Anda di halaman 1dari 10

PENYAKIT AKIBAT KERJA DI LABORATORIUM

DAN
PERSYARATAN KESEHATAN BAGI TENAGA PELAYANAN
KESEHATAN DI LABORATORIUM
dr. Juliani Dewi, SpPK
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Patelki 21 April 2019

PENDAHULUAN
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja. Dalam lampiran Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomer
22 tahun 1993, tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja, hanya 1 jenis penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan di laboratorium, yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus,
bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki risiko kontaminasi
khusus.1
Profesi sebagai tenaga kesehatan, terutama di laboratorium, makin populer. Hal ini ditandai
dengan banyaknya dibuka laboratorium kesehatan yang membutuhkan tenaga ahli laboratorium.
Profesi sebagai Ahli Teknologi Laboratorium Medik bukan lagi profesi aneh yang tidak populer.
Sejalan dengan hal itu, penting diketahui tentang keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium
yang seringkali kurang disadari banyak pihak. Bahaya yang berhubungan dengan proses kerja di
laboratorium tidak disadari sampai terjadi keadaan yang tidak diharapkan, kecelakaan, atau bahkan
kematian. Tenaga kesehatan di laboratorium memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami
infeksi dari patogen melalui darah daripada populasi pada umumnya.
Penyakit akibat kerja di laboratorium yang paling berisiko adalah tertusuk jarum.
Meskipun di Indonesia belum ada data resmi terbaru tentang kejadian luka tusuk jarum pada tenaga
kesehatan, The European Agency for Safety and Health at Work (EU-OSHA) memperkirakan
terjadi satu juta kejadian tertusuk jarum (needlestick injuries, NSIs) di Eropa setiap tahunnya. NSIs
berpotensi serius terinfeksi Hepatitis B (HBV), Hepatitis C (HCV), dan HIV melalui darah. 2
Agustian dan kawan-kawan pernah melakukan penelitian di tahun 2009 dan disimpulkan bahwa
diperkirakan sekitar 1445 kejadian infeksi HBV, 339 infeksi HCV, dan 18 infeksi HIV, yang
menimpa tenaga kerja kesehatan di Indonesia karena tertusuk jarum selama tahun 2005. 3

1
PENYAKIT AKIBAT KERJA DI LABORATORIUM
Di Kenya, Tait melaporkan 204 responden dari 118 laboratorium kesehatan, sedikitnya
65,5 % melaporkan pernah terpapar dengan bermacam-macam bahaya biologis, yang meliputi
bakteri, parasit, jamur, dan virus. Bahaya biologis itu terdapat dalam bermacam-macam sampel
seperti darah, cairan tubuh, spesimen kultur, dan jaringan tubuh. Penelitian ini mengidentifikasi
bahaya biologis terdapat saat proses flebotomi, di area pemrosesan sampel, dan area preparasi
slide.4
Penelitian Tait dan kawan-kawan di Kenya menemukan indikasi adanya bahaya kimia
sebesar 38,24 % dan 15,2 % terpapar dengan cairan yang dapat mengiritasi dan menimbulkan luka
bakar. Dua puluh tiga persen responden tidak menggunakan alat pelindung diri (APD).4
Secara umum, responden penelitian Tait dan kawan-kawan mendapatkan bahaya fisik
berupa peralatan laboratorium yang ditempatkan berisiko menimbulkan bahaya (49.51 %), dan
32,35 % karena masalah ergonomis. Perbedaan gender, umur, dan tingkat pendidikan berkorelasi
lemah terhadap bahaya fisik ini.4
Bahaya bekerja di laboratorium dan menimbulkan penyakit berhubungan dengan disain
fasilitas laboratorium yang buruk, tidak menggunakan APD, ergonomis yang kurang diperhatikan,
dan kurangnya pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 4
Dalam pelaksanaannya, Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium erat kaitannya
dengan kewaspadaan standar yang harus diterapkan. Kewaspadaan Standar berdasar transmisi
meliputi 3 kategori5 :
1. Kewaspadaan kontak
2. Kewaspadaan droplet
3. Kewaspadaan melalui udara

