipandang sebagai telah melakukan
dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa. Karena pemberontakan itu
manusia dihukum dengan berbagai siksaan yang amat kejam. Oleh karena itu,
manusia harus percaya pada mitos-mitos yang ada dan harus bersikap mitis.

b. Sejarah humanis Yunani


Humanis selajutnya—Yunani klasik, masih berkelmelut dengan alam.
Berbeda dengan humanis primitif (alam hampir menjadi subjek), kali ini alam
menjadi objek kajian mereka Kajian yang diusung mereka adalah bagaimana
dasar dan asal usul alam ini. Sedikit sudah ada pengembangan pemikiran,
walaupun pada saat itu tidak banyak pemikir-pemikir tentang alam.
Manusia pertama yang memberanikan diri untuk mengexplor
kemampuan akal adalah Thales, pada masa Yunani kuno. Tapi pada masa ini
manusia masih mencoba “menyesuaikan diri” dengan alam. Humanis masih
dibatasi oleh naturalistik, mereka masih menyelidiki hakekat-hakekat alam dan
sebab-musababnya. Tokoh-tokohnya adalah Thale, Anaximandros, Anaximenes,
Herakleitos, dan Pytagoras. Mereka berasal dari Melitos. Sementara yang berasal
dari Elea addalah Xenopanes, Parmenides, Zeno, Empedokles, Anaxagors,
Leukippos, dan Demokritos.
Di susul kemudian oleh Filosof Atena yang mengalihkan perhatian objek
filsafat. Dari pengkajian alam ke pengkajian manusia. Kali ini manusia menjadi
objek kajian filsafat. Setelah para filsof menyibukan diri dengan kentemplasi
dengan alam semesta, muncullah para filosof yang mulai meninggalkan
perenunganperenungan tentang kosmos dan memfokuskan perhatian mereka pada
permasalahan manusia. Para filosof seperti Socrates, ajarannya dipusatkan pada
manusia. Ia berusaha mencari pengetahuan yang murni. Plato dan Aristoteles
banyak mengemukakan pemikirannya tentang bagaimana hidup bermasyarakat
yang baik. Pytagoras mengatakan bahwa filsafat tidak semata-mata kontemplasi
terhadap kosmos, melainkan jalan keselamatan hidup manusia. Tujuan hidup bagi
pytgoras adalah membebaskan jiwa dari keterbelengguan badani menuju
keselamatan (bersatu kembali dengan alam semesta).

c. Sejarah humanis abad pertengahan.


Hampir 10 abad Eropa diselimuti kabut teologis yang memanipulasi
kebenaran dan mematikan pemikiran bebas. Gereja begitu bersikap intoleran
terhadap pemikiran bebas. Rinciannya, pada abad ini dibagi menjadi dua periode,
yaitu patristik dan skolastik. Pada masa patristik ini, filsafat begitu berada dalam
kegelapan. Manusia belum ada kesempatan untuk berpikir, mereka masih

5
dikekang oleh institusi-institusi gereja. Beda halnya dengan periode kedua, yaitu
skolastik. Mereka sudah diberi sarana yang memancingnya—walaupun tanpa
niatan untuk menghidupkan rasionalitas—untuk memangkitkan kembali
rasionalitas. Mereka diberi sarana sekolah-sekolah yang didalamnya juga ada
pelajaran pemikiran.
Begitulah, pemikiran filosofis pada abad ini kehilangan otonominya.
Pemikiran abad pertengahan bercirikan teosentris. Para filosof rohaniawan
seperti, Thoma Aquinas dan St.Bonavventura adalah rohaniawan-raohaniawan
yang hendak merekonsiliasi akal dan wahyu. Kebenaran wahyu mereka buktikan
tidak berbeda dengan kebenaran yang dihasilkan akal. Meskipun Aquinas bersifat
netral terhadap dikotomi iman/akal, atmosfer yang meliputi hamper seluruh
pemikiran di abad pertengahan memperlakukan akal sekedar sebagai hamba
perempuan teologi. St. Augustinus bahkan tidak percaya akan kekuatan akal
semata dalam mencapai kebenaran.manusia tidak mempunyai pegetahuan sejati
tanpa iluminasi kebenaran Ilahi. Singkatnya, rasionalitas manusia megalami
deotonomisasi dari posisinya yang semula pada masa filoso-filosof Yunani.
Filsafat menjadi abdi dari teologi dimana pemikiran-pemikiran filosofis
digunakan untuk mendukung kebenaran wahyu. Jadi, pada masa ini, sifat
humanis manusia tidak untuk diri manusia itu sendiri, tapi untuk gereja. Jika
pikiran manusia berada di luar garis ajaran gereja, maka orang itu akan
dihukumnya. Sungguh ini adalah abad kegelapan manusia. Manusia tidak lagi
punya kebebasan berpikir dan berkreasi dalam hidupnya. Akal dalam otaknya tak
termanfaatkan. Mereka “dididik” oleh ajaran gereja yang menghegemoni.
Ajaran predistinasi Agustinus asal-usulnya diperhubungkan dengan dosa
warisan yang ditereima manusia dari Adam. Menurut Agustinus, Tuhan
menjadikan manusia pertama mula-mula dengandiberi hak kehendak bebas.
Tuhan mengajaknya berbuat baik. Tapi adam tidak mau menuruti ajakan itu dan
diapun jatuh pada perbuatan dosa. Segala manusia telah diracuni oleh “dosa
warisan” dan hanya merupakan “kaum kebinasaan”. Tapi syukurlah, sejumlah
manusia tertentu masih dipilih untuk mendapat anugerah dariNya.
Menurut Thomas Aquinas, semua realitas itu dibimbing Tuhan, termasuk
manusia. Tanpa bimbingan Tuhan, manusia tidak mengetahui apa-apa. Ia
menambahkan bahwa manusia tidak akan selamat tanpa perantara Gereja, karena
gereja menjaga manusia dari dosa.

d. Sejarah humanisme Renaissance

Di tengah kekelaman Abad Pertengahan yang menjadi masa dimana


kemerosotan peradaban dan kebodohan terjadi, di saat itulah tengah berlangsung
gerakan yang merumuskan ulang esensi dan eksistensi manusia, yang tak lain
berupa proyek besar kemanusiaan masyarakat Eropa yang kelak mencapai
puncaknya pada abad ke-14, yaitu lahirnya manusia Renaissance. Bermula dari
kaum bangsawan dan intelektual Italia yang mewarisi kebudayaan Romawi
kembali menggali kembali kebudayaan Yunani Kuno dan Latin melalui karya-

6
karya sastra, ilmu pengetahuan dan 􀀦lsafat, maka digunakanlah lagi istilah
Umanisti yanag dulu dipakai oleh guru-guru humanis yang mengajarkan ilmu-
ilmu kemanusiaan pada masa Romawi Kuno, hingga melahirkan Studia
Humanitatis. Pendidikan humaniora pun lalu menyebar-luas di daratan Eropa
pada umumnya dan perkembangan pesat pun berlangsung di Eropa Barat.
Erasmus von Rotterdam dan dan St. Thomas More melanjutkan proyek tersebut
melalui jalur agama Kristen. Tetapi, arus perubahan juga terjadi di kalangan
ilmiah dengan humanisme naturalisnya.
Tak dipungkiri motor penggerak semua itu adalah kegiatan intelektual
meski jumlahnya pada mulanya terbatas dan hanya di biara-biara. Akan tetapi,
penggalian kembali terhadap tata bahasa dan sastra Yunani Kuno karya Horace,
Vergil, dan Cicero di satu pihak, penyebaran agama Kristen di lain pihak, dan
tumbuhnya kaum radikal Kristen (Erasmus von Rotterdam, di antaranya) telah
menjadikan warisan lama itu memotori lagi roda peradaban Eropa Barat yang
menurun drastis selama belasan abad. Memang harus diakui bahwa gerakan
Renaissance di Abad Pertengahan belum sepenuhnya lepas dari paradigma
teologis Mazhab Skolastik yang menempatkan manusia sedemikian bergantung
pada Tuhan sebagai pusat kehidupan dan orientasi hidup manusia pun bukan
dunia ini, melainkan keabadian. Tetapi bermula dari pembelajaran akan
mekanisme dan teknik berbahasa lisan dan tulisan, lalu meningkat pada
penggalian kembali melalui kegiatan pembacaan secara mendalam,
penerjemahan, penyuntingan dengan menyelaraskan nilai-nilai pagan dengan
kristinaitas, pencetakan atas aspek-aspek kebudayaan Yunani Kuno dan Latin
melalui para humanis Italia, dan munculnya aksi-aksi radikal dari intelektual
Kristen, ditambah dengan munculnya perpustakaan-perpustakaan besar di
Vatikan, Venezia, dan Florence, betul-betul menggerakkan kembali peradaban
Eropa yang nyaris terhenti dan cenderung berjalan mundur.
Hadirnya Renaissance yang dalam budaya Barat dimengerti sebagai masa
di mana manusia menemukan individualitas dirinya sebagai individu rohani,
membangkitkan kembali kegairahan kultural dan juga pemikiran kepada
kebudayaan Yunani klasik. Dikatakan demikian karena masa ini dicatat sebagai
tonggak kelahiran kembali bagi cara hidup baru yang semula sangat dipengaruhi
alam pikiran Abad Pertengahan yang meninggikan iman di atas akal budi, dan
yang menekankan pengenalan terhadap alam semesta melalui Wahyu Allah
(ajaran Mazhab Skolastik), maka saat humanisme Renaissance sudah menemukan
bentuk pastinya, kedua cara pandang itu berbaur-lebur dan menghasilkan cara
pandang mistik (warisan skolastik) tapi sekaligus optimistik (warisan
neoplatonisme). Berbekal dua cara pandang tersebut kelompok-kelompok ahli,
seniman, dan penulis di Italia dan di banyak tempat lain menyambut masa
kebangkitan budaya Yunani dan Romawi ini atau yang biasa disebut dengan
kebudayaan klasik dengan berbagai kegairahan atau semangat baru, terutama
dalam hal visi optimistik dan mistik tersebut terlihat jelas di dalam dua tokoh
Marsilio Ficino dan Giovanni Pico della Mirandola.

