Anda di halaman 1dari 66

VISI MISI KEMENKES

NAWACITA
Kementerian Kesehatan berperan serta dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat
melalui agenda prioritas Kabinet Kerja atau yang dikenal dengan Nawa Cita, sebagai berikut:

 Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan


rasa aman pada seluruh warga Negara.
 Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.
 Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan.
 Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum
yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.
 Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
 Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional.
 Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestik.
 Melakukan revolusi karakter bangsa.
 Memperteguh ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

VISI
Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi Presiden Republik Indonesia yaitu
Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-
royong. Visi tersebut diwujudkan dengan 7 (tujuh) misi pembangunan yaitu:

 Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah,


menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan
mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
 Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan
negara hukum.
 Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai
negara maritim.
 Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.
 Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
 Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan
berbasiskan kepentingan nasional, serta
 Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

NILAI-NILAI
Pro Rakyat
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu
mendahulukan kepentingan rakyat dan harus menghasilkan yang terbaik untuk rakyat.
Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu
hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama dan status sosial ekonomi.

Inklusif
Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak, karena
pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan
saja. Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang
meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat
madani dan masyarakat akar rumput.

Responsif
Program kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam
mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi
geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang
berbeda-beda, sehingga diperlukan penangnganan yang berbeda pula.

Efektif
Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan
dan bersifat efisien.

Bersih
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN), transparan, dan akuntabel.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (disingkat BKKBN) adalah
Lembaga Pemerintah Nonkementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden melalui Menteri Kesehatan. BKKBN mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
Dalam melaksanakan tugas, BKKBN menyelenggarakan fungsi:

1. perumusan kebijakan nasional di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan


keluarga berencana;
2. penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengendalian penduduk
dan penyelenggaraan keluarga berencana;
3. pelaksanaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana;
4. penyelenggaraan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang pengendalian
penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana;
5. penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi di bidang pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana;
6. pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi di bidang pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana.[1]

Selain fungsi di atas, BKKBN juga menyelenggarakan fungsi:

1. penyelenggaraan pelatihan, penelitian, dan pengembangan di bidang pengendalian


penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana;
2. pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi umum di lingkungan
BKKBN;
3. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BKKBN;
4. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BKKBN; dan
5. penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana.[1]

ejarah
Periode Perintisan (1950-an – 1966)

Organisasi keluarga berencana dimulai dari pembentukan Perkumpulan Keluarga Berencana


pada tanggal 23 Desember 1957 di gedung Ikatan Dokter Indonesia. Nama perkumpulan itu
sendiri berkembang menjadi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) atau
Indonesia Planned Parenthood Federation (IPPF). PKBI memperjuangkan terwujudnya
keluarga-keluarga yang sejahtera melalui 3 macam usaha pelayanan yaitu mengatur
kehamilan atau menjarangkan kehamilan, mengobati kemandulan serta memberi nasihat
perkawinan.

Pada tahun 1967, PKBI diakui sebagai badan hukum oleh Departemen Kehakiman. Kelahiran
Orde Baru pada waktu itu menyebabkan perkembangan pesat usaha penerangan dan
pelayanan KB di seluruh wilayah tanah air.

Dengan lahirnya Orde Baru pada bulan maret 1966 masalah kependudukan menjadi fokus
perhatian pemerintah yang meninjaunya dari berbagai perspektif. Perubahan politik berupa
kelahiran Orde Baru tersebut berpengaruh pada perkembangan keluarga berencana di
Indonesia. Setelah simposium Kontrasepsi di Bandung pada bulan Januari 1967 dan Kongres
Nasional I PKBI di Jakarta pada tanggal 25 Februari 1967.

Periode Keterlibatan Pemerintah dalam Program KB Nasional

Pada tanggal 16 Agustus 1967 di depan Sidang DPRGR, Presiden Soeharto pada pidatonya
“Oleh karena itu kita harus menaruh perhatian secara serius mengenai usaha-usaha
pembatasan kelahiran, dengan konsepsi keluarga berencana yang dapat dibenarkan oleh
moral agama dan moral Pancasila”. Sebagai tindak lanjut dari Pidato Presiden tersebut,
Menkesra membentuk Panitia Ad Hoc yang bertugas mempelajari kemungkinan program KB
dijadikan Program Nasional. Selanjutnya pada tanggal 7 September 1968 Presiden
mengeluarkan Instruksi Presiden No. 26 tahun 1968 kepada Menteri Kesejahteraan Rakyat,
yang isinya antara lain:

1. membimbing, mengkoordinir serta mengawasi segala aspirasi yang ada di dalam masyarakat
di bidang Keluarga Berencana.
2. mengusahakan segala terbentuknya suatu Badan atau Lembaga yang dapat menghimpun
segala kegiatan di bidang Keluarga Berencana, serta terdiri atas unsur Pemerintah dan
masyarakat.

Berdasarkan Instruksi Presiden tersebut Menkesra pada tanggal 11 Oktober 1968


mengeluarkan Surat Keputusan No. 35/KPTS/Kesra/X/1968 tentang Pembentukan Tim yang
akan mengadakan persiapan bagi Pembentukan Lembaga Keluarga Berencana. Setelah
melalui pertemuan-pertemuan Menkesra dengan beberapa menteri lainnya serta tokoh-tokoh
masyarakat yang terlibat dalam usaha KB, Maka pada tanggal 17 Oktober 1968 dibentuk
Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) dengan Surat Keputusan No.
36/KPTS/Kesra/X/1968. Lembanga ini statusnya adalah sebagai Lembaga Semi Pemerintah.

Periode Pelita I (1969-1974)

Periode ini mulai dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
berdasarkan Keppres No. 8 Tahun 1970 dan sebagai Kepala BKKBN adalah dr. Suwardjo
Suryaningrat. Dua tahun kemudian, pada tahun 1972 keluar Keppres No. 33 Tahun 1972
sebagai penyempurnaan Organisasi dan tata kerja BKKBN yang ada. Status badan ini
berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berkedudukan langsung
dibawah Presiden.

Untuk melaksanakan program keluarga berencana di masyarakat dikembangkan berbagai


pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan program dan situasi serta kondisi
masyarakat. Pada Periode Pelita I dikembangkan Periode Klinik (Clinical Approach) karena
pada awal program, tantangan terhadap ide keluarga berencana (KB) masih sangat kuat,
untuk itu pendekatan melalui kesehatan yang paling tepat.

Periode Pelita II (1974-1979)

Kedudukan BKKBN dalam Keppres No. 38 Tahun 1978 adalah sebagai lembaga pemerintah
non-departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas
pokoknya adalah mempersiapkan kebijaksanaan umum dan mengkoordinasikan pelaksanaan
program KB nasional dan kependudukan yang mendukungnya, baik di tingkat pusat maupun
di tingkat daerah serta mengkoordinasikan penyelenggaraan pelaksanaan di lapangan.
Periode ini pembinaan dan pendekatan program yang semula berorientasi pada kesehatan ini
mulai dipadukan dengan sector-sektor pembangunan lainnya, yang dikenal dengan
Pendekatan Integratif (Beyond Family Planning). Dalam kaitan ini pada tahun 1973-1975
sudah mulai dirintis Pendidikan Kependudukan sebagai pilot project.

Periode Pelita III (1979-1984)

Periode ini dilakukan pendekatan Kemasyarakatan (partisipatif) yang didorong peranan dan
tanggung jawab masyarakat melalui organisasi/institusi masyarakat dan pemuka masyarakat,
yang bertujuan untuk membina dan mempertahankan peserta KB yang sudah ada serta
meningkatkan jumlah peserta KB baru. Pada masa periode ini juga dikembangkan strategi
operasional yang baru yang disebut Panca Karya dan Catur Bhava Utama yang bertujuan
mempertajam segmentasi sehingga diharapkan dapat mempercepat penurunan fertilitas. Pada
periode ini muncul juga strategi baru yang memadukan KIE dan pelayanan kontrasepsi yang
merupakan bentuk “Mass Campaign” yang dinamakan “Safari KB Senyum Terpadu”.

Periode Pelita IV (1983-1988)

Pada masa Kabinet Pembangunan IV ini dilantik Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai Kepala
BKKBN menggantikan dr. Suwardjono Suryaningrat yang dilantik sebagai Menteri
Kesehatan. Pada masa ini juga muncul pendekatan baru antara lain melalui Pendekatan
koordinasi aktif, penyelenggaraan KB oleh pemerintah dan masyarakat lebih disinkronkan
pelaksanaannya melalui koordinasi aktif tersebut ditingkatkan menjadi koordinasi aktif
dengan peran ganda, yaitu selain sebagai dinamisator juga sebagai fasilitator. Disamping itu,
dikembangkan pula strategi pembagian wilayah guna mengimbangi laju kecepatan program.

Pada periode ini juga secara resmi KB Mandiri mulai dicanangkan pada tanggal 28 Januari
1987 oleh Presiden Soeharto dalam acara penerimaan peserta KB Lestari di Taman Mini
Indonesia Indah. Program KB Mandiri dipopulerkan dengan kampanye LIngkaran Biru
(LIBI) yang bertujuan memperkenalkan tempat-tempat pelayanan dengan logo Lingkaran
Biru KB.

Periode Pelita V (1988-1993)

Pada masa Pelita V, Kepala BKKBN masih dijabat oleh Prof. Dr. Haryono Suyono. Pada
periode ini gerakan KB terus berupaya meningkatkan kualitas petugas dan sumberdaya
manusia dan pelayanan KB. Oleh karena itu, kemudian diluncurkan strategi baru yaitu
Kampanye Lingkaran Emas (LIMAS). Jenis kontrasepsi yang ditawarkan pada LIBI masih
sangat terbatas, maka untuk pelayanan KB LIMAS ini ditawarkan lebih banyak lagi jenis
kontrasepsi, yaitu ada 16 jenis kontrepsi.

Pada periode ini ditetapkan UU No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993
khususnya sub sector Keluarga Sejahtera dan Kependudukan, maka kebijaksanaan dan
strategi gerakan KB nasional diadakan untuk mewujudkan keluarga Kecil yang sejahtera
melalui penundaan usia perkawinan, penjarangan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga
dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Periode Pelita VI (1993-1998)

Pada Pelita VI dikenalkan pendekatan baru yaitu “Pendekatan Keluarga” yang bertujuan
untuk menggalakan partisipasi masyarakat dalam gerakan KB nasional. Dalam Kabinet
Pembangunan VI sejak tanggal 19 Maret 1993 sampai dengan 19 Maret 1998, Prof. Dr.
Haryono Suyono ditetapkan sebagai Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN,
sebagai awal dibentuknya BKKBN setingkat Kementerian.

Pada tangal 16 Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono diangkat menjadi Menteri Koordinator
Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan merangkap sebagai Kepala
BKKBN. Dua bulan berselang dengan terjadinya gerakan reformasi, maka Kabinet
Pembangunan VI mengalami perubahan menjadi Kabinet Reformasi Pembangunan Pada
tanggal 21 Mei 1998, Prof. Haryono Suyono menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesra dan
Pengentasan Kemiskinan, sedangkan Kepala BKKBN dijabat oleh Prof. Dr. Ida Bagus Oka
sekaligus menjadi Menteri Kependudukan.

Periode Pasca Reformasi

Dari butir-butir arahan GBHN Tahun 1999 dan perundang-undangan yang telah ada, Program
Keluarga Berencana Nasional merupakan salah satu program untuk meningkatkan kualitas
penduduk, mutu sumber daya manusia, kesehatan dan kesejahteraan sosial yang selama ini
dilaksanakan melalui pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan
ketahanan keluarga dan kesejahteraan keluarga. Arahan GBHN ini kemudian dijabarkan lebih
lanjut dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) yang telah ditetapkan sebagai
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000.

Sejalan dengan era desentralisasi, eksistensi program dan kelembagaan keluarga berencana
nasional di daerah mengalami masa-masa kritis. Sesuai dengan Keppres Nomor 103 Tahun
2001, yang kemudian diubah menjadi Keppres Nomor 09 Tahun 2004 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen menyatakan bahwa sebagian urusan di bidang keluarga berencana diserahkan
kepada pemerintah kabupaten dan kota selambat-lambatnya Desember 2003. Hal ini sejalan
dengan esensi UU Nomor 22 Tahun 1999 (telah diubah menjadi Undang- Undang Nomor 32
Tahun 2004). Dengan demikian tahun 2004 merupakan tahun pertama Keluarga Berencana
Nasional dalam era desentralisasi.

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan pada tanggal 29 Oktober 2009, berimplikasi
terhadap perubahan kelembagaan, visi, dan misi BKKBN. Undang-Undang tersebut
mengamanatkan perubahan kelembagaan BKKBN yang semula adalah Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional. Visi BKKBN adalah “Penduduk Tumbuh Seimbang 2015” dengan misi
“mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga
kecil bahagia sejahtera”. Untuk mencapai visi dan misi tersebut, BKKBN mempunyai tugas
dan fungsi untuk melaksanakan pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga
berencana sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 56 Undang-Undang tersebut di atas. Dalam
rangka pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana di daerah,
pemerintah daerah membentuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah yang
selanjutnya disingkat BKKBD di tingkat provinsi dan kabupaten dan kota yang dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki hubungan fungsional dengan BKKBN (pasal 54
ayat 1 dan 2).

Peran dan fungsi baru BKKBN diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun
2013 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Kementerian; Peraturan Kepala BKKBN Nomor 82/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Provinsi dan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 92/PER/B5/2011 tentang
Organisasi Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga
Berencana, sehingga perlu dilakukan perubahan/penyesuaian terhadap Renstra BKKBN
tentang Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2010-2014
meliputi penyesuaian untuk beberapa kegiatan prioritas dan indikator kinerjanya.

Pasca Reformasi Kepala BKKBN telah mengalami beberapa pergantian yaitu pada periode
Kabinet Persatuan Indonesia, Kepala BKKBN dirangkap oleh Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan yang dijabat oleh Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu digantikan oleh Prof. Dr.
Yaumil C. Agoes Achir pada tahun 2001 dan meninggal dunia pada akhir 2003 akibat
penyakit kanker dan yang kemudian terjadi kekosongan. Pada tanggal 10 November 2003,
Kepala Litbangkes Departemen Kesehatan dr. Sumarjati Arjoso, SKM dilantik menjadi
Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi sampai beliau memasuki masa
pensiun pada tahun 2006. Setelah itu digantikan oleh Dr. Sugiri Syarief, MPA yang dilantik
sebagai Kepala BKKBN pada tanggal 24 Nopember 2006.