NSIs (Needle Stick Injuries)


NSIs didefinisikan sebagai luka tusuk, luka potong, atau luka gores peralatan medis selama
proses “pemotongan” atau penusukan (jarum, lanset, pisau skalpel, dan lain-lain) yang
terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh pasien. Kontak dengan darah pada kulit yang
terluka dan kontak dengan membran mukosa (mata, mulut, hidung) juga termasuk di dalam
terminologi NSIs.2

2
Meskipun 90 % NSIs terjadi di negara yang sedang berkembang, sebagian besar laporan
infeksi okupasi didapat dari Amerika dan Eropa. Akibat tusukan jarum dan luka akibat benda tajam
lainnya pada saat kerja, profesi petugas kesehatan berisiko terinfeksi. NSIs disebabkan karena
kecelakaan. Pada umumnya, NSIs merupakan sumber tersering paparan darah yang
mengakibatkan terjadinya infeksi melalui transmisi darah. Faktor penyebab NSIs termasuk
flebotomi dalam jumlah besar, kekurangan tempat sampah khusus benda tajam, menutup jarum
kembali setelah digunakan, kurang kehati-hatian, dan kurangnya pelatihan. Petugas kesehatan di
negara yang sedang berkembang sangat berisiko mendapatkan infeksi yang ditularkan melalui
darah karena tingginya prevalensi patogen tersebut di komunitas dan kurangnya penyediaan APD.6

Pencegahan
WHO di tahun 2007 memaparkan soal kewaspadaan standar. Kewaspadaan standar ini
dimaksudkan untuk mengurangi risiko transmisi penyakit melalui darah dan patogen lain dari
sumber yang diketahui maupun tidak diketahui. Kewaspadaan mengontrol infeksi ini digunakan
sebagai standar minimum pada pelayanan kesehatan semua pasien tanpa kecuali. 7
Kebersihan tangan adalah komponen mayor pada kewaspadaan standar dan metode paling
efektif untuk mencegah penularan patogen yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan.
Penggunaan APD akan mengurangi risiko pajanan dan antisipasi kontak dengan darah dan cairan
tubuh pasien.5
Kontrol penyebaran patogen dari sumbernya adalah kunci untuk mencegah penularan.
Higiene respirasi / etika batuk, yang dikembangkan selama terjadinya outbreak SARS (Severe
Acute Respiratory Syndrome), kini telah menjadi bagian dari kewaspadaan standar. Petugas
pelayanan kesehatan yang kompeten profesional, dan peralatannya, bersama dengan
kepemimpinan dan edukasi kepada para pelayan kesehatan, pasien, dan pengunjung pasien, adalah
sangat penting untuk mengembangkan keselamatan kerja di laboratorium. 7

Edukasi dan pelatihan


Semua staf laboratorium, termasuk tenaga kontrak, misalnya petugas kebersihan dari
agensi luar, diberikan edukasi dan pelatihan dari personil yang kompeten. Personil pemberi
edukasi dan pelatihan tersebut harus mendemonstrasikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan SPO
(Standar Prosedur Operasi). Pelatihan ini diberikan saat orientasi, diulang sedikitnya sekali

3
setahun, dan ketika kebijakan atau prosedur diperbaharui, serta didokumentasikan sebagai
kebijakan fasilitas pelayanan kesehatan. Materi edukasi dan pelatihan itu meliputi :
 Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
 Praktek pencegahan infeksi yang berhubungan dengan pekerjaan.
Kompetensi setiap staf laboratorium dievaluasi berkala. Audit terhadap staf laboratorium tentang
praktek pencegahan infeksi dilakukan secara rutin (contoh : kebersihan tangan, pembersihan
lingkungan).5

