Anda di halaman 1dari 16

Rencana Kerja dan

Syarat-Syarat (RKS)

SYARAT-SYARAT TEKNIS

1. UMUM
Persyaratan Teknis ini berlaku untuk seluruh Pekerjaan, secara umum persyaratan ini bisa ditetapkan dan
merupakan kesatuan dengan dokumen lainnya.

2. REFERENSI
2.1 Dalam pelaksanaan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain, berlaku ketentuan-ketentuan di bawah ini
termasuk segala perubahannya.
a) Peraturan Presiden nomor 54 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
b) Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
39/KPTS/M/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa
Konstruksi oleh Instansi Pemerintah.
c) Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara.
d) Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor :
10/KPTS/2000 tanggal 1 Maret 2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya
Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
e) Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor :
11/KPTS/2000 tanggal 1 Maret 2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan
Kebakaran di Perkotaan.
f) Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
g) Standar/pedoman teknis yang berlaku seperti :
 Peraturan Beton Bertulang Indonesia PBI 1971, SK-SNI T-
15.1991.03
 Peraturan Muatan Indonesia NI. 8 dan Indonesian Loading
Code 1987 (SKBI-1.2.53.1987)
 Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen
Tenaga Kerja
 Peraturan Semen Potland Indonesia NI 8 tahun 1972
 Peraturan Bata Merah sebagai bahan bangunan NI 10
 Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah
Daerah setempat yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
 Petunjuk-petunjuk dan peringatan tertulis yang diberikan
Direksi Teknis Pekerjaan.
h) Peraturan Daerah tentang Tata Bangunan

2.2 Apabila ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknis tidak diatur dalam persyaratan teknis
umum/khusus maka Penyedia Barang/Jasa harus mengajukan salah satu persyaratan berikut ini guna
mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
2.3 Standar/Normal/Pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjaan yang bersangkutan yang
diterbitkan oleh instansi, asosiasi, lembaga pengujian ataupun badan lainnya yang berwenang.
2.4 Brosur Teknis dari produsen yang dilengkapi dengan sertifikat dari lembaga pengujian

3. PENJELASAN GAMBAR-GAMBAR
1. Ukuran
Pada dasarnya semua ukuran yang tertera dalam gambar kerja adalah ukuran jadi meliputi ukuran :
a. As - as
b. Luar - luar
c. Dalam - dalam
d. Luar - dalam

2. Perbedaan Gambar
2.1 Bila gambar kerja tidak sesuai dengan RKS, maka yang mengikat adalah RKS atau ditentukan
kemudian oleh Direksi Pekerjaan.
1
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

2.2 Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin kerja, maka gambar
yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku/mengikat.
2.3 Bila ada beberapa gambar dengan tanggal pengeluaran yang berbeda untuk satu masalah,
maka gambar dengan gambar yang termuda/terbaru yang mengikat/berlaku.
2.4 Bila ada perbedaan antara gambar kerja arsitektur dengan struktur, maka yang berlaku/
mengikat adalah gambar kerja arsitektur sepanjang tidak mengurangi segi konstruksi dan
kekuatan struktur.
2.5 Bila ada perbedaan antara gambar kerja arsitektur dan gambar kerja elektrikal & mekanikal,
maka yang dipakai sebagai pegangan adalah ukuran fungsional dalam gambar kerja arsitektur.
2.6 Bila perbedaan-perbedaan itu, ketidakjelasan maupun kesimpangsiuran menimbulkan keragu-
raguan sehingga dalam pelaksanaan dapat menimbulkan kesalahan, maka Penyedia Jasa
diwajibkan menyampaikan kepada Direksi Teknis Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan.
2.7 Ketentuan di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Penyedia Jasa untuk memperpanjang waktu
pelaksanaan maupun mengajukan claim biaya pekerjaan tambah.

4. PEKERJAAN-PEKERJAAN
I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
Lingkup Pekerjaan
1.1 Mobilisasi dan Demobilisasi
Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, Penyedia Barang/Jasa harus melaksanakan mobilisasi
peralatan dan tenaga kerja yang menunjang pelaksanaan pekerjaan, selambat-lambatnya 30 (tiga
puluh) hari sejak Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan. Mobilisasi dilakukan sesuai dengan
lingkup pekerjaan meliputi:
 Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
 Mempersiapkan fasilitas seperti kantor proyek, bengkel, gudang dan sebagainya.
 Mendatangkan personil-personil.
Pekerjaan demobilisasi dilaksanakan apabila pekerjaan dianggap telah selesai dan dengan
persetujuan dari Pihak Pengguna Jasa/Direksi Pekerjaan.
1.2 Pembuatan Direksi Keet, Gudang dan Barak Pekerja
Untuk gudang dan bangsal kerja dibuat bangunan sementara yang dapat melindungi pekerja dari
panas dan hujan. Untuk direksi Keet digunakan bahan rangka kayu, dinding papan atau triplex dicat,
atap seng BJLS 20, lantai rabat beton. Bangunan ini harus dibongkar setelah pekerjaan selesai
dilaksanakan. Untuk Direksi Keet, dibuat dengan konstruksi semi permanen dengan ukuran sesuai
gambar, luas = 21 M2, dilengkapi mobiler sederhana 1 meja tulis, beberapa buah kursi duduk, dan 1
lembar triplek tempat menempel gambar. Pembuatan direksi keet ini juga dilengkapi dengan
pengadaan daya listrik untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan menggunakan genset/power suplly
dengan kapasitas daya yang mencukupi.
1.3 Pengadaan Air Untuk Pelaksanan Pekerjaan
Untuk penampungan air kerja disiapkan drum penampung, air harus memenuhi kualitas yang
ditentukan dalam PBI 1991. Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air
terdekat, kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah disediakan. Kebutuhan air ini harus
disediakan dalam jumlah yang cukup selama pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat
yang tercantum dalam PBI NI 2.
1.4 Pembuatan Papan Plank Nama Proyek
Untuk papan nama proyek digunakan tiang dari kayu dan papan tebal 2,5 cm dicat putih, dengan
ukuran 200 x 100 cm. Didirikan tegak diatas kayu 5/10 cm setinggi 240 cm. Diletakkan pada tempat
yang mudah dilihat umum. Papan nama proyek memuat :
 Nama Proyek
 Pemilik Proyek
 Lokasi Proyek
 Jumlah Biaya (Nilai Kontrak)
 Nama Konsultan Perencana
 Nama Konsultan Pengawas
 Nama Penyedia Jasa (Kontraktor)
 Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan dimulai tanggal, bulan, tahun
1.5 Pekerjaan Pengukuran

2
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

1) Sebelum memulai pekerjaan pelaksanaan pekerjaan Penyedia Jasa


diwajibkan mempelajari dengan seksama rencana tapak dan titik mula/awal pembangunan dan
referensi koordinat, pengukuran beda tinggi dan peta situasi lapangan sesuai dengan petunjuk
Pihak Direksi Pekerjaan atau seperti yang tercantum dalam gambar kerja.
2) Bila terdapat ketidaksesuaian ukuran di lapangan terhadap gambar kerja,
Penyedia Jasa wajib memberitahukan kepada Direksi Pekerjaan secara tertulis untuk
mendapatkan cara penyelesaian yang terbaik.
3) Jumlah tugu/patok ukur yang harus dibuat oleh Penyedia Jasa minimal 2
(dua) buah, lokasi pemasangan sesuai dengan petunjuk Direksi Teknis Pekerjaan sedemikian
rupa sehingga tidak mengganggu dan atau terganggu selama pekerjaan berlangsung.
4) Patok ukur dibuat tertancap kuat di tanah dengan bagian yang muncul di
atas muka tanah cukup untuk memberikan indikasi peil P +/- 0,00 sesuai dengan gambar kerja.
Di atasnya dicantumkan indikasi peil +/- 0,00 sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
5) Untuk daerah yang mempunyai perbedaan elevasi sangat tajam, diperlukan
patok ukur tambahan yang dapat dipakai sebagai patokan elevasi-elevasi di daerah tersebut.
6) Patok ukur dibuat permanent, tidak dapat diubah diberi tanda dengan jelas
dan dijaga keutuhannya sampai pekerjaan selesai. Pembongkaran hanya dapat dilaksanakan
bila ada instruksi tertulis dari Direksi Pekerjaan.

