Anda di halaman 1dari 20

HUBUNGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT

DENGAN PEMERINTAH DAERAH

DISUSUN OLEH : AHMADNI


Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

HUBUNGAN ANTARA
PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH
DAERAH

AHMADNI

STAF AHLI BUPATI BIDANG SUMBER DAYA MANUSIA DAN


KESEJAHTERAAN RAKYAT
PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR 2016

i
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan, serta pelaksanaan urusan
pemerintahan. Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

“Tak ada gading yang tak retak”, begitupun makalah ini, saya menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dalam penyusunannya, makalah ini saya akui masih jauh dari
sempurna, karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang dan terbatas. Oleh kerena itu
saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini dengan harapan untuk perbaikan kualitas
makalah ini ke depannya.

Manggar, 18 Mei 2016

AHMADNI

Page 1
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 1


DAFTAR ISI ....................................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG ........................................................................................... 3
1.2. RUMUSAN MASALAH ....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1. HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH ................................... 5
2.1.1 Urusan Kewenangan ................................................................................................. 7
2.1.2 Keuangan Daerah ...................................................................................................... 9
2.1.3 Pelayanan Umum .................................................................................................... 12
2.1.4 Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Lainnya ................................. 12
2.2. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN DAERAH .13

BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN ..................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 18

Page 2
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hubungan antara pusat dan daerah selalu menjadi sasaran menarik untuk
ditelaah. Setelah bedirinya Negara Indonesia urusan pemerintah pusat dan daerah selalu
berubah-ubah. Ini dapat dilihat dari perubahan Undang-undang Tentang Pemerintahan
Daerah. Untuk mencapai tujuan Negara di Bidang Kesejahteraan Rakyat perlu
dilakukan pengaturan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga terjalin
kinerja yang baik. Oleh karena itu penyelenggaraan pemerintah daerah diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaan, dan peran serta masyaraka, serta peningkatan daya saing daerah dengan
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan/kekhususan
suatu daerah dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih
memperhatikan aspek-aspek hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah, potensi
dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan persaingan global dalam
kesatuan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara.
Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah sekarang adalah
Pemerintahan daerah harus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah mereka untuk
memenuhi target APBD (Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah)
Sistem Pemerintahan Otonomi Pemerintahan Daerah adalah mandiri dalam
menjalankan urusan rumah tanganya. Pemerintahan Daerah memerlukan alat-alat
perlengkapannya sendiri sebagai pegawai/pejabat–pejabat daerah dan bukan
pegawai/pejabat pusat. Memberikan wewenang untuk menyelenggarakan rumah tangga
sendiri berarti pula membiarkan bagi daerah untuk berinisiatif sendiri dan untuk
merealisir itu, daerah memerlukan sumber keuangan sendiri dan pendapatan-pendapatan
yang diperoleh dari sumber keuangan sendiri memerlukan pengaturan yang tegas agar
di kemudian hari tidak terjadi perselisihan antara pusat dan daerah mengenai hal –hal
tersebut diatas.

Page 3
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul Kewenangan Pemerintah Pusat dan daerah

dalam pengelolaan lingkungan, adalah “memberikan penjelasan tentang kewenangan

Pemerintah Pusat dan daerah serta dampaknya yang lansung dan tidak langsung dirasakan

oleh masyarakat.

Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah memberikan masukan dan

informasi kepada pembaca tentang bagaimana kewenangan dan dampak dari kewenangan

yang dijalankan oleh Pemerintahan Daerah.

Dari uraian diatas, maka penulis mengambil judul; “HUBUNGAN ANTARA

PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH’’;

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Bagaimana hubungan antara pemerintah pusat dan daerah;
1.2.2 Bagaimana pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah yang dilakukan
oleh Gubernur di era otonomi daerah;

Page 4
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH


Pasal 1 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menyatakan Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Oleh
karena itu sebagai Negara kesatuan ini dibentuklah Pemerintahan Negara Indonesia
sebagai Pemerintah Nasional. Dan Pemerintah Nasional membentuk daerah dengan
kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas
otonomi dan tugas perbantuan dan diberikan otonomi yang seluas-luasnya.
Manfaat Pemerintah Nasional membentuk daerah dengan kewenangan untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dengan
pemberian otonomi seluas-luasnya untuk daerah adalah:
a. Untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta msyarakat;
b. Mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan keistimewaan/ kekhususan, serta potensi dan keanekaragaman
daerah.
c. Bisa mengatur dan mengurus daerahnya sesuai aspirasi dan kepentingan
masyarakatnya.