Sebagai tindak lanjut dari UU 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarha Sejahtera, di mana BKKBN kemudian direstrukturisasi menjadi
badan kependudukan, bukan lagi badan koordinasi, maka pada tanggal 27 September 2011
Kepala BKKBN, Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA akhirnya dilantik sebagai Kepala Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN).

Pada tanggal 13 Juni 2013 akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan
mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Fasli Jalal sebagai Kepala Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).[2]

Susunan Organisasi
BKKBN terdiri atas:

1. Kepala;
2. Sekretariat Utama;
3. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk;
4. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi;
5. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga;
6. Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi;
7. Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan; dan
8. Inspektorat Utama. [1]
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di
Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. Fungsi dan
tugas badan ini menyerupai fungsi dan tugas Food and Drug Administration (FDA) di Amerika
Serikat dan European Medicines Agency di Uni Eropa.

Fungsi
Badan Pengawas Obat dan Makanan, yang selanjutnya disingkat BPOM adalah lembaga
pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pengawasan Obat dan Makanan. BPOM berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden melalui menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

BPOM mempunyai tugas menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan Obat


dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Obat dan Makanan
terdiri atas obat, bahan obat, narkotika, psikotropika, prekursor, zat adiktif, obat tradisional,
suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan.

Dalam melaksanakan tugas pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan Perpres Nomor 80
Tahun 2017, BPOM menyelenggarakan fungsi:

1. penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan;


2. pelaksanaan kebijakan nasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan;
3. penyusunan dan penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang Pengawasan
Sebelum Beredar dan Pengawasan Selama Beredar;
4. pelaksanaan Pengawasan Sebelum Beredar dan Pengawasan Selama Beredar;
5. koordinasi pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan dengan instansi pemerintah pusat
dan daerah;
6. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengawasan Obat dan Makanan;
7. pelaksanaan penindakan terhadap pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan
di bidang pengawasan Obat dan Makanan;
8. koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada
seluruh unsur organisasi di lingkungan BPOM;
9. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BPOM;
10. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BPOM; dan
11. pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di
lingkungan BPOM.

Periode zaman penjajahan sampai perang kemerdekaan

Tonggak sejarah kefarmasian di Indonesia pada umumnya diawali dengan pendidikan asisten
apoteker semasa pemerintahan Hindia Belanda. Pendidikan asisten apoteker semula
dilakukan di tempat kerja yaitu di apotik oleh apoteker yang mengelola dan memimpin
sebuah apotek. Setelah calon apoteker bekerja dalam jangka waktu tertentu di apotek dan
dianggap memenuhi syarat, maka diadakan ujian pengakuan yang diselenggarakan oleh
pemerintah Hindia Belanda. Dari buku Verzameling Voorschriften tahun 1936 yang
dikeluarkan oleh Devanahalli Venkataramanaiah Gundappa (DVG) yang merupakan seorang
penulis dan jurnalis, dapat diketahui bahwa Sekolah Asisten Apoteker didirikan dengan Surat
Keputusan Pemerintah No. 38 tanggal 7 Oktober 1918, yang kemudian diubah dengan Surat
Keputusan No. 15 (Stb No. 50) tanggal 28 Januari 1923 dan No. 45 (Stb. No. 392) tanggal 28
Juni 1934 dengan nama Leergang voor de opleleiding van apotheker-bedienden onder den
naam van apothekers-assisten school".

Peraturan ujian asisten apoteker dan persyaratan ijin kerja diatur dalam Surat Keputusan
Kepala DVG No. 8512/ F tanggal 16 Maret 1933 yang kemudian diubah dengan Surat
Keputusan No. 27817/ F tanggal 8 September 1936 dan No. 11161/ F tanggal 6 April 1939.
Dalam peraturan tersebut, antara lain dinyatakan bahwa persyaratan untuk menempuh ujian
apoteker harus berijasah MULO bagian B, memiliki Surat Keterangan bahwa calon telah
melakukan pekerjaan kefarmasian secara terus menerus selama 20 bulan di bawah
pengawasan seorang apoteker di Indonesia yang memimpin sebuah apotek, atau telah
mengikuti pendidikan asisten apoteker di Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang mulai dirintis Pendidikan Tinggi Farmasi di Indonesia dan
diresmikan pada tanggal 1 April 1943 dengan nama Yakugaku sebagai bagian dari Jakarta
Ika Daigaku. Pada tahun 1944 Yakugaku diubah menjadi Yaku Daigaku.

Periode setelah perang kemerdekaan sampai dengan tahun 1958

Pada periode tahun 1950an jumlah tenaga farmasi, terutama tenaga asisten apoteker mulai
bertambah dalam jumlah yang relatif besar. Namun pada tahun 1953 terdapat kekurangan
tenaga apoteker sehingga pemerintah mengeluarkan Undang- Undang No. 3 tentang
Pembukuan Apotek. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang ini, untuk membuka sebuah
apotek boleh dilakukan dimana saja dan tidak memerlukan izin dari pemerintah.

Dengan adanya undang-undang ini, maka pemerintah dapat melarang kota-kota tertentu
untuk mendirikan apotek baru karena jumlahnya sudah dianggap cukup memadai. Izin
pembukaan apotek hanya diberikan untuk daerahdaerah yang belum ada atau belum memadai
jumlah apoteknya. Undang-undang No. 3 ini kemudian diikuti dengan dikeluarkannya
Undang-undang No. 4 tahun 1953 tentang apotek darurat, yang membenarkan seorang asisten
apoteker untuk memimpin sebuah apotek. Undang-undang tentang apotek darurat ini
sebenarnya harus berakhir pada tahun 1958 karena klausula yang termaktub dalam
undangundang tersebut yang menyatakan bahwa undang- undang tersebut tidak berlaku lagi 5
tahun setelah apoteker pertama dihasikan oleh Perguruan Tinggi Farmasi di Indonesia. Akan
tetapi, karena lulusan apoteker ternyata sangat sedikit, undangundang ini diperpanjang
sampai tahun 1963 dan perpanjangan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No. 770/ Ph/ 63/ b tanggal 29 Oktober 1983.

Periode tahun 1958 sampai dengan 1967

Pada periode ini meskipun usaha untuk memproduksi obat telah banyak dirintis, dalam
kenyataannya industri-industri farmasi menghadapi hambatan dan kesulitan yang cukup
berat, antara lain kekurangan devisa dan terjadinya sistem penjatahan bahan baku obat
sehingga industri yang dapat bertahan hanyalah industri yang mendapat jatah atau mereka
yang mempunyai relasi dengan luar negeri. Oleh karena itu, penyediaan obat menjadi sangat
terbatas dan sebagian besar berasal dari import. Sementara itu karena pengawasan belum
dapat dilakukan dengan baik, banyak terjadi kasus bahan baku maupun obat jadi yang tidak
memenuhi standar.
Pada periode ini pula ada hal penting yang patut dicatat dalam sejarah kefarmasian Indonesia,
yakni berakhirnya apotek-dokter dan apotek darurat. Dengan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No. 33148/ Kab/ 176 tanggal 8 Juni 1962, antara lain:

 Tidak dikeluarkannya lagi izin baru untuk pembukaan apotek-dokter


 Semua izin apotek-dokter dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Januari 1963

Sedangkan berakhirnya apotek darurat ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri


Kesehatan No. 770/ Ph/ 63/ b tanggal 29 Oktober 1963 yang isinya antara lain:

 Tidak lagi dikeluarkan izin baru untuk pembukaan apotek darurat


 Semua izin apotek darurat ibukota daerah Tingkat I dinyatakan tidak berlaku lagi sejak
tanggal 1 Februari 1964
 Semua izin apotek darurat di ibukota daerah Tingkat II dan kota-kota lainnya dinyatakan
tidak berlaku sejak tanggal 1 Mei 1964

Pada tahun 1963, sebagai realisasi Undang-Undang Pokok Kesehatan telah dibentuk
Lembaga Farmasi Nasional (Surat Keputusan Menteri No. 39521/ Kab/199 tanggal 11 Juni
1963). Dengan demikian pada waktu itu ada dua instansi pemerintah di bidang kefarmasian
yaitu Direktorat Urusan Farmasi dan Lembaga Farmasi Nasional. Direktorat Urusan Farmasi
yang semula Ispektorat Farmasi pada tahun 1967 mengalami pemekaran organisasi menjadi
Direktorat Jenderal Farmasi.

Periode Orde Baru

Pada masa orde baru stabilitas politik, ekonomi dan keamanan telah semakin mantap
sehingga pembangunan di segala bidang telah dapat dilaksanakan dengan lebih terarah dan
terencana. Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral Pembangunan Nasional,
dilaksanakan secara bertahap baik pemenuhan sarana pelayanan kesehatan maupun mutu
pelayanan yang semakin baik serta jangkauan yang semakin luas. Hasil-hasil pembangunan
kesehatan yang telah dicapai selama orde baru ini dapat diukur dengan indikator-indikator
penting, antara lain kematian, umur harapan hidup dan tingkat kecerdasan yang semakin
menunjukkan perbaikan dan kemajuan yang sangat berarti.

Pada periode Orde Baru ini pula, pengaturan, pengendalian dan pengawasan di bidang
kefarmasian telah dapat ditata dan dilaksanakan dengan baik. Sehingga pada tahun 1975,
institusi pengawasan farmasi dikembangkan dengan adanya perubahan Direktorat Jenderal
Farmasi menjadi Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Berbagai peraturan
perundangundangan telah dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sebagai basis dan
kerangka landasan untuk melanjutkan pembangunan pada masa-masa mendatang. Terhadap
distribusi obat telah dilakukan penyempurnaan, terutama penataan kembali fungsi apotek
melalui Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980

Periode tahun 2000

Untuk mengoptimalkan pengawasan terhadap obat dan makanan tersebut maka pemerintah
mengambil kebijakan dengan mengadakan perubahan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan, yang mana dahulu Direktorat Jenderal Obat dan Makanan bertanggung jawab
kepada Departemen Kesehatan namun sekarang setelah terjadinya perubahan maka Badan
Pengawasan Obat dan Makanan bertanggung jawab kepada Presiden. Badan Pengawasan
Obat dan Makanan sekarang merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Berdasarkan
Keputusan Presiden No. 103 tahun 2000 dan telah mengalami perubahan melalui Keputusan
Presiden No. 166 tahun 2003.

Kepala Badan POM


Sejarah kepala Badan POM dari masa ke masa:

 Dr. Sampurno, Apt, MBA (2001-2006)


 dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, MKes, SpFK (2006-2010)
 Dra. Kustantinah, Apt, M.App.Sc (2010-2012)
 Dra. Lucky S Slamet, Apt, MSc (2012-2013)
 Dr. Roy Alexander Sparringa, M.App.Sc (2013-Juni 2016)[1]
 Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, M.CP., Ph.D. (20 Juli 2016 - Sekarang)[2]
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup,
maka dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit
dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus. Jika dihentikan dapat
memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa. Zat yang bukan tergolong narkotika dan
psikotropika tetapi menimbulkan ketagihan antara lain kopi, rokok, minuman keras, dll.

Apa saja zat aditif pada makanan yang paling umum, dan
apa efeknya untuk kesehatan?
1. MSG
MSG (monosodium glutamat) alias mecin adalah zat aditif yang digunakan sebagai penyedap
rasa makanan. Tidak hanya terbatas pada makanan kemasan dan cepat saji, masakan rumahan
pun sering juga ditambahkan mecin agar rasanya makin lezat.

Efek MSG terhadap kesehatan sampai saat ini masih jadi topik perdebatan hangat. Beberapa
pakar berpendapat mecin bisa menyebabkan masalah pada saraf dan kerja otak sehingga bikin
Anda jadi “lemot“. Kebanyakan makan mecin juga diduga kuat menjadi penyebab Anda
sering sakit kepala dan mal-mual, sebagai gejala Chinese Restaurant Syndrome. Sementara
itu, sejumla penelitian lain tidak menemukan kaitan khusus antara konsumsi MSG dengan
masalah kesehatan.

Terlepas dari kontroversi seputar bahaya MSG, FDA sudah menyatakan MSG zat tambahan
makanan yang aman digunakan. Keputusan FDA ini disepakati pula oleh Badan Kesehatan
Dunia (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), serta Kementerian Kesehatan RI.
2. Pewarna buatan
Pewarna buatan adalah zat aditif pada makanan yang dipakai untuk mempercantik
penampilan. Makanan yang berwarna cerah dan segar akan menarik minat orang-orang untuk
membeli. Namun, tidak semua pewarna makanan aman digunakan. Beberapa penelitian
menunjukkan pewarna buatan dapat meningkatkan kecenderungan alergi anak dan
hiperaktivitas pada anak dengan ADHD.

Tidak hanya itu. Beberapa pewarna makanan buatan diduga kuat dapat memicu kanker,
misalnya biru berlian (Blue 1), allura red alias Red 40, dan pewarna karamel. Merah 3, atau
dikenal sebagai eritorisin, terbukti dapat meningkatkan risiko tumor tiroid. Meski baru
sebatas penelitian pada hewan, peneliti yakin bahwa efeknya kemungkinan besar sama jika
dikonsumsi oleh manusia.

Ada baiknya untuk memilih makanan tanpa pewarna buatan, atau gunakan perwarna dari
bahan-bahan alami (seperti daun suji untuk warna hijau) untuk menghindari risiko
kemunculan penyakit.
3. Natrium nitrit

Natrium nitrit merupakan zat pengawet dalam daging olahan yang digunakan untuk
mencegah pertumbuhan bakteri. Selain itu, zat aditif pada makanan ini juga menambah rasa
asin dan membuat daging kalengan terlihat pink kemerahan seperti daging segar.