II. Pekerjaan Tanah/Urugan


2.1 Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini sudah harus diperhitungkan jenis
tanah yang dijumpai di lapangan seperti tanah pasir, gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan
lain sebagainya, yaitu:
o Timbunan tanah dan pasir bawah lantai termasuk pemadatannya.
o Galian tanah pondasi transtram
2.2 Persyaratan Bahan
Untuk timbunan bawah lantai digunakan tanah dan pasir urug dengan kualitas baik
2.3 Pedoman Pelaksanaan
2.3.1 Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka kontraktor
wajib melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat. Galian-galian untuk septic tank,
saluran air hujan, saluran air kotor dan air bersih dilaksanakan dengan ukuran yang
ditetapkan dalam gambar kerja dan gambar detail. Untuk kondisi tanah yang mudah longsor
Penyedia Jasa harus memasang turap kayu pengaman yang cukup kuat. Turap didalam
bangunan harus dibongkar setelah pondasi selesai.
2.3.2 Bila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar,
maka Penyedia Jasa harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan pasir urug.
2.3.3 Pengurugan dengan tanah timbunan dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis
hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat. Lapisan-lapisan urugan
untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm, dan ditumbuk 5 kali tiap bidang tumbukan pada
tiap-tiap lapis tersebut.
2.3.4 Dibawah lantai diurug dengan pasir pasangan dan dipadatkan. Pengurugan dan
pemadatan ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk dengan
alat yang sesuai untuk pemadatan. Hasil akhir harus mendapat persetujuan Direksi atas
kesempurnaan pengurugan dan pemadatan.

III. PEKERJAAN PONDASI


3.1 Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-alat bantu yang diperlukan,
sehingga pekerjaan pondasi ini selesai dilaksanakan. Lingkup pekerjaannya antara lain:
3.1.1 Pekerjaan Pondasi transtaram (pas ½ bata campuran 1Pc:2Ps)
3.1.2 Pekerjaan Pondasi Batu Kali/Unpak Batu Kali/Dinding Penahan Tanah

3.2 Persyaratan Bahan


3.2.1 Pondasi batu bata transraam dengan spesi 1 : 2 digunakan pada bagian tertentu dari
bangunan sesuai dengan gambar kerja.
3.2.2 Pondasi batu kali dengan menggunakan spesi 1 PC : 4 Psr, bagian bawah pondasi dibuat
aanstampang dari batu kali kosong yang dipasang berdiri rapat, setebal 20 cm dengan tidak
terdapat batu-batu bertumpuk.
3
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

3.3 Pedoman Pelaksanaan


3.3.1 Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran untuk as
pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan Direksi tentang
kesempurnaan galian.
3.3.2 Pekerjaan Pondasi transtaram (pas ½ bata campuran 1Pc:2Ps)
 Tanah digali dengan dimensi yang disesuai dengan gambar kerja atau petunjuk dari
direksi lapangan.
 Setelah disetujui oleh direksi lapangan, tanah disirami dengan air sebelum dihamparkan
lantai kerja dengan campuran 1 Pc : 2Ps : 3Kr dengan ukuran disesuaikan dengan
gambar kerja.
 Diatas lantai kerja dilakukan pemasangan pasangan ½ bata dengan campuran 1Pc:2Ps
dengan dimensi sesuai dengan gambar kerja atau petunjuk dari direksi lapangan.
 Pasangan bata yang tampak diatas permukaan tanah diplester dengan campuran 1Pc:
2Ps.
 Setelah selesai, dilakutkan dengan penimbunan kembali area galian tanah dan
dipadatkan dengan baik.
 Jika terdapat kesalahan atau kekurangan pekerjaan direksi lapangan dapat meminta
pelaksana untuk menambah atau memperbaikinya.

3.3.3 Pekerjaan Pondasi Batu Kali/Unpak Batu Kali/Dinding Penahan Tanah


 Tanah digali dengan dimensi yang disesuai dengan gambar kerja atau petunjuk dari
direksi lapangan.
 Pekerjaan dilakukan dengan acuan gambar kerja atau petunjuk direksi lapangan
 Pada lapisan terbawah, dihampar pasir dengan ketebalan sesuai dengan gambar kerja.
 Diatas urugan pasir di pasang aanstampang, dengan ketinggian sesuai dengan gambar
kerja. Selanjutnya sela antar batu di isi dengan pasir dan dipadatkan dengan
menyiramnya dengan air.
 Setelah mendapatkan persetujuan daari direksi lapangan, pekerjaan dapat dilanjutkan
dengan pemasangan passangan batu kali dengan campuran disesuaikan dengan
analisa pekerjaan dalam perhitungan anggaran biaya. Pasangan batu kali harus rapi
dan rata.
 Setelah selesai, dilakutkan dengan penimbunan kembali area galian tanah dan
dipadatkan dengan baik.
 Jika terdapat kesalahan atau kekurangan pekerjaan direksi lapangan dapat meminta
pelaksana untuk menambah atau memperbaikinya.

IV.Pekerjaan Plasteran
4.1 Lingkup Pekerjaan
4.1.1 Pekerjaan Plasteran dilakukan pada seluruh pasangan dinding.

4.2 Persyaratan Bahan


Bahan semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam pasal beton bertulang.
4.3 Pedoman Pelaksanaan
4.3.1. Sebelum pengacian dilakukan, maka :
 Dinding dibersihkan dari semua kotoran
 Dinding dibasahi dengan air
 Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan acian dapat merekat
dengan baik.
4.3.2. Pekerjaan acian dilakukan seluruh bidang pembatas jalan, termasuk dengan pilar
4.3.4. Bilamana terdapat bidang yang berombak harus diusahakan memperbaikinya secara
keseluruhan. Bidang-bidang yang harus diperbaiki hendaknya dibongkar secara teratur
(dibuat bongkaran berbentuk segi empat) dan plesteran baru harus rata dengan
sekitarnya.
4.3.5. Semua bidang acian harus dipelihara kelembabannya selama seminggu sejak permulaan
plesteran.
4
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

V. Pekerjaan Lantai
5.1. Lingkup Pekerjaan
Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian Jalan. Pekerjaan lantai terdiri dari :
5.1.1 Urugan Tanah
5.1.2 Pekerjaan Urugan Pasir
5.1.3 Pasangan Adesit

5.2. Bahan yang digunakan


5.2.1 Tanah Didatangkan
5.2.2 Pasir didatangkan
5.2.3 Beton Camp 1:3:5
5.2.4 andesit produksi dalam negri
5.3. Pedoman Pelaksanaan
5.3.1 Tanah diurug secara berlapis dan dipadatkan dalam kondisi kadar air optimum
5.3.2 Pekerjaan selesai bila telah disetujui pengawas lapangan
5.3.3 Dasar Lantai dilapisi pasir pasangan setebal 10 cm dan dipadatkan.
5.3.4 Diatas hamparan pasir di hampar plastic hitam yang akan berfungsi untuk mencegah air
semen meresap kedalam pasir.
5.3.5 Beton Di aduk dengan campuran 1:3:5 dengan memperhatikan cara pelaksanaan yang
sesuai dengan standar Nasional Indonesia, dihampar dan di ratakan sesuai dengan gambar
kerja.
5.3.6 Beton yang terharpar di rawat dengan menyirami secara berkala
5.3.7 Pasangan Andesit Harus rapi dan rata, dan keramik yang rusak tidak boleh digunakan.
5.3.8 Pengawas dapat memerintahkan untuk mengganti atau membongkar pekerjaan yang tidak
layak/tidak rapi.