7
Ficino, sang guru, dan Pico, sang murid, mendamaikan Sastra Yunani
Kuno dan filsafat Pra-Sokratik, Plato, Aristoteles, Plotinus dengan Kitab Suci dan
Ajaran Gereja. Persenyawaan kedua paradigama berpikir tersebut menghasilkan
gagasan tentang keteraturan, keindahan jagad raya (makrokosmos) yang
tercermin melalui jagad kecil (mikrokosmos) yang tak lain adalah manusia.
Pemahaman baru pun muncul bahwa intelektualitas manusia menyebabkan
ciptaan, makhluk, dan Tuhan justru dapat dikenali dengan jauh lebih baik.
Dengan demikian, seorang humanis tidak pertama-tama memegang teguh doktrin
dan dogma agama mengenai eksistensi dan esensi manusia. Mereka justru
menggunakan sastra dan filsafat sekular dengan tujuan mendukung dan
memperkaya iman Kristiani mereka. Sehubungan dengan hal itu, Ficino
menegaskan bahwa langkah tersebut ditempuh untuk menghindarkan agama
terjebak ke dalam cara pandang yang picik. Lebih jauh, Ficino mengemukakan
persoalan keabadian melalui bukunya Theologia Platonica. Dalam buku tersebut
ia mencirikan manusia sebagai makhluk abadi karena melalui intelektualitas dan
sifat ruhaniahnya manusia memikirkan dan merenungkan Tuhan. Statusnya yang
demikian mencitrakan manusia sebagai gambaran Tuhan yang kemudian
mendorongnya untuk mampu menakhlukkan semesta raya, memberi nama dan
bentuk bagi segala hal yang telah diciptakan dan diberikan Tuhan, memberi
keindahan dan menegakkan keteraturan bagi ciptaan dan makhluk hidup lainnya
yang lebih rendah. Akhirnya Ficino menyimpulkan bahwa manusia adalah Wakil
Tuhan. Berbeda dari Ficino, Pico menekankan jiwa rasional manusia dan kodrat
rohaniahnya sebagai satu kelebihan pada dirinya untuk selalu dapat memilih.
Dengan itu, manusia bukan makhluk yang terkungkung oleh alam; ia tidak
tunduk dan ditentukan oleh semesta. Yang terjadi justru sebaliknya: manusia
mampu menentukan pilihannya dan posisinya di antara hierarki eksistensi. Pico
juga menegaskan bahwa dengan itu manusia dapat memilih untuk naik jenjang ke
tahap ilahi, yakni tahap malaikat. Gagasan Pico tentang kemampuan manusia
untuk memilih menginspirasi para pemikir di masa modern. Modernitas
berhutang pada Pico untuk dua hal, yakni martabat dan kebebasan manusia, di
satu pihak, dan individualisme, di pihak lain.
Humanisme neoplatonik Renaissance sebagaimana terungkap melalui
Ficino dan Pico memberi tekanan pada pemahaman atas fisik manusia untuk
memahami wilayah ruhaniah. Pengolahan atas tubuh manusia tersebut sekaligus
menunjukkan pengolahan aspek ruhaniah sebagai kenyataan tertinggi. Melalui
gerakan yang satu ini wacana manusia ideal dari karya-karya sastra dan filsafat
Yunani dan Romawi Kuno dengan tradisi Kristiani yang asali dipertemukan.
Humanisme Kristiani Renaissance pun, sebagai gerakan yang hadir
kemudian, melakukan gerakan pembaharuan dengan menghasilkan wacana
sinkretik tentang eksistensi dan esensi manusia di tengah semesta raya ini. Tetapi
ia juga berupaya memurnikan pengalaman iman Kristiani yang otentik dan asali
dengan cara mereorientasi dan menghidupkan nilai-nilai Kristiani yang didukung
dengan elaborasi rasional dari sudut pandang filsafat. Karena sikapnya itulah
gerakan ini sering dimasukkan ke dalam kaum konservatif Kristiani. Gerakan

8
humanis Kristiani ini pula yang mengemukakan kritik terhadap gejala pembekuan
dan pembakuan terhadap doktrin dan dogma agama. Jika tradisi skolastik terlalu
menekankan aspek ajaran daripada pengolahan pengalaman beriman yang asli
dan murni untuk memahami keberadaan alam semesta dan segala isinya, martabat
dan keluhuran manusia, dan Tuhan sendiri, maka para humanis Kristiani
menghendaki kembalinya pengalaman iman asali dalam bentuk pencarian
personal atas keutamaan manusiawinya. Pencarian itu dilakukan dengan
melakukan dialog dengan Kitab Suci dan ajaran Bapa Gereja tertentu sebagai
aspek eksternal.
Humanisme Naturalis Renaissance ditandai dengan adanya keyakinan
bahwa rasionalitas alamiah manusia dapat menghasilkan perkembangan
peradaban, dan lepas dari penjara dan dogma agama. Keyakinan seperti itu makin
menguat di antara para humanis golongan ini. Galen (130-200), orang yang
mengembangkan gerakan ini, bertolak dari karya-karya filsafat Aristoteles
menghasilkan karyakaryanya mengenai fisiologi dan psikologi. Pemikir lain yang
melakukan eksplorasi empirik dan mendukung gerakan ini adalah Francis Bacon
(1561-1626), Timothy Bright, dan Burton. Mereka sepakat bahwa jiwa dan badan
manusia saling berelasi dengan erat dan merupakan sebuah kesatuan. Menurut
Bacon, pengetahuan manusia tak mungkin berada di pikiran jika tidak melalui
dua tingkat atau tahapan pertama, yaitu: vegetable soul dan sensitive soul,
sebelum akhirnya berada di rational soul (jiwa rasional). Vegetable soul menjadi
rumah bagi afeksi, passi (passion), dan naluri fisikal. Adapun sensitive soul tak
lain adalah jiwa yang menangkap segala macam sinyal yang tampil di hadapan
pancaindra luar dan indra batin, yaitu kemasuk-akalan (common sense), imajinasi
atau fantasi dan memori. Tanpa melalui dua tingkat pertama pengetahuan
manusia tidak akan ada di dalam pikiran.
Humanisme Renaissance yang mana pun mempertajam otoritas manisia
atas dirinya sendiri. Melalui ketiga macam humanisme renaissance di atas terlihat
bahwa manusia memiliki kemampuan rasional sehingga ia mampu menjadi tuan
bagi tubuhnya sendiri dan dunianya. Di balik gagasan yang optimistik ini, para
pemikir Renaissance dapat dibagi ke dalam dua golongan mengenai campur
tangan ilahi, yakni: kekuatan ilahi tersebut dipandang sebagai unsur eksternal
atau supranatural. Di sisi lain, kaum humanis renaissance meyakini adanya
kemampuan alamiah dan natural tertinggi manusia dan keduanya itu berasal dari
Tuhan. Setelah Tuhan menganugerahi manusia dengan akal budi, ia pun
menyerahkan pemeliharaan dan pengolahan bumi kepada manusia. Karena itu,
manusia dituntut untuk dapat mengoptimalkan kemampuan rasionalnya dalam
sains. Di lain pihak, para penganut humanis naturalis percaya bahwa kemampuan
akal budi manusia tidak bergantung pada campur tangan supranatural, yakni
rasionalitas ilahi. Karena itu, satu hal yang harus dikembangkan adalah
kemampuan rasional alami melalui pengembangan ilmu-ilmu alam.