Sayangnya jika terkena suhu panas yang cukup tinggi, zat ini dapat berubah bentuk menjadi
nitrosamin. Nitrosamin dikenal sebagai zat penyebab kanker usus besar, kanker payudara,
kanker kandung kemih, dan juga kanker perut. Untuk itu, usahakan untuk memakan dan
memproses daging segar sendiri untuk menurunkan risiko penyakit kanker.
4. Sirup jagung tinggi fruktosa

Sirup jagung fruktosa merupakan pemanis buatan yang sering ditemukan dalam soda, jus,
permen, sereal, dan berbagai makanan ringan. Sebuah penelitian membuktikan bahan ini
dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes jika sering dikonsumsi dalam porsi
berlebihan.

Selain itu, zat yang satu ini juga dapat memicu peradangan dalam sel yang bisa
mengakibatkan berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung dan kanker. Penelitian juga
membuktikan pemanis ini tidak mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Sebagai gantinya, pilih makanan dan minuman tanpa gula buatan tambahan. Anda bisa
menambahkan madu murni sebagai pengganti gula yang lebih sehat.
5. Pemanis buatan

Pemanis buatan seperti aspartam, sakarin, dan lainnya banyak digunakan dalam makanan dan
minuman manis rendah kalori.

Penelitian membuktikan bahwa pemanis buatan dapat membantu menurunkan berat badan
dan membantu mengelola kadar gula darah di dalam tubuh. Meski lazim digunakan sebagai
pengganti gula pasir yang lebih sehat, konsumsi pemanis buatan yang berlebihan juga
belum tentu baik untuk kesehatan.

Untuk menghindari risiko masalah, para ahli menganjurkan pemanis buatan dikonsumsi tetap
sewajarnya saja.
6. Natrium benzoat

Natrium benzoat adalah zat aditif pada makanan asam serta minuman bersoda. FDA, badan
keamanan obat dan pangan milik Amerika Serikat, telah menyatakan natrium benzoat aman
untuk dikonsumsi.

Meski begitu, beberapa penelitian menunjukkan kombinasi natrium benzoat dan pewarna
makanan buat dapat meningkatkan kecenderungan hiperaktivitas pada anak. Selain itu,
natrium benzoat yang dikombinasikan dengan vitamin C juga dapat berubah menjadi
benzena, zat yang dapat meningkatkan risiko kanker.

Maka, ada baiknya teliti sebelum membeli. Hindari makanan dan minuman yang
mengandung asam benzoat, natrium benzoat, benzena, atau benzoat yang dikombinasikan
dengan vitamin C seperti asam sitrat atau asam askorbat.
7. Perasa buatan

Beberapa minuman dan makanan kemasan dengan embel-embel “rasa asli” kadang
mendapatkan rasanya dengan bantuan perasa buatan.

Penelitian yang dilakukan pada hewan menemukan bukti bahwa perasa buatan ini memiliki
beberapa efek negatif terhadap kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan. Sebuah
penelitian yang dikutip dari Healthline menyatakan bahwa produksi sel darah merah pada
tikus berkurang setelah diberikan perasa buatan selama tujuh hari berturut-turut.

Selain itu, perasa buatan tertentu seperti coklat dan stroberi memiliki efek racun pada sel
sumsum tulang. Sementara perasa anggur, plum, dan jeruk dapat menghambat pembelahan
sel dan memiliki efek racun bagi sumsum tulang. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih
lanjut untuk melihat efeknya pada manusia.

Maka, ada baiknya untuk membatasi konsumsi makanan dengan perasa buatan. Usahakan
untuk membeli makanan atau minuman yang diracik menggunakan bahan-bahan alami untuk
bisa menikmati rasa aslinya.

8. Lemak trans

Lemak trans (trans fat) merupakan minyak sayur terhidrogenasi yang biasanya ditemukan
dalam margarin, biskuit, pop corn, makanan yang digoreng, hingga krimer.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa lemak trans dapat meningkatkan kolesterol
jahat LDL yang lambat laun meningkatkan risiko penyakit jantung.

Untuk itu, ada baiknya untuk membatasi konsumsi makanan yang mengandung lemak trans.
Selain itu, gunakan jenis minyak nabati lain yang lebih aman untuk memasak seperti minyak
zaitun, minyak kanola, dan minyak biji bunga matahari.

Batasi konsumsi makanan yang mengandung zat


tambahan
Selain delapan jenis zat aditif di atas, sebenarnya masih banyak lagi zat kimia yang
ditambahkan ke dalam makanan cepat saji. Semakin banyak porsi yang Anda konsumsi dan
beragam jenisnya, semakin tinggi pula risikonya untuk kesehatan.

Oleh sebab itu, ada baiknya untuk membatasi konsumsi makanan olahan dan kemasan yang
banyak mengandung zat aditif. Siasati dengan memasak sendiri menggunakan bahan-bahan
alami nan segar. Untuk menguatkan rasa, Anda bisa gunakan berbagai rempah penyedap
daripada pakai garam atau MSG.

Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif


Berdasarkan proses pembuatannya di bagi ke dalam 3 Golongan :
1. Alami yaitu jenis ata zat yang di ambil langsung dari alam tanpa adanya proses
fermentasi atau produksi mslnya : Ganja, Mescaline, Psilocybin, Kafein, Opium.
2. Semi Sintesis yaitu jenis zat/obat yang di proses sedemikian rupa melalui proses
fermentasi mslnya : Morfin, Heroin, Kodein, Crack.
3. Sintesis yaitu jenis zat yang di kembangkan untuk keperluan medis yang juga untuk
menghilangkan rasa sakit misal;nya : petidin, metadon, dipipanon, dekstropropokasifen
Menurut efek yang di timbulkan di bagi dalam 3 golongan:
1. Depresan adalah zat atau jenis obat yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional
tubuh. Jenis ini dapat membuat pemakai merasa tenang bahkan tertitur atau tak sadarkan diri
misalnya opioda, opium atau putau , morfin, heroin, kodein opiat sintesis.
2. Stimulan adalah zat atau obat yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
gairah kerja serta kesadaran misalnya : kafein, kokain, nikotin amfetamin atau sabu-sabu.
3. Halusinogen zat atau obat yang menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah
perasaan dan fikiran misalnya : Ganja, Jamur Masrum Mescaline, psilocybin, LSD.

1. Ganja/kanabis/getok/cimeng (masukkan foto-foto contohnya)


2. extacy
3. Kokain
4. Rokok
5. Sabu-sabu
6. Alkohol
7. Analgesic
8. Putaw
9. Pil koplo
10. Masrum
11. LSD

Pengguna napza terbagi dalam 3 tingkatan :

1. User yaitu seseorang yang menggunakan napza sesekali


2. Abuser yaitu seseorang yang menggunakan napza karena alasan tertentu.
3. Addict yaitu seseorang yang menggunakan napza atas dasar kebutuhan artinya jika
tidak di penuhi maka akan timbul efek secara fisik maupun psikis.

Adiksi atau kecanduan ?


“Adiksi adalah sesuatu yang di pelajari berulang kali sehingga menjadi kebiasaan” (CBT
cognitive behavior Theraphy) dapat di sebut sebagai penyakit karena siatnya yang progresif
dan dapat berkembang menjadi lebih parah. Penyakit ini tidak dapat di sembuhkan namun
dapat di pulihkan sehingga membutuhkan terapi seumur hidup.
Siapakah pecandu itu..?
Semua orang dapat menjadi pecandu
Apakah narkoba dapat membuat orang tertular HIV-AIDS ?
Bukan Narkobanya yang menyebabkan orang tertular HIV tetapi prilaku penggunaannya
yang beresiko.
Perilaku seperti apa yang beresiko..?
Menggunakan Jarum suntik satu bergantian dengan teman pakainya

Berarti menggunakan narkoba tanpa di suntikan bukan perilaku beresiko ?


Ya... betul namun dalam kondisi mabuk kontrol seseorang akan menyempit sehigga
memungkinkan terjadinya hubungan sexual yang tidak aman.
Tehnik penyampaian :

1. Secara Personal metodenya komunikasi efektif dalam bentuk dialogis atau tanya
jawab.
2. Secara Kelompok dengan metode diskusi dan sharing pengalaman dengan alat bantu
rokok atau film

Dampak penyalahgunaan Napza:


1. Jasmaniah
- Gangguan pada sistem syaraf; kejang-kejang,halusinasi,gangguan
kesadaran,kerusakan syaraf
- Gangguan pada jantung dan pembuluh darah; imfeksi akut jantung gangguan
peredaran darah
- Gangguan pada kulit; alergi abses pernanahan
- Gangguan pada paru-paru; penekanan fungsi pernafasan, pengerasan jaringan paru2
- Gangguan pada hemopeotik gastrointestinal, penurunan fungsi sistem
reproduksi,gagal ginjal,gangguan pada otot dan tulang serta berpotensi tertular HIV-AIDS
2. Kejiwaan
- Intoksitasi (keracunan) gejala dimana seseorang tgelah merasakan efek penggunaan
narkobanya (Mabuk)
- Toleransi istilah yang di gunakan untuk menunjukan kebutuhan zat seseorang yang
lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama setelah pemakaian berulang.
- Withdrawal Syndrome (gejala Putus Zat) biasa di kenal oleh pecandu dengan sebutan
sakau gejala ini akan hilang jika menggunakan
3. depedensi (ketergantungan) keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan zat
tertentu (Kecanduan )
4. Dampak Sosial
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa prosentase kriminalitas yang terjadi lebih
besarv di timbulkan oleh penyalahgunaan zat psikoaktif yang dapat meningkatkan perilaku
agresif seseorang baik fisik maupun psikis.
Bahasa Jungkie:
Jungkies : pecandu putaw
Etep : Putaw
Ngipe/mistol/ : nyuntik
Pedaw : mabuk karena putaw
Pakau/Wakap : make
Nyabu/Nyebrut/ngebong/ngasap/ : make sabu-sabu
Cimeng/getok : ganja
Bokul : beli narkoba
Am/ample/paket/Amplop : paketan narkoba
Sakaw/wakas : efek saat tubuh membutuhkan zat atau masa putus zat
Ji : gram
Betrik : mengurangi ukuran paket
Suges : rasa rindu untuk menggunakan
Jekpot : muntah karena mabuk
Play/on : mabuk berat
Bede : bandar
Niger : sebutan bagi orang nigeria yang berdagang narkoba
Spion / SP : mata-mata Polisi
Gape : tertangkap polisi
Nyanyi : membocorkan rahasia kepada polisi
Ubas : Sabu-sabu
Spidol/spet/pistol : Jarum Suntik
Pimpeng : memompa darah dengan jarum suntik
Barang : narkoba apapun jenisnya
Imunisasi campak pada bayi umur berapa?
Orang dewasa dan anak-anak yang hanya mendapatkan satu kali suntikan vaksin campak
atau MMR, dapat mendapatkan vaksin MR pada usia berapa pun. Apabila Anak pada usia 9
bulan sudah mendapat vaksin campak, maka vaksin MR dapat diberikan pada usia 15 bulan
atau sesuai jadwal imunisasi MR rutin
\\

Apa itu campak dan rubella?


Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang
disebabkan oleh virus. KOMISI Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya
memutuskan bahwa Vaksin Measles Rubella (MR) diperbolehkan untuk imunisasi. ... Kalau,
belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci.

Kapan imunisasi MR?


Vaksin MR. Ini adalah versi stabil, diperiksa pada tanggal 16 Januari 2018. Ada 1
perubahan tertunda menunggu peninjauan. Vaksin MR atau singkatan dari Measles (M) and
Rubela (R) adalah pengganti vaksin MMR yang sudah menghilang dari pasaran

Vaksin MMR untuk anak usia berapa?


Vaksin MMR diberikan pada saat anak berusia 15-18 bulan dan 6 tahun. Pemberian vaksin
MMR ini akan memicu sistem imun untuk menghasilkan antibodi, yang nantinya akan siap
melawan virus rubella, campak, dan gondon

Imunisasi MMR itu untuk apa?


Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari
penyakit gondong, campak, dan rubella. ... Suntikan ini mengandung virus dari ketiga
penyakit tersebut yang sudah dilemahkan terlebih dahulu

"Hidup sehat adalah hak setiap anak."


tirto.id - Pemerintah menegaskan kepada masyarakat pentingnya Vaksin Measles-Rubella
(MR) dalam mencegah berkembangnya penyakit campak dan rubella. Terlebih, MUI telah
mengeluarkan fatwa yang menyatakan vaksin MR boleh digunakan meskipun mengandung
babi.

"Penyakit campak dan rubella tidak dapat diobati. Pengobatan yang diberikan kepada
penderita hanya bersifat supportif. Tetapi kedua penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi.
Pemerintah telah memberikan imunisasi campak sebagai salah satu program imunisasi
nasional," kata Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F. Moeloek dalam siaran pers-nya, Selasa
(21/8/2018).

Nila menegaskan pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak
dan pengendalian rubella/ Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada 2020. Salah satu
program yang saat ini tengah dijalankan pemerintah adalah upaya pencegahan dengan
imunisasi.

"Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit campak dan rubella.
Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus," tegas Nila.

Vaksin yang digunakan pemerintah, menurutnya, telah mendapat rekomendasi dari WHO dan
izin edar dari Badan POM. Vaksin MR 95 persen efektif untuk mencegah penyakit campak
dan rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

Orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini adalah anak dan orang dewasa yang belum
pernah mendapat imunisasi campak dan rubella, dan yang belum pernah menderita penyakit
tersebut.

Ia juga menerangkan, campak dan rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran
napas yang disebabkan oleh virus.

Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai
dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis), sedangkan gejala penyakit Rubella
tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek,
mata merah dan nyeri persendian, mirip gejala flu.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti diare, radang paru (pneumonia),
radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian.

Sedangkan, rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu
hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau
kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai Sindroma Rubella
Kongenital yang meliputi kelainan pada jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian
dan keterlambatan perkembangan.
Jenis - Jenis Puskesmas - Terdapat dua jenis puskesmas menurut
Departemen Kesehatan RI (2001) yaitu puskesmas perawatan dan
puskesmas nonperawatan.

a. Puskesmas Perawatan (Rawat Inap)

Dalam rangka mengembangkan layanan kesehatan, Provinsi Jawa Timur


berupaya mengembangkan fungsi layanan puskesmas yakni puskesmas
non perawatan dan puskesmas perawatan (rawat inap). Menurut
Setiawan (2012) upaya Provinsi Jawa Timur tersebut bertujuan untuk
meningkatkan akses masyarakat dalam perawatan dan pengobatan.
Puskesmas rawat inap didefinisikan pula sebagai puskesmas yang
dilengkapi ruangan tambahan dan fasilitas untuk menyelamatkan pasien
gawat darurat dan tindakan yang diberikan adalah tindakan operatif
terbatas dan rawat inap sementara (Effendi, 2009). Rawat inap pasien
dilakukan paling sedikit 24 jam perawatan.