Kebersihan Tangan
Prosedur kebersihan tangan termasuk penggunaan hand rub berbasis alkohol (mengandung
60-95 % alkohol) dan mencuci tangan menggunakan sabun dan air. Hand rub berbasis alkohol
merupakan metode rujukan untuk dekontaminasi tangan, kecuali jika tangan terlihat kotor atau
terkena debu, darah, atau cairan tubuh lain. Mencuci tangan juga wajib dilakukan setelah merawat
pasien yang diketahui atau dicurigai adanya diare infeksius (Contoh karena Clostridium difficile,
Norovirus), di mana harus mencuci tangan menggunakan sabun dan air. 5
Fasilitas kebersihan tangan harus berada di tempat yang strategis sehingga mudah diakses,
disertai petunjuk5:
1. Prosedur kebersihan tangan.
2. Indikasi kebersihan tangan (5 momen: sebelum menyentuh pasien, bahkan
meskipun menggunakan sarung tangan; sebelum keluar dari area perawatan pasien;
setelah menyentuh pasien atau lingkungan di sekitar pasien; setelah kontak dengan
darah, cairan tubuh, atau setelah merawat luka; sebelum melakukan tindakan
aseptik seperti sebelum flebotomi; setelah melepas sarung tangan)

Alat Pelindung Diri (APD)


APD adalah alat atau baju yang digunakan oleh staf laboratorium agar terlindung dari
materi infeksius. Pemilihan APD berdasar pada jenis interaksi antara pasien dan kemungkinan
paparan darah, cairan tubuh, atau agen infeksius lainnya. Ketersediaan APD harus dipantau secara
periodik, termasuk adanya pengembangan pemakaian produk baru.5
1. Penggunaan sarung tangan. Penggunaan sarung tangan dilakukan jika berpotensi adanya
kontak dengan darah (contoh: selama proses flebotomi), cairan tubuh, membran mukosa,

4
kulit terluka atau peralatan yang terkontaminasi. Penggunaan sarung tangan harus sesuai
ukuran tangan. Tidak menggunakan sarung tangan yang sama untuk melayani lebih dari 1
pasien. Tidak mencuci ulang sarung tangan. Lakukan kebersihan tangan sebelum dan
segera setelah melepas sarung tangan.5
2. Baju kerja digunakan untuk melindungi kulit dan pakaian selama prosedur atau aktivitas
di mana ada kemungkinan kontak dengan darah atau cairan tubuh. Lepas baju kerja dan
lakukan kebersihan tangan sebelum meninggalkan lingkungan pasien. 5
3. Pemakaian masker bedah dilakukan bila berpotensi kontak dengan sekret pernapasan dan
percikan darah atau cairan tubuh. Kacamata dan lensa kontak tidak adekuat untuk
melindungi mata. Rapatkan karet di belakang kepala dan/atau leher, penekan di pangkal
hidung, masker harus menutupi pangkal hidung hingga di bawah dagu. Baliklah permukaan
luar yang terkontaminasi menjadi bagian dalam saat membuang, gulung atau lipat dan
buang. Jangan menyentuh permukaan masker.5

Kebersihan Pernapasan dan Etika Batuk


Untuk mencegah transmisi infeksi pernapasan, setiap orang (pasien, anggota keluarga
pasien, perawat, dan pengunjung) dengan gejala dan tanda-tanda menderita sakit pernapasan,
termasuk batuk, pilek, atau peningkatan produksi sekresi pernapasan lainnya harus melakukan
kebersihan pernapasan dan etika batuk. Staf laboratorium mengingatkan setiap orang yang datang
dengan gejala-gejala infeksi pernapasan untuk melaporkannya selama registrasi. Mempraktekkan
kebersihan pernapasan dan etika batuk, serta menggunakan masker bila diperlukan. Prosedur
kebersihan pernapasan dan etika batuk meliputi : menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika
batuk atau bersin. Buang tissue yang telah digunakan di tempat sampah berpijakan kaki terdekat.
Bersihkan tangan setelah kontak dengan sekresi pernapasan dan obyek lain yang terkontaminasi.
Masker, tissue, dispenser hand rub berbasis alkohol, dan tempat sampah berpijakan kaki
disediakan di area penerimaan dan area tunggu umum lainnya. 5
Petugas yang mengalami infeksi pernapasan sedapat mungkin tidak kontak dengan pasien.
Bila tidak memungkinkan, maka yang bersangkutan menggunakan masker yang harus digunakan
selama melayani pasien dan sering membersihkan tangan. Petugas direkomendasikan untuk
menerima vaksinasi, termasuk vaksin influenza secara rutin.5