9
e. Sejarah humanisme sekuler

Paham humanisme dalam masa ini (abad ke-18) menunjuk kepada proyek
pembangunan kehidupan manusia dan masyarakat dengan mengikuti tatanan dan
aturan akal budi. Proyek Pencerahan ini meliputi juga analisis mengenai
kemampuan manusia untuk memahami realitas, yakni dilakukan dengan
menggunakan akal budi (reason), seperti yang diperlihatkan oleh Immanuel Kant.
Kejernihan akal budi jauh lebih dihargai dan diperlakukan layaknyanorma
hukum yang harus diindahkan oleh siapa pun, bahkan oleh doktrin-doktrin atau
dogma-dogma agama sekalipun. Beragama atau tidak beragama bukan persoalan
yang penting. Tidak ada yang ditabukan dalam abad pencerahan ini tetapi ada
yang dijunjung tinggi, yaitu klaim-klaim kebenaran yang berdasarkan bukti-bukti
empirik. Klaim-klaim agama yang tidak dapat diuji kebenarannya berdasar bukti
empirik diserang doktrinnya. Jadi yang dipersoalkan bukan esensi dari agama itu
sendiri, melainkan doktrin-doktrin yang terkait dengan ajaranajaran agama apa
pun.
Humanisme sekular didasari oleh rasionalisme dan sentralitas subjek
yang berkonsekuensi logis pada kepastian akan keberadaan yang lain. Aku hanya
yakin bahwa semua harus disangsikan kebenarannya kecuali aku yang tengah
berpikir dan itu satu-satunya yang tak dapat diragukan. Akibat dari kedudukan
aku sebagai subjek (pusat), maka dunia di luar diriku menjadi objek kesadaran
subjek yang berpikir. Karena waktu tak dapat berulang, maka waktu harus
digunakan sebaik-baiknya agar subjek dapat mengembangkan diri,
merealisasikan ke-aku-annya yang unik. Perwujudan diri itu dapat ditempuh atau
diperjuangkan melalui berbagai kemungkinan, apakah dimulai dengan membaca
sastra seperti yang dilakukan oleh kaum literati seperti Fyodor Dostoyevsky,
Julian Huxley atau Aldous Huxley, atau melalui seni lukis seperi yang dilakukan
Cezanne, Renoir, atau Picasso dan sebagainya. Jika untuk pembangunan individu
yang tegas Renaissance berperan sebagai pemicunya, maka Pencerahan memberi
dasar rasional, dan mengental dalam Humanisme sekular. Perwujudan diri
individu dibimbing oleh rasionalitas universal dengan memperjuangkan cita-cita
kemajuan terus-menerus menuju penyempurnaan dan kebahagiaan manusia
pribadi. Bermula dari penekanan kepada individu sebagai yang primer, maka
masyarakat dilihat sebagai sesuatu yang sekunder. Masyarakat hanya penting
sejauh berguna bagi pemenuhan kepentingan individu. Bahkan otoritas
masyarakat pun ada untuk kepentingan individu. Dengan kata lain, masyarakat
terbentuk karena individu-individu berkumpul untuk memperjuangkan
kepentingan tertentu.
Dalam humanisme sekuler hubungan aku-engkau menjadi sebatas bersifat
fungsional. Pada era ini tindakan-tindakan individu didasarkan pada hati nurani
dan prinsip-prinsip yang kebenarannya sungguh-sungguh diyakini subjek.
Perintah dan larangan pun hanya ditaati sejauh bisa dipertanggung-jawabkan
secara rasional oleh subjek individu. Penyebab terjadinya sesuatu tidak dicari
pada arche alamiah (Yunani Kuno) atau pun Tuhan (Abad Pertengahan),

10
melainkan dalam diri manusia sendiri. Manusia di satu pihak mengalami
kemerdekaan tetapi juga sekaligus kekosongan. Manusia semakin menemukan
kepastian di dalam diri sendiri, bukan di kuasa gereja, wahyu agama atau tradisi.
Pengaruh modernitas abad ke-17 di bidang intelektual yang melahirkan
pencerahan menjadikan akal budi subjek yang berpikir sebagai dasar kehidupan
dan semacam keruhanian modern. Dengan demikian, tuntutannya adalah jelas
bahwa individu harus berani menggunakan pemikirannya sendiri (sapere aude)
sebagai ukuran kedewasaan dirinya. Pencerahan sebagai akibat empirisisme
(penekanan pada bukti-bukti empiris sebagai ukuran kebenaran) dan konsekuensi
rasionalisme (keyakinan bahwa akal budi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran)
berdampak pada penggusuran hal-hal yang tak dapat dibuktikan secara empiris
dan menolak apa pun yang tak dapat dinalar, mendorong agama dan
keyakinankeyakinan dogmatisnya sebagai tidak bermakna. Nilai-nilai baru yang
dihargai tinggi sebagai gantinya adalah ‘kemajuan dan kepercayaan yang
menyertainya bahwa umat manusia akan maju karena penggunaan kemajuan
hasil-hasil ilmu pengetahuan. Agama sebagai keyakinan kini direduksi hanya
sebagai sekedar moralitas saja, dan akibat langsungnya adalah benih-benih
ateisme tumbuh secara subur di abad ke-19. Kemajuan manusia dipercaya tidak
mungkin terjadi berdasarkan kekuatan-kekuatan gaib (jiwa kekanak-kanakan),
melainkan atas dasar kekuatan-kekuatan sendiri dan itu adalah kekuatan akal budi
manusia yang termanifestasikan dalam kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan
positif (semangat intelektual progresif).
Agama yang semula sakral dan bagian dari adikodrati pada masa ini telah
diturunkan derajatnya sedemikian rupa hanya sebagai ajaran moral (moralitas)
dan semangat kemanusiaan yang menggantikannya adalah humanisme ateistik
(August Comte) yang mengejar kemajuan seraya memercayai bahwa kemajuan
umat manusia hanya dapat terjadi melalui kemajuan ilmu pengetahuan.
Kemajuan yang dimaksud adalah pergeseran dari keadaan tidak beradab
menjadi beradab, dari percaya kepada mitos menjadi bertumpu pada pengetahuan
ilmiah (positivisme), dari sikap tunduk kepada agama, raja, dan tradisi menjadi
bertumpu pada otonomi manusia yang mendudukkan akal budi sebagai sumber
keyakinan dan kekutannya sendiri. Jadi, semangat hidup baru yang diyakini masa
ini adalah bahwa keselamatan hidup manusia bukan karena percaya pada
kekuatan apa pun yang gaib, seperti takhyul, mitos, dan tuhan/agama (tahap
teologis), kepada kekuatan abstraksi akal budi (tahap metafisi), melainkan hanya
percaya pada kemampuan diri sendiri, terutama kekuatan akal budi (tahap posisitf
ilmiah). Pada titik terakhir inilah August Comte dengan positivisme-nya
mengganti filsafat positivismenya menjadi agama humanitas yang positivistik.
Yang dimaksud dengan agama humanitas adalah agama tanpa tuhan ilusif,
sedangkan humanitas adalah Tuhan baru manusia. Jika cara pandang dipersempit
lagi, maka di balik humanisme sekuler tersebut bersemayam humanisme ateistik
dari sekurang-kurangnya 4 tokoh penting, yakni Ludwig Feuerbach, Karl Marx,
Friedrich Nietzsce, dan Sigmund Freud. Dalam tulisan ini, hanya pemikiran
humanisme Feuerbach dan Marx yang akan dijelaskan.

11
f. Sejarah humanisme ateistik

Dari sisi yang lain, harapan kebahagiaan manusia yang semula bertumpu
pada eksistensi Tuhan yang merasuki keyakinan manusia, dituding
mengasingkan manusia dari esensinya (Ludwig Feuerbach). Kepercayaan awal
bahwa kesadaran diri manusia diyakini sebagai manifestasi Ruh/Tuhan (G. W. F.
Hegel), sehingga keberadaan diri manusia tak ubahnya wayang, oleh Feuerbach
dibalik yang nyata ada adalah manusia konkret; manusia konkret dengan
demikianbukan penjelmaan pikiran Allah; ruh semesta bukan subjek tetapi objek
pikiran manusia. Hal mendasar yang diserang Feurbach dari pemikiran Hegel
adalah bahwa bukan pikiran spekulatif, tetapi pengalaman inderawi-lah yang
konkret. Tuhan, karena itu, hanya angan-angan manusia, ilusi, proyeksi keinginan
dan harapan manusia. Jadi, jatidiri manusia menjadi jelas bertumpu pada diri
sendiri, bukan justru terasing dari dirinya sendiri oleh adanya gambaran metafisi
di luar dirinya yang berkuasa atas dirinya yang mengaburkan arti penting manusia
sebagai pribadi.
Gagasan Feuerbach mendorong Karl Marx pada semangat Humanisme
Radikal /Humanisme Konkret melalui rumusan bahwa manusia yang membuat
agama, bukan agama yang membuat manusia. Yang dikritik dari Feurbach adalah
jika yang ada adalah orang-orang konkret yang hidup vdan orang-orang demikian
itu ada dalam masyarakat dan negara, lalu apakah sesungguhnya yang
mengasingkan manusia ke dalam agama? Mengapa manusia tidak merealisasikan
hakikatnya secara nyata? Dengan pertanya-pertanyaan tersebut Marx sedang
mendesakkan satu cara pandang radikal yang berusaha menemukan jawaban atas
keterasingan diri manusia. Marx berargumen bahwa jika manusia adalah
kebaikan tertinggi yang mengejar kebahagiaan hidup (Adam Scha􀁓), bukankah
akar persoalan seharusnya terletak pada diri manusia itu sendiri? Maka yang
harus dilakukan adalah mencapakkan segala unsur yang menjadikan manusia
tertindas dan diperbudak. Jadi, jika humanisme diyakini oleh Adam Scha􀁓
sebagai refleksi atas manusia sebagai kebaikan tertinggi dan bertujuan nyata
menjamin terciptanya suatu kondisi demi kebahagiaan dirinya, maka manusia
harus mengubah relasi-relasi sosialnya karena itulah yang mengasingkan manusia
dari kehidupan dan bahkan dari idealitas dirinya sendiri sebagai makhluk
tertinggi. Berangkat dari ide-ide tentang manusia, Marx melangkah lebih jauh
menuju kondisi yang mampu menjamin terwujudnya kebahagiaan manusia yakni
kondisi hidup manusia itu sendiri’ yang tak lain adalah kondisi sosialnya sebab
dari sanalah keterasingan yang berdampak pada ketidakbahagiaan manusia
berasal.
Keterasingan diri manusia dalam hidupnya yang merupakan akibat dari
kondisi soisal tersebut mengantarkan Marx pada temuan penyebab, yaitu
keterasingan ekonomi yang disebabkan oleh ketiadaan alat atau saranma
produksi. Jika kondisi sosial yang membagi secara dikotomis ke dalam kapitalis
(pemilik sarana produksi) dan proletar (pekerja yang tak memiliki sarana

12
produksi), maka persoalan tersebut harus dihapus dan menggantinya dengan
komunisme yang menjamin hidup individu bebas dari keterasingan.