VI. Pekerjaan Tanaman


6.1. Lingkup Pekerjaan
6.1.1 Tanaman Perdu
6.1.2 Rumput
6.1.3 Tanaman Ketapig
6.2 Bahan yang digunakan
6.2.1 Tanaman yang di gunakan sesuai dengan RAB, dan dibawa dalam kondisi subur/Tidak
layu atau mati, dan memperoleh persetujuan dari pengawas
6.3 Pedoman Pelaksanaan
6.3.1 Tanaman perdu di susun sedemikian rupa dengan polybag dilubangi bagian bawhnya ,
pola penyusunan disesuaikan dengan gambar kerja
6.3.2 Rumput dan tanaman ketaping harus disiapkan media tanamnya baik galian, Maupun
tanah subur
6.3.3 Tanaman di tanam dengan baik, dan untuk ketaping tanaman harus di skor dengan
kayu, agar tidak rubuh.
6.3.4 Jika terdapat tanaman yang mati harus diganti.
6.3.5 Tanaman harus dirawat dan disiram.

VII. PEKERJAAN STRUKTUR BETON BERTULANG


7.1 Lingkup Pekerjaan
Semua pekerjaan beton dilaksanakan berdasarkan Peraturan Beton Indonesia SKSNI-1991.
Pengguna Jasa harus mempelajari terlebih dahulu metode kerja dari pekerjaan beton dengan
mengacu kepada peraturan dan spesifikasi ini. Kegagalan pekerjaan beton yang terjadi akibat
menyimpang dari spesifikasi ini harus diperbaiki dan seluruh biayanya menjadi tanggung jawab
pihak Penyedia Jasa.
Secara umum elevasi dari permukaan lantai beton adalah 3 cm di bawah elevasi arsitektur, kecuali
pada pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak menggunakan finishing arsitektur, elevasi struktur adalah
sama dengan elevasi arsitektur. Perbedaan elevasi pada daerah toilet dan lain-lainnya seperti
gambar kerja kecuali ada ketentuan lain.

5
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

Pekerjaan Beton bertulang terbuat dari beton dengan campuran disesuaikan dengan analisa pada
perhitungan anggaran biaya, Sebelum dilaksanakan pekerjaan pengecoran beton Penyedia Jasa
harus mengajukan sampel bahan yang akan digunakan dan mendapat persetujuan dari Direksi
Pekerjaan. Pekerjaan beton bertulang terdiri :
7.1.1 Kolom
7.1.2 Coran Lantai Beton
7.1.3 Pondasi Palat

7.2 Elemen Struktur


7.2.1 Kolom dengan tulangan pokok dan tulangan geser sesuai dengan gambar
7.2.2 Pondasi dengan tulangan pokok dan geser sesuai dengan gambar

7.3 Bahan yang digunakan


7.3.1 Semen
 Digunakan Portland Cement Type I menurut NI-8 tahun 1972 dan memenuhi S-400
menurut Standart Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI
8 tahun 1972).
 Semen harus dikirim ke lokasi pekerjaan dalam keadaan tertutup rapat dalam kemasan
aslinya dari pabrik ,sesuai dengan yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Semen
harus diletakkan dalam silo atau ruangan, sehingga tidak mendapat pengaruh langsung
dari perubahan cuaca dan kelembaban. Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga
terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak mengeras. Tempat penyimpanan
semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru
yang masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat
dilakukan menurut urutan pengiriman.
 Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak
diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran.

7.3.2 Agregat
 Agregat yang digunakan harus sesuai dengan Peraturan Beton Bertulang Indonesia
SKSNI-1991. Penyedia Jasa harus mengajukan sample dan hasil test material yang
akan digunakan sebelum agregat tersebut dikirim ke lokasi pekerjaan
 Agregat kasar adalah agregat yang tertahan pada saringan no. 5, agregat halus adalah
agregat yang lolos saringan no. 5. Kedua jenis agregat ini harus dikombinasikan dalam
suatu proporsi yang baik, sehingga menghasilkan beton dengan mutu terbaik.
 Agregat kasar harus bersih dari lumpur dan bahan-bahan kimia yang dapat
mempengaruhi mutu beton, memiliki ukuran yang beragam, keras dan memiliki bentuk
yang baik
 Agregat halus yang dimaksud adalah pasir yang bersih, bebas dari segala jenis kerak,
silk, clay, garam dan bahan-bahan lain. Apabila kadar lumpur agregat halus melebihi 5%
dan agregat kasar melebihi 1%, maka agregat harus dicuci terlebih dahulu sebelum
digunakan. Sesuai dengan trial mix yang dilaksanakan agregat yang digunakan untuk
campuran beton harus berasal dari satu sumber yang telah disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.
 Agregat harus disimpan dalam keadaan terpisah satu sama lain berdasarkan ukurannya
di atas permukaan yang keras, sehingga terhindar dari kemungkinan tercampur dengan
lumpur maupun tanah. Harus dibuatkan pula saluran air di sekitar tempat penyimpanan
agar kadar air dari agregat tidak berubah terlalu banyak.
 Penyedia Jasa harus melakukan pengujian laboratorium dari agregat yang akan
digunakan, dari sumber yang telah disetujui. Pengujian dilakukan oleh badan yang
independen. Test periodik dapat dilakukan terhadap permintaan Direksi Pekerjaan untuk
melakukan cek terhadap kadar aiar dari agregat. Seluruh biaya pengujian ini merupakan
tanggung jawab Penyedia Jasa.