5
Keamanan Flebotomi
Keamanan injeksi merujuk pada pemakaian dan penanganan alat-alat tajam yang
digunakan, seperti jarum dan lanset. Keamanan flebotomi dimaksudkan untuk mencegah
penyebaran infeksi dari satu pasien ke pasien yang lain, atau antara pasien dengan petugas. Selalu
lakukan teknik aseptik ketika mempersiapkan dan melakukan flebotomi. Cegah menutup jarum
kembali dengan 2 tangan. Jangan pernah menggunakan jarum yang sama untuk banyak pasien. 5
Selalu sediakan hand rub berbasis alkohol yang siap digunakan flebotomis. Bersihkan area
yang akan ditusuk dengan alkohol 70 % dan biarkan mengering alami sebelum menusukkan jarum.
Buang jarum yang telah digunakan pada kontainer tahan tusukan benda tajam yang tertutup dan
tahan air. Kontainer ini diletakkan secara strategis di dekat flebotomis. Bahkan, sebenarnya tidak
boleh menggunakan ulang “vacutainer holder”. Minimalisir kontaminasi lingkungan dengan cara:
1. Melabel tabung sebelum mengambil darah.
2. Tidak meletakkan tabung vacutainer di papan status pasien, atau permukaan lain yang tidak
semestinya.5

Pembersihan dan Desinfeksi Alat dan Permukaan Lingkungan


Yang termasuk di dalamnya meliputi pembersihan dan disinfeksi peralatan pasien seperti
manset tensimeter, dan permukaan lingkungan area pelayanan pasien dan area yang umum
digunakan seperti toilet. Jika petugas kontrak untuk kebersihan hanya ada setelah jam pelayanan,
maka staf laboratorium harus memiliki tanggung jawab untuk kebersihan dan disinfeksi selama
jam pelayanan. Semua staf laboratorium harus mendapatkan pelatihan prosedur pembersihan /
disinfeksi dan penggunaaan APD. Bila menggunakan alat pel dan alat kebersihan lain yang
digunakan ulang, alat-alat itu harus dibersihkan setelah digunakan dan dibiarkan kering sebelum
digunakan ulang.5
Area pelayanan harus sering dibersihkan, termasuk toilet, sedikitnya sekali sehari. Lokasi
yang terkena percikan darah dan cairan tubuh lain yang berpotensi infeksius harus segera
didekontaminasi dan dibersihkan. Bersihkan segera area yang terlihat kotor. Segera disinfeksi
toilet setelah digunakan pasien yang dicurigai mengalami diare infeksius sebelum digunakan oleh
orang lain. Disinfeksi permukaan lingkungan dan peralatan pasien segera setelah digunakan jika
terdapat kontak langsung dengan kulit yang terluka atau membran mukosa atau potensial
terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh pasien. Peralatan POCT seperti glukometer yang