g. Sejarah humanisme teistik

Memberi label humanisme teistik yang diidentikksn dengan


eksistensialisme sebenarnya tidak sepenuhnya benar mengingat dalam aliran atau
sistem atau gaya berfilsafat atau gaya hidup ini, eksistensialisme, tidak semua
variannya teistik. Pemikiran eksistensial J. P. Sartre adalah contoh bahwa
meskipun pemikirannya digolongkan ke dalam eksistensialisme namun dijiwai
oleh semangat ateisme. Lebih jauh lagi, pembicaraan soal Tuhan bagi para filsuf
(dalam filsafat) dengan Tuhan bagi kaum awam (dalam kehidupan nyata
masyarakat) sebagaimana ucapan yang sering dilontarkan, “God of the
philosophers is not the same as the God of religion.”
Kedekatan eksistensialisme dengan humanisme terletak dalam dua hal:
pertama, dari segi etimologi dijelaskan bahwa eksistensi berasal dari ex-sistere,
yang berarti
berdiri di luar. Secara etimologis berarti kata eksistensi dimengerti
sebagai cara mengada, cara hadir dalam sebuah ruang dan waktu di dunia real.
Dengan demikian, yang ditekankan dalam eksistensialisme adalahg eksistensi dan
bukannya esensi. Dengan menekankan pada eksistensi berarti ternukalah
kemungkinan luas untuk memahami hidup manusia. Lagipula, yang dijadikan
sebagai pusat dalam eksistensi juga adalah manusia sebagai subjek. Dan memang,
bagi eksistensialis kedudukan dan peranan subjeklah yang menentukan seluruh
tataran keberadaannya. kedua, Sartre sebagai seorang filsuf eksistensialis
menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi yang dengan sendirinya
menyerukan kepada manusia untuk senantiasa mengambil keputusan demi
keputusan dalam hidupnya. Melalui keputusan-keputusan itulah “kutukan” yang
telah diberlakukan olehnya bahwa manusia dikutuk untuk bebas, dapat terwujud.
Gejala seperti ini memang khas manusiawi dan memanusiakannya.

h. Sejarah humanis modern


Ada beberapa kriteria pemikiran yang bisa disebut kodern. Pada
umumnya kriteria modern itu adalah apabila ada sesuatu yang baru, lain dengan
biasanya, berada dan bahkan bertentangan dengan kebiasaa-kebiasaan, tradisi
atau ada istiadat termasauk adat keagamaan. Oleh karena itu sesuatu yang bisa
disebut modern apabila ada gerakan atau dinamik a untuk menolak atau
meninggalkan hal-hal yang dianggap masa lalu dan menganut hal-hal yang
dianggap baru.
Modern ditandai dengan adanya gerakan renaisance yang berarti
kelahiran kembali. Kelahiran kembali filosiof-filosof Yunani kuno yang selama
ini disembunyikan dan dimonopoli kalangan elit gereja. Martabat manusia telah
kembali. Pico Della Mirandola (1463-1494) dalam pidatonya yang berjudul
orientation on the dignity of man,) mengemukakan bahwa Tuhan berkata ke

13
manusia ciptaannya, “kami telah menmpatkanmu sebagai pusat dunia dan mulai
sekarang kamu dapat dengan mudah mengamati segala sesuatu dalam
dunia...sehingga dengan kebebasan memilih dan memuliakan, seperti halnya
dalam penciptaan dirimu sendiri, kamu dapat membentuk dirimu
sekehendakmu”.
Humanisme pada awal renaisans berbeda dengan humanism abad ke-19
dan 20, kendati dalam beberapa hal kesamaannya. Humanisme pada waktu itu
bertujuan untuk meningkatkan perkembangan yang harmonis dan sifat-sifat
kecakapan alamiah manusiai. Pada waktu itu para humanis tidak menyangkal
adanya zat yang maha Tinggi . Hanya saja mereka berpendapat bahwa hal-hal
yang alamiah dalam diri manusia telah memiliki nilai yang cukup untuk dijadikan
sasaran pengenalan manusia. Tanpa wahyupun Seseorang mampu berkarya
dengan baik dan sempurna. Setelah beberapa abad kemudian, baru muncul
gerakan humanisme yang melepaskan segala hal yang berkaitan dengan yang
metafisik dan hanya menerima hidup di dunia seperti apa adanya.
Yang jelas, kelanjutannya adalah kebangkitan kembali rasio yang
mewarnai modern. Dalam hal ini tidak bisa kita lepaskan dari filosof Prancis
yang bernama Rene Descartes yang kali pertama mereotonomisasi rasio yang
sekian lama dijadikan hamba sahaya keimanan. Diktumnya yang terkenal adalah
cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Inilah manusia yang memanfaatkan
kembali rasionya.
Argumen Rene Descartes mendapat reaksi keras dari filosof filosof
Inggris. Seperti David Hume, John Lock, George Barkeley. Merekalah yang
menganut paham empirisme. Yiatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa
pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris bukan
semata-mata penalaran deduksi. Kaum empiris yakin akan adanya keteraturan di
alam raya ini. Pertarungan tersebut terus berlangsung sampai muncul seorang
filosof jerman yang bernama Immanuel kant yang berhasil membuat sintesis
antara rasionalisme dan empirisme. Kant mengatakan bahwa kedua aliran itu
terlalu ekstrem dalam memahami sumber pengetahuan. Ia mengatakan bahwa
keduanya sama-sma sumber pengetahuan diman kesan-kesn empiris dikonstruksi
oleh rasio manusia melalui kategori-kategori menjadi pengetahuan.

14
2.3 Tokoh-Tokoh Humanisme

2.3.1 Arthur Combs (1912-1999)

Menurut Combs, perilaku yang keliru atau tidak baik terjadi karena tidak
adanya kesediaan seseorang melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai
akibat dari adanya sesuatu yang lain, yang lebih menarik atau memuaskan.
Misalkan guru mengeluh murid-muridnya tidak berminat belajar, sebenarnya
hal itu karena murid-murid itu tidak berminat melakukan apa yang dikehendaki
oleh guru. Kalau saja guru tersebut lalu mengadakan aktivitas-aktivitas yang
lain, barangkali murid-murid akan berubah sikap dan reaksinya (Rumini, dkk.
1993).
Sesungguhnya para ahli psikologi humanisme melihat dua bagian belajar,
yaitu diperolehnya informasi baru dan personalisasi informasi baru tersebut.
Adalah keliru jika guru berpendapat bahwa murid akan mudah belajar kalau
bahan pelajaran disusun dengan rapi dan disampaikan dengan baik, sebab arti
dan maknanya tidak melekat pada bahan pelajaran itu; murid sendirilah yang
mencerna dan menyerap arti dan makna bahan pelajaran tersebut ke dalam
dirinya. Yang menjadi masalah dalam mengajar bukanlah bagaimana bahan
pelajaran itu disampaikan, tetapi bagaimana membantu murid memetik arti dan
makna yang terkandung di dalam bahan pelajaran tersebut, yakni apabila murid
dapat mengaitkan bahan pelajaran tersebut dengan hidup dan kehidupan
mereka, guru boleh bersenang hati bahwa missinya telah berhasil.
Semakin jauh hal-hal yang terjadi di luar diri seseorang (dunia) dari pusat
lingkaran lingkaran (persepsi diri), semakin kurang pengaruhnya terhadap
seseorang. Sebaliknya, semakin dekat hal-hal tersebut dengan pusat lingkaran,

15
maka semakin besar pengaruhnya terhadap seseorang dalam berperilaku. Jadi
jelaslah mengapa banyak hal yang dipelajari oleh murid segera dilupakan,
karena sedikit sekali kaitannya dengan dirinya.

2.3.2 Abraham Maslow

Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York pada


tanggal 1 April 1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan
orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia
dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya.
Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam
lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi Ia merasa terisolasi dan
tidak bahagia pada masa itu. Ia bertumbuh di perpustakaan di antara buku-buku.
Ia awalnya berkuliah hukum, namun pada akhirnya, ia memilih untuk
mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Wisconsin.
Pada saat ia berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama
Bertha pada bulan desember 1928 dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu
profesor Harry Harlow. Ia memperoleh gelar bachelor pada1930, master pada
1931, dan Ph.D pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya
di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia
bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal
dari Sigmund Freud.
Pada tahun 1937-1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn
College. Di New York, ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth
Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog,

16
yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang
kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia,
kesehatan mental, dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek-subjek ini
dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan
psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut
khususnya mencakup hierarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan,
aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman.
Maslow menjadi pelopor aliran humanisme psikologi yang terbentuk
pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini, ia dikenal sebagai
"kekuatan ke tiga" di samping teori Freud dan behaviorisme. Maslow menjadi
profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjabat ketua
departemen psikologi di sana selama 10 tahun. Di sinilah ia bertemu dengan
Kurt Goldstein (yang memperkenalkan ide aktualisasi diri kepadanya) dan
mulai menulis karya-karyanya sendiri. Di sini ia juga mulai mengembangkan
konsep psikologi humanisme. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California,
sampai akhirnya ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970.
Kemudian, Pada tahun 1967, Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan
gelar Humanist of the Year.

Teori Humanisme dan Aktualisasi Diri


Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanisme.
Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima
dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini
adalah teori tentang Hierarchy of Needs atau Hirarki Kebutuhan. Kehidupan
keluarganya dan psikologisnya.
Setelah perang dunia ke II, Maslow mulai mempertanyakan bagaimana
psikolog psikolog sebelumnya tentang pikiran manusia. Walau tidak
menyangkal sepenuhnya, namun ia memiliki gagasan sendiri untuk mengerti
jalan pikir manusia. Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki
keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi potensi dalam dirinya, untuk
mencapai tingkatan aktualisasi diri. Untuk membuktikan bahwa manusia tidak
hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk
mencapai sesuatu yang lebih, Maslow mempelajari seseorang dengan keadaan
mental yang sehat, dibanding mempelajari seseorang dengan masalahkesehatan
mental. Hal ini menggambarkan bahwa manusia baru dapat mengalami "puncak
pengalamannya" saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun
sekitarnya.
Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya,
dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang
kurang mengaktualisasi dirinya.