7.3.3 Air
 Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, bahan kimia, asam
alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton
atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum yang

6
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

berasal dari PAM atau sumber lain yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan sesuai
dengan Peraturan Beton Bertulang Indonesia SKSNI-1991.
 Apabila dianggap perlu air dapat ditampung di tempat kerja, tetapi harus terjaga dari
pencemaran.
7.3.4 Bahan Tambahan
 Bahan tambahan campuran beton harus digunakan sesuai dengan petunjuk dari
produsen bahan tersebut.
 Apabila Penyedia Jasa menganggap perlu menggunakan bahan tambahan campuran
beton, maka harus mendapat persetujuan Pengguna Jasa/Direksi Pekerjaan. Metode
pemakaian, jumlah yang akan digunakan dan jenis bahan tambahan campuran beton ini
harus diajukan oleh Penyedia Jasa pada Direksi Pekerjaan.
7.3.5 Pasir Beton
 Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis,
lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam SKSNI T-15-1991-03.
7.3.6 Baja Tulangan
 Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan
bahan lainnya. Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak
boleh disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang
 Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin.
Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan harus diminta
persetujuan Direksi terlebih dahulu.
 Jika Pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran dengan diameter yang
terdekat dengan catatan: harus ada persetujuan Direksi Pekerjaan Jumlah besi
persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari yang
tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Biaya
tambahan yang diakibatkan oleh penukaran diameter besi menjadi tanggungjawab
pemborong.
 Baik baja tulangan polos maupun baja ulir yang digunakan harus sesuai dengan SII
(Standar Industri Indonesia), Baja U-24 digunakan untuk penulangan geser/sengkang.
7.3.7 Cetakan dan Acuan
 Bahan yang digunakan untuk kayu bekisting digunakan papan klas II tebal minimal 2,5
cm atau triplek tebal 9 mm dengan tulangan-tulangan kayu 4/6 cm yang cukup
jumlahnya. Untuk penyangga/stoot werk digunakan kayu balok 5/7 cm. Cetakan dan
acuan harus dipasang rapi dan teliti sehingga pada waktu pembongkaran, beton
menghasilkan bidang yang rata dan hanya memerlukan sedikit finishing/penghalusan.
 Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan didalam pasal
5.1. SK SNI T-15.1991.03.
7.3.8 Campuran Beton
 Campuran beton yang digunakan adalah beton dengan kekuatan karakteristik BO untuk
pekerjaan beton tumbuk digunakan untuk struktur, sesuai dengan yang tercantum dalam
gambar dan bestek. Kekuatan karakteristik yang dimaksud adalah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Beton Bertulang SKSNI T-15-1991-03.
 Dalam menentukan campuran beton, terutama gradasi agregat dan kekentalannya yang
perlu diperhatikan pula peruntukan beton tersebut dan ukuran potongan beton yang
akan dicor, agar beton dapat dipadatkan dengan baik dan tidak terjadi pemisahan
agregat.
 Beton juga harus diperhitungkan untuk tidak mengalami pengendapan selama
pengangkutan dan pengecorannya. Beton yang mudah mengendap tidak diperkenankan
dipergunakan.
 Ukuran maksimum agregat untuk beton struktur adalah 2 cm. Untuk struktur-struktur
dengan penampang tipis, ukuran agregat maksimum yang dipakai adalah 1 cm,
sedangkan untuk struktur yang memiliki ukuran penampang dan jarak antar tulangan
yang besar, ukuran agregat yang dapat dilihat pada tabel.

Type Struktur Minimum Cement Content

7
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

Setiap M³ Beton
Beton di dalam ruang bangunan dengan
keadaan keliling korosif disebabkan oleh 325
kondensasi atau uap-uap korosif
Beton di luar ruang bangunan terlindung dari
hujan terik matahari langsung 275

Beton yang masuk ke dalam tanah dan


mendapat pengaruh sulfat alkali dari arah 375
tanah atau air tanah
Tabel 3.1 Jumlah semen minimum dalam setiap M³ beton
 Setelah Penyedia Jasa mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan tentang campuran
beton yang dipakai, serta bahan-bahan yang akan digunakan dalam campuran beton
tersebut. Penyedia Jasa harus tetap menggunakan campuran serta bahan-bahan tadi,
selama pekerjaan beton, kecuali apabila dilakukan trial mix yang baru dan mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Type Struktur Slum


Minimum Maximum
Konstruksi Bawah Tanah 2,5 9,0
Balok, Kolom dan Pelat 7,5 15,0
Tabel 3.2 Nilai Slump untuk setiap pekerjaan beton
Type Struktur Hubungan Dengan Keliling
Non Korosif Korosif
Beton di dalam ruang bangunan 0,60 0,52
Beton di luar ruang bangunan 0,60 0,60
Beton yang masuk ke dalam tanah 0,55 0,52
Beton yang kontinu berhubungan 0,57 0,52
dengan air
Tabel 3.3 Nilai Faktor Air Semen Maksimum
7.4 Campuran Beton yang dilakukan di lapangan
7.4.1 Dalam melakukan pencampuran beton baik semen, agregat, maupun air harus dicampur
dengan perbandingan berat. Apabila akan dilakukan dengan perbandingan volume,
Penyedia Jasa harus mengajukan metode dan alat penakar kepada Direksi Pekerjaan untuk
disetujui.
7.4.2 Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk beton (concrete mixer). Metode
pengadukan, kecepatan pengadukan harus disesuaikan dengan rekomendasi dari pabrik
pembuat mesin tersebut. Kapasitas mesin pengaduk tidak boleh dilampaui.

7.5 Pengecoran Beton


7.5.1 Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Direksi Pekerjaan.
Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalan diatas
penulangan. Untuk dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan
papan-papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah dapat
dicabut pada saat beton dicor.
7.5.2 Sebelum pengecoran dimulai semua pekerjaan acuan/bekisting, baja-baja tulangan, tarikan
pipa-pipa instalasi air dan listrik serta angker-angker yang harus ditanam di dalam beton,
harus sudah selesai terpasang dan mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Seluruh
bagian yang akan dicor harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran (potongan kayu, batu,
tanah dan lain-lain) serta dibasahi dengan air semen.
7.5.3 Setiap 5 M3 pengecoran beton harus dibuat sampel kubus beton (benda uji) ukuran
15x15x15 cm, minimal 1 hari pengecoran satu buah benda uji untuk diadakan pengujian
kekuatan tekan karakteristik beton yang didapat di laboratorium. Kecuali pada permulaan
pengecoran, kubus beton (benda uji) diambil setiap 3 M3 pengecoran atau kurang dari itu
dengan interval yang sama sampai benda uji mencapai jumlah 20 (dua puluh) buah
8
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

7.5.4 Setiap bagian pekerjaan pengecoran beton harus dilaksanakan secara terus menerus
sampai selesai untuk mendapatkan struktur konstruksi yang monolit. Apabila pengecoran
beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui oleh Direksi. Untuk
melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut, bagian permukaan yang mengeras
harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi additive yang memperlambat proses
pengerasan. Kecuali pada pengecoran kolom, adukan tidak boleh dicurahkan dari
ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m
7.5.5 Beton tidak diperkenankan dicor dalam keadaan hujan. Penyedia Jasa harus menyediakan
pelindung, atau metode lain pada saat hujan.
7.5.6 Untuk pengecoran kolom atau struktur lain yang tinggi, pengecoran harus di bantu dengan
menggunakan talang atau pintu pengecoran untuk mencegah segregasi beton karena jatuh
bebasnya material campuran beton.

7.6 Pemadatan Beton


7.6.1 Hasil pekerjaan pengecoran dipadatkan menggunakan vibrator concrete selama
pengecoran berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi tulangan
7.6.2 Penyedia Jasa harus menyediakan vibrator concrete untuk menjamin efisiensi tanpa adanya
penundaan. Pada waktu pengecoran balok, kolom, dan pelat, vibrator concrete harus dapat
masuk ke dalam bekisting sehingga didapatkan pemadatan yang baik. Waktu pengecoran,
vibrator concrete tidak boleh mengenai baja tulangan yang dapat menyebabkan
perpindahan posisinya.
7.6.3 Vibrator concrete tidak boleh digunakan untuk meratakan beton secara horizontal, setelah
beton dipadatkan dan diratakan dengan baik, beton harus dibiarkan sampai mengeras.