Puskesmas Perawatan adalah Puskesmas yang berdasarkan Surat


Keputusan Bupati atau Walikota menjalankan fungsi perawatan dan untuk
menjalankan fungsinya diberikan tambahan ruangan dan fasilitas rawat
inap yang sekaligus merupakan pusat rujukan antara (Departemen
Kesehatan RI, 2007).

Puskesmas perawatan (rawat inap) berfungsi sebagai pusat rujukan


pasien yang gawat darurat sebelum dibawa ke rumah sakit. Tindakan
operatif terbatas seperti kecelakaan lalu lintas, persalinan dengan
penyulit dan penyakit lain yang bersifat gawat darurat. Puskesmas
perawatan sebagai puskesmas rawat inap tingkat pertama memberikan
pelayanan kesehatan yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan,
rehabilitasi medik dengan tinggal di ruang rawat inap puskesmas
(Kepmenkes nomor 28/MENKES/SK/IX/2008).

b. Puskesmas Non Perawatan

Jenis Puskesmas non perawatan hanya melakukan pelayanan kesehatan


rawat jalan (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut
Teknologi Telkom, 2012). Permenkes No.029 tahun 2010 menyebutkan
kegiatan di pelayanan kesehatan rawat jalan yakni observasi, diagnosis,
pengobatan, dan atau pelayanan kesehatan lainnya tanpa dirawat inap.
Penting Sekali Pasien BPJS /JKN untuk mengenal Tipe
Rumah sakit, di indonesia sendiri kelas rumah sakit
dibagi menjadi 5 yaitu kelas A, B, C, D dan E, perbedaan
kelima kelas tersebut terletak pada fasilitas dan
penunjang medis, inilah yang menyebabkan adanya
perbedaan kelengkapan fasilitas dan pelayanan antara
rumah sakit yang satu dengan rumah sakit lainnya ketika
pasien BPJS harus di rawat inap.
Tipe rumah sakit ini diperkuat berdasarkan Permenkes RI Nomor 986/Menkes/Per/1 1/1992,
meliputi pelayanan rumah sakit umum pemerintah Departemen Kesehatan dan Pemerintah
Daerah yang diklasifikasikan menjadi kelas/tipe A,B,C,D dan E, perbedaannya sebagai
berikut:

Rumah Sakit Tipe A

Rumah Sakit Kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran
spesialis dan subspesialis luas oleh pemerintah, rumah sakit ini telah ditetapkan sebagai
tempat pelayanan rujukan tertinggi (top referral hospital) atau disebut juga rumah sakit pusat.

Kita mengenal pelayanan BPJS menggunakan sistem berjenjang, ika tidak bisa ditangai di
faskes tk1 (puskesmas, poliklinik, doktr pribadi) maka akan dirujuk ke fasks tk 2 (rumah sakit
kabupaten), jika di faskes tingkat 2 masih belum juga bisa ditangani maka pasien akan di
rujuka ke faskes tinggak 3 yaitu rumah sakit tipe A.

Beberapa contoh rumah sakit kelas A adalah seabagai berikut:

 Rumah Sakit Umum Dr W Sudirohusodo UP, tipe A: Jl P Kemerdekaan Ujung Pandang


 Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, tipe A: Jl. Diponegoro No. 71
Jakarta Pusat
 Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, tipe A: Jl Prof Dr Moestopo Surabaya
 RS Jantung Harapan Kita, tipe A: Jl. S Parman Kav 87 Jakbar
 RSU Fatmawati, tipe B: Jl. RS Fatmawati Cilandak Jaksel

Rumah Sakit Tipe B

Rumah sakit Tipe B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran
medik spesialis luas dan subspesialis terbatas.

Rumah sakit tipe B ini direncanakan akan didirikan di setiap ibukota propinsi (provincial
hospital) yang dapat menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten. Rumah sakit
pendidikan yang tidak termasuk tipe A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit tipe B.

 RSU Labuang Baji, tipe B: Jl Ratulangi No.81 Ujung Pandang


 RSU Dr Zainoel Abidin, RSIA tipe B: Jl. Tgk Daud Beureueh B.Aceh
 RSU Pematang Siantar, tipe B: Jl. Sutomo No.230 P Siantar
 RSU Dr M Jamil, tipe B: Jl. Perintis Kemerdekaan Padang
 RSU Langsa, tipe B: Jl.. Jen.A.Yani No.1 Langsa
 RS AB Harapan Kita, tipe B: Jl. S Parman Kav 87 Jakbar
 RSU Tasikmalaya, tipe B: Jl Rumah Sakit 33 Tasikmalaya
 RSU Dr Kariadi, tipe B: Jl Dr Soetomo No.16 Semarang
 RSU Dr Sardjito, tipe B: Jl Kesehatan Sekip Yogyakarta
 RSU Dr Soebandi, tipe B: Jl Dr Soebandi No.1 Jember
 RSU Tangerang, tipe B: Jl A yani No.9 Tangerang
 RSU Singaraja, tipe B: Jl Ngurah Rai 30 Singaraja
 RSU Mataram, tipe B: J Pejanggik No.6 Mataram
 RSU Prof Dr Wz Johanes, tipe B: Jl Dr Moch Hatta No.19 Kupang
 RSU Dr Sudarso, tipe B: Jl Adisucipto Pontianak
 RSU Ulin Banjarmasin, tipe B: Jl Jend A. Yani 79 Banjarmasin
 RSU Dr K Djatiwibowo, tipe B: Jl MT Haryono Balikpapan
 RSU Manado, tipe B: Jl Raya Tanwangko Manado
 RSU Undata Palu, tipe B: Jl Dr Suharso 14 Palu
 RSU Dr Mohammad Hoesin, tipe B: Jl. Jend Sudirman Palembang
 RSU Dr H Abdul Moeloek, tipe B: Jl. Dr Rivai No. 6 Bandar Lampung
 RSU Pasar Rebo, tipe B: Jl. TB Simatupang No. 30 Jaktim
 RSU Tarakan, tipe B: Jl. Kyai Caringin No. 7 Jakarta Pusat
 RS Sumber Waras, tipe B: Jl. Kyai Tapa Grogol Jakbar
 RS Pelni Petamburan, tipe B: Jl. KS Tubun No. 92-94 Jakbar
 RS Kanker Dharmais, tipe B: Jl. S Parman Kav. 84-86 Jakarta Barat

Rumah sakit tipe C

Rumah Sakit Kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran
subspesialis terbatas. Terdapat empat macam pelayanan spesialis disediakan yakni pelayanan
penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan kesehatan anak, serta pelayanan kebidanan dan
kandungan.

Rumah sakit kelas C ini adalah rumah sakit yang didirikan di Kota atau kabupaten-kapupaten
sebagai faskes tingkat 2 yang menampung rujukan dari faskes tingkat 1
(puskesmas/poliklinik atau dokter pribadi).

Contoh rumah sakit kelas C:

 Rumah sakit umum dokter slamet kabupaten garut.


 Rumah sakit umum guntur kabupaten garut.
 dan rumah sakit kota atau kabupaten lainnya.

Rumah Sakit Kelas D

Rumah Sakit Kelas D adalah rumah Sakit ini bersifat transisi karena pada suatu saat akan
ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C.
Pada saat ini kemampuan rumah sakit tipe D hanyalah memberikan pelayanan kedokteran
umum dan kedokteran gigi. Sama halnya dengan rumah sakit tipe C, rumah sakit tipe D juga
menampung pelayanan yang berasal dari puskesmas

Rumah sakit Kelas E

Rumah Sakit Kelas E merupakan rumah sakit khusus (special hospital) yang
menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja. Pada saat ini banyak tipe E
yang didirikan pemerintah, misalnya rumah sakit jiwa, rumah sakit kusta, rumah sakit paru,
rumah sakit jantung, dan rumah sakit ibu dan anak.

Itulah perbedaan Rumah sakit Kelas B, B, C, D dan E, Rumah sakit tersebut dapat anda pilih
ketika berobat melalui faskes tingkat 1 dan harus dirujuk ke faskes dengan jenjang lebih
tinggi yaitu faskes tk 2 dan faskes tk3, sedangkan khusus untuk pasien gawat darurat bisa
langsung memilih masuk ke rumah sakit tipe apapun, baik itu A, B, C, D maupun E

Lima jenis pewarna makanan yang harus Anda hindari


Menurut American Chemical Society, ada beberapa permen cokelat yang terbuat dari
petroleum alias minyak mentah. Tidak hanya itu, beberapa makanan dan minuman mungkin
saja mengandung pewarna yang dapat memicu kanker. Nah, itulah sebabnya, Anda harus
waspada setiap akan mengonsumsi berbagai makanan dan minuman yang memiliki warna
cerah dan menarik hati.

The Center for Science in the Public Interest atau CSPI di Amerika Serikat menyatakan
bahwa ada 5 jenis pewarna makanan yang berbahaya dan harus Anda hindari. Berikut
daftarnya.

1. Pewarna karamel

Sekilas, karamel terdengar lezat dan menggoda. Namun, pewarna makanan yang sering
ditemukan di dalam produk permen dan cola justru berbahaya. Pasalnya, pewarna ini ketika
diproduksi bersama dengan amonia akan mengandung kontaminan penyebab kanker, yaitu 2-
methylimidazole (2-MI) dan 4-methylimdiazole (4-MI).

Efek samping tersebut sebenarnya bergantung pada jenis pewarna karamel yang Anda
konsumsi. Namun, batas maksimal yang diperbolehkan Foods and Drugs Administration atau
FDA di Amerika Serikat (setara dengan Badan POM di Indonesia) adalah 200 miligram per
kilogram berat badan Anda.
2. Allura red

Pewarna allura red alias Red 40 mengandung benzidene, yang disinyalir bersifat karsinogen
atau pemicu kanker. Di restoran cepat saji (setidaknya di Amerika), allura red digunakan
sebagai campuran bahan pembuatan es krim stroberi. Tidak hanya itu, nyata pewarna ini juga
dapat bersembunyi di mana saja termasuk minuman ringan dan permen.

Menurut FDA, takaran aman untuk allura red adalah 7 miligram (mg) per kilogram berat
badan.

3. Sunset yellow

Sunset yellow alias Yellow 6 dicurigai bisa menyebabkan tumor testis dan adrenal. Selain itu,
pewarna ini juga berpotensi menyebabkan reaksi alergi dan asma bertambah parah,
hiperaktif, dan kegelisahan. Di Amerika Serikat, telah dilaporkan sejumlah kasus di mana
konsumsi pewarna ini secara berlebihan bisa memicu ADHD.

Menurut FDA, takaran yang aman untuk pewarna ini adalah 3,75 miligram (mg) per kilogram
berat badan.

4. Biru berlian

Biru berlian, juga dikenal dengan sebutan Blue 1, adalah salah satu perwarna makanan yang
paling banyak digunakan. Umumnya pewarna ini terkandung dalam permen, camilan, hingga
produk pembersih gigi dan mulut. Bahkan, pewarna ini juga dapat ditemukan pada makanan
atau bahan apa pun yang warnanya tidak biru sekalipun.

Pewarna biru berlian dapat menembus sawar darah otak. Sawar darah otak sendiri adalah
perisai pelindung yang bertugas untuk menghalangi masuknya zat-zat berbahaya ke dalam
otak. Pewarna biru berlian juga dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan sel-sel saraf dan
kanker, kerusakan kromosom, reaksi alergi, dan perubahan perilaku.

Menurut FDA, takaran yang aman untuk pewarna ini adalah 12 miligram (mg) per kilogram
berat badan.

5. Yellow 5

Yellow 5 yang juga dikenal sebagai tartazine berbahaya bagi kesehatan karena dapat
menyebabkan reaksi alergi parah dan merusak sistem informasi sel. Bahkan menurut
Feingold Association, pewarna Yellow 5 mungkin dapat menurunkan jumlah sperma Anda.
Pada anak-anak, zat pewarna ini diketahui dapat menghambat penyerapan zinc sehingga
menyebabkan penurunan pertumbuhan, peningkatan risiko infeksi dan flu, melemahnya
memori atau daya ingat, serta menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Pewarna ini
sering dikombinasikan dengan pewarna biru berlian (Blue 1) untuk menghasilkan warna
hijau.
Rhodamin B adalah salah satu bahan pewarna sintesis makanan yang dilarang
penggunaannya di Indonesia utamanya sejak 1985 melalui Peraturan Menteri Kesehatan.
WHO secara resmi juga telah mengumumkan bahwa zat tersebut berbahaya karena
kandungan logam berat dan sifat kimiawinya. Di Eropa, zat ini telah lama dilarang karena
digolongkan dalam kategori karsinogen yang dapat memicu kanker. Karena efek samping
yang begitu besar, zat ini bahkan tidak hanya berbahaya jika dijadikan pewarna makanan,
akan tetapi juga pada produk kosmetik. Bahkan, unsur berbahaya dalam Rodhamin B tidak
hanya terdapat dalam senyawa organiknya, akan tetapi juga senyawa anorganik ataupun
ketika terkontaminasi oleh senyawa anorganik lainnya. Untuk itu, sangat penting kiranya
mengetahui informasi-informasi inti mengenai zat satu ini.

Kandungan Rhodamin B

Bahaya Rodhamin B bagi kesehatan disebabkan oleh kandungan klorin (Cl) yang
dimilikinya. Kandungan tersebut merupakan senyawa holagen yang tidak hanya berbahaya,
akan tetapi juga reaktif. Begitu tertelan tubuh, klorin akan berusaha mendapat kestabilan
dalam tubuh meski harus dengan, mengikat senyawa lain yang dimiliki tubuh sehingga
kehadirannya menjadi racun bagi tubuh. Senyawa-senyawa lain yang diikat tersebut tidak lagi
berfungsi dengan baik sehingga kinerja tubuh tidak lagi optimal. Tak hanya itu, Rodhamin B
juga memiliki senyawa pengalkilasi yang radikal dan sifatnya tak stabil sehingga, dapat
berikatan dengan DNA, lemak bahkan protein dalam tubuh.