17
Hierarki Kebutuhan
Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi
gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling
rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).
Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
 Kebutuhan fisiologis atau dasar
Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat
fisiologik (kebutuhan akan udara, makanan, minuman dan sebagainya)
yang ditandai oleh kekurangan (defisi) sesuatu dalam tubuh orang yang
bersangkutan. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic
needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat estrim
(misalnya kelaparan) bisa manusia yang bersangkutan kehilangan kendali
atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut
dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu.
Sebaliknya, jika kebutuhan dasar ini relatif sudah tercukupi, muncullah
kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).

 Kebutuhan akan rasa aman


Jenis kebutuhan yang kedua ini berhubungan dengan jaminan
keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa
diperkirakan, bebas dari rasa takut dan cemas dan sebagainya. Karena
adanya kebutuhan inilah maka manusia membuat peraturan,
undangundang, mengembangkan kepercayaan, membuat sistem asuransi,
pensiun dan sebagainya. Sama halnya dengan basic needs, kalau safety
needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak terpenuhi, maka pandangan
seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun
perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.

 Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi


Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipenuhi, maka timbul
kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai '. Setiap orang ingin mempunyai
hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain. Ia ingin
mencintai dan dicintai. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh
kesetiakawanan. Setiap orang pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri,
ingin punya "akar" dalam masyarakat Setiap orang butuh menjadi bagian
dalam sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dll. Setiap orang
yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan
orang yang tidak sekolah dan tidak bekerja merasa dirinya pengangguran
yang tidak berharga. Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang
yang bersangkutan.

18
 Kebutuhan untuk dihargai
Di sisi lain, jika kebutuhan tingkat tiga relatif sudah terpenuhi, maka
timbul kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Ada dua macam
kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan
kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian.
Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain,
status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi
dari orang lain. Orang-orang yang terpenuhi kebutuhannya akan harga diri
akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang
lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih
kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).

 Kebutuhan untuk aktualisasi diri


Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang terdapat 17 meta kebutuhan
yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta
kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme,
kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan
diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.

Meta Kebutuhan dan Meta Patologi


Menurut Maslow, meta kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri terdiri dari:
o Kebenaran
o Kebaikan
o Keindahan atau kecantikan
o Keseluruhan (kesatuan)
o Dikotomi-transedensi
o Berkehidupan (berproses, berubah tetapi tetap pada esensinya)
o Keunikan
o Kesempurnaan
o Keniscayaan
o Penyelesaian
o Keadilan
o Keteraturan
o Kesederhanaan
o Kekayaan (banyak variasi, majemuk, tidak ada yang tersembunyi, semua
sama penting)
o Tanpa susah payah (santai, tidak tegang)
o Bermain (fun, rekreasi, humor)
o Mencukupi diri sendiri

Meta Patologi
Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi
seperti:

19
o Apatisme
o Kebosanan
o Putus asa
o Tidak punya rasa humor lagi
o Keterasingan
o Mementingkan diri sendiri
o Kehilangan selera dan sebagainya

Maslow menyebut empat kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis


sampai kebutuhan harga diri dengan sebutan homeostatis.mudian berhenti
dengan sendirinya. Maslow memperluas cakupan prinsip homeostatik ini
kepada kebutuhan-kebutuhan tadi, seperti rasa aman, cinta dan harga diri yang
biasanya tidak kita kaitkan dengan prinsip tersebut. Maslow menganggap
kebutuhan-kebutuhan deficit tadi sebagai kebutuhan untuk bertahan. Cinta dan
kasih sayang pun sebenarnya memperjelas kebutuhan ini sudah ada sejak lahir
persis sama dengan insting.

2.3.3 Carl Ransom Rogers

Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan


terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian
menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-
tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya
Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada
dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan
mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara, kejahatan, dan

20
persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari
kecenderungan alamiah.
Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, IIIionois, pada 8 Januari 1902.
Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers tertarik
kepada pertaniann secara ilmiah. Pertanian inilah yang membawanya ke
perguruan tinggi di Un.of Wisconsin pada 1924 dia lalu masuk Union
Theological Seminary di New York City dimana dia mendapat pandangan yang
liberal dan filsafat mengenai agama. Kemudian pindah ke Teacher College of
Columbia dan dia mendapat gelar M.A pada tahun 1928 dan doktor pada 1931
di Colombia. Pegalaman praktisnya yang pertama diperoleh di Institute for
Child Guidance, lembaga tersebut orientasinya Freudian. Rogers menemukan
bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan pendidikan
yang diterimanya yang mementingkan statistik itu tidak cocok dengan
pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan pemkiran
menurut aliran Thorndike.
Setelah mendapat doktor, Rogers menjadi anggota staf Rochester
Guindance Center dan kemudian menjadi pemimpinya . Dan pada tahun 1940
Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State
Univrsity. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh
rogers sendiri sangat tajam, karena rangsangan-rangsanganya dia merasa
terpaksa harus membuat pandangan- pandangan dalam psikoterapi itu menjadi
jelas. Dan ini dikerjakanya pada tahun 1942 dalam buku : Counseling and
psychotherapy. Pada tahaun 1945 Rogers menjadi maha guru pskologi di
universitas of Chicago, yang jabatanya hingga kini. Tahun 1946 – 1957 menjadi
Presiden American Psychological Association. Dan meninggal dunia tanggal 4
Februari 1987 karena serangan jantung.
Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut
kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan
sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan
mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin. Jadi, makhluk hidup
bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang
terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-
keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain,
seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan
rasa cinta, dan sebagainya.

Teori Carl Rogers

a. Aktualisasi Diri
Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran
fenomenologis eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep
teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman-pengalaman terapeutiknya.
Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan
dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani

21
masalah–masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat
mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi
manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-
kanak seperti yang diajukan oleh aliran Freudian, misalnya toilet trainning,
penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.
Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa
lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang
masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap
berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan
sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan
dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam
masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan
hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan
mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat
menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan
berbeda–beda tergantung pada pengalaman–pengalaman perseptualnya.
Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima
istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.
b. Perkembangan Kepribadian Konsep diri (self concept)
Menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari
dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap
pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang
secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri
yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya
harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap,
mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku
dari yang bukan aku.
Konsep diri terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri
ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak,
Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
1) Incongruence Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang
dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan
kekacauan batin.
2) Congruence Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri
diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh,
integral, dan sejati.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanyaincongruence ini
ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-
anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut
berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan
yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan

22
kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa
mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa
kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa
remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
Dampak dari incongruence adalah Rogers berfikir bahwa manusia akan
merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri
mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya
sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan
tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena
realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus menerus.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan,
penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain.
Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang
ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2
yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive
regard(tak bersyarat).
 Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan
mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya(unconditional
positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan
potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.
 Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan
positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan
mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah
dan tidak berharga.
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah
pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia
dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia
tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh
kepercayaan.

Pokok-Pokok Teori Rogers

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah sebagai berikut.


a. Organism, yaitu keseluruhan individu (the total individual) Organisme
memiliki sifat-sifat berikut.
 Organisme beraksi sebagai keseluruhan terhadap medan
phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
 Organisme mempunyai satu motif dasar yaitu: mengaktualisasikan,
mempertahankan dan mengembangkan diri.
 Organisme mungkin melambangkan pengalamannya, sehingga hal
itu disadari, atau mungkin menolak pelambangan itu, sehingga
pengalaman-pengalaman itu tak disadari, atau mungkin juga
organisme itu tak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.

23
b. Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman(the totality of
experience) Medan phenomenal punya sifat disadari atau tak disadari,
tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu
dilambangkan atau tidak.
c. Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri
dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.
Self mempunyai bermacam-macam sifat diantaranya sebagai berikut.
 Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungan.
 Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan
mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar.
 Self mengejar (menginginkan) consistency(keutuhan/kesatuan,
keselarasan). Organisme bertingkah laku dalam cara yang
selaras(consistent) dengan self. Pengalaman-pengalaman yang tak
selaras dengan stuktur self diamati sebagai ancaman. Self mungkin
berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.

Dinamika Kepribadian

Rogers mengemukakan lima sifat khas dari seseorang yang berfungsi


penuh:
a. Keterbukaan pada pengalaman yang berarti bahwa seseorang tidak bersifat
kaku dan defensif melainkan bersifat fleksibel, tidak hanya menerima
pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tapi juga dapat
menggunakannya dalam membuka kesempatan lahirnya persepsi dan
ungkapan-ungkapan baru.
b. Kehidupan eksistensial orang yang tidak mudah berprasangka ataupun
memanipulasi pengalaman melainkan menyesuaikan diri karena
kepribadiannya terus-menerus terbuka kepada pengalaman baru.
c. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Yang berarti bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan
pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan yang
lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual.
d. Perasaan bebas
Semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin mengalami kebebasan
untuk memilih dan bertindak.
e. Kreativitas
Seorang yang kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, ide
dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan
potensinya secara kreatif dan dengan cara yang memuaskan.

Aplikasi

Carl Roger sebenarnya tidak begitu banyak memfokuskan kepribadian.