6
menggunakan sampel darah harus dibersihkan dan didisinfeksi setelah digunakan sesuai instruksi
pabrik pembuatnya untuk mencegah penularan patogen melalui darah. 5
Pada saat pembersihan umum, gunakan alat kebersihan basah dengan disinfektan sehingga
debu tidak beterbangan. Fokuskan pembersihan pada permukaan yang sangat sering disentuh
pasien atau staf laboratorium, seperti meja kerja flebotomis, kursi flebotomis, manset tensimeter,
stetoskop, dan gagang pintu. Dekontaminasi permukaan yang paling sering disentuh. Selalu
gunakan sarung tangan rumah tangga untuk pembersihan. Bila terdapat tumpahan darah atau cairan
tubuh lain lebih dari 10 mL, tuangi dekontaminan sesuai jumlah tumpahan dan sesuai prosedur
dekontaminasi, lalu gunakan materi yang dapat menyerap cairan tersebut dan langsung dibuang ke
tempat sampah infeksius dilanjutkan dekontaminasi. Bila menggunakan produk pemutih pakaian,
encerkan 1 : 100 untuk dekontaminasi permukaan “non porous”. Bila tumpahan itu dalam jumlah
besar, gunakan germisida yang diencerkan 1 : 10 sebelum dibersihkan, lalu diikuti dengan
pembersihan dan dekontaminasi dengan bahan pemutih yang telah diencerkan 1 : 100.5

Penanganan
Pada kasus NSIs, direkomendasikan untuk diberikan HB-Ig (Imunoglobulin Hepatitis B)
dan / atau vaksin Hepatitis B. Pada saat terjadi kecelakaan, dibutuhkan status HBsAg dari pasien,
status vaksinasi dan respon vaksin dari petugas yang tertusuk. 8
Di negara-negara industri, direkomendasikan penanganan dengan menggunakan obat anti
retroviral (Zidovudin) setelah kecelakaan kerja terpapar dengan HIV. Dengan penggunaan
Zidovudin setelah tertusuk jarum pasien dengan HIV, infeksi HIV dapat dikurangi kira-kira 81 %.
Tertusuk jarum adalah penyebab utama infeksi HCV di antara tenaga kerja kesehatan, dan
menyebabkan sekitar 39 % infeksi HCV secara global setiap tahunnya. Jumlah ini kira-kira 16.000
infeksi disebabkan karena NSIs dan menyebabkan 142 kematian. Infeksi HCV akibat kerja
berisiko terjadinya kerusakan hati dalam jangka waktu tertentu, termasuk cirrhosis dan kanker
hati.8
Infeksi HBV dalam jumlah besar di antara tenaga kesehatan akibat kerja, yaitu akibat
terpapar benda tajam. Insiden global HBV lebih tinggi daripada infeksi HCV. Konsekuensi jangka
panjang infeksi HBV lebih ringan dibandingkan dengan infeksi HCV. Prognosa infeksi HBV pada
tenaga kesehatan lebih baik dibanding infeksi HCV. HBV dapat dicegah dengan imunisasi yang
relatif murah dan diusahakan vaksinasi tenaga kesehatan sedini mungkin.

7
Di antara tahun 1985 – 1999, terdokumentasi 56 kasus dan 136 kemungkinan terinfeksi
HIV karena kerja di antara tenaga kesehatan ( 13 kasus per tahun). Pada tenaga kesehatan yang
terpapar dengan darah yang dicurigai berasal dari penderita HIV, maka tenaga kesehatan tersebut
harus segera mencuci luka atau bagian kulit yang kontak dengan darah atau cairan tubuh dengan
air dan sabun. Bila yang terpapar adalah membran mukosa atau mata, maka harus segera dibilas
dengan air steril atau bahan irigan mata. Antiseptik dapat digunakan untuk membilas luka di kulit,
tetapi tidak mengurangi insiden infeksi. Tenaga kesehatan tersebut harus segera melaporkan
kejadian itu kepada supervisor dalam 24 jam. Jika status pasien tidak diketahui, status tenaga
kesehatan yang terpapar harus segera dievaluasi, baik infeksi HIV, HBC, maupun HCV. 9