7.7 Beton Pada Suhu Udara Tinggi.


7.7.1 Penyedia Jasa harus mengambil tindakan-tindakan pencegahan terhadap kemungkinan
beton mengalami perubahan akibat suhu udara yang tinggi terutama terhadap sifat plastis
dan kekuatan tekan beton tersebut
7.7.2 Pada suhu udara yang terlalu tinggi Direksi Pekerjaan dapat menunda pengecoran atau
menginstruksikan Penyedia Jasa untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu sebelum
pengecoran dimulai
7.7.3 Apabila suhu udara sekeliling melebihi 320 C, suhu beton harus diusahakan serendah
mungkin dengan cara menghindari penyinaran langsung matahari terhadap agregat dan
mixer atau dengan menggunakan air pencampur yang dingin. Acuan (bekisting) harus
disemprot dahuu dengan air untuk menurunkan suhunya, dengan memperhatikan aliran
keluarnya air tersebut dari dalam acuan
7.7.4 Apabila dianggap perlu Direksi Pekerjaan dapat meminta monitoring terhadap suhu beton
maupun suhu udara sekeliling
7.7.5 Apabila suhu udara siang hari ternyata terlalu tinggi, Penyedia Jasa harus melaksanakan
pengecoran pada malam hari. Beton harus dicor secepat mungkin setelah pengadukan
untuk menghindari pengaruh panas matahari
7.7.6 Untuk pengecoran beton dalam volume yang besar, Penyedia Jasa harus memperhitungkan
kemungkinan crack akibat suhu yang tinggi dari beton

7.8 Construction Joint


7.8.1 Posisi pengaturannya harus mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan
7.8.2 Siar dalam kolom sebaiknya ditempatkan sedekat mungkin dengan bidang bawah dari balok
tertinggi.
7.8.3 Siar dalam balok dan pelat ditempatkan ditengah-tengah bentang
7.8.4 Siar vertikal dinding sebaiknya dihindari, siar harus dibuat sekecil mungkin dan atas
persetujuan Direksi Pekerjaan
7.8.5 Sebelum pengecoran beton baru permukaan dari beton lama harus dibersihkan terlebih
dahulu dari segala macam kotoran dan dikasarkan. Kotoran-kotoran disingkirkan dengan
cara penyemprotan permukaan dengan air dan menyikat sampai agregat kasar tampak.
Setelah permukaan siar tersebut bersih, bubur semen (grout) yang tipis dilapiskan merata
ke seluruh permukaan
7.8.6 Penyedia Jasa harus memasang water stop untuk semua siar pelaksanaan pada pelat
basement dan dinding yang berada di bawah muka air tanah

9
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

7.9 Pemeliharaan Beton (Curing)


7.9.1 Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit
14 (empat belas) hari
7.9.2 Beton harus dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan terhadap matahari,
pengeringan oleh angin, hujan atau aliran air dan pengrusakan secara mekanis atau
pengeringan sebelum waktunya
7.9.3 Semua permukaan beton yang terbuka harus dijaga tetap basah, selama 24 hari dengan
menyemprotkan air atau menggenangi dengan air pada permukaan beton tersebut atau
menggunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton
7.9.4 Metode pemeliharaan beton harus diajukan oleh Penyedia Jasa kepada Direksi Pekerjaan
untuk disetujui. Selain menggunakan air apabila diperlukan pemeliharaan beton dapat
dilakukan dengan campuran kimia untuk pemeliharaan beton. Campuran kimia ini harus
benar-benar telah dibersihkan pada saat pekerjaan finishing selesai.

7.10 Test Material


7.10.1 Beton
 Test mutu beton maupun material-material beton harus dilaksanakan oleh laboratorium
independen yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
 Pengujian slump dan kubus beton harus memenuhi syarat-syarat Peraturan Beton
Bertulang Indonesia (PBI 1971) atau SKSNI T-15-1991-03.
 Untuk pengujian mutu beton di lapangan digunakan pengujian slump dengan
menggunakan kerucut Abrams. Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump,
ketinggian slump yang disyaratkan oleh Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971
berkisar antara 7,5 cm sampai dengan 15 cm. Cara pengujian slump adalah sebagai
berikut : adukan beton diambil saat sebelum dituangkan ke dalam cetakan beton
(bekisting), cetakan slump dibasahi air dan ditempatkan di atas kayu yang rata atau plat
baja. Masukkan adukan beton ke dalam cetakan dalam 3 lapis yang kira-kira sama
tebalnya. Setiap lapis dipadatkan dengan menusuk-nusuk tongkat pemadat  16 mm
panjang 60 cm dengan ujungnya yang bulat (seperti peluru). Masing-masing 25 kali.
Ratakan permukaan adukan beton dan biarkan selama 30 detik. Selama waktu
menunggu ini cetakan dan plat slump dibersihkan dari adukan beton yang berjatuhan.
Angkat cetakan perlahan-lahan. Dalam pengangkatan, posisi cetakan harus dijaga tetap
dalam keadaan vertikal. Ukur penurunan dari adukan beton (slump), pengukuran
dilakukan pada 4 titik, yang nilai penurunannya diambil harga rata-rata
 Sedangkan pengujian mutu beton di laboratorium digunakan test kuat tekan yang
berbentuk kubus dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm
 Pengambilan adukan beton, pencetakan dan curingnya harus di bawah pengawasan
Direksi Pekerjaan. Prosedurnya harus memenuhi Syarat-Syarat Peraturan Beton
Bertulang Indonesia 1971 dan SKSNI T-15-1991-03.
 Pengambilan beton untuk kubus uji dilakukan sedekat mungkin pada lokasi yang akan
dicor, untuk menggunakan concrete pump, kubus diambil setelah beton dipompa
 Untuk pembuatan campuran beton di lapangan, maka pengambilan kubus uji sebagai
berikut : 3 kubus uji harus diambil dari setiap 5 M³ beton yang dicor, serta 1 slump test
untuk setiap sample test. Jumlah minimal kubus uji yang harus diambil adalah 20 buah.
Kubus tersebut digunakan untuk test kuat tekan beton umur 3, 7, 21 dan 28 hari.
 Direksi Pekerjaan berhak meminta setiap saat kepada Penyedia Jasa untuk membuat
uji coba dari adukan yang dibuat
 Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan kubus uji menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa
 Kubus uji harus ditandai untuk identifikasi dengan suatu kode yang ada menunjukan
tanggal pengecoran, pembuatan adukan, bagian struktur yang bersangkutan dan lain-
lain setelah selesai percobaan
 Cara pembuatan kubus beton adalah sebagai berikut : Isi cetakan dengan adukan beton
dalam 3 lapis, setiap lapis diisi kira-kira 1/3 isi cetakan. Masing-masing lapis dipadatkan
dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara merata. Kemudian ratakan
permukaan beton. Biarkan beton dalam cetakan selama 24 jam dan letakan pada
tempat yang bebas getaran. Setelah waktu 24 jam, keluarkan benda uji dari cetakan dan
rendam benda uji dalam bak yang berisi air, agar proses pemeliharaan (curing) beton
berlangsung baik, maka perendaman dilakukan sampai batas waktu pengujian kuat
tekan.
10
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