Hubungan antara pemerintah pusat dan daerah selalu menjadi sorotan menarik
untuk ditelaah. Setelah berdirinya Republik Indonesia dan dibentuknya pemerintahan
pusat dan daerah, tak selalu hubungan yang terjalin penuh keharmonisan. Ada kalanya
terjadi beberapa “perselisihan”. Baik sejak zaman orde lama, orde baru, bahkan pada era
reformasi ini. Pada dasarnya, guna mencapai tujuan Negara yaitu kemakmuran rakyat,
perlu adanya hubungan harmonis dari berbagai pihak. Termasuk pemerintah pusat dan
daerah. Dengan adanya hubungan yang harmonis, diharapkan terjalin kinerja yang
sinergis sehingga pelayanan negara terhadap rakyat dapat diwujudkan. Perbincangan
tentang hubungan pemerintahan antara pusat dan daerah senantiasa selalu menjadi
perdebatan panjang dinegara manapun di dunia ini, baik pada negara-negara yang telah
maju seperti Amerika Serikat dan Inggris apalagi bagi negara yang baru berkembang

Page 5
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

dan sedang berusaha mencari bentuk dan bereksprimen tentang bentuk hubungan yang
serasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat seperti Republik Indonesia ini.
Hubungan Pusat-Daerah dapat diartikan sebagai hubungan kekuasaan pemerintah pusat
dan daerah sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi dalam pemerintahan
negara. Dengan adanya kekuasaan yang terdesentralisasi, diharapkan semua stakeholder
yang terlibat dapat bersinergi dan mendapatkan hak dan kewajiban sebagaimana
seharusnya. Secara umum hubungan antara pusat dan daerah dalam penyelenggaraan
pemerintahan adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah Pusat yang mengatur hubungan antara Pusat dan Daerah yang
dituangkan dalam peraturan perundangan yang bersifat mengikat kedua belah
pihak. Namun dalam pengaturan hubungan tersebut haruslah memperhatikan
aspirasi daerah sehingga tercipta sinerji antara kepentingan pusat dan daerah.
2. Tanggung jawab akhir dari penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan yang
diserahkan kepada daerah adalah menjadi tanggung jawab pemerintah pusat karena
dampak akhir dari penyelenggaraan urusan tersebut akan menjadi tanggung jawab
negara
3. Peran pusat dalam kerangka otonomi daerah akan banyak bersifat menentukan
kebijakan makro, melakukan supervisi, monitoring, evaluasi, kontrol dan
pemberdayaan sehingga daerah dapat menjalankan otonominya secara optimal.
Sedangkan peran daerah akan lebih banyak bersifat pelaksanaan otonomi tersebut.
Dalam melaksanakan otonominya, daerah berwenang membuat kebijakan daerah.
Kebijakan yang diambil daerah adalah dalam batas-batas otonomi yang diserahkan
kepadanya dan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih
tinggi

Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki


hubungan dengan pemerintah pusat, hubungan tersebut diantaranya meliputi;
- Hubungan Wewenang;
- Keuangan;
- Pelayanan Umum;
- Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Lainnya.