Nyeri Muskuloskeletal
Nyeri muskuloskeletal menyebabkan tekanan individual dan nilai kerugian sosial yang
besar, berupa kemampuan kerja yang buruk dan nilai absen yang tinggi. Peningkatan prevalensi
nyeri muskuloskeletal dilaporkan pada kasus-kasus pekerjaan fisik yang tinggi. Seringkali terjadi
pada petugas kesehatan wanita dengan kapasitas fisik yang lemah. Di antara lebih dari 8000
responden petugas kesehatan, 23 % mengalami nyeri jangka lama pada punggung bawah, 28 %
pada leher / bahu, dan 12 % pada lutut. Peningkatan risiko mangkir kerja sebesar 47 – 92 %.10
Pemulihan nyeri muskuloskeletal jangka panjang mungkin akan sulit jika pekerjaan harian
petugas kesehatan tersebut terlalu berat. Pemulihan dari nyeri ini lebih buruk di antara wanita
daripada laki-laki.10

PERSYARATAN KESEHATAN BAGI TENAGA PELAYANAN KESEHATAN DI


LABORATORIUM
Di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomer 02/1980, tentang
Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan keselamatan kerja, disebutkan,
setelah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, dokter pemeriksa akan
mengambil kesimpulan tentang kesehatan calon tenaga kerja dengan kemungkinan-kemungkinan
sebagai berikut :
1. Memenuhi syarat untuk jenis pekerjaan ringan atau sedang.
2. Memenuhi syarat untuk jenis pekerjaan berat.

8
3. Memenuhi syarat untuk jenis pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 atau 2
dengan persyaratan tertentu.
4. Ditolak sementara oleh karena sementara belum memenuhi syarat kesehatan dan
memerlukan pengobatan atau perawatan. Pemeriksaan kesehatan diulang setelah selesai
pengobatan / perawatan.
Kesimpulan itu diambil dari pertimbangan tingkat kesehatan terhadap persyaratan kesehatan
menurut pekerjaan yang ada.1
Sampai saat ini belum ada kriteria pasti penolakan terhadap calon tenaga kesehatan
laboratorium. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dimaksudkan untuk menilai
kesehatan calon karyawan secara umum. Penilaian kesehatan ini disesuaikan dengan deskripsi
pekerjaan yang akan dilakukan oleh calon karyawan tersebut.

PUSTAKA
1. Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementrian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Himpunan Peraturan Perundang-undangan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2013; 734-707.
2. Himmelreich H, Rabenau HF, Rindermann M, Stephan C, Bickel M, Marzi I, et al. The
Management of Needlestick Injuries. Deutsches Ärzteblatt International | Dtsch Arztebl Int
2013; 110: 61−7.
3. Agustian D, Yusnita S, Susanto H, Sukandar H, Schryver AD, Meheus A. An Estimation
of The Occupational Risk of HBV, HCV and HIV Infection Among Indonesian Health-
care Workers. Acta Med Indones-Indones J Intern Med. 2009; 41 • Supplement 1 •: 33 –
7.
4. Tait FN, Mburu C, Gikunju J. Occupational Safety And Health Status Of Medical
Laboratories In Kajiado County, Kenya. Pan African Medical Journal. 2018; 29: 65 – 73.
5. CDC. Guide to Infection Prevention in Outpatient Settings. Available at:
http://www.cdc.gov/HAI/settings/outpatient/ outpatient-care-guidelines.html. 2011.center.
6. Amira CO, Awobusuyi JO. Needle-Stick Injury among Health Care Workers in
Hemodialysis Units in Nigeria: A Multi-Center Study. The Ijo Em. 2014; 5.
7. WHO. Standard Precautions In Health Care. 2007.

9
8. Prüss-Üstün A, Rapiti E, Hutin Y. Sharps injuries : Global burden of disease from sharps
injuries to health-care workers. World Health Organization Protection of the Human
Environment Geneva. 2003: 19-29.
9. Henderson DK. Management of Needlestick Injuries. A House Officer Who Has a
Needlestick. JAMA. 2012; 307: 75-84.
10. Andersen LL, Clausen T, Persson R, Holtermann A. Perceived Physical Exertion During
Healthcare Work And Prognosis For Recovery From Long-Term Pain In Different Body
Regions: Prospective Cohort Study. BMC Musculoskeletal Disorders. 2012; 13: 253-9.

10