Rhodamin B pada dasarnya merupakan zat pewarna yang digunakan dalam industri tekstil
dan pembuatan kertas untuk menghasilkan warna cerah mencolok sehingga menggoda
konsumen. Bentuknya tak beda dengan kristal dan berwarna hijau atau merah keunguan serta
mudah larut dalam air. Jika terlarut dalam konsentrasi tinggi, zat ini akan membuat cairan
merah keunguan sedangkan dalam konsentrasi rendah, Rodhamin B akan membuat cairan
berwarna merah menyala. Salah satu cara mengenali zat ini adalah warna yang menebarkan
cahaya cerah mencolok (bahkan tidak pudar oleh cahaya matahari) dan berpendar serta tidak
meratanya taburan warna.

Lalu, bagaimana jika zat ini berada pada makanan? Anda juga mengetahui akibat yang
mungkin ditimbulkan oleh Rodhamin B utamanya jika mengkonsumsi makanan yang
mengandung Rodhamine B. Berikut adalah beberapa bahaya Rodhamin B pada makanan :

1. Iritasi saluran pernapasan

Akibat ini akan ditampak dengan hanya menghirup Rodhamine B. Dalam keadaan yang
demikian, menjauhlah dari lokasi kejadian dan gunakan masker berkatup atau mintalah napas
buatan. Iritasi pada pernafasan bisa menjadi berbahaya hingga menjadi infeksi paru-paru dan
penyebab batuk berdarah.

2. Bibir pecah, kering, terkelupas, gatal dan iritasi kulit

Gangguan-gangguan kulit ini tampak setelah kulit atau bibir mengalami kontak dengan
Rodhamin B. Jika terjadi iritasi kulit semacam ini, cucilah kulit dengan air dan sabun hingga
bersih selama kurang lebih 15 hingga 20 menit. Jangan lupa, tanggalkan juga pakaian yang
menempel dan terciprat Rodhamin B. (Baca juga : jenis penyakit kulit dan macam penyakit
kulit)
3. Iritasi mata

Rodhamine B yang sampai di mata dapat mengakibatkan iritasi mata, mata merah dan
timbulnya udem pada kelopak mata. Jika gejala ini terjadi, bilas mata dengan air atau larutan
garam fisiologis sambil mengedip-ngedipkan mata.

4. Keracunan

Keracunan makanan dapat terjadi ketika Rhodamin B tertelan melewati batas minimal efek
toksiknya, yakni 500 mg/kg BB. Berkumur bisa menjadi solusi awal atas gejala yang
biasanya dimulai dengan mual, sakit perut dan air seni yang berwarna merah muda atau
merah. Namun demikian ketika terjadi muntah, pastikan posisi kepala lebih rendah dari
pinggul agar material muntahan tidak masuk ke jalur pernapasan. Jika tidak sadarkan diri,
baringkan dan miringkan kepala korban ke satu sisi. (Baca juga : pertolongan pertama pada
orang pingsan)

Anda bisa bayangkan seberapa ‘keras’ zat Rodhamine B sehingga kontak-kontak kecil
dengan zat tersebut saja sudah dapat mengakibatkan beberapa hal di atas. Karena itu,
mengkonsumsi makanan yang mengandung zat tersebut tentu dapat mengakibatkan dampak
yang lebih buruk lagi. Apalagi, kandungan berbahaya dalam Rodhamine B juga langsung
menyasar sistem pencernaan berdasarkan penelitian pada seekor tikus yang menunjukkan
bahwa konsumsi makanan ber-Rodhamine B diketahui memunculkan gangguan pada fungsi
hati. Karena itu, pastikan Anda sangat berhati-hati memilih makanan produk yang akan
dikonsumsi anda dan keluarga.

Komplikasi Akibat Rhodamin B

Umumnya, konsumsi terus-menerus terhadap makanan yang mengandung Rhodamin B


bersifat toksik akumulatif sehingga efek negatifnya tidak langsung terasa. Rhodamin B
sebenarnya memiliki toksisitas yang rendah akan tetapi jika dikonsumsi berulang-ulang
dalam waktu yang juga lama, efeknya tidak bisa diremehkan. Apalagi, efek konsumsi
makanan yang mengandung zat ini akan terasa beberapa tahun kemudian. Inilah yang
menyebabkan akibat yang parah dan seringkali komplikatif karena tidak segera mendapatkan
penanganan yang semestinya.

Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Gangguan konsentrasi
2. Gangguan tidur
3. Gangguan emosi
4. Hiperaktif
5. Iritasi saluran pencernaan
6. Memperparah Autisme
7. Tekanan darah rendah
8. Gangguan fungsi hati
9. Gangguan kandung kemih
10. Kanker hati
Sebuah penelitian melansir bahwa konsumen makanan yang mengandung zat semacam ini
rata-rata adalah anak sekolah yang terbiasa jajan di pedagang kaki lima dan belum bisa
selektif serta kritis memilih jajanan yang akan mereka konsumsi. Untuk itu, peran orangtua
dan pihak sekolah untuk meminimalisir hal ini terjadi sangatlah besar dan dibutuhkan karena
jika dibiarkan, zat berbahaya ini dapat merusak generasi mendatang. Selain itu, sosialisasi
yang lebih membumi mengenai bahaya dan resiko menggunakan zat pewarna ini, utamanya
bagi produsen pangan dan makanan olahan, juga perlu tetap dilakukan. Begitu juga kerjasama
distributor-distributor Rodhamin B demi menutup akses mudahnya mendapatkan bahan
pewarna bahaya yang harganya cukup murah tersebut.

Ciri-Ciri Makanan Mengandung Rhodamin B

Pada umumnya makanan yang tercampur Rhodamin B biasanya memiliki sedikit rasa pahit,
memiliki gumpalan-gumpalan warna serta tidak mencantumkan keterangan merk, produsen
dan komposisi yang jelas. Tak jarang, makanan yang tercampur Rhodamin B menebarkan
bau aneh yang tidak sesuai dengan bau makanan seperti biasa serta menyebabkan
tenggorokan gatal beberapa saat setelah mengonsumsinya. Namun demikian, tampilan dari
makanan yang menggunakan zat ini cenderung menarik dan terkesan menawarkan cita rasa
tinggi sehingga ketika harga jualnya tidaklah semahal tampilannya, banyak yang tertarik
untuk membeli dan mengonsumsinya.

Ciri-ciri dasar di atas bisa Anda gunakan dalam memilih jajanan sehat utamanya jajanan non-
kemasan yang belum mendapat sertifikat aman dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan
Makanan). Anda juga perlu mengetahui nama-nama lain dari zat ini, yakni ADC Rodhamine
B, Brilliant Pink (3, 4), D and C Red no. 19. Food Red 15, Aizen Rodhamine dan lain-lain,
sehingga jika Anda menemukannya di kemasan suatu produk makanan, Anda bisa langsung
mengenalinya. Menurut beberapa sumber, zat ini utamanya dapat ditemukan pada produk-
produk yang tidak terdaftar resmi namun populer sebagai konsumsi masyarakat karena dijual
bebas dan terkadang dengan harga yang cukup terjangkau bahkan tidak masuk akal.

Sejauh ini, zat Rodhamin B ditemukan pada berbagai produk makanan mulai dari sambal
botol, cabe merah giling, kerupuk, manisan, sosis, agar-agar, kembang gula atau arum manis,
sirup, terasi dan lain-lain. Namun demikian, Rodhamine B bisa saja dicampur dengan
makanan yang lain sehingga tidak hanya terbatas pada contoh-contoh produk yang
disebutkan di atas. Tindakan tegas dan inspeksi mendadak yang kerap dilakukan tim BPOM
nyatanya kurang mampu mencegah digunakannya bahan pewarna ini sebab dari beberapa kali
sidak, Rodhamin B selalu dengan mudah dapat ditemukan di berbagai produk makanan dan
tersebar di berbagai tempat. Ini juga berarti bahwa konsumen makanan-makanan produk
tersebut tidaklah sedikit.

Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Gangguan konsentrasi
2. Gangguan tidur
3. Gangguan emosi
4. Hiperaktif
5. Iritasi saluran pencernaan
6. Memperparah Autisme
7. Tekanan darah rendah
8. Gangguan fungsi hati
9. Gangguan kandung kemih
10. Kanker hati

Sebuah penelitian melansir bahwa konsumen makanan yang mengandung zat semacam ini
rata-rata adalah anak sekolah yang terbiasa jajan di pedagang kaki lima dan belum bisa
selektif serta kritis memilih jajanan yang akan mereka konsumsi. Untuk itu, peran orangtua
dan pihak sekolah untuk meminimalisir hal ini terjadi sangatlah besar dan dibutuhkan karena
jika dibiarkan, zat berbahaya ini dapat merusak generasi mendatang. Selain itu, sosialisasi
yang lebih membumi mengenai bahaya dan resiko menggunakan zat pewarna ini, utamanya
bagi produsen pangan dan makanan olahan, juga perlu tetap dilakukan. Begitu juga kerjasama
distributor-distributor Rodhamin B demi menutup akses mudahnya mendapatkan bahan
pewarna bahaya yang harganya cukup murah tersebut.

Ciri-Ciri Makanan Mengandung Rhodamin B

Pada umumnya makanan yang tercampur Rhodamin B biasanya memiliki sedikit rasa pahit,
memiliki gumpalan-gumpalan warna serta tidak mencantumkan keterangan merk, produsen
dan komposisi yang jelas. Tak jarang, makanan yang tercampur Rhodamin B menebarkan
bau aneh yang tidak sesuai dengan bau makanan seperti biasa serta menyebabkan
tenggorokan gatal beberapa saat setelah mengonsumsinya. Namun demikian, tampilan dari
makanan yang menggunakan zat ini cenderung menarik dan terkesan menawarkan cita rasa
tinggi sehingga ketika harga jualnya tidaklah semahal tampilannya, banyak yang tertarik
untuk membeli dan mengonsumsinya.

Ciri-ciri dasar di atas bisa Anda gunakan dalam memilih jajanan sehat utamanya jajanan non-
kemasan yang belum mendapat sertifikat aman dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan
Makanan). Anda juga perlu mengetahui nama-nama lain dari zat ini, yakni ADC Rodhamine
B, Brilliant Pink (3, 4), D and C Red no. 19. Food Red 15, Aizen Rodhamine dan lain-lain,
sehingga jika Anda menemukannya di kemasan suatu produk makanan, Anda bisa langsung
mengenalinya. Menurut beberapa sumber, zat ini utamanya dapat ditemukan pada produk-
produk yang tidak terdaftar resmi namun populer sebagai konsumsi masyarakat karena dijual
bebas dan terkadang dengan harga yang cukup terjangkau bahkan tidak masuk akal.

Sejauh ini, zat Rodhamin B ditemukan pada berbagai produk makanan mulai dari sambal
botol, cabe merah giling, kerupuk, manisan, sosis, agar-agar, kembang gula atau arum manis,
sirup, terasi dan lain-lain. Namun demikian, Rodhamine B bisa saja dicampur dengan
makanan yang lain sehingga tidak hanya terbatas pada contoh-contoh produk yang
disebutkan di atas. Tindakan tegas dan inspeksi mendadak yang kerap dilakukan tim BPOM
nyatanya kurang mampu mencegah digunakannya bahan pewarna ini sebab dari beberapa kali
sidak, Rodhamin B selalu dengan mudah dapat ditemukan di berbagai produk makanan dan
tersebar di berbagai tempat. Ini juga berarti bahwa konsumen makanan-makanan produk
tersebut tidaklah sediki
DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan,
Buang) untuk obat kemoterapi. Bagaimana
Membuang limbah obat khemo
DA GU SI BU, yaitu DApatkan obat secara benar, GUnakan obat secara benar, SImpan obat
dengan benar dan BUang obat dengan benar. Gerakan yang baru-baru ini sedang marak
digalakkan oleh ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Gerakan untuk menyadarkan masyarakat
bagaimana cara memperlakukan obat dengan benar, salah satunya adalah Gerakan Keluarga
Sadar Obat.

obat kanker atau obat sitostatika merupakan obat yang cukup beresiko tinggi baik untuk
pasien sendiri, terhadap orang disekitar pasien maupun dampak terhadap lingkungan, oleh
karena itu perlunya penanganan obat yang sangat khusus. Penanganan buka hanya soal
penyimpanan, tetapi meliputi pembuangan sampah obat dan bahkan sampah hasil
metabolisme yang dapat berupa urin atau tinja.

Obat akan dikeluarkan oleh tubuh melalui kotoran maupun urine, hasilnya berupa hasil
metabolisme obat yang kadang juga masih dapat berefek kepada lingkungan sekitar. Perlu
diingat bahwa Obat khemo selain dapat menyembuhkan kanker tetapi juga bersifat
karsinogenik atau mutagenik (yang dapat menyebabkan kanker).

DAPATKAN

Dapatkan obat khemo dengan benar, dengan melakukan kontrol rutin tiap bulan dengan
dokter ahli dan tebus obatnya di farmasi. Untuk Obat kemoterapi oral diberikan pasien sesuai
dengan diagnosa dokter ahli, sehingga tiap pasien akan sangat mungkin berbeda terapi
dengan pasien yang lain. Ada Pasien yang mendapatkan terapi untuk 2 minggu, ada yang
setiap hari harus mengkonsumsi obat. Dengan Kontrol Rutin Pasien akan lebih terjamin
tentang perkembangan kondisinya. Selain itu setelah mendapatkan obat, Perhatikan informasi
yang terdapat pada brosur dan kemasan serta Perhatikan kadarluarsa obat.