Page 6
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

2.1.1 Hubungan Kewenangan


Urusan pemerintahan sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintahan
pusat dikenal sebagai istilah urusan pemerintahan absolut dan urusan
pemerintahan KONKUREN.
2.1.1.1. Urusan Pemerintahan Kerukunan terdiri :
A. Urusan pemerintahan wajib meliputi :
A.1 Urusan pemerintahan wajib terkait pelayanan dasar :
a. Pendidikan;
b. Kesehatan;
c. PK dan tata ruang;
d. Perumahan dan kawasan pemukiman;
e. Tramtibum dan Linmas;
f. Sosial.
B.1 Urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait pelayanan dasar
atau macam-macam pelayanan dasar :
a. Tenaga kerja;
b. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
c. Pangan;
d. Pertanahan;
e. Lingkungan hidup;
f. Admini Dukcapil;
g. PMD;
h. Pengendalian PDDK dan KB;
i. Perhubungan;
j. Kominfo;
k. Koperasi atau usaha kecil menengah;
l. Penanaman modal;
m. Kepemudaan dan olahraga;
n. Static;
o. Persandian;
p. Kebudayaan;
q. Perpustakaan;
r. Arsip.

Page 7
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Selanjutnya pembagian urusan pemerintahan kerukunan


antara Daerah Provinsi dengan Daerah Kabupaten/Kota walaupun
urusan pemerintahan sama, tetapi ada perbedaan yaitu nampak dari
skala atau ruang lingkup urusan pemerintahan tersebut. Begitu juga
walaupun Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai
urusan pemerintahan masing-masing sifatnya tidak hierarki, tetapi
tetap terdapat hubungan antara Pemerintah Pusat, Daerah Provinsi
dan Daerah Kabupaten/ Kota dalam pelaksanaannya karena mengacu
pada NSPK (Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria) yang dibuat
oleh Pemerintah Pusat.
B. Urusan pemerintahan pilihan meliputi :
1. Kelautan dan perikanan;
2. Pariwisata;
3. Pertanian;
4. Kehutanan;
5. Energi dan sumber daya mineral;
6. Perdagangan;
7. Perindustrian; dan
8. Transmigrasi.
Pelaksanaan pembagian urusan pemerintahan kerukunan antara
Pemerintah Pusat, Daerah Provinsi serta Daerah Kabupaten/ Kota
didasarkan pada prinsip akuntabilitas, efisiensi dan eksternalitas, serta
kepentingan strategis nasional.

2.1.1.2. Urusan Pemerintahan Absolut, meliputi;


a. Politik dan Negeri;
b. Pertahanan;
c. Keamanan;
d. Yustisi;
e. Moneker dan Fiskal Nasional;
f. Agama.
Disamping urusan pemerintahan absolute dan urusan pemerintahan
kerukunan, dikenal hanya urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan

Page 8
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

umum menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala Pemerintahan, yang


meliputi;
a. Terkait pemeliharaan ideolosi pancasila;
b. Undang Undang Dasar Negeri RI Tahun 1945;
c. Bhinneka Tunggal Ika;
d. Menjalin hubungan yang serasi berdasarkan Suku, Agama Ras dan antar
golongan sebagai pihak kehidupan berbangsa dan bernegara;
e. Memfasilitasi kehidupan demokrasi.

2.1.2 Keuangan Daerah


Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah akan terlaksana secara
optimal, apabila penyelenggaraan urusan pemerintah diikuti dengan pemberian
sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah. Pemberian sumber
keuangan kepada daerah harus seimbang dengan beban atau urusan pemerintahan
yang diserahkan kepada daerah (UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Daerah Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah).
Keseimbangan sumber keuangan ini merupakan jaminan terselenggaranya urusan
pemerintahan daerah. Ketika daerah mempunyai kemampuan keuangan yang
kurang mencukupi khususnya urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan
dasar, maka pemerintahan pusat dapat menggunakan instrumen DAK untuk
membantu daerah sesuai dengan prioritas nasional yang ingin dicapai
Penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Penerimaan
daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan dan pembiayaan.
Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan. Pembiayaan adalah
semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/ atau pengeluaran yang akan
diterima kembali, baik pada tahun anggaran tersebut maupun pada tahun- tahun
anggaran berikutnya.
Pendapatan daerah sesuai Pasal 5 Ayat 2 Undang Undang Nomor 33
Tahun 2014 bersumber dari:
a. Pendapatan asli daerah;
b. Dana perimbangan;
c. Lain-lain pendapatan.