7.10.2 Core Test


 Apabila ternyata hasil test 28 hari tidak memenuhi syarat kekuatan, pihak Direksi
Pekerjaan berhak meminta core test untuk struktur-struktur beton yang tidak memenuhi
syarat tersebut. Peralatan coring dan metode-metodenya harus disetujui oleh Direksi
Pekerjaan
 Seluruh biaya pengambilan sample untuk core test dan biaya pengetesannya menjadi
tanggung jawab Penyedia jasa
 Evaluasi hasil test
Apabila ternyata hasil test 28 hari tidak memenuhi syarat, Penyedia Jasa harus
membongkar dan mengganti seluruh volume beton yang dicor dan segala biaya yang
menjadi konsekwensinya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa. Sebelum melakukan
pembongkaran struktur Penyedia Jasa dapat mengusulkan untuk melakukan core test
pada struktur-struktur yang sudah selesai dicor
Penyedia Jasa juga dapat mengusulkan untuk melaksanakan loading test pada struktur
tertentu. Metode pelaksanaan loading test maupun core test harus terlebih dahulu
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Semua biaya pengetesan, pembongkaran maupun
pengecoran kembali menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa
7.10.3 Baja Tulangan
Penyedia Jasa menggunakan baja tulangan dengan mutu sesuai dengan yang
disyaratkan dalam bestek yaitu sesuai dengan Standar Industri Indonesia (SII).

7.11 Kegagalan Pekerjaan Beton


Penyedia Jasa harus segera memeriksa seluruh permukaan beton setelah beton dibuka dan
melaporkan kepada Direksi Pekerjaan apabila ditemukan ada permukaan beton yang keropos.
Apabila kekeroposan beton tersebut mengakibatkan pengurangan kekuatan tekan beton, keretakan
atau creep dan shrinkage, atas instruksi dari Penyedia Jasa bagian beton tersebut dibongkar dan
dicor ulang tempat pemotongan dan construction joint ditentukan oleh Direksi Pekerjaan
Apabilan kekeroposan masih dapat diperbaiki tanpa pembongkaran, Penyedia Jasa harus
mengajukan metode kerjanya kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui. Perbaikan (penambahan)
tidak boleh dilaksanakan sebelum diperiksa dan metode kerja penambahannya disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.
Apabila kekeroposan beton ini mengakibatkan kekuatan beton berkurang dari yang dispesifikasikan,
Direksi Pekerjaan dapat menghentikan pekerjaan pengecoran lain yang mempunyai relevansi
dengan unsur struktur tersebut.

7.12 Water Stop


Water stop harus dipasang sesuai dengan gambar-gambar dan pada setiap construction joint dari
unsur-unsur basement dan unsur-unsur lain yang berada di bawah muka air. Water stop yang
digunakan harus dari produsen yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan dengan merk yang setara
dengan Expandite.
Water stop dipasang horizontal seperti pada pertemuan antara dinding dan pelat yang terletak di
bawah tanah harus ditempatkan pada as-nya. Water stop yang digunakan untuk construction joint
maupun expansion joint harus merupakan type yang memungkinkan terhadap pergerakan. Water
stop harus dipasang dan disambung pada posisi yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan
pengecoran beton dan pemadatannya.
Penyedia Jasa harus mengajukan jenis material, metode pemasangan dan shop drawing tentang
water stop ini untuk disetujui Direksi Pekerjaan.

7.13 Pembengkokan dan Pemasangan Baja Tulangan


Pembengkokan besi beton harus dilakukan secara hati-hati dan teliti, tepat pada ukuran posisi
pembengkokan sesuai dengan gambar dan tidak menyimpang dari Peraturan Beton Bertulang
Indonesia 1971. Pembengkokan itu dilakukan oleh tenaga yang ahli, dan dengan menggunakan
peralatan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan cacat, patah, retak-retak dan sebagainya.
Sebelum penyetelan dan pemasangan dimulai, Penyedia Jasa harus membuat rencana kerja
pemotongan dan pembengkokan baja tulangan (bar cutter dan bar bending schedule) yang
sebelumnya harus diserhakan kepada Direksi Pekerjaan. Pemasangan dan penyetelan berdasarkan
peil-peil sesuai dengan gambar dan sudah diperhitungkan terhadap toleransi penurunannya.

11
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

Pemasangan dengan menggunakan pelindung beton (beton decking) sesuai dengan gambar.
Apabila hal tersebut tidak tercantum dalam gambar atau dalam spesifikasi ini, maka dapat
digunakan Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 sesuai dengan tabel berikut :

Bagian Kostruksi Tebal Selimut Beton Minimum


(cm)
- Pelat 1,5
- Dinding 2,0
- Balok 2,5
- Kolom 3,0
Tabel 4.4 Selimut Beton
Pembengkokan kembali besi ulir tidak diperkenankan. Apabila baja polos yang sudah dicor beton,
jari-jari pembengkokan minimal harus 2 kali diameter dari tulangan tersebut.
Semua pemotongan, pembengkokan dan toleransi pembengkokan harus sesuai dengan Peraturan
Beton Bertulang Indonesia 1971. Semua tulangan harus diikat dengan baik dengan kawat beton
sehingga tidak mengalami perubahan posisi saat pengecoran beton. Akhir dari tulangan harus
dibengkokan ke arah dalam minimal 5 kali diameter tulangan dan tidak diperkenankan menembus
ke selimut beton.
Pemotongan atau ketentuan penempatan sambungan harus sesuai dengan gambar atau ditempat
yang ditentukan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Tulangan yang telah terpasang tetapi belum
dicor harus dilindungi sepenuhnya terhadap korosi, sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
Apabila tulangan selesai dipasang, Penyedia Jasa harus melaporkan kepada Direksi Pekerjaan
untuk diperiksa dan disetujui. Penyedia Jasa tidak diperkenankan melakukan pengecoran sebelum
tulangan yang terpasang diperiksa dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, tidak boleh diubah tanpa
persetujuan Direksi Pekerjaan.

7.14 Pengelasan Tulangan


Pengelasan tulangan hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Direksi Pekerjaan. Apabila
pengelasan diizinkan, pencegahan terhadap kebakaran harus sebaik mungkin dengan
mempersiapkan fire extinguiher sedekat mungkin dengan lokasi pengelasan. Pengelasan harus
dilakukan oleh personil yang berpengalaman. Sebelum melakukan pengelasan, Penyedia Jasa
harus mengajukan metode kerja dan sistem pengelasan yang dipakai untuk disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.

7.15 Acuan
7.15.1 Umum
Acuan, baik yang sementara maupun yang permanen, dimaksudkan untuk membentuk
struktur-struktur beton dengan segala detailnya. Acuan yang dibuat harus dapat
dipertahankan bentuknya baik selama pemasangan tulangan maupun pengecoran beton
Perancah termasuk segala jenis unsur-unsurnya seperti pengaku, balok, pengikat dan tiang,
juga termasuk pondasi sementara yang diperlukan untuk memikul acuan tanpa
menimbulkan settlement. Baik acuan maupun perancah harus direncanakan oleh Penyedia
Jasa untuk menyangga berat maupun tekanan dari beton dalam keadaan basah dan
peralatan yang mungkin ada di atasnya serta beban-beban kejut dan getaran. Kesemuanya
ini harus direncanakan dengan metode ereksi dan pembongkaran yang sederhana sehingga
memudahkan pemasangan, penambahan maupun pembongkarannya.
Defleksi (lendutan) yang diizinkan terjadi adalah 1/900 bentang dan balok kantilever
lendutan yang dizinkan adalah 1/300 bentang. Bracing-bracing harus dipasang untuk
menghindari pergerakan horizontal, transversal maupun longitudinal yang terjadi. Gambar-
gambar yang menunjukkan detail dari acuan maupun perancah, perhitungan perancah,
elevasi dari acuan maupun perancah harus diajukan oleh Penyedia Jasa untuk disetujui
oleh Direksi Pekerjaan
7.15.2 Bekisting yang Digunakan
Acuan dibuat dari multiplek dengan ketebalan minimum 10 mm atau material lain yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Acuan yang dipakai harus bersih dari segala macam
kotoran, apabila akan digunakan kembali acuan harus bersih, acuan yang sudah rusak dan
tidak lurus lagi tidak diperkenankan dipakai kembali.
Untuk mempercepat pekerjaan pengecoran, disyaratkan agar Penyedia Jasa membuat
panel-panel bekisting yang standar untuk acuan bagian konstruksi yang tipikal.