Teknik terapi lebih banyak mewarnai berbagai karya akademiknya. Mula-mula
corak konseling ini disebut non-directive therapy, kemudian digunakan Client

24
Centered therapydengan maksud individualitas konseling yang setaraf dengan
individualitas konselor. Menurut Rogers, dalam teknik ini ingin diciptakan
suasana pembicaraan yang permisif.
Dalam dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode
psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkannya. Terapi yang
dikemukakannya itu dinamakan: non-directive therapy atau client centered
therapy. Non-directive therapy ini menjadi popular karena:
 Secara historis lebih terikat kepada psikologi daripada kedokteran
 Mudah dipelajari
 Untuk mempergunakannya dibutuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan
mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian. Lamanya perawatan lebih
singkat jika dibandingkan misalnya dengan terapi secara psikoanalistis.
Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah
perkembangannya dan menciptakan kesehatan dan menyesuaikannya.
Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan
tendensi perkembangan klien tidak secara langsung tetapi dengan
menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif.
Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan
nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan
sebagainya. Dengan cara ini, konselor dapat membantu klien untuk
mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya.
Teori humanisme Rogers pun menpunyai berbagai nama diantaranya
yaitu teori yang berpusat pada pribadi (person centered), non-directive, klien
(client-centered), teori yang berpusat pada murid (student-centered), teori yang
berpusat pada kelompok (group centered), dan (person to person). Namun
istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.

Asumsi dasar teori Rogers adalah:

 Kecenderungan formatif Segala hal di dunia baik organik maupun non-


organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil.
 Kecenderungan aktualisasi Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk
bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya. Tiap
individual mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan
masalahnya.

25
2.3.4 Aldous Huxley

Manusia memiliki banyak potensi yang selama ini banyak terpendam dan
disia-siakan. Pendidikan diharapkan mampu membantu manusia dalam
mengembangkan potensi-potensi tersebut, oleh karena itu kurikulum dalam
proses pendidikan harus berorientasi pada pengembangan potensi, dan ini
melibatkan semua pihak, seperti guru, murid maupun para pemerhati ataupun
peneliti dan perencana pendidikan. Huxley (Roberts, 1975) menekankan adanya
pendidikan non-verbal yang juga harus diajarkan kepada siswa dengan tujuan
menumbuhkan kesadaran seseorang. Berbekal pendidikan non verbal, seseorang
akan memiliki banyak strategi untuk lebih tenang dalam menapaki hidup karena
memiliki kemampuan untuk menghargai setiap pengalaman hidupnya dengan
lebih menarik. Akhirnya apabila setiap manusia memiliki kemampuan ini, akan
menjadi sumbangan yang berarti bagi kebudayaan dan moral kemanusiaan.

2.4 Prinsip-Prinsip Humanisme

Pendekatan humanisme menganggap peserta didik sebagai a whole person atau


orang sebagai suatu kesatuan.Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya
mengajarkan materi atau bahan ajar yang menjadi sasaran, tetapi jugamembantu
peserta didik mengembangkan diri mereka sebagai manusia.Keyakinan tersebut telah
mengarahkan munculnya sejumlah teknik dan metodologi pembelajaran yang
menekankan aspek humanisme pembelajaran. Dalam metodologi semacam itu,
pengalaman peserta didik adalah yang terpenting dan perkembangan kepribadian
mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran
mereka. Pendekatan humanisme mengutamakan peranan peserta didik dan
berorientasi pada kebutuhan. Menurut pendekatan ini, materi atau bahan ajar harus
dilihat sebagai suatu totalitas yang melibatkan orang secara utuh, bukan sekedar

26
sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Seperti halnya guru, peserta didik
adalah manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spritual, maupun intelektual.
Peserta didik hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses belajar mengajar.
Peserta didik bukan sekedar penerima ilmu yang pasif.

Beberapa prinsip Teori belajar Humanisme:

a) Manusia mempunyai belajar alami


b) Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai
relevansi dengan maksud tertentu
c) Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
d) Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman
itu kecil
e) Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman peserta didik dalam memperoleh
cara.
f) Belajar yang bermakna diperoleh jika peserta didik melakukannya
g) Belajar lancar jika peserta didik dilibatkan dalam proses belajar
h) Belajar yang melibatkan peserta didik seutuhnya dapat memberi hasil yang
mendalam
i) Kepercayaan pada diri pada peserta didik ditumbuhkan dengan membiasakan
untuk mawas diri
j) Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.

Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip
belajar yang penting yaitu:

a) Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu
alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi
dan asimilasi pengalaman baru,
b) Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan
kebutuhan peserta didik,
c) Belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar,
d) Belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan
orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri,
e) Belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran
maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama.
f) Kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan
dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting.

2.5 Perbedaan Teori Humanisme dengan Teori yang Lain


a. Behavioristik
1) Menekankan pada stimulus dan respon dalam pembentukan perilaku.
2) Setiap perilaku dapat dipelajari.
3) Tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru.
4) Menekankan pada perubahan perilaku yang teramati.

27
b. Humanistik
1) Menekankan pada keunikan sikap individu.
2) Individu adalah orang yang bebas menentukan apa yang dipelajarinya.
3) Belajar dipandang sebagai pemerolehan informasi atau pengalaman dan
menemukan maknanya secara personal atau pribadi.
c. Kognitif
Menekankan pada perubahan atau proses-proses mental dan perilaku tidak kasat
mata.
d. Konstruktivistik sosial
1) Pebelajar adalah orang yang secara aktif membangun pengetahuan dan
keterampilan melalui interaksi atau kolaborasi dengan orang lain.
2) Siswa tidak memiliki pemahaman satu persepsi.

e. Konstruktivistik kognitif
1) Individu membangun pemahamannya melalui eksplorasi
2) Menyatakan bahwa pebelajar adalah orang yang secara individual harus
menemukan , mentransformasi, dan mengecek kemballi, serta merevisi
informasi yang lama.
3) Siswa memiliki pemahaman satu persepsi.

2.6 Pandangan serta Kritik Humanisme


 Pandangan pada Teori Humanisme
 Aliran behaviorisme bersifat mekanis dan mementingkan masa lalu. Berbeda
halnya dengan aliran humanisme. Menurut aliran humanisme, individu itu
cenderung mempunyai kemampuan atau keinginan untuk berkembang dan
percaya pada kodrat biologis dan ingkungan tidak menekankan pada tingkah
laku yang nampak dan menggunakan metode obyektif seperti halnya aliran
behaviorisme.
 Psikoanalisa: Aliran humanisme tidak menyetujui sifat pesimisme, dalam
aliran humanisme individu itu memiliki sifat yang optimistik, dan apabila pada
psikoanalisa freud menekankan pada masa lalu ,karena dalam behaviorisme
percaya pada kodrati individu. Manusia berkembang dengan potensi yang
dimilikinya, tidak mengabaikan potensi seperti aliran psikoanalisis.

 Kritik pada Teori Humanisme


Teori humanisme mempunyai pengaruh yang signifikan pada ilmu
psikologi dan budaya populer. Sekarang ini banyak psikolog yang menerima
gagasan ini ketika teori tersebut membahas tentang kepribadian, pengalaman
subjektif manusia mempunyai bobot yang lebih tinggi daripada relitas objektif.
Psikolog humanisme yang terfokus pada manusia sehat daripada manusia yang
bermasalah, juga telah menjadi suatu kontribusi yang bermanfaat. Meskipun
demikian, kritik dari teori humanisme tetap mempunyai beberapa argumentasi
diantaranya sebagai berikut.

28
 Teori humanisme terlalu optimistik secara naif dan gagal untuk memberikan
pendekatan pada sisi buruk dari sifat alamiah manusia
 Teori humanisme, seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji dengan
mudah

Banyak konsep dalam psikologi humanisme, seperti misalnya orang yang telah
berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif. Beberapa
kritisi menyangkal bahwa konsep ini bisa saja mencerminkan nilai dan idealisme
Maslow sendiri. Psikologi humanisme mengalami pembiasan terhadap nilai
individualistis

2.7 Kelebihan dan Kelemahan humanisme

2.7.1 Kelebihan Humanisme

1. Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat
pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis
terhadap fenomena sosial.
2. Menurut aliran humanisme : individu itu cenderung mempunyai
kemampuan / keinginan untuk berkembang dan percaya pada kodrat
biologis dan ciri lingkungan
3. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
4. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat
orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab
tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma,
disiplin atau etika yang berlaku.
5. Aliran humanisme tidak menyetujui sifat pesimisme, dalam aliran
humanisme individu itu memiliki sifat yang optimistic.
6. Teori Humanistik sangat membantu para pendidik dalam memahami arah
belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun
dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk
mencapai tujuannya(Dr.C.Asri Budi Ningsih,2005:76).
7. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang dirumuskan
dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat
kejiwaan manusia.( Dr.C.Asri Budi Ningsih,2005:77).

2.7.2 Kelemahan Humanisme

1. Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam
proses belajar.
2. Terlalu memberi kebebasan pada siswa.
3. Teori humanisme terlalu optimistik secara naif dan gagal untuk
memberikan pendekatan pada sisi buruk dari sifat alamiah manusia

29
4. Teori humanisme, seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji
dengan mudah
5. Banyak konsep dalam psikologi humanisme, seperti misalnya orang yang
telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
6. Beberapa kritisi menyangkal bahwa konsep ini bisa saja mencerminkan
nilai dan idealisme Maslow sendiri.
7. Psikologi humanisme mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis
8. Teori humanisme ini dikritik karena sukar digunakan dalam konteks yang
lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan dunia filsafat daripada
dunia pendidikan(Dr.C.Asri Budi Ningsih,2005:76).
9. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan
siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman serta
membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
10. Teori humanisme masih sukar diterjemahkan kedalam langkah-langkah
yang praktis dan operasional.(Dr.C.Asri Budi Ningsih,2005:76-77).