Page 9
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Pembiayaan menurut Pasal 5 Ayat 3 Undang Undang Nomor 33 Tahun


2014 bersumber dari:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran daerah;
b. Penerimaan pinjaman daerah;
c. Dana cadangan daerah;
d. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Pada dasarnya APBD disusun dengan mempertimbangkan kemampuan


keuangan daerah. Apabila belanja diperkirakan lebih besar dari pada pendapatan,
maka sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit diperoleh dari
penggunaan SILPA, PINJAMAN DAERAH, DANA CADANGAN, dan HASIL
PENJUALAN KEKAYAAN DAERAH yang DIPISAHKAN.
Sumber dana dari pendapatan asli daerah yang dikelola oleh pemerinyah
bersumber dari:
a. Pajak daerah;
b. Retribusi daerah;
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;
d. Lain-lain PAD yang sah.

Pajak Daerah, adalah urusan wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau
Badan Kepala Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat
dipaksanakan berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Retribusi daerah adalah pengaturan daerah sebagai pembayaran atas jasa
atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/ atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah, adalah pendapatan asli
daerah yang tidak termasuk pada kelompok diatas pajak daerah, retribusi daerah
dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Hasil Pengelolaan Keuangan Daerah Yang Dipisahkan, adalah hasil
penyertaan pemerintah daerah kepada Badan Usaha Milik Negara/ Daerah/
Swasta dan Kelompok Usaha Masyarakat.

Page 10
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Dana perimbangan merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari


APBN, yang terdiri:
a. Dana Bagi Hasil (DBH); Sistem Transfer Dana dari
b. Dana Alokasi Umum (DAM); Pemerintah dan merupakan satu
c. Dana Alokasi Khusus (DAK; kesatuan yang utuh

Dana perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam


mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimbangan
sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan daerah, serta untuk
mengurangi kesenjangan pemerintahan antar daerah.
Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagi
misalkan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu, Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan, sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000, Mengatur Tentang :
a. Bagi Hasil Penerimaan Pajak Penghasilan;
b. Bagi Hasil Penerimaan Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam
Negeri;
c. Bagi Hasil Penerimaan PPH Pasal 21;
d. Bagi Hasil Penerimaan Pertambangan Panas Bumi;
e. Bagi Hasil Penerimaan Dana Reboisasi.

DAU bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah


melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi
daerah. DAU suatu daerah yang ditentukan oleh besar kecilnya cetak fiskal
(fiskal gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah dan
potensi daerah. Artinya DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar, tetapi
kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU yang relatif kecil.
Sebaliknya daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar
akan memperoleh alokasi DAK relative besar.
DAK bertujuan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus
daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas
nasional. Khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana

Page 11
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

pelayanan dasar masyarakat yang belum memcapai standar tertentu atau untuk
mendorong percepatan pembangunan daerah.
Lain-lain Pendapatan selain Hibah adalah dana darurat kepada daerah
karena bencana social nasional dan/ atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat
ditanggulangi dengan dana APBD. Selain itu pemerintah dapat memberikan
dana darurat pada daerah yang mengalami krisis Solvabilitas, yaitu daerah
yang mengalami krisis keuangan yang berkepanjangan. Hal ini bentuk
menghindari penurunan pelayanan kepada masyarakat setempat, sehingga
pemerintah dapat memberikan dana darurat kepada daerah setelah terlebih
dahulu terkonsultasi dengan DPD.

2.1.3 Pelayanan Umum


Pelaksanaan dari pelayanan umum/ publik yang disediakan oleh peerintah
daerah kepada masyarakat. Oleh karena itu untuk mendorong terciptanya daya
guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam
mensejahterakan masyarakat, maka peningkatan pelayanan publik perlu
dioptimalkan. Untuk itu setiap pemerintah daerah wajib membuat maklumat
pelayanan publik sehingga masyarakat didaerah akan mengetahui jenis pelayanan
publik yang disediakan. Begitu juga cara mendapatkan aksesnya serta kejelasan
dalam prosedur, dan biaya untuk memperoleh pelayanan publik tersebut, serta
adanya keluhan manakala pelayanan publik yang didapat tidak sesuai dengan
standar yang telah ditentukan.

