Anda di halaman 1dari 5

Pendahuluan

Salah satu penyebab kematian ibu dan kematian janin adalah komplikasi pada proses kehamilan,
persalinan dan nifas, yang merupakan komplikasi kebidanan , penyakit masalah gizi. yang sering terjadi
adalah : perdarahan, preeklampsia/ eklampsia, persalinan macet, infeksi, abortus, malaria, HIV/ AIDS,
Sifilis, TB, Hipertensi, Diabetes Melitus, anemia gizi besi dan kurang energy kronik (KEK).

Sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi maka dilakukan pelayanan /
penanganan komplikasi kebidanan (Pedoman Pelayanan Antenatal, 2010). Untuk mendeteksi resiko dan
komplikasi secara dini pada ibu hamil perlu dilakukan skrining antenatal yang dilakukan oleh bidan
(Idhayanti & Sarwono, 2016).

Penelitian tentang pelaksanaan skrining antenatal telah dilkukan di Nigeria, kualitas skrining untuk factor
resiko di Nigeria selama kehamilan sangat rendah, penyebab rendahnya kualitas skrining di Nigeria
disebabkan kurangnya peralatan, kurangnya waktu dan kepatuhan ibu hamil untuk melakukan skrining
(Prual, Toure, Huguet & Laurent, 2000), penelitian tentang skrining antenatal lain yang dilakukan
(Nykanen & Vehvilainen-julkunen, 2017) hasilnya menggambarkan bahwa kepatuhan ibu hamil dalam
melakukan skrining antenatal sangat kurang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang
pentingnya skrining antenatal. Hasil penelitian sebelumnya tentang pelaksanaan skrining antenatal
dilakukan oleh (Ahmed, Bryant, Cole, Public & Lead 2013) dalam penelitian ini menyatakan bahwa
kurangnya waktu dan kurangnya pedoman klinik dapat mempengaruhi pelaksanaan skrining antenatal.

Pelaksanaan skrining antenatal dilakukan oleh bidan bekerjasama dengan dokter umum, petugas
laboratorium dan kader.

Latar Belakang
Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan
menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan perinatal dalam 100.000 persalinan hidup.
Sedangkan tingkat kesejahteraan suatu bangsa ditentukan dengan seb erapa jauh gerakan
keluarga berencana dapat diterima masyarakat. (Manuaba, 1998).Kematian maternal adalah
kematian dari setiap wanita sewaktu dalam kehamilan, persalinan dan dalam 42 hari setelah
terminasi kehamilan tanpa mempertimbangkan lamanya serta di mana kehamilan tersebut
berlangsung (FIGO, 1973).
Kematian dan kesakitan ibu dan perinatal juga berkaitan dengan pertolongan persalinan
“dukun” sebanyak 80% dan berbagai faktor sosial budaya dan faktor pelayanan medis. Kematian
ibu (maternal) bervariasi antara 5 sampai 800 per 100.000 persalinan, sedangkan kematian
perinatal berkisar antara 25 sampai 750 per 100.000 persalinan hidup. (Manuaba, 1998). Oleh
karena angka kematian ibu dan perinatal terbesar terjadi di negara berkembang maka WHO dan
UNICEF mencetuskan ide Health for all by the years 2000, dengan harapan setiap orang
mendapatkan pelayanan kesehatan pada tahun 2000. Konsep pelaksanaan Health for all by the
years 2000 menjadi pelayanan kesehatan utama. Unsur pelayanan kesehatan utama
mencakup: Salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan AKI adalah dengan
menempatkan bidan di wilayah Indonesia khususnya di wilayah pedesaan (Depkes RI, 1995).
Angka kematian ibu dan kematian perinatal masih tinggi. Sebenarnya kematian tersebut
masih dapat dihindari karena sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama sangat
diperlukan, tetapi penyelenggara kesehatan tidak sanggup untuk memberikan pelayanan.
Penyebab kematian ibu masih tetap merupakan “trias klasik”, sedangkan sebab kematian
perinatal terutama oleh “trias asfiksia”, infeksi, dan trauma persalinan. (Manuaba, 1998).
Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu yaitu dengan Safe Motherhood dan Making
Pregnancy Safer, yang mempunyai tujuan sama yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi
manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan
dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Dengan demikian perlu dilakukan skrining pada ibu hamil melalui pemeriksaan ANC
terpadu dan laboratorium lengkap. Dengan ini puskesmas cisurupan membuat trobosan inovasi
"sijari lima yaitu skrining jajaki bumil resti libatkan masyarakat".