GUNAKAN

Dalam mengkonsumsi obat yang perlu diperhatikan adalah

 saran dokter dan sesuai dengan etiket yang tertera pada label luar obat.
 Jika ada penggunaan obat khusus seperti suppositoria, atau inhaler silahkan tanyakan pada
petugas atau Apoteker.
 Menelan setiap tablet atau kapsul secara utuh. Jangan merusak, menghancurkan, atau
mengunyah terutama untuk obat khemo

 Jika Anda melewatkan minum obat pada jam yang ditentukan, sesegeralah mungkin minum
obat yang terlupa. Namun, jika hampir waktu untuk obat berikutnya, lewati dosis yang tidak
terminum dan kembali ke jadwal rutin meminum obat.
 Jangan meminum obat 2x dosis yang telah ditentukan
 Jika Anda tidak dapat menelan pil, berbicara dengan perawat atau apoteker tentang cara-
cara lain untuk minum obat.
 Jika Anda muntah atau memuntahkan obat Anda, hubungi dokter Anda untuk petunjuk lebih
lanjut.
 Cuci tangan Anda setelah minum obat. Hindari penanganan obat yang hancur atau
rusak (tablet atau kapsul)
 Jika ada keluarga yang membantu untuk meminumkan obat, diusahakan memakai Sarung
Tangan dan Masker. Sebelum dan setelah memberikan obat cuci tangan dengan bersih

SIMPAN

Penyimpanan Obat yang benar sangat Penting

 Kebanyakan obat kemoterapi oral disimpan pada suhu kamar, hindarkan dari suhu yang
terlalu panas satau terlalu lembab. Anda akan diberitahu jika obat Anda perlu penyimpanan
khusus atau penanganan yang khusus.
 Dan yang paling Penting Simpan obat ini dalam wadah tertutup, di tempat yang aman,
 Jangan Mencampurkan Obat Khemo dengan Obat yang Lain
 jauhkan dari obat keluarga lain, Kecuali keluarga yang membantu
 Semua obat harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

BUANG

Limbah obat khemo bukanlah limbah yang dapat dengan mudahnya dibuang. Limbah Obat
Khemo harus ditangani dengan sangat khusus. Limbah meliputi bungkus atau plastik
penyimpanan, serta hasil metabolit (urine, Feses atau bahkan Keringat)

 Jika Anda memakai pil kemoterapi oral (tablet atau kapsul), silakan mengembalikan
Sampah ke apotek mana asal obat. Jangan membuang ke toilet, membuang di
wastafel, atau membuang di tempat sampah. Beberapa Rumah Sakit sudah
membawakan Plastik khusus yang dibawa Pasien sebagai wadah untuk sampah obat
kemo. Nanti dalam periode tertentu sampah tersebut dibawa untuk dimusnahkan di
Rumah Sakit.

 Obat Kemoterapi tetap dalam tubuh selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, dan
ditemukan dalam muntahan, urin, feses, dan keringat (limbah tubuh). Perhatian
khusus harus diberikan untuk mencegah limbah tubuh pasien kontak dengan pasien
atau pengasuh.

 Dalam Penggunaan Toilet diharapkan untuk flushing atau saat membersihkan toilet
dilakukan 2x. Cuci tangan dengan sabun dan air setelah menggunakan toilet.
 Jika urin, muntah, atau tinja mengenai tubuh, cuci dengan sabun dan air. Selalu
gunakan sarung tangan saat membersihkan peralatan atau membuang limbah dari
urinoir atau toilet.
 Pengasuh atau Keluarga yang hamil tidak diperbolehkan menangani limbah tubuh
pasien.
 untuk Cucian Selalu gunakan sarung tangan disposable saat menangani lembaran atau
pakaian yang telah kotor dengan limbah tubuh. Pakaian atau perlengkapan kotor harus
disimpan dan dicuci secara terpisah dari cucian lainnya
 Untuk menyerap air seni atau tinja, gunakan sekali pakai, bisa dengan underpad,
popok, atau lembaran kain. Ganti segera ketika kotor. Kemudian cuci dengan sabun
dan air.
 Jika Anda memiliki colostomy, Gunakan Sarungtangan untuk mengganti atau
mengosongkannya.
Pengertian Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan
untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. (Cessnasari. 2005) judul artikel
(Pengertian Posyandu, Kegiatan, Definisi, Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Pelaksanaan
Posyandu. KMS)

Definisi Posyandu adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan
untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait. (Departemen Kesehatan RI. 2006).

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga
berencana.(Effendi, Nasrul. 1998: 267)

Tujuan Posyandu
Tujuan posyandu antara lain:

 Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (ibu hamil),
melahirkan dan nifas.
 Membudayakan NKBS
 Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan
KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat
sejahtera.
 Berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan
keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

(Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)

Kegiatan Pokok Posyandu

 KIA
 KB
 Imunisasi
 Gizi
 Penanggulangan diare

(Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)

Pelaksanaan Layanan Posyandu


Pada hari buka posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan sistem 5 meja yaitu:

Meja I : Pendaftaran
Meja II : Penimbangan
Meja III : Pengisian KMS
Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS
Meja V : Pelayanan kesehatan berupa:

 Imunisasi
 Pemberian vitamin A dosis tinggi.
 Pembagian pil KB atau kondom.
 Pengobatan ringan.
 Konsultasi KB.

Petugas pada meja I dan IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan meja V merupakan
meja pelayanan medis.
(Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)

Keberhasilan Posyandu
Keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN.
S : Semua balita di wilayah kerja posyandu.
K : Semua balita yang memiliki KMS.
D : Balita yang ditimbang.
N : Balita yang Berat Badannya naik
Keberhasilan Posyandu berdasarkan:

1. D Æ Baik/ kurangnya peran serta masyarakat.


2. N Æ Berhasil tidaknya program posyandu.

(Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)

Kegiatan Posyandu

1. Jenis Pelayanan Minimal Kepada Anak


Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus terhadap
anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya tidak cukup
baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS.

Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A.

Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/
bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS.

Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu.

Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.

2. Pelayanan Tambahan yang Diberikan

1. Pelayanan bumil dan menyusui.


2. Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan
program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.
3. Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan
sebagainya.
4. Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.
5. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.
6. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).
7. Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.
8. Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan
lingkungan pemukiman.
9. pemanfaatan pekarangan.
10. Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.
11. Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain.

(Bagian Kependudukan dan Biostatik FKM USU. 2007)

Manfaat Posyandu
Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak, KB, imunisasi, gizi, penanggulangan
diare.

1. Kesehatan ibu dan anak

 Ibu: Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, Pemeriksaan kehamilandan nifas,


Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah,
Imunisasi TT untuk ibu hamil.

 Pemberian Vitamin A: Pemberian vitanin A dosis tinggi pada bulan Februari dan
Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007). Akibat dari
kurangnya vitamin A adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan
penyakit. (Dinas Kesehatan RI. 2006: 95)

 Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di posyandu (Dinas


Kesehatan RI. 2006: 95). Penimbangan secara rutin di posyandu untuk pemantauan
pertumbuhan dan mendeteksi sedini mungkin penyimpangan pertumbuhan balita.
Dari penimbangan yang kemudian dicatat di KMS, dari data tersebut dapat diketahui
status pertumbuhan balita (Dinas Kesehatan RI. 2006: 54), apabila penyelenggaraan
posyandu baik maka upaya untuk pemenuhan dasar pertumbuhan anak akan baik pula.

KMS adalah kartu untuk mencatat dan memantau pekembangan balita dengan melihat garis
pertumbuhan berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS dapat diketahui status
pertumbuhan anaknya.

Kriteria Berat Badan balita di KMS:

Berat badan naik :

 Berat badan bertambah mengikuti salah satu pita warna, berat badan bertamabah ke
pita warna diatasnya.

Berat badan tidak naik :

 Berat badanya berkurang atau turun, berat badan tetap, berat badan bertambah atau
naik tapi pindah ke pita warna di bawahnya.
Berat badan dibawah garis merah
Merupakan awal tanda balita gizi buruk Pemberian makanan tambahan atau PMT, PMT
diberikan kepada semua balita yang menimbang ke posyandu. (Departemen Kesehatan RI.
2006: 104)

2 Keluarga Berencana
Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom, pil KB, dan suntik
KB.

3 Imunisasi
Di posyandu balita akan mendapatkan layanan imunisasi.

Macam imunisasi yang diberikan di posyandu adalah

 BCG untuk mencegah penyakit TBC.


 DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
 Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.
 Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning).

4 Peningkatan Gizi
Dengan adanya posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk
meningkatkan gizi balita (Notoadmodjo, Soekidjo. 2003: 205). Peningkatan gizi balita di
posyandu yang dilakukan oleh kader berupa memberikan penyuluhan tentang ASI, status
gizi balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita
(Dinas Kesehatan RI. 2006: 24).

5 Penanggulangan diare
Penyediaan oralit di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 127). Melakukan rujukan pada
penderita diare yang menunjukan tanda bahaya di Puskesmas. (Departemen Kesehatan RI.
2006: 129). Memberikan penyuluhan penggulangan diare oleh kader posyandu. (Departemen
Kesehatan RI. 2006: 132)

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Kedatangan Ibu di Posyandu:

 Pengetahuan ibu tentang manfaat posyandu.


 Motivasi ibu untuk membawa anaknya ke posyandu
 Pekerjaan iu
 Dukungan dan motivasi dari kader posyandu dan tokoh masyarakat
 Sarana dan prasarana di posyandu
 Jarak dari posyandu tersebut
Rumus dan Cara Menghitung BMI (Body
Mass Index)
Published on August 11, 2016

Franky LugisFollow

AXA Indonesia

 5
  0

 0

Body Mass Index atau disingkat dengan BMI adalah salah satu cara yang dipergunakan untuk
mengukur kenormalan berat badan seseorang berdasarkan ketinggian tubuhnya.

Dalam Bahasa Indonesia, Body Mass Index (BMI) disebut dengan Indeks Massa Tubuh atau
disingkat dengan IMT. Berat badan yang berlebihan disebut dengan Obesitas (Kegemukan).
Obesitas dapat meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit seperti Diabetes (kencing
manis), Serangan Jantung, Hipertensi, Asam urat, kolesterol tinggi dan juga Sleep Apnea
yaitu kesulitan tidur nyenyak karena gangguan pernapasan.

Oleh karena itu, mengetahui Indeks BMI tubuh kita merupakan hal yang penting agar kita
dapat menjaga berat badan kita selalu pada kondisi yang normal sehingga dapat menurunkan
risiko timbulnya penyakit-penyakit yang dikarenakan oleh Obesitas ini.

Cara Menghitung BMI (Body Mass Index)

Rumus untuk menghitung BMI juga sangat sederhana dan mudah. Berikut ini adalah rumus
untuk menghitung BMI :

BMI = Berat Badan / (Tinggi Badan * Tinggi Badan)

Keterangan : -Satuan Berat Badan adalah Kilogram (kg) -Satuan Tinggi Badan adalah Meter
(m)

Contoh cara untuk menghitung BMI (Body Mass Index)

Contoh 1:
Berat badan anda adalah 65kg dan Tinggi Badan anda adalah 1,70 (170cm). Berapakah
Indeks Massa Tubuh atau BMI anda ?

BMI = 65kg / (1,70 x 1,70) BMI = 22,49 → Normal

Contoh 2 :

Berat badan anda adalah 75kg dan Tinggi Badan anda 1,65 (165cm). Berapakah Indeks
Massa Tubuh atau BMI anda ?

BMI = 75kg / (1,65 x 1,65) BMI = 27,55 → Obesitas

Kategori BMI (Body Mass Index)

Berikut ini adalah Tabel Indeks Massa Tubuh atau BMI berdasarkan Departemen Kesehatan
RI yang dibagi menjadi Kategori yaitu kategori BMI untuk Laki-laki dan kategori BMI untuk
Perempuan.

Kategori BMI untuk Laki-laki< 17 Kurus, 17 – 23 Normal, 23 – 27 Kegemukan, > 27


Obesitas

Kategori BMI untuk Perempuan< 18 Kurus, 18 – 25 Normal, 25 – 27 Kegemukan, > 27


Obesitas

Sudahkah Anda menjaga tubuh selalu ideal? Sudahkah Anda menghargai tubuh Anda dengan
memberikan asuransi kesehatan terbaik?
Sebagian orang masih salah kaprah. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) bukan dilakukan dengan
menjejalkan puting susu Moms ke dalam mulut si kecil. Lebih baik jika si kecil dibiarkan
menjilati kulit Moms, kemudian menemukan sendiri puting susu Moms. Pahami cara dan
manfaat IMD agar Moms dan si kecil bisa merasakan hasil optimalnya.

Inisiasi Menyusui Dini Dilakukan dalam 1 Jam Pertama Kelahiran Bayi

Bayi bergerak secara aktif di perut Moms. Tidak ada sehelai kainpun yang memisahkan
antara kulit si kecil dengan kulit Moms. Bayi yang baru lahir bahkan terlihat menciumi aroma
Moms, kemudian membuka mulut. Lidah si kecil menjilati kulit Moms, sekitar 40 menit
kemudian mulutnya bergerak ke bagian dada untuk mencari puting Moms. Setelah puting
susu Moms ketemu, si kecil tampak lahap menghisap ASI. Dalam dekapan Moms, kontak
kulit berlangsung hingga satu jam.

Menurut Utami Roesli, SpA, IBCLC, dokter spesialis anak Rumah Sakit St. Carolus, inti dari
inisiasi menyusui dini bukan memberikan ASI dengan segera. Oleh karena itu, keliru jika
memaknai IMD dengan menjejalkan puting susu pada bayi. Inti IMD adalah kontak kulit
dini (early skin-to-skin contact) minimal satu jam antara bayi dan Moms.

Dalam satu jam pertama, daya refleks bayi menghisap puting susu Moms dibangun secara
optimal. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, baik bidan maupun dokter, semestinya tidak
memisahkan bayi dan Moms pada satu jam pertama dengan berbagai kegiatan seperti
menimbang berat, mengukur panjang bayi, maupun memandikan bayi.

World Health Organization (WHO) juga merekomendasikan cara IMD yang benar. Proses
inisasi menyusui dini sebaiknya dijalankan selama satu jam pertama kehidupan awal bayi.
Proses IMD dilaksanakan dengan cara menempatkan bayi di dada Moms segera setelah sang
bayi keluar dari jalan lahir. Kemudian, bayi akan secara alami, tanpa dibantu, mencari puting
susu Moms untuk menyesap ASI.

Inisiasi Menyusui Dini Tercantum dalam Undang Undang tentang ASI Eksklusif

Manfaat IMD sendiri sangat besar bagi bayi, di antaranya menunjang keberhasilan ASI
eksklusif setidaknya hingga bayi berusia empat bulan. ASI eksklusif berarti makanan yang
didapatkan oleh bayi hanya ASI, tanpa makanan padat maupun cairan lainnya, termasuk air
mineral. Umumnya ASI eksklusif diterapkan saat bayi berusia 0 bulan (baru lahir) hingga
usianya 6 bulan dan siap menerima Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau makanan padat.