2.1.4 Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Lainnya.


Pembagian tugas dan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah
sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintah Daerah, dapat dijelaskan bahwa pembagian pengelolaan hutan, laut,
energi sumber daya mineral sebagai berikut
a. Penyelenggaraan urusan pemerintahan (pilihan) bidang kehutanan, kelautan
serta energi dan sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah Pusat dan
Daerah Provinsi;
b. Bidang kehutanan yang pengelolaan taman hutan raya Kabupaten/ Kota
menjadi kewenangan Daerah Kabupaten/ Kota;

Page 12
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

c. Bidang energi dan sumber daya mineral yang berkaitan dengan pengelolaan
minyak dan gas bumi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, sedangkan
pemanfaatan langsung panas bumi dalam Daerah Kabupaten / Kota menjadi
kewenangan Daerah Kabupaten/ Kota;
d. Kewenangan Daerah Provinsi untuk mengelola Sumber daya alam dilaut
meliputi:
 Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut diluar
minyak dan gas bumi;
 Pengaturan administrative;
 Pengaturan tata ruang;
 Ikut serta dalam memelihara keamanan dilaut;
 Ikut serta dalam mempertahankan kedaulatan Negara.
e. Kewenangan Daerah Provinsi untuk mengelola Sumber daya alam dilaut
paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan / atau
kearah perairan kepulauan;
f. Apabila wilayah laut antar dua Daerah Provinsi kurang dari 24 mil, maka
kewenangan untuk mengelola Sumber daya alam dilaut dibagi sama jarak
atau diukur sesuai dengan prinsip garis tengah dari wilayah antar dua Daerah
Provinsi tersebut. Ketentuan pembagian pengelolaan laut berdasarkan jarak
tersebut tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil;
g. Daerah Provinsi berciri kepulauan mendapat penegasan dari Pemerintah Pusat
untuk melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat dibidang kelautan
berdasarkan asas tugas pembantuan dimana Pemerintah Pusat menyusun
perencanaan pembangunan dan menetapkan kebijakan DAU dan DAK.
Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan di Daerah Provinsi yang
berciri Kepulauan Pemerintah Pusat dapat mengalokasikan dana percepatan
diluar DAU dan DAK.

2.2 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN DAERAH


Dalam penyelenggaraan pemerintahan, kita / Negara RI menganut rasa
DEKONSENTRASI, DESENTRALISASI dan TUGAS PEMBANTUAN. Pelaksanaan
asas desentralisasi dijalankan secara utuh oleh Daerah Kabupaten/ Kota. Hal tersebut
dimaksudkan untuk memberkan kesempatan keleluasaan kepada daerah otonom dalam

Page 13
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat secara bertanggungjawab


menurut Prakarsa sendiri serta berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Pemberian otonomi daerah ditekankan pada prinsip demokrasi keadilan,
pemerataan, keistimewaan, kekhususan, memperhatikan potensi dan keanekaragaman
daerah, serta partisipasi masyarakat prinsip tersebut telah membuka peluang dan
kesempatan yang sangat luas kepada daerah otonom untuk melaksanakan
kewenangannya secara mandiri, nyata dan tanggungjawab dalam mewujudkan
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan serta pelayanan, pemberdayaan dan
peran serta masyarakat dan daya saing masyarakat.
Pemerintah daerah merupakan Sub sistem dari Pemerintahan Nasional dan
secara Implisit, maka pembinaan dan pengawasan terhadap pemerintahan daerah
merupakan bagian Internal dari sistem penyelenggaraan pemerintahan. Pembinaan atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah upaya yang dilakukan Pemerintahan dan /
atau Gubernur wakil pemerintah didaerah untuk mewujudkan tercapainya tujuan
penyelenggaraan otonomi daerah. Daalm rangka pembinaan oleh Pemerintah Pusat,
Menteri dan Pimpinan Lembaga Pemerintah NON Kementerian melakukan pembinaan
sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing yang dikoordinasikan oleh
Menteri Dalam Negeri untuk pembinaan dan pengawasan Provinsi, serta Gubernur
untuk pembinaan dan pengawasan Kabupaten/ Kota.
Pengawasan atas penyelenggaraanPemerintahan Daerah adalah proses kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintah Daerah berjalan sesuai dengan rencana
dan ketentuan peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan yang
dilaksanakan oleh pemerintah terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan
dan, utamanya terhadap Peraturan Daerah (Perda), dan Peraturan Kepada Daerah
(PERKADA).
Pengawasan terhadap rancangan peraturan daerah dan peraturan kepada daerah,
pemerintah melakukan dengan 2 (dua) cara yaitu:
a. Pengawasan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA), yaitu terhadap
rancangan peraturan daerah yang mengatur pajak daerah, retribusi daerah, APBD,
dan RUTR sebelum disahkan oleh kepala daerah terlebih dahulu di Evaluasi oleh
Menteri Dalam Negeri untuk Raperda Provinsi, dan oleh Gubernur terhadap