12
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

7.15.3 Pelaksanaan Pekerjaan


Multipleks yang digunakan untuk acuan harus ditumpu sepanjang pinggirnya. Kaso-kaso,
pengaku dan penumpu harus dipasang sedemikian rupa sehingga dapat dipertahankan
kelurusannya dan kekuatannya selama pekerjaan pengecoran maupun pemadatan beton
dilakukan
Pengaku, acuan serta perancah yang dibuat harus dipersiapkan terhadap kemungkinan
settlement dari perancah tersebut. Acuan harus diperbaiki apabila ternyata perancah
mengalami settlement.
Semua tiang perancah harus dipasang dengan pengaku vertikal horizontal maupun
diagonal. Bracing lateral harus dari 2 arah dan bracing diagonal harus 2 sisi, baik horizontal
maupun vertikal. Apabila tiang penyangga perlu disambung, pemasangan bracing harus
diatur sesuai dengan lokasi penyambungan tersebut. Acuan untuk beton pra-tegang harus
diperhitungkan dapat menahan gaya-gaya yang mungkin terjadi selama penarikan
(stressing) berlangsung.
Sebelum pekerjaan pengecoran beton dilaksanakan, semua unsur yang harus berada di
dalam beton tersebut harus sudah ditempatkan secara benar, termasuk pengaturan selimut
betonnya. Seluruh perancah dan acuan harus diperiksa kembali pada saat pengecoran
beton akan dimulai. Apabila ternyata ada bagian perancah atau acuan yang berubah posisi,
perancah maupun acuan tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum pengecoran
dilaksanakan.

7.15.4 Waktu Untuk Membongkar Bekisting


Acuan dapat dilepaskan dari beton apabila pembongkarannya dapat dipastikan tidak
mengakibatkan kerusakan beton, dan acuan tersebut sudah mudah dilepaskan dari
beton. Waktu untuk membongkar acuan dan perancah tergantung dari cuaca, metode
pemeliharaan beton, kekuatan beton type dari struktur dan beban rencana. Dalam
segala hal, waktu untuk melepas acuan dan perancah tidak kurang dari :
Unsur Struktur Waktu
Samping balok, dinding, kolom yang tidak dibebani 24 Jam
Pelat (acuannya saja) 3 hari
Balok (acuannya saja) 7 hari
Perancah pelat diantara balok 7 hari
Perancah balok dan plat slab 14 hari
Perancah kantilever 28 hari
Pekerjaan pembongkaran bekisting harus dilaporkan dan disetujui sebelumnya oleh Direksi
Pekerjaan.

7.16 Finishing Beton


7.16.1 Permukaan yang Kelihatan
Beton yang permukaannya kelihatan (exposed) harus difinishing dengan adukan. Lobang-
lobang yang terjadi pada beton harus difinishing dengan adukan. Untuk dinding penahan
tanah, lobang pengikat acuan tidak diperkenankan. Lobang-lobang pada permukaan beton
tidak boleh lebih besar dari 3 mm, lobang yang lebih besar diameter 3 mm tapi lebih kecil
dari 20 mm tidak boleh melebihi 0,5% dari permukaan beton tersebut. Lobang yang lebih
besar dari 20 mm tidak diperkenankan. Apabila terdapat lobang yang ternyata lebih besar
dari 20 mm, harus dikonsultasikan dengan Direksi Pekerjaan.
Jika permukaan beton tidak cacat, adukan yang digunakan untuk perbaikan harus berwarna
sama dengan beton disekelilingnya. Sample harus dibuat terlebih dahulu sebelum perbaikan
permukaan beton tersebut dimulai.
7.16.2 Pelat
Permukaan pelat harus merupakan permukaan yang rata tanpa adanya kelebihan adukan
ataupun lobang-lobang pada permukaan pelat tersebut, di luar batas toleransi yang
diizinkan.
Apabila penambahan permukaan finishing tersebut langsung dilakukan sebelum beton
mengeras secara total, semua kelebihan air, adukan maupun kotoran-kotoran lain

13
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

dibersihkan dengan cara disikat hati-hati untuk mencegah ikut terbawanya agregat yang
sudah dicorkan.
Apabila plat tidak difinishing dengan adukan, permukaan beton tersebut harus dibuat kasar
sesuai dengan schedule finishing yang ada. Permukaan beton tersebut harus diratakan
sehingga memiliki level yang sama, tidak melewati batas toleransi yang diizinkan.

7.17 Toleransi Pekerjaan Pengecoran


Toleransi pelaksanaan dari seluruh pekerjaan beton, dalam segala hal tidak boleh melebihi
schedule toleransi di bawah ini :
Posisi as kolom dan as dinding penahan 6 mm dalam 3 meter panjang nilai maksimum 1 cm
geser (posisi bangunan) untuk seluruh panjang
Posisi pondasi dan pile cap 2% dari lebar pondasi dengan nilai maksimum 5 cm
Minus 1 cm sampai plus 5 cm minus 5% sampai
Dimensi pondasi dan pile cap plus 10% dengan nilai maksimum 5 cm
Dimensi unsur-unsur vertikal dan miring 5 mm dalam 5 mm dengan nilai maksimum 1 cm
Deviasi horizontal kolom dan dinding untuk seluruh panjang
geser dari ketinggiannya 1,2 cm dari ketinggian 30 meter 2 cm dari ketinggian
60 meter 2,5 cm dari ketinggian 90 meter
Jarak lantai ke lantai 3 meter, deviasi = 6 mm
Jarak lantai ke lantai 6 meter, deviasi 6 meter,
Level rata-rata deviasi = 1,2
Jarak lantai ke lantai lebih dari 12 meter, deviasi = 2
mm
Deviasi level dari permukaan pelat 6 mm dari 3 meter panjang 1 cm dari 6 meter
panjang dengan nilai maksimum 2 cm untuk
panjang keseluruhan
Deviasi potongan (plat, balok kolom Dimensi < 15 cm + 1 cm sampai –3 mm
maupun dinding geser) Dimensi >= 15 cm + 1,2 cm sampai - mm
Bukaan pada dinding dan plat 6 mm

VIII. Pekerjaan Penutup Atap


8.1 Lingkup Pekerjaan
Bagian pekerjaan yang dilaksanakan berupa pasangan penutup atap bangunan.

8.2 Bahan yang digunakan


8.2.1 Rangka atap menggunakan konstruksi Kayu seperti gambar kerja
8.2.2 Lapisan kedap air di buat dari pasangan karpet talang air dilemkan ke papan
8.2.3 Papan kayu kelas II
8.2.4 Ijuk yang di klemkan dengan reng kayu, ijuk dipasang dengan ketebalan 4 cm
8.2.5 Perabung menggunakan plat aluminium tebal 0.4 mm
8.2.6 Untuk paku atap menggunakan paku anti karat.