Baca juga: Bisakah Memberi ASI Eksklusif Meskipun Ibu Menyusui Menderita
Mastitis?

Dokter Utami menghimbau setiap ibu untuk memberikan inisiasi menyusui dini pada bayi
yang dilahirkannya. Tidak perlu merasa malu atau takut untuk menyampaikannya pada bidan
atau dokter untuk melakukan hal tersebut. Mengingat selain memiliki banyak manfaat, IMD
merupakan hak yang dijamin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang ASI
eksklusif.

Slamet Riyadi Yuwono selaku Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa peraturan pemerintah tersebut merupakan
penjabaran dari Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Disampaikan
bahwa dalam Pasal 129 undang-undang tersebut disebutkan bahwa pemerintah bertanggung
jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan ASI
secara eksklusif.

Apakah Moms melakukan IMD saat melahirkan si kecil?


5 Bencana Alam Lingkungan Terburuk Yang Di
Rahasiakan Dari Publik
Bencana alam yang disebabkan oleh manusia termasuk dalam golongan bencana alam
lingkungan. Walupun tidak semua bencana akibat dari ulah manusia namun juga sebagian
besar karena ulah manusia. Jenis – jenis bencana alam yang terjadi pun juga bermacam –
macam. Apa saja bencana alam lingkungan tersebut yang ternyata di rahasiakan dari publik
berikut penjelasannya.

Tragedi Chernobyl Di Ukraina


Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 ini bukanlah kecelakaan biasa. Namun
kecelakaan yang sangat fatal ini adalah Kebocoran PLTN Chernobyl yang membuat
radioaktif berbahaya terlepas ke udara. Kecelakaan paling mengerikan di dunia ini ternyata
menimbulkan hal yang sangat buruk. Bagi warga Utara Ukraina yang tinggal di sekitar
tempat tersebut.

Terdapat penduduk yang berjumlah kurang lebih sekitar 6,6 juta jiwa terkena paparan materi
radioaktif dari reaktor nuklir. Dampak bencana alam lingkungan ini ternyata membuat efek
buruk bagi para penduduk. Yaitu terjadi beberapa kasus yang membuat seseorang mengalami
kelainan.
Salah satunya adalah bayi yang lahir cacat, kanker ganas, dan kelainan lainnya. Namun tidak
banyak yang tahu kejadian ini hanya penduduk yang terkena musibah ini saja yang
mengetahuinya. Seakan akan pemerintah Uni Soviet menutupi kejadian yang mengerikan ini
dari publik dunia.

Yang akhirnya akibat bencana alam yang disebabkan oleh manusia ini membuat kota ini
mati. Yang tadinya terdapat 50.000 jiwa yang terdapat di kota ini. Kini sama sekali tidak
terdapat satu orang pun yang berada di kota tersebut.

Pencemaran Kapal Minyak Exxon Valdez


Bencana alam lingkungan terburuk berikutnya adalah pencemaran minyak. Penyebab dari
pencemaran ini merupakan salah satu bencana yang disebabkan oleh manusia. Yaitu kapal
besar yang bernama Exxon Valdez ini tenggelam di laut beserta minyak yang di angkut juga
ikut tenggelam. Minyak tersebut sekitar 12 juta galon mencemari perairan Alaska yaitu pada
tanggal 23 Maret 1989.

Dampak yang paling mengerikan yaitu pada ekosistem yang ada di perairan tersebut. Dan
juga hewan yang mencari makan di sekitar perairan alaska ini pun juga ikut mati seperti
burung pemakan ikan. Kematian masal ini dari biota laut dan juga unggas diperkirakan
mencapai 250.000 ekor lebih yang mati. Dan masih bisa bertambah lagi.

Untuk membersihkan tumpahan minyak tersebut yang di perkirakan kapal Exxon Valdez
kerugiannya mencapai 2.1 milyar dolar. Membutuhkan sekitar 11.000 orang termasuk
relawan dikerahkan untuk membersihkan minyak di perairan Alaska tersebut.

Tragedi Bocornya Gas Bhopal


Kebocoran ini terjadi pada tanggal 3 Desember 1984 yaitu pada saat malam hari. Gas yang
berasal dari pabrik pestisida yang sangat beracun ini ternyata bocor dan meracuni warga
disekitar kebocoran tersebut.

Tragedi ini merupakan salah satu kecelakaan industri yang terburuk di dunia. Yaitu bencana
yang disebabkan oleh manusia ini menelan korban sekitar 35.000 jiwa. Namun korban paling
banyak adalah sekitar 150.000 orang mengalami penyakit yang sangat kronis. Dampak dari
gas beracun dari pabrik Union Carbide di Bhopal India.

The Great Smog


Bencana ini terjadi pada tahun 1952 yang bernama tragedi The Great Smog. Yaitu kejadian
polusi udara yang paling parah dan terburuk di London. Penyebabnya dikarenakan
penggunaan batu bara yang berlebihan di kota london sehingga menimbulkan asap sangat
tebal.

Asap tersebut ternyata membuat warga London menjadi terserang berbagai macam penyakit
selang waktu beberapa minggu. Dan juga terdapat korban yang meninggal karena asap
tersebut yaitu sekitar kurang lebih 12.000 orang yang berhasil di identifikasi.

Penyebab bencana yang disebabkan oleh manusia ini yaitu asap dari batubara pabrik industri.
Belum diketahui siapa yang disalahkan atau yang bertanggung jawab. Apakah pabrik industri
tersebut yang harus bertanggung jawab atau di diamkan saja oleh penegak hukum London.
Namun selang beberapa bulan di terbitkanlah undang – undang tentang pencemaran udara
atau polusi udara pada tahun 1956.

Lumpur Panas Lapindo Sidoarjo

Bencana alam di indonesia ini ternyata berasal dari dalam tanah yaitu gunung lumpur yang
meletus. Pemicunya adalah ledakan gas yang menekan lumpur keatas sehingga lumpur
meluap keatas atau kepermukaan.
letusan gunung lumpur ini ternyata terjadi karena pengeboran yang di lakukan PT Lapindo
Brantas di jawa timur. Sehingga gas dan lumpur yang terkunci di dalam bumi menjadi keluar.
Untuk itu hal ini merupakan bencana yang disebabkan oleh manusia.

Volume lumpur yang keluar pun tak tanggung – tanggung beberapa desa tenggelam oleh
lumpur. Dan juga terdapat rumah yang hancur akibat lumpur yang kian hari kian bertambah
hingga saat ini.

Lebih Menarik Baca : Misteri Inti Bumi Yang Tersulit Untuk Di Pecahkan Ilmuan

Namun saat ini pemerintah terkesan membiarkan hanya waktu awal – awal saja pemerintah

menanggapi hal ini. Dan saat ini masih belum diketahui bagaimana nasib dari korban
semburan lumpur panas lapindo ini yang ada di sidoarjo
Imunitas atau kekebalan adalah sistem pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh
terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel
tumor. Agar dapat berfungsi baik, sistem ini akan mengidentifikasi berbagai macam pengaruh
biologis luar seperti dari infeksi, bakteri, virus sampai parasit, serta menghancurkan zat-zat
asing lain dan memusnahkan mereka dari sel dan jaringan organisme yang sehat agar tetap
dapat berfungsi secara normal. Pada banyak spesies, sistem imun dapat diklasifikasikan
menjadi sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif, atau imunitas humoral dengan
imunitas termediasi sel. Pada manusia, sawar darah otak, sawar darah--cairan serebrospinal,
dan sawar cairan--otak sama-sama memisahkan sistem imun perifer dari sistem imun saraf,
yang melindungi otak..

Patogen dapat berevolusi secara cepat dan mudah beradaptasi agar dapat terhindar dari
idenftifikasi dan penghancuran oleh sistem imun, namun mekanisme pertahanan juga
berevolusi untuk mengenali dan menetralkan patogen. Bahkan organisme uniselular seperti
bakteri memiliki sistem imun yang belum sempurna yang membentuk enzim sebagai
perlindungan terhadap infeksi virus. Mekanisme imun lainnya yang berevolusi pada eukariota
kuno masih tetap ada pada keturunan modern, seperti tanaman, ikan, reptil dan serangga.
Mekanisme tersebut termasuk peptida antimikrobial yang disebut defensin, fagositosis, dan
sistem komplemen.[1] Mekanisme yang lebih kompleks berkembang baru-baru ini, dengan
adanya evolusi vertebrata. Imunitas vertebrata seperti manusia berisi banyak jenis protein,
sel, organ tubuh dan jaringan yang berinteraksi pada jaringan yang rumit dan dinamis.
Sebagai bagian dari respon imun yang lebih kompleks, sistem pada vertebrata beradaptasi
untuk mengenali patogen khusus secara lebih efektif. Proses adaptasi membuat memori
imunologis dan membuat perlindungan yang lebih efektif selama pertemuan dengan patogen
berikutnya. Proses imunitas dapatan ini menjadi dasar dari vaksinasi.

Gangguan sistem imun dapat memunculkan penyakit autoimun, penyakit inflamasi, dan
kanker. Defisiensi imun dapat terjadi ketika sistem imun kurang aktif, sehingga menimbulkan
infeksi berulang dan dapat mengancam jiwa. Pada manusia, defisiensi imun dapat juga
dihasilkan dari penyakit genetik seperti defisiensi imunitas kombinasi, kondisi dapatan
seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV atau
dipicu oleh obat imunosupresan (penekan imun). Sebaliknya, penyakit autoimun
menyebabkan sistem imun menjadi hiperaktif menyerang jaringan normal seakan-akan
jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang biasa terjadi di antaranya
artritis rematoid, diabetes melitus tipe 1 dan lupus eritematosus sistemik. Imunologi
merupakan ilmu yang mencakup segala aspek pada sistem imun.

Imunitas Aktif

Imunitas aktif dapat diperoleh dengan melakukan kontak langsung antara toksin atau patogen
sehingga tubuh mampu memproduksi antibodinya sendiri. Wah, hebat banget ya tubuh kita
bisa buat antibodi sendiri. Imunitas aktif itu sendiri dibagi lagi menjadi 2 jenis, yaitu imunitas
aktif dan imunitas alami.

Baca Juga: Apa Itu BMI dan BMR?

Imunitas aktif alami terjadi jika setelah seseorang terpapar penyakit, sistem imunitas
memproduksi antibodi dan limfosit khusus. Imunitas ini dapat bersifat seumur hidup, seperti
pada kasus cacar dan campak, atau sementara seperti pada kasus gonore dan pneumonia.
Berbeda dengan imunitas aktif alami, imunitas aktif buatan timbul karena adanya
rangsangan dari patogen yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui vaksin yang kemudian
mengaktifkan sistem imun. Vaksin sendiri merupakan patogen yang sudah dilemahkan atau
toksin yang sudah diubah sebelumnya. Oleh karena itu, vaksin ini tidak menimbulkan
penyakit, ya! Contohnya adalah vaksin TFT (tetanus formol toxoid) untuk melawan tetanus.

Sudah vaksin belum, Squad? (Sumber: Shutter Stock)

Imunitas Pasif

Imunitas pasif terjadi jika antibodi dari satu individu dipindahkan ke individu lainnya. Sama
seperti imunitas aktif, imunitas pasif juga terbagi menjadi imunitas pasif alami dan imunitas
pasif buatan.

Imunitas pasif alami terjadi melalui pemberian ASI kepada bayi dan saat antibodi IgG
(inunoglobulin G) milik ibu masuk ke plasenta. Antibodi IgG tersebut dapat memberikan
kekebalan sementara untuk beberapa minggu atau beberapa bulan setelah kelahiran. Lalu,
imunitas pasif buatan itu yang kayak apa, ya? Imunitas pasif buatan adalah imunitas pasif
yang terjadi melalui injeksi antibodi dalam serum. Imunitas pasif dihasilkan oleh orang atau
hewan yang kebal karena pernah terpapar antigen tertentu. Contohhnya antara lain antibodi
dari kuda yang kebal terhadap gigitan ular dapat diinjeksikan kepada manusia yang digigit
ular sejenis.

Wah, ternyata imunitas itu ada beberapa jenisnya ya, Squad. Setelah tau jenis-jenis imunitas,
kamu harus semakin semangat menjaga kesehatan tubuh, ya! Eits, belajarnya juga harus tetap
semangat juga, lho. Yuk, biar semakin semangat, belajarnya pakai Ruangguru On-The-Go!
aja! Kamu tinggal colok usb-nya ke HP-mu, lalu bisa langsung dipakai untuk nonton video
belajar tanpa kuota, deh! Yuk, dapatkan sekarang di toko buku terdekat!
BAB II
PEMBAHASAN

A. Jenis-jenis Narkoba
Adapun berikut ini macam-macam jenis narkoba :

1. Opium

Opium berasal dari tanaman bernama Opium Poppy. Nama ilmiahnya Papaver
Mesopotamia sejak tahun 3400 SM. Mereka menyebut tanaman ii dengan nama Hul Gil yang
artinya tumbuhan senang. Sejak saat itu, getah opium telah dimanfaatkan sebagai peredam
rasa sakit saat dilakukan pembedahan. Caranya adalah dengan mengoleskan getah opium
pada pisau yang digunakan untuk membedah si pasien. Kemudian tanaman ini menyebar di
daerah pegunungan Cina, Laos, Kamboja, Myanmar, Thailand dan Vietnam.

2. Morfin

Morfin berasal dari kata Morpheus yaitu salah seorang dewa bangsa Yunani yang
merupakan dewa pemimpin. Morfin merupakan hasil olahan dari opium/candu mentah.
Pertama kali morfin diisolasi pada tahun 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich Wihelm
Adam Serturner. Awalnya morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara
penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium. Namun kemudian banyak orang yang
menyalahgunakannya untuk memperoleh efek kesenangan sesaat.
Morfin terdiri dari beberapa jenis, yaitu bubuk atau serbuk, cairan berwarna putih,
balakon (bentuk balok-balok kecil dengan ukuran dan warna yang berbeda), dan tablet.
Pemakaiannya dengan disuntik, dicampur dengan rokok atau minuman dan juga dengan
dihirup langsung.