Page 14
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Raperda Kabupaten/ Kota. Mekanisme ini dilakukan agar pengaturan tentang hal-
hal tersebut dapat mencapai daya guna dan hasil guna yang optimal.

b. Pengawasan terhadap semua peraturan daerah diluar yang dimaksud angka 1


(satu), yaitu setiap peraturan daerah wajib disampaikan kepada Menteri Dalam
Negeri untuk Provinsi dan Gubernur untuk Kabupaten/ Kota untuk memperoleh
klarifikasi. Selanjutnya terhadap peraturan daerah yang bertentangan dengan
kepentingan umum dan peraturan yang lebih tinggi dapat dibatalkan sesuai
mekanisme yang berlaku.

Untuk memaksimalkan fungsi pembinaan dan pengawasan, Pemerintah dapat


menerapkan sanksi kepada Penyelenggara Pemerintahan Daerah, apabila ditemukan
adanya penyimpangan dan pelanggaran oleh penyelenggara pemerintah daerah tersebut.
Sanksi dimaksud dapat berupa:
- Penataan kembali suatu daerah otonom;
- Pembatalan pengangkatan pejabat;
- Penanggukan dan pembatalan berlakunya suatu kebijakan daerah, baik berupa
Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah, dan Ketentuan lain yang ditetapkan
daerah;
- Dapat memberikan sanksi pidana yang diproses sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Pembinaan dan Pengawasan Gubernur karena jabatannya berkedudukan juga


sebagai Wakil Pemerintah diwilayah Provinsi yang bersangkutan bertanggung jawab
kepada Presiden memiliki tugas dan wewenang ;
a. Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kabupaten /
Kota;
b. Koordinasi penyelenggara urusan pemerintah didaerah Provinsi dan Kabupaten /
Kota;
c. Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan
didaerah Provinsi dan Kabupaten / Kota.

Page 15
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

Pembinaan dan Pengawasan diatur dalam Pasal 373 sampai Pasal 380 Undang
Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintahan Nomor 79 Tahun 2005
Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
yang secara operasional diatur dalam Pereaturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23
Tahun 2007 Tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah
Daerah.

Page 16
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
A. Terciptanya hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, maka
Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian berkewajiban membuat
Norma Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) untuk dijadikan pedoman bagi
Daerah dalam menyelenggarakan urusan Pemerintahan yang diserahkan ke
Daerah dan menjadi pedoman bagi Kementerian/Lembaga Pemerintah Non
Kementerian untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

B. Efektifitas dan efisiensi pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan


urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Kabupaten/Kota, maka
Presiden sebagai penanggungjawab akhir Pemerintahan secara keseluruhan
melimpahkan kewenangannya kepada Gubernur untuk bertindak atas nama
Pemerintah Pusat untuk melakukan pembinaan dan pengawasan kepada Daerah
Kabupaten/Kota agar melakukan otonominya dalam koridor NSPK yang
ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

Page 17
Hubungan Antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.


2. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2005 Tentang Keuangan.
3. Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.

Page 18