8.3 Pedoman Pelaksanaan


8.3.1 Rangka atap menggunakan konstruksi kayu dengan ukuran dan bentuk sesuai dengan
gambar kerja.
8.3.2 Rangka kayu di pasang ke tiang beton dengan menggunakan baut angkur dengan
diameter 12 mm
8.3.3 Rangka kayu di cat dan di meni.
8.3.4 Atap dibuat dengan menyusun papan kelas II di pakukan ke rangka kuda kuda, papan
terlebih dahulu di lemkan karpet talang air.
8.3.5 Diatas karpet di pasang ijuk yang telah disusun dengan ketebalan bersih adalah 4 cm, di
klem kan ke papan dengan menggunakan reng yang telah di cat dengan rata.
8.3.6 Ujung ijuk di potong dengan rata.
8.3.7 Perabung atap di pasang pada tiap pinggir atap diagonal dengan menggunkan plat
aluminium tebal 0.4 mm.

14
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

9 Pekerjaan Pengecatan
9.1 Lingkup Pekerjaan
9.1.1 Cat tembok untuk dinding yang diplester,

9.2 Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti :


9.2.1 Residu yang sesuai SNI
9.2.2 Menie kayu sekualitas Platone atau Ftalit.
9.2.3 Cat kayu sekualitas, Platone atau Ftalit
9.2.4 Cat tembok sekualitas Matex (plafond)
9.2.5 Cat tembok sekualitas Dulux

9.3 Pedoman Pelaksanaan


9.3.1 Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
9.3.2 Pekerjaan meni harus betul-betul rata, berwarna sama, pengecatan minimal 2 (dua) kali.
9.3.3 Pekejaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan memperhatikan waktu
pengeringan jenis bahan yang digunakan.
 2 (dua) kali pengerjaan menie kayu/cat dasar.
 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu.
 Penghalusan dengan amplas
 Finishing dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.
9.3.4 Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai berikut :
 Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus, setelah itu dilap
dengan kain basah hingga bersih.
 Jika pengecatan menggunakan cat tembok biasa, maka dinding harus dilapisi
dengan plamur tembok, dipoles sampai rata. Setelah betul-betul kering digosok
dengan amplas halus dan dilap dengan kain kering yang bersih.
 Jika menggunakan cat tembok setara dulux, maka dindning tidah boleh dilapisi
dengan puty, dinding harus di oleskan dengan rata alkali, jika ada bagian dinding
yang telah dilapisi puty maka lapisan itu harus dibersihkan dengan baik.
 Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama dan tidak terdapat
belang-belang atau noda-noda mengelupas.
9.3.5 Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :
 Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.
 Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang pengecatan yang
merata sama dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.
9.3.6 Warna yang digunakan disesuaikan dengan warna cat yang telah setujui oleh pihak
direksi teknis

VIII. Pekerjaan Finishing


8.1. Membuat 1 (satu) unit papan nama. Tulisan pada papan nama ini dikonsultasikan dengan
Pengguna Jasa. Bentuk dan ukuran papan nama, dijelaskan dalam gambar.
8.2. Sebelum pekerjaan diserah terimakan, Kontraktor diwajibkan membongkar gudang, bangsal-
bangsal kerja, membersihkan bahan-bahan bangunan, kotoran-kotoran bekas yang ada dalam
lokasi bangunan, sehingga pada saat serah terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan bersih
dan rapi.
8.3. Pada waktu diadakan serah terima pertama pekerjaan, maka Kontraktor harus menyerahkan :
 Surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat.
 Surat Tanda good keer pemasangan instalasi dai pihak biro instalatur/PLN setempat.
 Bukti setoran bahan galian C
 Bukti pembayaran ASTEK

IX. Pekerjaan Lain-lain


9.1 Lingkup pekerjaannya adalah Pekerjaan Administrasi/dokumentasi, Biaya Keamanan/jaga malam,
obat-obatan/P3K. Penjelasan masing-masing lingkup pekerjaan ini telah dijabarkan pada masing-
masing pasal diatas, kecuali pekerjaan administrasi proyek berupa :

15
Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS)

(i) Laporan berkala mengenai pekerjaan secara keseluruhan dan segala sesuatunya
yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut dalam kontrak.
(ii) Catatan yang jelas mengenai kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan jika
diminta oleh DIREKSI PEKERJAAN/PEMILIK untuk keperluan pemeriksaan sewaktu-
waktu dapat diserahkan.
(iii) Dokumen Foto :
KONTRAKTOR diwajibkan membuat dokumen foto-foto, sebelum pekerjaan dimulai
sampai pada pekerjaan selesai 100 % dan tiap tahap permintaan angsuran disertai
keterangan lokasi, arah pengambilan dan tahap pelaskanaan pembangunan serta disusun
secara rapih dan diketahui oleh DIREKSI PEKERJAAN/PEMILIK dan Pengelola Teknis.
Syarat-syarat foto dokumentasi :
a) Tiap Unit Bangunan diambil dari empat arah,
b) Gambar menyeluruh pandangan dari empat arah,
c) Sudut pengambilan gambar dari tiap tahap harus tetap pada sudut pengambilan
tersebut pada butir (a).
Gambar dimasukkan dalam album diserahkan kepada PEMILIK melalui DIREKSI
PEKERJAAN rangkap 5 (lima).
Biaya dokumen merupakan tanggung jawab Kontraktor, Foto-foto tersebut harus
dibuat dan menjadi lampiran setiap permohonan angsuran pembayaran.
Segala laporan atau catatan tersebut dalam Ayat (i) dan (ii) Pasal ini, dibuat dalam
bentuk buku harian rangkap 5 (lima) diisi pada formulir yang telah disetujui oleh
DIREKSI PEKERJAAN/PEMILIK dan harus selalu berada di tempat pekerjaan.

9.2 Penyedia Jasa harus menyerahkan pada Pengguna Jasa as built drawing.As built drawing adalah
gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan yang harus diselesaikan 4 minggu
setelah serah terima pekerjaan untuk pertama kali, dalam bentuk kalkir.
9.3 Apabila ada pekerjaan yang tidak tersebutkan dalam uraian ii, yang ternyata pekerjaan tersebut
harus ada agar mendapatkan hasil akhir yang sempurna, maka pekerjaan tersebut harus
dilaksanakan oleh Kontraktor atas perintah tertulis Pemimpin Bagian Proyek.
9.4 Rencana kerja dan syarat-syarat ini menjadi pedoman dan harus ditaati oleh Kontraktor dan
Pemimpin Bagian Proyek dalam melaksanakan pekerjaan ini.

X. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan pekerjaan direncanakan selama 21 minggu dengan asumsi pelaksanaan patung
tembaga yang di perkirakan antara 3 bulan sampai 5 bulan

XI. Pekerjaan Penutup


Meskipun dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis ini tidak semua items pekerjaan yang
spesifikasinya dicantumkan satu persatu dalam uraian atau syarat-syarat teknis bestek ini, maka itu
sudah dianggap mencakup seluruh uraian kegiatan pekerjaan yang harus dilaksanakan nanti di
lapangan dan bukan merupakan suatu pekerjaan tambahan.

16