3. Heroin

Heroin berasal dari kata heroisch yang berasal dari bahasa Jerman yaitu Hero. Heroin
sama seperti morfin, heroin juga merupakan hasil olahan dari opium/candu. Heroin murni
berbentuk bubuk sedangkan heroin tidak murni berwarna putih keabuan. Zat ini sangat
mudah menembus otak sehingga reaksinya dua kali lebih kuat dibanding morfin. Umumnya
heroin digunakan dengan cara disuntikkan, dibakar lalu diisap asapnya atau dicampur dengan
rokok. Heroin lebih mudah dilarutkan di dalam air sehingga lebih mudah masuk ke dalam
otak. Efek kecanduan dan toleransinya juga cepat.

4. Putaw

Putaw merupakan narkotik opioid sintetik atau designer drug. Putaw berbeda dengan
heroin yang merupakan narkotik jenis opioid. Heroin diproses dari getah opium yang terlebih
dahulu dijadikan morfin karena hanya merupakan obat sintesis. Harga putaw lebih murah
dibandingkan heroin dan morfin. Harganya terjangkau bagi kalangan menengah yang tingkat
pendapatannya rendah. Namun demikian, kekuatan bius putaw jauh melebihi morfin, yaitu
kurang lebih 100x lipat lebih kuat dan efek eophorianya kalah kuat dibandingkan morfin dan
heroin.
Ciri khas yang membedakan antara pemakai putaw dan heorin/morfin adalah pada
putaw si pemakai akan merasakan gatal-gatal terutama pada kulit bagian muka dan hidung
sedangkan pada pemakai heorin/morfin tidak.
Putaw merupakan narkotika yang berbentuk serbuk. Cara pemakaiannya antara lain
dengan dimakan, dihisap asapnya, disuntik langsung ke pembuluh vena, dan dicampur
dengan rokok.

5. Kokain

Kokain merupakan hasil olahan dari tanaman belukar Erythoroxylon coca. Tanaman
tersebut berasal dari Amerika Selatan. Daunnya biasa di kunyah-kunyah oleh penduduk
setempat untuk mendapat efek stimulan. Pada awalnya kokain digunakan sebagai pembiusan
lokal. Khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan. Namun saat ini
penggunaannya banyak disalah gunakan.
Kokain saat ini dikenal dua jenis, yaitu bentuk asam (kokain hidroklorida) dan bentuk
basa (free base). Kokain asam berbentuk kristal putih. Rasanya sedikit pahit dan lebih mudah
larut. Sementara itu, kokain basa tidak berbau dan rasanya pahit. Kokain sering disebut
dengan nama koka, coke, happy dust, snow.
Pemakaiannya dilakukan dengan cara dihirup. Caranya, setumpuk kokain dibagi
menjadi beberapa bagian berbaris lurus di atas permukaan kaca dan permukaan yang datar.
Kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot atau gulungan kertas. Cara lain adalah
dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Menghirup kokain dapat
menyebabkan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.

B. Jenis Narkotik
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bahan tanaman baik
berbentuk sintetis maupun bukan sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran dan hilangnya rasa, zat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dan menyebabkan
ketergantungan.
Berdasarkan UU No. 22 tahun 1997 jenis narkoba dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

 Golongan I yaitu golongan initermasuk narkotik yang paling berbahaya karena daya
aditiktifnya sangat tinggi, golongan ini berguna untuk penelitian dan ilmu
pengetahuan yang termasuk adalah ganja, heroin, kokain, putaw dan opium.
 Golongan II yaitu golongan ini termasuk narkotik yang memiliki daya adiktif sangat
tinggi tetap sangat bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian yang termasuk
narkotik golongan II yaitu betametodal, bemerdin, pestidin.
 Golongan III yaitu golongan ini memiliki daya adiktif yang ringan tetapi dapat
bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian serta untuk perkembangan ilmu
pengetahuan yang termasuk narkotika golongan III yaitu asetihidrotema dan
dihidrovademia.

Ada 4 jenis narkotik yaitu :

a. Ganja

Ganja merupakan jenis narkotik yang berasal dari tanaman perdu yang daunnya
menyerupai daun singkong.
1) Ciri-ciri daun ganja
- Daun bergerigi
- Berbulu halus
- Jumlah daun ganjil
- Kalau diremas-remas mengeluarkan bau yang khas
- Ganja juga memiliki buah, buahnya berwarna kecoklatan dan sebesar biji melinjo.
2) Istilah dari ganja
Antara lain : cimeng, gelek, mariyuana.
Dari ganda kita dapat mengkonsumsi yaitu, buah, batang dan daunnya, yang paling
banyak dikonsumsi adalah daunnya.
Daunnya dapat diolah dalam 3 bentuk yaitu :
- Daun ganja kering (ganja saja)
- Daun ganja yang sudah dijadikan balok (hasis)
- Daun ganja yang sudah diproses sedemikian rupa (carnabis)
3) Cara Menggunakan Ganja
Ada 3 cara yaitu :
- Diisap
- Dicampur dengan tembakau
- Dimakan
4) Ciri Pengguna Ganja
Ciri-cirinya sebagai berikut :
- Matanya merah seperti orang yang kurang tidur.
- Organ tubuhnya malas bergerak.
- Rasa ngantuk yang amat sangat.
- Nafsu makan yang berlipat ganda.
5) Akibat Memakai Ganja
Akibatnay sebagai berikut :
- Denyut nadi bertambah cepat dan tidak teratur.
- Ada rasa takut berlebihan tanpa ada sebab
- Stres dan putus asa
- Melemahnya daya pikir
- Merusak organ-organ tubuh

b. Opium/candu

Adalah bunga dengan bentuk yang sangat indah dan dari pohon opium itulah diambil
getahnya untuk diolah yang dapat menghasilkan apa yang disebut dengan candu. Opium
banyak tumbuh di segitiga emas antara Burma/Myanmar, Kamboja, dan Thailand dan
segitiga emas di daerah Asia Tengah yaitu Afghanistan, Iran, Pakistan.
1) Ciri-cici Tanaman Opium
- Jenis tanaman perdu
- Tinggi pohon siap dipetik kira-kira 110 cm.
- Buahnya berwarna hijau sebesar buah jeruk nipis.
- Daun berwarna hijau dengan panjang 25 cm.
- Getahnya berwarna putih dan berubah menjadi warna bulat.
- Merupakan tumbuhan musiman dan dapat tumbuh di daerah bersuhu 20oC.
2) Akibat Penggunaan Opium
- Rasa mual sehingga ingin muntah.
- Pupik mata mengecil
- Sering menguap karena perasaan ngantuk
- Nafas terasa berat dan melemah
- Dapat timbul berbagai penyakit kulit (bintik-bintik dan berwarna merah, kudis, dan lainnya).

C. Macam-macam Psikotropika
Menurut UU No. 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat alami atau sintesis
tapi bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh yang selektif pada susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku si pemakai.
Psikotropika digolongkan ada 2 yaitu: alami dan sintesis. Alami adalah obat-obatan
berasal dari alam, sintesis adalah hasil dari olahan pabrik.
Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997 tentan psikotropika:

 Golongan I adalah dengan daya adiktif yang sangat kuat yang dipergunakan untuk
ilmu pengetahuan, yang termasuk psikotropika golongan I yaituMDMA/Ekstasi, LSD,
dan STP.
 Golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk
pengobatan dan ilmu pengetahuan yang termasuk psikotropika golongan II yaitu
Amfetamin (sabu-sabu, metamfetamin, dan metakualon).
 Golongan III adalah psikotropika dengan daya adiktif sedang serta berguna untuk
pengobatan dan ilmu pengetahuan yang termasuk psikotropika golongan III yaitu
amorbatinal, guprenartiria, butalbitol.
 Golongan IV adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan serta berguna untuk
pengobatan dan ilmu pengetahuan yang termasuk psikotropika golongan IV yaitu
nitrozepan, diazepan (nipan, megador, rohipnol, dan BK serta mordazepan).
Pengaruh psikotropika terhadap pemakai ada 3 yaitu :
a. Depressansia
Adalah mengendorkan dana dan mengurangi kegiatan susunan saraf pusat.
b. Stimulasi
Berlawanan dengan depressansia yaitu untuk meningkatkan keaktifan susunan saraf pusat.
c. Halusinogen
Adalah menimbulkan khayalan yang sangat menyenangkan.

D. Macam-macam Zat Adiktif


Zat adiktif adaah zat atau bahan yang berpengaruh adiktif bagi penggunanya. Adiktif
berasal dari kata addict yang berarti ketagihan, ketergantungan, kecanduan.
Yang termasuk zat adiktif sebagai berikut :
- Kafein atau kopi
- Nikotin pada rokok
- Alkohol pada minuman keras

Macam-macam Zat Adiktif


1. Inhalen
Adalah jenis narkoba yang dikonsumsi dengan cara diisap atau dihidup. Benda yang
termasuk dalam inhalen adalah lem perekat, tiner, dan pengencer cat.
a) Akibat Pengguna Inhalen, antara lain :
- Merusak pertumbuhan dan perkembangan otak
- Merusak saraf dan organ tubuh lainnya
- Menyebabkan rasa mual dan muntah-muntah.
- Menghilangkan kesadaran dan ingatan.
- Membuat otot kejang
- Sakit saat buang air kecil
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Narkoba adalah obat-obatan yang sangat berbahaya, narkoba terdiri dari beberapa
macam. Narkoba juga membuat kecanduan. Di dalam negara narkoba adalah perbuatan yang
ditakuti dan dimusuhi.

B. Saran
Karya tulis ini memberikan pembaca untuk mengetahui dan membuka wawasan
pembaca mengenai narkoba. Semoga setelah membaca karya tulis ini pembaca bisa mengerti
dan tidak akan mendekati narkoba.

Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif

Pada dasarnya, narkotika dan psikotropika adalah zat adiktif yang berbeda. Lalu apa itu zat
adiktif? Zat adiktif adalah zat-zat yang bisa menyebabkan ketagihan ketika dikonsumsi secara
rutin. Bahan adiktif, termasuk bahan-bahan alami, semi sintetis, maupun sintetis, yang bisa
digunakan sebagai pengganti kokain atau morfin, bisa mengganggu sistem saraf pusat. Hal-
hal yang termasuk bahan adiktif adalah nikotin, kafein, alkohol yang mengandung ethyl
etanol, bahan pelarut berupa zat organik (karbon) yang dihasilkan oleh minuman beralkohol,
dan banyak lagi.

Jadi, karena narkotika dan psikotropika termasuk zat-zat yang menimbulkan kecanduan pada
penggunanya, maka keduanya termasuk zat adiktif. Lalu apa perbedaan antara narkotika dan
psikotropika? Berikut penjelasan lengkapnya!

Narkotika

Berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi-sintetis, yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang.

Narkotika bisa memengaruhi susunan saraf dan membuat penggunanya tidak merasakan apa-
apa, meskipun ada bagian tubuh yang disakiti. Yang termasuk jenis narkotika adalah tanaman
papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfin, kokain,
ekgonin, tanaman ganja, dan damar ganja. Berikut penjelasannya!
 Morfin. Zat aktif yang paling banyak diperoleh dari tanaman opium. Penggunaan morfin
memiliki efek samping berupa penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan
penglihatan kabur. Ketergantungan morfin dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk.
 Heroin. Heroin dibuat dari olahan morfin dan memiliki efek 2 kali lipat lebih kuat dari morfin
sebagai obat bius. Memiliki efek ketergantungan 2 kali lebih kuat dari morfin.
 Hidromorfin. Hidromorfin juga merupakan olahan dari morfin dan memiliki efek bius 2-8 kali
lebih kuat ketimbang morfin. Efek ketergantungannya ada, namun kecil. Maka dari itu,
hidromorfin menjadi pilihan dalam dunia kedokteran saat pembiusan.

Baca juga: Sama dengan Narkoba, Junk Food Juga Bikin Ketagihan

Psikotropika

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat, yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental
dan perilaku.

Dari penjelasannya saja sudah bisa dilihat bahwa obat-obatan in memiliki perbedaan dalam
aspek efek yang ditimbulkan. Kalau narkotika dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, kehilangan rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Sedangkan psikotropika memengaruhi susunan saraf pusat dan
menyebabkan perubahan aktivitas mental dan perilaku. Artinya, psikotropika adalah bahan-
bahan yang tidak mengandung narkotika, atau merupakan zat buatan yang dibuat sesuai
dengan aturan struktur kimia.

Dalam undang-undang juga dijelaskan bahwa psikotropika dibagi menjadi empat kategori,
yaitu psikotropika golongan 1, golongan II, golongan III, dan golongan IV. Menurut undang-
undang tersebut, zat-zat psikotropika tunggal dikategorikan pada golongan III dan golongan
IV. Sementara itu, psikotropika golongan I dan golongan II dimasukkan ke dalam kategori
narkotika. Berikut contoh-contoh psikotropika:

 Ekstasi. Bahan kimia senyawa MDMA memiliki kandungan dominan di dalam ekstasi. Meski
sering disalahgunakan, ekstasi sangat berguna di dunia medis. Zat kimia ini bisa mengobati
gangguan kecemasan. Maka dari itu, ini sangat bermanfaat bagi pengobatan psikologis. Obat
ini juga bisa digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson.
 Sedatif. Sedatif atau obat penenang adalah obat psikotropika yang memberikan efek tidur
dan rasa tenang kepada penggunanya. Dalam dunia medis, sedatif sangat bermanfaat. Jika
dikonsumsi dalam dosis yang tepat, bisa memberikan efek menyembuhkan. Namun bila
dikonsumsi secara berlebihan, bisa memperparah penyakit. Sedatif tidak dijual bebas di
apotek dan harus menggunakan resep dokter. Salah satu contoh sedatif adalah dumolid.

Jadi pada intinya, narkotika termasuk ke dalam psikotropika. Namun, tidak semua
psikotropika adalah narkotika. Meski beberapa psikotropika tidak termasuk ke dalam
narkotika, zat adiktif di dalamnya lah yang membuatnya tidak boleh dijual secara bebas dan
digunakan secara berlebihan. Kedua zat ini harus dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.