3.tujuan umum

Untuk mendeteksi resiko pada ibu hamil

Tujuan khusus

1.(BELUM)

2.

3.
4. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan

A. Kegiatan dalam gedung

1. Pemeriksaan ANC terpadu

2. Cek laboratorium

- golongan darah

- Haemoglobin

- Hepatitis

- HIV/ AIDS

- Sifilis

- Protein Urine

3. Pemeriksaan oleh dokter.

B. Kegiatan luar gedung

1. Pemeriksaan Anc terpadu

2. Pemerimsaan Laboratorium

- golongan darah

- Haemoglobin

- Hepatitis

- HIV/ AIDS

- Sifilis

- Protein Urine
3. Memberikan rujukan ke Puskesmas pada ibu hamil yang terdeteksi beresiko tinggi

4. Kunjungan Rumah pada Ibu hamil yang beresiko tinggi

5. Pemasangan Stiker Resiko di buku KIA

5.cara melaksanakan kegiatan

Kegiatan skrining dilaksannakan di dalam gedung yaitu di puskesmas yang melibatkan unit pelayanan
KIA, Laboratorium, Apotek dan BP umum. Kegiatan Luar gedung dilaksanakan Pada kegiatan Posyandu.

A. Kegiatan Dalam Gedung

Pasien datang dan mendaftar ke Unit Pelayanan KIA dan mendapatkan nomor Antrian. Pasien diperiksa d
ruang KIA selanjutnya pasien diarahkan untuk pemeriksaan laboratorium. Setelah mendapat hasil
laboratorium pasien diberikan konseling sesuai kebutuhan dan usia kehamilan pasien. Apabila pasien
mendapati hasil lab terdapat resiko maka pasien selanjutnya d arahkan ke BP umum untuk pemeriksaan
lanjutan oleh dokter dan berfokus pada resiko tersebut. Apabila pasien dengan hasil laboratorium
normal pasien langsung ke apotek untuk mendapatkan therapi obat.

B. Kegiatan Luar Gedung

Pasien datang ke Posyandu melalui tahapan 5 meja. Lalu pasien diperiksa kehamilannya dan di periksa
laboratorium. Jika hasil laboratorium terdapat faktor resiko pasien d rujuk ke puskesmas untuk diperiksa
lebih lanjut dan pasien tersebut di kunjung ke rumah nya untuk memberiksan konseling kepada keluarga
dan ibu hamil itu sendiri. Selanjutnya pemasangan stiker resiko pada ibu hamil yang beresiko.

6. sasaran

Untuk sasaran skrining yaitu ibu hamil dan keluarga

7. jadwal pelaksanaan kegiatan

Jadwal kegiatan dalam gedung yaitu setiap hari kerja. Dan untuk jadwal pelaksanaan di luar gedung
setiap 1 bulan 1 kali pada kegiatan posyandu.
8. evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan

9. indicator keberhasilan

Berhasil atau tidaknya kegiatan ini dapat dilihat dari indikator target resiko tinggi oleh tenaga kesehatan
dan oleh masyarakat.

10. pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan

Pencatatan dilakukan setelah kegiatan. Pelaporan dilakukan setiap 1 bulan 1 kali lalu di evaluasi hasil
pencapaian untuk segera d tindak lanjuti.