2.8 Teori matematika Humanisme dalam Kegiatan Pembelajaran

White (dalam Siswono, 2007) menjelaskan bahwa matematika humanisme


mencakup dua aspek pembelajaran, yaitu pembelajaran matematika secara manusiawi
dan pembelajaran matematika yang manusiawi. Aspek pertama, yaitu pembelajaran
matematika secara manusiawi, berkaitan dengan proses pembelajaran matematika
yang menempatkan siswa sebagai subjek untuk membangun pengetahuannya dengan
memahami kondisi-kondisi, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Pengetahuan matematika tidak terbentuk dengan menerima atau menghafal


rumus-rumus dan prosedur-prosedur, tetapi dengan membangun makna dari apa yang
sedang dipelajari. Siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan,
mengaplikasikan apa yang dipelajari. Siswa juga mungkin melakukan kesalahan dan
dapat belajar dari kesalahan tanpa takut untuk berbuat salah dengan melakukan
ujicoba atau eksperimen. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guru
menumbuhkan motivasi dalam diri siswa untuk mempelajari dan memahami
matematika secara bermakna serta memberikan dorongan dan fasilitas untuk belajar
mandiri maupun kelompok.

Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga
intuisi dan kreativitas siswa. Pembelajaran matematika secara manusiawi akan
membentuk nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa. Selain memahami dan
menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri maupun
bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis,
sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Pada aspek ini kreativitas guru untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa
dengan berbagai metode dan kreativitas siswa untuk menemukan atau membangun

30
pengetahuannya sendiri saling terpadu dan menunjang bagi keberhasilan tujuan
belajar siswa.

Sedangkan aspek kedua, yaitu pembelajaran matematika yang manusiawi


berkaitan dengan usaha merekonstruksi kurikulum matematika sekolah, sehingga
matematika dapat dipelajari dan dialami sebagai bagian kehidupan manusia. Kaitan
matematika dan dunia nyata atau mata pelajaran lain perlu dijabarkan secara konkrit.
Brown (dalam Siswono, 2007) menyebutkan beberapa topik yang dapat dikaitkan
dengan dunia nyata atau mata pelajaran lainnya, misalkan seni (simetri, perspektif,
representasi spasial, dan pola (termasuk fraktal) untuk menciptakan karya-karya
artistik), biologi (penggunaan skala untuk mengidentifikasi faktor pertumbuhan
bermacam organisme), bisnis (optimasasi dari suatu 3 jaringan komunikasi), industri
(penggunaan matematika untuk mendesain objek-objek tiga dimensi seperti
bangunan), pengobatan (pemodelan suntikan untuk mengeliminasi infeksi penyakit),
fisika (penggunaan vektor untuk memodelkan gaya).

Siswono & Lastiningsih (2007) juga menunjukkan keterkaitan topik-topik


matematika dengan dunia nyata atau mata pelajaran lain, seperti bilangan bulat (suhu
planet, suhu kota), bilangan pecahan (kemasan obat, kandungan bahan, dosis minum,
resep, laporan survei di koran, iklan), aljabar (masalah perdagangan, untung-rugi,
pajak, sejarah), persamaan dan pertidaksamaan (dosis minum obat, lalu lintas, fisika),
perbandingan (skala, denah, arsitektur, resep, frekuensi radio), himpunan (polling
atau survei), garis dan sudut (seni, arsitektur), segitiga dan segiempat (seni, arsitektur,
parkir, geografi).

Berdasar pandangan di atas, maka dapat dijabarkan beberapa ciri umum dari
pembelajaran matematika humanisme, seperti disebutkan oleh Haglund (dalam
Siswono, 2007) menyatakan karakteristik pembelajaran matematika humanisme ada
10 macam yaitu:

1. Menempatkan siswa sebagai penemu (inquirer) bukan hanya penerima fakta-


fakta dan prosedur-prosedur

2. Memberi kesempatan siswa untuk saling membantu dalam memahami masalah


dan pemecahan masalah yang lebih mendalam

3. Belajar berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya dengan
pendekatan aljabar

4. Menunjukkan latar belakang sejarah bahwa matematika sebagai suatu


penemuan atau usaha keras dari seorang manusia

5. Menggunakan masalah-masalah yang menarikdan pertanyaan terbuka (open-


ended), tidak hanya latihan-latihan

6. Menggunakan berbagai teknik penilaian, tidak hanya menilai siswa berdasar

31
pada kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja

7. Mengembangkan suatu pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar


matematika yang membentuk sejarah dan budaya

8. Membantu siswa untuk melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola,


termasuk aspek keindahan dan kreativitas

9. Membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri dan


penasaran

10. Mengajarkan materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari


seperti dalam sains, ekonomi, bisnis ataupun teknik

Beberapa ciri yang diungkapkan Haglund tersebut sebenarnya mengarah pada


ciri-ciri pembelajaran yang menekankan pada aspek berpikir kreatif atau kreativitas
siswa (Siswono, 2007). Sejalan dengan hal tersebut Djamilah (dalam Sinaga, 2013)
mengungkapkan bahwa pembelajaran akan berlangsung secara humanisme manakala
guru mampu memperlakukan siswa secara manusiawi. Artinya percaya bahwa pada
dasarnya siswa itu dapat belajar, dapat menemukan sesuatu, dapat memecahkan
masalah, dapat bekerja sama dan dapat menghargai keindahan dan kegunaan
matematika. Tentu saja melaksanakan pembelajaran matematika humanisme ini
tidaklah mudah. Guru perlu benar-benar mengenal karakter pribadi setiap siswa,
merencanakan skenario pembelajaran secara rinci dan mempersiapkan rancangan
pembelajaran yang diperlukan sebaik mungkin.

Pada dasarnya matematika humanisme melibatkan pengajaran yang berisi


konten humanisme (humanistic content) dengan menggunakan pendidikan
humanisme (humanistic pedagogy) dalam keyakinan bahwa kekurangan motivasi
siswa merupakan akar penyebab dari masalah-masalah sikap dan literasi dalam
pendidikan matematika.

Menurut Haglund (dalam Siswono, 2007), gerakannya adalah mencari kembali


proses-proses pendidikan yang menyenangkan (excitement) dan menantang
(wonderment) dengan kegiatan-kegiatan penemuan (discovery) dan kreasi/karyacipta.
Dengan demikian matematika humanisme mengarahkan pada pembelajaran yang
memberikan keleluasaan siswa untuk belajar secara aktif yang menyenangkan dan
memberikan kebebasan siswa untuk tertantang melakukan kreasi-kreasi sehingga
mendorong kreativitasnya.

Lebih lanjut Budiningsih (dalam Sinaga, 2013) mengatakan bahwa teori


humanisme akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada
dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks
manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuan.

32
Ide-ide dan konsep-konsep yang telah dirumuskan dapat membantu para guru
untuk memahami hakikat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka
dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan,
penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi,
ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut. Dalam prakteknya teori
humanisme ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan
pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.

2.9 Manfaat Penerapan Teori Pembelajaran Matematika Humanisme


Menurut Sinaga (2013) manfaat dari diberlakukannya pembelajaran matematika
humanisme ini meliputi:

1. Kegiatan siswa yang saling bekerja sama satu sama lain dapat berpotensi
membangun karakter tanggung jawab, toleransi dan demokratis

2. Kegiatan siswa dalam menemukan sesuatu berpotensi membangun karakter


rasa ingin tahu, kreatif dan mandiri

3. Kegiatan siswa dalam memecahkan masalah berpotensi membangun karakter


tidak mudah menyerah. Dan jika permasalahan diambil dari kehidupan sehari-
hari seperti budaya dan bangsa sendiri maka hal ini akan menimbulkan
karakter cinta tanah air, peduli masalah sosial dan masyarakat serta lingkungan
hidup

4. Kegiatan siswa dalam menghargai keindahan dan kegunaan matematika dapat


berpotensi membangun karakter religiusnya dengan pemberian motivasi.

2.10 Kendala dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Humanisme


Teori humanisme sering dikritik karena sukar diterapkan daam konteks yang
lebih praktis. Teori ini diangagap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori
kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar
menterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkret dan praktis.
Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori
humanisme mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran
untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Semua komponen pendidikan temasuk tujuan pendidikan diarahkan pada


terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang
mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana
perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya, pemahaman terhadap
dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu
dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran.
Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang
dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas ke arah mana ia akan
berkembang. Dengan demikian teori humanisme mampu menjelaskan bagaimana
tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.

33
Teori humanisme akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah
belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan
dalam konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai
tujuannya. Meskipun teori humanisme ini masih sukar diterjemahkan ke dalam
langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori
ni amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah
dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat
kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan
komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi,
pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah
pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.

2.11 Implikasi Teori Humanisme

Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini
adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas
fasilitator.

a) Guru sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi


kelompok, atau pengalaman kelas

b) Guru membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di


dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.

c) Guru mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk


melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

d) Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang


paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan
mereka.

e) Guru menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk
dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

f) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan


menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba
untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi
kelompok

g) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat


berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota
kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti
siswa yang lain.

34
h) Guru mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga
pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu
andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa

i) Guru harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya


perasaan yang dalam dan kuat selama belajar

2.12 Implementasi Humanisme dalam Pembelajaran Matematika


1. Untuk Tingkat Sekolah Dasar

Tujuan: siswa dapat menggunakan satuan pengukuran panjang tidak baku


untuk mengukur tinggi menara (SD kelas I)

Guru memulai pelajaran dengan menyampaikan konteks “membuat


menara”. Siswa juga diminta bercerita tentang menara yang pernah dilihat dan
kegunaan menara tersebut. Guru menjelaskan bahwa menara yang akan dibuat
berguna untuk berlindung dari tsunami. Oleh karena itu siswa diminta membuat
menara setinggi mungkin. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
Sebelumnya guru mempersiapkan berbagai kotak bekas atau benda-benda ruang
yang bekas, yang akan dibagikan pada setiap kelompok. Wakil setiap kelompok
menceritakan alasan mereka membuat menara. Beberapamenara yang dibuat siswa
SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh (sekolah mitra PMRI Unsyiah) dapat dilihat pada
foto berikut.

Siswa membuat menara setinggi mungkin lalu mengidentifikasi benda-benda


ruang yang digunakan. Pada pembelajaran ini terlihat bahwa siswa menyelesaikan
masalah yang bermakna, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa (mudah
dibayangkan siswa), pembelajaran juga berlangsung interaktif, adanya kebebasan
berfikir dan berpendapat, dan menemukan suatu konsep tentang tinggi benda,
sehingga pembelajaran matematika berlangsung secara humanistik dan realistik.

35
2. Untuk tingkat SMP
a) Kasus yang diberikan dalam pembelajaran sebagai berikut.
 Kasus I

Seorang guru SMP menjelaskan kepada siswanya tentang macam-macam


bilangan. Ketika menerangkan bilangan cacah, beliau memberikan definisi
bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari nol (0,1,2,3, … ). Dari
penjelasan tersebut siswa hanya akan menangkap pesan bahwa bilangan yang
dimulai dari nol dinamakan bilangan cacah, dan tidak mengetahui untuk apa
bilangan cacah itu dalam kehidupan, kecuali siswa yang berusaha untuk mencari
jawabannya.

 Kasus II

Dalam kasus II ini hampir sama dengan kasus I, tetapi ada sedikit
perbedaan, di mana guru tersebut berusaha menjelaskan bagaimana bilangan-
bilangan itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Bilangan cacah
dijelaskan, bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari nol yang
jika kita amati dalam kehidupan, bilangan cacah ini digunakan untuk
menyatakan jumlah objek atau barang”. Kata guru ketika menjelaskan. Lalu ada
salah satu siswa yang bertanya, “Kalau begitu, berarti ada objek yang jumlahnya
nol, bu?”. Kemudian guru tersebut mengajak para siswa untuk ke halaman
sekolah. Guru tersebut bertanya: “Berapa banyak sepeda yang diparkir di
halaman sekolah ini?”. Dengan serentak siswa menjawab: “ada sepuluh buah
sepeda, bu”. Selanjutnya guru tersebut bertanya lagi, “Berapa jumlah mobil
yang diparkir di halaman sekolah ini?”. “Tidak ada , Bu”. Jawab siswa
serempak. Dari jawaban inilah, kemudian guru menjelsakan bahwa ada objek
yang berjumlah nol, dalam hal ini jumlah mobil yang di parkir di halam
sekolah. Nol adalah bilangan cacah yang dapat digunakan untuk menyatakan
jumlah obyek kosong atau tidak ada.

Dari dua kasus di atas, tentunya kita dapat menemukan perbedaan yang sangat
menonjol di antara dua kasus tersebut. Kasus II tentunya lebih manusiawi,
karena dalam proses pembelajaran guru berusaha mengaitkan langsung materi
pelajaran yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata. Sedangkan pada kasus
I guru hanya menerangkan definisi bilangan cacah tanpa menjelaskan
kegunaannya.

b) Tujuan: menemukan rumus gradien garis (SMP Kelas VIII)

Guru meminta siswa memperhatikan bentuk atap kedua rumah adat


berikut.

36
Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan: “Pada atap rumah yang
manakah air hujan lebih cepat turun (mencapai tanah)?”, “Atap rumah manakah
yang kemiringannya lebih besar?” Jelaskan! Dapatkah kamu menentukan
kemiringan dari atap rumah tersebut? Untuk sampai pada pengetahuan formal
matematika, yaitu menemukan rumus gradien garis, guru menggiring siswa
dengan langkah seperti terlihat pada tabel berikut.

Pertanyaan Guru Aktivitas Penalaran


1. Guru menggambar bermacam kemiringan kayu Mengajukan
yang disandarkan pada tembok, yang disertai pertanyaan analitis,
dengan ukuran, seperti berikut. kreatif, kritis, dan
praktis; mengamati
pola dan
keteraturan;
mengajukan
hipotesis

Pada gambar yang manakah posisi kayu memiliki


kemiringan paling besar? Jelaskan!
- Pada gambar yang manakah posisi kayu memiliki
kemiringan paling kecil? Jelaskan!
- Adakah posisi kayu yang memiliki kemiringan
sama?” Jelaskan!

37
2. Untuk menggiring siswa menemukan gradien garis, Mengajukan
guru membuat beberapa garis pada grafik cartesius pertanyaan analitis,
kreatif, kritis, dan
praktis; mengamati
pola dan
keteraturan;
mengajukan
hipotesis;
Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan berikut. mengaitkan konsep
- Manakah garis yang mempunyai kemiringan gradien dengan
“paling besar”, “paling kecil”, dan sama?” garis lurus dan
- “ukuran-ukuran apa saja yang mempengaruhi koordinat;
kemiringan garis?” membuktikan
- “Dapatkah kamu menghitung kemiringan garis hipotesis
tersebut, bagaimana kamu menentukannya”?
3. Guru mengajukan pertanyaan “menantang” tentang Menyajikan
gradien garis vertikal (AB) dan horizontal penalaran yang
(CD),seperti gambar berikut. cacat; mengajukan
pertanyaan analitis,
kreatif, dan kritis;
mengajukan
hipotesis;
membuktikan
hipotesis
4. Guru bersama siswa menyusun rumus umum Menggunakan
gradien penalaran untuk
garis membuat
generalisasi
matematika;
membentuk
jaringan
pengetahuan
matematika, dan
menuju pada
memori
matematika.

Kegiatan pembelajaran gradien di atas diawali dengan penyajian masalah


realistik, lalu siswa menyelesaikan masalah realistik tersebut (matematika
horizontal) dan siswa digiring untuk membuat generalisasi tentang rumus
gradien berdasarkan strategi informal meraka (matematika vertikal). Hal ini
sesuai dengan langkah pembelajaran matematika realistik.

38
Selanjutnya, ketika siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi rumus
gradien garis berdasarkan diskusi antar siswa dan guru, berarti guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk aktif mencari, menyelidiki, mengajukan
hipotesis, menguji, merumuskan, membuktikan, menjelaskan, dan memberikan
interpretasi terhadap apa yang sedang dipelajari, dengan mengumpulkan dan
menggunakan informasi baru untuk mengubah, dan saling melengkapi. Dengan
demikian guru telah menerapkan pembelajaran matematika humanistik.

39
KESIMPULAN

Humanisme adalah sekelompok filosof dan perspektif etis yang menekankan


nilai dan badan manusia secara individual dan kolektif, dan umumnya lebih memilih
pemikiran individu dan bukti (rasionalisme, empirisme) yang didirikan atas iman.
Humanisme tersebut dapat ditujukan pada pengembangan konsep perkembangan
psikologis siswa dan metode pengajaran yang sesuai dengan perkembangan
humanisme setiap individu. Aliran psikologi humanisme memiliki pandangan tentang
manusia yang memilki keunikan tersendiri, memilki potensi yang perlu
diaktualisasikan dan memilki dorongan-dorongan yang murni berasal dari dalam
dirinya. Berlandaskan salah satu teori Abraham Maslow yang mengatakan salah satu
kebutuhan individu adalah kebutuhan mengaktualisasikan diri. Menurut Maslow
banyak orang yang enggan mengaktualisasikan dirinya dan lebih memilih untuk
melakukan apapun yang dapat membuat harga diri mereka naik. Padahal
pengaktualisasian diri ini sangat diperlukan agar manusia dapat mengetahui siapa diri
mereka sebenarnya dan dapat mengembangkannya kearah yang lebih baik.

Teori Maslow ini dapat menjadi teori pendukung dalam pembentukan teori
belajar humanisme dimana sikap para pengaktualisasi diri ini dapat kita terapkan
pada pembelajaran sehingga para siswa nantinya mampu memotivasi pertumbuhan
batin mereka sendiri agar mereka tidak lagi menjadi manusia yang melakukan sesuatu
seperti belajar tanpa mengetahui esensinya. Teori belajar humanisme nantinya akan
mampu membuat peserta didik memahami lingkungan dan dirinya sendiri, jadi rasa
ketidakpercayaan diri mereka dapat teratasi. Menurut Teori humanisme, tujuan
belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si
pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya
harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal.

Teori belajar Arthur W. Combs yang dikenal dengan Meaning (makna atau
arti). Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan
materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan siswa. Anak tidak bisa
matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan
terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus
mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari
ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya. Dalam prakteknya teori humanisme ini cenderung mengarahkan
siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Maka dari itu pembelajaran
humanis ini pantas diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Pembelajaran matematika yang memperhatikan sisi-sisi manusiawi siswa


dikenal dengan pembelajaran matematika humanis. Sisi-sisi manusiawi yang
dimaksud adalah adanya keterlibatan atak dan emosi dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Pembelajaran matematika yang humanis direkomendasikan untuk
digunakan guru untuk mengembangkan karakter siswa. Dengan melaksanakan

40
pembelajaran matematika yang humanis dan dengan ketulusan hati untuk bersedia
terus menerus belajarm, seorang guru akan memiliki kontribusi nyata terhadap
pembangunan karakter dirinya dan siswa.

41
DAFTAR PUSTAKA

Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: PT Indeks.

Sedulloh Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.

iii